13.12.10

[Ta'lim PW] Refleksi Ketauhidan Nabi Ibrahim As




Laporan Ta’lim PW PII Kalimantan Timur



Hari/Tanggal : Jumat, 10 Desember 2010

Pukul : 20.30-21.30 WITA

Tempat : Kediaman Yunda Nur Ayu Saputri

Mualim : Yunda Nur Annisa Rahmah

Materi : Akidah



REFLEKSI KETAUHIDAN NABI IBRAHIM AS



Bismillahirrahmaanirrahiim…



Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?"

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?

­Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

QS Al An’am 74-83



Surah tersebut menginspirasi kita untuk dapat meneladani Kisah Nabi Ibrahim AS dalam pencariannya mencari Tuhan.

Sebagai seorang muslim wajib mengimani adanya Allah SWT. Keberadaan alam sesmesta dan kehidupan di dunia ini adalah bukti nyata bahwa Allah SWT Sang Maha Pemilik Kehidupan. Bagi-Nya, apa yang ada di langit dan di bumi merupakan bagian kecil dari kekuasaan-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang terjadi dan akan terjadi



Pada dasarnya, semua makhluk yang diciptakan Allah memiliki kewajiban utama untuk tunduk dan menyembah kepada-Nya, Allah tidak mengharapkan dan tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya karena Dia-lah Yang Maha Kaya. Justru manusialah yang sangat membutuhkan dan mengharapkan nikmat-nikmat-Nya. Rasa ketergantungan ini seharusnya tertanam dalam tiap-tiap jiwa manusia, agar manusia sadar bahwa setiap detik dalam kehidupannya adalah sepenuhnya berada dalam genggaman Allah, segala nikmat yang dimilikinya adalah milik Allah, dan setiap keberhasilannya adalah merupakan ridha Allah dan taufiq dari-Nya (QS. Adz-Dzariyat: 56).



Sejarah dan perjalanan keberislaman khalilullah nabi Ibrahim as diungkap di banyak tempat referensi ajaran Islam, utamanya dalam Al-Qur’an. Ibrahim as merupakan nabi yang cerdas yang sejak kecil telah menghadapi kerasnya hidup, bahkan hidup di tengah-tengah masyarakat yang nyaris sudah tidak mengenal Allah SWT. Masa-masa kegelapan seperti penyembahan berhala sebagai Tuhan, kesyirikan, dan pemujaan kepada dewa telah menyelimuti bumi Allah kala itu. Bila ditadaburi dari perjalanan nabi Ibrahim as, maka sesungguhnya hal ini sarat akan nilai, sikap pemurnian, dan bertauhid kepada Allah SWT dengan memperlihatkan perlawanan yang dasyhat kepada kejahatan dan tipu muslihat iblis serta bala tentaranya.



Ibrahim as digolongkan sebagai muslim yang taat, anti terhadap kemusyrikan dan beliau telah mengukir sejarah berqurban sebagai bentuk dan lambang kecintaan yang tinggi dan ketaatan yang amat mendalam kepada Dzat yang Maha Agung, Al-Qur’an meringkaskan perjalanan nabi Ibrahim as yang mulia tersebut, Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (Q.S An Nahal :120)



Dalam kisah perjalanan kerasulannya, ada pesan khusus yang ingin disampaikan Ibrahim as untuk ummatnya, yaitu kecintaan yang mendalam pada Allah SWT. Cinta adalah kesadaran diri (wa’yu fî al-nafs), Dorongan hati dan perasaan jiwa yang menyebabkan seorang memiliki kecenderungan yang dalam kepada yang ia cintai dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang dan penuh harap (raja’). Cinta adalah fithrah bagi manusia, ajaran Islam pun mengakui akan hal ini (Q.S Ali Imran 14) oleh karenanya Islam mengaturnya sehingga cinta itu menjadi cinta yang mulia. Bagi insan yang bertakwa, cintanya terpaut mendalam hanya kepada Allah SWT, “..... adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 165)



Maka sungguhlah indah dan alangkah nikmatnya jika bentuk cinta seperti ini menjadi karakter dalam diri kita semua. Rasulullah SAW telah menujukan jalan dalam hal ini, yaitu mengikuti ajaran dan sunnahnya. Subhanallah. Allah SWT pun akan mencintai kita (hubban), menyayangi kita (rahîman), melindungi kita (himayah), memelihara dari mara bahaya bagi diri dan iman kita, bahkan Sang Khalik akan menberi ampun atas dosa dan kesalahan ( maghfirah).

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran: 31)



Menjauhi Syirik, Sikap Agung Ibrahim as

Amal yang sangat di benci Allah SWT adalah Perbuatan Syirik, yaitu sebuah bentuk penyimpangan prinsip hidup yang amat dahsat yang terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Arti Syirik dalam Islam adalah menyekutukan Allah SWT baik pada Ubudiyah (perkara ibadah) maupun Uluhiyah (aspek ketuhanan). Secara umum hal ini dapat berbentuk seperti ritual-ritual kepada sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan ghaib selain Allah SWT, bisa juga berupa penyembelihan, yaitu pemberian sesajen kepada sesuatu dengan mengharapkan satu lain hal dalam hidup ini. Kemusyrikan menjadi sejarah kelam dalam perjalanan hidup ummat manusia ini, dan menjadi titik hitam yang kerap terjadi diantara tradisi dan budaya hidup manusia.



Kesyirikan yang dikenal dalam Islam ini belum terjadi pada ummat manusia sebelum nabi Nuh as (Ulama Ibnu Abbas dan Ibnu Qoyim berpendapat sama dalam hal ini). Rentang masa kehidupan antara nabi Adam as dan Nuh as adalah sepuluh abad, dimana dijelaskan oleh banyak ayat Al-Qur’an bahwa manusia masa itu masih bertauhid kepada Allah SWT dengan baik, belum terjadi perselisihan tentang Allah SWT.



Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (QS. Al-Baqarah: 213)



Manusia dahulunya hanyalah satu umat, Kemudian mereka berselisih. kalau tidaklah Karena suatu ketetapan yang Telah ada dari Tuhanmu dahulu, Pastilah Telah diberi Keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS. Yunus: 19)



Petaka kesyirikan yang menghampiri manusia adalah diawali dengan perbuatan memuja secara berlebihan, bahkan berdoa dan berharap kepada orang-orang shaleh yang telah meninggal pada awal-awal kenabian Nuh as akan sesuatu hal dalam kehidupan mereka. Kelakuan ini berkembang dan bervariasi bentuknya menjadi penyakit serta merusak mental manusia dari masa ke masa berikutnya. Iblis secara utuh telah berhasil memperdayakan manusia dan merusak tauhidnya. Akibat ulah Iblis ini, manusia terpisahkan dari Rabb yang sesungguhnya, Allah yang selalu dipuja, Allah yang selalu memberi rejeki, memberkahi, dan mencurahkan nikmat-nikmat-Nya. Oleh karena itu, diutusnya nabi dan rasul laksana rantai yang tak terputus dan berakhir pada khatâm al-Anbiya’(penutup) yaitu Muhammad SAW, adalah untuk menyampaikan ajaran Tauhid yang satu dari Tuhan yang satu, dan Dia adalah Allah SWT.



Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya) (Q.S As-sura : 13).



Perbuatan syirik merupakan bentuk kedzaliman kepada Allah SWT dan digolongkan sebagai dosa besar. Allah SWT menghukum perbuatan syirik di dunia dalam bentuk tidak adanya maghfirah sebelum bertaubat, diputihkan/dianulir semua amal kebaikannya, seiring itu juga diabaikan Allah dan tidak diberi pertolongan. Adapun hukuman di akhirat adalah diharamkan baginya mencium harumnya surga dan dicampakan diri mereka ke dalam neraka.



“janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Q. S : Lukman 13)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar” (Q.S. An-Nisa: 48)

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Q.S. Al-Maidah: 72)

"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Q.S. Az-Zumar: 65)



Refleksi Ketauhidan Ibrahim as di Masa Sekarang

Kisah dan syari’at nabi Ibrahim as bagi ummat nabi Muhammad saw ternyata bukan tanpa maksud. Dalam banyak suratnya, al-Qur’an mengungkapkan tentang keshalehan, ketaatan, keberanian, dan kecerdasan nabi Ibrahim as, namun di atas semua itu adalah kisah ini memperlihatkan bentuk ketakwaan Ibrahim as kepada Allah SWT dalam usahanya mencari prinsip-prinsip tauhid dan dengan sikapnya yang tegas dan berani menghadang nilai dan perilaku syirik masyarakatnya, An-nahyu anil mungkar, walâ ta’âwanu ala ‘udwan. Bagi Ibrahim as keberanian mengoreksi kesalahan pengabdian ummat dimasanya adalah domainnya sebagai muslim yang taat yang telah dikaruniai pemamahaman Tauhidnya yang murni. Kisah ini memiliki dua pengaruh positif untuk manusia sesudahnya, terutama ummat nabi Muhammad saw. Pertama, adalah Ibrahim as telah melahirkan kesadaran yang panjang bagi manusia tentang urgensi tauhid yang murni, tidak bercampur sedikitpun dengan kesyirikan. Kedua, kisah Ibrahim as menjadi simbol penghormatan dan penghargaan yang tinggi di sisi Allah SWT. Allah SWT memuji hamba-Nya lantaran kebersihan tauhidnya, berbekal tauhid yang bersih dan benar akan membimbing manusia ke dalam bentuk ibadah-ibadah dan ketaatan yang ikhlas.



Pada masa sekarang, aspek-aspek perusak tauhid sangat bervariasi meski tidak seperti masa Ibrahim as, lain lubuk lain belalang. Hal inilah yang menjadi tantangan untuk ummat Islam, khususnya ummat Islam Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Budaya dan tradisi kuno kembali bermunculan dan menampakkan diri, seperti adanya komunitas-komunitas pemuja setan, komunitas paranormal yang sedikit demi sedikit menggeser tauhid yang bersih, komunitas pencinta sesajen, sesembelihan yang dikaitkan dengan selain Allah, dan tradisi-tradisi yang menyekutukan-Nya. Demikian pula dengan bermunculannya penyimpangan-penyimpangan ajaran Islam, nabi-nabi palsu, para intelektual yang cenderung bebas nilai, pencitraan yang menyudutkan Islam, provokasi kartun nabi Muhammad SAW, film-film fitnah Islam, bahkan terusiknya kenyamanan di negara–negara minoritas dan lainnya.



Pada dasarnya, tauhid yang dibawa Ibrahim as memiliki nilai yang universal, bukan sebatas pada kepercayaan, tetapi tauhid yang mampu melahirkan amal, menggerakkan, dan mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan ummat sesuai masa dan kebutuhan zamannya. Inilah fungsi sekaligus tantangan untuk berkarya dan mengabdi bagi setiap mukmin, keluarga mukmin, dan lebih luas lagi untuk komunitas dan masyarakan muslim.



Zaman berubah, musim pun berganti, dengan kondisi muram wajah ummat Islam saat ini, terutama dalam hal peningkatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan ummat Islam, serta hal-hal lainnya, mayoritas ummat Islam hendaknya memulai amal jama’i dalam al-amr bi al-ma’ruf, wa ta’âwanu ala al-birri wa taqwa.



Maka dengan pemahaman Tauhid yang benar, rasa kecintaan pada Allah SWT dan Islam akan melahirkan mukmin sejati yang siap berbuat banyak untuk ummat dan agama melalui berbagai amal baik. Lembaga ataupun pribadi, dari surau-surau hingga masjid, dapat mencintai saudara seimannya dari berbagai lapisan.



“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)” (QS. Al-Ahzab:23)



Membahayakan aqidah

Aqidah dalam Islam sangat prinsip, esensinya adalah tauhid. Nabi Muhammad SAW memprioritaskan pembinaan aqidah umat, agar iman kaum muslimin itu benar-benar berkualitas. Hal ini sangat diutamakan dalam ajaran Islam. Mengapa? karena hal ini merupakan pondasi yang sangat mendasar di hati umat Islam.



Aqidah adalah sesuatu yang sangat tingai nilainya bagi seorang muslim Dengan aqidah yang kuat seorang muslim akan memiliki sikap yang teguh pendiriannya (istiqomah) di dalam hidup dan kehidupannya sehari-hari. Maka nilai aqidah bagi seorang muslim itu tidak dapat ditukar dengan uang, harta, bahkan nyawa sekalipun.



Tetapi terkadang aqidah (keyakinan atau kepercayaan) ini bisa goyah dan luntur dengan adanya berbagai aliran pemikiran dan paham yang terus berkembang dan muncul di masyarakat, yang dapat melunturkan nilai-nilai aqidah Islamiyah, sehingga menimbulkan banyak tantangan dan problem umat.



Tantangan Menghadang

Ajaran tauhid (aqidah) sangat fundamental, yang perlu perhatian utama bagi umat Islam, sehingga tetap terjaga kesucian dan kemumiannya sekalipun banyak tantangan-tantangan yang timbul dan terjadi di kalangan umat Adalah Iblis menjadi musuh bebuyutan manusia sejak Nabi Adam AS sampai hari kiamat kelak. Bahkan Iblis bersumpah untuk dapat menjerumuskan Nabi Adam AS dan keturunannya. Hal ini menjadi tantangan yang dihadapi manusia. Selain itu ada juga tantangan yang dapat merusak terhadap nilai-nilai aqidah seperti halnya animisme, dinamisme, pluralisme, liberalisme, sekularisme, dan sinkretisme.



Menurut Indrawan WS dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, animisme adalah kepercayaan yang beranggapan bahwa semua benda mempunyai roh dan memiliki kekuatan. Demikian pula dengan dinamisme hanya beda-beda tipis antara keduanya, sehingga muncul anggapan dan kepercayaan terhadap tempat-tempat dan benda-benda khusus seperti keris, tombak dan jimat.



Pluralisme ini juga disuntikkan terhadap kaum muslimin dengan tujuan utamanya adalah agar kaum muslimin beranggapan semua agama itu benar, padahal kebenaran mutlak hanya satu, itulah dinul Islam. Sekularisme merupakan suatu paham yang memisahkan agama dari kehidupan (bernegara). Membangun struktur kehidupan di atas landasan selain dari Islam.



Islam Agama Dakwah

Islam adalah agama dakwah yang sifatnya universal dan selalu ‘up to date’ setiap saat Islam tentu mampu memberikan solusi dan jawatan agar umat ini tetap berpegang teguh terhadap kebenaran yang mutlak yaitu Dinullah (Islam). Akhimya kita berdoa semoga aqidah kita murni, keimanan kita semakin mantap, nilai keislaman kita semakin meningkat dan nilai keberagamaan kita semakin kuat.



Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Ali Imran: 147).



****************

Kesimpulan yang dapat diambil dari Mualim adalah, agar kita dapat meneladani Nabi Ibrahim AS dalam merefleksikan ketauhidannya kepada Allah SWT dengan cara:

1. Mencintai Allah SWT dengan sebenra-benarnya cinta (Q.S. Al Baqarah:165)

2. Menjauhi syirik dengan segala bentuk kesyirikannya (Q. S : Lukman 13)



Refleksi ketauhidan yang dapat kita lakukan pada saat sekarang adalah dengan senantiasa memperbarui syahadat kita dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga memiliki tantangan dari hal-hal yang dapat merusak terhadap nilai-nilai aqidah seperti halnya animisme, dinamisme, pluralisme, liberalisme, sekularisme, dan sinkretisme.

Semoga Allah merahmati kita semua.



“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” Q.S Al Fatihah:6-7



Sumber :

1. http://dinnirasjid.blogspot.com/2009/11/refleksi-ketauhidan-nabi-ibrahim-as.html

2. http://mimbarjumat.com/archives/19
Reaksi:

1 comment: