13.12.10

[Taujih Part II] La Taghdob Walakal Jannah



La Taghdob Walakal Jannah.



Sebagai seorang manusia biasa, pastinya kita pernah mengalami situasi yang membuat kita marah. Siapapun kita, tentu saja pernah merasakan sakit hati, kecewa dan marah.



Pagi ini, seorang saudari memberikan taujihnya pada sebuah lingkaran kecil yang -semoga saja- kehadiran lingkaran tersebut untuk mengharapkan ridha Allah dengan niat untuk mengkaji dan menuntut ilmu. Seorang saudari yang menceritakan mengenai hakikat marah. Ia menceritakan sebuah dialog antara seorang anak dan ayahnya mengenai sebuah tema, yaitu marah.



******



"Ayah, tolong beritahuku tentang hakikat marah." Ujar anak kecil tersebut kepada ayahnya.



Sang ayah tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya, namun ita mengajak ke belakang rumahnya, dimana terdapat sebuah tembok besar disana.



"Ayah akan menjawab pertanyaanmu tapi sebulan lagi. Nak, sekarang coba kau lihat tembok besar itu."



"Apa hubungannya tebok besar dengan marah ayah?"



"Ayah mau kau mengikuti perintah ayah. Selama sebulan, ketika kau sedang marah dan melampiaskannya kepada orang lain, maka tancapkanlah paku dengan menggunakan palu ini pada tembok itu." Kata ayahnya sembari memberikan palu dan paku kepada anaknya tersebut.



Benar saja, sang anak kemudian mematuhi perintah ayahnya tersebut. Ketika ia sedang melampiaskan kemarahannya pada siapaun itu, baik kepada temannya, ibunya, atau siapapun yang ditemuinya, maka setelah itu ia menancapkan paku pada tembok besar di belakang rumahnya.



Sebulan kemudian, ia kembali menemui ayahnya di belakang rumahnya tersebut.



"Ayah, aku sudah memenuhi perintahmu. Sekarang lihatlah tembok itu, sudah penuh dengan tancapan paku."



"Anakku, sebelum ayah menjelaskan kepadamu mengenai hakikat marah, maukah kau mengikuti sekali lagi perintah ayahmu?"



"Hmmmm, baiklah ayah. Apa permintaan itu?"



"Ayah akan memberitahumu tentang hakikat marah sebulan lagi. Selama sebulan kedepan, kau harus berjanji kepada ayah untuk meminta maaf kepada orang yang pernah kau buat marah. Setelah kau meminta maaf, kau harus mencabut paku tersebut satu per satu hingga semua paku yang ada di tembok itu terlepas."



Karena anak tersebut penasaran dengan penjelasan ayahnya tentang hakikat marah, maka ia mengikuti apa yang diperintahkan ayahnya.



Sebulan telah berlalu, dan kemudian anak tersebut kembali menagih penjelasan ayahnya tentang hakikat marah.



"Lihatlah ayah, aku telah melaksanakan perintahmu. Aku telah meminta maaf dan paku-paku tersebut telah terccabut semua dari tembok itu." Kata anak tersebut.



"Wahai anakku, dengarlah penjelasan ayah. Sekarang kamu lihatlah tembok tempat kamu menancapkan paku itu. Pada mulanya, tembok tersebut mulus dan bersih dari cacat. Namun kamu lihat apa yang terjadi, ketika kamu marah dan menancapkan paku, seusungguhnya kamu telah menancapkan paku kepada orang yang kamu sakiti ketika kamu marah. Dan ketikapun kamu telah meminta maaf kepada orang yang kamu sakiti, maka sesungguhnya kamu tidak dapat mengembalikan perasaan dari orang yang kamu sakiti itu, ssekalipun kau sudah meminta maaf padanya dan permintaan maafmu diterima."



Sang anak tertegun.



"Oleh karena itu anakku, maka kau harus berhati-hati ketika marah. Jangan sampai dengan marahmu itu kau melukai hati saudaramu sendiri, jangan sampai kamu menyakiti hati orang lain. Itulah hakikat marah anakku."



********



Subhanallah, wahai teman-teman semua,.. Benarlah bahwa kita diminta untuk jangan marah,



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

[رواه البخاري]



Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhori) Hadits Arba'in No 16



"Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan." (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan)



Teman-teman, mari kita menjaga diri kita dari sifat kemarahan, karena sesuai dengan Hadits Rasulullah saw bahwa "Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : 'Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.' (HR. Bukhari dan Muslim). Menjadi pribadi yang pemaaf, tidak mudah marah, dan marilah kita menjadi orang yang kuat ^.^/



*saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan ya,....

*ditulis dengan bahasa sy sendiri,....

*mohon maaf apabila ada salah kata dan perbuatan,....

*Samarinda, 11 Des 10
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment