Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

24.9.13

Fall (or Fool) in Love (?)

Sejauh ini aku telah jatuh cinta dua kali.
Pada orang yang layak, namun diwaktu yang salah.
Karena hanya mengejar bayangan yang terus pergi menuju cahaya.
Iya, mereka pergi menuju cahaya,
Namun aku hanya terpaku, menatap bayangan yang semakin pergi semakin memendek.

Bolehkah aku jatuh cinta sekarang?
Tidak boleh Nak, kamu terlalu kecil untuk menanggung bebannya.
Senyummu terlalu manis untuk berpura-pura bahagia ketika kau terluka.

Maka titipkan saja namanya,
Pada sehelai daun yang akan meninggi seiring pertumbuhan batang pohonnya.
Titipkan saja namanya,
Pada hamparan pasir di tepi pantai yang akan melarutkannya dan membawa ke laut lepas.

Yang manapun yang terbaik bagimu,
Akan dikirimkan kepadamu,
Sebagai bingkisan yang patut kamu syukuri,
Sepanjang waktu.




Puisi titipan 'anakku' ._.v

25.7.13

LELAH


Tanggal 26 Juli esok, adalah perayaan pertama Hari Puisi Indonesia. Sebagai apresiasi untuk perayaan ini, saya mau kembali menulis puisi dan secara kebetulan, dari forum myquran ini, baru nemu istilah yang namanya Puisi Akrostik. Kalau mau baca pengertian istilahnya, silahkan googling saja, banyak penjelasannya kok.

@>----

LELAH




Lama sudah rasanya aku ingin pergi
Entah bagaimana, namun kaki ini masih tertahan disini
Lalu jejak kaki yang mengukir di belakang selalu membayangi
Aku hanyalah bayangan palsu yang terus terbebani
Haruskah aku tetap bertahan untuk tidak segera mengakhiri?

19.2.12

Nantikanku Di Batas Waktu

Ada yang sedang menungguku di batas waktu.

Kemudian aku mencari dimanakah waktu berbatas itu.
Kemudian aku menunggu kapankah waktu berbatas itu.
Tak jua ketemu.

Aku bertanya kepada burung malam, tak ada jawabnya.
Aku bertanya pada rembulan, hanya diam saja sembari memancarkan sinar keemasannya.

Oh aku tahu pada siapa ku bertanya.
Aku menyentuhnya, sembari menikmati detik demi detik suaranya.
"wahai jam dinding, kau begitu sangat akrab dengan waktu,
kapankah batas waktu itu kan tiba?"
Ia tak menghiraukan kata kataku.
Terus saja ia berlalu.

Ah aku begitu lelah menunggu, namun tak ada yang memberitahuku.

Dan pencarianku tentang batas waktu terus berlalu...

23 Mei 2011

26.1.12

Kerendahan Hati ~ Taufik Ismail


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Makna Sebuah Titipan ~ WS Rendra


Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,

bahwa :

sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Allah

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu

diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan

bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,

seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti

matematika:

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,

dan bukan kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

19.12.10

Bersyukur Aku Masih Mempunyai Ayah


Beruntung aku masih mempunyai ayah...

Tempat ku bersandar di kala lelah..

Tempat mengadu dikala gundah..

Menjadi andalan saat ku lelah...


Beruntung ku masih memiliki ayah...

Sang pelindung kala aku lemah...

Pemberi semangat ketika penat...

Menyeka peluh setiap saat..


Beruntungnya aku masih memiliki ayah..

Lelaki pencinta yang cintanya bukan tanpa makna..

Lelaki pemberi janji yang janjinya bukan tanpa arti...

Lelaki tegap bertanggung jawab tanpa sedikitpun meremehkan dan mengingkari tanggung jawabnya...


Dan aku pantas untuk berbahagia memiliki ayah,..

Ayah jagoan di seluruh kehidupan..

Ayah andalan tanpa pernah diragukan..


Dan aku kini mengucap syukur karena masih diberi kesempatan hidup dan mengisi kehidupan ayah...



Catatan singkat untuk ayah juara no 1 di dunia,... Sampai detik ini tidak akan ada yg menggantikan posisimu dlm hidupku,..

18des10

14.12.10

Ku Akan Selalu Ada,... Untuk Kita,......


jika kita terjatuh, terjatuhlah bergantian



jika kita merasa sakit, sakitlah bergantian



jika kita kecewa, kecewalah bergantian



jika kita terluka, terlukalah bergantian





Jadi, akan ada tangan yang menyambutku ketika aku terjatuh



akan ada punggung yang kuat menopangku, ketika aku sakit



akan ada bahu yang kokoh yang akan menampungku, ketika aku kecewa



akan ada pengobat hatiku ketika aku terluka..





Begitu juga dengan kau....



Tak perlu merasa sunyi dalam kesendirianmu....



Karena akan banyak telinga yang mendengar keluh kesahmu.....



Akan banyak air mata yang mengalir untuk menguatkanmu.....



Akan banyak tawa yang hadir untuk menghiburmu....



Ada jutaan nasehat dan pelajaran hidup yang akan datang mengisi lukamu....





Namun, jika kita terjatuh, sakit, kecewa, luka bersama-sama,....



Punggungku masih kuat untuk menopang kegundahan kita,.....



Malamku masih panjang untuk bermunajat tentang kita,.....



Dan senyumku masih akan hadir untuk kita,.......

2.12.10

Sayang. . . . . . . .

Ingatkah aku sayang...
Ketika suatu sore kau mengajakku ke tempat itu...
Kau menggenggam erat jemariku...
Kau menuntun meniti jalan berbatu...
Kita menyusuri jalan itu...
Berdua, tak ada yang mengganggu...
Dan jejak kenangan semakin memudar...
Karena aku melupakan masa indah itu...
Maaf pun terasa hambar terucap dari bibirku...

Sayang...
Belaian mesra ditengah hujan...
Juga tak mampu terlukiskan dalam ingatan..
Walau ku coba menarik semua bayang-bayang...
Tak juga sanggup mengukirkan kenangan indah itu...
Sekali lagi maaf...
Kembali ku lupakan momen cinta itu...

Dan ketika gerimis melanda...
Ku menangis memandang kelu wajahmu...
Bahkan sebelum air mata tumpah...
Kau menyekanya dengan air hujan...
Menerobos malam menjanjikan terang...
Pada sebuah episode masa depanku...
Masa depanku...
Bukan masa depanmu atau masa depan kita...
Karena katamu kau yakin dan percaya...
Masa depanmu adalah aku...

Dan lagi-lagi aku lupa...

Sayang,..
Bukannya aku tak mengerti cinta...
Namun kurasa, tatapanmu adalah cinta...
Desah napasmu adalah cinta...
Belaianmu adalah cinta...

Dan lagi-lagi...
Sekali lagi, aku lupa...

Sayang,..
Bukan ku hendak melupakan wajahmu...
Bukan ku hendak melupakan cintamu...
Apalagi ku menduakan sayangmu...

Sayang,..
Mengapa tak terbersit di benakku...
Jika nanti ku menduakan cintamu...
Menangiskah engkau mempertahankanku?
Ataukah tangisan kerelaan demi bahagiaku?
Ataukah hanya senyum getir dan tatapan nanar penghias harimu?
Karena kekasih hatimu kan pergi meninggalkanmu...

Sayang, maaf aku terlalu egois..
Membalas cinta dengan sinis..
Bahkan tak mampu tersenyum manis..
Walau kadang di hatimu tersimpan tangis..

Maaf sayang...
Maaf...
Ku tak mampu membalas sayang...
Ku tak mampu membalas cinta...
Ku tak mampu menyeka rindu..
Dan peluh di dahimu...

Akupun dalam gelapnya malam mencintaimu..
Hah? Mengapa cinta itu datang disaat gelap?
Mengapa cintaku tak mampu mengusir gelap?
Mengapa cintaku tak seterang mentari menyinari sisi gelapku, seperti cintamu?

Sayang, sekali lagi maaf...Yang mencintaimu dalam diam...

(Hah? Padahal cintanya adalah nyata..
Padahal cintanya adalah kata..
Padahal cintanya adalah perbuatan..
...Padahal cintanya adalah tanggung jawab..
Padahal cintanya adalah kasih sayang..

Namun kau hanya mampu mencintainya dalam diam?)

Terimalah pesan cinta dari anakmu,..
Untuk ayah...

26.10.09

Biarkan Nurani Berbicara


Ku bersandar pada dinding hitam
Lelah menghampiri perjalanan panjang
Ku menengadah menatap langit bertabur bintang
Sunyi ini miliknya malam...

Ku lihat bara api di kejauhan jalan
Merah membara membakar jiwa
Hati yang lapar ikut terluka
Makna yang memudar ikut berteriak bergelora
Dan aku hanya tertunduk menatap tanah yang basah
Airmata perlahan jatuh tak kuasa tertahan....

Untuk apa tangis ini?
Untuk apa rehat ini?
Untuk apa api ini?
Untuk menyadarkan diri yang terlalu lama berfoya-foya...

Aku bermain api namun tak kuasa memadamkannya
Aku terbakar api dan tak mampu mengobatinya...

Dan kemudian ini salah siapa?...

Tanyakan saja pada nurani!
Biarkan ia berbicara...

Sepi Ini Milik Siapa...?


Sepi...
Sepi ini milik siapa?...
Milik hati penguasa,.
Ataukah hati rakyat jelata?...

Sepi ini milik siapa?...
Milik diri yang sendiri,.
Ataukah milik diri ketika dalam perut saat bayi?...

Sepi..
Sepi ini milik siapa ya?..
Aku terus berteriak hingga habis suara..
Aku selalu mencari cahaya..
Namun gelap dan tak terdengar suara..

Apakah sepi ini milik aku sendiri?..
Tanpa teman memeluk diri sendiri..
Menutup mata merebahkan diri pada malam..
Membangunkan diri ditemani kelam..

Sepi ini milik siapa?
Milik penghuni bumi..
Milik penghuni rumah..
Milik penghuni sebidang tanah..

Sudah siapkah kita menghadapi sepi?...
Sendiri...
Seperti sebelum berada di atas bumi...


12.7.09

Aku bingung mau nulis apa



Aku bingung mau nulis apa
Beribu sajak mewarnai hari namun ku tak berhenti terpana

Aku bingung mau nulis apa
Untaian kata menari-nari dalam kepala namun ku tak dapat merenda

Aku bingung mau nulis apa
Karena hati tak mampu berkomunikasi dengan kata

Aku bingung mau nulis apa
Jika jiwa dilanda sakit yang membara maka dunia akan terbakar karenanya

Aku bingung mau nulis apa
Mengapa duka tak mampu dirangkai dengan tawa
Agar semuanya indah?
Agar semuanya berkah?
Agar semuanya merekah?

Hmm, aku semakin bingung mau nulis apa
Benar-benar kecewa
Benar-benar luka
Benar-benar sirna

Namun ku harap bisa merangkai kata
Untaian mutiara penyejuk jiwa
Rangkaian warna penghias asa
Jalinan hikmah yang terkatup dalam dada
Penyejuk hati, pelita diri,

Namun aku hilang kata
Tak tau apa yang harus dikata…………..



Aku bingung mau nulis apa
Beribu sajak mewarnai hari namun ku tak berhenti terpana

Aku bingung mau nulis apa
Untaian kata menari-nari dalam kepala namun ku tak dapat merenda

Aku bingung mau nulis apa

12.5.09

belenggu





belenggu ini bernama dusta,..
ataukah lara,..
ataukah luka,...?
ah sudahlah,,,, aku lupa


belenggu ini bernama siksa,..
ataukah romansa,...
ataukah hanya sebuah kata,..??
ah sudahlah,.. aku mau melupakannya


semua yang ada di rasa,..
pahit dan getir aku telah lama merasa
namun hanya sebatas asa



asa yang terbang menampakkan kejamnya duka, luka, lara

semua bercampur atas nama hampa






lupakan







dan aku menjadi orang yang terlupa






kasihan...................... .........

Puisi untuk my parents





Aku ingin memberi sebentuk bunga
Yang kurangkaikan dengan indah nuansa
persembahan tulus dari melodi nada
syair kehidupan dengan tangis dan bahagia

Aku ingin memberi pancaran rona
yang terindah dari dasar jiwa
dari hati tulus memancarkan cinta
melangkah pasti diiringi rintihan do'a

Aku ingin memberi bahagia
melebihi salam termanis dalam suka
mewarnai usiamu dikala tua
melengkapi pengabdianku yang tiada apa

sebelum bahtera dia bersandar di dermagaku
dan malam datang ke peraduan rindu
bahtera melaju mengarungi hidup yang membiru
aku ingin memberi dunia padamu
membiarkan hangat merengkuh malammu
mewanginya mawar menghirup dahagamu

dan sebelum pengabdianku terbagi
aku ingin memberikan seluruh hati
dan segenap jiwa dalam diri

hanya untukmu,.
Ayah dan bundaku...

6.5.09

puisi jadul,... "Aku Menangis"


dari seorang hamba yang mengharap Ridha-Mu


Nissa



Dalam kesunyian hati ini aku menangis
meniti kabut yang menyelimuti diri dan hari-hari
aku menatap hari nanti yang begitu sepi
karena gita cinta mulai bersemi dalam diri

Aku menangis karena ku sadar kecewa dan lara menghatui
karena cintaku yang tak sempurna kepada-Mu
karena getir iman yang memudar di dadaku
Aku kecewa karena cintaku yang dangkal kepada-Mu

kuharap dengan sisa umurku yang tak panjang
kukuan membawa bekal untuk hari kemudian
dan perasaan kecewaku karena berlumur segudang dosa
dapat terhapus oleh Maha Rahman-Mu

puisi jadul,... "When fairy fall in love"





Sepasang sayapnya mengepak indah
Cahaya mentari senja jatuh ke perak bola matanya
Senyum anggunnya terungging merekah semerah hatinya

Sang peri terbang ke angkasa
Diiringi munculnya pelangi
Bunga-bunga semerbak berdansa
Diatas hijaunya taman bak permadani
Kupu-kupu bertebaran mengiringi

Sementara sang peri dengan bangga bernyanyi
"Aku Jatuh Cinta"

Sang raja dengan cinta menyematkan tiara
Permaisuri dengan cinta mengalungkan bunga
Seluruh rakyatnya dengan cinta bersenandung bahagia

Dan pangeran muncul dibalik gelapnya gulita
Dengan kuda putih berpedang emasnya
Dihampirilah sang peri dengan cintanya

Semua larut dalam romansa

Dan akupun ikut bahagia
Akhirnya dongeng berakhir bahagia
"happy ever after"

Dan malangnya aku bukan peri
Dan sayangnya aku bukan peri
Dan kasihannya aku bukan peri
bukan peri
bukan peri

Puisi tanpa judul






Tuhan....
kenapa aku hidup dibayangi mimpi-mimpi
kenapa hatiku terus bercermin dan melihat bayang-bayang yang sama
bayangan maya yang terbentuk dari buncahan rindu dan kemilau madunya asa
bayang-bayang yang menguras peluh, pilu, sukma dan emosi
bayang-bayang tentang dia
yang selalu lekat dalam ilusi
yang selalu dekat di hati
yang selalu diingat dalam memori
meski aral melintang sejauh merkuri dan bumi
entah mengapa kuselalu menanti................

Senandung Perjalanan




Adalah rentetan perjalanan panjang
Sejuta langkah melalui medan perang
bergulir sahara demi sahara membentang
Tak tahu kapan sampai kan datang
hoingga membeku dir pun tak pernah pulang
Detik demi waktu selalu meghilang

Esok....................
Adalah misteri yang terbungkam milyaran misteri
Terbungkus kabut putih tak menentu
Entah bahagia atau derita telah menunggu
Laksana fatamorgana membayanginya
Semanis surga atau sepahit neraka ditawarkan
Merajut waktu dengan mimpi dan harapan
Aku berkaca pada tembok berlumut kusam
Menatap hari yang masih terlintas panjang
Meramalkan cita berpaut bunga-bunga cinta
Menyulam asa diatas detik kenangan

Dan aku akan bertahan
Melintasi pahit gertirnya masa depan
suram... hitam... kelam... dan berjuta malam
kan kulukis di kanvas putih seputih awan
Menjadi impian, asa, serta keyakinan
tuk menjadi bekal hari kemudian

Senandung Perjalanan

Kemarin, esok dan hari ini
Adalah senandung kenangan, perjuangan dan harapan
Selalu di lingkaran ini aku berjalan
Membingkai dunia hingga menua usia bumi

Kemarin.........
Adalah suramnya hari kelabu
Mengikat kabut hitam pilu
Menyapa cinta dengan belati
Merintih di malam kelam sunyi
Menyanyi diantara gulita sepi
Kosong menyiksa diri

Hari ini.............