19.10.09

Tukang Ojek Bang Rafly

Aku biarkan tanganku menari di atas senar gitar. Memetik asal tanpa persaan dan tanpa jiwa. Hahaha aku tertawa dalam hati. Masih ada sisa-sisa kemampuanku dulu. Ku mainkan lagi gitar milik Dendi ini dengan sedikit bersemangat.

Lagu itu masih aku hapal meskipun sudah enam bulan ini tidak pernah aku mainkan. Tanganku juga masih lincah meskipun sudah lama ingin aku hentikan. Aku menikmati lirik lagu More Than Words yang kuncinya sedang aku mainkan saat ini.

“Syahahahaha. Sudah tobat loe Brur..! Tumben loe turun. Dah bosen ngaji di kamar ya?” Suara Dendi yang lebih pada ejekan itu mengganggu telingaku.

‘Ngga boleh?” Jawabku malas sembari terus memainkan lagu ini tanpa menghiraukannya.

“Syahahaha welcome home Safril. Ini rumah loe yang sesungguhnya.”

Tak ku hiraukan kata-kata itu aku hanya tersenyum pahit. Aku biarkan Dendi asyik dengan rokoknya yang mengepul di sampingku. Beberapa kali ia menawarkannya padaku.

“Sorry, loe kan tahu gue ngga ngerokok lagi.”

“Syahaha. Loe juga ngga ngegitar lagi kan, nih sekarang loe pegang. Kali aja loe juga pengen ngerokok lagi.”


Sejenak aku terdiam. Tak lama. Dan kemudian aku lanjutkan bermain gitar lagi. Penghuni Bangsal 15 dan kontrakan sebelah muncul meramaikan ruangan tamu rumah kontrakan. Aku lupa kalau ini malam minggu, dan aku juga lupa kalau kebiasaan Bangsal 15 -nama beken kontrakanku ini- kalau malam minggu adalah ngumpul bareng anak kontrakan seberang, main PS, main domino, catur, mengokok, main gitar, hmmm apa lagi ya? Aku hampir lupa.

Satu hal yang bisa aku pastikan, ngga ada cewek disini. Bukan karena mereka paham koridor syariat tentang hubungan lawan jenis, tapi karena mereka adalah jomblo-jomblo ngga berkualitas yang wajah mereka pun pas-pasan. Hahaha bukannya aku GR, keberadaan makhluk manis bernama perempuan yang main ke bangsal ini terhenti sejak enam bulan yang lalu, semenjak aku mengisolir diri dari komunitas bangsal 15 dan anak kontrakan sebelah.

Berkali-kali mereka menggodaku untuk sekedar menyicip rokok ataupun bergabung dengan aktivitas mereka. Aku hanya tersenyum sambil menikmati duniaku sendiri. Larut dalam alunan lagu-lagu yang dulu biasa aku mainkan. Meskipun telingaku berdimensi ke masa lalu mengenang masa-masa dulu lewat petikan lagu, namun sesekali masih terdengar celetukan mereka menganggapku asing berada di sini.

Heran? Tentu saja mereka heran. Jangankan mereka, akupun heran dengan keberadaanku disini. Terakhir aku bergabung dalam suasana party malam minggu begini sekitar empat bulan lalu, ketika aku datang untuk menceramahi mereka dengan dalil-dalil yang aku kutip dari perkataan Bang Rafly ataupun dari kajian-kajian yang sering aku dan Bang Rafly ikuti. Saat itu, ghiroh dan semangatku masih menggebu. Semangat dalam pencarian jati diri dan menyampaikan kebenaran. Tak peduli dengan bagaimana cara dan metode dakwah yang relevan denagn objek dakwahnya, semangat “katakanlah kebenaran walau terasa pahit” begitu menyinari geloraku saat itu.

Dan aku masih ingat perlakuan temanku. Ditertawakan, dilempari kulit kacang, disodorin rokok. Kemudian aku begitu marah pada mereka dan keesokan harinya berkemas ingin pindah dari bangsal 15 ini. Bangsal yang begitu punya sejarah dalam kehidupanku di rantau orang.

“Kalian sudah ngga satu visi sama Ane, mendingan Ane pindah untuk menyelamatkan akidah Ane.” Kataku sembari mengemasi barang-barang ketika mereka menatapku bengong di depan pintu kamar.

“Loe marah gara-gara kejadian tadi malam?” Dendi, setengah tidak percaya menanyakan itu padaku. “Kita bercanda Bro..!”

“Ente pikir Ane main-main?!!” Kataku sembari menatap tajam pada mereka. Tatapan menyimpan amarah yang tertahankan.

Beberapa kalimat sumpah serapah meluncur dari lisanku saat itu. Lupa akan niat dan esensi awal aku mendakwahi mereka semalam. Aku marah, bercampur amarah. Mereka hanya terdiam mendengarkan bait-bait kata pedas yang sebelumnya tak pernah muncul dari bibirku.

Satu keadaan yang membuatku mengurungkan langkah pergi dari bangsal ini adalah, air mata penyesalan dari Dendi. Belum pernah aku melihatnya sebelum itu. Bagaimana tidak, dialah yang semalam begitu getol memperolok-olokku. Meskipun aku sadar itu adalah candaan, tapi aku merasakan itu adalah penghinaan terbesar yang terjadi dalam hidupku. Nerasa dihina dan direndahkan martabatnya oleh teman sendiri.

Air mata penyesalan itu begitu tulus. Selain itu, penghuni bangsal 15 lainnya yang berjumlah tujuh orang pun menahanku dengan permintan maaf yang tulus. Mereka mengingatkanku akan perjuangan kami sebagai anak rantauan yang hidup pas-pasan dan berwajah pas-pasan dalam menjalani liku awal perkuliahan di kampus ini. Akupun terduduk, ketika satu satu mereka memelukku dengan permintaan maaf tulus mengalir. Satu sisi laki-laki terbuka pagi itu. Dendi bisa menangis karenaku.

Hari-hariku setelah itu, aku disibukkan oleh aktivitas dan komunitas baru di kampus. Bergabung dalam barisan dakwah membuatku sangat sibuk, sehingga bangsal menjadi rumah kedua setelah sekretariat LDK. Malam minggu aku disibukkan dengan ikut kjian bersama Bang Rafly, sang ketua lembaga dakwah kemahasiswaan di kampus. Aku juga ikut beliau dalam setiap kajian-kajian keislaman, menemani mengisi mentoring, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan nyaris lupa dengan komunitas bangsal 15. Mungkin juga karena aku trauma mendakwahi mereka lagi.


“Loe kenapa Sap?” Ipank tiba-tiba dudk di kursi tepat di sampingku sambil membawa sebotol minuman dingin.

“Ngga apa-apa.” Jawabku datar. Bohong.

“Biasanya malam minggu loe jalan. Bang Rafly lagi sakit?”

“Ngga tahu.”

“Kangen sama Nurul?” Tanya Ipank tiba-tiba.

Aku sedikit kaget. Heran aja kok dia bisa mengira aku ingat pada Nurul? Sudah sangat lama aku tidak pernah memikirkannya. Bahkan sudah lupa bagaimana wajahnya.

“Ngga.”

Ipank mengambil gitar dari tanganku. Memainkan lagu sekena hatinya.

“Gue lihat dari azan tadi loe belum bergerak dari sini. Sholat dulu sana, sudah telat satu jam.”

Aku tersenyum mendengar sindirannya.

“Sudah pergi-pergi sana.” Kata Ipank kemudian.

“Ente sendiri sudah shalat belum?”

Dibalas dengan tawa kencang. Dan akupun berjalan tanpa tenaga ke kamarku di lantai dua.


Aku kembali bergabung turun ke bawah. Duduk bersandar pada kursi dan menikmati canda tawa mereka.

“Sudah ah! Gue berhenti main!” Dendi berkata sembari melepaskan jepitan jemuran yang menghiasi telinganya. Ada tujuh buah, artinya Dendi sudah kalah main domino tujuh kali berturut-turut. Dihapusnya juga bedak coretan yang memenuhi wajahnya. Sembari mengelus-elus telinganya yang memerah, ia mengambil posisi duduk di sampingku.

“Sudah bosan jadi ojeknya Pak Ustadz?”

Aku tersentak mendengar kata-kata barusan.

“Mak-sud-nya?” Tanyaku tebata-bata.

“Gue mengenal loe lebih dari yang loe tahu Bro.” Jawab Dendi santai.

Benarkah? Tanyaku dalam hati. Sejauh mana Den?

“Kejadian tadi anggap aja sisi devil gue lagi kumat. Syahaha.” Tawa mengalir dari bibirnya.

Aku memejamkan mata. Terpikir kata-kata Dendi. Ya, benar Den, aku lagi futur saat ini. Terlalu lelah untuk memikiran bahwa aku tidak ada artinya selama ini. Jadi tukang ojek? Ya! Aku lebih berasa menjadi tukang ojek Bang Rafly. Enam bulan ini hanya aku habiskan untuk mengantar-menemani-menjemput. Padahal kau tahu? Aku juga ingin dihargai. Aku ingin diberi kesempatan untuk sekedar dilihat tanpa membawa-bawa nama besar Bang Rafly selaku ketua lembaga dakwah kampus.

Malam ini aku tidak datang kajian. Kalaupun aku datang, toh bukan aku yang diharapkan, bukan aku yang dicari. Biarlah mereka berjalan sendiri tanpa aku.

Entah mengapa aku sekarang kehilangan kesadaran dan akal sehatku. Bodohnya aku. Ku biarkan setan bermain-main dalam pikiranku, membiarkan ia menuruti hawa nafsuku an melenakanku.

Syahahaha. Suara tertawa khas Dendi muncul dari dalam batinku. Menertawakan kebodohanku sendiri. Anak muda, apa yang kau cari di dunia ini? Sebuah pertanyaan yang aku mengerti dan pahami jawabannya. Namun sayangnya terlalu berat untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Seperti kondisiku saat ini. Apa yang aku cari selama enam bulan ini? Pengakuandari orang lain bahwa aku adalah seorang aktivis dakwah? Jasa dan pengorbananku agar diketahui orang lain? Jabatan organisasi di dunia? Atau apa akhi?

Aku terbatuk-batuk menghirup asap rokok yang dihembuskan Dendi.

“Syahaha, paru-paru loe dah terbiasa ama udara sehat ya. Baru dekat gue semenit aja udah sesak napas.” Dendi berkata dilanjukan dengan tertawa lepas dan tiba-tiba berhenti.

“Tobat kaya loe susah gak sih?” Tanya Dendi tiba-tiba dengan suara pelan.

Aku membuka mata, menatap matanya dalam.

“Serius?” Aku bertanya menekan.

Dandi terdiam. Sedetik kemudian suara tawanya yang khas menggelegar, mengagetkan anak-anak lain yang asyik bermain melantai di depan televisi beberapa meter dari kami. Aku melihat binar kesungguhan dari matanya. Ente bertanya di waktu yang ngga tepat bro. Sorry, ane lagi futur.

Terdengar suara salam berbunyi. Aku dan beberapa orang menoleh ke arah pintu depan yang terbuka. Aku terkejut dan segera bangkit membalas salam. Tamu yang datang berjumlah enam orang. Teman-teman lain pun sama terkejutnya denganku dan segera menghentikan aktivitas mereka.

“Antum sakit Bang? Teman-teman pada khawatir antum ngga datang kajian malam ini. Makanya kita berniat menjenguk malam ini juga.” Kata Budi, adik tingkatku yang juga sama-sama ikut kajian malam ahad.

Aku bingung menjawabnya. Sakit? Secara fisik memang tidak, tapi hatiku iya. Aku hanya tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk. Anal-anak lain pun salah tingkah dengan kedatangan tamu yang tak di sangka-sangka ini. Beberapa yang terlihat bingung langsung ngeloyor masuk ke dapur.

“Tadi teman-teman hubungi ponsel antum beberapa kali tapi ngga diangkat.” Suara berwibawa Bang Rafly keluar juga. Sorot mata teduh dari beliau menatapku. Aku tertunduk lesu. “Tapi alhamdulillah sepertinya ngga apa-apa.” Sambungnya kemudian. Sepertinya beliau bisa membaca pikiranku.

Tak lama, Ihsal dan Ipank keluar membawa nampan berisi the hangat dan kacang kulit yang biasa menemani mereka begadang. Lumayan bisa mengusir kecanggunganku sedikit meskipun setelah mempersilahkan, mereka berdua dan anak-anak lainnya hilang dari peredaran. Mungkin saja mereka sedang bersembunyi di dapur meninggalkanku disni.

Aku tersenyum simpul mendengar cerita mereka mengulas kajian tadi. Aku hanya bisa menjadi penonton meskipun sesekali Bang Rafly menanyakan pendapatku yang aku jawab singkat.

Anak-anak keluar beserta piring yang berisi nasi goreng dan telur dadar. Aku tidak menyangka ternyata mereka menyuguhkan hidangan makan malam untuk kami.

“Wah subhanallah, kebetulan lagi lapar.” Kata Mukhlis.

“Rezeki silaturahmi ini namanya. Makasih banyak lho ya.” Sambung Refandi.

“Alhamdulillah. Enak lho. Siapa yang masak?” Tanya Bang Rafly.

“Dendi Bang.” Jawab Ihsal.

“Ya kita-kita cuma bisa ngasih ini Bang.” Jawab Dendi. “Maklum, saya masih banyak dosa jadi ngga bisa kasih manfaat banyak ama orang-orang.”

Aku hanya mampu terdiam ketika Bang Rafly tersenyum menghentikan makannya sebentar, sambil menepuk pundak Dendi yang tepat duduk di sampingnya.

“Loh jangan salah. Orang menyingkirkan duri dari jalanan saja sudah berpahala. Coba bayangkan kalau yang melewati jalanan itu adalah seorang guru yang hendak mengajar atau sesrorang yang hendak menyebarkan kebaikan. Berapa banyak kebaikan orang itu?”

Aku tertunduk semakin lesu. Tersindir? Ya tentu saja aku tersindir. Aku merasa ditegur oleh Allah melalui teman-temanku. Betapa tidak, saat aku tadi berprasangka yang tidak baik pada penghuni bangsal ini yang meninggalkanku sendiri, ternyata mereka sedang melakuakn kebaikan yang sungguh tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

“Apalagi kalian sekarang. Subhanallah, berapa kebaikan yang sudah kalian lakukan.” Kembali Bang Rafly sibuk dengan piringnya. “Dan yang penting, niat kita bukan karena pengen dipuji, tapi memang tulus memberi. Hmmm tapi kalo ini memang benar-benar mantap nasi gorengnya.”

“Boleh nih Bang ajari kita resepnya.” Kata Mukhlis pada Dendi.

Aku masih terdiam dengan senyuman yang dipaksakan melihat teman-teman sudah mulai akrab dengan komunitas lain dalam hidupku. Keakraban yang sangat sulit aku ciptakan dalam bulan-bulan terakhir ini.

Hingga kunjungan malam ini berakhir, aku masih terdiam.memikirkan segala yang terjadi hari ini. Memikirkan perkataan Bang Rafly tadi. Dan yang penting, niat kita bukan karena pengen dipuji, tapi memang tulus memberi. Niat. Setiap Amal Tergantung Niatnya. Diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal.

Aku mendapat sms dari Bang Rafly yang dari isinya membuatku tersentuh.

Untuk membuat sebuah rumah, tidak akan bisa jika semuanya ingin menjadi bata. Banyak peran yang harus kita isi. Dan ingat, segala perbuatan kita tergantung dari iat. Keep hamasah akhi, be yourself. Jadi baik itu baik, tapi jadi pribadi lebih baik itu yang lebih baik. Afwan. Selama ini sudah merepotkan dan membebani antum.



Reaksi:

1 comment:

  1. hmmmmm inspirasinya dari beberapa status facebook orang-orang ;)

    ReplyDelete