21.10.09

Pertentangan Dua Hati part 2



Matahari sore itu bersinar kemerah-merahan. Senja menjelang, namun lalu-lalang berbagai macam kendaraan membuat ramai taman kecil di tengah kota itu. Kendaraan orang-orang yang baru pulang dari rutinitas pekerjaan di kantor maupun aktivitas segelintir orang lainnya yang baru akan memulai mencari nafkah di kala hari gelap. Beberapa kali terlihat penjual nasi goreng yang baru akan memulai dagangannya, tukang sate, dan masih banyak lagi yang menyambung hidupnya berjualan di taman ini.

Dua orang gadis sedang duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon beringin. Beberapa kali daun kering berwarna cokelat tua yang berasal dari pohon besar itu jatuh di atas jilbab mereka, namun mereka tidak menyadarinya. Jangankan itu, aktivitas hiruk pikuk manusia di tengah kota itu pun luput dari perhatian mereka. Dua pasang mata sedang menerawang ke arah yang berbeda. Entah apa yang ada dalam benak kedua wanita muda tersebut, namun wajah keduanya sedang mendung.

“Sejak kapan?” tannya gadis berjilbab lebar berwana biru langit itu tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.

Sementara gadis di sebelahnya yang mengenakan gamis cokelat muda tertunduk lesu memainkan ujung jilbab putihnya.

“Baru sebulan.” Jawabnya datar dan pelan. Ada rasa penyesalan dalam kata-kata yang terucap dari bibirnya.

“Maaf.” Sambungnya lagi, lebih pelan dari sebelumnya.


“Kok bisa?” suara dari lawan bicaranya semakin meninggi dan tatapannya mengarah pada gadis berjilbab putih yang masih tertunduk lesu. “Lantas, apa artinya nasehat-nasehat yang selama ini kamu kasih ke aku Nit?”

Nita menoleh ke samping, sorotan matanya tepat bertemu dengan pandangan sahabatnya. Aci terdiam. Kata-kata yang hendak diucapkannya tertahan di langit-langit tenggorokan. Ia tidak pernah melihat mata itu merah dan sembab oleh airmata yang tertahankan. Ia tidak pernah melihat Nita menangis dan mengeluarkan airmata sebelumnya. Nita yang begitu tegar tidak pernah takluk oleh perasaan ataupun penderitaan. Tapi kini, wajah itu begitu sayu, dan pandangan mata itu beku.

“Please Nita jangan siksa aku dengan wajahmu seperti itu.” Aci tertuduk dan menutup seluruh wajahnya denagn ujung jilbab birunya.

Aci yang melankolis mengeluarkan sebagian ekspresinya denagn airmata. Sementara Nita sebaliknya, selalu saja mengcover semua permasalahan dengan senyum dan tawa. Tak ada yang tahu ekspresi hatinya, bahkan Aci sendiripun kurang peka untuk mendengarkan cerita sahabatnya sendiri.

Nita mengulurkan pelukan hangat pada orang yang disayangnya itu. Nita membisikkan sesuatu pada telinga Aci. “Bukankah aku sudah berjanji untuk membantumu menyelesaikan permasalahan ini? Dan aku tidak mau mengkhianati kepercayaanmu Aci.”

“Tapi kamu menyiksa dirimu sendiri Nita!”

“Aku ngga apa-apa Ci.”

“Ngga mungkin ngga apa-apa kalau kita ternyata punya perasaan pada orang yang sama!” Aci melepaskan tangan Nita dan kemudian menatapnya dengan berurai airmata.

Sesaat mereka sama-sama terdiam. Hingga sehelai daun kering jatuh pun tak mereka sadari.

“Aci, kamu tahu kenapa waktu itu aku bilang kalau perasaan yang kita rasakan sama si Ikhwan X itu wajar? Ini fitrah Ci, ketertarikan itu pasti akan muncul tanpa disadari. Menjadi tidak wajar ketika kita tidak bisa mengatur perasaan itu pada koridornya. Koridor apa yang harus kita tempakan disini? Tentu saja koridor syariat. Islam tidak membunuh perasaan itu, namun tidak juga membiarkannya berkeliaran dalam benak kita. Kau tahu bagaimana harus memanagenya ukhti.”

“Tapi,……… Tapi ngga adil buatmu Nita. Di satu sisi, kamu harus melawan perasaan itu dan saat itu juga aku datang menambah beban dalam ujianmu. Sebulan lamanya Nita….” Kembali tangis menghiasi perkataan Aci.

“Aku ngga apa-apa Aci. Buktinya sekarang aku masih bisa tersenyum.”

“Aku egois ya, selalu minta didengar dan dikasih solusi tapi ngga mau mendengar dan ngga peka dengan permasalahan sahabat sendiri.” Kembali Aci bersandar pada pelukan Nita.

“Kita hadapi ujian ini sama-sama ya ukhti.” Kata Nita tersenyum. Ya, masih ada senyum tersungging di bibir Nita, menutupi perasaannya yang bergemuruh di dalam dada.



*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Udara panas di siang ini tak menyurutkan langkahnya untuk pergi. Nita berlari sepanjang koridor kampus menuju aula pertemuan yang letaknya di lantai dua untuk mengejar keterlambatannya di acara Kajian Keislaman. Ssampainya di aula yang sudah bayak dipenuhi oelh ikhwan maupun akhwat, Nita mengambil tempat duduk di belakang, mengatur napasnya dan mengetik sms ke sahabatnya.

Alhamdulillah g jd ngajar, aq di blkang pke jilbab ijo ;)

Aci meoleh ke belakang dengan jari telunjuk dan jari tengah di rentangkan sembari mengumar senyuman. Tak lama kemudian acara pun dimulai. MC memandu acaranya dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tilawah. Nita tampak sibuk sendiri dengan buku yang dibawanya, sementara acara sedang berlangsung.

“Assalamu’alaikum warhmatullahi wabarakatuh.”

Suara itu adalah suara salam biasa yang keluar dari bibir sang moderator. Namun menjadi tidak biasa bagi beberapa peserta Kajian Keislaman siang itu. Seorang ikhwan berwajah teduh yang mengenakan baju koko berwarna hijau muda terlihat santun mengatur jalannya kajian, mempersilahakan pemateri yang merupakan ustadz terkenal di area kampus itu untuk membawakan materi yang bertemakan “Manajemen Qalbu”. Ada gemuruh di hati Aci. Dia hanya tertunduk tanpa mengarahkan pandangan ke depan. Sementara tangannya menari-nari di atas tutus handphone. Message sent.

Nit, aq mau plg aj rasanya! T-T

Nita tesenyum membca pesan dari sahabatbya yang sedang duduk di barisan kedua dari depan itu. Tak ada yang tahu ada badai hebat di dalam dirinya. Aku sedang berusaha memperbesar jarak dan memperkecil muatan, namun ini ada gaya yang semakin membesar. Apakah hukum Coulomb tidak berlaku disini? Seolah ada tarikan magnetik yang menarik diri ini selalu mendekat padanya ketika hasrat suda mampu aku redam. Ilahi, Kau uji aku dengan ujian ini hingga aku mampu lulus dalam menjalaninya. Berikan hamba nilali kelulusan yang memuaskan ya Rabb. Semoga aku dan sahabatku mampu lulus denagn predikat terbaik di hadapanMu. Sms balasan dikirim oleh Nita.

Back to niat ukhti ;)

Nita lebih sibuk menata hati dibandingkan sibuk mendenagrkan taushiyah ilmu dari sang Ustadz. Namun dia begitu tersindi ketika Ustadz Hasan sampai pada paragraf tertentu dari taushiyahnya yang begitu tajam terekam dalam ingatan Nita.

“Ketika kita memaknai sesuatu yang kita cintai, kita takuti, dan kita harapkan sama atau bahkan lebih dari rasa kecintaan kita, rasa takut kita dan rasa pengharapan kita kepada Allah, maka hati-hati ikhwah, bisa jadi kita sedang menyembah ilah selain Allah.”

Aci dan Nita sama-sama terdiam, bahkan mungkin masih banyak lagi yang merasakan begitu dalam makna yang disampaikan ustadz Hasan dengan tenang dan tapa kesan menggurui tersebut.

“Coba tolong akhi Fandi bacakan surat cinta Allah surah Al Baqarah ayat 165.”

Suara lantunan Al Qur’an terdengar begitu indah dan merdu yang dibacakan oleh sang moderator begitu menelusup ke dalam hati.

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

Astaghfirullahal’adzim.


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment