22.12.10

Untukmu Para Instruktur [Renungan Untuk Diri Sendiri]


Libur telah tiba,libur telah tiba

Hore,Hore,Hore

Simpanlah tas dan bukumu

Lupakan keluh kesahmu

Libur telah tiba,libur telah tiba

Hatiku gembira!

Libur sekolah merupakan waktu yang ditunggu-tunggu bagi semua anak sekolah, apalagi setelah berjibaku dengan ujian yang dirasa cukup menguras energi dan pikiran. Liburan merupakan sarana yang tepat untuk memulihkan hati, pikiran, dan mempersiapkan diri menuju semester berikutnya yang tentu saja akan lebih berat tantangannya dibandingkan dengan semester yang telah lalu. Maka dari itu, banyak yang memanfaatkan libur untuk liburan, rekreasi, jalan-jalan, atau hanya di rumah dengan aktivitas yang berbeda dari biasanya, yakni bersantai (Loh bukannya tiap hari juga aktivitasnya bersantai?) ^_^

Namun ada juga yang memanfaatkan sarana liburan untuk menebar kebaikan. Bak jamur yang sedang tumbuh di musim hujan, saat liburan inilah moment yang sangat pas bagi kader Pelajar Islam Indonesia untuk melebarkan sayapnya menebar kebaikan dan mencetak generasi Muslim yang Cendekia dan Pemimpin. Dalam prosesnya itu, harus ada kesadaran dari dalam diri untuk rela mengorbankan watu liburnya, dimana yang lain bisa bersantai, namun bagi kader PII harus berjibaku dalam urusan pentrainingan, mencari dana, mencari peserta, mengurus masalah teknis dalam seminggu pelaksanaan, dan lain sebagainya.

Pun demikian bagi seorang Instruktur. Peran yang diembannya juga tidaklah mudah. Saya ingin menganalogikan dengan proses menanak nasi. Ketika kita sedang menanak nasi, kita melakukan proses perubahan yang revolusioner, dari mengubah butiran beras menjadi sepiring nasi hangat yang dapat dimakan.

Bagaimana seorang instruktur berperan dalam proses analogi menanak nasi ini? Seorang instruktur harus mempunyai skill memasak, tahu dengan jelas jenis beras yang akan dimasaknya dan bagaimana mengolahnya walau dengan jenis beras yang berbeda-beda. Dan tidak lupa, seorang instruktur juga harus mempersiapkan perlengkapan memasak yang terbaik yang ia punya. Ia harus mempersiapkan peralatan masak yang baik, bumbu racikan yang mantap, dan tak lupa peralatan makan yang cantik.

Bagaimana jika seorang instruktur tak mampu mengusahakannya? Mempersiapkan masakan dengan skill yang apa adanya, bumbu seadanya, dan peralatan makan yang apa adanya (daripada tidak ada, katanya). Jika itu yang terjadi, dan menyadari kelemahan pada proses memasaknya yang dirasa kurang dalam beberapa hal, maka ia harus mempunyai kemauan untuk meningkatkan skill yang ia punya disertai niat yang kuat serta keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk sebuah kebaikan.

Saya tertarik dengan sebuah kalimat ini:

"Bagaimana mungkin bisa mendapatkan nasi yang matang dengan sempurna jika kita memasaknya dengan panci yang bolong."

Hmmmm maksudnya gimana tuh?... Ya, bagaimana kita akan mencetak seorang kader yang Muslim, Cendekia, Pemimpin jika apa yang ada dalam diri kita belum mampu mengaktualisasikan hal tersebut, atau belum mengusahakan memenuhi kriteria itu.

Jadi instruktur itu, memiliki beban moral yang sangat besar. Namun, juga berpotensi menghasilkan ladang pahala yang juga sangat besar. Mengaktualisasikan kriteria kader Muslim Cendekia dan Pemimpin, mencetak kader yang komitemen terhadap kePelajaran, keIslaman, dan keIndonesiaan, dan yang penting menyadarkan kepada generasi muda akan peran dan tanggung jawabnya sebagai abdullah dan khalifah, sebelum itu semua ditransformasikan kepada kader yang dibina, bukankah itu semua harus ada dulu dalam diri seorang instruktur??

Bagaimana kalau itu belum atau tidak dimiliki oleh seorang instruktur? Kalau belum, semoga memiliki kesadaran untuk meraihnya. Namun kalau tidak, maka aktivitas keinstrukturan yang dilakukan mungkin hanya sebagai penggugur tanggung jawab yang telah diikrarkan, atau memenuhi kebutuhan pentrainingan. Maka aktivitas yang dilakukan tak ubahnya hanya sekedar menyampaikan informasi, tanpa ada ruh dalam proses transformasi nilai. Dan, tak ubahnya seperti lilin yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri. Dan semoga kita tidak termasuk orang yang dimaksud dalam surah berikut ini:

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?"

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan."

Q.S. Ash Shaff : 2-3

Namun, semoga kita menjadi orang yang termasuk mendapatkan seperti di bawah ini:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,

niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

Q.S. Ash Shaff : 10-12

Musim training telah tiba, ratusan calon kader siap untuk dibina. Maka, lakukanlah tugas dengan sebaik-baiknya wahai para Instruktur, persiapkan diri sebaik-baiknya. Tingkatkan amal ibadah harian, maka itu akan menambah kuallitas kefaqihan. Tingkatkan wawasan dan ilmu, maka itu akan menambah kualitas keilmuan. Mari kita semua sama-sama belajar dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketaqwaan.

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)."

Q.S. Al Anfaal : 60

Sampaikan salam dan semangat untuk para Instruktur dimanapun berada. Sampaikan semangat untuk Panitia yang berusaha mensukseskan kegiatan. Sampaikan salam persaudaraan untuk calon kader dimanapun ia akan dibina. Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita dalam menggapai ridho-Nya.

Reaksi:

4 comments:

  1. Coba belajar ilmu netes deh,..
    Ketika memahami filosofi ini sy kira kita akan lebih serius menjadi instruktur,..
    kemudian memahami pilihan sikap dalam keinstrukturan harus lebih filosofis berdasarkan idialitas tadib,,.
    Tetap Semangat,..

    ReplyDelete
  2. apalah artinya ilmu jika tidak disampaikan, pasti akan hilang perlahan-lahan :)

    *sadar sm diri sendiri :'(

    ReplyDelete
  3. iyaa sepakat,, semangat menebar kebaikan.... :))

    ReplyDelete