16.7.13

Flash Fiction : Mengabadikan Senja







Senja mengguratkan cahaya keemasannya yang mempesona, memaksaku menepikan motor sejenak untuk menikmati keindahannya, di Tepi Sungai Mahakam yang membelah kota. Agenda mendokumentasi kegiatan berbuka puasa kuputuskan ditunda esok saja.

Kunikmati syahdunya lantunan ayat suci yang terdengar dari masjid di seberang jalan. Sementara pandanganku dimanjakan oleh siluet senja dengan pantulan sinarnya di permukaan sungai. Sebuah kompilasi yang pas dalam menghayati ayat Tuhan yang tersebar di hamparan bumi.

Kameraku berpindah-pindah dari padatnya arus jalan raya, teduhnya riak sungai yang terpantul cahaya senja, anak kecil yang berkeliling menawarkan takjil, namun tiba-tiba berhenti pada pemandangan yang sedari tadi luput dari perhatianku. Seorang gadis sedang khusyuk dengan kanvas dan kuas ditangannya. 

Dzikir yang terlantun dari masjid berhenti, disusul suara bedug dan adzan maghrib. Alhamdulillah, puasa hari ini tertunaikan. Kuucap syukur juga atas keindahan saat menanti berbuka puasa kali ini. Aku teringat tidak membawa bekal apapun untuk berbuka. Segera kucari sosok anak kecil yang berjualan kolak pisang tadi, namun sudah tidak ada.

“Selamat berbuka puasa.”

Gadis berkerudung merah tiba-tiba sudah berdiri dihadapanku dengan sebotol air mineral yang terulur ke arahku. Kanvas yang masih basah oleh tinta tergenggam di tangan kirinya. Aku menangkap sesosok lelaki dengan kamera di ujung lukisanya.

Ternyata kami mengabadikan momen yang sama.
Reaksi:

2 comments: