4.9.13

Give Me Your Love


Aku menyebutnya bidadari. Terlalu belebihan? Tidak. Aku tidak sedang merayu atau menggombal. Dia sungguh-sungguh seorang bidadari. Setidaknya dia bidadari bagiku, bidadari dalam istanaku.

Apakah dia akan memanggilku ‘sang pangeran’ atau ‘pujaan hati’? Aku tidak tahu. Tapi sepertinya ide yang bagus untuk menanyakan padanya. Iya, nanti. Ada saatnya akan tiba aku menatap matanya, menyentuh ke dalam relung hatinya, dan bertanya, apakah aku lelaki yang selama ini dijemput dalam doanya.

Saat itu tidak akan datang apabila aku tidak segera melangkahkan kaki, menuju ke rumahnya. Namun apa daya, kakiku sungguh bergetar hebat, tidak mampu lagi dipercepat. Tapi aku hanya tersenyum, meratapi kegugupan diri yang tidak dapat dibendung.

Akhirnya aku melangkahkan kaki juga ke rumah yang berhias gapura dan tenda. Beras kuning ditaburkan, shalawat dikumandangkan, mengiringi kakiku yang berjalan.  Hatiku semakin berbunga-bunga ketika dihadapkan padanya. Ku coba mencari manik matanya, namun dia hanya tertunduk malu, wajahnya merah tersipu. Oh bidadariku, sungguh cantiknya dirimu.

“Saya terima nikahnya, Amanda Reviani binti Maskur, dengan mas kawin seperangkat alat shalat, dibayar tunai.”

“Sah?” Tanya penghulu.

“Saaah…”

Doa terucap mengiringi langkah baru. Langkah menuju bidadariku. Ia menangis tersedu di sampingku, dan kini aku mampu menggenggam tangannya tanpa ragu. Bagiku, dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta. Namun baginya, akulah yang membuka pintu hatinya yang terkunci rapat. 

Kasihku, kini aku bebaskan nasib dan belenggumu, dari orang yang telah merenggut kesucianmu secara paksa itu. Orang yang kusebut namanya tadi dengan amarah memuncak di dada. Orang yang namanya akan selalu berada di nama belakangmu. Aku bebaskan kamu dari belenggu kesedihan itu. Mari kita rebut kebahagiaan yang telah lama memudar dari kehidupan masa remajamu.

Give me your love.

Now so come on and love me.

Give me your love.

Now so come on and love me.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment