

yang mau bertanya-tanya by PM di fb yah,.. id = Nisa Rahmah
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
ketika ku beranjak dari langkah ini dan ketika tangan ini mampu menari merangkai kata menuai hikmah ijinkanku memperkenalkan diri dan tulisan ini dan menjadikan bloq ku sebagai prasasti akan eksistensi diri dan pengabdian pada Ilahi



Libur telah tiba,libur telah tiba
Hore,Hore,Hore
Simpanlah tas dan bukumu
Lupakan keluh kesahmu
Libur telah tiba,libur telah tiba
Hatiku gembira!
Libur sekolah merupakan waktu yang ditunggu-tunggu bagi semua anak sekolah, apalagi setelah berjibaku dengan ujian yang dirasa cukup menguras energi dan pikiran. Liburan merupakan sarana yang tepat untuk memulihkan hati, pikiran, dan mempersiapkan diri menuju semester berikutnya yang tentu saja akan lebih berat tantangannya dibandingkan dengan semester yang telah lalu. Maka dari itu, banyak yang memanfaatkan libur untuk liburan, rekreasi, jalan-jalan, atau hanya di rumah dengan aktivitas yang berbeda dari biasanya, yakni bersantai (Loh bukannya tiap hari juga aktivitasnya bersantai?) ^_^
Namun ada juga yang memanfaatkan sarana liburan untuk menebar kebaikan. Bak jamur yang sedang tumbuh di musim hujan, saat liburan inilah moment yang sangat pas bagi kader Pelajar Islam Indonesia untuk melebarkan sayapnya menebar kebaikan dan mencetak generasi Muslim yang Cendekia dan Pemimpin. Dalam prosesnya itu, harus ada kesadaran dari dalam diri untuk rela mengorbankan watu liburnya, dimana yang lain bisa bersantai, namun bagi kader PII harus berjibaku dalam urusan pentrainingan, mencari dana, mencari peserta, mengurus masalah teknis dalam seminggu pelaksanaan, dan lain sebagainya.
Pun demikian bagi seorang Instruktur. Peran yang diembannya juga tidaklah mudah. Saya ingin menganalogikan dengan proses menanak nasi. Ketika kita sedang menanak nasi, kita melakukan proses perubahan yang revolusioner, dari mengubah butiran beras menjadi sepiring nasi hangat yang dapat dimakan.
Bagaimana seorang instruktur berperan dalam proses analogi menanak nasi ini? Seorang instruktur harus mempunyai skill memasak, tahu dengan jelas jenis beras yang akan dimasaknya dan bagaimana mengolahnya walau dengan jenis beras yang berbeda-beda. Dan tidak lupa, seorang instruktur juga harus mempersiapkan perlengkapan memasak yang terbaik yang ia punya. Ia harus mempersiapkan peralatan masak yang baik, bumbu racikan yang mantap, dan tak lupa peralatan makan yang cantik.
Bagaimana jika seorang instruktur tak mampu mengusahakannya? Mempersiapkan masakan dengan skill yang apa adanya, bumbu seadanya, dan peralatan makan yang apa adanya (daripada tidak ada, katanya). Jika itu yang terjadi, dan menyadari kelemahan pada proses memasaknya yang dirasa kurang dalam beberapa hal, maka ia harus mempunyai kemauan untuk meningkatkan skill yang ia punya disertai niat yang kuat serta keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk sebuah kebaikan.
Saya tertarik dengan sebuah kalimat ini:
"Bagaimana mungkin bisa mendapatkan nasi yang matang dengan sempurna jika kita memasaknya dengan panci yang bolong."
Hmmmm maksudnya gimana tuh?... Ya, bagaimana kita akan mencetak seorang kader yang Muslim, Cendekia, Pemimpin jika apa yang ada dalam diri kita belum mampu mengaktualisasikan hal tersebut, atau belum mengusahakan memenuhi kriteria itu.
Jadi instruktur itu, memiliki beban moral yang sangat besar. Namun, juga berpotensi menghasilkan ladang pahala yang juga sangat besar. Mengaktualisasikan kriteria kader Muslim Cendekia dan Pemimpin, mencetak kader yang komitemen terhadap kePelajaran, keIslaman, dan keIndonesiaan, dan yang penting menyadarkan kepada generasi muda akan peran dan tanggung jawabnya sebagai abdullah dan khalifah, sebelum itu semua ditransformasikan kepada kader yang dibina, bukankah itu semua harus ada dulu dalam diri seorang instruktur??
Bagaimana kalau itu belum atau tidak dimiliki oleh seorang instruktur? Kalau belum, semoga memiliki kesadaran untuk meraihnya. Namun kalau tidak, maka aktivitas keinstrukturan yang dilakukan mungkin hanya sebagai penggugur tanggung jawab yang telah diikrarkan, atau memenuhi kebutuhan pentrainingan. Maka aktivitas yang dilakukan tak ubahnya hanya sekedar menyampaikan informasi, tanpa ada ruh dalam proses transformasi nilai. Dan, tak ubahnya seperti lilin yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri. Dan semoga kita tidak termasuk orang yang dimaksud dalam surah berikut ini:
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?"
"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan."
Q.S. Ash Shaff : 2-3
Namun, semoga kita menjadi orang yang termasuk mendapatkan seperti di bawah ini:
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Q.S. Ash Shaff : 10-12
Musim training telah tiba, ratusan calon kader siap untuk dibina. Maka, lakukanlah tugas dengan sebaik-baiknya wahai para Instruktur, persiapkan diri sebaik-baiknya. Tingkatkan amal ibadah harian, maka itu akan menambah kuallitas kefaqihan. Tingkatkan wawasan dan ilmu, maka itu akan menambah kualitas keilmuan. Mari kita semua sama-sama belajar dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketaqwaan.
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)."
Q.S. Al Anfaal : 60
Sampaikan salam dan semangat untuk para Instruktur dimanapun berada. Sampaikan semangat untuk Panitia yang berusaha mensukseskan kegiatan. Sampaikan salam persaudaraan untuk calon kader dimanapun ia akan dibina. Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita dalam menggapai ridho-Nya.


Beruntung aku masih mempunyai ayah...
Tempat ku bersandar di kala lelah..
Tempat mengadu dikala gundah..
Menjadi andalan saat ku lelah...
Beruntung ku masih memiliki ayah...
Sang pelindung kala aku lemah...
Pemberi semangat ketika penat...
Menyeka peluh setiap saat..
Beruntungnya aku masih memiliki ayah..
Lelaki pencinta yang cintanya bukan tanpa makna..
Lelaki pemberi janji yang janjinya bukan tanpa arti...
Lelaki tegap bertanggung jawab tanpa sedikitpun meremehkan dan mengingkari tanggung jawabnya...
Dan aku pantas untuk berbahagia memiliki ayah,..
Ayah jagoan di seluruh kehidupan..
Ayah andalan tanpa pernah diragukan..
Dan aku kini mengucap syukur karena masih diberi kesempatan hidup dan mengisi kehidupan ayah...
Catatan singkat untuk ayah juara no 1 di dunia,... Sampai detik ini tidak akan ada yg menggantikan posisimu dlm hidupku,..
18des10

Cerita tersebut sungguh menarik, dan hampir semua dari kita pernah mendengarnya. Cerita tersebut tentu turut menyumbang kepercayaan kita bahwa penemuan hukum gravitasi oleh Newton adalah buah kejeniusan yang muncul mendadak. Sesaat sebelum apel tersebut jatuh, hukum gravitasi belum ada. Apel jatuh; hukum gravitasi mulai menemukan bentuknya di benak Newton. Hanya, dan hanya seorang jenius seperti Newton yang bisa melakukannya. Tidak perlu kerja keras bertahun-tahun untuk merumuskannya.
Sayangnya, cerita apel jatuh tersebut kemungkinan adalah cerita fiktif yang dikarang oleh Voltaire. Dan andaikata pun cerita tersebut nyata, Newton tidak serta merta menemukan teori gravitasi. Untuk menemukan hukumnya yang terkenal itu, Newton kemudian menghabiskan waktu bertahun-tahun memenuhi seluruh catatannya dengan coretan tangan dan mengukur gerakan pendulum dengan teliti. Teori gravitasi tidaklah lahir begitu saja dalam momen singkat tersebut. Seorang Newton pun membutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun sebelum berani merumuskan hukumnya dalam buku Principia yang diterbitkan pada tahun 1687.
Newton sendiri mengakui dia harus berpikir terus menerus selama bertahun-tahun untuk merumuskan hukum gravitasi. Kita mengenal Newton sebagai sosok jenius, tetapi di masa mudanya, para teman-temannya mengenalnya sebagai sosok yang gigih luar biasa. Newton menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berpikir dan berpikir. Tidak ada seorang pun yang berpikir sekeras Newton di jamannya. Bahkan bila dia tidak “dipaksa” melakukan percobaan untuk membuktikan teori-teorinya, teman-temannya kuatir dia akan meninggal karena belajar dan berpikir tanpa henti, dan lupa menjaga tubuhnya. Dia bahkan sering lupa untuk makan, dan dia juga benar-benar lupa untuk menikah karena Newton hidup melajang sampai akhir hayatnya.
Kegigihan Newton bisa dilihat ketika dia bertekad menguasai buku matematika karangan Rene Descartes, Geometry. Newton berkali-kali mengalami kesulitan memahami buku tersebut dan sering harus berhenti membaca setelah beberapa halaman, dan mengulangi dari awal sampai dia benar-benar memahami materinya. Setelah itu, dia akan meneruskan beberapa halaman berikutnya sampai menemukan kesulitan lagi. Demikian seterusnya hingga di menguasai seluruh buku tersebut. Siapa yang mengatakan Newton tidak perlu belajar lebih keras dari kita? Newton pun jelas tetap membutuhkan kerja keras untuk belajar.
Kita jelas harus mengakui Newton adalah seorang jenius dan hampir semua orang sepakat menempatkannya sebagai ilmuwan paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Seperti yang ditulis oleh teman karibnya, Alexander Pope di batu nisan Newton: Tuhan menciptakan Newton, dan terkuaklah hukum-hukum alam. Kita memang layak mengagumi karya-karya Newton. Namun semoga sekarang kita bisa mengagumi sesosok jenius tersebut karena buah kerja keras dan kegigihannya yang tak kunjung henti.
***
Ilmuwan yang berhak menerima tongkat estafet dari Newton tentu saja hanya satu orang. Albert Einstein. Dan sama seperti kisah Newton yang penuh romantisme, kisah Einstein juga tidak jauh berbeda. Einstein sering digambarkan tumbuh dalam lingkungan yang kurang bersahabat, dan mengalami keterlambatan perkembangan mental ketika masih kecil karena belum bisa berbicara lancar sampai usia empat tahun. Einstein juga pernah ditolak masuk ke perguruan tinggi dan harus mencoba masuk lagi setahun kemudian. Tetapi entah kenapa, tiba-tiba dia berubah menjadi seorang jenius ketika bekerja di kantor hak paten di Zurich. Inilah kisah jenius yang sesungguhnya. Tidak ada penjelasan lain yang bisa menjelaskan pencapaian Einstein yang tiba-tiba seperti itu.
Tentu saja sebagian dari cerita tersebut memang berdasar. Einstein memang sering terlihat gagap berbicara ketika masih kecil, tetapi hal itu bukan karena keterlambatan perkembangan mentalnya. Sebaliknya, Einstein kecil kelihatannya memiliki kecenderungan untuk berusaha berbicara dalam kalimat yang lengkap. Dari kecil dia juga sudah menunjukkan imajinasi luar biasa, dan terutama tertarik dengan cara kerja benda-benda.
Sementara fakta bahwa Einstein pernah ditolak masuk ke perguruan tinggi memang benar, tetapi penjelasannya karena waktu itu Einstein dianggap belum cukup umur. Waktu itu, umurnya kurang dua tahun dari persyaratan minimum. Seorang profesor yang terkesan dengan kecerdasan Einstein waktu itu mengundangnya untuk ikut dalam kuliahnya sambil menunggu dia cukup umur untuk diterima.
Sementara cerita bahwa Einstein dilahirkan di lingkungan yang kurang mendukung juga tidak sepenuhnya benar. Memang benar keluarga Einstein adalah Yahudi yang hidup di Jerman, tetapi keluarga Einstein tidak pernah mendapatkan masalah berarti karena ras mereka. Mereka tinggal di apartemen yang cukup bagus di kota Ulm, bagian selatan Jerman dan kemudian pindah ke Munich. Keluarga Einstein yang harmonis dan berpendidikan tinggi sangat mendorong anak-anak mereka dalam belajar dan mengeksplorasi minat mereka. Einstein muda tidak pernah kekurangan buku-buku terbagus pada jaman itu dan dia melahap semua buku-buku yang disediakan untuknya. Pada umur 13 tahun Einstein sudah membaca buku Immanuel Kant Critique of Pure Reason. Dia juga mencintai musik dan kelak terkenal dengan permainan biolanya yang piawai.
Paman Einstein, Jacob adalah seorang insinyur berpengalaman. Pada tahun 1880, ayah Einstein dan Jacob patungan membuka usaha yang kemudian masuk ke bidang baru, teknik listrik. Selama puncak kejayaannya, perusahaan mereka mempekerjakan 200 karyawan. Einstein yang sering berkunjung ke pabrik tersebut tidak pernah ketinggalan perkembangan teknologi listrik terkini, apalagi ayah dan paman Einstein tidak segan-segan membelanjakan uang mereka untuk membeli mesin-mesin hasil inovasi terbaru.
Jacob, dan paman Einstein yang lainnya, Caesar Koch, menyayangi Einstein dan membantu perkembangan mental Einsten muda dengan menjadi mentor dan membelikan anak yang penuh semangat belajar tersebut buku-buku matematika terbaru. Pada umur sepuluh, Einstein berkenalan dengan Max Talmud, yang banyak membantunya kemudian. Talmud adalah tamu keluarga dan masih berusia dua puluh satu tahun waktu itu. Kecerdasan dan keluasan pengetahuannya banyak membantu perkembangan mental Einstein, terutama di bidang matematika.
Dan ketika Einstein masuk ke perguruan tinggi, dia sudah menghabiskan belasan tahun mendalami matematika dengan minat tinggi dari orang-orang yang berkompeten dan menaruh perhatian pada perkembangannya. Kejeniusan Einstein tidaklah muncul tiba-tiba sebagaimana banyak dipercaya orang selama ini. Dia mendapatkannya melalui ketekunan belajar, dan tak kalah pentingnya, dukungan dan bimbingan dari keluarga dan orang-orang yang mencintainya selama belasan tahun.
Kisah kedua jenius besar tersebut – Newton dan Einstein – dengan jelas memperlihatkan betapa panjangnya persiapan yang harus mereka jalani sebelum mampu menghasilkan karya besar mereka. Mereka mungkin saja diberkati dengan kecerdasan di atas rata-rata, tetapi mereka tetap harus menekuni terlebih dahulu bidang mereka setidaknya selama belasan tahun sebelum mampu melahirkan karya agung mereka. Kejeniusan mereka yang kita kenal selama ini tidak muncul begitu saja dari ruang hampa.
Tentu saja sekarang kita sudah melihat banyak contoh pentingnya kerja keras di semua bidang. Namun apakah kerja keras belaka cukup? Jelas tidak sesederhana itu. Siapa pun pasti bisa menemukan contoh orang yang sudah bekerja keras belasan atau malah puluhan tahun dan yang didapatkan bukannya keahlian, melainkan penyakit dan kesengsaraan. Adakah yang lebih menyedihkan dari itu? Kita sudah menginvestasikan belasan tahun bekerja keras dan kemudian menemukan semua waktu yang sudah kita habiskan sia-sia belaka. Jika Anda tidak yakin kerja keras saja adalah jawabannya, maka Anda benar. Tidak semua kerja keras mampu membawa Anda ke tempat yang diinginkan. Kerja keras yang dibutuhkan adalah kerja keras dengan cara yang benar. Kita akan mengupas lebih jauh mengenai hal tersebut di artikel-artikel berikutnya, dimulai dari kisah seorang individu yang dikenal dengan nama SF.
http://itpin.orangenexus.com/2010/12/05/ketika-sebuah-apel-jatuh-di-atas-kepala-newton/







ketika ku beranjak dari langkah ini
dan ketika tangan ini mampu menari merangkai kata menuai hikmah
ijinkanku memperkenalkan diri dan tulisan ini
dan menjadikan bloq ku sebagai prasasti
akan eksistensi diri
dan pengabdian pada Ilahi
jangan melihatku dari apa yang aku kenakan
jangan menilaiku dari siapa aku berteman
aku sedang belajar
selamanya menjadi manusia pembelajar