14.4.14

Magnolia


Tidak bermaksud untuk memamerkan dada bidang dan goresan luka di sekujurnya, namun aku membuka baju dan membiarkannya terbelai oleh sengatan matahari yang sedang terik. Tidak lama, karena beberapa saat setelahnya, aku menghempaskan diriku ke dalam sungai yang berair jernih. Kutenggelamkan sekujur tubuhku, diam beberapa saat lamanya tak bernapas. Membiarkan semua luka, keringat, dan darah menjadi satu dengan air tawar ini, menghapus semua jerih payah yang sudah kukobarkan semalam. Aku terdiam membenamkan seluruh anggota tubuhku, juga surai cokelat panjang yang kuikat ke belakang.

Darah.

Kemudian aku tersadar akan sesuatu, yang membuatku segera memunculkan diri ke permukaan, membuka mata ke satu titik di pinggir sungai sana, melihat seberkas cahaya keperakan yang terpantul dari teriknya siang di dekat tempat kudaku kutambatkan. Senyum asimetris kububuhkan ketika menyadari pedang itu masih tergeletak di sana, di atas pakaian yang juga berlumuran darah yang sedari tadi malam kukenakan. Spontan aku mengayuhkan kaki berenang menuju ke sana.

Percikan darahnya belum mengering. Kutenggelamkan lagi diriku dengan pedang perak itu, membiarkan air sungai yang jernih menyapu bersih sisa aktivitas semalam. Secepat air menghilangkan bekas noda, secepat itu seringai menghilang dari wajahku. Wajah yang terpahat tanpa senyum dan air muka kebahagiaan. Aku kembali mematung dan berekspresi datar, meskipun kilat kemerahan mungkin tak akan semudah itu hilang dari sorot mataku, yang sebenarnya berpendar sewarna soga yang cokelat terang.

Magnolia. Apa kau senang di sana? Apa kau pikir aku pun senang di sini?!

Kalimat tanya itu belum menemukan jawaban.

***

TARR!!

Dua bilah pedang bertemu di udara.

“Tidak pernah kusangaka, seorang perempuan sepertimu pandai bermain pedang,” ujarku datar, sedikit dongkol karena seranganku begitu saja ditangkis oleh gadis muda itu.

“Kau meremehkan kaumku, Tuan Prajurit!” jawabnya dengan seringai mengejek. Kembali dikerahkannya ayunan pedang miliknya dan menyerangku.

“Tidak semudah itu, Nona.” Senyum dingin terpatri di wajahku kala serangannya berhasil kutangkis lagi. “Yah, memang, harus kuakui aku begitu meremehkanmu. Lupa bahwa ayahmu seorang panglima perang yang mungkin saja mengajari gadis yang terlihat lemah sepertimu. Dan ternyata benar, tidak salah kecurigaanku selama ini kala melewati kediaman ini malam hari dan mendengar tebasan pedang yang membelah udara.”

Aku mengarahkan pedangku dan menghalau senjata miliknya begitu saja, hingga terpental ke tanah. Senyum kemenangan kupersembahkan pada gadis muda itu.

“Kau kalah,” ucapku, ditambah seringai mengejek untuknya.

Dan aku bersiap untuk pulang, melewati tembok tinggi yang menaungi kediamannya, menyelinap tengah malam hanya demi memuaskan rasa penasaran dan kecurigaan akan gadis muda itu yang terlihat seperti putri bangsawan lainnya yang lemah lembut, namun menyimpan kemampuan bertarung dan bermain pedang yang tidak bisa diremehkan. Namun langkahku dihentikan oleh sebilah pedang yang tadi berhasil kujatuhkan, dan kini berpindah tempat menjadi tepat di leher sebelah kananku.

“Kau tidak bisa keluar begitu saja dari tempat ini setelah apa yang kau lakukan saat ini, Tuan Penyusup!”

Sebuah ancaman. Aku tersenyum menang, seolah permainanku sejak tadi disambut dengan sungguh-sungguh dan mendapat tantangan sepadan. Sebuah goresan yang tidak dalam muncul, darah segarku mengalir. Aku anggap ini sebagai peringatan, bukan sebuah ancaman atau adegan pembunuhan. Ayahnya akan rugi besar jika mengetahui prajurit kesayangan sepertiku harus mati konyol di tangan putrinya sendiri. Aku tersenyum penuh kemenangan, kuputar tubuhku dan kukunci serangannya, membuat si perak miliknya harus merasakan terbanting ke tanah untuk kedua kalinya.

Kupeluk gadis itu dari belakang, seringaiku muncul kembali sebagai tanda penaklukan. Tidak, tentu saja aku tidak akan melukai sang putri. Hanya saja, seolah mendapatkan teman bermain yang sepadan, aku mengkamuflase senyum girang dengan ekspresi dingin yang terpetakan.

“Walau kau mahir bermain pedang, aku tetaplah bukan lawanmu yang sepadan,” bisikku. 

“Aku pulang.”

Kulangkahkan kaki dengan santai, darah yang mengucur dari leher kujilat dengan tangan. Manis, semanis tangan yang telah menorehkan. Mulai saat ini, aku menamainya Magnolia, bunga berwarna putih yang memikat wanginya.

***

“Aku tahu, orang mengenalmu sebagai sosok yang bengis dan kejam. Tapi kau bukanlah seorang pembunuh.”

“Menurutmu begitu?”

“Ya, tentu saja.”

“Tidakkah kau tahu kenapa aku seperti ini?”

“Seperti apa?”

“Seperti katamu tadi: bengis, dan kejam.”

“Itu penilaian orang, bukan penilaianku.”

“Dan aku memang seperti itu, Magnolia. Aku dihidupkan untuk dimatikan. Pilihannya, bertahan atau hilang dari peredaran.”

“Tidak… Berjanjilah padaku.”

“Aku tidak bisa.”

“Kau pasti bisa.”

“Dan bagaimana jika suatu hari kau yang harus kubunuh, Magnolia?”

Gadis itu terdiam. Jeda begitu lama di antara kami berdua, hanya helaan napas berat yang mendominasi indera pendengaran.

“Kau tidak akan melakukannya. A-aku mahir bermain pedang, kau lupa itu!”

“Kau lupa bahwa hanya aku saja yang tahu itu,” ujarku. “Dan aku tahu kelemahanmu.”

Dia kembali terdiam, aku pun terdiam. Sampai suara derap kuda terdengar olehnya, semakin lama semakin menjauh. Ya, aku telah pergi meninggalkannya, menjauh dari tembok tipis sebagai pemisah pembicaraan selama ini antara aku dengannya.

Dan itu adalah pembicaraan terakhir yang berhasil aku torehkan sebagai kenangan.

***

Napasku memburu, amarahku menyatu dengan aliran darah yang memompa jantungku dengan cepat. Secepat aku memacu kuda ini untuk berlari, jauh menembus hutan. Aku harus melakukan perhitungan.

Segala persiapan dan upaya yang telah kurencanakan, harus terkubur dengan amarah yang mendidih. Akhirnya aku tahu mengapa julukan ‘bengis’ dan ‘kejam’ tersemat di belakang namaku. Aku adalah seorang yang menggunakan pedang untuk membayar perhitungan. Bukankah nyawa harus dibalas dengan nyawa?

Kilat kemerahan menebas semua yang berhasil kulumpuhkan, sebanyak tebasan pedang yang bisa kulakukan. Kudaku memburu waktu, mengejar satu sosok bertopeng hitam yang luput begitu saja dalam pengejaran. Murkaku tidak bisa terbendung. Ia harus habis di tanganku. Nyawa seseorang yang telah berhasil dihilangkannya harus terbayar lunas dengan ujung pedangku.

TARR!!

Kembali sabetan pedang berdesing di udara saat aku mampu menyejajarinya, mengejar derap langkah kudanya menembus hutan perbatasan. Dia tidak akan kulepaskan. Kuhunus pedangku berkali-kali, amarah bergejolak dan berdenyut di sekujur pembuluh darahku. Dia harus mati di tanganku!

SLASH!!

Luka panjang kutorehkan pada lengannya, membuat sang lawan kehilangan hampir separuh konsentrasinya. Aku menyerangnya kembali dengan membabi buta. Kuatur kembali napasku yang tersengal-sengal dan bersiap mengincar satu titik lemah yang sedari tadi dicoba untuk dilindungi.

“Kau tidak akan bisa membunuhku! Hah. Hahahaha!”

Suara beratnya mencoba untuk mengintimidasiku. Sayangnya anda gagal, Tuan. Aku tidak akan terpengaruh begitu saja dari ucapannya yang telah menyiratkan kekalahan. Tidak akan kubuang tenagaku untuk meladeni perkataannya. Konsentrasiku hanya ada pada satu titik. Titik di mana, Magnolia pernah menghunuskan pedangnya ke arahku.

Kau bukan pendendam…

Satu suara memecah konsentrasiku.

Kau bukan pembunuh…

“Hentikan!”

“Kau tidak akan bisa membunuhku. Hahahaha. Dan bagaimana jika kuceritakan bagaimana gadismu meregangkan nyawa di titik penghabisannya? Dia mengucapkan namamu berkali-kali.” Kembali, suara lelaki bertopeng itu mengintimidasi.

“HENTIKAN OMONGANMU!” Aku berteriak membelah kesunyian malam yang menaungi hutan ini, berusaha membungkam omongan pembunuh itu dan suara-suara lain yang begitu terdengar jelas di telingaku, antara ilusi atau realita, aku tidak tahu. Suara lembut itu, milik Magnoliaku, yang telah terbujur kaku di tangan orang di depanku.

Aku menebaskan pedangku dengan membabi buta, kutorehkan luka pada tempat yang sama sehingga lengannya mengucurkan darah segar begitu banyaknya. Emosi mengalahkan logika dan kemampuanku berpikir, sehingga satu titik di leher maupun organ vital lainnya luput dari pemikiran.

Suara itu terus saja menggangguku. Rongrongan si pembunuh yang mendidihkan darahku, dan suara Magnolia yang mengatakan bahwa aku bukanlah pembunuh.

Sang algojo berkostum hitam telah lumpuh. Aku berlutut dalam genangan darah dan air mata yang kuciptakan sendiri. Aku kalah, kalah melawan nafsuku sendiri yang membiarkan emosi membunuh dan balas dendam menggerogotiku. Perintahnya jelas, seret pembunuh itu hidup-hidup dan biarkan mahkamah pengadilan yang menjatuhkan hukuman untuknya. Tapi yang aku lakukan, aku nyaris saja menghabisi nyawanya. Satu lagi ekspresi ketakutan dan kesedihan berhasil muncul dari pahatan wajah dingin milikku. Aku menunduk di depan sosok yang terbujur kaku. Dia belum meninggal. Dan suara itu muncul lagi dalam kepalaku.

Aku percaya, kau bukan pembunuh.


“Tapi dia yang membunuhmu…”

Aku tidak peduli, Tuan Penyusup. Bahkan jika pun akhirnya nyawaku harus berakhir di tanganmu, aku tidak peduli. Namun hanya satu yang aku khawatirkan. Bahwa akhirnya, aku percaya kalau kamu adalah seorang pembunuh.

“Sebentar lagi dia akan mati…”

Nyatanya, sampai detik ini kau bukanlah seorang pembunuh. Kau tetaplah Tuan Penyusup-ku. Dan aku adalah Magnolia-mu, yang tumbuh di padang yang penuh dengan bunga.

“Untuk apa kamu meneror isi kepalaku, Magnolia?”

Agar kau percaya, bahwa ada kehidupan setelah kematian. Aku menunggumu di sini, janganlah dendam dan amarahmu membutakan. Biarkan saja jika memang takdir memutuskanku untuk berakhir di tangan orang itu. Namun jangan kau kotori tangan prajuritmu dengan membunuh orang yang tak layak untuk kau habisi nyawanya.

Aku frustasi, rasanya habis napas ini kuembuskan dan kemudian kulepaskan. Aku kehilangan nyaris sebagian besar akal sehatku. Magnolia sudah tidak ada. Entah saat ini aku sedang berbicara dengan siapa.

“Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?”

Kau tahu apa yang harus kau lakukan.


***

Aku membaringkan diri di rerumputan pinggir sungai. Lelah fisik dan emosi karena terkuras habis dan tidak bersisa lagi. Kulakukan apa yang harus aku laksanakan. Aku membawanya ke rumah tabib yang paling dekat untuk kujangkau. Entah, apakah napas orang itu masih tersambung atau tidak. Aku sungguh sangat lelah. Setidaknya, ya, setidaknya dia tahu berhadapan dengan siapa. Aku telah menunjukkan padanya betapa berkuasanya sebilah pedang di tanganku. Dalam kehampaan total, aku masih mampu mengeluarkan seringaiku yang mematikan.

Sekali lagi, satu pertanyaan kembali kuutarakan dalam hati.



Magnolia. Apa kau senang di sana? Apa kau pikir aku pun senang di sini?!

Kalimat tanya itu tidak akan pernah menemukan jawaban.



------
#karakterjahat @kampusfiksi

Magnolia adalah bunga yang tersebar di Asia Tenggara dan Asia Timur, menjadi lambang bagi Republik Demokratik Korea.

Source pict: Tokoh utama (visualisasi diambil dari serial Drama Korea Warrior Baek Dong Soo: 2011)

0 komentar:

Post a Comment