Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

15.10.13

Kerudung Jingga | Kejutan Sebelum Ramadhan

Pengantar: Ehm, cerpen ini ikut dibukukan dari 200 karya terpilih dari @nulisbuku





 ------------o0o-------------

Setiap orang lahir dengan banyak impian yang dihembuskan menjadi doa dalam helaan napas ibundanya ketika pertama kali ia menyapa dunia. Sebuah hela napas panjang seorang ibu yang memutus fase mengandungnya, mengantarkan ia menuju fase amanah baru yang akan dipikulnya sepanjang hayat sebagai seorang insan. Kiriman doa akan terlantun begitu saja ketika mendengar tangisan pertamanya. Namun beban beratnya kehidupan, menjadi bayang-bayang begitu tangisan selanjutnya terlantun menggema memenuhi ruangan tempat ia dilahirkan.

Aku lupa dengan tangisan pertamaku ketika lahir di dunia. Tapi entah mengapa, aku selalu teringat tangisan-tangisanku selanjutnya. Apakah itu karena aku terlahir tanpa impian, tanpa doa atau tanpa harapan dari orang-orang? Ataukah aku terlahir hanya menjadi beban bagi kehidupan yang semula sudah amat berat? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, sekarang aku hanyalah seorang lelaki beranjak dewasa yang setahun lagi menginjak kepala dua namun masih terjebak pada seragam putih abu-abu.

Tak perlu kuhabiskan waktu menjelaskan mengapa berulang kali aku tidak naik kelas, atau seberapa bermasalahnya aku dengan orang yang ada di sekelilingku. Bagiku hidup bukan hanya selembaran nilai rapor yang harus ditandatangani orang tua setiap akhir semesternya. Bagiku, hidup jauh lebih rumit daripada itu. Dan kenyataan bahwa orang yang menyebabkan rumitnya hidup yang harus ku jalani ini adalah orang yang amat ku sayangi, itu semakin menambah rumit kehidupanku.

Lupakan sejenak tentang itu. Kini, pikiranku tiba-tiba beralih pada sebuah fokus kehidupan yang lain. Mentari Jingga memang mengguratkan keindahannya yang cukup menyihir walau hanya sekejap mata dan kemudian pergi. Aku tidak memiliki kuasa untuk menahannya, karena aku bukanlah siapa-siapa. Pemuja rahasia? Mungkin saja. Mungkin aku seorang yang menunggu semburatnya untuk mengantarkanku terlelap dan bermimpi. Karena di siang hari, aku tidak memiliki mimpi yang nyata. Karena di malam hari ketika tidur, itulah impianku yang sesungguhnya.

            Ah, aku tidak mampu mengontrol wajahku untuk tidak tersenyum ketika melihat wajahnya dari kejauhan.

***

Aku tidak tahu apa itu cinta. Tapi apabila kamu merasakan kebencian yang amat sangat dalam, namun dengan hanya melihat mata teduhnya saat ia kelelahan kamu mampu melupakan semua kebencianmu, apa itu dinamakan cinta? Kata orang, cinta butuh bukti tidak sekedar pernyataan. Ketika kamu tiba-tiba berpikir untuk melakukan sesuatu sebagai bukti cintamu, apakah kamu sedang merasakan jatuh cinta? Kalau memang seperti itu, maka aku akan membuktikan semua itu pada orang yang sangat ku cintai dan akan berusaha memaafkan semua kesalahannya. Kesalahan fatal sekalipun.
 
***

Pagi ini, aku melihat Mentari Jingga sedang sibuk dengan kardus-kardusnya, dan instruksi-instruksi yang keluar dari bibirnya. Betapa sibuknya sekelompok orang di depan gerbang sekolah ini. Hari ini sekolah diliburkan jelang Ramadhan, dan seperti agenda rutin tahunan sekolah ini, OSIS akan melaksanakan bakti sosial membagi sembako ke Panti Asuhan sebagai kado Ramadhan kepada yang kurang mampu. Dan jangan tanya mengapa hari ini aku ada di sekolah, karena aku juga sedang berencana memberikan kado untuk orang yang spesial.

            “Ran! Ini kardus gula yang belum di packing kamu bawa ke anak-anak di sekretariat untuk di packing sekarang!” Teriaknya pada seorang gadis berkacamata bernama Rani yang berdiri tidak jauh darinya.

            “Mamat, Mat! Sumbangan Bu Neni sudah diambil belum? Ambil sana gih ntar gak keburu di pack sama anak-anak!” Teriaknya lagi pada yang lain. Dan semakin terlihat betapa sibuknya dia memberikan instruksi pada yang lain. Ia sendiri, gadis belia berkerudung putih susu, sibuk pula mengangkat beberapa dus yang tertumpuk di depan gerbang sekolah. Sementara aku, si berandal yang terkenal suka bikin rusuh, mengamatinya sambil berpura-pura membaca buku, di sebuah bangku tidak jauh dari situ.

       “Tari… Tari…!” Seorang anak perempuan teman sekelasku yang ku tahu bernama Nita menghampirinya dengan tergesa-gesa. “Pihak Panti Asuhan sudah siapkan acara penyambutan nanti jam sebelas. Tapi mobil pick up yang kita sewa kemarin barusan konfirm nggak bisa ngantar. Aduh Gue bingung musti sewa kemana lagi. Pakai mobil anak-anak udah Gue hitung-hitung nggak cukup. Mana acaranya tiga jam lagi, di sekretariat masih banyak yang harus dikerjakan lagi” Sambung Nita dengan panik.

            Bisa kulihat kalau Mentari Jingga sang ketua panitia mulai panik dengan situasi yang tidak diduga ini. Menurutku sih ini masalah sepele saja, namun sepertinya karena kelelahan sejak tadi pagi, juga mungkin dari kemarin-kemarin, ia bingung juga. Aku menghentikan bacaanku dan segera datang menghampiri mereka. Sebuah kejutan sepertinya melihat reaksi kedua orang ini yang memandangku dari ujung kaki hingga ujung kepala seperti sedang memberikan sensor Sinar X padaku.

            “Ada yang bisa dibantu?” Ucapku datar sambil membalas tatapan aneh mereka berdua.

            Taka ada balasan.

            “Hmm oke sorry, tapi tadi gue gak sengaja dengar dari sana.” Lanjutku sembari menunjuk ke arah bangku dimana tadi aku tiduran sambil pura-pura baca buku. 

Tak ada balasan lagi.

“Gue bisa mengusahakan pick up jam sepuluh. Gue bisa nyetir. Asal harga sewanya cocok, gue juga bisa bantu angkat-angkat barang.”

            Mungkin mereka masih kaget dengan keberadaanku, dan tawaran bantuan itu. Seorang Adhan Pradana, siswa yang hampir setiap bulan diskros karena kenakalannya, yang dua kali tidak naik kelas, yang tidak pernah peduli dengan sekelilingnya tiba-tiba datang menawarkan bantuan. Setiap orang pasti punya masa kelam dalam hidupnya, dan anggap saja ini adalah titik balik dalam kehidupanku. Bukankah setiap orang harus berubah menuju kebaikan? Sepertinya kejadian semalam cukup membuatku sadar untuk berubah. Dan inilah momen pertama kebaikanku.

            Walau terperangah cukup lama, akhirnya mereka setuju. Transaksi disepakati, bahkan aku menawarkan harga separuh dari yang mereka sepakati dengan penyewa pick up sebelumnya. Tapi kemudian aku juga membuat kesepakatan untuk menambah lima puluh ribu rupiahs ebagai biaya tambahan untuk aku ikut bantu mengangkat-angkat barang. Mereka menyepakati, karena tentu saja dengan tambahan itu mereka cukup diuntungkan karena mendapatkan harga yang masih jauh lebih murah dari sebelumnya. Dan bagaimanapun, ini adalah penghasilan pertamaku dari hasil keringat sendiri. Akan ku gunakan untuk membeli kado untuk orang yang ku cinta.

***

“Makasih Dhan untuk hari ini.” Ucap Tari sembari ikut membersihkan barang-barang seusai acara.

“Makasih untuk apa? Gue kan sudah dibayar professional, hahaha.” Jawabku sembari tertawa renyah.

“Emmm, kalau begitu, Saya mau minta maaf, karena… karena…”

“Karena salah sangka sama Gue? Sudah biasa kok. Seharusnya Gue yang minta maaf ke orang-orang kali ya, karena sudah jadi orang jahat selama ini.”

“Eh, tapi tetap saja Saya salah. Apa bisa dimaafkan?” Pintanya tulus.

Aku terdiam sejenak. 

            “Begini saja, Gue mau minta bantuan sama Elo. Dan setelah selesai, Gue anggap kesalahan Lo, yang sebenarnya bukan kesalahan sih ya, itu dimaafkan.” Jawabku. 

Kemudian aku jelaskan permohonanku, dan dia mengangguk sembari tersenyum. Aku merasa bunga-bunga bermekaran sebelum musimnya.

***

            Langit menggurat jingga mengantarkan kepulangan Mentari Jingga ke rumahnya. Dan aku terpaku sendiri menatap bungkusan cantik berpita emas di jok depan pick up yang baru saja diduduki oleh Mentari Jingga. Kerudung pilihannya sungguh cantik, tidak salah aku memilih dia untuk menemaniku memilihkan kado spesial ini. Entahlah, dari sekian banyak gadis berkerudung di sekolahku, aku memilih dia untuk menemaniku membelikan kado ini. Namun untuk berharap lebih pada gadis sholeha sepertinya, aku perlu berkaca diri. Menerima maafnya hari ini pun rasanya tidak pantas, dan mengetahui dia akan bersedia memenuhi permintaanku hari ini, rasanya seperti mimpi.

            Kini aku dihadapkan kepada pilihan sulit berikutnya untuk menyerahkan kado ini kepada orang yang tepat. Aku tidak mempunyai keberanian. Bahkan hanya untuk meletakkannya begitu saja di dalam kamarnya tanpa berkomentar apa-apa, rasanya sulit. Tapi sekali lagi, cinta butuh pembuktian dan aku harus berani membuktikannya.

***

            Ini sahur pertama. Namun aku terbangun bukan karena mendengar aktivitas dapur, tapi oleh isak tangis dari kamar sebelah. Pasti Ibu baru datang. Mungkin ia baru menyadari ada bungkusan tergeletak di kamarnya. Aku ingin pura-pura terpejam namun aku tidak bisa. Lebih baik aku ke dapur saja menyiapkan makan sahur untukku. Bukankah ini sahur pertamaku setelah sekian lama? 

            Kemudian terjadi begitu saja, orang yang begitu ku benci namun amat sangat ku cintai tiba-tiba muncul dengan air mata berderai, mengambil panci dari tanganku. Aku duduk memandanginya mengambil alih pekerjaanku. Aku menatapnya lama. Ia masih cantik, terlebih dengan kerudung jingga yang kini dikenakannya. Ingin aku teriakkan ‘aku sayang ibunda’ tapi tertahan begitu saja di rongga dada.

            “Maafkan Ibu Nak. Akan sulit untuk mengakhirinya sekarang. Namun Ibu akan berusaha.” Ucapnya lirih. “Dan kejadian kemarin malam, Ibu janji tidak akan terulang kedua kalinya.”

            Sekelebat muncul kembali peristiwa itu. Seorang ibu paruh baya datang ke rumah, menanyakan dimana suaminya pada Ibu. Memaki-maki, mengucapkan kata-kata sumpah serapah hingga semua tetangga keluar. Menampar dan menarik rambut ibuku dan menampar pipinya. Aku yang mencoba melerai keduanya terkena pukulan di kepala. Namun pukulan di hatiku amat jauh lebih sakit kurasa. Ibu itu mungkin terluka atas apa yang –aku tidak tahu- mungkin telah dilakukan ibuku pada kehidupannya. Namun aku, yang sepanjang usiaku hingga kini dinafkahi dan dibesarkan oleh ibu tanpa pernah tahu siapa ayahku, amat sangat jauh lebih terluka karena tak memiliki daya, bahkan untuk membela ibuku sendiri.

Wanita yang kini memakai kerudung jingga itu, telah menghabiskan dua puluh tahun hidupnya sebagai seorang Wanita Tuna Susila.

            “Adhan sayang Ibu.”

15.8.13

Lelaki Tanpa Nama



Seseorang memanggilku dari arah jam tiga. Seketika seluruh badan ini gemetar. Bukan karena nama Tiara yang dipanggilnya, tapi karena suara itu, suara yang masih sangat familiar di telinga.

Andai saja aku yang melihatnya terlebih dahulu, sebisa mungkin aku akan menghindar. Entah dengan berpura-pura tidak melihat kemudian pergi dengan jalan yang lain, atau apa saja yang bisa aku lakukan supaya tidak terjadi percakapan, atau sekedar tatap muka.

Aku menoleh ke kanan. Rasanya bibir ini tidak mampu kugerakkan untuk sekedar menyapa atau mengucap salam. Aku sempat terdiam beberapa saat. Aku hanya mampu menatapnya dengan tatapan sendu. Berdiri beberapa meter dari tempatku duduk, aku melihat seorang laki-laki yang sedang menggendong anak perempuan cantiknya. Ia, lelaki yang dulu kukenal hatinya.

Kau tahu, lelaki muda yang menggendong anak perempuannya adalah pemandangan yang paling aku suka, kan? Dan kini, orang itu memberikan pemandangannya buatku. Sore ini, di sebuah tempat minum kopi di pinggir jalan ibukota.
 
@>-----

“Aku sudah menikah Tiara.”

Aku hanya bisa terdiam sambil menatap secangkir kopi hitam di hadapanku. Kuaduk-aduk perlahan kopi yang belum ku minum sama sekali. Kuperhatikan ampasnya di dasar cangkir  yang terasa ketika sendok diadukkan.

Aku sudah tahu.

Pandanganku masih tidak lepas dari cangkir, dan tanganku masih dengan sendok adukan kopi. Hitam, pahit, pekat. Seperti itu juga perasaanku, yang ikut diaduk-aduk oleh apa yang terjadi saat ini, juga saat yang lalu yang telah terjadi.

“Kenapa kamu tidak datang?”

Pertanyaan itu lagi. Mengapa pertanyaan ini muncul lagi, bahkan itu muncul darimu? Tidakkah kamu tahu bahwa aku mengingkari rasa sakitku sendiri demi menjawab pertanyaan itu dari teman-temanmu, dari teman-temanku?

“Karena yang kutemui hanyalah selembar undangan” Jawabku, sambil menatap tajam sang pemilik suara.

Aku tidak pernah mengharapkan lebih. Aku juga tidak membutuhkan penjelasan, karena tanpa dijelaskan pun aku sudah tahu. Saat itu, aku hanya memilih untuk berpura-pura tidak tahu untuk membohongi diriku sendiri. Parahnya, dia mengamini. Sampai suatu ketika semua tabir telah terbuka, aku hanya mampu pasrah, pada kenyataan yang sudah dapat kuprediksi sebelumnya.

“Tidak kusangka, kau begitu cepat berganti hati. Dan bagiku, itu sudah membuktikan semuanya. Kamu tahu bahwa aku tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi kamu tidak tahu kan, bahwa aku mengetahui banyak hal dari yang kamu prediksi!” Ujarku, tajam.

Aku menghela napas sejenak, mengatur emosi dan menurunkan adrenalin. Kuteguk dengan perlahan air mineral botolan yang juga kupesan tadi.

“Aku sudah prediksi sebelumnya kan? Yang kusesali bukan karena ‘apa’ yang terjadi, tapi ‘bagaimana’ itu bisa terjadi. Secepat itu.”

Cukup. Sudah cukup Tiara. Jangan menyiksa dirimu lagi dengan mengingat semua yang sudah terjadi!

Kembali kuaduk lagi kopi hitamku yang sudah tidak panas lagi.

“Aku minta maaf Tiara.” Ujarnya lirih.

Terlambat. Mengapa kamu baru meminta maaf sekarang?

“Yang aku sesalkan adalah, kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya bahwa kau akan menikah? Kenapa aku harus mengetahuinya dari orang lain? Kenapa kau memberitahu semua temanmu sementara aku tidak? Kenapa harus selembar undangan yang datang bukan kau yang mengantarnya sendiri? Kenapa, bahkan kau tidak menganggapku sebagai temanmu lagi? Dan ribuan ‘kenapa’ yang sebenarnya tidak perlu dibahas lagi! Basi!”

Satu sisi hatiku berkata ‘cukup’. Namun sisi lainnya berkata ‘teruskan’. Selesaikan sekarang juga hingga tidak akan berbekas lagi. Lagi-lagi kuteguk sisa air mineralku hingga habis. Aku terlalu sibuk untuk mengembalikan kembali rona wajahku yang memerah seperti kepiting rebus karena menahan amarah yang tertahan, sehingga aku pun tidak menyadari betapa merah juga wajahnya.

“Tiara…” Ucapnya lirih, setelah mendapat serangan dari kalimatku.

“… Aku tahu ini akan berat untuk kita. Kamu tahu konsekuensinya jika aku  tetap memaksakan kehendak….” Ia melanjutkan.

Bukan itu masalahnya! Kau tahu itu!  

“… Kau menghilang begitu saja dari kehidupanku. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan semuanya? Kamu pikir aku bisa menghadapi itu dengan mudah?” Ia kembali melanjutkan.

“Kamu tahu aku melakukan itu demi kamu juga. Apa kamu sejahat itu menyalahkan kepergianku sementara kamu juga secara bersamaan menjalin hubungan dengan orang yang kamu panggil istri sekarang?” Aku menimpali.

“Dan kamu masih menuntutku untuk datang? Kamu gila! Oh tidak. Kamu hanya tidak pernah paham. Kamu selalu menuntutku untuk mengerti kondisimu sementara kamu tidak melakukan yang sebaliknya. Dimana letak adilnya?”

Cukup. Iya, sudah cukup.

Aku menghela napas panjang, mengakhiri semua pembicaraan omong kosong ini. 

“Sudah ya, sampai disini saja pembicaraan kita, karena aku rasa semuanya juga percuma apabila harus dijelaskan saat ini. Semuanya sudah terlambat. Perkataan maaf pun tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi.” Ujarku, sembari mengambil tas yang kuletakkan di kursi samping.

“Selamat atas pernikahanmu, maaf karena kemarin aku tidak bisa datang. Dan juga selamat, atas kehamilan Vina.” Aku berdiri, beranjak pergi. Tidak perlu ia tahu darimana informasi yang baru saja aku katakan itu.
Aku melangkah perlahan, menahan jatuhnya air mata. Entah seberapa merah mataku atau wajahku saat ini.

“Oya…” Beberapa langkah dari meja, aku kembali menoleh ke belakang, kembali menatap wajahnya. “Tolong sekalian bayarkan kopi dan air mineralku. Aku anggap permintaan maafmu aku terima.” Sembari kutatap secangkir kopi hitam yang sama sekali tak kusentuh. 

Matanya merah, pun wajahnya juga, sama sepertiku. Tapi tetap saja, bagaimanapun perihnya perasaannya, ada seseorang disisinya, membuatnya begitu mudah melupakan dan membuang segalanya. Sementara aku? Apa dia peduli bagaimana kondisiku? Ironis sekali ya, secangkir kopi bisa membayar permintaan maafnya yang sungguh sangat terlambat.

Semoga suatu saat nanti kita dipertemukan dengan kondisi yang lebih baik. Dan semoga kamu masih menjadi lelaki yang kukenal hatinya.

@>-----

Seperti dejavu. Kami mengalami situasi yang sama, di tempat yang sama, di meja yang sama, namun dengan kondisi dan personel yang berbeda. Tempat ini pun ikut berubah, menjadi semakin modern baik interiornya maupun menunya. Beragam jenis kopi yang disajikan semakin bertambah banyak dan beraneka ragam.

Tanpa sengaja memori beberapa waktu silam kembali berputar seperti putaran film yang ditampilkan ulang. Sudah lama berlalu, seperti kejadiannya baru kemarin saja.

Aku mempersilakannya duduk di depanku, dan si batita munginya duduk di sebelahnya. Gadis cilik itu cantik sekali. Tidak ada sedikitpun kemiripan dengan wajah ayahnya. Ia mewarisi dengan sempurna wajah ibunya. Sepertinya begitu, aku juga tidak tahu persis. Aku hanya tahu ibunya dari foto mereka sebelum menikah. 

“Hai gadis manis, siapa namanya?” Ujarku, sembari mengelus dagunya yang runcing, mencoba mencairkan suasana yang kaku, juga mencairkan hatiku yang beku.

“Tata…” Jawabnya, sembari mengalihkan pandangan ke arah ayahnya, membuatku tanpa sengaja melakukan hal yang sama.

“Namanya Qonita.” 

“Ooh…”

Aku mengaduk kopiku. Kali ini bukan lagi kopi hitam yang pekat, tapi, cappuccino dengan krim yang banyak diatasnya. Manis dan pahit bercampur jadi satu, juga menghasilkan rasa sensasi yang bercampur aduk jadi satu. Mewakili perasaanku kali ini, mungkin.

“Kamu sehat Tiara?” 

“Alhamdulillah.” Jawabku sambil menyeruput kopi hangatku perlahan. “Gimana juga kabarnya?” Pertanyaan basa-basi, tidak sopan rasanya jika tidak menanyakan hal yang sama.

Sebenarnya aku sudah tidak ingin mengetahui kabarnya lagi. Tidak juga aku mengetahuinya atau diam-diam mencari informasi tentang kehidupannya. Tidak setelah pertemuan terakhir itu. Kuputus semua bentuk komunikasi yang dapat menghubungkan aku dengannya. Menghilang sekalian tampaknya menjadi obat bagiku. Setiap orang memiliki jalannya sendiri kan untuk mengobati lukanya? Dia memilih untuk mengobatinya dengan cara mengeliminasi aku dari kehidupannya dan mengganti secepatnya dengan orang lain yang lebih pantas baginya dan keluarga besarnya. Maka aku memilih untuk menghilang dan menghilangkan dia dari kehidupanku. Ya, aku memilih jalan itu. 

Namun kali ini takdir mempertemukan kami lagi yang memaksaku untuk keluar dari persembunyian. Melihat wajahnya kembali, dengan situasi yang berbeda. Bukan berarti luka itu sudah tidak ada. Luka itu masih ada, membekas disana, namun tidak lagi berdarah dan menganga. Waktu memang obat paling ampuh untuk menyembuhkan luka.

“Baik.” Jawabnya, dengan senyum yang berat.

Ada jeda yang cukup lama sebelum ia menjawab, yang memaksaku untuk menatap lekat raut wajahnya.

Sesuatu sedang terjadi disana? Kamu masih tidak bisa membohongiku.

“Syukurlah.” Kataku datar, masih mencoba menangkap gurat yang disembunyikan di wajahnya. Sudahlah, aku tidak mau bertanya atau mencari tahu.

Lalu perhatianku kembali pada seseorang disampingnya. 

“Kamu mau es krim sayang? Tante belikan es krim mau?” Ujarku ke arah gadis manis itu, sembari mengulurkan kedua tangan berharap ia mau menerima tawaranku untuk menggendongnya. Bagaimanapun rumitnya hubunganku dengan ayahnya atau ibunya dulu (meskipun aku tak pernah mengenal ibunya), gadis kecil ini sama sekali tidak tidak tahu apa-apa.

“Berapa umurnya?” Tanyaku kepada ayahnya, ketika sang gadis sudah berada di gendonganku dan siap kubawa ke etalase kaca yang memajang aneka makanan dan minuman.

“Tiga bulan lagi dua tahun.”

Aku kembali dari memesan es krim dengan Qonita di tangan kiri dan semangkuk es krim vanilla di tangan kanan. Kududukkan batita ini di kursi kosong sebelah kananku dan mulai menyuapinya dengan es krim yang baru saja kita beli. Bagiku, kehadiran gadis cilik ini cukup mengalihkan perhatian dan bisa menjadi pelarian dari menghindari pembicaraan tentang masa lalu. Namun harus kuakui, menatapnya membuatku ingat dengan raut foto ibunya, yang tentu saja menggoreskan cerita lain di hati.

“Tiara, apa kamu sudah menikah?”

Sendok es krimku terhenti di udara, kemudian kupalingkan wajahku ke arah datangnya suara.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Kujawab dengan pertanyaan dan tatapan tajam. Sedikit sunggingan senyuman untuk mengintimidasi.

“Maaf, aku hanya bertanya.” Balasnya.

Kuhembuskan napas perlahan dan kujawab pertanyaan darinya dengan satu kalimat dan lagi-lagi dengan sedikit senyuman. “Belum.”

Jeda lama. Cukup lama karena telah tiga suapan eskrim telah dinikmati Qonita.

“Sebenarnya kabarku tidak baik-baik saja.”

Prediksiku benar lagi kan? Kembali kutekuni minumanku yang tinggal separuh, demi menahan diri untuk bertanya ‘kenapa’. Benar saja, jeda waktu diantara kami tidak membuat dia menceritakan mengapa seperti itu keadaannya. Juga tidak membuatku kembali bertanya.

“Vina….” Ia mengeluarkan kata lagi, kali ini tanpa senyuman, hanya menyisakan tatapan tajam yang beradu dengan tatapanku.

“…. pergi.”

Kembali aku merasakan dejavu menimpaku hari ini. Mendengarnya perasaanku seperti dicampur aduk jadi satu. Seperti terjun bebas dari tebing yang tinggi, namun tidak mati. 

Entahlah, dulu aku sempat membayangan adegan ini akan terjadi. Dulu, dulu sekali, saat awal luka ini masih berdarah dan bernanah. Tapi kini, sungguh aku tidak pernah berharap khayalan saatku terluka dulu akan menjadi kenyataan, di saat aku telah memulai lembaran baru dalam kehidupan.

Kulihat air muka perubahan dalam wajahnya. Sendu, dan mungkin sedang menahan jatuhnya air mata. Aku tidak ingin bertanya apapun tentang makna kata ‘pergi’. Apakah Vina pergi selamanya dari kehidupan ini, ataukah hanya pergi dari kehidupannya. Aku sungguh tidak ingin tahu. Yang jelas, satu hal yang aku tahu dibalik kata itu, pergi akan memberikan luka pada yang ditinggalkan.

Perhatianku teralih begitu saja pada seseorang yang sedang duduk di sampingku. Ku belai rambut ikalnya, dan kembali kusuapi dengan eskrim vanilla.

Sekecil ini kamu ditinggal pergi ibumu sayang?

Kukecup keningnya yang lebar dan kembali kuarahkan perhatian pada lelaki di depanku. Keadaan memang cepat sekali berubah. Aku tidak tahu harus memilih sikap yang mana. Apakah aku harus senang? Tertawa kecil dalam hati? Ataukah aku harus kasihan dengannya? Tidak bisa kupungkiri, masih ada sisa sekeranjang kecil kasihan yang terselip di dalam hatiku. Aku memilih perasaan yang terakhir tadi.

“Tata… Tidak biasanya dia bisa akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya.”

“Oh ya? Kamu lupa kalau aku ini sangat suka dan dicintai anak kecil?” Jawabku, sembari tertawa renyah.

Dia tersenyum, tidak lantas menanggapi perkataanku tadi.

“Iya, tentu saja aku tidak pernah lupa.” Ujarnya. “Tiara…”

“…. Aku ingin kita melupakan yang telah terjadi kemarin…. Dan memulai segalanya dari awal.”

Aku menghela napas panjang, kemudian membalas pernyataan tadi dengan tatapan kosong.

“Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf.” Kataku setelah jeda yang cukup lama. “Apa itu dinilai kurang untuk ‘memulai segalanya dari awal’ seperti yang kamu maksudkan?”

“Eh. Maaf. Maksudku bukan seperti itu.” Ujarnya, sembari mengaduk kopinya dengan sangat pelan, bukan memaksudkan untuk meminumnya dengan segera, hanya sebagai sekedar mencari apa yang bisa dilakukan.

“Entahlah…” ia memalingkan wajahnya begitu saja, menatap ke arah jendela. “Akhir-akhir ini, aku hanya berpikir kalau… Bagaimana jika kita memulai segalanya dari awal… dan aku juga sering terpikir.. andai saja, waktu bisa diulang…”

Dari awal, hmm tidak, dari sejak orang ini berkata sesuatu tentang ‘pergi’, aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan pemuda itu. Misterinya hanyalah kapan pemuda itu akan mewujudkannya. Sepertinya sekarang. Tidak ada lagi kepura-puraan yang perlu ditampilkan. Seketika saja aku memutus pembicaraan.

“Apa kamu sedang berandai-andai tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi?” Ucapku tajam yang mampu mengalihkan pandangannya lagi dari ujung jendela. “Aah, aku pikir bukan saatnya aku pura-pura tidak tahu kemana arah pembicaraanmu itu.” Aku jeda sejenak, untuk lagi-lagi menghela napas panjang. Mengungkit sesuatu yang menyesakkan di masa lalu membutuhkan ketenangan dengan porsi ekstra. “Kau ingin aku menemanimu? Berada di sisimu dan tidak akan pernah pergi? Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan status sosialmu? Atau alasan-alasan lainnya yang membuat kau dulu mencoret namaku dalam daftar masa depanmu?”

Final. Itulah final dari pernyataan ambigu dan pertemuan tidak disengaja hari ini.

Pemuda itu, lagi-lagi hanya bermain dengan sendok kopinya tanpa mampu membalas tatapan tajamku. Wajah pucatnya sedari aku bersuara yang terakhir tadi, hanya terpaku pada secangkir kopi hitamnya, yang kemudian diteguknya dengan cepat.

“Kamu selalu bisa membaca pikiranku.”

“Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan mengangkat masalah ini di awal pertemuan kita, setelah sekian lama kau membuangku begitu saja.”

Dan kopi hitamnya habis. Diletakkannya cangkir kosong sembari membalas tatapanku yang sedari tadi menyerangnya. Aku kembali bersuara tanpa mengizinkan ia mengucap sepatah kata.

“Kamu masih ingat ini?” Kataku sembari menunjukkan sesuatu yang melingkar di jari manis tangan kiriku.

Ekspresinya tidak jauh berubah, meskipun rona keterkejutan mampu terbaca dari gurat wajahnya.

“Cincin itu.” Gumamnya datar.

“Ya, cincin itu.” Ujarku, sembari melepas sebuah cincin yang lain untuk melepas cincin berwarna perak yang kami maksud itu.

@>------

“Tiara…!” 

Seseorang memanggil namaku cukup kencang. Derap langkahnya berirama cukup cepat dan semakin lama terdengar semakin jelas, sehingga bisa kuprediksi kalau orang tersebut sedang berlari menghampiriku yang sedang menunduk mengamati sesuatu yang terpajang rapi disitu.

“Kemana aja sih?” Ujar orang tersebut dengan nada sedikit kesal, dan orang tersebut sudah berdiri di sebelah kanan Tiara dengan napas tersengal-sengal setelah berlari.

“Sini-sini aja.” Jawabku datar. 

“Lima belas menit lagi busnya berangkat!” katanya kemudian. Susah diartikan, apakah itu bentuk pemberitahuan atau sebuah kata perintah untuk ‘Buruan naik bus sekarang!’

“Iya tahu.” Ucapku. Tanpa bermaksud untuk mengabaikan bocah lelaki yang sudah rela menjemputku berlari sekian jauh dari tempat parkir bus. “Bentar napa, lagi lihat-lihat ini nah.” Lanjutku, sembari memandangi satu per satu souvenir yang diletakkan di atas meja di depanku.

“Ntar kamu ditinggal bus!”

“Gak mungkin. Nih uang untuk bayar busnya kan aku yang bawa.” Jawabku sambil mengulurkan lidah dan menepuk-nepuk tas selempanganku. “Sabar dikit dong, mereka semua itu rela nunggu bendahara. Kasihan banget ibu bendahara panitia satu ini, dari kemarin yang diurus peserta semua, sampai nggak punya waktu untuk beli oleh-oleh. Masih lima belas menit juga kan? Nggak masalah.”

Aku kembali mengamati souvenir-sovenir itu.

“Berapa bu?” Ujarku sembari menunjuk sebuah cincin berwarna perak.

“Lima puluh ribu, Neng.” Jawab ibu paruh baya tersebut.

“Mahal amat bu, sepuluh ribu bisa?”

“Nggak bisa Neng, itu cincin perak, nggak dapat segitu.”

“Yaah, nggak jadi deh.” Ujarku sambil berlalu begitu saja. 

Selang bebrapa lama, pemuda dua puluh tahun itu menyusul dan menyejajari langkahku.

“Nggak jadi beli?” Tanyanya.

“Mahal. Lagian, itu mah bukan cincin perak, warnanya doang yang perak.”

“Ya iyalah, mana ada cincin perak harganya dua puluh rebu. Bilang aja nggak punya duit.” Ujarnya dengan santai.

“Perasaan hagranya lima puluh, kata siapa dua puluh ribu?”

“Kataku. Nih, ambil. Kasihan amat bendaharaku ini ya, beli cincin dua puluh ribu aja nggak bisa.” Jawabnya, sembari menyerahkan bungkusan kecil berisi cincin yang aku lihat tadi, kemudian ia berjalan cepat mendahuluiku.

Tiba-tiba langkahku terhenti begitu saja. Sementara ia, sudah berjalan dengan cepatnya beberapa meter dariku. Kemudian ia menoleh ke belakang, memberikan senyumnya yang biasa, dan meneriakkan sesuatu kepadaku.

“Lima menit lagi berangkat! Ayo cepetan jangan bengong!” Teriaknya. “Anak-anak lain jangan dikasi tahu ya soal itu. Ntar mereka pada minta juga, bisa bangkrut.” Lanjutnya sembari tertawa, meunjuk ke arah bungkusan yang masih ku genggam dengan erat ini.

Untuk beberapa saat aku masih terdiam. Namun sesaat kemudian, aku berlari perlahan menujunya, menuju tempat parkir bus yang tidak mungkin akan berjalan sebelum kami tiba disana. Aku berlari menepis keraguan yang timbul tenggelam. Tapi akhirnya aku juga menenggelamkan diri kepada perasaan itu. Perasaan yang sebenarnya kami sama-sama tahu, namun sama-sama menutupinya dengan cantik. Aku hanya terus menunggu kapan saatnya akan tiba. Saat inikah? Tidak, ini bukan saatnya. Masih terlalu muda. Namun ini aku anggap sebagai pertanda. Biarlah untuk saat ini aku berada disampingnya, sebagai sahabat yang baik, sahabat yang setia.

Aku yakin di lingkungan kami ini, hanya jariku yang akan menerima cincin darinya. Namun di tempat lain, aku tidak tahu, dan tidak punya kapasitas untuk mengetahuinya.

@>------

“Kau tahu? Sudah tujuh tahun, cincin ini tidak pernah lepas dari jariku.” Kataku. “Dulu sekali, aku sempat berharap, cincin ini akan segera dilepas. Digantikan dengan cincin perak yang sebenarnya.” Jeda. “Tapi ternyata ia tetap saja tidak tergantikan, selalu berada di tempatnya semula. Sampai yang lainnya harus mengalah.” Lanjutku.

Pandangan mataku beralih kepada cincin emas bermata tiga yang kulepas terlebih dahulu tadi. Cincin itu sejak awal terlupakan dan belum mendapat tempat sebagaimana mestinya.

“Ini…” Aku menunjukkan cincin emas itu, yang berpendar terkena pantulan sinar mentari siang. “… Adalah cincin pertunanganku. Bulan depan, aku akan menikah.”

“Dan sekarang, sudah saatnya aku harus melepas salah satu dari kedua cincin ini, kepada pemiliknya.”

Aku letakkan cincin berwarna perak itu kedepannya, saat itu juga. Segera setelahnya, kupasang kembali cincin bermata tiga. Ia kini menjadi pemilik jari manis  di tangan kiriku seutuhnya.

Sebenarnya aku sudah mempersiapkan diri untuk mengatakannya, dengan cara yang lebih baik. Namun pertemuan hari ini, memaksaku mempercepat persembunyian yang juga otomatis mempercepat pemberitahuan ini padanya.

“Maaf, dulu sempat terbersit dalam pikiranku kau akan kembali dan berada di sisiku lagi, selamanya. Tapi rupanya, tidak ada rasionalisasi untuk itu. Aku sadar telah tenggelam begitu dalam, namun seiring berlalunya waktu, menuntutku untuk bangun dan bangkit dari itu semua. Aku menemukan lagi rasionalitas itu. Aku bersyukur untuk itu.”

“Aku…” Suaranya tertahan oleh dering pesan yang masuk ke ponselku.

“Sebentar….” Aku membacanya dalam hati, dan kemudian segera meraih tasku yang berada di ujung meja.

“Aku rasa, semuanya sudah jelas. Maaf ya, ada yang sudah menungguku di parkiran. Seharusnya aku tidak menyampaikan undangan pernikahanku dengan cara seperti ini. Nanti akan aku antar sendiri undangannya dan aku tidak akan memaksamu untuk datang.”

Aku menoleh dan memandang lekat pada entitas di sebelah kananku yang sedari tadi diam tanpa suara, menikmati es krim vanillanya sendiri, seolah paham bahwa kedua orang dewasa di sekelilingnya sedang membahas hal yang rumit. Aku mencium pipinya yang mungil, cukup lama, hingga rasanya mampu mentransfer kesedihannya dan membagi kasih sayang yang tidak lagi diterima dari ibunya.

Aku melangkah pergi menuju kasir. Calon ibu mertuaku sudah menunggu di parkiran depan sana untuk menemaniku mencari perlengkapan yang berhubungan dengan persiapan pernikahan.

“Oya…” Beberapa langkah dari meja, aku kembali menoleh ke belakang, kembali menatap wajahnya. “Kali ini aku yang bayar semuanya. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menerimamu kembali.” Sembari kutatap cangkir-cangkir dan mangkok kosong di atas meja.

 “Tiara…” 

Aku kembali menoleh ke belakang, memandang ke arah pemilik suara.

“Apakah kita bisa…. Menjadi sahabat lagi… Seperti dulu?” Suaranya melemah, menahan deru yang sama denganku sebelumnya, juga saat ini.

Seandainya waktu dapat diulang. Ah, sejujurnya aku benci kalimat itu, juga kalimat-kalimat pengandaian lainnya. Namun kini, aku harus mengakuinya bahwa ada sebuah kalimat ‘seandainya’ yang terlintas di kepalaku. Seandainya perasaan itu dulu tidak ada, dan tidak pernah ada, mungkinkah aku telah menjadi pagar ayu di pernikahanmu dan kamu akan menjadi saksi pada akad nikahku nanti?

Aku menyebutmu lelaki tanpa nama, karena dulu namamu sudah melekat di hatiku tanpa perlu diragukan dan diucapkan. Hari ini, saat ini, aku masih memanggilmu lelaki tanpa nama, karena aku tidak ingin melekatkan namamu dalam kapasitas memori takku. Aku ingin membuang ingatanku tentang namamu. Sehingga dalam lirih maupun letihnya hari-hariku, tidak lagi aku menyebut nama itu. Seperti dulu.

“Biarkan waktu saja yang menjawabnya, seperti ketika ia menyembuhkan luka.” Jawabku, tersenyum.

Aku berjalan dan tidak akan menoleh lagi. Meskipun sayup-sayup kudengar tangisan Qonita di telinga. Meskipun ia kembali datang dan menawarkan untuk mengembalikan semua yang dulu pernah ada. Tidak. Aku sudah memutuskan kebahagiaanku sendiri. Aku sudah memenangkan rasionalitas logika atas dominasi perasaanku sendiri. Aku sudah memutuskan, bahagiaku ada di depan sana, bukan ada pada yang telah tertinggal di belakang sana.

Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita semua.

14.8.13

Cermin: Veteran

Source pict

Ada yang spesial hari ini. Sedari jam lima subuh, Bima sudah beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas mandi. Pakaian terbaiknya telah dipersiapkan, rambut disisir menyamping, sepatu sekolahnya yang sudah tua telah disemir. Hari ini, seperti tahun sebelumnya, ia akan menemani kakek pergi ke lapangan di alun-alun kota.

Sang kakek tak kalah rapi. Dikenakannya dengan bangga seragam hijau yang warnanya pudar dimakan usia. Disematkannya lencana yang tersimpan rapi di kotak kaleng biskuit, yang hanya setahun sekali dikeluarkan. Usianya menginjak kepala delapan, namun satu hari di bulan Agustus membuat semangat mudanya kembali muncul.

Hari ini yang ditunggu-tunggu Bima. Bukan hanya karena ia akan menemani kakek, atau akan melihat wajah pak gubernur, atau melihat barisan orang berseragam putih akan mengibarkan bendera. Ia juga terlalu kecil untuk memahami pembicaraan ibu dengan kakek mengenai istilah amplop tunjangan, veteran, atau sejenisnya. Baginya, jika pergi dengan kakek, ia akan diberi nasi bungkus lauk ayam. Walau harus berjalan kaki rela ia lakukan.

Namun perjalanan berhenti sebelum tempat tujuan. Tubuh kurus berseragam hijau yang digandengnya tumbang. 

“Kakek, acaranya sebentar lagi dimulai.” Tangisnya sembari menggoyang tubuh kakeknya yang renta.

Bocah itu rupanya mengerti, bahwa ada hal yang lebih menakutkan dari tidak dapat jatah nasi atau amplop tunjangan hari ini.



A short sory, dedicated for all veterans in Indonesia, and for 68th Independence Day of Indonesia.

31.7.13

Sesal

Hari ini malam kedua puluh satu Ramadhan. Jika sebagian besar orang malam ini telah tertidur lelap, mungkin habis berbelanja keperluan lebaran, atau bagi sebagian kecil orang menghabiskan waktunya untuk itikaf, bertafakur mendekatkan diri pada Tuhannya, tetapi kedua hal tersebut tidak dilakukan oleh Abi. Lelaki dua puluh enam tahun itu hanya menatap hampa dinding kamarnya berwarna kuning gading. Sesekali menoleh pada koper terbuka dan pakaian yang berserakan di atas kasur empuknya yang kini kosong.

Sesal? Tentu terlambat jika kata itu dihadirkannya saat ini. Seharusnya penyesalan itu tidak pernah terucap jika ia tidak memilih jalan ini dua tahun yang lalu, ketika seharusnya nasehat ibunyalah yang diikutinya, bukan malah pergi dengan cinta sesaatnya. Tapi bukankah sesal selalu terjadi belakangan?

Ia menatap kembali koper dan pakaian yang masih berserakan. Dirapikannya satu per satu, dimasukkannya ke dalam koper biru. Tidak ada kemantapan sebelum ini. Sebelum suara lemah yang kembali terngiang di telinganya.

"Abi, pulang saja Nak. Ibu memaafkan kesalahanmu." Suara ibunya, yang baru saja muncul dalam mimpinya tadi.

Sepucuk surat dituliskannya, diletakkan di atas kasur kosong yang kini telah rapi.

"Maaf aku memilih pergi. Semoga lelaki pilihan barumu membuat hidupmu bahagia."

Sebuah cincin dilepaskan dari jari manisnya, diletakkan di atas secarik kertas itu.

Apa Dia Akan Menungguku Datang Kembali?



Kangen.

‘Vina, apa kabar? Sehat?’
Aku menarikan jari pada tuts handphone untuk mengirim pesan ke seseorang yang beribu kilometer jaraknya dari tempatku saat ini. Tepat saat opsi ‘kirim’ seharusnya ditekan, aku malah memilih untuk ‘keluar’ sehingga pesan sangat pendek tersebut hanya mampu memenuhi memori telepon saja.

Baru seminggu yang lalu kami bertatap muka setelah sekian lama hanya mampu menatapnya dari jauh. Namun rasa rindu tak mampu dibendung. Wajah teduhnya membayangiku lebih sering malam mini. Entah karena purnama sedang bersinar sempurna, seperti cahaya yang memancar dari rautnya .

Dari sorot matanya saat itu, aku tahu dia mencintaiku, akupun mencintainya. Kami sama-sama saling jatuh cinta, dalam diam, diam yang mengharukan. Diam yang selamanya hanya akan tetap menjadi diam bila aku terus diam.

Kumainkan handphoneku, entah tak sengaja satu nama itu selalu saja menghiasi layar handphoneku, tanpa mampu aku mengirim pesan padanya, tanpa mampu aku telepon untuk mendengar suaranya. Aku mencintainya, aku merindukannya malam ini. Mungkin dia juga sama. Aku tidak tahu. Aku tidak berani menyatakan perasaan ini. Apa dia akan menungguku datang kembali?