15.7.09

Kupu-Kupu Jingga


Aku menarik napas pelan dan ku hembuskan perlahan juga. Berkali-kali kuusir kantukku dengan meminum segelas teh yang sudah tidak hangat lagi. Kulirik jam dinding sekilas. Pukul tiga lewat tujuh menit. Satu soal lagi harus ku selesaikan.

Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dari kamarku. Kalau malam begini, frekuensi bunyi yang kecil jadi mudah terdengar. Sepertinya ibu sedang bersiap untuk qiyamul lail. Aku pengen shalat juga, tapi lagi ngga bisa.

Alhamdulillah selesai tugasku, meskipun harus membutuhkan waktu setengah jam untuk mengerjakannya. Ku kendorkan urat-urat tangan yang sedari tadi tak berhenti menulis. Kusandarkan punggungku pada dinding sebelum aku bersiap untuk melabuhkan diri dalam mimpi. Dari kamar sebelah, ku dengar lantunan doa dipanjatkan ibu. Syahdu dan menusuk kalbuku. Tak terasa airmata meleleh mendengar suara lemah ibu mengalunkan doa.


“Ya Allah, berikan yang terbaik untuk ketiga anakku.
Kasihanilah mereka dan berika limpahan hidayah kepada merka.
Maafkanlah aku yang tidak bisa memberikan penghidupan yang layak bagi mereka.

Pulangkanlah anakku yang terlupa jalan rumahnya.
Ingatkanlah mereka yang hilang asanya.
Kuatkan langkah mereka,…….”

Aku ingin sekali memeluk ibu sekarang juga. Rasanya doa tadi mampu meluluhkan sedikit rasa lelahku akan perjuangan yang setiap harinya aku tempuh.

‘Maafkan aku bu, sering kali aku mengeluh atas beban yang diletakkan pada pundakku’

Dan aku merebahkan diri ke pangkuan malam yang semakin larut yang tak sabar berganti peran dengan fajar.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Rasa kantukku sudah tidak bisa lagi di tawar. Sudah dua malam ini tidurku tidak karuan. Dan tadi malam hanya berhasil terlelap satu jam dan tidak ada tidur lagi sampai sekarang. Dosen sudah pergi sedari tadi dan teman-teman sekelas pun sudah berhamburan keluar. Tapi, sejam lagi ada kuliah lain. Aku butuh tidur sekarang. Tapi tidur dimana?

Kuputuskan untuk tidur sejenak di mushalla. Dan akhirnya akupun menuntun kaki ini ke arah bangunan kecil yang letaknya agak jauh dari kelasku. Sesampainya di mushalla, terlihat cukup sepi. Biasanya jam sebelas begini mushalla memang sepi, karena akhwat-akhwat yang biasa disini masih berjibaku pada kuliahnya masing-masing. Langsung saja aku mengambil posisi di pojok belakang dekat lemari mukenah. Merebahkan punggungku dan bersiap untuk tidur sejanak.

Sayup-sayup ku dengar langkah dua orang akhwat muncul dan menghampiriku yang setengah tidur dan berbicara berdua.

(+) : “Siapa yang lagi tidur ukh?”

(-) : “Ngga tau siapa.”

“Oh, ukhti Ratna.”

(+) : “Wah lama ngga lihat beliau di mushalla.”

(-) : “Iya, begitu muncul, Cuma numpang tidur.”


Glek. Pembicaraan itu tiba-tiba menghilangkan rasa kantukku. Namun, kubiarkan mata ini terpejam begitu saja. Aku tahu dari suaranya siapa kedua akhwat itu. Tapi sudahlah, mereka tidak tahu kondisiku seperti apa. Kalau mereka tahu, mungkin tak akan pernah kata-kata tadi terucap dari bibir mereka. Kumaafkan atas ketidaktahuan mereka.

Aku harus tidur sekarang walaupun hanya sepuluh menit saja. Karena aku tidak akan punya waktu lagi untuk sekedar memejamkan mata. Setelah kuliah siang ini, aku harus ke rental untuk kerja sampai jam tujuh malam. Selanjutnya, berpindah lagi ke tempat fotokopian, kerja disana sampai jam setengah sepuluh malam.

Aku bukan workaholic, tapi memang aku harus bekerja. Seperti dua malam tadi, selepas pulang dari jadwal kerja biasanya, aku harus menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan sore ini sehingga tugas kuliahku sendiri baru bisa kekerjakan jam satu tadi malam. Maka, akupun benar-benar tidak punya waktu untuk berorganisasi di kampus meskipun aku ingin sekali melakukannya. Aku harus kerja. Kalau tidak, aku tidak tahu dengan apa aku mampu membayar uang kuliah dan makan sehari-hariku dengan ibu.

Ibuku sudah tua dan sakit-sakitan. Bulan kemarin, usianya sudah 59 tahun. Sementara bapak, sudah meninggal sepuluh bulan yang lalu karena suatu kecelakaan yang sangat tragis. Semenjak itulah, aktivitasku berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi yang namanya syuro, rapat dan aktivitas organisasi karena waktuku tersita untuk kuliah dan bekerja.

Aku sebenarnya punya dua orang kakak. Kakak pertama laki-laki bernama Rahman, yang sudah dua tahun merantau ke Sumatera dan tidak pernah memberi kabar. Terakhir aku dengar beritanya dari seorang teman lamanya yang mampir ke rumah, bahwa dia sudah menikah dengan anak bossnya. Sungguh tega dia. Tidak memberi kabar tentang pernikahannya, bahkan untuk pulang menghadiri pemakaman bapaknya pu tidak. Betapa hancur hati ibuku mendengar berita pernikahannya. Dia adalah anak kesayangan ibu yang selalu dibanggakan ibu setiap saat. Aku jadi teringat legenda Malin Kundang. Tapi aku sangat yakin, tidak akan pernah keluar sumpah atau kutukan dari suara lembut ibuku untuknya. Ibu terlalu baik untuk melakukannya.

Sementara kakak keduaku pun sudah meninggalkan rumah sebulan setelah kematian bapak. Mbak Ratih sekarang kost didekat pabrik tempatnya bekerja. Dan aku, tidak pernah cocok denagn kakak perempuanku itu. Katanya, dia selalu mengirimkan uang kepada ibu setiap bulan. Tapi aku heran, karena setahuku, kehidupan kami ya dari penghasilanku bekerja. Setiap kali aku menanyakan ini padanya, mbak Ratih selalu saja menyangkal dan bilang selalu memberi uang pada ibu dan akhirnya kami bertengkar. Aku tidak tahu harus percaya ibu atau kakakku itu.

Suara sms dari handphoneku benar-benar telah membuatku membuka mata. Dari ibu. Ada kebahagiaan tersendiri bagiku telah berhasil mengumpulkan uang dan menghadiahi sebuah handphone untuk ibu dihari ulang tahunnya kemarin.

Sudah makan nak? Makan dulu. Nanti sakit.

Dan kuputuskan untuk pergi ke kantin, memesan teh hangat dan sepiring nasi campur, sebagai amunisi untuk hariku hari ini yang masih panjang.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


“Umurmu sudah dua puluh ya Na.” Kata ibu suatu malam.

“Iya, sudah tua ya. Emang kenapa Bu?” Jawabku sembari sibuk menyisir rambut ibuku yang sudah banyak ubannya.

Malam itu, kami berdua duduk di depan televisi di ruang keluarga kami yang kecil dan bercat krem. Ditemani cahaya lampu dan bunyi jam dinding yang beradu dengan suara pemain sinetron, yang tergantung pada tembok di belakang televisi. Tak ada hiasan apapun di rumah kecil kami, kecuali foto pernikahan ibu dan bapak terpajang di sebelah kanan jam dinding. Dan di sebelah kirinya, terdapat fotoku bertiga kakakku sewaktu kecil. Waktu memang tidak dapat diputar untuk merasakan suasana hangat ketika kami dulu masih berkumpul berlima disini, bertahun-tahun yang lalu.

“Ibu pengen cucu Na. kamu cepat nikah sana”

“Waduh Ibu. Nana masih kecil. Suruh mba Ratih aja tuh nikah. Nana ma kuliah dulu.”

“Mbakmu ngga bisa diharapkan Na. Apalagi Rahman. Kalau ibumu menginggal, apa dia mau ngantar jenazah Ibu ke makam ya.”

“Hush Ibu, ngga boleh ah ngomong begitu. Kalau Ibu ngga ada, Nana sama siapa?” Dan tanganku sekarang bergerak-gerak mengepang rambut panjang ibu.

“Makanya kamu nikah cepat biar ada temannya.”

“Ibu ah, Nana malu nih. Nanti aja ya bu dipikirinnya. Hehehe.”

“Jagain Mbakmu ya Na. Ibu sudah ngga bisa jagain dia.”

“Harusnya kan dia yang jagain Nana ya Bu.”

Mendadak sunyi. Meskipun suara bising dari televisi memenuhi udara di sekeliling kami, namun beberapa saat tak ada percakapan antara aku dan ibu. Dan aku kembali berbicara.

“Bu, Nana malam ini tidur sama Ibu ya.”



Dan aku menangis mengingat percakapan dengan ibu semalam. Secepat kilat aku memacu motorku menelusuri jalan raya yang begitu padat siang ini. Tahukah kau apa yang terjadi?

‘Ibu, tunggu aku……’

Aku telah sampai di lorong rumah sakit. Berlari menuju kamar UGD. Kutahan teriakan yang sejak tadi meraung-raung di alam tak sadarku.

Ibu. Kulihat badannya terbujur kaku. Selang-selang bertebaran dan banyak perban menempel. Kudengar napasnya pelan keluar dari hidungnya. Ibu. Kudengar bibir halusnya mencoba melafadzkan kalimat syahadat. Aku ingin teriak. Aku ingin pingsan. Entah berapa liter airmata telah ku keluarkan sedari tadi. Aku tidak sanggup kehilangan ibu.

Kutuntun ibu perlahan mengucapkan kalimat itu. Meskipun sakit hati ini melihatnya. Dan….

Laa ilaaha illallaah , Muhammad Rasuulullaah.

Ilahi, Ibuku telah pergi. Sama kejadiannya dengan perginya bapakku. Menginggal karena korban tabrak lari. Ya Allah, semua yang berasal dari Mu akan kembali pada Mu.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Aku mengamatinya mengemas barang. Seminggu setelah kepulangan ibu kami, tak kuduga akan secepat ini Mbak Ratih akan kembali meninggalkanku. Aku ingin marah. Aku ingin beradu mulut dengannya. Tapi, aku ingat pesan almarhumah ibu untuk menjaganya. Aku tidak tahu apakah aku akan sanggup memenuhinya, setelah sebelumnya aku tidak berhasil memenuhi keinginan ibu untuk menghadirkan Kak Rahmad pada pemakamannya.

Kuperhatikan dengan sendu kakak perempuanku ini. Wajahnya pualam dan cantik. Bahkan aku pernah iri karena dia banyak mewarisi kecantikan ibu sementara aku tidak. Namun sangat disayangkan bahwa kecantikannya tidak ditutupi dan dijaga denagn sempurna. Celana jeans ketat, kaos kuning dengan lengan menggantung dan jilbab yang melilit lehernya, namun memperlihatkan poninya itu, tak mampu lagi menyembunyikan identitas Mbak Ratih di mataku. Aku sudah tahu semua, meskipun terlambat aku mengetahuinya, setelah ibu tiada.

“Mbak mau pergi juga?” Akhirnya kukeluarkan suara. Meskipun aku tahu keberadaanku sedari tadi sudah disadarinya.

“Mbak mau kerja lagi. Kalau ngga kerja, kamu mau makan apa?” Jawabnya sembari asyik memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar. “Rumah sakit juga belum di bayar kan?”

“Rumah sakit biar Ratna yang bayar. Mbak ngga usah kerja lagi. Biar Ratna yang kerja. Toh selama ini Ibu sama Ratna bisa hidup dengan tangan Ratna sendiri tanpa bantuan Mbak.” Kataku sembari menahan sekuat tenaga airmata yang hendak keluar.

“Heh, berapa kali sih aku musti bilang sama kamu kalau aku yang menghidupi kalian!” Kali ini dia berbicara sambil menatapku sinis. “Kamu kira aku ini kerja buat siapa hah? Anak kecil ngga tahu diri! Baru punya gaji recehan aja sudah mentang-mentang ya!”

Dan dia menyenggolku sembari keluar kamar denagn tas besarnya. Dan berlalu, menuju pintu rumah yang masih terbuka. Beberapa langkah dia mulai keluar dari pintu, aku berteriak memanggilnya.

“Mbak tunggu…………!!”

Aku berlari menuju kamar ibu yang sekarang menjadi kamarku. Mengambil tas yang lumayan besar yang tersimpan rapi di lemari ibu. Dan kemudian berdiri di hadapan kakakku.

“Ini,… Diambil lagi barang kakak.” Akhirnya aku menangis juga. “Masih utuh, ngga ada disentuh Ibu sedikitpun. Kalau kakak ngga percaya…… Silahkan dihitung sendiri….”

Kulihat wajah putih kakakku menjadi pucat. Seakan tidak percaya dan sembari menghitung lembaran-lembaran uang yang setelah ku hitung kemarin nominalnya tidak sedikit. Dua puluh juta rupiah.

Saat aku menyadarinya kemarin, barulah ku tahu siapa kakakku yang sebenarnya. Tidak perlu aku membuktikan dengan mata kepalaku sendiri, karena aku yakin bahwa firasat yang kuat dari seorang ibu tidak mampu dibohongi oleh jilbab kecil yang sengaja dililitkannya ketika pulang ke rumah ini.

“Ibu tidak pernah akan mau menyuapkan sepeserpun barang haram pada kami. Apa kakak tidak ingat?”

Aku melihat airmata yang keluar dari mata indah mbak Ratih. Mata yang kian lama semakin kulihat memudar cahayanya.

“Ibu minta Ratna menjaga Mbak……”

Langit senja berwarna jingga menjadi saksi kepergiannya. Sayup-sayup terdengar adzan dari masjid yang berada tidak jauh dari rumah kami. Dan akupun tidak sanggup menahan kepergian Mbak Ratihku. Sang kupu-kupu malam akan kembali ke sarangya, dan aku hanya mampu berdiri sekuat tenaga, tak mampu menghentikan langkahnya.

Namun, kulihat dari sorot matanya, masih ada iman itu di dada. Aku tinggal berjuang semampuku untuk mengembalikannya dan menjaga amanah ibu. Kupu-kupu itu senja berwarna jingga. Jangan biarkan warnanya memudar dan menjadi gelap, segelap pekatnya malam. Ya Allah, adakah secercah harapan pada kehidupannya?

“Kupu-kupu jangan pergi…
Terbang dan tetaplah disini…
Bunga-bunga menantimu…
Rindu warna indah dunia…

Anak kecil tersenyum manis…
Pandang tarianmu indah…
Bahagia dalam nyanyian…
Kupu-kupu jangan pergi…”



*Samarinda, 150709, 12.30*

terinspirasi dari

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [Q.S. 66:6]


Reaksi:

1 comment:

  1. terinspirasi dari cerita tentang kupu-kupu malam :)

    ReplyDelete