Showing posts with label cermin. Show all posts
Showing posts with label cermin. Show all posts

15.10.13

Kerudung Jingga | Kejutan Sebelum Ramadhan

Pengantar: Ehm, cerpen ini ikut dibukukan dari 200 karya terpilih dari @nulisbuku





 ------------o0o-------------

Setiap orang lahir dengan banyak impian yang dihembuskan menjadi doa dalam helaan napas ibundanya ketika pertama kali ia menyapa dunia. Sebuah hela napas panjang seorang ibu yang memutus fase mengandungnya, mengantarkan ia menuju fase amanah baru yang akan dipikulnya sepanjang hayat sebagai seorang insan. Kiriman doa akan terlantun begitu saja ketika mendengar tangisan pertamanya. Namun beban beratnya kehidupan, menjadi bayang-bayang begitu tangisan selanjutnya terlantun menggema memenuhi ruangan tempat ia dilahirkan.

Aku lupa dengan tangisan pertamaku ketika lahir di dunia. Tapi entah mengapa, aku selalu teringat tangisan-tangisanku selanjutnya. Apakah itu karena aku terlahir tanpa impian, tanpa doa atau tanpa harapan dari orang-orang? Ataukah aku terlahir hanya menjadi beban bagi kehidupan yang semula sudah amat berat? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, sekarang aku hanyalah seorang lelaki beranjak dewasa yang setahun lagi menginjak kepala dua namun masih terjebak pada seragam putih abu-abu.

Tak perlu kuhabiskan waktu menjelaskan mengapa berulang kali aku tidak naik kelas, atau seberapa bermasalahnya aku dengan orang yang ada di sekelilingku. Bagiku hidup bukan hanya selembaran nilai rapor yang harus ditandatangani orang tua setiap akhir semesternya. Bagiku, hidup jauh lebih rumit daripada itu. Dan kenyataan bahwa orang yang menyebabkan rumitnya hidup yang harus ku jalani ini adalah orang yang amat ku sayangi, itu semakin menambah rumit kehidupanku.

Lupakan sejenak tentang itu. Kini, pikiranku tiba-tiba beralih pada sebuah fokus kehidupan yang lain. Mentari Jingga memang mengguratkan keindahannya yang cukup menyihir walau hanya sekejap mata dan kemudian pergi. Aku tidak memiliki kuasa untuk menahannya, karena aku bukanlah siapa-siapa. Pemuja rahasia? Mungkin saja. Mungkin aku seorang yang menunggu semburatnya untuk mengantarkanku terlelap dan bermimpi. Karena di siang hari, aku tidak memiliki mimpi yang nyata. Karena di malam hari ketika tidur, itulah impianku yang sesungguhnya.

            Ah, aku tidak mampu mengontrol wajahku untuk tidak tersenyum ketika melihat wajahnya dari kejauhan.

***

Aku tidak tahu apa itu cinta. Tapi apabila kamu merasakan kebencian yang amat sangat dalam, namun dengan hanya melihat mata teduhnya saat ia kelelahan kamu mampu melupakan semua kebencianmu, apa itu dinamakan cinta? Kata orang, cinta butuh bukti tidak sekedar pernyataan. Ketika kamu tiba-tiba berpikir untuk melakukan sesuatu sebagai bukti cintamu, apakah kamu sedang merasakan jatuh cinta? Kalau memang seperti itu, maka aku akan membuktikan semua itu pada orang yang sangat ku cintai dan akan berusaha memaafkan semua kesalahannya. Kesalahan fatal sekalipun.
 
***

Pagi ini, aku melihat Mentari Jingga sedang sibuk dengan kardus-kardusnya, dan instruksi-instruksi yang keluar dari bibirnya. Betapa sibuknya sekelompok orang di depan gerbang sekolah ini. Hari ini sekolah diliburkan jelang Ramadhan, dan seperti agenda rutin tahunan sekolah ini, OSIS akan melaksanakan bakti sosial membagi sembako ke Panti Asuhan sebagai kado Ramadhan kepada yang kurang mampu. Dan jangan tanya mengapa hari ini aku ada di sekolah, karena aku juga sedang berencana memberikan kado untuk orang yang spesial.

            “Ran! Ini kardus gula yang belum di packing kamu bawa ke anak-anak di sekretariat untuk di packing sekarang!” Teriaknya pada seorang gadis berkacamata bernama Rani yang berdiri tidak jauh darinya.

            “Mamat, Mat! Sumbangan Bu Neni sudah diambil belum? Ambil sana gih ntar gak keburu di pack sama anak-anak!” Teriaknya lagi pada yang lain. Dan semakin terlihat betapa sibuknya dia memberikan instruksi pada yang lain. Ia sendiri, gadis belia berkerudung putih susu, sibuk pula mengangkat beberapa dus yang tertumpuk di depan gerbang sekolah. Sementara aku, si berandal yang terkenal suka bikin rusuh, mengamatinya sambil berpura-pura membaca buku, di sebuah bangku tidak jauh dari situ.

       “Tari… Tari…!” Seorang anak perempuan teman sekelasku yang ku tahu bernama Nita menghampirinya dengan tergesa-gesa. “Pihak Panti Asuhan sudah siapkan acara penyambutan nanti jam sebelas. Tapi mobil pick up yang kita sewa kemarin barusan konfirm nggak bisa ngantar. Aduh Gue bingung musti sewa kemana lagi. Pakai mobil anak-anak udah Gue hitung-hitung nggak cukup. Mana acaranya tiga jam lagi, di sekretariat masih banyak yang harus dikerjakan lagi” Sambung Nita dengan panik.

            Bisa kulihat kalau Mentari Jingga sang ketua panitia mulai panik dengan situasi yang tidak diduga ini. Menurutku sih ini masalah sepele saja, namun sepertinya karena kelelahan sejak tadi pagi, juga mungkin dari kemarin-kemarin, ia bingung juga. Aku menghentikan bacaanku dan segera datang menghampiri mereka. Sebuah kejutan sepertinya melihat reaksi kedua orang ini yang memandangku dari ujung kaki hingga ujung kepala seperti sedang memberikan sensor Sinar X padaku.

            “Ada yang bisa dibantu?” Ucapku datar sambil membalas tatapan aneh mereka berdua.

            Taka ada balasan.

            “Hmm oke sorry, tapi tadi gue gak sengaja dengar dari sana.” Lanjutku sembari menunjuk ke arah bangku dimana tadi aku tiduran sambil pura-pura baca buku. 

Tak ada balasan lagi.

“Gue bisa mengusahakan pick up jam sepuluh. Gue bisa nyetir. Asal harga sewanya cocok, gue juga bisa bantu angkat-angkat barang.”

            Mungkin mereka masih kaget dengan keberadaanku, dan tawaran bantuan itu. Seorang Adhan Pradana, siswa yang hampir setiap bulan diskros karena kenakalannya, yang dua kali tidak naik kelas, yang tidak pernah peduli dengan sekelilingnya tiba-tiba datang menawarkan bantuan. Setiap orang pasti punya masa kelam dalam hidupnya, dan anggap saja ini adalah titik balik dalam kehidupanku. Bukankah setiap orang harus berubah menuju kebaikan? Sepertinya kejadian semalam cukup membuatku sadar untuk berubah. Dan inilah momen pertama kebaikanku.

            Walau terperangah cukup lama, akhirnya mereka setuju. Transaksi disepakati, bahkan aku menawarkan harga separuh dari yang mereka sepakati dengan penyewa pick up sebelumnya. Tapi kemudian aku juga membuat kesepakatan untuk menambah lima puluh ribu rupiahs ebagai biaya tambahan untuk aku ikut bantu mengangkat-angkat barang. Mereka menyepakati, karena tentu saja dengan tambahan itu mereka cukup diuntungkan karena mendapatkan harga yang masih jauh lebih murah dari sebelumnya. Dan bagaimanapun, ini adalah penghasilan pertamaku dari hasil keringat sendiri. Akan ku gunakan untuk membeli kado untuk orang yang ku cinta.

***

“Makasih Dhan untuk hari ini.” Ucap Tari sembari ikut membersihkan barang-barang seusai acara.

“Makasih untuk apa? Gue kan sudah dibayar professional, hahaha.” Jawabku sembari tertawa renyah.

“Emmm, kalau begitu, Saya mau minta maaf, karena… karena…”

“Karena salah sangka sama Gue? Sudah biasa kok. Seharusnya Gue yang minta maaf ke orang-orang kali ya, karena sudah jadi orang jahat selama ini.”

“Eh, tapi tetap saja Saya salah. Apa bisa dimaafkan?” Pintanya tulus.

Aku terdiam sejenak. 

            “Begini saja, Gue mau minta bantuan sama Elo. Dan setelah selesai, Gue anggap kesalahan Lo, yang sebenarnya bukan kesalahan sih ya, itu dimaafkan.” Jawabku. 

Kemudian aku jelaskan permohonanku, dan dia mengangguk sembari tersenyum. Aku merasa bunga-bunga bermekaran sebelum musimnya.

***

            Langit menggurat jingga mengantarkan kepulangan Mentari Jingga ke rumahnya. Dan aku terpaku sendiri menatap bungkusan cantik berpita emas di jok depan pick up yang baru saja diduduki oleh Mentari Jingga. Kerudung pilihannya sungguh cantik, tidak salah aku memilih dia untuk menemaniku memilihkan kado spesial ini. Entahlah, dari sekian banyak gadis berkerudung di sekolahku, aku memilih dia untuk menemaniku membelikan kado ini. Namun untuk berharap lebih pada gadis sholeha sepertinya, aku perlu berkaca diri. Menerima maafnya hari ini pun rasanya tidak pantas, dan mengetahui dia akan bersedia memenuhi permintaanku hari ini, rasanya seperti mimpi.

            Kini aku dihadapkan kepada pilihan sulit berikutnya untuk menyerahkan kado ini kepada orang yang tepat. Aku tidak mempunyai keberanian. Bahkan hanya untuk meletakkannya begitu saja di dalam kamarnya tanpa berkomentar apa-apa, rasanya sulit. Tapi sekali lagi, cinta butuh pembuktian dan aku harus berani membuktikannya.

***

            Ini sahur pertama. Namun aku terbangun bukan karena mendengar aktivitas dapur, tapi oleh isak tangis dari kamar sebelah. Pasti Ibu baru datang. Mungkin ia baru menyadari ada bungkusan tergeletak di kamarnya. Aku ingin pura-pura terpejam namun aku tidak bisa. Lebih baik aku ke dapur saja menyiapkan makan sahur untukku. Bukankah ini sahur pertamaku setelah sekian lama? 

            Kemudian terjadi begitu saja, orang yang begitu ku benci namun amat sangat ku cintai tiba-tiba muncul dengan air mata berderai, mengambil panci dari tanganku. Aku duduk memandanginya mengambil alih pekerjaanku. Aku menatapnya lama. Ia masih cantik, terlebih dengan kerudung jingga yang kini dikenakannya. Ingin aku teriakkan ‘aku sayang ibunda’ tapi tertahan begitu saja di rongga dada.

            “Maafkan Ibu Nak. Akan sulit untuk mengakhirinya sekarang. Namun Ibu akan berusaha.” Ucapnya lirih. “Dan kejadian kemarin malam, Ibu janji tidak akan terulang kedua kalinya.”

            Sekelebat muncul kembali peristiwa itu. Seorang ibu paruh baya datang ke rumah, menanyakan dimana suaminya pada Ibu. Memaki-maki, mengucapkan kata-kata sumpah serapah hingga semua tetangga keluar. Menampar dan menarik rambut ibuku dan menampar pipinya. Aku yang mencoba melerai keduanya terkena pukulan di kepala. Namun pukulan di hatiku amat jauh lebih sakit kurasa. Ibu itu mungkin terluka atas apa yang –aku tidak tahu- mungkin telah dilakukan ibuku pada kehidupannya. Namun aku, yang sepanjang usiaku hingga kini dinafkahi dan dibesarkan oleh ibu tanpa pernah tahu siapa ayahku, amat sangat jauh lebih terluka karena tak memiliki daya, bahkan untuk membela ibuku sendiri.

Wanita yang kini memakai kerudung jingga itu, telah menghabiskan dua puluh tahun hidupnya sebagai seorang Wanita Tuna Susila.

            “Adhan sayang Ibu.”

14.10.13

Seperti Itulah

Aku mencintainya...
Aku melihatnya membaca buku itu...
Kemudian aku pun ikut membacanya...

Aku jatuh cinta pada buku itu...
Aku menyukai jalan ceritanya...
Aku mencintai penulisnya...

Aku mencintai buku-bukunya yang lain...
Aku mencintai tulisannya...

Sampai sekarang aku masih mencintai buku itu, penulisnya, dan buku yang lain yang ditulisnya...
Tapi aku tidak mencintai dia lagi...

Seperti itulah hubungan kami...


10.9.13

Terselip Sebuah Cerita


Baru seminggu aku bekerja disini. Menerima berbagai map hasil penelitian dari peneliti, kemudian memperbaiki karya ilmiah mereka dari segi tanda baca dan penulisan EYD sesuai dengan kaidah berbahasa yang benar.  Untuk kemudian, bisa layak diterbitkan dan menjadi rujukan dan konsumsi kaum akademisi yang haus akan hasil penelitian terbaru.

Sebuah map bertuliskan Prof. Dr. Sulastri, M.Si sudah berpindah dari mejaku. Baru saja aku menuju ke ruangan beliau untuk mengembalikannya. Irisnya yang hitam dibalik kacamata menyapu halaman demi halaman penelitiannya itu. Aku mengamati wajahnya. Masih cantik. Walau telah menginjak usia lima puluh tahun, aura kecantikan beliau masih terpancar, meski kerutan wajahnya tidak dapat disamarkan. Masih sama dengan foto masa mudanya yang pernah kulihat. Beliau belum menikah. Seperti ada cerita masa lalu yang belum usai.

Kurogoh laci mejaku, mencari sebuah portrait yang kumaksudkan tadi. Tidak ada. Dimana foto itu?

Derap langkah yang berhenti di pintu ruanganku menjawab pertanyaan tadi.

“Sarah.” Suara yang biasa tegas, terdengar lirih. Foto Ibu Sulastri muda sepertinya terselip di antara kertas pekerjaanku tadi.

“Kamu anaknya ….?” Tangan kirinya memegang potret hitam putih dirinya dan seorang pemuda.

Aku tergagap, mengangguk pelan. “Bapak menunggu anda Professor, tapi …” 

Ia masih seorang lelaki dari desa yang tak berpendidikan tinggi.

Di Atas Pusara Ayahnya

Satu jam berlalu setelah berita kematian seorang pejabat tinggi daerah beredar. Kini di sebuah kompleks pemakaman terkenal telah ramai dikunjungi oleh para pelayat. Sebentar lagi, prosesi pemakaman akan dilangsungkan. Mobil-mobil berjejer rapi hingga memadati pinggir jalan. Semua ingin memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang. Keluarga pun banyak memadati petak dua kali satu meter tempat peristirahatan terakhir sang pejabat. 

Dari kejauhan, di bawah pohon kamboja yang tumbuh subur di area pemakaman, aku berdiri mematung. Berpakaian serba hitam sebagai tanda bela sungkawa, dan membawa seikat rangkaian bunga mawar merah tua. Aku belum beranjak dari tempat ini, karena di tempat mendiang dikuburkan masih sangat ramai. 

Aku hanya melihat dari jauh, mencoba mengenali satu per satu keluarga yang hadir. Aku mengenali sosok istri pejabat itu. Ibu yang cukup berumur dibalut kerudung putih dan kaca mata hitamnya sedang menaburkan bunga sembari terduduk di sisi makam. Aku juga melihat anak tertua, Afian, dengan kaca mata hitam pula duduk di samping ibundanya. Yang tidak terlihat adalah wajah Adrian, yang mungkin saat ini sedang melintasi garis meridian demi melihat tanah basah tempat ayahnya dikuburkan.

Beberapa saat berlalu, aku keluar dari tempat ini bersamaan dengan pulangnya para pelayat yang hadir. Rangkaian mawar merah tua masih aku bawa. Ingin rasanya kuletakkan bunga ini di atas makam beliau, namun ini bukan saatnya. Masih ramai, dan tentu kehadiranku disana akan menyumbangkan tanda tanya besar.


Sejam kemudian, aku memutuskan untuk kembali. Namun sepertinya kedatanganku kali ini masih bukan di waktu yang tepat. Aku kembali berdiri di tempat yang sama dengan sebelumnya, menyaksikan drama keluarga yang begitu menyayat hati.

Keluarga sah almarhum Satrio Miharja masih berada disana. Beserta dua wajah baru yang tidak diundang.

“… kalian sudah kuperingatkan! Pergi dari sini. Sekarang!” Suara tegas Afian, memerintah kepada dua orang yang terdiri dari lelaki muda dan seorang ibu berusia lima puluhan.

Suara isak dari ibu berkerudung hitam itu mengusik kesunyian di sekitar pemakaman.

“Kamu tidak bisa melarang kami untuk kesini! Walau bagaimanapun, ini adalah makam ayahku juga!” Teriak sang lelaki yang baru datang di depan wajah Afian.

Afian, sang putra pertama membuka kaca matanya dan menampakkan sorotan yang mengancam pada pemuda itu yang disinyalir usianya lebih muda darinya.

“Pak Diman!” Teriaknya pada sopir pribadi mereka yang masih berada di sekitar tanah kuburan ayahnya.  “Bawa ibu pulang duluan. Aku akan membereskan sampah kecil ini dulu sebelum pulang!”

Pak Diman yang namanya tadi dipanggil, tergopoh-gopoh membawa sang nyonya yang tadi hanya terduduk dan diam menyaksikan kedatangan dua orang baru tersebut. Sorot mata sang nyonya yang amat sangat kelelahan tidak mampu menambahkan ekspresi duka maupun keterkejutan lagi, menurut saja apa titah sulungnya.

Aku menyembunyikan postur kecilku di belakang batang pohon yang kokoh sembari memandang sosok nyonya besar dan supirnya, yang keluar dari area pemakaman. Selanjutnya, inderaku kukonsentrasikan ke tempat tadi sepenuhnya.

“Kalau kau datang kemari hanya untuk masalah warisan, lupakan! Kau dan ibumu tidak akan mendapatkan harta sepeser pun!”

“Kau sungguh hina! Bagaimana mungkin berbicara warisan sementara kuburan ayahmu, ayah kita, …” pemuda kedua itu menunjuk ke makam di sebelah mereka. “masih basah, belum kering?”

“Kau hanyalah seorang anak dari istri yang tidak sah!” Bentak Afian, yang juga menunjuk sosok ibu yang sedari tadi menangis tak henti sembari mencoba menenangkan anaknya yang terpancing emosi.

“Kami tidak mengharap warisan, Nak. Kami hanya ingin melakukan penghormatan terakhir. Walau bagaimanapun, ayahmu adalah suami sah ibu di mata Tuhan. Dan Andre, adalah adikmu juga, bagaimanapun kau mengingkarinya.” Ujar sang ibu, dengan air mata berleraian.

Aku tidak sanggup lagi menyimak pembicaraan tersebut. Kuputuskan untuk meninggalkan tempat ini, tanpa sempat mengantarkan doa secara pribadi dan meletakkan rangkaian bunga ini di atas makamnya. Kuusap air mata yang perlahan jatuh ketika indera pendengaranku masih mampu menangkap pembicaraan mereka yang ada di dekat makam sana. Orang waras mana yang memperkarakan warisan saat kuburan orang tuanya belum kering?


Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke tempat ini, sejam lagi kemudian. Ini adalah kesempatan terakhir. Jika tidak ada momen untukku meletakkan sendiri rangkaian bunga ini, maka akan kuletakkan saja di bawah pohon kamboja yang tadi menemaniku mematung.

Keberuntungan memihakku kali ini. Di atas tanah basah miliknya tidak ada siapa-siapa. Aku menahan keinginanku untuk segera berlari menuju ke gundukan tanah itu. Aku hanya berjalan dengan tenang, menjaga langkahku agar tidak terpeleset oleh kontur tanah pemakaman yang tidak rata. Dan kini aku sampai di atas pusaranya.

“Ayah.” Ucapku lirih.

Kusapu daun yang berguguran di atas makamnya yang basah dan penuh dengan taburan bunga. Andai menghapus luka itu semudah membuang daun-daun kering yang sudah mulai berguguran di atas makamnya, maka tidak perlu ada air mata yang kini jatuh membasahi pipiku ini.

Seorang ayah, adalah cinta pertama bagi putrinya. Ayahlah yang melindungi putrinya ketika ada yang mengganggu. Ayah pula, yang nantinya akan memegang dengan mantap tangan lelaki yang dipilih anak perempuannya untuk bersama mengikrarkan akad, mengantarkan sang putri ke kehidupannya yang baru. Ayah adalah orang yang bersanding disampingnya kemudian menyerahkannya kepada lelaki yang direstuinya untuk menjadi pendamping bagi anaknya. 

Seharusnya memang begitu. Namun itu tidak terjadi dalam cerita kehidupanku. Kalimat sapa itu, baru saja aku ucapkan untuk pertama kalinya, di atas gundukan tanah basah, saat pemiliknya tidak lagi memiliki nyawa.

“Ayah, anak perempuanmu satu-satunya datang. Maaf atas keterlambatanku untuk berdoa di atas pusaramu. Kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang, Yah? Kuharap seperti itu. Supaya aku mampu dengan mudah memaafkan kesalahanmu padaku dan ibu.”

“Ayah, aku mencintaimu.”

Kukecup nisan dingin itu. Berharap itu bisa menggantikan jasadmu yang tidak pernah mampu aku cium, baik dalam keadaan hidup maupun tak bernyawa.

Aku sudah akan beranjak pergi ketika sebuah suara, yang masih aku kenal siapa pemiliknya, memanggil namaku dengan nada yang tidak biasa.

“Audriana?”

Aku menoleh, mengusapkan air mata yang tak henti keluar. Sosok Adrian berdiri di sisi lain makam, dengan wajah penuh tanda tanya besar dan juga raut kesedihan yang mendalam.

“Kamu…. Siapa?”

“Aku…. Anak dari istri ketiga ayahmu.”

Itulah fakta yang sebenarnya, yang tidak mampu aku tutupi lagi. Yang menjadi penyebab aku harus mengakhiri hubunganku dengan lelaki yang kini pandangannya mengisyaratkan meminta banyak penjelasan ketika melihatku, sang mantan tunangannya yang menangis tiada henti dan mengecup nisan, di atas pusara ayahnya.


***

Tulisan ini (994 kata) diikutkan ke Ngasih Hadiah September Bahagia by Harry Irfan yang dikembangkan dari fiksi mininya yaitu: 

ANAK BARU. “Anak mana Lo?” | “Aku anak dari istri ketiga bapakmu!”

7.9.13

Sebuah Kesalahan




Pukul 23.05, Kantor.

Tidak biasanya ia masih di kantor pada jam segini. Di atas mejanya, tumpukan berkas berserakan. Laptop pribadi dan komputer kantor menyala. Beberapa orang hilir mudik keluar masuk ruangannya.

Ini sebuah kejadian tidak diduga, ujian baginya yang baru dinaikkan jabatannya sebagai penanggung jawab keuangan. Ada kesalahan dalam menginput data ke buku besar yang dilakukan bawahannya. Sangat fatal.  Anggotanya sedang mengecek ulang semua data dari semua berkas dan bukti pembayaran namun belum diketahui letak kesalahannya dimana.

Handphonenya berdering beberapa kali. Bukan saatnya untuk menjawab telepon dari nomor tidak dikenal. Data keuangan ini harus segera diselesaikan dan diperbaiki hari ini juga. Sekarang. Tidak ada kompromi. Besok ada pelaporan keuangan.

Sekretarisnya masuk dengan wajah pucat.

“Pak, istri Bapak telepon.”

Ah, bukankah dirinya telah memberitahu kalau ada urusan penting dan tidak dapat diganggu dengan alasan apapun?

“Pak?”

Lelaki itu mengabaikan perkataan sekretarisnya, masih fokus meneliti berkas di hadapannya.

“Ibu ada di rumah sakit…”

“… terjatuh di kamar mandi dua jam yang lalu. Janin di kandungannya meninggal.”

“Pihak rumah sakit mencoba menghubungi ponsel Bapak tapi tidak ada jawaban. Bapak diminta kesana sekarang.”

Terdiam. Laki-laki itu dihadapkan pada dua tanggung jawab penting.

Namun ia tidak beranjak dan memilih bersama tumpukan berkas ini.

14.8.13

Cermin: Veteran

Source pict

Ada yang spesial hari ini. Sedari jam lima subuh, Bima sudah beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas mandi. Pakaian terbaiknya telah dipersiapkan, rambut disisir menyamping, sepatu sekolahnya yang sudah tua telah disemir. Hari ini, seperti tahun sebelumnya, ia akan menemani kakek pergi ke lapangan di alun-alun kota.

Sang kakek tak kalah rapi. Dikenakannya dengan bangga seragam hijau yang warnanya pudar dimakan usia. Disematkannya lencana yang tersimpan rapi di kotak kaleng biskuit, yang hanya setahun sekali dikeluarkan. Usianya menginjak kepala delapan, namun satu hari di bulan Agustus membuat semangat mudanya kembali muncul.

Hari ini yang ditunggu-tunggu Bima. Bukan hanya karena ia akan menemani kakek, atau akan melihat wajah pak gubernur, atau melihat barisan orang berseragam putih akan mengibarkan bendera. Ia juga terlalu kecil untuk memahami pembicaraan ibu dengan kakek mengenai istilah amplop tunjangan, veteran, atau sejenisnya. Baginya, jika pergi dengan kakek, ia akan diberi nasi bungkus lauk ayam. Walau harus berjalan kaki rela ia lakukan.

Namun perjalanan berhenti sebelum tempat tujuan. Tubuh kurus berseragam hijau yang digandengnya tumbang. 

“Kakek, acaranya sebentar lagi dimulai.” Tangisnya sembari menggoyang tubuh kakeknya yang renta.

Bocah itu rupanya mengerti, bahwa ada hal yang lebih menakutkan dari tidak dapat jatah nasi atau amplop tunjangan hari ini.



A short sory, dedicated for all veterans in Indonesia, and for 68th Independence Day of Indonesia.