Showing posts with label Quotes. Show all posts
Showing posts with label Quotes. Show all posts

25.7.15

Kisah Faqir dan Penjahat

Pada suatu hari di masa lalu, seorang dari kaum Qalandar bertemu dengan seorang penjahat besar. Pada masa lalu, seorang faqir pengelana tiba di sebuah oasis di sebuah gurun barat. Dia seorang Qalandar yang berkelana di gurun-gurun Afrika dan Arab selama bertahun-tahun. Dia mencari-cari tempat penyendirian agar bisa mengingat Tuhannya dan merenungi misteri -misteri-Nya. Amal, iman, dan kepasrahannya kepada Tuhan membuatnya dianugerahi kedamaian jiwa. Ketulusan dan ibadahnya di Jalan Cinta sangatlah mendalam, sehingga hal-hal gaib tersingkap padanya, dan ia menjadi seorang Wali, Sahabat Allah.

Faqir itu tiba di oasis pada malam hari. Ia segera merebahkan tubuhnya di bawah pohon kurma untuk beristirahat sejenak sebelum menunaikan shalat Tahajud. Tetapi, tanpa disadari, ada lelaki lain yang juga sedang beristirahat di dekat pohon itu.

Tapi lelaki itu adalah penjahat tersohor, gembong dari sekelompok penjahat yang dahulu sangat ditakuti orang. Mereka dulu suka merampok kafilah-kafilah pedangan kaya yang bepergian melalui kota-kota di pedalaman. Tapi kekejaman para penjahat itu akhirnya sampai ke telinga Sultan, dan karenanya ia memerintahkan prajuritnya untuk memburu dan membunuh gerombolan perampok itu. Banyak anggota perampok yang tertangkap dan dipancung kepalanya. Yang lainnya meninggalkan gembong penjahat itu. Sebagian lagi mengkhianatinya karena takut dihukum mati seperti kawan-kawannya yang lain.

Akhirnya, pentolan penjahat itu sendirian. Hartanya ludes semua. Uangnya yang terakhi sudah habis dalam pelarian. Kini ia menjadi buron nomor wahid. Kepalanya dihargai sangat mahal. Bahkan, mantan kawan-kawannya tak mau lagi menolongnya. Mereka juga takut jika kemarahan Sultan menimpa diri mereka. Karena itulah penjahat ini melarikan diri berhari-hari melintasi gurun dan sampai di oasis tersebut dalam keadaan letih dan lapar. Ia duduk di bawah pohon dan merutuki nasibnya yang malang.

Nah, sekarang aku bertanya pada kalian, dari dua lelaki itu, mana yang lebih agung dan mana yang lebih rendah? Siapa yang diberkahi Allah dan siapa yang dilaknat-Nya? Jangan, jangan menjawab! Kalian tak akan tahu jawabannya, sebab kalian bukan hakim mereka. Hanya Sang Penciptalah yang berhak menghakimi ciptaan-Nya.

Tapi, Malaikat Munkar dan Nakir, yang bertugas menanyai orang yang sudah meninggal, melihat keadaan dua orang itu. Kata Malaikat Munkar, "Di sini jelas tampak beda antara emas yang murni dan yang palsu. Dua orang ini sudah bisa dinilai mutu jiwanya, walau mereka belum mati. Allah akan mengangkat lelaki yang saleh dan setan akan menemani lelaki jahat itu."

"Pasti demikian," kata Nakir setuju. "Emas sejati alangkah langka. Surga amatlah luas, dan neraka penuh api yang menyala-nyala hingga ke dasarnya."

Allah mendengar bersitan pikiran kedua malaikat-Nya itu. Dia berbicara kepada hati dua malaikat itu: "Kalian telah menghakimi nasib mereka. Namun manusia akan celaka jika Aku menghakimi makhluk-Ku hanya dengan keadilan belaka. Bukankah Aku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Saksikanlah! Aku akan mengunjungi mereka dalam tidur dan visi mereka, agar kalian tahu kebenaran sejati dari makhluk-Ku."

Lalu Allah menidurkan dua orang itu dan mengirimkan mimpi kepada Si Faqir dan penjahat tersebut. Qalandar yangalim itu bermimpi berada di dalam nearaka, bahkan berada di dasar neraka yang paling dalam, dengan nyala api yang paling lebat dan hebat. Sedangkan pentolan penjahat itu berada di surga, berdiri bersama-sama para Wali Allah di hadapan singgasana-Nya.

Apakah baik memasukkan orang jahat ke surga? Apakah adil memasukan orang saleh ke dalam neraka?

Tidak ada yang menjawab.

Bagus! Membersihkan hati dari penghakiman akan membuka Jalan Cinta. Dan itulah pelajaran yang diterima oleh Malaikat Munkar dan Nakir.

Sebab, kedua malaikat itu menyaksikan Si Faqir yang saleh berada di tengah-tengah neraka, dan melihat orang yang sangat baik ini berdiri telanjang dengan api membakar dagingnya. Jeritan jiwa-jiwa yang tersiksa membuat telinganya sakit. Tapi lelaki itu tidak merasakan kesakitan saat api neraka membakarnya, dan ia bahkan tak terkejut ataupun takut. Ia hanya memikirkan Sang Kekasih. dan penderitaan sehebat apa pun tak bisa mengalihkan perhatiannya kepada Allah. Ia lalu duduk diselimuti kobaran api yang panas dan menyesakkan. Dengan suara tenang dan keras, sufi itu mulai berzikir:

Laa ilaaha illaallaah! Laa ilaaha illaallaah!

Api itu menyala lebih hebat saat zikirnya menggelegar. Lalu api itu meredup, dan gunung-gunung api di neraka bergetar hebat mendengar zikirnya. Jiwa-jiwa lain yang disiksa di neraka berhenti menjerit dan memasang telinga lebar-lebar, karena nama Allah selama ini tak pernah diucapkan di neraka. Kemudian suara lenyap kecuali zikir itu. Lelaki terus berzikir sampai dasar dan fondasi neraka berguncang hebat, sedangkan para penghuni lain yang terkutuk di neraka mulai mendapatkan secercah harapan untuk bebas dari azab neraka.

Neraka itu pasti akan runtuh berkeping-keping jika Iblis tidak muncul dan memohon kepada Si Faqir untuk menghentikan zikirnya. Tapi lelaki saleh itu terus saja zikir, sebab ia sudah lama menapaki Jalan Cinta, dan kehendak sang Kekasih sudah menjadi kehendaknya, entah ia dimasukkan ke surga atau neraka.

Allah juga memperlihatkan keadaan penjahat itu kepada malaikat-Nya. Mereka melihat penjahat itu berdiri dengan jubah panjang, gemetar di tengah-tengah penghuni surga di hadapan singgasana Allah Yang Mahakuasa. Dan Malaikat Jibril berbicara kepada lelaki itu:

"Dengan rahmat dan kasih Allah, Penciptamu, perbuatan burukmu telah dimaafkan," katanya. "Kini masuklah dengan damai."

Dan kini, kebenaran memasuki hati si penjahat itu. Ia amat takjub, air mata menetes dari matanya. Lalu ia menyaksikan keagungan dan keindahan Zat Yang Maha Pengasih. Ia pun tersungkur dan menangis sejadi-jadinya.

Dan Allah berfirman kepadanya: "Wahai anak cucu Adam, janganlah takut. Sebab tiada satu pun yang terperosok ke dasar tanpa bisa Kuangkat kembali ke permukaan."

Penjahat itu tak lagi jeri. Ia berlutut dan bersujud kepada-Nya sembari terus menangis. Air matanya mengalir tiada henti. Ia menyesali hidupnya yang kelam di masa lampau. Air matanya menjadi aliran rahmat yang tak bisa berhenti. Kaki Sang Wali yang tidur di sebelahnya basah oleh air mata.

Ia akan terus menangis kalau saja visi yang dihadirkan Allah itu tidak diakhiri. Kedua lelaki itu bangun mendadak. Kemudian sang penjahat melihat Si Faqir. Ia mendekati Faqir itu sambil masih menangis. Si Faqir yang mengetahui keadaannya, lalu memeluknya. Mereka berdua melakukan shalat dan berdoa bersama sampai fajar mengembang. Akhirnya, penjahat itu menjadi murid Si Faqir. Demikianlah....

Sementara itu, Malaikat Munkar dan Nakir, yang baru saja melihat setetes dari rahmat Allah yang tiada habisnya, bersujud di hadapan Tuhan. Mereka malu karena terburu-buru menghakii. Penilaian Allah berada di luar pemahaman manusia dan malaikat.



[Dikutip dari "Sang Raja Jin", karja Irving Karchmar halaman 128-134]

7.7.15

Konstelasi Capricorn

Jadi saya sedang baca buku "Babylonia" karya Paul Kriwaczek. Di salah satu babnya, ada yang menjelaskan tentang nama-nama konstelasi bintang yang rupanya diwarisi dari bangsa Babylonia. Jadi "Capricorn" di sini bukan membahas soal ramalan abal-abal yang nggak jelas siapa yang buatnya lho ya, tapi tentang konstelasi bintangnya. Oh dan menarik sekali, saya yang kelahiran 5 Januari bernaung dalam konstelasi ini. Mari disimak....

Capricorn (♑) adalah zodiak kesepuluh di Zodiac, berasal dari konstelasi Capricornus. Ini mencakup 270 derajat-300 dari zodiak, sesuai dengan bujur langit. Capricorn dikuasai oleh planet Saturnus. Di bawah zodiak tropis, matahari transit daerah ini dari 22 Desember - 19 Januari setiap tahun, dan di bawah zodiak sidereal, matahari saat transit konstelasi Capricorn dari sekitar 15 Januari-14 Februari. - Dalam astrologi, Capricorn dianggap sebagai tanda bumi,  tanda introvert dan salah satu dari empat tanda kardinal.



Nama-nama yang kita ketahui sebagai konstelasi dan simbol-simbol zodiak kebanyakan mengambil nama-nama Yunani; beberapa di antaranya seperti Leo si Singa dan Taurus si Banteng. Kita mewarisi semua itu dari bangsa Babylonia. Dan, salah satunya mungkin lebih kuno: di kejauhan, tampak sangat samar, namun masih gigih menggemakan kisah yang diceritakan para leluhur tentang dewa-dewi yang kuil-kuilnya berdiri megah di Eridu.

Jika Anda tinggal di belahan bumi bagian selatan dan berjalan di alam terbuka dengan peta perbintangan antara pukul sembilan hingga sepuluh malam, tepat di bulan September dengan langit yang bersih dari kumpulan awan, tataplah cakrawala sebelah selatan dan Anda akan melihat sekumpulan bintang yang tampak samar tersusun bagaikan sebentuk segitiga. Itulah yang disebut sebagai konstelasi Capricorn. Memang tidak mudah melihat bentuk tersebut dengan jelas, namun dengan menambahkan sedikit imajinasi terhadap bentuknya, Anda seharusnya bisa melihat sebuah bentuk yang menyerupai seekor kambing laut, bagian atas seperti kambing sedangkan setengah bagian bawah mirip seekor ikan. Bisa dikatakan, inilah konstelasi pertama yang pernah dicatat, mungkin karena pada masa kuno, titik balik musim dingin (winter solstice) atau hari terpendek dalam serahun ini muncil saat matahari tepat berada di gugusan Capricorn. Juga, mungkin karena imajinasi yang dibentuk bintang-bintang tersebut sejak awal diidentikkan dengan dewa kemajuan Eridu.


Anyway, di Indonesia bisa lihat ini nggak ya? 



Ehm, nah, bolak-balik halaman selanjutnya dari buku ini, ada yang menarik lagi seputar Capricorn, jadi saya tuliskan saja lagi di sini karena sepertinya ada korelasi.

Si Capricorn, seekor kambing bertanduk di atas batas permukaan air, seekor ikan di bawahnya (gambaran ini juga mencerminkan asal muasal di antara nelayan dan gembala) merupakan gambaran bahwa kenangan akan dirinya diwariskan ke anak cucunya. Ingatlah juga sebuah tempat bernama Apsu, yang merupakan sebuah danau keramat tempat ia muncul, terwakili oleh sebuah baskom berisi air tawar yang dipasang di setiap kuil Mesopotamia nantinya--dan mungkin juga, lama kemudian, hal tersebut masih dikenang dalam bentuk Wudu atau pencucian, kolam kecil yang terdapat di setiap masjid Islam dan bahkan mungkin juga ditemukan dalam proses pembabtisan di gereja Kristen.




Sumber: Babylonia, Mesopotamia dan Kelahiran Peradaban by Paul Kriwaczek. Halaman 49-50, 53.

4.7.15

Jika Angin Bertiup


Seorang pria bernama Ali yang sedang butuh uang meminta bosnya untuk menolongnya. Bosnya memberinya tantangan: kalau ia bisa menghabiskan sepanjang malam di puncak gunung, ia akan mendapatkan imbalan besar; jika gagal, ia harus bekerja tanpa dibayar. Kisah tersebut berlanjut:


Saat meninggalkan toko, Ali merasakan angin beku yang bertiup. Ia merasa takut dan memutuskan untuk bertanya pada sahabatnya, Aydi, apakah menurut sahabatnya ia gila karena menerima taruhan itu. Setelah berpikir sejenak, Aydi menjawab, “Jangan khawatir, aku akan menolongmu. Besok malam, saat kau duduk di puncak gunung, lihatlah lurus ke depan. Aku akan berada di puncak gunung di seberang sana. Sepanjang malam, aku akan menyalakan api unggun untukmu. Tataplah api itu dan ingatlah persahabatan kita, itu akan membuatmu hangat. Kau akan berhasil melalui malam, dan setelahnya aku akan meminta imbalan padamu.”


Ali memenangkan taruhan itu, mendapatkan uang, lalu pergi ke rumah sahabatnya.


“Kau bilang kau menginginkan semacam imbalan.”


Aydi berkata, “Ya, tapi bukan uang. Berjanjilah bahwa jika angin dingin bertiup dalam hidupku, kau akan menyalakan api unggun pesahabatan untukku.”

[Aleph, hal 59-60]

Quotes of Babylonia

Meskipun para peneliti peninggalan kuno sudah lama meninggal dunia, nama-nama mereka dilupakan, rumah-rumah mereka terkubur tanah, harta mereka berhamburan, sawah ladang mereka gersang, menara-menara kuil mereka roboh, kota-kota mereka terkubur di bawah gundukan debu yang menggunung, namun kekaisaran mereka tetap dikenang, paling tidak, nama juga kisah mereka akan tetap mengandung pengajaran bagi kita tentang bagaimana kita bisa sampai pada masa kehidupan sekarang. Sejarah mungkin tak bisa berulang kembali, namun seperti kata Mark Twain 'sejarah itu bersajak'.

--Babylonia, halaman 25.

19.10.13

Learning

“Ah, child and youth, if you knew the bliss which resides in the taste of knowledge, and the evil and ugliness that lies in ignorance, how well you are advised to not complain of the pain and labor of learning.”   Christine de Pizan  
Source

28.9.13

Fairy Tales


 
   But Sam, you know.
Fairy tales aren't just about finding handsome princes.

They're about fulfilling your dreams...
...and about standing up for what you believe in.   A Cinderella Story