12.9.13

Surat Untuk Abang

Dear Abang,

Apa kabar Abang disana? Hujan kah di tempat Abang sana? Disini hujan turun dengan derasnya. Air-air dari selokan sepertinya meluap, kalau sudah begini, maka sebentar lagi pasti akan banjir. Ah, aku tidak ingin membahas itu dengan Abang, biarlah urusan banjir menjadi urusannya pemerintah saja. Aku tidak ingin merusak romantisme hujan dengan membicarakan dampaknya. Biar kita nikmati saja butiran-butiran hujan ini sebagai kumpulan butiran rinduku yang semakin membuncah kepada Abang.

Abang sehat kan? Aku disini sehat-sehat saja. Cukup makan, rajin minum susu. Ah ya, dokter mencekokiku dengan berbagai suplemen vitamin karena kemarin sempat terkena flu. Tidak Bang, aku tidak bermain hujan. Bukankah aku sudah berjanji pada Abang untuk selalu menjaga kesehatan? Ini hanya sedikit kelelahan saja. Sekarang sudah baikan kok. Kamu tidak perlu mencemaskanku Bang.

Seperti pesanmu dulu, jika aku merindukanmu, maka tulislah surat sepenuh hati. Tidak perlu mempedulikan kemajuan teknologi yang kata orang bisa mengubah dengan singkat komunikasi dengan orang lain. Maka seperti titahmu, aku mengirimkan surat kepadamu ketika aku rindu. Tidak dengan sms, skype, atau chatting di facebook.

Katamu, surat mampu mengeluarkan segala jenis kerinduan. Buncahan dalam setiap katanya, momen menunggu pak pos menyampaikannya, mengkristalkan rasa rindu itu sendiri, sehingga ia akan dengan indah tersampaikan. Seperti butiran uap air yang rela menunggu menjadi turunan hujan. Itulah makna rindu yang sesungguhnya.

Sungguh aku rindu denganmu kali ini Bang. Meski katamu, jarak hanyalah bilangan kilometer yang mampu diukur, namun jarak rindu yang membentang akan terbayarkan dengan kecepatan cahaya, jika diungkapkan melalui doa. Aku tak henti mendoa agar dapat dipertemukan kembali denganmu.

Bang, si kecil sekarang sudah pandai menendang-nendang. Membuatku semakin kelelahan saja. Tidak sanggup rasanya aku menunggu kehadirannya di dunia. Kau tidak merindukannya? Kata dokter dia laki-laki, pasti setampan dirimu.

Bang, semoga kau baik-baik saja di alam sana. Kutitipkan surat ini di atas makammu, kutitipkan isinya di akhir doaku. Semoga Abang junior mampu mengisi kerinduanku padamu, dan menemaniku hingga hari tuaku. Peluk kecup dari kekasih yang terpisahkan tidak hanya oleh jarak dan waktu.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment