Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

28.9.13

Fairy Tales


 
   But Sam, you know.
Fairy tales aren't just about finding handsome princes.

They're about fulfilling your dreams...
...and about standing up for what you believe in.   A Cinderella Story

1.6.13

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

~Sapardi Djoko Damono~



Aku mulai bulan ini dengan rintik hujan di pagi hari. Membuat aktivitas harian berjalan lambat. Slow motion. Sembari menikmati kemalasan dan dinginnya hujan pagi di bulan Juni. Cerita di awal bulan ini, mirip dengan puisi sapardi Djoko Damono di atas. Tentang ketabahan berpaut rindu, tentang kebijaksanaan untuk menghapus jejak-jejak masa lalu, tentang kearifan demi memendam sebuah harapan yang tak terucapkan.

Aku tidak punya resolusi apa-apa di bulan ini, di bulan yang lalu, pun di bulan selanjutnya. Entah sudah berpuluh bulan akuu lupa dengan aktivitas itu. Hidup tanpa resolusi bukan berarti tanpa cita, hanya saja ada aktivitas yang memang telah terkikis oleh waktu. Entahlah. Sebenarnyaku punya resolusi, namun cukup disimpan dalam hati.

Pagi ini aku ingin bercerita tentang impian masa depan dan jejak masa lalu. Mereka silih berganti memenuhi rongga hidupku. Antara optimisme melangkah, namun masih sering menoleh ke belakang. Antara takut melangkah maju dan tersendat jejak-jejak yang masih tersisa.

Selamat datang bulan Juni. Semoga hujan di pagi ini menghapus jejak masa lalu yang tersisa, dan menyuburkan benih-benih harapan untuk masa depan.


28.5.13

Everybody's Changing

Saya merasa ada yang berubah. Banyak hal yang hari demi hari berubah tanpa mampu kita kontrol. Simpel saja, ketika kamu terbiasa dengan apa yang kamu alami, maka ketika segala sesuatunya berubah, kamu juga akan merasakan perubahan itu. Ada yang berubah secara perlahan, namun pasti. Entah apa yang terjadi itu kamu sadari atau tidak. Ada pula yang berubah secara mendatak. Cetar! Seperti petir yang tiba-tiba datang dan menghantam kehidupanmu.

Apapun itu, perubahan tetaplah terjadi. Itu adalah sunatullah yang harus kita jalani. Sebagai contoh, saya terbiasa memakai cincin di jari manis tangan kiri. Suatu hari, saya ingin mengubahnya dengan memindahkan cincin ke jari manis di tangan kanan. Simpel kan, bukan suatu perubahan besar yang akan mengubah dunia. Tetapi, beberapa saat kemudian, ada perubahan yang terjadi yang lambat laun dirasakan. Ada bekas yang tertinggal di jari manis saya seperti orang yang gagal tunangan dan cincinnya dikembalikan (heheh). Tanpa sadar, saya juga sering mengggerakkan cincin dengan jempol saya, dan kebiasaan itu baru saya sadari kalau hilang ketika cincin itu sudah tidak lagi disana.

Sesimpel itu. Itu baru perubahan kecil. Apalagi perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan kita. Kehilangan sesuatu, kehilangan seseorang, dan kehilangan-kehilangan yang lainnya. Siapalah kita yang pada dasarnya tidak punya apa-apa. Yang terlahir di dunia tidak membawa apapun.

Pada akhirnya, yang bertahan adalah yang siap dengan perubahan.

"Bukan mereka yang terkuat dan terbesar yang akan dapat mempertahankan eksistensinya. Tapi hanya mereka yang mampu beradaptasi terhadap perubahan" - Anonim

29.9.12

Cerita Tentang Mimpi Yang Lain

Kata orang mimpi itu adalah bunga tidur. Kalau kata saya, mimpi adalah mimpi. Mimpi bukanlah kisah nyata, hehe ya iyalah. Mungkin saja mimpi adalah bunganya tidur, tapi bisa jadi mimpi bagian dari refleksi alam bawah sadar kita tentang apa yang secara tidak sengaja terekam oleh pikiran bawah sadar kita.



Kalau di posting sebelumnya saya bercerita tentang impian, nah kali ini saya ingin sedikit membahas tentang mimpi yang hanya bisa dialami saat kita tertidur. Yah begitulah, hehehe. Bermula dari membaca cerita sebuah novel filsafat yang judulnya Dunia Sophie, saya tertarik dengan pembahasan mengenai seorang tokoh yang cukup terkenal di dunia psikologi yaitu Sigmund Freud. Di novel itu diceritakan kalau Sigmud Freud dan teorinya tentang alam bawah sadar. Dikatakan bahwa mimpi itu adalah refleksi dari apa yang terekam dalam alam bawah sadar kita.

Yah simpel saja, namun ternyata itu sangat mengena bagi saya. Apalagi di novel itu diceritakan juga contohnya seperti apa. Well, dan malamnya kemudian saya bermimpi. Mimpi saya sih simpel saja, saya bermimpi bersama tetangga sebelah rumah dan melakukan sesuatu di sebuah asrama di luar kota untuk mendaftar kuliah. Nah, sesuai dengan teori alam bawah sadar saya, ternyata sehari sebelum bermimpi itu saya bertemu dengan tetangga saya itu, di pagi hari tanggal 26 September membicarakan sesuatu yang nampaknya kami berdua hindari, hehehe (anak FKIP Unmul pasti tahu tanggal bersejarah apa itu). Saya coba-coba deh analisis sendiri makna mimpi itu. Dan ternyata cocok. Well, akhirnya saya tahu kan apa maksudnya Freud dengan alam bawah sadar itu? Heheh, anggap saja sok tahu deh, karena saya bukan orang psikologi :D

Nah yang mau saya bagi disini sebenarnya adalah .......................... Tentang mimpi saya semalam. Saya bermimpi naik pesawat dengan beberapa orang teman, segerombolan begitu, duduk di samping saya, tulis saja si A ya, kalau nama aslinya dimunculkan nanti bisa heboh dia kalau tiba-tiba mensearch namanya di google dan kemudian nyangkut di tulisan ini, ahhahah, si A saja biar aman :P. Oke, ceritanya saya duduk di atas pesawat, di sebelah saya si A, kemudian di depan dan belakang pesawat itu adalah si B, C, D, E, F, G, dan lain-lain.

Mimpi yang simpel kan? Hehehhe. Dan ternyataaa, dari mimpi saya itu saya menyadari bahwa saya merindukan mereka semua, merindukan aktivitas berkumpul bersama dan saya dimimpiin bersama mereka lagi melakukan suatu perjalanan yang pernah saya lalui dulu. Hufff miss you all. Rindu dengan aktivitas itu. TErnyata alam bawah sadar saya menyimpan rekaman itu dengan baik. Hohoho jadi rindu.



Inti dari tulisan yang serba panjang dan tidak jelas ini adalah, saya kangen. Titik. :)


22.12.10

Saya Berbicara Tentang Tulus, Ikhlas, Dan Sebagainya.....


Beberapa minggu ini, ketika aku mengucapkan kata "tulus" atau "ikhlas" ternyata banyak yang berkomentar, atau berkata, bahkan memprotes,. "ikhlas itu tak semudah diucapkan" "ah bohong saja yang bisa bilang ikhlas itu" "ikhlas itu susah" "emang ada yang bisa memaafkan dengan tulus?" Aku tersenyum (dengan ikhlas ^.^) mendengarnya. Setidaknya ada beberapa kesimpulan yang aku bisa simpulkan, bahwa ikhlas itu tidak hanya menjadi hak milik satu orang saja, namun menjadi perkara atau aktivitas yang bisa dilakukan oleh semua orang dan WAJIB dilakukan ketika ada beberapa persoalan yang menuntut untuk kita untuk berlaku ikhlas. Kembali ke pernyataan dan komentar beberapa orang mengenai tulus dan ikhlas, saya tidak bisa menyalahkan itu semua, karena ya memang benar adanya,. Namun,. Ikhlas itu bukan berarti tidak bisa diupayakan.. Saya percaya jika ada yang pernah bilang bahwa ikhlas itu susah,, saya juga tahu bahwa tulus itu tak mudah.. Maka,, apa yang seharusnya kita lakukan??.. Jawabannya ya ikhlas ^_^ jika kau bisa berlaku ikhlas, maka kau akan bisa mendamaikan hati dan hidupmu. Kau juga mampu meredam iri hati, dengki, dan mampu membunuh dendam.. Hidupmu akan tenang dan pasti mampu merasakan manisnya buah keikhlasan.. Jika kau tidak mampu ikhlas, itu hanya akan membunuh hidupmu dan hari-harimu.. Terkadang ada yang berbicara bahwa "saya ikhlas" namun dalam kenyataannya ada saat-saat dimana orang tersebut tidak mampu mengaplikasikan pernyataannya tersebut. Lantas apakah orang tersebut salah?.. Hemm,, bisa jadi ketika ia berbicara seperti itu, ia sedang berusaha mengupayakan ikhlas tersebut. Sepakat kan kalau berlaku ikhlas itu susah? Maka bantulah ia mengupayakan ikhlas itu... Saya lebih salut kepadanya daripada orang yang cenderung menyalahkan diri maupun takdir, atau orang yang putus asa atas ujian yang dihadapinya dan putus asa dari rahmat Allah yang begitu luasnya.. Saya tahu bahwa praktek ikhlas tak semudah teorinya, aplikasi ikhlas tak semudah ucapannya.. Namun bukan berarti ikhlas itu tidak dapat dilakukan. Ikhlas itu HARUS diupayakan, PANTAS diperjuangkan, dan LAYAK untuk dilakukan.. Mari kita bersama-sama belajar dan mengaplikasikan ilmu ikhlas, walau kualitas ikhlas kita tak seperti ikhlasnya Nabi Ibrahim As mengorbankan anaknya demi melaksanakan titah TuhanNya..

13.12.10

Takut . . . . .


Apa itu takut?



Pernahkah kita dihinggapi rasa takut?



Apa yang dilakukan ketika kita merasa takut?





Aku pernah mengalami itu. Rasa takut yang kadang berlebihan kepada suatu hal, dan yang paling sering adalah "Ketakutan menghadapi masa depan." Hemm.



Terkadang kita mengalami ketakutan-ketakutan akan sesuatu yang belum akan kita alami. Ketakutan tersebut terkadang (bahkan seringnya) berakumulasi menjadi satu sehingga membuat sugesti tersendiri bahwa saya “takut” untuk menghadapinya. Bahkan lebih dari itu, saya pun bisa jadi salam mempersepsikan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Akhirnya di masa yang sedang dihadapi saat ini, saya mengalami "Trauma Persepsi". Mungkin hal tersebut dialami tidak hanya pada saya, mungkin ada diantara kalian pula yang mengalami hal serupa.



Terkadang, atau bahkan seringnya mengalami kejadian, saya takut ketika menghadapi sesuatu yang dalam pikiran saya adalah sesuatu yang sangat besar yang ketika itu gagal, akan mengubah setidaknya rencana besar yang ada di hidup saya. Contoh simpelnya begini, saya takut menghadapi dosen pembimbing PPL untuk meminta tanda tangan RPP. -contohnya ngambil yg faktual aja masalah PPL he he he- Karena ada isu yang berkembang bahwa jika dalam rentang waktu hingga saat itu belum menghubungi dosen pembimbing maka akan dipersilahkan mengulang PPL di tahun depan. Dari isu tersebut mulalilah muncul rasa ketakutan-ketakutan yang merambat pada stabilitas kehidupan saat ini. Dalam benak saya, ketika saya harus PPL di tahun depan lagi, maka akan menghambat rencana kelulusan yang telah di rancang jauh sebelum kejadian itu terjadi.



Apa akibat dari ketakutan itu? Jadi susah makan, bad mood, kepikiran terus-terusan, pokoknya kita jadi memikirkan sesuatu yang belum tentu itu yang akan terjadi nanti. Namun ketika bisa memberanikan diri untuk menghadapinya, seburuk apapun dapaknya, setidaknya kita telah memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan. Dan ternyata apa hasilnya? Tidak sesuai dengan ketakutan-ketakuan yang menjalari pikiran yang berdampak pada kestabilan kehidupan. Diomelin sebentar, RPP diterima, ditandatangani, allamdulillah aal izz well ^_^



Ternyata ketakutan itu hilang, bahkan menjadi ketakutan yang berlebihan saja ^_^



Alhamdulillah, dengan doa, usaha, tawakal dan sedikit saja keberanian untuk menerima kenyataan, semua ketakutan sirna ^_^





Ada contoh lain dari ketakutan itu sendiri. Kadang, saya takut untuk pergi ke dokter. Saya takut untuk mendengar vonis dari dokter atau saya takut mendengar analisa dokter akan penyakit yang saya derita. Padahal, kalau saya tidak ke dokter, usaha apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasi sakit yang saya derita itu? Intinya adalah saya tidak siap dan tidak berani untuk menghadapi penyakit yang saya derita, dan saya terus menerus dihantui oleh pertanyaan, kira-kira saya sakit apa ya? Padahal mungkin saja penyakit yang sebenarnya tidak seseram yang saya bayangkan.





Contoh yang mungkin juga sering kita hadapai, kita sering mengalami ketakutan-ketakutan yang itu belum akan terjadi. Misalnya, saya takut dengan tanggal tertentu atau momen tertentu yang dimana anggapan saya adalah pada saat-saat itu saya akan merasa rapuh, atau merasa sakit atau hal-hal lain yang mungkin akan menguras emosi -ceilah-. Sehingga ketika saya dari sekarang memikirkan momen-momen "danger" itu, saya merasa masa disaat saya memikirkan hal itu, maka disaat itu bisa jadi saya mengalami ketidakstabilan kondisi. Padahal belum tentu kejadian pada momen itu adalah seperti apa yang saya takutkan, bisa jadi saya akan baik-baik saja saat itu. Dan seringnya, itu terbukti benar., bahwa saya baik-baik saja ^.^/



Jadi akhirnya saya berpikir, untuk apa saya memikirkan hal-hal yang berlebihan akan sesuatu yang belum terjadi?? Yang ada hanya menguruas pikiran, tenaga, waktu, hmmmm apa lagi ya yang dikuras? :D dan membuang-buang energi saja. Apalagi ketka waktu kita hanya dihabiskan untuk berlarut-larut memikirkan tanpa mencari solusi alternatif dalam mengatasi ketakutan-ketakutan yang terjadi pada masa yang akan datang nanti. Sepertinya itu akan membuat kita menjadi lebih bijak dalam memikirkan dan bertindak atas persoalan yang belum terjadi, juga mengajarkan kita untuk berani menerima kenyataan sepahit apapun yang berhubungan dengan sesuatu yang belum terjadi.



Intinya adalah BERANI

Berani menerima kepahitan

Dan yang terpenting adalah berani menerima dan menghadapi kenyataan..



"Dari Sa'ad Ibnu Waqqash Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setiap selesai sholat selalu memohon perlindungan dengan doa-doa: (artinya = Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan, aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur)." Diriwayatkan Bukhari.



*Samarinda, 12 Des 2010

*Di bawah selimut dan ditemani embun pagi

[Taujih Part II] La Taghdob Walakal Jannah



La Taghdob Walakal Jannah.



Sebagai seorang manusia biasa, pastinya kita pernah mengalami situasi yang membuat kita marah. Siapapun kita, tentu saja pernah merasakan sakit hati, kecewa dan marah.



Pagi ini, seorang saudari memberikan taujihnya pada sebuah lingkaran kecil yang -semoga saja- kehadiran lingkaran tersebut untuk mengharapkan ridha Allah dengan niat untuk mengkaji dan menuntut ilmu. Seorang saudari yang menceritakan mengenai hakikat marah. Ia menceritakan sebuah dialog antara seorang anak dan ayahnya mengenai sebuah tema, yaitu marah.



******



"Ayah, tolong beritahuku tentang hakikat marah." Ujar anak kecil tersebut kepada ayahnya.



Sang ayah tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya, namun ita mengajak ke belakang rumahnya, dimana terdapat sebuah tembok besar disana.



"Ayah akan menjawab pertanyaanmu tapi sebulan lagi. Nak, sekarang coba kau lihat tembok besar itu."



"Apa hubungannya tebok besar dengan marah ayah?"



"Ayah mau kau mengikuti perintah ayah. Selama sebulan, ketika kau sedang marah dan melampiaskannya kepada orang lain, maka tancapkanlah paku dengan menggunakan palu ini pada tembok itu." Kata ayahnya sembari memberikan palu dan paku kepada anaknya tersebut.



Benar saja, sang anak kemudian mematuhi perintah ayahnya tersebut. Ketika ia sedang melampiaskan kemarahannya pada siapaun itu, baik kepada temannya, ibunya, atau siapapun yang ditemuinya, maka setelah itu ia menancapkan paku pada tembok besar di belakang rumahnya.



Sebulan kemudian, ia kembali menemui ayahnya di belakang rumahnya tersebut.



"Ayah, aku sudah memenuhi perintahmu. Sekarang lihatlah tembok itu, sudah penuh dengan tancapan paku."



"Anakku, sebelum ayah menjelaskan kepadamu mengenai hakikat marah, maukah kau mengikuti sekali lagi perintah ayahmu?"



"Hmmmm, baiklah ayah. Apa permintaan itu?"



"Ayah akan memberitahumu tentang hakikat marah sebulan lagi. Selama sebulan kedepan, kau harus berjanji kepada ayah untuk meminta maaf kepada orang yang pernah kau buat marah. Setelah kau meminta maaf, kau harus mencabut paku tersebut satu per satu hingga semua paku yang ada di tembok itu terlepas."



Karena anak tersebut penasaran dengan penjelasan ayahnya tentang hakikat marah, maka ia mengikuti apa yang diperintahkan ayahnya.



Sebulan telah berlalu, dan kemudian anak tersebut kembali menagih penjelasan ayahnya tentang hakikat marah.



"Lihatlah ayah, aku telah melaksanakan perintahmu. Aku telah meminta maaf dan paku-paku tersebut telah terccabut semua dari tembok itu." Kata anak tersebut.



"Wahai anakku, dengarlah penjelasan ayah. Sekarang kamu lihatlah tembok tempat kamu menancapkan paku itu. Pada mulanya, tembok tersebut mulus dan bersih dari cacat. Namun kamu lihat apa yang terjadi, ketika kamu marah dan menancapkan paku, seusungguhnya kamu telah menancapkan paku kepada orang yang kamu sakiti ketika kamu marah. Dan ketikapun kamu telah meminta maaf kepada orang yang kamu sakiti, maka sesungguhnya kamu tidak dapat mengembalikan perasaan dari orang yang kamu sakiti itu, ssekalipun kau sudah meminta maaf padanya dan permintaan maafmu diterima."



Sang anak tertegun.



"Oleh karena itu anakku, maka kau harus berhati-hati ketika marah. Jangan sampai dengan marahmu itu kau melukai hati saudaramu sendiri, jangan sampai kamu menyakiti hati orang lain. Itulah hakikat marah anakku."



********



Subhanallah, wahai teman-teman semua,.. Benarlah bahwa kita diminta untuk jangan marah,



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

[رواه البخاري]



Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhori) Hadits Arba'in No 16



"Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan." (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan)



Teman-teman, mari kita menjaga diri kita dari sifat kemarahan, karena sesuai dengan Hadits Rasulullah saw bahwa "Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : 'Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.' (HR. Bukhari dan Muslim). Menjadi pribadi yang pemaaf, tidak mudah marah, dan marilah kita menjadi orang yang kuat ^.^/



*saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan ya,....

*ditulis dengan bahasa sy sendiri,....

*mohon maaf apabila ada salah kata dan perbuatan,....

*Samarinda, 11 Des 10

[Taujih Part I] Tentang Surga




Di sudut tempat yang berbeda, tiga tahun yang lalu. Peran yang dilakoni pun berbeda, walaupun formasinya masih tetap sama. Aku bersemangat menimba ilmu dalam lingkaran majelis ilmu. Namun yang aku ingat sekarang, bukanlah materi yang disampaikan pada saat itu, bukan pula teman-teman dalam kelompok itu. Yang masih terbersit alam ingatan dan sedikit mengusik dalam kalbu adalah sebuah tema taujih di siang itu.



"Di sini kita pernah bertemu, mencari warna seindah pelangi"



Seorang asisten mentor memberikan taujihnya di siang yang terik itu. Temanya ringan, walau aku lupa-lupa ingat tentang detail materi yang ia sampaikan waktu itu. Intinya tentang surga. Dari kutipan sebuah buku yang aku lupa judul maupun covernya. Sang asisten mentor menceritakan tentang gambaran penghuni surga, serta ciri-cirinya. Aku terkesima, entah aku saja ataukah teman-temanku yang lain terbius dengan fatamorgana surga yang keluar dari lisannya.



"Bahwa ketika kita menginginkan menjadi ahli surga, maka bayangkanlah surga di setiap ingatan kita. Bayangkan kita menjadi penghuni surga, hadirkan surga dalam cita-cita kita, selain tentunya mengharapkan Ridha Allah."



Sebuah kalimat singkat penuh makna.



Jika aku mengingatnya, jika aku menghadirkan surga dalam dekapan mata, tanpa sadar akupun mengingatnya. Seorang pemberi taujih yang tak ku lupa wajahnya.



Aku kini merindu surga. Pun semoga kalian yang dulunya ada di lungkaran itu juga.



"Semoga kita semua dikumpulkan dan dipertemukan kembali dalam surga-Nya"



Kalimat singkat itu, masihkah kau mengingatnya wahai mba pentaujih....



Dalam doa, dalam sadar, aku meng-amin-kan doa itu.

2.12.10

Puisi Keraguan

Aku ragu akan sesuatu yang aku ragu,..

Aku ragu terhadap keraguan yang mejalariku,..

Aku ragu dan meragukan keraguanku...



Intinya hanya satu,..

Ragu (titik)



Aku ragu bawa aku mampu menepis rasa ragu itu,..

Aku meragu atau keraguan yang masih aku ragu,..

Aku ragu karena mungkin diawali dengan keraguan itu,..

Aku ragu...



Jangan membuatku ragu atas setiap keraguan yg terjadi dlm diriku..

Jgn membuatku bertambah ragu,, karena tak ada yang menepis keraguan itu..

Jangan membuatku ragu, karena tidak ada jalan apapun yang akan di bangun di atas keraguan...



"ya muqallibal quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinik"

Renungan Pagi Tentang UTS dan Munakahat


Pagi ini aku mengawas ujian tengah semester di SMK. Ditengah hujan yang membasahi bumi Samarinda, aku menderu motor dengan semangat yang telah dibangun sejak sebelum tidur.

Dapat ruang 16 di kelas XII, aku menemukan atmosfer ujian yang baru dan aneh. Mungkin karena di awas oleh mahasiswa PPL, atau karena memang kesolidan kelas sudah terbangun sedemikian kuatnya sampai-sampai harus kerjasama dalam ujian. Hufht, anyway, aku malas merusak keindahan pagi ini dengan marah-marah nggak jelas.

Aku bagikan lembaran soal dan kertas jawaban pada mereka. Owh, pelajaran pertama Agama Islam, dan pelajarannya tentang Munakahat. Pertanyaannya mudah-mudah kok, yang jelas pastinya tentang pernikahan, dan dua soal yang sering terjadi di kehidupan sekarang, mengenai pendapat mereka tentang married by accident dan foto pra wedding. Tapi ya itu tadi, mau pelajaran apapun itu, kalau mereka nggak belajar ya nggak bisa jawab. Ribut lah yang terjadi di kelas.

Segerombol siswa di pojok kelas aku hampiri,
"Ayo jangan ribut." kata pamungkas yang pastinya sulit dilaksanakan.
"Soalnya susah bu." celetuk mereka.
"Gampang kok, tentang nikah aja masa gak tau?"
"Kita kan belum nikah bu."
"Ckckckck kalian ini, masa pacaran aja bisa tapi nikah gak tau?" candaku sambil terus berpatroli mendatangi segerombolan siswa lain yang juga ribut. Dibalas garukan kepala oleh mereka.

Hemm, kembali ke soal. Beberapa menit berlalu, beberapa siswa mengumpulkan jawaban yang sudah selesai. Ku perhatikan jawaban mereka, terutama dua soal yg terakhir. Hemm, waaaw, betapa terkejutnya aku, ternyata masih ada aja yang tidak mengerti bagaimana hukumnya nikah karena kecelakaan. Ada yang bilang boleh untuk melindungi sang anak, ada yang bilang boleh tapi nanti kalau melahirkan nikah lagi kalau nggak bisa zina seumur hidup. 'Anak-anak, kalau ini bukan ujian tak jelaskan ini jawaban dari pertanyaannya.' Tapi nga mungkin lah soal ini keluar kalau belum dijelaskan sebelumnya? Jangan-jangan ngga perhatikan kalau guru menjelaskan.

Anak-anakku yang cerdas, andai kalian memahami bahwa belajar itu adalah untuk memahamkan kalian akan sesuatu yang belum kalian ketahui, maka kalian akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru, yang tidak hanya berguna jika pelajaran itu muncul di ujian, tapi menjadi ilmu dalam kehidupan. Jika kalian mengetahui, bahwa ilmu agama yang kalian pelajari adalah bekal bagi kehidupan, tidak hanya kehidupan kini saja, juga nanti. Wa bil khusus ilmu tentang munakahat, adalah bekal bagi masa depan kalian, sebagai pengantar agar kalian lebih bertanggung jawab terhadap keluarga kalian nantinya. Dan tentang soal no 4 itu, sebenarnya untuk membuka cakrawala berpikir kalian bahwa MBA bukan berita baru lagi bagi remaja saat ini. Saya yakin, guru kalian sedang memberi bekal untuk kalian agar tidak terjerumus dalam perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai dengan norma manapun. Semoga ilmu yang kalian pelajari menjadi barokah, dan mampu di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

*10 Nov 10*

Dalam Persimpangan

"ku titipkan cahaya terang, tak padam di dera goda dan masa."

ketika Kau memberi ujian, maka Kau beri pula jalan untuk melaluinya. Aku jadi teringat beberapa bulan silam,. Kau beri jawaban sebelum ujian datang.. Jika itu ulangan, maka betapa dimudahkannya aku?.. Ya, dan aku melangkah bersama jawaban dariMu.

Namun ternyata ujian ada di tengah jalan. Kaki kaki lemahku yang semula berlari, diterpa batu dan rintangan berduri. Namun aku masih kuat berdiri. Walau akhirnya harus aku yang tinggal sendiri. Aku terus berjalan dan sesekali berlari. Menyusun strategi dan rencana mengunggah mimpi. Menjaga agar lilin harapan tak pernah padam, diterpa angin dan ujian yang menghantam. Karena aku percaya, ku mencoba investasi jutaan kebaikan.

Ketika kini ku terdiam, entah karena kaki lelah melangkah, atau lilin tak mampu menyala dengan indah, ataukah asa yang terancam punah? Atau ini semua akumulasi dari rasa lelah.. Dan mungkin semua itu adalah jawabannya...

Yang kini telah rapuh dalam berjalan, ku kembalikan semua kepada Tuhan, ku serahkan padaNya jalan mana yang Ia pilihkan. Aku dalam persimpangan.

Sayang. . . . . . . .

Ingatkah aku sayang...
Ketika suatu sore kau mengajakku ke tempat itu...
Kau menggenggam erat jemariku...
Kau menuntun meniti jalan berbatu...
Kita menyusuri jalan itu...
Berdua, tak ada yang mengganggu...
Dan jejak kenangan semakin memudar...
Karena aku melupakan masa indah itu...
Maaf pun terasa hambar terucap dari bibirku...

Sayang...
Belaian mesra ditengah hujan...
Juga tak mampu terlukiskan dalam ingatan..
Walau ku coba menarik semua bayang-bayang...
Tak juga sanggup mengukirkan kenangan indah itu...
Sekali lagi maaf...
Kembali ku lupakan momen cinta itu...

Dan ketika gerimis melanda...
Ku menangis memandang kelu wajahmu...
Bahkan sebelum air mata tumpah...
Kau menyekanya dengan air hujan...
Menerobos malam menjanjikan terang...
Pada sebuah episode masa depanku...
Masa depanku...
Bukan masa depanmu atau masa depan kita...
Karena katamu kau yakin dan percaya...
Masa depanmu adalah aku...

Dan lagi-lagi aku lupa...

Sayang,..
Bukannya aku tak mengerti cinta...
Namun kurasa, tatapanmu adalah cinta...
Desah napasmu adalah cinta...
Belaianmu adalah cinta...

Dan lagi-lagi...
Sekali lagi, aku lupa...

Sayang,..
Bukan ku hendak melupakan wajahmu...
Bukan ku hendak melupakan cintamu...
Apalagi ku menduakan sayangmu...

Sayang,..
Mengapa tak terbersit di benakku...
Jika nanti ku menduakan cintamu...
Menangiskah engkau mempertahankanku?
Ataukah tangisan kerelaan demi bahagiaku?
Ataukah hanya senyum getir dan tatapan nanar penghias harimu?
Karena kekasih hatimu kan pergi meninggalkanmu...

Sayang, maaf aku terlalu egois..
Membalas cinta dengan sinis..
Bahkan tak mampu tersenyum manis..
Walau kadang di hatimu tersimpan tangis..

Maaf sayang...
Maaf...
Ku tak mampu membalas sayang...
Ku tak mampu membalas cinta...
Ku tak mampu menyeka rindu..
Dan peluh di dahimu...

Akupun dalam gelapnya malam mencintaimu..
Hah? Mengapa cinta itu datang disaat gelap?
Mengapa cintaku tak mampu mengusir gelap?
Mengapa cintaku tak seterang mentari menyinari sisi gelapku, seperti cintamu?

Sayang, sekali lagi maaf...Yang mencintaimu dalam diam...

(Hah? Padahal cintanya adalah nyata..
Padahal cintanya adalah kata..
Padahal cintanya adalah perbuatan..
...Padahal cintanya adalah tanggung jawab..
Padahal cintanya adalah kasih sayang..

Namun kau hanya mampu mencintainya dalam diam?)

Terimalah pesan cinta dari anakmu,..
Untuk ayah...

23.9.10

Segelas Cappucino dan Seisi Dunia

Aku menyebutnya sugesti cappucino. Entah karena aku sedang terkena sugestiku sendiri, atau karena memang efek cappucino yang begitu dahsyat menimpa tubuhku, sehingga malam ini aku tak dapat tidur.

Lantas, apa yang aku kerjakan dalam ketidakmengantukkan ku ini? Banyak hal. Dan aku mampu merangkum seisi dunia dalam segelas cappucino. Kok bisa? Ya, bisa! Pernah mendengar cerita warung kopi dimana banyak mengalir informasi dari pengunjungnya? Mulai dari obrolan santai sampai obrolan kelas berat bak pengamat politikus ternama ada di dalamnya. Dan cerita itu mengalir dan mengental bak segelas kopi.

Namun aku tidak ingin bercerita tentang itu. Aku ingin mengisahkan tentang isi duniaku yang tercipta akibat sindrom segelas cappucino yang membuatku tidak mengantuk dan tidak tertidur. Dalam tenangnya malam, aku terjaga sambil bermimpi tentang sebuah kisah masa depan. Tentang cita-cita, harapan, impian. Tentang kisah menaklukkan dunia. Dunia mana yang ku coba taklukkan? Adalah duniaku, duniamu, dunia kita.

Ini tidak hanya sebuah mimpi, karena dalam terjaga aku menyadari bahwa kita tidak akan pernah terbangun dari mimpi ketika kita hanya mampu memimpikan tanpa mampu merealisasikan dan membangunkan mimpi itu....
26-08-10

16.8.10

Renungan Angka 3

Entah mengapa akhir-akhir ini hariku diwarnai dengan angka tiga. Tiga yang semula tidak memiliki arti istimewa kemudian menjelma menjadi sesuatu yang bermakna. Namun maknanya sendiri masih menjadi ambigu bagiku walaupun ingin sekali untuk ku uraikan satu persatu.

3 Agustus 2010
Inspirasi oh inspirasi. Mengapa kau terlambat sekali datangnya. Delapan bulan aku menunggu untuk menarikan tanganku kembali di atas keyboard untuk hanya sekedar mengungkapkan isi hati baik lewat puisi ataubun bahasa-bahasa misteri. Namun inspirasi baru muncul di hari ini. Tidak untuk mengenang apa-apa, hanya saja mungkin memang ada pemicunya. Apapun itu, aku bahagia di tanggal tiga ini aku kembali mencari jutaan inspirasi yang akan aku jadikan prasasti.

Mengenang 3 bulan
Apa yang terjadi selama tiga bulan? Tak mampu aku ceritakan. Karena kata tak mampu teruraikan dan ikrar masih ku tunaikan. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku bagi. Namun apa daya, dalam keterbatasan ini aku hanya mampu mengenangnya dalam memori, dan membaginya sedikit dalam sepenggal kisah ini.

Cerita bermula dari kejadian tiga minggu yang mendebarkan. Minggu pertama ada yang datang mengantarkan harapan. Namun aku tak lagi mempan dengan harapan-harapan yang dilambungkan tinggi-tinggi dan kemudian dilepaskan pergi, semakin tinggi tertiup angin dan akupun tak kuasa memegangnya lagi. Oke, aku tutup minggu pertama dengan istighfar. Minggu kedua, cerita berulang dengan tokoh yang berbeda. Cerita masih bertema sama dan ditutup dengan ending yang sama. Astaghfirullahal’adzim. Aku kira kejadian akan berhenti sampai disini, namun ternyata masih ada minggu ketiga. Dan menutup kisah cerita tiga minggu dengan tanda tanya.

Apa yang terjadi dengan angka tiga berikutnya? Ternyata begitu ampuh mengubah hidupku dan mengubah pandangan tentangku. Sampai sini aku tak mampu melanjutkan cerita. Karena warna-warninya begitu terasa. Bahkan aku tak mampu membedakan makna dari air mata, karena tawa, sedih, bahagia, asa, dan semua mimpi diwakilkan oleh air mata.





Bulan ketiga
Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi pada bulan ini, mungkin karena banyaknya amanah, atau karena lelah, bisa jadi ini adalah batu ujian yang memang harus dilalui untuk perbaikan diri. Namun ujian begitu berat untuk dilalui, dari awal hingga akhir di bulan ke tiga. Kuatkah aku menghadapinya? Tentu saja aku kuat dan mampu bertahan hingga saat ini. Meski angin badai menerpa, lelah mencapai puncaknya dan amanah bertubi-tubi meminta haknya. Dan semalam, aku tutup bulan ketiga dengan hamdalah. Sampai detik ini aku mampu tersenyum cerah. Entah esok hari, entah lusa nanti, entah. Adakah yang mampu memberikan garansinya? Tidak ada. Namun yang pasti, aku kan berusaha memenuhi apa yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Resolusi tiga tahun
Tiga tahun itulah yang dipinta dan aku memenuhinya (?). Ada tanda tanya. Bukan ragu akan resolusi tiga tahunan itu. Namun hanya berusaha mempercepatnya saja. Namun jika memang pada akhirnya itulah yang tercipta, aku akan tetap tersenyum lega. Resolusi dua tahunan yang aku buat masih menyisakan tiga opsi yang berbeda. Artinya, masih akan banyak rencana-rencana yang belum bisa disusun dan dibayangkan sebelum aku menginjakkan kaki pada tahun kedua. Aku akan memenuhi janji yang telah terucapkan pada semua.
33 bulan
Akan banyak kejutan pada saat ini. KKN, PPL, skripsi, wisuda, kerja, konwil, berstruktur, demisioner, KB muda, mengabdi dan terus mengabdi. Hmmm menikah? Ini kata-kata sensitive yang aku coba hindari dalam penulisan renungan ini. Namun tentu saja hal tersebut menjadi persiapan berantai dalam cerita 33 bulan ini. Akan ada banyak mimpi, air mata, harapan, keinginan, kekecewaan, kebahagiaan yang mewarnainya. Dan harapanku, semoga mampu menutup renungan angka tiga ini dengan senyuman dan kebahagiaan. Apapun yang akan terjadi nantinya.
Ini adalah sekelumit cerita tentang angka tiga. Dan tentu saja setelah tiga tahun kedepan masih akan ada impian yang sangat panjang, harapan yang membentang luas yang akan aku ceritakan di lain episode. Tentang angka tiga ini, hanya sekelumit kisah menarik dalam hidupku untuk dibagikan. Meskipun cerita ini penuh makna, namun semoga tidak spekulatif dalam memaknainya. Karena ini semua cerita tentang keluarga, sahabat, teman-teman, aktivitasku, cerita hidupku, dan impian-impianku. Terima kasih kalian telah mengisi kehidupanku.


(Sebuah kisah yang menarik untuk memacu kembali inspirasi menulisku)
4 Agustus 2010

12.2.10

Mengapa kita harus menulis………??


Pernahkah kita lupa,,….???
Berapa kali kita lupa….??
Pada saat kapan kita lupa,,,..??
Dan pertanyaan penting selanjutnya adalah mengapa kita lupa,,,…..??


Benar tidak kalau lupa itu sesuatu yang wajar,,,..?? Sepakat tidak kalau saya katakan bahwa manusia itu tempatnya khilaf dan lupa,,,…?? Ya, lupa itu sesuatu yang wajar dan manusiawi. Tapi menjadi tidak wajar kalau kita selalu lupa berkali-kali, kemudian lupa lagi, dan lagi-lagi lupa. Supaya kita mampu meminimalisir lupa, maka menulisl adalah salah satu solusinya.

Manusia adalah individu yang memiliki banyak keterbatasan terutama dalam hal ingatan. Hanya moment-moment tertentu yang mampu kita ingat sampai sekarang. Padahal banyak moment berharga yang telah kita lalui dalam hidup yang mungkin kurang terpublikasi denagn sempurna. Keterbatasan inilah yang haru diantisipasi dengan mengabadikan setiap moment berharga, menyimpan semua ide yang penting dengan menulis.

Menulis merupakan aktivitas hidup. Dari bangku TK hingga kuliah, kita merekam ilmu pengetahuan yang kita dapat dengan menulis. Menulis adalah sesuatu yang mudah. Cukup dengan bekal sebatang pena, selembar kertas, menggerakkan tangan membentuk rangkaian huruf yang kita pikirkan maka kita sudah melakukan aktivitas menulis. Bahkan dari TK maupun SD kita sudah diajarkan untuk menulis. Dan syarat untuk menempuh kelulusan di perguruan tinggi adalah dengan menulis.

Namun yang membuat kita susah untuk menulis sebenarnya bukanlah karena kita malas untuk menulis, namun kita bingung dengan apa yang kita akan tuliskan, kita bingung akan sistematika tulisan, dan sejuta kebingungan lainnya yang membuat kita enggan untuk menggerakkan pulpen, atau menarikan jari kita di atas keyboard komputer atau laptop.

Jika kita tahu seberapa kuatnya pengaruh tulisan sebagai media, maka kita akan memiliki motivasi untuk menulis. Tulisan dapat membuat seseorang yang sebelumnya tidak dikenal menjadi terkenal, membuat seseorang menjadi kaya, bahkan bisa membuat orang masuk penjara. Begitu kuatnya pengaruh tulisan. Sehingga banyak sosiolog berpendapat, jurnalisme adalah kekuatan keempat yang mampu mengubah kondisi sosial dan politik sebuah negara.
Apabila ditanya mengenai alasan menagpa kita harus menulis, maka kita akan menemukan banyak alasan dan manfaat dari menulis. Motivasi tersebut bisa kita gali dari tekad dalam diri sendiri maupun motivai dari orang lain. Jika ditanya kenapa saya harus menulis, maka jawaban saya adalah....


Menulis itu merupakan firman Allah.

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, (Q.S. Al Qalam : 1)

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (Q.S. Al ‘Alaq : 4)


Terinspirasi dari seorang pemimpin besar Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan ”... ikatlah ilmu dengan menuliskannya....”.


Menulis itu bagaikan membuat prasasti untuk diri kita sendiri.

Kita mengenal praasti dari cerita kerajaan zaman dahulu. Prasasti merupakan suatu bukti sejarah mengenai keberadaan suatu kerajaan, bagaimana sejarahnya, dan bagaimana kehancurannya. Semua terekam dalam prasasti. Menjadi sebuah bukti dari masa lampau yang dihadirkan kemabli untuk masa kini. Kita bisa membuat prasasti itu sendiri untuk diri kita. Kita bisa menjadi pelaku sejarah dalam kehidupan masa depan nanti dengan membuat prasasti itu melalui tulisan.


Menulis dapat memperpanjang usia.

Bukan sulap buakn sihir, namun itulah kekuatan magis dari menulis. Kita hidup di abad 21 yang serba modern, namun kita dapat mengenal manusia dari zaman dahulu seperti Sir Isaac Newton, Galileo Galilei dari tulisan mereka. Artinya, meskipun usia jasad kita nantinya sudah tidak ada lagi, namun usia pemikiran kita akan selau dikenang dan diaplikasikan sepanjang zaman.


Menulis itu memperpanjang ingatan.

Ketika kita menuliskan sesuatu, maka kita telah melakukan beberapa proses belajar. Pertama kita mendapatkan ilmu dan menyimpannya di otak, kemudian kita melakukan proses berpikir lagi dengan memindahkan ingatan itu ke dalam tulisan. Dan proses terakhir yang tidak pernah berhenti adalah kita membaca kembali apa yang kita tulisakn dan itu dapat kita lakukan berulang-ulang kali. Semkin kita banyak membaca, maka ingatan kita akan semakin panjang terhadap apa yang kita tuliskan. Inilah mengapa dengan menulis kita mampu meminimalisir lupa.


Menulis itu juga berfungsi sebagai tabungan.

Ketika kita menabung uang, suatu saat uang itu akan habis untuk kita gunakan. Namun ketika kita menabung tulisan dan mempublikasikannya, maka tulisan dan apa yang kita tulis akan dapat berfungsi sebagai tabungan bagi kita, bukan dalam bentuk harta, namun amal yang akan kita peroleh kelak. Jadi, proses menulis bukan saja proses jangka pendek, nmaun jangka panjang untuk bekal kehidupan kita di masa datang.


Menulis itu bagaikan guru yang tak bersuara.

Menulis mampu mengajarkan orang lain untuk mampu mengetahui sesuatu bagaikan guru yang tak membawa spidol dan tak bersuara. Kita mampu menjadi guru tanpa harus kuliah di pendidikan, tanpa harus memiliki ijazah, tanpa harus berdiri di depan klelas hanya dengan menulis.



Beberapa tips untuk menulis yang ingin saya tularkan yaitu:

1. Menulislah dari hati.
Sesuatu yang datangnya dari hati maka akan sampai pula ke hati. Jika kita menulis dari dalam hati, maka kepuasan akan muncul sendiri ketika kita telah selesai menulisnya. Menulis denagn hati juga akan mendapatkan output yang baik untuk diri kita sendiri maupun odang lain. Itulah mengapa saya katakan jika sesuatu itu datangnya dari hati maka akan sampai pula ke hati.

2. Menulislah dari sesuatu yang ringan
Kita dapat mulai menuliskan sesuatu yang ringan, misalnya jadwal kegiatan harian, menulis catatan yang penting namun terkadang suka terabaikan,.atau kita dapat memulainya dengan menulis reviw agenda-agenda penting kita. menulis diary salah satu cara yang efektif untuk melatih kita untuk menulis. selain mengasah klemampuan berbahasa, menulis diary juga mampu merekam peristiwa yang etrjadi dalam kehidupan kita.

3. Tulislah apa yang kamu pikirkan.
Kalimat ini mungkin familiar di telinga kita. karena terkadang apa yang kita pikirkan tak mampu kita sampaikan secara lisan, maka kita mampu merekamnya dengan menuliskan apa yang kit apikirkan. Suatu ide dapat muncul tiba-tiba, suatu pemikiran yang besar juga muncul dari suatu gagasan yang kecil yang terkadang mampir di benak kita. Maka tidak heran ketika facebook bertanya kepada kita ”apa yang anda pikirkan?” dan seharusnya kita menjawabnya denagn menuliskan apa yang kita pikirkan bukan apa yang kita kerjakan.

4. Tulislah sesuai dengan apa yang kamu suka untuk tuliskan.
Jika kamu memiliki minat pada sastra, maka ekspresi dapat kamu keluarkan melalui tulisan. Lihatlah banyak sastrawan yang mampu menularkan ide, gagasan melalui media sastra. Seperti Buya Hamka atau Habiburrahman El Shirazy, seorang sastrawan yang mampu berdakwah melalui media sastra, Taufik Ismail yang mampu menyarakan realita sosial dalam bentuk puisi. Dengan m,enulis sesuai dengan minat dan bakat kita, maka kita akan menikmati aktivitas ini dan mendapatkan nilai plus yaitu menghasilkan sebuah karya.


Sampai disini, kita sudah melihat bagaimana dahsyatnya efek menulis, manfaat menulis. Namun itu semua akan menjadi sia-sia apabila kita tidak mampu menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Ibarat kata ketika kita menuliskan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka selama tulisan kita itu dibaca orang lain, kemudian diaplikasikannya, kemudian diajarkan kepada orang lain lagi yang kemudian ikut diaplikasikannya pula, maka kita tidak mampu membayangkan berapa banyak kita telah menyumbangkan sesuatu yang tidak bermanfaat kepada orang lain. Dan sebaliknya, ketika kita menuliskan sesuatu yang bermanfaat, kemudian dibaca dan diaplikasikan oleh orang lain kemudain diajarkannya lagi kepada yang lain, maka berapa banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari aktifitas sederhana ini, yakni menulis.

So, tunggu apalagi,,...?? Mari kita kampanyekan ”ayo menulis” pada diri kita sendiri dan menularkannya kepada orang lain.

8.12.09

Catatan Ramadhan: Mencari Makna Perjalanan

Ribuan langkah kau tapaki. Pelosok negeri kau sambangi.
Ribuan langkah kau tapaki. Pelosok negeri kau sambangi.
Tanpa Kenal lelah jemu. Sampaikan firman Tuhanmu.
Tanpa Kenal lelah jemu. Sampaikan firman Tuhanmu.*

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Aku mencoba memejamkan mata di sela-sela deru mesin kendaraan dan hembusan angin yang kencang, serta medan jalanan yang tidak rata. Kulepas jaket tebal yang sedari tadi menyelimuti tubuhku, dan kusembunyikan seluruh wajah dengan jaketku itu untuk menghalau laju angin yang menerpa wajahku. Jam di handphone menunjukkan pukul sembilan malam, artinya masih ada dua jam perjalanan yang harus kami tempuh untuk sampai ke tempat tujuan kami, sebuah Kabupaten yang berada di perbatasan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang lama perjalanan dari kotaku Samarinda kurang lebih tujuh jam. Sebelumnya, telah kami lalui perjalanan menggunakan bus, menyebrang dengan speedboat dan ini angkutan terakhir yang kami naiki.

Semakin aku memerintahkan mataku untuk terpejam, semakin kuat pula dorongan otak utuk melawannya. Berbagai macam pikiran bercampur baur menjadi satu. Teringat beberapa jam lalu sebelum kepergianku hari ini dimulai.


“Bu, uang jajannya ditambahin ya, soalnya lagi ngga ada dana nih buat berangkat.” Pintaku dengan wajah memelas sembari melipat pakaian yang akan ku bawa ke Tanah Grogot. “Soalnya bendaharanya lagi disana bu, lagipula keuangan memang lagi menipis nih. Berangkatnya aja kok ntar pulangnya gampang.” Lanjutku masih dengan wajah yang sama.
“Iya iya. Kalau sudah disana kan ngga bisa minta lagi sama siapa-siapa.” Jawab ibuku sembari mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru. “Ini jatah baju lebaranmu ya. Ngga ada tambahan lagi.”
“Baiklah. Alhamdulillah.” Jawabku, sembari tersenyum polos. “Ngga apa-apa deh ngga pakai baju baru, yang penting bisa berangkat.” Senyumku dalam hati.

Supir angkutan Penajam-Tanah Grogot masih memacu kendaraannya dengan kencang, sementara pikiranku masih berputar-putar tak tentu kemana arahnya. Perutku yang belum terisi makanan berat semenjak buka puasa beberapa jam lalu juga mulai memberontak sementara aroma makanan yang telah disiapkan ibu juga menggoda penciumanku. Sementara untuk makan, rasanya tidak mungkin dapat menelan nasi dalam perjalanan seperti ini.

Perang batin bergemuruh dalam pikiranku saat ini.
“Apa yang kau cari dari perjalanan ini Nisa?”
“Aku ngga tahu.”
“Kamu ngga tahu? Setelah sejauh perjalanan dan pengorbananmu kamu ngga tahu apa yang kau cari?”
“Aku benar-benar ngga tahu. Perjalananku adalah pemenuhan tugas dan amanahku.”
“Cuma itu?”
“Aku… A-aku… Ak-aku… sebenarnya aku tahu apa tujuanku. Hanya saja, aku malu, terlampau malu untuk sekedar membicarakannya dalam pikiranku.”
“Memangnya apa tujuanmu….?”
“Jangan tanya. Aku tak mampu mengatakannya….. sudah jangan tanya lagi….!!”

“Ka Nisa,… Ka….” Terdengar suara Aje yang duduk di sampingku membangunkanku dari tidur singkat. “Ada telepon dari Ka Jannah.” Lanjutnya.
Aku meraih handphonenya dan berbicara dengan Ka Jan di ujung telepon sana. Suaranya yang ramai menghilangkan sedikit kantukku.
“Dah sampai di mana de?”
“Ngga tahu Ka masih hutan nih.”
“Tanya sama siapa gitu. Atau sama sopirnya kah.”
“Iya.” Jawabku sambil tersenyum. Rupanya kakakku itu mengkhawatirkan kami juga.

Setelah itu suara yang ku dengar dari ujung telepon bermacam-macam. Sepertinya anak-anak disana berebut ingin berbicara denganku. Mereka adalah adik-adikku yang masih SMA. Semangatnya dalam menyiapkan kegiatan Training Ramadhan ini membuatku haru. Rasanya semua lelah, penat dan dilemaku terbang bersama angin mendengar mereka begitu menantikan kedatanganku. Ribuan langkah aku semakin dekat dengan kalian. Tunggulah kehadiranku disana pejuang-pejuang muda.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Hari demi hari kulalui disini. Sebuah kota kecil yang suasananya akan aku rindukan suatu saat nanti jika aku pulang. Kotanya masih asri dan suasananyapun tidak begiu ramai. Pernah aku bercanda pada temanku yang asli orang Tanah Grogot kalau suasana jalan rayanya sama seperti di Samarinda jam sebelas malam saking lengan dan sepinya kendaraan. Belum seminggu saja aku sudah hapal jalan-jalannya.

Ya, sudah hampir seminggu aku berada disini. Bergantian dengan Kak Jan mengisi training. Materi keislaman, kepemimpinan, dan yang lainnya juga kami sampaikan. Karena padatnya aktivitas disini hampir saja aku terlupa untuk menelepon rumah. Teringat beberapa malam lau ketika ayah menelepon dan aku bilang bahwa sedang mengisi materi. Teringat pula ketika hari-hari sebelumnya aku menghubungi orang rumah hanya untuk meminta kiriman pulsa. Pikiranku melayang-layang kehilangan fokus. Telingaku terpecah antara mendengarkan lantunan tilawah di masjid dan mendengarkan sisi lain di hatiku yang bergemuruh. Entah karena ikatan kerinduan yang begitu kuat, tak lama kemudian aku mendapat telepon dari rumah.

“Assalamualaikum ka, kapan pulang?” Suara adikku Monik yang masih kelas dua SD mengawali pembicaraan.
“Waalaikumsalam. Besok lusa de.” Jawabku.
Di belakang sana, terdengar suara adik kecilku yang sepertinya ingin bicara denganku juga.
“Kak, Aan mau ngomong.” Kata Monik kemudian.
“Halo…. Kakak apan ulan?” Suara adik balitaku kemudian terdengar.
“Sebentar lagi de. Tungguin aja ya.”
“Bawa ole-ole ya uat Aan.”
Aku tersenyum mendengar celotehannya. Tiba-tiba aku merasa rindu direpotkan olehnya. Merasa kangen bermain ataupun memarahinya. Jikalau aku tidak pergi, mungkin rasa rindu ini tidak kuat seperti biasanya.
“Kalau ada nanti kakak carikan ya. Mana ibu?”
Dan tak lama kemudian berganti menjadi suara ibu.
“Hallo. Eh, gimana sahurnya disana?” Tanya ibuku.
“Enak kok bu. Banyak panitianya yang masak. Kakak tinggal makan aja.” Jawabku.
“Kemaren ibu sakit ngga bisa puasa.”

Lama aku terdiam. Anak mana yang tidak tergetar hatinya mendengar ibundanya yang sakit? Aku merasa bersalah tidak ada di rumah saat ini, ketika ibu membutuhkan aku, menggantikan peranya mengurus rumah. Aku ingin pulang dan berada di rumah saat ini. Mendampingi buku, menggantikannya memasak dan menjaga adik-adikku.

Ada air mata yang tertahan di ujung kelopak mata. Hanya bisa tertahan tanpa aku mampu keluarkan. Entah karena betapa kerasnya hatiku, ataukah ini pertanda rasa cintaku yang teramat dangkal kepada ibu? Ibu yang begitu mengikhlaskan anaknya menjalani aktivitas lebih dari biasanya. Tidak melarang kegiatan ini dan itu seperti kebanyakan orang tua lainnya. Memberi kebebasan sepenuhnya kepdadaku untuk bertanggung jawab terhadap jalan yang telah aku pilih. Tak pernah protes ketika agenda di kampus ataukah kegiatan di luar yang memaksaku untuk pulang senja dan mengurangi aktivitas di rumah bersama keluarga. Ibuuu… batinku berteriak memanggilmu. Andai saja aku bisa pulang saat ini, mungikn aku sudah akan melakukannya.

“Sekarang masih sakit kah bu?”
“Sudah ngga. Ini Ibu sudah puasa. Kemaren empat hari ngga puasa.”
Dan hingga detik aku mendengar suara ibu ini, aku menyadari bahwa ibu mengabarkan setelah ia sembuh. Ibu tidak ingin aku mencemaskan keadaannya.

“Bu…..” Berat kata-kataku untuk melanjutkannya. “…. Nanti kalau kakak ke Samarinda, ada yang mau di selesaikan dulu disini. Jadi, ngga bisa nginap dirumah dulu. ngga apa-apa kah bu?”
“Iya ngga apa-apa. Nanti kabari aja ya.”

Hingga telepon itu terputus pun, aku masih tidak sanggup untuk mengeluarkan air mata. Ya Allah betapa kini kusadari, semakin jauh perjalanan Kau mengajarkanku arti kerinduan. Semakin lama waktu memisahkan akan semakin membuat makna tentang arti pertemuan. Ternyata dengan jalan ini Kau menyadarkan aku arti akan sebuah cinta dari keluarga. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Ketika setiap hari bertemu, bertatap wajah dan bercerita tentang hari-hariku, tentang aktivitasku dan tentang cita-cita dan masa depanku, setiap hari mencium tangan dan memberikan senyuman, rasa kerinduan ini tidak pernah tumbuh sedemikian kuatnya. Kerinduan akan arto sebuah keluarga, baiti jannati. Aku rindu rumah. Rindu yang tak pernah terpikirkan olehku ketika seharian meninggalkan rumah.

Ramadhan ini, aku ingin juga menikmati sahur dan buka puasa bersama ibu, ayah, dan keempat adik-adikku. Monik mulai belajar puasa, Aan belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya sembari menikmati buka puasa dengan anak-anak kecil di masjid. Rezza dan Puput belajar rajin shalat dan tepat waktu. Ramadhan ini kami semua mengalami proses belajar. Sementara aku disini, ratusan kilometer dari mereka, aku belajar banyak dari perjalanan. Belajar memahami sebuah makna, sebuah arti dari ikatan indahnya sebuah keluarga.

Teringat kembali dialog batinku saat aku memuli perjalanan ini. Aku malu untuk mengatakan tujuanku menempuh perjalanan ini. Kini ku azzamkan dalam hati dan dalam diri, tujuan itu akan tetap terpatri dalam perjalananku pulang nanti, dan juga perjalanan-perjalanan hidupku setelah ramadhan ini berakhir, dan menyongsong Ramadhan-Ramadhan yang akan datang. Aku berjalan mencari Ridho Ilahi.

“Ibu, besok lusa Kakak pulang. Tunggu Kakak di rumah ya……….”


*Smd,111009*

*spesial buat ade2ku yang ada disana,....*


*) Lirik Nasyid Sang Murabbi, Izzatul Islam


17.8.09

Profesi Pengamen dan Pengemis




Pernah memperhatikan pengamen yang sedang menyanyi atau melihat pengemis yang sering memohon bantuan? Saya suka mengamati mereka. Ketika suatu saat sedang makan siang di dekat kampus daerah Pramuka, sedang asyik makan saya senang mengamati gejala sosial seperti itu. Banyak pengemis dan pengamen yang tidak hanya satu berkeliaran sepangjang warung di daerah Pramuka.

Ceritanya begini, suatu saat lagi makan di salah satu warung makan. Berhubung jam makan siang dan warungnya cukup terkenal, jadilah ramai sekali saat itu. Sewaktu dapat tempat duduk dan baru memesan makanan, datang seorang ibu-ibu lumayan tua mencoba mengetuk hati kami dan menengadahkan tangan. Seorang temanku mengulurkan bantuan. Ketika makanan kami datang dan hampir selesai makan, kira-kira tidak sampai setengah jam, ibu itu kembali datang dan mengulurkan tangannya menghampiri meja kami. Mungkin karena pengaruh usia sehingga beliau lupa sudah meminta belas kasih sama kami. Tentu permohonan kedua itu tidak kami respon.

Setelah berlalu, iseng aku mengutarakan analisisku pada teman-teman satu meja. Dalam waktu setengah jam, si ibu mengelilingi warung sepanjang pramuka, anggaplah ada lima warung makan dan setiap warung sekali jalan dapat lima ribu, jadi dalam waktu setengah jam penghasilannya sebesar dua puluh lima ribu. Belum lagi dalam setengah jam kedepan kembali pada rute rumah makan yang sama, keesokan harinya pun kembali dengan rutinitas yang sama, berapa banyak penghasilannya. Dan temanku sedikit tercengang saja denagn analisisku. Aku lanjutkan beranalisa, jika memang sang ibu sedang butuh uang, bukankah dia hanya cukup melakukan profesi itu sehari-dua hari dan kemudian menjadikan pendapatannya itu sebagai modal untuk bekerja yang lain? Dan pada kenyataannya, setiap kali kami makan di warung yang berbeda, kami menemui ibu yang sama dan dengan kostum bahkan jilbab yang sama. Dan dengan mimik wajah yang sama pula.

Cerita selanjutnya berlangsung ketika aku dan teman-teman makan siang di warung yang berbeda. Ada dua orang pengamen, yang satu membawa gitar dan yang satu vokalisnya sambil membawa bekas gelas air mineral. Jata teman sih itu duet pengamen yang suaranya paling bagus se-Pramuka. Setelah merka menyanyi, ya bolehlah aku akui kalau suaranya memang bagus dan cukup menghibur. Dan kemudian, dengan rokok mengepul di tangan, sang vokalis mengedarkan gelas meinuman itu ke penjuru warung makan yang lumayan besar. Mulanya, aku berniat memberi, sekedar mengapresiasi dan menghargai hiburan yang kunikmati, tapi batal ketika aku membayangkan uangku dan uang dari orang-orang itu akan dihabiskan untuk membeli rokok yang akan berubah menjadi asap dalam waktu sekejap, juga karena melihat badan-badan tegap mereka yang masih muda yang aku yakin mampu mengeluarkan tenaga untuk bekerja lebih baik dibandingkan hanya menjadikan mengamen sebagai profesi.

Analisisku kembali bermain. Mungkin secara pengahasilan analisisnya kurang lebih sama denagn analisis pertama. Mencoba berpositif thinking, namun aku tidak menemukan celahnya. Jika memang mereka tidak mampu bekerja karena lapangan kerja yang tidak ada, bukankah bisa menggunakan metode yang sama seperti yang aku pikirkan untuk sang ibu pengemis ya? Sehari-dua hari mengamen dan penghasilannya dijadikan modal usaha dan bekerja layak. Dan tentu saja kemudian berhenti mengamen.

Saya sempat mengutarakan gagasan sama teman, bagaimana jika saya membuat penelitian tentang gejala sosial ini. Skenarionya, saya duduk di suatu warung makan yang cukup ramai dan terkenal, kemudian duduk disana selama satu hari penuh dan mencatat berapa pengemis dan pengamen yang berada disana dan berapa kali orang yang sama kembali pada warung yang saya teliti. Kemudian mencoba mengkalkulasi berapa pendapatan mereka satu hari. Sepertinya keren untuk bahan skripsi. Tapi sayangnya saya dan teman-teman itu mahasiswa sains semua, ngga ada yang mahasiswa jurusan sosial.

Berbicara mengenai profesi, sebenarnya tidak semua pekerjaan bisa dikatakn sebagai profesi. Ada beberapa kriteria yang menjadikan pekerjaan tersebut menjadi profesi, diantaranya adalah pekerjaannya berupa pengabdian kepada masyarakat (selebihnya ngga dicatat sewaktu dosen menerangkan). Tapi cukup tergelitik juga sih ketika begitu banyak orang yang mengandalkan pekerjaan itu sebagai mata pencaharian mereka. Artinya, mungkin mereka hanya ingin berada dalam zona nyaman dengan pekerjaan ini yang notabene mendapatkan uang lumayan dengan cara cukup mudah. Padahal, dalam Al Qur’an sendiri diajarkan bahwa

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Q.S. Ar Ra’d:11]

Bahkan dijelaskan pula dalam hadist bahwa “ Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima).” [H.R. Bukhari].

Saya sebenarnya tidak melarang untuk bersedekah. Bahkan Allah SWT memberikan ganjaran yang besar bagi kita yang bersedekah.

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa [Q.S. Al Baqarah:276]

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [Q.S. An Nisaa':114]

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. [Q.S. Ibrahim:31]

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [Q.S. Al Baqarah:261]

Insya Allah ladang amal dan ladang sedekah sangat tebuka lebar. Kita dituntut lebih selektif untuk memilih mitra dalam kebaikan (maksudnya calon penerima sedekah kita) supaya kita dapat beribadah dan bersedekah yang membawa manfaat bagi diri kita sendiri dan bagi sekitar kita. Coretan ini hanya sebagai pemikiran dari diri saya pribadi untuk mencoba mendidik mereka dengan cara yang saya miliki. Hanya Ridho Allah SWT yang berusaha saya cari.

Wallahu a’lam bissawab.
Cmiiw
Samarinda, 120809







Ketika Berharap Berakhir Bahagia

Menulis cerita adalah salah satu hobbyku. Karena dengan menulis aku mampu mengekspresiakn dan mengimajinasikan segala jalur imajinasiku. Aku suka menulis cerita berupa karya sastra seperti puisi, cerpen, bahkan mungikin novel. Dengan menulis, aku mampu mengeluarkan beban yang bertengger di pundakku. Dengan menulis pula aku menyalurkan curahan hatiku.

Kalau menulis puisi, inspirasiku tak bertepi (ngutip slogan Annida). Terkadang apa yang ada di lintasan bisa mengalir saja ku tulis. Yang penting keindahan bahasa dan kesatuan makna. Aku terinspirasi dari gaya penulisan Chairil Anwar, yang berbeda dari zamannya dimana keterikatan oleh aturan gaya penulisan masih terasa. Tapi kalau diperhatikan, aku lebih suka puisi yang ber-rima sama di belakangnya, minimal satu bait sama.

Aku juga suka menulis cerpen. Dengan cerpen, ku butuh waktu dan konsentrasi cukup dan sedikit waktu yang lebih dibandingkan membuat puisi. Sebuah cerita, terkadang banyak sisi yang aku peroleh dari kehidupan sehari-hari. Imajinasi juga bisa datang dari segala penjuru sisi kehidupanku. Terkadang sesuatu yang kurang mendapatkan perhatian dari orang lain bahkan menjadi tokoh utama dalam khayalan ceritaku. Sembari meramu cerita fiksi, terkadang kuselipkan curahan hati. Aku bisa menumpahkan banyak curhat terselubung dalam cerpen, komposisinya ya tergantung suasana hati. Suatu saat kompisisi cerita nyatanya bisa melebihi 60 persen, terkadang hanya sedikit saja atau bisa tidak sama sekali.


Aku lebih menikmati menggunakan sudut pandang orang pertama dibandingkan orang ketiga. Soalnya lebih bebas curhat dengan gaya bahasa “aku”, seolah-olah aku berbicara tentang apa yang terjadi dalam diriku, padahal ngga semua sih. Menikmati alur dalam cerita sendiri itu mengasyikkan, terutama ketika mampu menyatu dalam sedih dan bahagianya sang tokoh utama. Berasa telah memberikan jiwa pada isi tulisan. Kalau sudah merasa menyatu begitu, aku tidak lagi memperdulikan perkataan orang yang mengejek tulisanku (tapi masih membuka telinga untuk mendengar pujian, kritikan, saran atau ejekan kok) ;)

Di akhir cerita, entah mengapa aku suka membuat ending sedikit menggantung atau berakhir sedih (sad ending). Karena aku memiliki pemikiran bahwa cerita pendek hanyalah potongan kecil dari gambaran fiksi kehidupan. Dimana sebuah potogan kecil cerita hidup, hanyalah sepenggal cerita. Dan terkadang cerita tidak selalu berakhir dengan indah. Dan because life always go on, maka cerita tersebut juga –dalam sepotong kisah itu, belum berakhir, always go on.

Namun terkadang, ketika akhir sebuah cerpen itu sedih, kebanyakan penonton kecewa ;) padahal cerita sedih itu banyak kita jumpai dalam kehidupan sekitar kita. Dan kehidupan nyata tidak selalu berkisah seperti cerita cinderella atau film-film bollywood. Dan terkadang, ketika cerita telah dibuat dan dirancang, akhirnya aku buat juga berbagai episode jadi cerita bersambung dan cerita yang berhappy ending. Kadang ngga tega juga kalau tokoh ceritanya menderita.

Ya, inilah sekelumit cerita dari balik dapur redaksi,… hehe,….


27.7.09

Menikmati liburan seru di Air Terjun


Sabtu kemarin, setelah beberapa bulan agenda ini diwacanakan, akhirnya terwujud juga, yakni jalan-jalan setelah Pekan Fisika. Rencana awal, jalan-jalan ini dimulai jam delapan pagi ngumpul di kampus. Berhubung aku musti ngurusin anak asuh alias adekku yang lagi ada sedikit problem sama teman sekelasnya, jadinya aku harus datang terlambat dan langsung meluncur ke TKP. Jam setengah sebelas baru aku pergi, dan untungnya ada teman juga yang pagi musti ngajar dulu, jadilah kami bergoncengan berdua pergi ke Air Terjun Tanah Merah.

Perjalanan kami berdua sempat terhambat sedikit karena rantai motorku lepas. Alhamdulillah, bapaak-bapak yang ada di belakang kami langsung nolongin betulin rantainya si Ranger Biru ku. Rasanya ucapan “terima kasih” tidak cukup untuk membalas kebaikan bapak itu \(*,*)/

Akibat insiden kecil ini, aku ragu-ragu juga memacu kendaraan terlalu cepat. Jadinya ga berani laju-laju, Cuma di kisaran 40 sampai 50an kilometer per jam saja. Padahal kalau normal bisa 60 sampai 70an. Lokasi air terjunnya di jalan raya Samarinda-Bontang. Kontur tanahnya bergunung-gunung dan berbelok-belok. Seperti jalanan Samarinda-Tenggarong, tapi jalanannya masih alami. Jadilah perjananan kami disuguhi pemandangan sawah-sawah dan pepohonan. Oh iya, itu kali pertama aku ke tanah merah bawa motor sendiri.

Sebenarnya aku tahu lokasinya, ngga jauh kok, mungkin 30 menit sampai. Patokannya pokoknya ada plang di kanan jalan. Sepanjang aku ngga menemukan plang, maka dalam pikiranku, kami belum akan sampai. Tapi, kok aku merasa perjalanan kami semakin jauh, dan situasi semakin sepi. Aku mulai curiga karena kami tidak juga menemukan plang yang dimaksudkan. Aku semakin curiga ketika aku melihat SMP dimana ayahku dulu sempat ngajar, di km 37 Samarinda-Bontang. Dan itu jauh, jaauh sekali dari lokasi air terjun! Aku suruh saja si Jannah turun tanya ibu-ibu di warung.

“Bu, mau nanya. Air terjun dimana bu ya?” Tanya Jannah
“Wah sudah lewat de. Jauh dai sini. Ini sudah perbatasan.”

Kami berdua kaget aja.

“Pokonya dekat pelebaran jalan, ada penggilingan padi disana.”

Wah, pelebaran jalan? Itu kan jauh banget. Akhirnya kami mutar. Dan benar saja. Jauh banget,… Seperti perjalanan pulang balik air terjun-kampus. Da sepanjang jalan kami tertawa aja sambil balap-balapan sama bus Damri Bontang. Takut nyasar lagi, kami jadi sering nanya orang di jalan. Dan yang terakhir, kami mau tanya sama bapak penjual pentolan. Dan belum sempat tanya, ternyata jalan kecil sebelah bapaknya itu ada plang yang tertutup pohon..! Itulah jalan menuju tempatya :wataw:



Alhamdulillah kami sampai, dan langsung makan. Laper euy dari pagi elum makan. Habis tu langsung diajak naik ke atas air terjun, aku ya menolaknya. Soalnya sakit perut ntar. Dari teman-teman yang sebelumnya sudah naik, aku dapat cerita kalau di atas mereka lihat orang pacaran. Wah kalau aku jadi mereka aku bakal gangguin sampai mereka risih sendiri…!! Enak saja berbuat tidak baik di tempat umum….!!!

Habis itu, aktivitasku banyak ku habiskan untuk bermain ayunan. Selain memang pengen, juga karena di ayunan itu ada orang pacaran berduaan. Kontan usilku kumat. Gangguin aja biar mereka tahu diri…!! Dan benar saja, ngga lama mereka pulang, bagus bagus. Di tempat lain juga ada orang bermesraan,…!! Aku lanjutkan saja,.. dekati mereka, buat mereka risih bermesraan,… haha ampuh lagi ;)

Serunya liburan kali ini. Meskipun ga ikut hiking ke atas air terjun, aku senang saja melihat tingkah polah teman-temanku yang seperti kemabli ke masa TK,. Main ayunan, kuda-kudaan. Alhamdulillah, meskipun sebentar, banyak kesan yang aku dapatkan.



26.7.09

My Trip, Traveling, dan Pengalaman Liburan Seruku


Aku suka travelling. Bukan sekedar jalan-jalan saja sih, jadinya pada saat aku pergi ke suatu tempat, sebenarnya bukan sedang liburan. Tapi ya sekalian lah,…. Hmmm,.. perjalanan travelling ku sudah menjelajahi beberapa kota nih, baik itu di Kalimantan Timur sendiri atau keliling Indonesia. Kebanyakan, perjalananku itu membawa misi kenegaraan (hehehe,…) tugas organisasi. Jadi ya ke tempat wisatanya ya masuk dalam agenda kegiatan, kalau ngga ada di agenda kegiatan ya cukup numpang foto aja di tempat itu he he he,…..

Pertama kali aku keluar kota itu waktu kecil, biasalah tradisi mudik alias pulang kampung. Waktu itu perjalanannya ke Surabaya ke tempat mbah dan asal muasalnya ayah, dan dilanjutkan ke Tegal, Peklongan, Brebes ke asal muasalnya ibu. Waktu itu masih kecil banget, jadi ngga ada kenangan yang masih menempel (kecuali waktu mandi di kali). Terus ke Surabaya lagi berdua dengan ayah waktu naik kelas dua SMP. Perjalanannya lumayan jauh soalnya naik kapal dari Banjarmasin, jadinya sempat menginjakkan kaki di Kalsel juga. Pengalaman ini sangat berharga sekali buat perjalanan travelingku selamjutnya lho,. Disimak sampai habis ya :p

Selanjutnya, aku pernah pergi ke Ambon, Maluku, untuk menghadiri Muktamar Nasional PII ke 25. Waktu itu mau naik kelas 3 SMA, kalau engga salah berangkatnya tanggal 28 Juni 2006. Waktu itu, masih hijau banget soal organisasi, jadinya belum terlalu memahami makna dan arti muktamar itu apa. Pada kegiatannya sendiri sih, aku kebanyakan menjadi penonton dan pengamat saja 8-) sesuai dengan statusku waktu itu jadi “peninjau” forever,. He he he…..

Oke aku ceritakan perjalanannya. Sebenarnya, aku baru bilang mau pergi itu dua hari sebelum kami benar-benar pergi. Jadi dadakan gitu, untung aja dibolehkan dan ngga ada hambatan, meskipun ortu sempat kaget juga,. Akhirnya kami pergi, tapi ke Makassar dulu transit di sana. Kami pergi naik kapal ke Makassar dan terombang-ambing di lautan sehari semalam. Sampai di Makassar, tinggalnya di kostan dekat Unhas, jadi tempat wisata tujuan kami ya Unhas itu :) hebat juga lho kami, sudah beberapa kali diajak berkeliling Universitas itu. Trus, kami pergi juga ke Ambon, kali ini naik pesawat. Alhamdulillah sampai dengan selamat disana. Satu minggu jalanin tugas kenegaraan, sampai juga di agenda jalan-jalan. Kami pergi ke pantai sana. Oh iya, yang berkesan itu makanannya. Makanannya lumayan asing dengan lidahku. Ada sagu, papeda, bener-bener lain dah pokoknya makanannya. Mungkin belum terbiasa kali ya, jadinya rada rewel juga ini lidah. Yang paling berkesan ya papeda. Bener-bener ngga terlupakan dah,.. :D

Pulang dari sana, mampir ke Makassar lagi. Nah baru ini bisa jalan-jalan. Ke Mall Ratu Indah, trus nikmati wisata kuliner disana juga. Yang berkesan itu ya makan sop konro, meskipun di Samarinda juga banyak yang jual, tapi kan keren juga bisa makan dari daerah asalnya sana. Tapi kok aneh ya, disana malah cari cotto makassar ga nemu :)

Perjalanan selanjutnya yang berkesan itu waktu ke Kabupaten Paser di Kaltim juga. Pertama kalinya ke sana, dan ngga pernah sama sekali menginjakkan kaki dan mendengar kabar apapun tentang daerah itu. Perginya pas awal bulan puasa 2006 juga. Bahkan, perginya cuma bertiga dan perempuan semua. Pergi dari Samarinda jam setengah empat, sampainya jam setengah dua malam. Sudah gitu sampai di lokasi acara malah buat kegaduhan sampai didatangin orang sekampung bawa parang ;) Waduh kacau dah waktu itu.

Rencananya, ke sana mau ikut Intermediate Training. Tapi ngga jadi karena kami kekurangan peserta. Akhirnya pulang deh beberapa hari berikutnya, soalnya dengar kabar ada kegiatan serupa di Kalsel, jadi cari info dari rumah (padahal sebenarnya alasan pulang itu karena masih takut dicariin warga :D).

Dan akhirnya kami jadi pergi ke Kalsel, minggu kedua puasa. Kejadiannya sama seperti sebelumnya, belum tahu lokasi dan hanya punya petunjuk dari telepon sama teman-teman disana. Dan pengalamanku naik bis ke Banjarmasin dulu lah yang jadi andalanku, soalnya kedua temanku belum pernah naik bus sama sekali.jadilah aku penuntun jalan lagi. Sesampainya di Banjarmasin, ternyata lokasi kegiatan bukan disitu, tapi di Marabahan, jauh lagi dai Banjarmasin. Dan kami pergi siang-siang pas puasa. Waktu itu digonceng sama mbak instrukturnya disana. Perjalanannya, mungkin seperti Samarinda-Tenggarong, tapi jalanannya lurus aja, ngga berliku-liku seperti di Tenggarong. Sepanjang mata memandang, banyak banget hutan gambut yang terbakar, sungguh memilukan :(. Kejadian yang diingat waktu training, pernah ada kabut asap yang tebal banget, padahal aku kan punya asma, jadinya terima materi pas training di salam kelas pakai slayer.

Disana, ngga sempat kemana-mana. Selesai acara, balik ke banjarmasin, langsung pesan tiket pulang. Kangen rumah euy, maklum ngga pernah ninggalin rumah selama itu waktu puasa. Dan benar saja, kami pulang lima hari sebelum lebaran. Jadi beli oleh-olehnya makana di bus aja, beli dodol kandangan yang banyak.

Habis itu kemana lagi ya…? Oh iya, pas tahun 2008, bulan Juli. Kami pergi ke Pontianak, menghadiri Muknas PII ke 26. Meskipun di peta itu Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur satu pulau, tapi ngga ada akses darat dari Samarinda ke Pontianak. Walhasil, kami pergi ke Surabaya dulu buat meneruskan perjalanan ke Kalbar. Perjalanan naik kapal, dua hari semalam. Sampai di sana sore. Langsung di drop ke sekretariat PII Jatim. Malamnya kami sempat jalan kaki lihat-lihat kota Surabaya. Sampai arut malam, kami sama sekali ngga bisa tidur. Oh iya, belum aku ceritakan, kalau kami besok subuhnya bareng sama teman-teman dari Jatim dan Jogja pergi lagi naik kapal menuju ke Pontianak. Tengah malam, rombongan dari jogja datang. Dan subuhnya, kami carter angkot menuju ke pelabuhan lagi.

Sesampainya disana, kekecewaan yang kami dapat. Kapal kami di delay. Katanya sih, siang baru berangkat, ternyata delay lagi, delay lagi sampai akhirnya malamnya baru berangkat. Jadi, aktivitasku seharina ngga jelas itu di pelabuhan, tidur dan melampiaskan rasa lelahku di sana. Eeh siang-siangnya ada dangdutan di sana sebagai hiburan :toe: Rupanya disana ketemu sama teman-teman dari Ambon. Sorenya, sudah bersiap-siap berebutan sama penumpang lainnya cari tempat ter pw di kapal. Ternyata eh ternyata, sudah naik, kapalnya dinyatakan ngga bisa berlayar.. jadilah kami jadi penumpang terlantar lagi di pelabuhan. Kira-kira malam jam sepuluh barulah bisa duduk tenang di atas kapal, itupun dapat tempat yang kurang nyaman, tapi okelah buat beristirahat, cukup save juga kiri-kanan. Yang jadi problem kalau lagi di kapal itu, apalagi kalau goyang-goyang, paslagi shalat, kadang berdiri aja mau jatuh, tapi itulah seninya. Pokoknya total perjalanan kami seminggu berada di atas laut dari Balikpapan ke Pontianak. Sampai-sampai ada teman yang mau shaum senin kamis, dikiranya hari kamis, padahal itu hari jumat :D

Pasca kegiatan muknas, sempat jalan-jalan sih di Pontianak, pergi ke tugu nol derajat trus beli oleh-oleh manisan dan dodol lidah buaya. Pulangnya kami lagi-lagi naik kapal. Tapi kali ini agak rame juga, soalnya bareng sama teman-teman dari Jakarta dan beberapa dari Sumatera. Trus menginjakkan kaki di Jakarta deh beberapa hari. Sampai di Jakarta juga ga sempat kemana-mana, cuma main ke Monas, itupun jalan kaki aja. Oh iya, mampir ke Kwitang sebelum digusur, cari buku-buku bajakan, he he. Dan alhamdulillah, pulang ke Kaltim nya naik pesawat, akhirnya :D

Beberapa bulan selang dari muknas, kembali traveling lagi ke Jakarta. Bedanya, kali ini pergi alone, sendiri. Sudah sendirian, dibawain bekal buku satu koper lagi, beneran buku semua tugh yang dibawa, baju malah sedikit. Meskipun sebelumnya sudah pernah kesana, tapi kan kondisinya beda. Sendiri dan cuma dituntun arah pakai hape. Waktu itu ada kegiatan Advance Training, training ketiga setelah Intra. Jadi dah, sewaktu sampai di bandara dituntun suruh naik Damri, padahal bingung tuh yang mana Damri, untung aja ada di sana (ya iyalah wong mangkalnya emang disana) disuruh turun di Gambir, trus ntar dijemput di sana. Ya udah deh, padahal wajah sang penjemput juga ngga tahu, mengandalkan feeling aja,. Alhamdulillah ketemu, katanya udah keliatan banget kalo mau ikut advan ciri-cirinya kelihatan dari jauh,. :)

Waktu itu lagi puasa, dan ternyata, puasaku hari itubertambah satu jam lho,… Sahurnya ngikut waktu Samarinda, bukanya ngikut waktu Jakarta. Begitu buka puasa langsung deh digiring ke Karawang, soalnya lokasi training disana dan ternayta jam sepuluh baru sampai, padahal belum nemu nasi tuh. Jadi dah malam-malam cari makanan di depan Islamic Centernya sana. Selam adi karawang juga ga sempat kemana-mana, cuma sempat ke mall nya sebentar, itupun ngikut teman yang cari ATM. Ternyata pulangnya ada insiden, ketemu preman yang lagi malak orang di dalam bis, dan orang yang di palak itu tepat di belakang kursiku. Duh jantungan dah, serasa mau teriak aja ngalaminnya.

Selesai training, kembali ke Jakarta. Dan perjalanan baru akhirnya ditempuh lagi. Gara-gara diajakin sama teman yang dari Jatim sama Jateng buat pulang kampung sebentar, yaah tergoda juga. Setelah telpon orang rumah, akhirnya direstui buat pulang ke rumah pak dhe di Surabaya. Jadilah besoknya kami ke Senen beli tiket ke Surabaya. Habis dari senen, mampir ke Monas lagi, tapi kali ini masuk and naik ke atas. Sempat foto-foto juga disana ;). Padahal jam satu kereta kami berangkat. Kami naik kereta kelas ekonomi, Cuma 36 ribu sampai ke Surabaya, wah aku heran. Tapi pang, berdesak-desakan, banyak orang jualan dan pengamen full nonstop. Keren dah pokoknya, journey tak terlupakan :D

Hmmm,…. Sebenarnya banyak tempat lagi yang ingin aku kunjungi. Yang pengen banget itu pergi ke Sumatera, Sumatera mana aja lah, pokoknya keren aja kalau bisa menginjakkan kaki ke Sumatera. Aku juga pengen naik motor melewati jembatan Suramadu,.. Hmmmm kapan ya,…?,,. Semoga kesampaian deh ;)