15.8.13

Lelaki Tanpa Nama



Seseorang memanggilku dari arah jam tiga. Seketika seluruh badan ini gemetar. Bukan karena nama Tiara yang dipanggilnya, tapi karena suara itu, suara yang masih sangat familiar di telinga.

Andai saja aku yang melihatnya terlebih dahulu, sebisa mungkin aku akan menghindar. Entah dengan berpura-pura tidak melihat kemudian pergi dengan jalan yang lain, atau apa saja yang bisa aku lakukan supaya tidak terjadi percakapan, atau sekedar tatap muka.

Aku menoleh ke kanan. Rasanya bibir ini tidak mampu kugerakkan untuk sekedar menyapa atau mengucap salam. Aku sempat terdiam beberapa saat. Aku hanya mampu menatapnya dengan tatapan sendu. Berdiri beberapa meter dari tempatku duduk, aku melihat seorang laki-laki yang sedang menggendong anak perempuan cantiknya. Ia, lelaki yang dulu kukenal hatinya.

Kau tahu, lelaki muda yang menggendong anak perempuannya adalah pemandangan yang paling aku suka, kan? Dan kini, orang itu memberikan pemandangannya buatku. Sore ini, di sebuah tempat minum kopi di pinggir jalan ibukota.
 
@>-----

“Aku sudah menikah Tiara.”

Aku hanya bisa terdiam sambil menatap secangkir kopi hitam di hadapanku. Kuaduk-aduk perlahan kopi yang belum ku minum sama sekali. Kuperhatikan ampasnya di dasar cangkir  yang terasa ketika sendok diadukkan.

Aku sudah tahu.

Pandanganku masih tidak lepas dari cangkir, dan tanganku masih dengan sendok adukan kopi. Hitam, pahit, pekat. Seperti itu juga perasaanku, yang ikut diaduk-aduk oleh apa yang terjadi saat ini, juga saat yang lalu yang telah terjadi.

“Kenapa kamu tidak datang?”

Pertanyaan itu lagi. Mengapa pertanyaan ini muncul lagi, bahkan itu muncul darimu? Tidakkah kamu tahu bahwa aku mengingkari rasa sakitku sendiri demi menjawab pertanyaan itu dari teman-temanmu, dari teman-temanku?

“Karena yang kutemui hanyalah selembar undangan” Jawabku, sambil menatap tajam sang pemilik suara.

Aku tidak pernah mengharapkan lebih. Aku juga tidak membutuhkan penjelasan, karena tanpa dijelaskan pun aku sudah tahu. Saat itu, aku hanya memilih untuk berpura-pura tidak tahu untuk membohongi diriku sendiri. Parahnya, dia mengamini. Sampai suatu ketika semua tabir telah terbuka, aku hanya mampu pasrah, pada kenyataan yang sudah dapat kuprediksi sebelumnya.

“Tidak kusangka, kau begitu cepat berganti hati. Dan bagiku, itu sudah membuktikan semuanya. Kamu tahu bahwa aku tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi kamu tidak tahu kan, bahwa aku mengetahui banyak hal dari yang kamu prediksi!” Ujarku, tajam.

Aku menghela napas sejenak, mengatur emosi dan menurunkan adrenalin. Kuteguk dengan perlahan air mineral botolan yang juga kupesan tadi.

“Aku sudah prediksi sebelumnya kan? Yang kusesali bukan karena ‘apa’ yang terjadi, tapi ‘bagaimana’ itu bisa terjadi. Secepat itu.”

Cukup. Sudah cukup Tiara. Jangan menyiksa dirimu lagi dengan mengingat semua yang sudah terjadi!

Kembali kuaduk lagi kopi hitamku yang sudah tidak panas lagi.

“Aku minta maaf Tiara.” Ujarnya lirih.

Terlambat. Mengapa kamu baru meminta maaf sekarang?

“Yang aku sesalkan adalah, kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya bahwa kau akan menikah? Kenapa aku harus mengetahuinya dari orang lain? Kenapa kau memberitahu semua temanmu sementara aku tidak? Kenapa harus selembar undangan yang datang bukan kau yang mengantarnya sendiri? Kenapa, bahkan kau tidak menganggapku sebagai temanmu lagi? Dan ribuan ‘kenapa’ yang sebenarnya tidak perlu dibahas lagi! Basi!”

Satu sisi hatiku berkata ‘cukup’. Namun sisi lainnya berkata ‘teruskan’. Selesaikan sekarang juga hingga tidak akan berbekas lagi. Lagi-lagi kuteguk sisa air mineralku hingga habis. Aku terlalu sibuk untuk mengembalikan kembali rona wajahku yang memerah seperti kepiting rebus karena menahan amarah yang tertahan, sehingga aku pun tidak menyadari betapa merah juga wajahnya.

“Tiara…” Ucapnya lirih, setelah mendapat serangan dari kalimatku.

“… Aku tahu ini akan berat untuk kita. Kamu tahu konsekuensinya jika aku  tetap memaksakan kehendak….” Ia melanjutkan.

Bukan itu masalahnya! Kau tahu itu!  

“… Kau menghilang begitu saja dari kehidupanku. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan semuanya? Kamu pikir aku bisa menghadapi itu dengan mudah?” Ia kembali melanjutkan.

“Kamu tahu aku melakukan itu demi kamu juga. Apa kamu sejahat itu menyalahkan kepergianku sementara kamu juga secara bersamaan menjalin hubungan dengan orang yang kamu panggil istri sekarang?” Aku menimpali.

“Dan kamu masih menuntutku untuk datang? Kamu gila! Oh tidak. Kamu hanya tidak pernah paham. Kamu selalu menuntutku untuk mengerti kondisimu sementara kamu tidak melakukan yang sebaliknya. Dimana letak adilnya?”

Cukup. Iya, sudah cukup.

Aku menghela napas panjang, mengakhiri semua pembicaraan omong kosong ini. 

“Sudah ya, sampai disini saja pembicaraan kita, karena aku rasa semuanya juga percuma apabila harus dijelaskan saat ini. Semuanya sudah terlambat. Perkataan maaf pun tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi.” Ujarku, sembari mengambil tas yang kuletakkan di kursi samping.

“Selamat atas pernikahanmu, maaf karena kemarin aku tidak bisa datang. Dan juga selamat, atas kehamilan Vina.” Aku berdiri, beranjak pergi. Tidak perlu ia tahu darimana informasi yang baru saja aku katakan itu.
Aku melangkah perlahan, menahan jatuhnya air mata. Entah seberapa merah mataku atau wajahku saat ini.

“Oya…” Beberapa langkah dari meja, aku kembali menoleh ke belakang, kembali menatap wajahnya. “Tolong sekalian bayarkan kopi dan air mineralku. Aku anggap permintaan maafmu aku terima.” Sembari kutatap secangkir kopi hitam yang sama sekali tak kusentuh. 

Matanya merah, pun wajahnya juga, sama sepertiku. Tapi tetap saja, bagaimanapun perihnya perasaannya, ada seseorang disisinya, membuatnya begitu mudah melupakan dan membuang segalanya. Sementara aku? Apa dia peduli bagaimana kondisiku? Ironis sekali ya, secangkir kopi bisa membayar permintaan maafnya yang sungguh sangat terlambat.

Semoga suatu saat nanti kita dipertemukan dengan kondisi yang lebih baik. Dan semoga kamu masih menjadi lelaki yang kukenal hatinya.

@>-----

Seperti dejavu. Kami mengalami situasi yang sama, di tempat yang sama, di meja yang sama, namun dengan kondisi dan personel yang berbeda. Tempat ini pun ikut berubah, menjadi semakin modern baik interiornya maupun menunya. Beragam jenis kopi yang disajikan semakin bertambah banyak dan beraneka ragam.

Tanpa sengaja memori beberapa waktu silam kembali berputar seperti putaran film yang ditampilkan ulang. Sudah lama berlalu, seperti kejadiannya baru kemarin saja.

Aku mempersilakannya duduk di depanku, dan si batita munginya duduk di sebelahnya. Gadis cilik itu cantik sekali. Tidak ada sedikitpun kemiripan dengan wajah ayahnya. Ia mewarisi dengan sempurna wajah ibunya. Sepertinya begitu, aku juga tidak tahu persis. Aku hanya tahu ibunya dari foto mereka sebelum menikah. 

“Hai gadis manis, siapa namanya?” Ujarku, sembari mengelus dagunya yang runcing, mencoba mencairkan suasana yang kaku, juga mencairkan hatiku yang beku.

“Tata…” Jawabnya, sembari mengalihkan pandangan ke arah ayahnya, membuatku tanpa sengaja melakukan hal yang sama.

“Namanya Qonita.” 

“Ooh…”

Aku mengaduk kopiku. Kali ini bukan lagi kopi hitam yang pekat, tapi, cappuccino dengan krim yang banyak diatasnya. Manis dan pahit bercampur jadi satu, juga menghasilkan rasa sensasi yang bercampur aduk jadi satu. Mewakili perasaanku kali ini, mungkin.

“Kamu sehat Tiara?” 

“Alhamdulillah.” Jawabku sambil menyeruput kopi hangatku perlahan. “Gimana juga kabarnya?” Pertanyaan basa-basi, tidak sopan rasanya jika tidak menanyakan hal yang sama.

Sebenarnya aku sudah tidak ingin mengetahui kabarnya lagi. Tidak juga aku mengetahuinya atau diam-diam mencari informasi tentang kehidupannya. Tidak setelah pertemuan terakhir itu. Kuputus semua bentuk komunikasi yang dapat menghubungkan aku dengannya. Menghilang sekalian tampaknya menjadi obat bagiku. Setiap orang memiliki jalannya sendiri kan untuk mengobati lukanya? Dia memilih untuk mengobatinya dengan cara mengeliminasi aku dari kehidupannya dan mengganti secepatnya dengan orang lain yang lebih pantas baginya dan keluarga besarnya. Maka aku memilih untuk menghilang dan menghilangkan dia dari kehidupanku. Ya, aku memilih jalan itu. 

Namun kali ini takdir mempertemukan kami lagi yang memaksaku untuk keluar dari persembunyian. Melihat wajahnya kembali, dengan situasi yang berbeda. Bukan berarti luka itu sudah tidak ada. Luka itu masih ada, membekas disana, namun tidak lagi berdarah dan menganga. Waktu memang obat paling ampuh untuk menyembuhkan luka.

“Baik.” Jawabnya, dengan senyum yang berat.

Ada jeda yang cukup lama sebelum ia menjawab, yang memaksaku untuk menatap lekat raut wajahnya.

Sesuatu sedang terjadi disana? Kamu masih tidak bisa membohongiku.

“Syukurlah.” Kataku datar, masih mencoba menangkap gurat yang disembunyikan di wajahnya. Sudahlah, aku tidak mau bertanya atau mencari tahu.

Lalu perhatianku kembali pada seseorang disampingnya. 

“Kamu mau es krim sayang? Tante belikan es krim mau?” Ujarku ke arah gadis manis itu, sembari mengulurkan kedua tangan berharap ia mau menerima tawaranku untuk menggendongnya. Bagaimanapun rumitnya hubunganku dengan ayahnya atau ibunya dulu (meskipun aku tak pernah mengenal ibunya), gadis kecil ini sama sekali tidak tidak tahu apa-apa.

“Berapa umurnya?” Tanyaku kepada ayahnya, ketika sang gadis sudah berada di gendonganku dan siap kubawa ke etalase kaca yang memajang aneka makanan dan minuman.

“Tiga bulan lagi dua tahun.”

Aku kembali dari memesan es krim dengan Qonita di tangan kiri dan semangkuk es krim vanilla di tangan kanan. Kududukkan batita ini di kursi kosong sebelah kananku dan mulai menyuapinya dengan es krim yang baru saja kita beli. Bagiku, kehadiran gadis cilik ini cukup mengalihkan perhatian dan bisa menjadi pelarian dari menghindari pembicaraan tentang masa lalu. Namun harus kuakui, menatapnya membuatku ingat dengan raut foto ibunya, yang tentu saja menggoreskan cerita lain di hati.

“Tiara, apa kamu sudah menikah?”

Sendok es krimku terhenti di udara, kemudian kupalingkan wajahku ke arah datangnya suara.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Kujawab dengan pertanyaan dan tatapan tajam. Sedikit sunggingan senyuman untuk mengintimidasi.

“Maaf, aku hanya bertanya.” Balasnya.

Kuhembuskan napas perlahan dan kujawab pertanyaan darinya dengan satu kalimat dan lagi-lagi dengan sedikit senyuman. “Belum.”

Jeda lama. Cukup lama karena telah tiga suapan eskrim telah dinikmati Qonita.

“Sebenarnya kabarku tidak baik-baik saja.”

Prediksiku benar lagi kan? Kembali kutekuni minumanku yang tinggal separuh, demi menahan diri untuk bertanya ‘kenapa’. Benar saja, jeda waktu diantara kami tidak membuat dia menceritakan mengapa seperti itu keadaannya. Juga tidak membuatku kembali bertanya.

“Vina….” Ia mengeluarkan kata lagi, kali ini tanpa senyuman, hanya menyisakan tatapan tajam yang beradu dengan tatapanku.

“…. pergi.”

Kembali aku merasakan dejavu menimpaku hari ini. Mendengarnya perasaanku seperti dicampur aduk jadi satu. Seperti terjun bebas dari tebing yang tinggi, namun tidak mati. 

Entahlah, dulu aku sempat membayangan adegan ini akan terjadi. Dulu, dulu sekali, saat awal luka ini masih berdarah dan bernanah. Tapi kini, sungguh aku tidak pernah berharap khayalan saatku terluka dulu akan menjadi kenyataan, di saat aku telah memulai lembaran baru dalam kehidupan.

Kulihat air muka perubahan dalam wajahnya. Sendu, dan mungkin sedang menahan jatuhnya air mata. Aku tidak ingin bertanya apapun tentang makna kata ‘pergi’. Apakah Vina pergi selamanya dari kehidupan ini, ataukah hanya pergi dari kehidupannya. Aku sungguh tidak ingin tahu. Yang jelas, satu hal yang aku tahu dibalik kata itu, pergi akan memberikan luka pada yang ditinggalkan.

Perhatianku teralih begitu saja pada seseorang yang sedang duduk di sampingku. Ku belai rambut ikalnya, dan kembali kusuapi dengan eskrim vanilla.

Sekecil ini kamu ditinggal pergi ibumu sayang?

Kukecup keningnya yang lebar dan kembali kuarahkan perhatian pada lelaki di depanku. Keadaan memang cepat sekali berubah. Aku tidak tahu harus memilih sikap yang mana. Apakah aku harus senang? Tertawa kecil dalam hati? Ataukah aku harus kasihan dengannya? Tidak bisa kupungkiri, masih ada sisa sekeranjang kecil kasihan yang terselip di dalam hatiku. Aku memilih perasaan yang terakhir tadi.

“Tata… Tidak biasanya dia bisa akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya.”

“Oh ya? Kamu lupa kalau aku ini sangat suka dan dicintai anak kecil?” Jawabku, sembari tertawa renyah.

Dia tersenyum, tidak lantas menanggapi perkataanku tadi.

“Iya, tentu saja aku tidak pernah lupa.” Ujarnya. “Tiara…”

“…. Aku ingin kita melupakan yang telah terjadi kemarin…. Dan memulai segalanya dari awal.”

Aku menghela napas panjang, kemudian membalas pernyataan tadi dengan tatapan kosong.

“Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf.” Kataku setelah jeda yang cukup lama. “Apa itu dinilai kurang untuk ‘memulai segalanya dari awal’ seperti yang kamu maksudkan?”

“Eh. Maaf. Maksudku bukan seperti itu.” Ujarnya, sembari mengaduk kopinya dengan sangat pelan, bukan memaksudkan untuk meminumnya dengan segera, hanya sebagai sekedar mencari apa yang bisa dilakukan.

“Entahlah…” ia memalingkan wajahnya begitu saja, menatap ke arah jendela. “Akhir-akhir ini, aku hanya berpikir kalau… Bagaimana jika kita memulai segalanya dari awal… dan aku juga sering terpikir.. andai saja, waktu bisa diulang…”

Dari awal, hmm tidak, dari sejak orang ini berkata sesuatu tentang ‘pergi’, aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan pemuda itu. Misterinya hanyalah kapan pemuda itu akan mewujudkannya. Sepertinya sekarang. Tidak ada lagi kepura-puraan yang perlu ditampilkan. Seketika saja aku memutus pembicaraan.

“Apa kamu sedang berandai-andai tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi?” Ucapku tajam yang mampu mengalihkan pandangannya lagi dari ujung jendela. “Aah, aku pikir bukan saatnya aku pura-pura tidak tahu kemana arah pembicaraanmu itu.” Aku jeda sejenak, untuk lagi-lagi menghela napas panjang. Mengungkit sesuatu yang menyesakkan di masa lalu membutuhkan ketenangan dengan porsi ekstra. “Kau ingin aku menemanimu? Berada di sisimu dan tidak akan pernah pergi? Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan status sosialmu? Atau alasan-alasan lainnya yang membuat kau dulu mencoret namaku dalam daftar masa depanmu?”

Final. Itulah final dari pernyataan ambigu dan pertemuan tidak disengaja hari ini.

Pemuda itu, lagi-lagi hanya bermain dengan sendok kopinya tanpa mampu membalas tatapan tajamku. Wajah pucatnya sedari aku bersuara yang terakhir tadi, hanya terpaku pada secangkir kopi hitamnya, yang kemudian diteguknya dengan cepat.

“Kamu selalu bisa membaca pikiranku.”

“Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan mengangkat masalah ini di awal pertemuan kita, setelah sekian lama kau membuangku begitu saja.”

Dan kopi hitamnya habis. Diletakkannya cangkir kosong sembari membalas tatapanku yang sedari tadi menyerangnya. Aku kembali bersuara tanpa mengizinkan ia mengucap sepatah kata.

“Kamu masih ingat ini?” Kataku sembari menunjukkan sesuatu yang melingkar di jari manis tangan kiriku.

Ekspresinya tidak jauh berubah, meskipun rona keterkejutan mampu terbaca dari gurat wajahnya.

“Cincin itu.” Gumamnya datar.

“Ya, cincin itu.” Ujarku, sembari melepas sebuah cincin yang lain untuk melepas cincin berwarna perak yang kami maksud itu.

@>------

“Tiara…!” 

Seseorang memanggil namaku cukup kencang. Derap langkahnya berirama cukup cepat dan semakin lama terdengar semakin jelas, sehingga bisa kuprediksi kalau orang tersebut sedang berlari menghampiriku yang sedang menunduk mengamati sesuatu yang terpajang rapi disitu.

“Kemana aja sih?” Ujar orang tersebut dengan nada sedikit kesal, dan orang tersebut sudah berdiri di sebelah kanan Tiara dengan napas tersengal-sengal setelah berlari.

“Sini-sini aja.” Jawabku datar. 

“Lima belas menit lagi busnya berangkat!” katanya kemudian. Susah diartikan, apakah itu bentuk pemberitahuan atau sebuah kata perintah untuk ‘Buruan naik bus sekarang!’

“Iya tahu.” Ucapku. Tanpa bermaksud untuk mengabaikan bocah lelaki yang sudah rela menjemputku berlari sekian jauh dari tempat parkir bus. “Bentar napa, lagi lihat-lihat ini nah.” Lanjutku, sembari memandangi satu per satu souvenir yang diletakkan di atas meja di depanku.

“Ntar kamu ditinggal bus!”

“Gak mungkin. Nih uang untuk bayar busnya kan aku yang bawa.” Jawabku sambil mengulurkan lidah dan menepuk-nepuk tas selempanganku. “Sabar dikit dong, mereka semua itu rela nunggu bendahara. Kasihan banget ibu bendahara panitia satu ini, dari kemarin yang diurus peserta semua, sampai nggak punya waktu untuk beli oleh-oleh. Masih lima belas menit juga kan? Nggak masalah.”

Aku kembali mengamati souvenir-sovenir itu.

“Berapa bu?” Ujarku sembari menunjuk sebuah cincin berwarna perak.

“Lima puluh ribu, Neng.” Jawab ibu paruh baya tersebut.

“Mahal amat bu, sepuluh ribu bisa?”

“Nggak bisa Neng, itu cincin perak, nggak dapat segitu.”

“Yaah, nggak jadi deh.” Ujarku sambil berlalu begitu saja. 

Selang bebrapa lama, pemuda dua puluh tahun itu menyusul dan menyejajari langkahku.

“Nggak jadi beli?” Tanyanya.

“Mahal. Lagian, itu mah bukan cincin perak, warnanya doang yang perak.”

“Ya iyalah, mana ada cincin perak harganya dua puluh rebu. Bilang aja nggak punya duit.” Ujarnya dengan santai.

“Perasaan hagranya lima puluh, kata siapa dua puluh ribu?”

“Kataku. Nih, ambil. Kasihan amat bendaharaku ini ya, beli cincin dua puluh ribu aja nggak bisa.” Jawabnya, sembari menyerahkan bungkusan kecil berisi cincin yang aku lihat tadi, kemudian ia berjalan cepat mendahuluiku.

Tiba-tiba langkahku terhenti begitu saja. Sementara ia, sudah berjalan dengan cepatnya beberapa meter dariku. Kemudian ia menoleh ke belakang, memberikan senyumnya yang biasa, dan meneriakkan sesuatu kepadaku.

“Lima menit lagi berangkat! Ayo cepetan jangan bengong!” Teriaknya. “Anak-anak lain jangan dikasi tahu ya soal itu. Ntar mereka pada minta juga, bisa bangkrut.” Lanjutnya sembari tertawa, meunjuk ke arah bungkusan yang masih ku genggam dengan erat ini.

Untuk beberapa saat aku masih terdiam. Namun sesaat kemudian, aku berlari perlahan menujunya, menuju tempat parkir bus yang tidak mungkin akan berjalan sebelum kami tiba disana. Aku berlari menepis keraguan yang timbul tenggelam. Tapi akhirnya aku juga menenggelamkan diri kepada perasaan itu. Perasaan yang sebenarnya kami sama-sama tahu, namun sama-sama menutupinya dengan cantik. Aku hanya terus menunggu kapan saatnya akan tiba. Saat inikah? Tidak, ini bukan saatnya. Masih terlalu muda. Namun ini aku anggap sebagai pertanda. Biarlah untuk saat ini aku berada disampingnya, sebagai sahabat yang baik, sahabat yang setia.

Aku yakin di lingkungan kami ini, hanya jariku yang akan menerima cincin darinya. Namun di tempat lain, aku tidak tahu, dan tidak punya kapasitas untuk mengetahuinya.

@>------

“Kau tahu? Sudah tujuh tahun, cincin ini tidak pernah lepas dari jariku.” Kataku. “Dulu sekali, aku sempat berharap, cincin ini akan segera dilepas. Digantikan dengan cincin perak yang sebenarnya.” Jeda. “Tapi ternyata ia tetap saja tidak tergantikan, selalu berada di tempatnya semula. Sampai yang lainnya harus mengalah.” Lanjutku.

Pandangan mataku beralih kepada cincin emas bermata tiga yang kulepas terlebih dahulu tadi. Cincin itu sejak awal terlupakan dan belum mendapat tempat sebagaimana mestinya.

“Ini…” Aku menunjukkan cincin emas itu, yang berpendar terkena pantulan sinar mentari siang. “… Adalah cincin pertunanganku. Bulan depan, aku akan menikah.”

“Dan sekarang, sudah saatnya aku harus melepas salah satu dari kedua cincin ini, kepada pemiliknya.”

Aku letakkan cincin berwarna perak itu kedepannya, saat itu juga. Segera setelahnya, kupasang kembali cincin bermata tiga. Ia kini menjadi pemilik jari manis  di tangan kiriku seutuhnya.

Sebenarnya aku sudah mempersiapkan diri untuk mengatakannya, dengan cara yang lebih baik. Namun pertemuan hari ini, memaksaku mempercepat persembunyian yang juga otomatis mempercepat pemberitahuan ini padanya.

“Maaf, dulu sempat terbersit dalam pikiranku kau akan kembali dan berada di sisiku lagi, selamanya. Tapi rupanya, tidak ada rasionalisasi untuk itu. Aku sadar telah tenggelam begitu dalam, namun seiring berlalunya waktu, menuntutku untuk bangun dan bangkit dari itu semua. Aku menemukan lagi rasionalitas itu. Aku bersyukur untuk itu.”

“Aku…” Suaranya tertahan oleh dering pesan yang masuk ke ponselku.

“Sebentar….” Aku membacanya dalam hati, dan kemudian segera meraih tasku yang berada di ujung meja.

“Aku rasa, semuanya sudah jelas. Maaf ya, ada yang sudah menungguku di parkiran. Seharusnya aku tidak menyampaikan undangan pernikahanku dengan cara seperti ini. Nanti akan aku antar sendiri undangannya dan aku tidak akan memaksamu untuk datang.”

Aku menoleh dan memandang lekat pada entitas di sebelah kananku yang sedari tadi diam tanpa suara, menikmati es krim vanillanya sendiri, seolah paham bahwa kedua orang dewasa di sekelilingnya sedang membahas hal yang rumit. Aku mencium pipinya yang mungil, cukup lama, hingga rasanya mampu mentransfer kesedihannya dan membagi kasih sayang yang tidak lagi diterima dari ibunya.

Aku melangkah pergi menuju kasir. Calon ibu mertuaku sudah menunggu di parkiran depan sana untuk menemaniku mencari perlengkapan yang berhubungan dengan persiapan pernikahan.

“Oya…” Beberapa langkah dari meja, aku kembali menoleh ke belakang, kembali menatap wajahnya. “Kali ini aku yang bayar semuanya. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menerimamu kembali.” Sembari kutatap cangkir-cangkir dan mangkok kosong di atas meja.

 “Tiara…” 

Aku kembali menoleh ke belakang, memandang ke arah pemilik suara.

“Apakah kita bisa…. Menjadi sahabat lagi… Seperti dulu?” Suaranya melemah, menahan deru yang sama denganku sebelumnya, juga saat ini.

Seandainya waktu dapat diulang. Ah, sejujurnya aku benci kalimat itu, juga kalimat-kalimat pengandaian lainnya. Namun kini, aku harus mengakuinya bahwa ada sebuah kalimat ‘seandainya’ yang terlintas di kepalaku. Seandainya perasaan itu dulu tidak ada, dan tidak pernah ada, mungkinkah aku telah menjadi pagar ayu di pernikahanmu dan kamu akan menjadi saksi pada akad nikahku nanti?

Aku menyebutmu lelaki tanpa nama, karena dulu namamu sudah melekat di hatiku tanpa perlu diragukan dan diucapkan. Hari ini, saat ini, aku masih memanggilmu lelaki tanpa nama, karena aku tidak ingin melekatkan namamu dalam kapasitas memori takku. Aku ingin membuang ingatanku tentang namamu. Sehingga dalam lirih maupun letihnya hari-hariku, tidak lagi aku menyebut nama itu. Seperti dulu.

“Biarkan waktu saja yang menjawabnya, seperti ketika ia menyembuhkan luka.” Jawabku, tersenyum.

Aku berjalan dan tidak akan menoleh lagi. Meskipun sayup-sayup kudengar tangisan Qonita di telinga. Meskipun ia kembali datang dan menawarkan untuk mengembalikan semua yang dulu pernah ada. Tidak. Aku sudah memutuskan kebahagiaanku sendiri. Aku sudah memenangkan rasionalitas logika atas dominasi perasaanku sendiri. Aku sudah memutuskan, bahagiaku ada di depan sana, bukan ada pada yang telah tertinggal di belakang sana.

Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita semua.

14.8.13

Berkibar di Ujung Sana

Aku berdiri menyeimbangkan tubuhku di pinggir kolam renang, menatap gugup pada riuh ramai suara di bangku penonton. Tanganku gemetar, keringat dingin muncul di dahi. Inilah saatnya, saat yang telah aku tunggu bertahun-tahun lamanya.

Suara tanda dimulainya pertandingan telah terdengar. Sepersekian detik kemudian aku meluncur, menyatu dengan satu-satunya sahabatku, yakni air. Aku berpacu dengan waktu. Kukerahkan semua potensiku. Tak ingin aku sia-siakan perjuangan latihan demi latihan yang telah kutempuh selama ini.

 “Kamu harus bisa membanggakan bangsa, meski hanya dengan satu kaki.”

Suara itu terngiang di telinga.

“Iya Kek, Nirmala akan buat merah putih berkibar di tiang tertinggi dan Indonesia Raya berkumandang. Juga membawa pulang medali emas untuk kakek.”

Kalimat itu kembali terdengar seolah baru saja kuucapkan.

Ujung kolam renang baru saja kusentuh, tinggal satu perjalanan kembali. Perjuangan ini untuk negeri, begitu nasehatnya padaku. Namun bagiku, perjuangan ini juga untuk dia, yang dulu pernah memperjuangkan merah putih untuk berkibar di tanah kita, yang telah memperjuangkan hidupku yang nyaris tak berharga, karena tidak berkembangnya satu kaki dengan sempurna.

Akan aku persembahkan kemenangan untuk bangsa, walau hanya dalam kejuaraan dunia renang khusus orang cacat. Sedikit lagi, sepersekian detik perjalanan. Aku ingin melihat merah putih berkibar di ujung sana.

Maafkan Aku

Malam temaram meskipun purnama bersinar terang. Angin malam berhembus meskipun hembusannya tidak kencang namun menenangkan. Mampu meninabobokan insan yang tiada lelah membanting tulang di siang harinya demi meneruskan penghidupan.

Aku disini, menunggu seseorang datang. Malam yang temaram semakin suram dengan hanya ditemani cahaya lilin yang berpendar dan obor yang menerangi sekitar. Menurut orang yang sedang dimabuk cinta, tempat ini romantis. Ah, rupanya aku salah memilih tempat. Sudahlah, aku memilih tempat ini bukan karena romantisnya, tapi karena privacynya.

Sosok lelaki itu datang m mendekat, dari jauh aku sudah mampu mengenali siluet tubuhnya. Perlahan ia mendekat menuju meja yang telah kupesan di pojok tempat makan yang cukup terkenal ini. Kini ia telah berdiri di depanku, akupun berdiri menyambutnya. Wajahnya pucat. Dingin tangannya saat ku jabat rupanya tidak mampu mendinginkan suasana hatinya yang membara.

"Sehat kamu Rio?" Ucapku, berbasa-basi.

"Langsung saja ke apa yang mau kamu bicarakan." Ujarnya tajam. Sorot mata itu, tak pernah aku lihat sebelumnya.

Aku terdiam agak lama, hingga pelayan mengantarkan minuman, kami tidak juga memulai bicara.

"Maaf... " Ujarku dengan tatapan tulus membawa permohonan maaf. "Aku juga mencintainya.... Jasmine." Ucapku akhirnya. "Aku tidak tahu kalau ternyata aku akan mencintai orang yang sama."

Ia hanya terdiam, memandang minuman di depannya dengan penuh amarah.

"Bulan depan kami akan menikah. Dan ku harap kamu dapat menghadirinya." Kataku pelan.

Tidak ada jawaban, sebuah tinju mendarat di pipiku. Aku menerimanya dengan rela. Maafkan aku sahabat.

Cermin: Veteran

Source pict

Ada yang spesial hari ini. Sedari jam lima subuh, Bima sudah beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas mandi. Pakaian terbaiknya telah dipersiapkan, rambut disisir menyamping, sepatu sekolahnya yang sudah tua telah disemir. Hari ini, seperti tahun sebelumnya, ia akan menemani kakek pergi ke lapangan di alun-alun kota.

Sang kakek tak kalah rapi. Dikenakannya dengan bangga seragam hijau yang warnanya pudar dimakan usia. Disematkannya lencana yang tersimpan rapi di kotak kaleng biskuit, yang hanya setahun sekali dikeluarkan. Usianya menginjak kepala delapan, namun satu hari di bulan Agustus membuat semangat mudanya kembali muncul.

Hari ini yang ditunggu-tunggu Bima. Bukan hanya karena ia akan menemani kakek, atau akan melihat wajah pak gubernur, atau melihat barisan orang berseragam putih akan mengibarkan bendera. Ia juga terlalu kecil untuk memahami pembicaraan ibu dengan kakek mengenai istilah amplop tunjangan, veteran, atau sejenisnya. Baginya, jika pergi dengan kakek, ia akan diberi nasi bungkus lauk ayam. Walau harus berjalan kaki rela ia lakukan.

Namun perjalanan berhenti sebelum tempat tujuan. Tubuh kurus berseragam hijau yang digandengnya tumbang. 

“Kakek, acaranya sebentar lagi dimulai.” Tangisnya sembari menggoyang tubuh kakeknya yang renta.

Bocah itu rupanya mengerti, bahwa ada hal yang lebih menakutkan dari tidak dapat jatah nasi atau amplop tunjangan hari ini.



A short sory, dedicated for all veterans in Indonesia, and for 68th Independence Day of Indonesia.

9.8.13

Hiasan Toples Lebaran dari Flanel

Assalamualaikum. Selamat Lebaran untuk semua.

Bermula dari keisengan mempercantik toples kue untuk lebaran, akhirnya jadi juga toples lebarannya dari kain flanel. Dan karena ternyata hasilnya cantik-cantik, jadi percaya diri deh untuk membuat tutorialnya. Disimak ya.

Sebelumnya, hal-hal yang perlu disiapkan adalah:

-Kain flanel beraneka warna
-Benang jahit (warnanya nggak harus sama dengan warna kain flanel)
-Jarum
-Gunting
-Lem Uhu (boleh juga pakai lem tembak, tapi kalau pakai Lem Castol, not recommended ya)
-Dakron (opsional, nggak pakai juga gak papa)

Berhubung tema toples saya kali ini adalah bunga mawar merah, maka kain flanelnya juga menyesuaikan warnanya. Merah untuk warna mawar, hijau stabilo untuk daun, krem untuk putik bunganya, dan hijau tua untuk dasar.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Gunting kain flanel berwarna hijau berbentuk daun, sebanyak tiga buah.


2. Gunting ujungnya menyerupai gerigi daun.


3. Gunting juga tengahnya sehingga menyerupai tulang daun.




4. Gunting kain flanel berwarna merah dengan bentuk lingkaran berdiameter 6 cm.
5. Potong lingkaran tersebut menjadi empat bagian sama besar (untuk dijadikan kelopak).
 6. Untuk satu buah mawar, dibutuhkan enam buah kelopak.


7. Jahit kelopak-kelopak (sebanyak enam buah kelopak) tersebut dengan menggunakan teknik jelujur. Menjahitnya sesuaikan dengan tepi keliling lingkaran ya.
8. Tarik jahitan tersebut sehingga kelopak-kelopak tadi membentuk bunga mawar. Kunci ujungnya.






9. Lakukan langkah yang sama (dari langkah 4-8) untuk kain flanel yang berdiameter 4 cm.
 10. Untuk membuat putik (bagian tengahnya) mawar, gunting kain flanel berwarna krem berbentuk lingkaran dengan diameter 2,5 cm.
11. Jeujur ujungnya, kemudian tarik.





12. Masukkan dakron ke dalam putik tersebut (kalau nggak ada, boleh pakai sisa potongan flanel yang tidak terpakai).


13. Kalau sudah menggelembung, kunci putiknya. Selipkan ke tengah mawar yang berukuran kecil, lekatkan dengan lem.


14. Siapkan tutup toples, apabila ingin memakai dasar, boleh digunting kain flanel warna dasar sesuai dengan ukuran atas tutup toples, kemudian dilem.
15. Susun daun diatasnya, kemudian lekatkan dengan menggunakan lem.


16. Susun bunga dasar (yang lebih besar), lekatkan dengan lem.



17. Susun bunga kecil ke tengah bunga yang besar (boleh diselipkan ke tengah yang bolong, boleh ditumpuk), dilem.
18. Tunggu lemnya kering.
19. Selesai ^^


Nah untuk toples yang bentuknya bulat pipih, boleh juga dirangkai seperti ini.





Semoga dapat membantu yaa ^^



2.8.13

"Jodoh: Dipilih atau Memilih?"







Bersama Salim A Fillah

~Sebuah Ringkasan~

Pertama
Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!

Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.

Kedua
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.

Ketiga
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.

Keempat
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.

Kelima
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.

Keenam
Dalam urusan jodoh, ta'aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.

Ketujuh
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.

Kedelapan
Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat. Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.

Kesembilan
Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu?
Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.

Kesepuluh
Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?


Tanyakan pada hatimu: Mana diantara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga?

Sekian. Semoga bermanfaat.


ngopas dari myquran.org :)

31.7.13

Sesal

Hari ini malam kedua puluh satu Ramadhan. Jika sebagian besar orang malam ini telah tertidur lelap, mungkin habis berbelanja keperluan lebaran, atau bagi sebagian kecil orang menghabiskan waktunya untuk itikaf, bertafakur mendekatkan diri pada Tuhannya, tetapi kedua hal tersebut tidak dilakukan oleh Abi. Lelaki dua puluh enam tahun itu hanya menatap hampa dinding kamarnya berwarna kuning gading. Sesekali menoleh pada koper terbuka dan pakaian yang berserakan di atas kasur empuknya yang kini kosong.

Sesal? Tentu terlambat jika kata itu dihadirkannya saat ini. Seharusnya penyesalan itu tidak pernah terucap jika ia tidak memilih jalan ini dua tahun yang lalu, ketika seharusnya nasehat ibunyalah yang diikutinya, bukan malah pergi dengan cinta sesaatnya. Tapi bukankah sesal selalu terjadi belakangan?

Ia menatap kembali koper dan pakaian yang masih berserakan. Dirapikannya satu per satu, dimasukkannya ke dalam koper biru. Tidak ada kemantapan sebelum ini. Sebelum suara lemah yang kembali terngiang di telinganya.

"Abi, pulang saja Nak. Ibu memaafkan kesalahanmu." Suara ibunya, yang baru saja muncul dalam mimpinya tadi.

Sepucuk surat dituliskannya, diletakkan di atas kasur kosong yang kini telah rapi.

"Maaf aku memilih pergi. Semoga lelaki pilihan barumu membuat hidupmu bahagia."

Sebuah cincin dilepaskan dari jari manisnya, diletakkan di atas secarik kertas itu.

Apa Dia Akan Menungguku Datang Kembali?



Kangen.

‘Vina, apa kabar? Sehat?’
Aku menarikan jari pada tuts handphone untuk mengirim pesan ke seseorang yang beribu kilometer jaraknya dari tempatku saat ini. Tepat saat opsi ‘kirim’ seharusnya ditekan, aku malah memilih untuk ‘keluar’ sehingga pesan sangat pendek tersebut hanya mampu memenuhi memori telepon saja.

Baru seminggu yang lalu kami bertatap muka setelah sekian lama hanya mampu menatapnya dari jauh. Namun rasa rindu tak mampu dibendung. Wajah teduhnya membayangiku lebih sering malam mini. Entah karena purnama sedang bersinar sempurna, seperti cahaya yang memancar dari rautnya .

Dari sorot matanya saat itu, aku tahu dia mencintaiku, akupun mencintainya. Kami sama-sama saling jatuh cinta, dalam diam, diam yang mengharukan. Diam yang selamanya hanya akan tetap menjadi diam bila aku terus diam.

Kumainkan handphoneku, entah tak sengaja satu nama itu selalu saja menghiasi layar handphoneku, tanpa mampu aku mengirim pesan padanya, tanpa mampu aku telepon untuk mendengar suaranya. Aku mencintainya, aku merindukannya malam ini. Mungkin dia juga sama. Aku tidak tahu. Aku tidak berani menyatakan perasaan ini. Apa dia akan menungguku datang kembali?

25.7.13

LELAH


Tanggal 26 Juli esok, adalah perayaan pertama Hari Puisi Indonesia. Sebagai apresiasi untuk perayaan ini, saya mau kembali menulis puisi dan secara kebetulan, dari forum myquran ini, baru nemu istilah yang namanya Puisi Akrostik. Kalau mau baca pengertian istilahnya, silahkan googling saja, banyak penjelasannya kok.

@>----

LELAH




Lama sudah rasanya aku ingin pergi
Entah bagaimana, namun kaki ini masih tertahan disini
Lalu jejak kaki yang mengukir di belakang selalu membayangi
Aku hanyalah bayangan palsu yang terus terbebani
Haruskah aku tetap bertahan untuk tidak segera mengakhiri?

24.7.13

Flash Fiction: Parcel





Wanita berkerudung hitam itu keluar dari ruang besuk tahanan dengan mata sembap. Seorang sipir yang dikenalnya menyapa.

“Sudah ketemu ibunya, Mbak?”

Ia mengangguk.

“Ini kolak pisang Pak, untuk berbuka.” Ucapnya sembari tersenyum dan menyerahkan bungkusan di tangan kanannya.

“Saya titip ini juga untuk ibu.” Ia juga menyerahkan keranjang berpita merah yang dibawanya.

Sipir paruh baya itu menatapnya dengan sendu. Ia bukan lagi gadis muda yang dilihatnya pertama kali beberapa tahun yang lalu.

“Ibunya masih belum mau terima bingkisan ini Mbak?”

“Belum Pak.”

Wanita itu, yang hari-harinya digunakan untuk bekerja sebagai pembantu di kota, dan setiap jelang lebaran pulang kampung untuk menjenguk ibunya, menatap nanar bingkisan yang tidak pernah mau diterima.

“Kalau tahun ini ibu nggak mau terima lagi, ambil saja buat istri Bapak. Isinya ada kue lebaran, minuman, mukena, baju, sama kerudung.” Ucapnya, kali ini dengan upaya menahan air mata.

“Semoga ibumu diberi hidayah Mbak. Nanti Bapak berikan ke ibumu sampai dia mau terima.” 

Air mata menetesi pipinya menemaninya keluar dari lembaga permasyarakatan. Teringat kembali kejadian silam saat ibunya mencoba untuk menjual dirinya ketika ia belia. Sebuah upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan diri dan kehormatannya, harus dibayar dengan menjebloskan ibunya ke dalam penjara untuk waktu yang lama.

17.7.13

Puding Cokelat Oreo Saus Vanila

Assalamualaikum, saya mau share puding kreasi saya sendiri yang ternyata enak banget. Puasa begini, enaknya sih berbuka dengan yang manis ya. Tapi, kalau yang manis belum dapat, pakai yang manis lainnya aja deh (ini maksudnya apa ya) hihihi. Berbekal coba-coba resep baru, akhirnya jadi deh puding enak, manis, dan seger buat buka puasa. 

Nah, kalau di rumah nggak sedia alat ukur (timbangan, gelas ukur, dan sejenisnya) saya kasih resep yang bisa diukur pakai alat ukur sehari-hari. Hehehe, walau begitu rasanya tetap enak kok, pas di lidah, enak di perut, karena memasaknya pakai cinta #eaaaahh.




Bahan-Bahan :

1 bungkus agar-agar cokelat
120 gram (atau 2/3 gelas) gula pasir
4 gelas belimbing air
100 gram cokelat blok
6 buah Oreo (yang creamnya putih)

Bahan Vla :

1 bungkus My Vla rasa vanila (ehmmm, berhubung pengen praktis ya pakai ini aja xixix)
1 gelas air panas

Cara Membuat :

Campur agar-agar, gula pasir, air, dan cokelat blok. Rebus hingga mendidih, jangan lupa diaduk-aduk. Dinginkan, baru deh dimasukkan cetakan.
Hancurkan Oreo, tapi jangan terlalu hancur ya. Masukkan ke dalam cetakan agar-agar.
Kalau sudah agak dingin, masukkan ke dalam kulkas.


Cara Membuat Vla :

Ikuti instruksi di belakang bungkus ^_^

Selamat mencoba dan menikmati. Happy Blogging. Happy Cooking. Happy Fasting teman-teman \(^_^)/

16.7.13

Flash Fiction : Mengabadikan Senja







Senja mengguratkan cahaya keemasannya yang mempesona, memaksaku menepikan motor sejenak untuk menikmati keindahannya, di Tepi Sungai Mahakam yang membelah kota. Agenda mendokumentasi kegiatan berbuka puasa kuputuskan ditunda esok saja.

Kunikmati syahdunya lantunan ayat suci yang terdengar dari masjid di seberang jalan. Sementara pandanganku dimanjakan oleh siluet senja dengan pantulan sinarnya di permukaan sungai. Sebuah kompilasi yang pas dalam menghayati ayat Tuhan yang tersebar di hamparan bumi.

Kameraku berpindah-pindah dari padatnya arus jalan raya, teduhnya riak sungai yang terpantul cahaya senja, anak kecil yang berkeliling menawarkan takjil, namun tiba-tiba berhenti pada pemandangan yang sedari tadi luput dari perhatianku. Seorang gadis sedang khusyuk dengan kanvas dan kuas ditangannya. 

Dzikir yang terlantun dari masjid berhenti, disusul suara bedug dan adzan maghrib. Alhamdulillah, puasa hari ini tertunaikan. Kuucap syukur juga atas keindahan saat menanti berbuka puasa kali ini. Aku teringat tidak membawa bekal apapun untuk berbuka. Segera kucari sosok anak kecil yang berjualan kolak pisang tadi, namun sudah tidak ada.

“Selamat berbuka puasa.”

Gadis berkerudung merah tiba-tiba sudah berdiri dihadapanku dengan sebotol air mineral yang terulur ke arahku. Kanvas yang masih basah oleh tinta tergenggam di tangan kirinya. Aku menangkap sesosok lelaki dengan kamera di ujung lukisanya.

Ternyata kami mengabadikan momen yang sama.

12.7.13

Cermin : Makam

 




Apa yang ada di benakmu ketika melihat pemuda dua puluh tahunan membawa boneka panda besar dan satu tas berisi kado? Seperti ulang tahun datang terlalu cepat. Apalagi bagiku dulu, seorang gadis berusia lima tahun mendapatkan boneka dan mainan adalah hal terindah.


Sayangnya, kebahagiaan itu harus ternoda dengan adegan yang terjadi selanjutnya. Ketika melihat boneka yang baru saja kupeluk dirampas dan dibuang ke selokan, mainanku dilempar ke orang yang baru saja memberinya, dan isak tangis membahana di udara. Aku meraung saat itu, karena merasa bunda merampas kebahagiaanku. Rupanya tangisanku juga beradu dengan tangis paman baik hati yang baru saja memberiku hadiah itu. 

Bagi anak kecil, mereka akan merekam dengan jelas kejadian yang amat berkesan selama masa pertumbuhannya. Aku memilih kenangan tadi. Saat itu, terlalu kecil untukku dapat mencerna dialog bunda dan paman itu. Paman itu menangis dan memohon sambil berlutut, namun bunda memukulinya tanpa menghiraukan aku yang juga menangis karena hatiku terluka hadiahku dibuang.

Sekarang aku mengerti. Butuh dua puluh tahun untuk bisa memahami peristiwa silam. Namun ternyata semuanya terlambat. Untuk memberi balasan hadiah yang belum sempat kunikmati, dan menerima penyesalannya yang belum mampu aku artikan dulu, kukirimkan rangkaian bunga, dalam ziarah jelang Ramadhanku kali ini, di atas makammu, ayah.

1.6.13

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

~Sapardi Djoko Damono~



Aku mulai bulan ini dengan rintik hujan di pagi hari. Membuat aktivitas harian berjalan lambat. Slow motion. Sembari menikmati kemalasan dan dinginnya hujan pagi di bulan Juni. Cerita di awal bulan ini, mirip dengan puisi sapardi Djoko Damono di atas. Tentang ketabahan berpaut rindu, tentang kebijaksanaan untuk menghapus jejak-jejak masa lalu, tentang kearifan demi memendam sebuah harapan yang tak terucapkan.

Aku tidak punya resolusi apa-apa di bulan ini, di bulan yang lalu, pun di bulan selanjutnya. Entah sudah berpuluh bulan akuu lupa dengan aktivitas itu. Hidup tanpa resolusi bukan berarti tanpa cita, hanya saja ada aktivitas yang memang telah terkikis oleh waktu. Entahlah. Sebenarnyaku punya resolusi, namun cukup disimpan dalam hati.

Pagi ini aku ingin bercerita tentang impian masa depan dan jejak masa lalu. Mereka silih berganti memenuhi rongga hidupku. Antara optimisme melangkah, namun masih sering menoleh ke belakang. Antara takut melangkah maju dan tersendat jejak-jejak yang masih tersisa.

Selamat datang bulan Juni. Semoga hujan di pagi ini menghapus jejak masa lalu yang tersisa, dan menyuburkan benih-benih harapan untuk masa depan.


28.5.13

Everybody's Changing

Saya merasa ada yang berubah. Banyak hal yang hari demi hari berubah tanpa mampu kita kontrol. Simpel saja, ketika kamu terbiasa dengan apa yang kamu alami, maka ketika segala sesuatunya berubah, kamu juga akan merasakan perubahan itu. Ada yang berubah secara perlahan, namun pasti. Entah apa yang terjadi itu kamu sadari atau tidak. Ada pula yang berubah secara mendatak. Cetar! Seperti petir yang tiba-tiba datang dan menghantam kehidupanmu.

Apapun itu, perubahan tetaplah terjadi. Itu adalah sunatullah yang harus kita jalani. Sebagai contoh, saya terbiasa memakai cincin di jari manis tangan kiri. Suatu hari, saya ingin mengubahnya dengan memindahkan cincin ke jari manis di tangan kanan. Simpel kan, bukan suatu perubahan besar yang akan mengubah dunia. Tetapi, beberapa saat kemudian, ada perubahan yang terjadi yang lambat laun dirasakan. Ada bekas yang tertinggal di jari manis saya seperti orang yang gagal tunangan dan cincinnya dikembalikan (heheh). Tanpa sadar, saya juga sering mengggerakkan cincin dengan jempol saya, dan kebiasaan itu baru saya sadari kalau hilang ketika cincin itu sudah tidak lagi disana.

Sesimpel itu. Itu baru perubahan kecil. Apalagi perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan kita. Kehilangan sesuatu, kehilangan seseorang, dan kehilangan-kehilangan yang lainnya. Siapalah kita yang pada dasarnya tidak punya apa-apa. Yang terlahir di dunia tidak membawa apapun.

Pada akhirnya, yang bertahan adalah yang siap dengan perubahan.

"Bukan mereka yang terkuat dan terbesar yang akan dapat mempertahankan eksistensinya. Tapi hanya mereka yang mampu beradaptasi terhadap perubahan" - Anonim