Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

7.7.15

[Babylonia] Review Bab 1 dan 2

Assalamualaikum....


Jadi, saya sudah tertarik banget sama buku ini sejak berbulan-bulan yang lalu. Sudah coba cari di Gramedia, buku ini nggak ada. Sampai pada akhirnya, iseng googling dan ketemu ada yang jual buku ini secara online. Entah kenapa ketertarikan saya sama sejarah rasanya terlambat banget..., kisah peradaban sungai Eufrat-Tigris sebenarnya sudah dipelajari di pelajaran Sejarah waktu sekolah. Entah karena dulu pelajaran sejarah sangat membosankan penyajiannya atau bagaimana (soalnya ingatnya cuma disuruh ngerjakan LKS doang sih sampai bosan, gurunya jarang menjelaskan), jadinya nggak membekas sama sekali. Padahal, mengulik sejarah peradaban itu, seperti mengurai benang akar kehidupan manusia di bumi ini.

Kenapa dengan Babylonia? Karena saya tertarik dengan taman gantungnya (cuma ingat pernah baca di buku sejarah SMA). Dan juga, bisa mengetahui bagaimana manusia-manusia dari ribuan tahun sebelum Masehi itu, menyenangkan sepertinya.

Nah, ini dia sampulnya:




Langsung saja, saya review dari bab pertama dan kedua dulu ya.


Perjalanan dari Masa Lalu


Bab pertama, judul chapternya "Perjalanan dari Masa Lalu" menceritakan tentang Saddam Husein. Awalnya bingung, tapi dari sini kemudian menarik benang merah ke belakang, bahwa kita belajar dari sebuah perjalanan sejarah yang panjang. Perang Iran-Irak bukanlah suatu perselisihan yang terisolasi. Justru perang tersebut merupakan tindakan terbaru dalam perselisihan sengit yang terjadi selama berabad-abad lamanya.

Saya tertarik banget sama sungai Eufrat-Tigris. Beberapa kali dengar dari hadits tentang tempat ini, tapi yah sekadar dengar-dengar doang. Di sini digambarkan kalau tempat ini dijadikan perebutan penguasaan. Dan juga diyakinin sebagai tempat strategis lintas peradaban. Hmm, menarik.


Kerajaan Turun dari Surga


Dimulai dengan membahas tentang Eridu. Para penggemar sejarah Mesopotamia kuno tahu bahwa peradaban dimulai di Eridu, jauh di selatan, di tepi Laut Selatan (Teluk Persia atau Arab) di suatu tempat yang dikenal dengan Abu Shahrein. Abu Shahrein artinya 'Bapak dari Bulan Kembar'. Orang yang kali pertama menghuni tempat ini, membangun gubuk-gubuk gelagahnya di tepi sungai, membuka ladang-ladang untuk ditanami gandum dan jelai, kebun-kebun untuk ditanami sayur-mayur dan pohon kurma, menggembalakan ternak di padang rumput. Para pendatang berdatangan, menjadikan momen revolusioner dalam sejarah manusia.

Kuil Eridu adalah salah satu bangunan yang ditemukan oleh arkeolog dalam penggaliannya. Merupakan simbol dari suatu komunitas yang percaya pada kemajuan ideologi; suatu keyakinan untuk mempercayai kuasa Ilahi yang dipuja dan dimuliakan sebaga suatu ekspresi, penjelmaan, dan perwujudan dari ide tersebut, yakni Dewa atau Dewi Peradaban. 

Para umat pertama datang dari tempat yang letaknya beberapa mil hingga ke pinggiran Apsu, laguna Eridu. Di Eridu, perjamuan suci bisa jadi sesuatu peristiwa yang serius meskipun tidak selalu resmi. Pada suatu hari diputuskan bahwa sebuah kuil permanen bagi dewa kemajuan yang tinggal di air sebaiknya dibangun dalam bentuk kapel kecil. Sementara yang tinggal di Mesopotamia bagian selatan dan seperti penduduk lokal Arab Mrsh saat ini, menghuni rumah-rumah yang dibangun dari buluh-buluh yang dibendel dan dianyam, monumen yang mereka dirikan dibangun dari batu bata. Keputusan ini memberikan isyarat awal dari sebuah fase baru dalam sejarah.

Setiap kota di Mesopotamia telah terinspirasi dan didirikan berdasarkan dewa-dewi tertentu mereka sendiri sebagai rumah duniawi bagi para dewa-dewi tersebut.

Tidak hanya itu, nama-nama yang kita ketahui sebagai konstelasi dan simbol-simbol zodiak kebanyakan mengambil nama-naa Yunani, semua itu diwarisi dari bangsa Babylonia. Dan salah satunya, mungkin lebih kuno: di kejauhan, tampak sangat samar, namun masih gigih menggemakan kisah yang diceritakan para leluhur tentang dewa-dewi yang kuil-kuilnya berdiri megah di Eridu.

Salah satu hal-hal ajaib tentang sejarah Mesopotamia adalah bahwa sejarah yang ada menyoroti sangat banyak asal-usul yang mencirikan dunia kita dalam hal mitos agama. Tentu saja, hal itu bukan untuk mengatakan bahwa asal mula adanya agama dimulai di sini, di dataran baru di ujung Teluk. Agama tentu saja setua kehidupan manusia itu sendiri, dan hampir pasti jauh lebih tua. Namun di sini, di tanah yang baru ini, dengan kehidupan mereka yang baru, para pendatang pada umumnya memulai lagi dan mengulang kembali proses penciptaan suatu agama. Banyak dewa-dewi bangsa Mesopotamia bermunculan dari imajinasi manusia sebagai personifikasi, hipotesa, dan dari berbagai kekuatan alam.

Di kemudian hari, dewa Eridu digambarkan dalam materai berukir yang tampak sedang mengenakan jubah wol berlipat dan mahkota bertanduk yang menunjukkan keilahiannya, dengan dua arus air yang penuh ikan, mungkin untuk menggambarkan Sungai-sungai Eufrat dan Tigris, yang mengalir melalui kedua bahunya. Ketika akhirnya para terpelajar bangsa Sumeria mulai menuliskan mitos-mitosnya sekitar 2.000 tahun setelah pendirian kuil tersebut namanya pun dimunculkan. Naskah-naskah tersebut mencatat bahwa Eridu merupakan rumah bagi dewa Enki, 'Dewa Bumi', 'Raja Eridu', 'Raja Apsu'. Bahkan, kemudian Kitab Kejadian 4: 17-18 menuliskannya sebagai anak Kain: 'Dan bagi Enoch (Enki) lahirlah Irad (Eridu)'.

19.2.12

Istana Kedua ~ Asma Nadia

"Aku telah merampas sesuatu yang paling berharga dari hidupnya. Dan sangat wajar jika perempuan ini datang dengan segunung lahar api. Hm... Koreksi. Aku tidak merampas apa pun, aku hanya memaksanya berbagi." Mei Rose.

"Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?" Arini.

Mungkin, dongeng seorang perempuan harus mati, agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan.

Arini adalah seorang muslimah, cantik, baik hati, lembut, lulusan IPB, seorang penulis. Hidupnya hampir selalu dikaitkan dengan kisah-kisah dongeng, dan ia mengibaratkan dirinya sebagai seorang puteri. Hidup bahagia, dengan suami yang mencintainya dan iapun mencintai suaminya. Hidup dengan anak-anak yang lucu. Ia seorang tipikal ibu rumah tangga yang sejati.

Andika Prasetya seorang bapak yang baik, dosen, dan memiliki kehidupan yang mapan.

Mei Rose, seorang wanita keturunan tionghoa, tidak terlalu cantik, hidupnya penuh dengan penderitaan, tinggal dengan tantenya yang tidak mencintai dia. Hidup yang keras membuat karakternya juga keras, gigih, hingga ia sampai pada kehidupan yang lumayan mapan. Namun keadaan mengubahnya, ketika ada laki-laki yang menipunya dan memaksanya menjadi orang tua tunggal.

Suatu ketika, keadaan memaksa Mei Rose dan Prasetya untuk bertemu, di pinggir jalan, dengan Mei Rose sebagai korban tabrak lari setelah mencoba bunuh diri, dengan baju pengantin yang lengkap dan berbadan besar. Atas dasar kemanusiaan, Pras menolongnya dan membawa kerumah sakit. Bayinya terpaksa dilahirkan dalam kondisi prematur.

Arini, sebagai seorang istri, ia memiliki kepekaan yang besar, namun ia tidak tahu mengapa. Hanya saja bahwa ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Mencurigai suaminya? Ia rasa itu di luar logikanya. Suaminya masih lelaki shaleh yang dikenalnya dulu. Tidak ada yang berubah sedikitpun.

Kecurigaan Arini terjawab ketika bagian keuangan dari kampus tempat suaminya mengajar menanyakan kabar karena ada kuitansi pembayaran obat yang dibayarkan oleh suaminya. Merasa tidak ada anaknya yang sakit selama enam bulan terakhir ini, maka Arini mengecek ke rumah sakit dan mendapatkan nomor telepon yang bukan nomor telepon rumahnya.

Suara itu tegas, jelas, dan riang. Ada celoteh seorang anak di dekatnya ketika perempuan itu menyapa, Hallo, Nyonya Prasetya disini.....

Ketika dia tidak tahu bagaimana harus memilih, hidup memilihkan jalannya sendiri. Arini kaku di tempatnya berdiri. Sosok lelaki yang selama ini menempati sisi hatinya paling dekat, tampak di seberang jalan, menggandeng seorang anak lelaki kecil. Wajahnya terlihat kebapakan ketika menepuk pantat si boca, dan menghalaunya lembut ke dalam mobil.

Seorang perempuan tersenyum cera, mengamati dari belakang. Si lelaki menoleh, tidak berapa lama keduanya saling menggenggam tangan, detik berikutnya mereka bertatapan dengan kedalaman yang hanya bisa dirasakan keduanya.

Jarak tiga puluhan meter. Dua pasang mata saling memandang. Sepasang mata terluka.Sepasang mata lain seperti mata hewan buruan yang tersudut ke dalam perangkap, nanap dan panik. "Arini...!" Arini menggigit bibirnya, dia telah menunggu terlalu lama. Arini pergi dengan taksi.

Pras ingin berlari. Mengejar sosok Arini yang tergesa pergi membawa lukanya. Searusnya tadi dia berlari memburu Arini, mengejar dan meraih tangan perempuan itu, meminta maaf. Sebaliknya, lelaki itu maa mematung di tengah jalan seperti orang linglung.

Bagaimana laki-laki bisa keilangan syukur atas hadiah terindah yang Allah berikan kepada mereka? Pras tidak tahu bagaimana semua bermula. Dia hanya tahu, ketika sudah terjadi, dia harus masuk dalam aturan main yang ditetapkan Tuhan padanya, agar tak ada maksiat, agar semua sah setidaknya dimata-Nya. Dan semula berawal dari simpati dan keinginan menolong perempuan malang itu....

Jalan Sriwedari nomor 26. Arini memandang ruma itu. Istana kedua Pras.

"Bisa saya bicara?"

Perempuan di depannya tidak mengangguk atau menjawab. Hanya tangannya membukakan pintu lebih lebar. Mereka masih berpandangan. Mengukur kekuatan. Tapi aura peperangan sudah mulai terasa.

"Jika hanya untuk diri sendiri, percayalah saya tidak akan memohon padamu."

"Saya mohon padamu"

"Aku tidak bisa." Jawab Mei Rose.

"Sejak dulu kamu punya segalanya Arini, orang tua, suami yang baik, karir kepenulisan yang bagus. Segalanya."

"Sementara satu-satunya hal baik yang pernah terjadi seumur hidupku, hanya Pras!"

"Dengan begitu banyak kebahagiaan, tidakka seharusnya kamu bersyukur dan bisa sedikit bermurah hati?"

Pada saat yang bersamaan Pras muncul. Sesaat mata lelaki itu menyala gugup melihat Arini.

Arini berhenti berlari. Tak lgi berusaha mengindar dari luka. Sebaliknya, seperti busa, tubu Arini perlahan mengisap anak-anak panah yang menyimpan perih itu semakin dalam, hingga menyatu dalam diri.

Luka.

Tak pernah abadi dalam diriku

Ia selalu seperti taman bunga

dengan bau kasturi

Dan aku bermain-main di dalamnya.

Selesai saya meresensi Novelnya Asma Nadia. Hutang lunas ya :)

12.7.09

Resensi: Menuju Jama’atul Muslimin,


Judul Buku : Menuju Jama’atul Muslimin, Telaah Sistem Jama’ah dalam Gerakan Islam
Pengarang : Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA
Alih Bahasa : Aunur Rafiq Shaleh Tahmid, Lc
Penerbit : Robbani Press
Cetakan Ke : 5
Tahun Terbit : Juli 2007
Tebal Buku : 427 Halaman

Isi Buku :

Sinopsis

Buku “Menuju Jama’atul Muslimin” ini terdiri dari tiga bab utama. Bagian pertama menjelaskan mengenai Struktur Organisasi Jama’atul Muslmin. Sebelumnya, mengenai konsep jama’ah, dijelaskan bahwa jama’ah diartikan dengan sejumlah besar manusia atau sekelompok manusia yang berhimpun untuk mencapai tujuan yang sama. Dijelaskan berdasar pada tinjauan syari’at Islam yang menunjukkan betapa pentingnya wujud jama’atul muslimin, dimulai dengan pembahasan mengenai umat Islam, baik menurut bahasa maupun berdasarkan letak geografis.

Menurut bahasa, Umat Islam mempunyai banyak arti diantaranya kaum, jama’ah, dan golongan manusia. Pengarang al Mufradat fi Dalalatiha al-‘Arabiyah mengartikan umat adalah setiap jama’ah yang disatukan oleh sesuatu hal; satu agama, satu zaman, atau satu tempat. Baik faktor pemersatu itu dipaksakan ataupun berdasarkan atas pilihan.
Sedangkan berdasarkan secara geografis, titik tolak pembebasan tanah air umat Islam dimulai dari kawasan Darul ‘Adl yaitu Darul Islam. Negara yang bisa disebut sebagai negara Islam yang sebenarnya ialah negara yang dikuasai oleh kekuasaan negara keadilan (darul ‘adl) yaitu negara yang menegakkan Islam dan melindungi hukum-hukumnya serta dipimpin oleh seorang khalifah pemegang imamah. Batas-batas tanah air Islam ini meluas sesuai dengan meluasnya kekuasaan darul ‘adl, meliputi negeri-negeri darul Islam secara umum. Selanjutnya, pemerintahan-pemerintahan Islam ini seluruhnya harus tunduk kepada satu pemerintahan pusat yang dikepalai oleh seorang imam. Jika negeri-negeri itu tidak diperintahkan dengan syari’at Allah oleh para penguasa Islam, serta tidak tuntuk kepada satu kekuasaan pusat, maka tidak bisa disebut darul ‘adl. Batas-batas bagi negara Islam dan tanah airnya meliputi seluruh belahan bumi. Setiap belahan bumi yang tidak diperintah dengan Islam, maka merupakan negeri yang dirampas dan harus dikembalikan kepadanya.
Umat Islam mempunyai akar sejarah yang sangat tua yakni sejak pertama manusia di atas bumi hingga datang penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad saw. Umat ini, sepanjang sejarahnya telah menempuh dua periodisasi yakni, pertama sebelum diutusnya Muhammad saw dan kedua dimulai dengan Muhammad saw. Pada periode ini da’wah mulai beralih dari kerangka kekauman yang terbatas, kepada kerangka kemanusiaan yang bersifat umum. Ummat Muhammad yang meliputi segenap manusia terbagi menjadi dua, yakni ummat yang menyambut dan menerima da’wah Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam secara kaffah. Golongan ini disebut sebagai umat yang menerima da’wah. Kedua yakni golongan yang tidak mau menerima da’wah Muhammad saw, dan tidak masuk Islam secara kaffah. Golongan ini menjadi ummat yang harus dida’wahi.
Karakteristik umat Islam dan sendi-sendi utama umat Islam adalah aqidahnya yang bersih dari segala bentuk kemusyrikan, universalitas dan integralitas aqidah, Rabbaniyah, kesempurnaan, keterbatasan dari kekurangan, kepertengahannya, dan fungsinya sebagai saksi atas manusia. Adapun unsur kesatuan ummat Islam adalah kesatuan aqidah, kesatuan ibadah, kesatuan adat dan perilaku, kesatuan sejarah, kesatuan bahasa, kesatuan jalan, kesatuan dustur, dan kesatuan pimpinan.
Selanjutnya dibahas mengenai urgensi syura sebagai lambang tertinggi yang darinya lahir berbagai kebijaksanaan sebagai manifestasi political will umat Islam. Sejalan dengan itu tak mungkin diwujudkan sebuah syura meliputi seluruh umat tanpa adanya imamah atau sistem kepemimpinan. Imam menurut bahasa ialah setiap orang yang dianut oleh suatu kaum, baik mereka berada di jalan lurus atau sesat. Ar Razi dalam tafsirnya mendefinisikan Imam yaitu setiap orang yang diajdikan teladan dalam masalah agama. Berdasarkan ayat-ayat al Qur’an dan pendapat para ulama bahasa, tafsir, dan aqidah, jelas semuanya sepakat bahwa imam adalah lafazh yang berarti kepemimpinan tertinggi di antara mereka; ke atas pundaknya diletakkan tanggung jawab kebaikan mereka dalam agama dan dunia. Imam Mawardi menyebutkan tujuh orang yang layak menjadi imam harus memenuhi persyaratan berikut, yakni ‘adalah (bermoral Islami) berikut semua persyaratannya, ilmu yang dapat mengantarkan kepada ijtihad dalam berbagai kasus dan hukum, sehat panca indera seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, supaya dapat mengetahui sesuatu secara langsung, tidak memiliki cacat anggota badan yang akan menghalangi kesigapan gerak dan kecekatan kerja, mempunyai pandangan yang dapat membawa kepada kebijakan rakyat, memiliki keberanian dan kegigihan untuk melindungi kawan dan memerangi lawan, berketurunan dari Quraisy. Mengenai syarat yang ketujuh ini, para ulama masih memperselisihkannya. Namun banyak hadits yang menunjukkan kemungkinan munculnya khilafah dari selain Quraisy, sekaligus merupakan khilafah yang sah (syar’i) dalam umat Islam di mana seseorang tidak boleh keluar darinya karena hanya bukan dari Quraisy.
Dengan segala karakteristik positifnya telah terbentuk, ditambah lagi denagn adanya lembaga syura yang berjalan di dalam kerangak sebuah imamah, berarti pada saat itulah sebuah jama’atul muslimin telah eksis dengan segala makna hakikatnya.
Tujuan Jama’atul Muslimin, yakni terdiri dai tujuan khusus bagi umat Islam, yakni, pembentukan pribadi-pribadi muslim, pembentukan rumah tangga muslim, pembentukan masyarakat muslim, penyatuan umat. Adapun tujuan umum, yakni agar seluruh manusia mengabdi kepada Allah swt, agar senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, agar menyampaikan da’wah Islam kepada segenap umat manusia, agar menghapuskan fitnah dari segenap muka bumi, agar memerangi segenap umat manusia sehingga mereka bersaksi dengan persaksian yang benar.

Adapun bagian kedua buku ini yakni membahas jalan menuju jama’atul muslimin. Bagian ke dua ini diawali dengan pembahasan mengenai hukum Islam, karena berdirinya jama’atul muslimin erat kaitannya dengan hukum-hukum Islam tersebut. Sejak da’wah Islam dibawah pimpinan Rasulullah saw mulai digelar di Makkah, turunlah pengarahan-pengarahan Rabbani sesuai dengan keperluan jama’ah dan tuntutan tahapan yang dihadapi oleh jama’ah. Dalam kaitannya dengan jama’ah Islam yang sedang berupaya menegakkan kembali Jama’atul Muslimin dalam kehidupan umat Islam, pengarahan Rabbani dan sunnah Nabawiyah telah diturunkan secara sempurna. Sehingga setiap muslim dan jama’ah Islam dituntut melaksanakan seluruh pengarahan Rabbani dan sunnah Nabawi secara utuh. Hukum Islam dari segi hakikat dan caranya terbagi dua, yakni substansi hukum dan cara pelaksanaan hukum. Kedua bagian hukum ini, dari segi pelakunya, terbagi dua, yakni hukum-hukum yang khusus bagi Muslim sebagai individu dalam umat Islam, dan hukum-hukum yang khusus bagi jama’ah sebagai jama’ah dari umat Islam. Jama’ah umat Islam adalah kelompok atau golongan yang membawa da’wah untuk menegakkan Jama’atul Muslimin pada masa ketiadaannya.
Ajaran Islam bersifat syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh-sempurna-dan saling menyempurnakan). Oleh karena Muslim memiliki kemampuan sektoral dan terbatas, tidak mungkin Islam akan tegak secara utuh manakala kaum Muslimin menerapkannya secara individual, namun harus diterapkan secara jama’i (kolektif). Jika Jama’atul Muslimin kita nyatakan tidak ada di masa sekarang ini, maka harus diupayakan jalan menuju terbentuknya Jama’atul Muslimin yaitu dengan adanya jama’ah dari sebagian umat Islam (jama’atun minal Muslimin) yang mengupayakan perwujudannya.
Rasulullah saw sejak masa-masa pertama diturunkan wahyu Ilahi menyadari bahwa tugas mulia ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh satu orang manusia tetapi memerlukan suatu jama’ah yang kuat. Dalam perjalanan kepada Rabb-nya, Nabi Ibrahim as mengumumkan hakikat yang merupakan syarat kemenangan da’wah ini, yaitu menegakkan jama’ah yang akan membawa da’wah dan membelanya. Jika jama’ah ini tidak tegak, maka tidak akan pernah kemenangan dagi da’wah. Hakikat ini pun telah dipahami Rasulullah saw sejak awal masa da’wahnya. Dan hakikat ini pula yang harus dipahami oleh setiap da’i Islam. Rasulullah saw mengungkapkan pentingnya jama’ah ini bagi keberhasilan da’wah, dan menyatakan bahwa jama’ah inilah yang akan menentukan eksis atau tidaknya da’wah Islam. Jika telah jelas hakikat ini dari Sirah Rasulullah saw dan kewajban ini pun telah dipahami oleh para da’i Islam, maka setiap Muslim yang menyadari kewajiban da’wah Islam atas dirinya dan ingin bergerak untuk da’wah ini, wajib menjadikan langkah pertamanya dalam kehidupan ini sebagaimana langkah Rasulullah, yaitu mencari jama’ah, atau mewujudkannya, untuk membantunya melaksanakan kewajiban da’wah yang amat berat tersebut.
Adapun rambu-rambu dari sirah Nabi falam menegakkan jama’ah berisi enam karakteristik pokok sebuah jama’ah yaitu:
1. Menyebarkan prinsip-prinsip da’wah
Dalam tahapan ini Rasulullah menempuh dua jalan yakni dengan melakukan kontak pribadi, seperti dilakukan Beliau kepada Khadijah ra dan Ali bin Abi Thalib. Dakwah Islam perlu menempuh jalan ini dalam keadaan permulaan da’wah dan pada saat pemerintah yang berkuasa melarang para aktivis da’wah melakukan aktivitas da’wah secara terang-terangan. Jalan selanjutnya yakni melakukan kontak umum. Cara ini disebut tahapan da’wah secara terang-terangan.
2. Pembentukan da’wah
Pembentukan (takwin) da’wah ini merupakan tindak lanjut dari ramu pertama Sirah Rasulullah saw baik dalam kontak pribadi maupun kontak jama’i. Sisi penataan dalampembinaan jama’ah kadang berlangsung pada tahapan iitishal fardi (kontak priadi) pada rambu pertama, ayitu tahapan sirriyah, dan kadang berlangsug pada tahapan ittishal jama’I (kontak umum) atau kadang berlangsung pada kedua tahapan tersebut.
3. Konfrontasi bersenjata terhadap musuh da’wah
Karakter rambu pertama adalah membagi manusia menjadi dua bagian kelompok pertama, kelompok yang menerima prinsip-prinsip da’wah, menjadi bagian dari rambu kedua, yaitu harus dibina dan dibentuk denagn prinsip-prinsip da’wah, sedangkan kelompok kedua, yakni kelompok yang menentang prinsip-prinsip da’wah menjadi bagian dari rambu ketiga, yaitu harus dihadapi dengan kekuatan senajta agar mereka mau menyerah kepada kekuatan da’wah. Hal itu dilakukan setelah ditegakkan hujjah yang nyata atas mereka pada rambu pertama, berupa penyebaran pikiran-pikiran dan ajaran-ajaran da’wah. Fungsi rambu ketiga ini ialah mempertahankan kelompok yang masuk ke dalam takwin.
4. Sirriyah dalam kerja membina jama’ah
Faktor-faktor yang menajmin keberlangsungan proses pembinaan jama’ah meliputi tiga hal, yakni sirriyah dalam gerak pembinaan jama’ah, bersabar atas segala kesulitan, dan menghindari konfrontasi melawan kebatilan dalam dua tahapan awal yakni penyebaran dan takwin. Maksud sirriyah dalma kerja membina jama’ah ialah membatasi pengetahuan program kerja pada lingkungan pimpinan. Setiap individu dalam kerja sirri ini tidak boleh mengetahui tugas anggota lain, tetapi harus mengatahui tugas pribadinya. Sirriyah merupakan “kotak” tempat menyimpan program amal jama’i dan “tirai” yang menutupi dan melindungi program tersebut. Sirriyah adalah suatu prinsip yang sangat penting dan harus dipegang teguh sepanjang gerakan pembinaan jama’ah, terutama pada tahap-tahap pertama, agar tidak dipukul dalam usia bayi. Sirriyah hanya menyangkut aspek penataan (tanzhim) saja, bukan menyangkut aspek pemikiran atau nilai-nilai Islam yang harus dikemukakan. Para da’i harus memperhatikan rambu ini dan meng-utamakannya dalam gerak mereka. Karena ia merupakan “kunci” keamanan yang akan melindung amal jama’i dari intaian mata-amta musuh yang mengawasinya.
5. Bersabar atas gangguan musuh
Di antara faktor terpenting yang dapat melindungi dtruktur jama’ah pada tahapan takwin ialah kesabaran seluruh anggoa jama’ah dan keberhasilan merekan meredam emosi dalam menghadapi setiapgangguan dan ejekan musuh. Berulang-ulangnya perintah bersabar pada ayat-ayat Makiyah, menunjukkan pentingnya sifat ini dalam memelihara eksistensi jama’ah, terutama pada tahapan takwiniyah.
6. Menghindari medan pertempuran
Kitman (perahasiaan) dan sabar belum cukup ntuk melindungi jama’ah dari gangguan, karena perbedaan kemampuan manusia dalam menerapkan kedua hal tersebut. Juga karena sebagian besar ajaran Islam pasti akan nampak pada par pelakunya dalam bentuk sikap dan perilaku. Karena itu, pimpinan yang bijaksana segera membuat faktor yang lebih aman untuk melindungi jama’ah tersebut. Denagn terpeliharanya eksistensi jama’ah maka akan tercapai kemenangan Islam dan tersebar ajaran-ajarannya. Tetapi jika jama’ah ini hancur, akan menagkibatkan bekunya hukum-hukum Islam dan terhapusnya ajaran-ajarannya. Menjauhi medan pertempuran dalam tahapan takwiniyah merupakan upaya perlindungan bagi pelaksanaan ibadah kepada Allah.
Setelah penjelasan mengenai rambu-rambu jalan menuju terbentuknya Jama’atul Muslimin, berikut dijelaskan tabiat jalan tersebut, yakni jalan ujian dan cobaan. Tabiat jalan ini telah banyak disimpulkan menjadi dua kategori, yakni jalan kebaikan dan keburukan. Tujuan tabiat jalan ini adalah membentuk manusia yang baik melalui perbuatan-perbuatannya, agar dengan demikian pergerakan manusia di atas bumi ini pun menjadi baik. Roda pergerakan manusia di permukaan bumi ini tidak mungkin dapat berjalan seperti yang diinginkan Allah kecuali jika diambil dan dipegang oleh tangan-tangan yang telah digembleng dengan tarbiyah yang dikehendaki Allah, dan tidak mungkin dapat mengetahui ‘tangan-tangan’ yang layak tersebut kecuali setelah melalui berbagai ujian saringan. Ujian-ujian itulah yang disebut tabiat jalan. Dan tangan-tanagn yang layak itulah yang ditetapkan sebagai tujuan dari tabiat jalan yang penuh berkah ini.

Pada bagian ketiga, penulis membahas mengenai jama’ah-jama’ah terpenting yang aktif di medan da’wah Islam. Perjuangan Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, dilakukan melalui perjuangan individual (amal fardi) dan melalui per-juangan kolektif (amal jama’i). Ditinjau dari tujuannya, perjuangan kolektif terbagi dalam beberapa bagian, yakni:
a. Perjuangan kolektif ayng tujuannya langsung menegakkan khilafah.
Kelompok ini antara lain, Hizbut Tahrir, Da’wah Ikhwanul Muslimin, Partai Masyumi.
b. Perjuangan kolektif yang tujuan langsungnya da’wah sosial,budaya, dan sufi.
Kelompok ini antara lain Anshar as-Sunnah, Jama’ah Tabligh
c. Perjuangan kolektif yang sudah bubar, sementara yang lain tetap dapat mempertahankan diri.
Dalam pembahasan selanjutnya dibahas mengenai empat kelompok jama’ah sebagai sampel pembahasannya, masing-masing memiliki kecenderunagn yang berbeda. Dalam kaidah penilaian atas jama’ah-jama’ah Islam, kriteria yang menjadi referensi dalam penilaian terhadap organisasi tersebut adalah Islam. Dengan Islam ditinjau tujuan-tujuannya, sarana-sarana untuk mencapai tujuan, serta pemikiran dan karakteristiknya.
Pertama, Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah yang didirikan di Kairo 1345 H yang orientasi dakwahnya kepada seruan sosial dan ilmu pengetahuan. Kedua, Hizbut Tahrir yang didirikan di Yordania pada 1378 H yang orientasi dakwahnya pada seruan politik (as-siyasi). Ketiga, Jama’ah Tabligh yang didirikan di India yang berorientasi pada seruan sufiyyah. Keempat, yang tulisan tentangnya dan aktivitasnya ditulis di akhir karena tlisan tentang itu sangat banyak, yakni Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir pada 1347 H. Penulis menganggap bahwa jama’ah ini mewakili gerakan da’wah yang memiliki karakteristik syamil (menyeluruh). Tidak hanya memperhatikan aspek sosial dan ilmu pengetahuan semata, melainkan juga aspek sufiyyah dan siyasiyyah bahkan juga meliputi aspek harakiyyah dan jihadiyyah (pergerakan dan jihad).
Pada akhirnya, karakteristik jalan menuju penegakan khilafah Islamiyah amatlah sulit, sebelum mendapatkan pertolongan dari Allah, penuh dengan berbagai macam hal yang tidak disukai oleh nafsu. Setelah mendapat pertolongan Allah dihiasi dengan berbagai macam syahwat. Yang dituntut adalah tetap teguh berpijak kepada kebenaran dalam kedua situasi tersebut, yakni situasi bala’ dan bujukan. Ada banyak jama’ah Islamiyah yang telah menempuh jalan ini. Di antara jama’ah tersebut ada yang tujuan dan sarananya terbatas sehingga tidak mengantarkannya kepada tujuan yang diharapkan. Menurut syari’at Islam ia tertolak. Ada juga jama’ah yang tujuan dan sarananya lengkap, mencerminkan kesempurnaan dan keluhuran Islam dan diterima menurut syari’at Islam. Jama’ah yang memiliki kesempurnaan dan kekomprehensifan dalam tujuan dan sarananyalah yang layak mendapat loyalitas dan dukungan setiap Muslimin.

Penilaian Terhadap Buku

Setelah membaca buku yang berjudul “Menuju Jama’atul Muslimin, telaah sistem jama’ah dalam gerakan Islam” ini, terdapat beberapa penilaian mengenai konten buku tersebut. Buku karangan Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA ini merupakan hasil thesis yang diajukan beliau untuk meraih gelar MA di universitas Islam di Madinah. Karena merupakan hasil thesis, adapun konten dalam isinya merupakan hasil penelitian yang didalamnya terdapat berbagai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berangkat dari penilaian tersebut, saya dalam menilai buku ini murni merujuk pada tulisan yang disampaikan penulis berdasarkan fakta yang disampaikan beliau dalam buku ini.
Saya sampaikan penilaian bahwa buku ini layak untuk dibaca, bahkan penting untuk kita semua sebagai pengemban risalah dakwah. Didalamnya dijelaskan mengenai pentingnya berjamaah dan berpegang teguh pada tali agama Allah secara amal jama’i. dengan alurnya yang pas, penulis menyajikan di muka yakni hakikat makna umat Islam beserta ciri-ciri dan kesatuan yang dimilikinya, dijelaskan juga konsep syura dan imamah yang sangat erat kaitannya dengan konsep jama’ah yang dijadiakn topik oleh penulis. Selanjutnya dijelaskan mengenai jalan menuju jama’atul muslimin yang dimulai dari penjelasan mengenai hukum-hukum Islam dan penegasan bahwa tidak ada parsialisasi dalam menegakan ajaran Islam, dengan demikian berarti pengertian syumuliyyah benar-benar ingin diterapkan dalam kehidupan. Dan pengertian ini juga sejalan dengan alur yang dibawa oleh penulis pada esensi dari buku ini bahwa untuk mewujudkan jama’atul Muslimin diperlukan suatu wadah atau jama’ah yang dalam pencapaian tujuannya harus benar-benar sesuai dengan konsep syumuliyyah tersebut.
Adapun keunggulan dalam buku ini adalah penulis menyampaikan pemikiran dan gagasannya disertai fakta-fakta dan di dalam buku ini juga disertai lampiran-lampiran yang penting sebagai penguat atau bukti atas informasi yang diberikannya. Selain itu, dalam menuliskan urgensi-urgensi pembahasan yang di ulas, penulis juga menyertakan dalil-dalil baik dari al-Qur’an maupun Hadits, serta banyak dikaitkan dengan sirah Rasulullah maupun kisah Nabi-Nabi lainnya yang termaktub dalam Nash al-Qur’an maupun Hadits. Dalam ulasannya tentang jama’ah-jama’ah yang dijadikan contoh atau wakil dari objek penelitiannya, disertakan juga keterangan-keterangan yang terdapat dari dokumen-dokumen maupau buku yang bekaitan denagn jama’ah tersebut. Kelebihan lain yang saya analisis dari buku ini adalah dalam menilai atau meneliti jama’ah-jama’ah tersebut, tidak berdasarkan atas perilaku orang atau pelaku jama’ah tersebut, bahkan ditulis secara khusus alasannya karean akan menjadi tidak objektif penilaiannya apabila didasarkan atas perbuatan pelaku jam’ah tersebut, mengingat keterbatasan manusia yang kadang kala dapat berbuat salah ataupun khilaf. Namun, dalam penelitiannya, penulis menyandarkan pada tujuannya, sarana-sarana untuk mencapai tujuan, serta pemikiran dan karakteristiknya.
Pada bagian akhir buku, penulis memberikan hasil penelitian dan penilainanya terhadap jama’ah objek penelitiannya tersebut. Saya pribadi, menyerahkan penilaian akhir mengenai ending buku ini kepada masing-masing pembaca untuk dapat terlibat dalam amal jama’i sesuai dengan jalan yang dipilih oleh pembaca. Namun, besar harapan penulis maupun saya, agar buku ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang penting dalam menentukan langkah pembaca dalam menilai dan mewujudkan Jama’atul Muslimin di muka bumi ini.