24.7.13

Flash Fiction: Parcel





Wanita berkerudung hitam itu keluar dari ruang besuk tahanan dengan mata sembap. Seorang sipir yang dikenalnya menyapa.

“Sudah ketemu ibunya, Mbak?”

Ia mengangguk.

“Ini kolak pisang Pak, untuk berbuka.” Ucapnya sembari tersenyum dan menyerahkan bungkusan di tangan kanannya.

“Saya titip ini juga untuk ibu.” Ia juga menyerahkan keranjang berpita merah yang dibawanya.

Sipir paruh baya itu menatapnya dengan sendu. Ia bukan lagi gadis muda yang dilihatnya pertama kali beberapa tahun yang lalu.

“Ibunya masih belum mau terima bingkisan ini Mbak?”

“Belum Pak.”

Wanita itu, yang hari-harinya digunakan untuk bekerja sebagai pembantu di kota, dan setiap jelang lebaran pulang kampung untuk menjenguk ibunya, menatap nanar bingkisan yang tidak pernah mau diterima.

“Kalau tahun ini ibu nggak mau terima lagi, ambil saja buat istri Bapak. Isinya ada kue lebaran, minuman, mukena, baju, sama kerudung.” Ucapnya, kali ini dengan upaya menahan air mata.

“Semoga ibumu diberi hidayah Mbak. Nanti Bapak berikan ke ibumu sampai dia mau terima.” 

Air mata menetesi pipinya menemaninya keluar dari lembaga permasyarakatan. Teringat kembali kejadian silam saat ibunya mencoba untuk menjual dirinya ketika ia belia. Sebuah upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan diri dan kehormatannya, harus dibayar dengan menjebloskan ibunya ke dalam penjara untuk waktu yang lama.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment