4.9.13

Pertemuan Tak terduga



Kata orang, cara ampuh untuk mengobati sakit hati adalah dengan jatuh cinta lagi. Namun begitukah? Tidak semudah itu. Ya, butuh masa yang lama untuk dapat memberikan hatimu kepada orang yang baru, ketika kamu telah mengalami hal yang pahit dengan hati yang sama di masa silam.

Namun ada pula yang beranggapan bahwa butuh waktu sekejap untuk jatuh cinta tetapi menghabiskan waktu yang lama untuk mengobatinya ketika terluka. Ah, hanya teori saja bukan? Karena masing-masing orang, akan memiliki cerita cintanya sendiri. Cinta yang berbeda, meskipun manisnya sama.

Begitupun tentang cerita ini. Cerita di kala hujan deras melanda, di suatu sore yang seharusnya cerah. Namun takdir berkata lain. Hujan menggebu dan petir yang mendera membuat seorang wanita muda yang hendak kembali dari kantornya tertahan di sebuah cafee. Segelas cappuccino hangat mampu menghangatkan dirinya yang sempat terguyur hujan sesaat sebelum memasuki tempat ini.

Sebuah undangan merah jambu dipegangnya. Sempat menjadi penahan hujan tadi, meskipun undangannya akan basah dan rusak, namun isinya tidak akan berubah kan? Tidak lagi ia merasa terkoyak hatinya dengan kehadiran undangan itu. Tidak semenjak wanita ini bertemu dengan seseorang yang mobilnya nyaris saja menabraknya ketika ia berlari dari parkiran mobil menuju ke cafee ini.

“Diana?” Ujar lelaki di dalam sedan hitam itu.

“Andre?” Ujarnya sejurus kemudian.

Seolah hujan melambat hingga ada beberapa momen seolah berhenti. Angin hangat berhembus mengusir dinginnya cuaca.

Pembicaraan berganti di tempat yang kini masih didudukinya. Mereka bertemu lagi, setelah sekian lama. Seorang sahabat semasa SMA. Sejenak melupakan derasnya hujan. Seolah bunga-bunga bermekaran, musim semi hadir di tempat yang tidak semestinya.

Pertemuan kedua dijanjikan, di sebuah tempat yang tercetak warna emas di kertas undangan yang dipegangnya. Undangan dari mantan suaminya yang baru saja resmi berpisah bulan lalu.

Tiba-tiba ia datang begitu saja kepadaku, saat aku mulai membangun puing-puing reruntuhan hatiku.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment