20.7.09

Aktivis oh aktivis,……..


Sebuah corat-coret dari seseorang yang mengaku “aktivis” 

Aktivis itu adalah seorang manusia biasa. Tidak punya sayap ataupun tongkat. Hanya saja aktivis memiliki kesadaran untuk berbuat “lebih” dan bergerak sesuai dengan caranya tersendiri. Karena aktivis itu identik dengan aktivitas yang lebih dibanding mahasiswa biasa lainnya, maka tak heran bayak kerja yang dilakukan para aktivis ini secara bersamaan. Aktivitsnya ya selain aktivitas wajib kuliah, juga banyak rapat ataupun kegiatan yang dilakukannya. Aktivis juga banyak jenis naungannya, ada aktivis dakwah kampus, aktivis himpunan, aktivis lainnya juga banyak. Masing-masing punya peran dan tugas yang berbeda yang diembannya. Dan banyak pula aktivis-aktivis organisasi lainnya yang berada di luar kampus maupun di lingkungan luar lainnya. (saya termasuk yang mana ya…..?) 


Kalau kita mengartikan makna aktivis secara sempit, maka kita akan mendapatkan definisi aktivis yang diartikan sebagai tugas dakwah dan jalan panjang menuju surga Allah yang dalam perjalanannya itu terdapat banyak rintangan dan tantangan yang penuh onak dan duri. Tugas dakwah yang ditempuhnya itu juga semata-mata bukan hanya tugas dalam rangka memenuhi atau menyelesaikan program-program kerja yang sudah dituliskan, melainkan juga ada tugas dan misi suci yang diemban, yakni pewaris risalah Nabi, berdakwah dan meninggikan Islam dimana pun mereka berpijak.

Tapi ya kembali ke paragraf awal di atas. Aktivis itu bukan manusia suci ataupun merasa diri sok suci. Aktivis manusia biasa juga kok, punya salah dan khilaf juga. Hanya saja yang perlu diacungi jempol bagi para aktivis ini adalah, jika teman-temannya yang lain kuliah hanya sekedar kuliah, atau banyak istilah yang menyebutkan mahasiswa itu berjenis kupu-kupu (kuliah pulang-kulian pulang), atau kutilang (kuliah tidur pulang), maka para aktivis ini memiliki sense of humanity yang lebih dibanding yang lain (terlepas niat apa yang berada di balik aktivitas mereka).

Oke balik ke aktivis yang kita artikan secara sempit. Kita doakan saja semoga apa yang mereka usahakan dan lakukan semuanya atas dasar niat lillah karena Allah semata. Sehingga buah hasil dakwah yang mereka kerjakan bernilai pahala dan dapat memberatkan timbangan mereka dan meringankan langkah-langkah mereka. Terkadang, kita jumpai realitas yang melanda para aktivis. Yang mungkin sering terdengar adalah fenomena futur, disorientasi dakwah, virus merah jambu, dan mungkin banyak lagi kerikil-kerikil kecil yang menyandung perjalanan mereka. Namun, yang disayangkan dari “penyakit” yang melanda aktivis ini kalau tidak diobati secepatnya, akan menjadi parah dan kronis. Pengobatan itu memerlukan “dokter” yang ahli dan berkompeten untuk menanganinya. Selain butuh dokter, juga harus ada kemauan dari diri untuk sembuh dan kembali kepada orbit aktivitas dakwahnya.

Lingkungan juga berpengaruh besar dalam megembalikan semangat juang para aktivis dakwah ini. Terkadang, lingkungan berperan sebagai katalisator yang baik untuk menegmbalikan semangat dakwah para aktivis. Lingkungan memacunya untuk kembali mengemban amanah yang dipikul di pundaknya. Bahkan kata Opick pun dalam lagunya “Obat Hati”, salah satu obat penyakit hati adalah berkumpul dengan orang sholeh. Bahkan, terdapat dalam hadits yang menceritakan mengenai berteman dengan orang shaleh sebagai berikut:

Hadis riwayat Abu Musa ra Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang saleh dan berkawan dengan orang jahat adalah seperti seorang penjual minyak wangi (misk) dan seorang peniup dapur tukang besi. Penjual minyak wangi, dia mungkin akan memberikan kamu atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma harum darinya. Tetapi peniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang tidak sedap. (Shahih Muslim No.4762).

Tetapi terkadang, lingkungan juga mampu memvonis sang aktivis ketika sedang dilanda penyakit hati tersebut. Terkadang lingkungan sosialnya menjudge aktivis tersebut karena kesalahan yang diperbuatnya secara individu. Dan akhirnya, kesalahan yang hanya diperbuat dirinya seorang, wajihah ataupun tempat orgnaisasinya bernaung menjadi kena dampaknya juga. Atau, malah teman yang seharusnya beriringan membantu penyembuhannya, justru malah menjauhinya.

Ya, meskipun tidak semua fenomena itu terjadi, namun sedikit juga terdapat kejadian-kejadian tersebut di sekeliling kita. Kita rupanya harus membuka mata dan merapatkan barisan mengokohkan tujuan serta bergandengan tangan. Jangan sampai para aktivis ini hanya disibukkan pembenahan masalah internal saja namun action eksternalnya malah terhambat. Bukankah Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh seperti tercantum dalam surah Ash Shaff ayat 4?...

Baiklah,… di paragraf akhir ini saya berikan sebuah kalimat indah dari Asy Syaikh Hassan Al Banna berikut ini,….

‘janganlah kamu merasa kecil diri, lalu kamu samakan dirimu dengan orang lain. Atau kamu tempuh dalam dakwah ini jalan yang bukan jalan kaum mukminin. Atau kamu bandingkan dakwahmu yang cahayanya diambil dari cahaya Allah dan manhajnya diserap dari sunnah Rasul-Nya dengan dakwah-dakwah lainnya yang terbentuk oleh berbagai kepentingan lalu bubar begitu saja dengan berlalunya waktu dan terjadinya berbagai peristiwa. Kuncinya adalah Tsabat dalam jalan dakwah ini’.

Tsabat itu bermakna teguh pendirian dan tegar dalam menghadapi ujian serta cobaan di jalan kebenaran. Dan baiknya kita merenungi ayat Al Qur’an berikut ini,..

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT. maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah janjinya”. (Al Ahzab: 23)..

Ayo para aktivis,.. pesan saya yang utamanya ditujukan pada diri sendiri ini adalah:

Luruskan niat, niatkan semua usaha yang kita lakukan ini semata hanya kepada Allah SWT.

Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Jika terdapat aral melintangi perjalananmu, maka kembalilah kepada orbit dakwah, jangan menjadi orang-orang yang berguguran di jalan ini dan menjadi orang-orang yang tergilas oleh zaman pada perjalanan panjang ini.

Dan akhirnya, kita kembalikan semuanya kepada Allah SWT,.. semoga apa yang telah kita usahakan mendapat ridho Allah SWT,,… Amin.


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment