Showing posts with label coretan_niesya. Show all posts
Showing posts with label coretan_niesya. Show all posts

15.11.16

Hello Bobby, Mango Farming




Halo semuanya.

Rasanya lama sekali saya nggak posting di blog ini *sapuin debu-debu*. Jadi, tadi di jalan menuju pulang ke rumah, saya kepikiran untuk mulai aktif mengisi blog ini lagi. Yah, agar suatu hari nanti isinya bisa saya baca-baca lagi sambil menyeruput kopi.

Sebelumnya, terima kasih kepada Mas-Mas yang sudah menjual bibit mangga di sekolah tadi, yang membuat saya punya topik untuk dibahas dan dituliskan di blog ini. 

Jadi ceritanya, saat istirahat di sekolah, kami kedatangan tamu di ruang guru. Biasanya jenis tamu ini datang untuk menawarkan berbagai macam produk, mulai dari produk rumah tangga seperti panci atau wajan anti lengket (disertai demo memasaknya), alat kesehatan, atau bahkan buku. Biasanya, kalau sering kedatangan penawaran gitu saya nggak terlalu antusias. Karena apa? Kalau menawarkan panci saya bukan termasuk target marketing yang akan tertarik dengan jenis barang itu. Kalau menawarkan buku, ehm, maaf tapi biasanya nggak sesuai dengan genre bacaan saya atau saya sudah punya bukunya. Saat Mas-Mas itu datang mulanya saya juga skeptis sih, dalam hati, 'Ah, paling jual panci juga sama seperti yang kemarin-kemarin.' Namun ternyata, si Mas ini menawarkan bibit buah-buahan!

Nggak hanya saya yang tertarik, penghuni ruang guru lainnya ternyata ikutan penasaran sama bibit yang sedang ditawarkan. Apalagi pas ditanya di mana barangnya, ternyata sudah dibawa. Jadilah ruang guru kami yang nggak seberapa itu kedatangan tamu berupa bibit-bibit mangga, anggur, dan entah apa lagi tadi yang mereka bawa. Saya sebenarnya sudah kepingin punya bibit mangga sejak lama, tapi nggak pernah kesampaian untuk membelinya; entah karena nggak sempat beli, atau pas beli di tempat yang jual tanaman, nggak ada. 

Masnya memberikan penjelasan seputar teknologi apa gitu tentang buah yang berbuah sepanjang tahun dengan persilangan tiga jenis tanaman yang berbeda. Misalnya si anggur merah campur anggur hitam (satu lagi saya lupa), ditanam di liang yang sama, maka buahnya akan tumbuh terus tanpa menunggu musim, dan bisa menghasilkan tiga jenis anggur yang sama. Begitu pula dengan si mangga. Bisa juga menghasilkan mangga tumbuh terus tanpa terhenti musim asal ketiga bibitnya ditanam dalam lobang yang sama, lalu batangnya diikat supaya kambiumnya melekat. Well, sebagai bukan guru Biologi, saya sih manggut-manggut saja. Apalagi si Mas-Mas menjelaskan dengan cukup meyakinkan karena menggunakan istilah yang saya tahu (hanya sekadar tahu sih) seperti fenotip-genotip, hahaha.

Alhasil saya beli lho *yeay*. Harganya satu bibit Rp. 40.000,- ditawarkan juga beli tiga sekaligus dengan harga hanya Rp. 100.000,- saja, tapi karena sedang bokek (jujur banget yaaa), akhirnya cuma beli satu. Lagi pula, mau lihat dulu apakah saya berbakat untuk menanam mangga atau tidak (mengingat beberapa tanaman hias saya biarkan mati karena lupa disiram).

Nah, ada beberapa tips dari si Mas bagaimana caranya supaya bisa menanam dengan baik (mengingat saya dan teman saya yang beli bukan termasuk hobi bercocok tanam): Pertama, kalau mau menanam bibit cangkokan, sambungan cangkoknya nggak boleh ditimbun sama tanah. Kedua, sebulan sekali tanamannya dikasih MSG, supaya bisa merangsang pertumbuhannya. Ketiga, kalau beli bibit dengan polybag, polybag-nya jangan dilepas, karena kalau tidak tahu selanya, bisa-bisa membuat akarnya rusak dan membuat si tumbuhan mati. 

Ah ya dan katanya, mangga saya ini akan berbuah dalam waktu tujuh bulan. Hmmm, let's see apakah saya bisa memanen mangga pertama saya atau justru si mangga gagal tumbuh alias mati, hahaha. Semoga kemungkinan terakhir tidak terjadi, mengingat saya termasuk orang yang tidak telaten dalam hal tanam-menanam. Seperti halnya juga saya tidak telaten untuk rutin melakukan sesuatu (seperti mengisi blog ini), atau gagal melakukan resolusi "One Month One Plant" seperti yang pernah saya tuliskan di sini *melipir pergi*.


Dan karena saya suka memberi nama pada tanaman-tamanan saya, akhir kata saya akan memperkenalkan si bibit mangga harum-manis ini. "Say 'Hi' to Bobby."






Source pict, edited by me

12.9.15

My Own World

Hai hai, kali ini saya hadir untuk memberikan kesan pada sebuah buku mewarnai yang baru saja saya miliki. Hah, buku mewarnai? Iyaps, jadi ceritanya, saya baca di ulasan goodreads seorang teman, katanya lagi ada buku mewarnai untuk orang dewasa dengan jargon "anti stress". Lalu kemudian saya cek di akun instagram komunitas @tabrak_warna dan menemukan banyak gambar menarik di sana (yang sudah diwarnai tentu saja). Tertarik? Jelas. Beberapa kali cek di gramedia nggak dapat bukunya, adanya buku sejenis yang harganya lebih mahal dan gambarnya lebih rumit. Akhirnya, saya pesan online di bukabuku.com pas dapat diskon 30%. Pokoknya intinya dapat harga plus ongkos kirim totalnya Rp. 88.300,- lalu saya beli pensil warna merk Kenko, yang 36 warna seharga di bawah 30.000,- kurang sedikit (lupa harga pasnya berapa).

Dan... taraa... bukunya sampai di hari jumat tangal 11 Septermber 2015.






Sebagai pemanasan, ini adalah gambar di bagian awal yang sudah saya warnai. Untuk selanjutnya, saya akan terus mengupdate progress gambar-gambar saya sampai akhirnya ke-46-nya selesai. Sanggup nggak ya =))




#1 Brunette Girl

“The happiest person is the prettiest.”




Saya menyelesaikan ini nggak sampai satu jam. Rambutnya sengaja pengin warna cokelat dan bunga-bunganya warna merah, pink, dan ungu. Selesai tanggal 11 September 2015.


#2 My Owl

“It’s better to be absolutely ridiculous than absolutely boring."



Karena bukunya masih "anget", jadi hari itu saya mewarnai banyak banget. Termasuk si owl ini. Pakai tabrak warna, yang penting percaya diri aja, dan hasilnya nggak mengecewakan. Selesai tanggal 11 Septermber 2015.



Akan terus diupdate gambar-gambarnya sampai selesai =))










7.7.15

Konstelasi Capricorn

Jadi saya sedang baca buku "Babylonia" karya Paul Kriwaczek. Di salah satu babnya, ada yang menjelaskan tentang nama-nama konstelasi bintang yang rupanya diwarisi dari bangsa Babylonia. Jadi "Capricorn" di sini bukan membahas soal ramalan abal-abal yang nggak jelas siapa yang buatnya lho ya, tapi tentang konstelasi bintangnya. Oh dan menarik sekali, saya yang kelahiran 5 Januari bernaung dalam konstelasi ini. Mari disimak....

Capricorn (♑) adalah zodiak kesepuluh di Zodiac, berasal dari konstelasi Capricornus. Ini mencakup 270 derajat-300 dari zodiak, sesuai dengan bujur langit. Capricorn dikuasai oleh planet Saturnus. Di bawah zodiak tropis, matahari transit daerah ini dari 22 Desember - 19 Januari setiap tahun, dan di bawah zodiak sidereal, matahari saat transit konstelasi Capricorn dari sekitar 15 Januari-14 Februari. - Dalam astrologi, Capricorn dianggap sebagai tanda bumi,  tanda introvert dan salah satu dari empat tanda kardinal.



Nama-nama yang kita ketahui sebagai konstelasi dan simbol-simbol zodiak kebanyakan mengambil nama-nama Yunani; beberapa di antaranya seperti Leo si Singa dan Taurus si Banteng. Kita mewarisi semua itu dari bangsa Babylonia. Dan, salah satunya mungkin lebih kuno: di kejauhan, tampak sangat samar, namun masih gigih menggemakan kisah yang diceritakan para leluhur tentang dewa-dewi yang kuil-kuilnya berdiri megah di Eridu.

Jika Anda tinggal di belahan bumi bagian selatan dan berjalan di alam terbuka dengan peta perbintangan antara pukul sembilan hingga sepuluh malam, tepat di bulan September dengan langit yang bersih dari kumpulan awan, tataplah cakrawala sebelah selatan dan Anda akan melihat sekumpulan bintang yang tampak samar tersusun bagaikan sebentuk segitiga. Itulah yang disebut sebagai konstelasi Capricorn. Memang tidak mudah melihat bentuk tersebut dengan jelas, namun dengan menambahkan sedikit imajinasi terhadap bentuknya, Anda seharusnya bisa melihat sebuah bentuk yang menyerupai seekor kambing laut, bagian atas seperti kambing sedangkan setengah bagian bawah mirip seekor ikan. Bisa dikatakan, inilah konstelasi pertama yang pernah dicatat, mungkin karena pada masa kuno, titik balik musim dingin (winter solstice) atau hari terpendek dalam serahun ini muncil saat matahari tepat berada di gugusan Capricorn. Juga, mungkin karena imajinasi yang dibentuk bintang-bintang tersebut sejak awal diidentikkan dengan dewa kemajuan Eridu.


Anyway, di Indonesia bisa lihat ini nggak ya? 



Ehm, nah, bolak-balik halaman selanjutnya dari buku ini, ada yang menarik lagi seputar Capricorn, jadi saya tuliskan saja lagi di sini karena sepertinya ada korelasi.

Si Capricorn, seekor kambing bertanduk di atas batas permukaan air, seekor ikan di bawahnya (gambaran ini juga mencerminkan asal muasal di antara nelayan dan gembala) merupakan gambaran bahwa kenangan akan dirinya diwariskan ke anak cucunya. Ingatlah juga sebuah tempat bernama Apsu, yang merupakan sebuah danau keramat tempat ia muncul, terwakili oleh sebuah baskom berisi air tawar yang dipasang di setiap kuil Mesopotamia nantinya--dan mungkin juga, lama kemudian, hal tersebut masih dikenang dalam bentuk Wudu atau pencucian, kolam kecil yang terdapat di setiap masjid Islam dan bahkan mungkin juga ditemukan dalam proses pembabtisan di gereja Kristen.




Sumber: Babylonia, Mesopotamia dan Kelahiran Peradaban by Paul Kriwaczek. Halaman 49-50, 53.

18.4.14

Mari Kita Bicara




"Apa kau bercanda? Ini jelas tidak baik-baik saja!"

"Maaf. Ya sudah, kita bicarakan yang lain saja."

"Tidak bisa begitu! Aku butuh penjelasan!"

"Sudah, nanti saja kita bahas. Sekarang, aku ingin bertanya satu hal padamu. Hmm, banyak sih, tapi sepertinya satu dulu."

"Huh? Kamu mau bertanya apa?"

"Apakah sekarang kamu bahagia?"

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Tidak. Hanya bertanya saja. Kamu tidak mau menjawab?"

"Hum, oke baiklah. Ya, aku bahagia. Rasanya semua yang kutargetkan hampir semua tercapai. Tinggal satu, oh tapi yang terakhir itu bisa kudapat sebentar lagi, sepertinya."

"Oh, begitu."

"Ya, kenapa?"

"Tidak apa-apa. Kalau begitu, kamu hidup untuk apa?"

"Maksudmu untuk apa?"

"Ya, tidak ada maksud apa-apa, hanya bertanya: untuk alasan apa kamu hidup selama ini? Mengejar kebahagiaan?"

"Bisa dibilang begitu, kan?"

"Jadi, jika yang satu tadi itu berhasil kamu dapatkan, tujuan hidupmu juga sudah tercapai?"

"Iya."

"Terus kalau sudah dapat, kamu mati dong."

"HAH?"

"Kan tujuan hidupnya sudah tercapai. Habis itu, mau apa lagi?"

"Ya aku juga tidak tahu mau apa lagi. Kalau sudah kaya, mapan, berkecukupan, ya sudah kan? Tinggal cari istri. Tidak susah kok, banyak yang mau, hahaha."

"Huuu. Kalau sudah mati, kamu mau ke mana?"

"Ke surga."

"Semudah itu?"

"Dan kenapa harus berpikir serumit itu?"

"Kamu... Yakin masuk surga?"

"Hahahaha. Kamu ini sudah dua lima, tapi pertanyaanmu seperti anak dua belas saja yang sedang mengerjakan PR Agama."

"Entahlah, hanya berpikir saja. Dan bagaimana jika kita buat saja dialog ini semudah itu? Seperti pertanyaan seorang bocah dua belas tahun yang bertanya soal tugas Agama?"

"Kamu mempersulit dirimu sendiri."

"Aku hanya ingin mengetahui pemikiranmu."

"Huh, baiklah. Aku umat beragama, jika ke arah situ pembicaraan ini yang ingin kamu ketahui. Aku percaya Tuhan, meskipun aku tidak tahu apakah dalam konteks ini, percaya yang kamu maksud sama dengan percaya yang ada dalam pemikiranku."

"Maksudmu, percayamu itu berbeda dari membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan perbuatan?"

"Ah, itu kan hanya retoris."

"Ehehe, kupikir malah justru percayamu itu yang retoris. Jadi misalnya kamu mencintai seorang gadis, kamu hanya membenarkan, kemudian mengucapkannya saja tanpa ada tindakan? Ah, gadis itu pasti sudah kabur menunggu kepastian darimu yang tidak kunjung datang."

"Hahaha."

"Berarti benar. Jadi.."

"Eits tunggu. Tidak bisa disimpulkan semudah itu."

"Bisa saja. Andre, aku mengenalmu sudah lama, lebih dari hitungan lima tahun kita berteman, kan? Jadi tanpa pembenaran darimu pun, aku sudah mengetahuinya, kawan."

"Oh, terserahmu lah."

"Iya, jadi kamu melakukan pembelaan pun sepertinya tidak mempan."

"Kalau begitu mengapa kamu mempertanyakan hal-hal yang menurutmu sudah kamu ketahui?"

"Hanya... Semacam ingin mendapatkan penyangkalan. Oke, jangan dipotong lagi, aku belum selesai berbicara. Jadi, jika kamu mempercayai Tuhan, apa hanya dengan pembenaran dalam hati saja dan pengucapan secara lisan, menurutmu itu sudah dibilang 'cukup' menjadi orang yang percaya Tuhan?"

"Jadi, apakah jika aku beribadah harus laporan padamu dulu setiap waktu?"

"Hahaha, sudah ah jangan[i] sewot,[/i] aku hanya bertanya. Kalau memang kamu seperti apa yang baru saja kamu katakan, tentang beribadah dan berbuat baik itu sudah kamu laksanakan, aku hanya bisa mengucap syukur. Kemudian beroda semoga kita bisa bertemu dan berteman lagi di surga, boleh berharap seperti itu kan?"

"Kamu minta doa saja sana ke Tuhanmu—"

"Sudah."

"—eh?"

"Ya. Aku sudah berdoa seperti itu. Semoga Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan semesta alam raya mengabulkan doaku."

"Kamu ini kenapa, Ariana?"

"Hehe, tidak apa-apa."

"Oke, kalau begitu jelaskan, tentang pembicaraan awal kita yang tadi kaupotong jadi malah membicarakan soal bahagia, surga, Tuhan, dan hal-hal remeh lainnya itu."

"Ya Tuhan! Oke, persepsi kita soal itu rupanya [i]memang[/i] tidak sejalan. Kamu menganggap itu sebagai hal yang hanya bisa dengan mudah diucapkan, tapi aku menjadikan itu sebagai penerang jalan. [i]Way of life.[/i] Aku dan segala hal tentang kekolotanku soal sembahyang lima waktu, dan lain sebagainya. Kamu menganggap itu hal remeh sementara aku menjadikan itu sebagai tumpuan."

"Jangan mulai lagi deh, Ariana. Jelaskan, mengapa kamu menutupi hal penting soal kepindahanmu ke Bandar Lampung padaku, sekarang!"

"Aku... Aku akan menikah, bulan depan."

"Oh. Astaga!"

"Iya."

"Bagaimana bisa? Ba-bagaimana kamu tidak cerita padaku, Ariana?"

"Ini... Ini aku sudah cerita."

"Tapi bagaimana bisa?!"

"Bagaimana bisa apanya? Ada seorang yang baik memintaku pada kedua orang tuaku, lalu aku mengetahui kebaikannya, dan bersedia menerima kekurangannya. Aku berusaha yakin kalau dia mampu menjadi nahkoda yang baik bagi kehidupanku mendatang dan... Aku akan berusaha untuk mencintainya. Aku yakin pasti bisa."

"Yakin bagaimana? Apanya?!"

"Aku memiliki persepsi keyakinan yang berbeda denganmu, ingat kan? Jadi aku yakin pasti bisa."

"Kenapa... Kenapa bisa?"

"Bisa saja. Karena, aku sedang berusaha untuk menjadikan Tuhan sebagai tujuan dan menjalani keyakinanku sebaik-baiknya. Karena, aku sedang berusaha untuk menjadi orang baik, itu saja."

"..."

"Maaf kalau ternyata kita memang benar-benar berbeda. Bisakah tetap berteman, selamanya?"

15.10.13

Kerudung Jingga | Kejutan Sebelum Ramadhan

Pengantar: Ehm, cerpen ini ikut dibukukan dari 200 karya terpilih dari @nulisbuku





 ------------o0o-------------

Setiap orang lahir dengan banyak impian yang dihembuskan menjadi doa dalam helaan napas ibundanya ketika pertama kali ia menyapa dunia. Sebuah hela napas panjang seorang ibu yang memutus fase mengandungnya, mengantarkan ia menuju fase amanah baru yang akan dipikulnya sepanjang hayat sebagai seorang insan. Kiriman doa akan terlantun begitu saja ketika mendengar tangisan pertamanya. Namun beban beratnya kehidupan, menjadi bayang-bayang begitu tangisan selanjutnya terlantun menggema memenuhi ruangan tempat ia dilahirkan.

Aku lupa dengan tangisan pertamaku ketika lahir di dunia. Tapi entah mengapa, aku selalu teringat tangisan-tangisanku selanjutnya. Apakah itu karena aku terlahir tanpa impian, tanpa doa atau tanpa harapan dari orang-orang? Ataukah aku terlahir hanya menjadi beban bagi kehidupan yang semula sudah amat berat? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, sekarang aku hanyalah seorang lelaki beranjak dewasa yang setahun lagi menginjak kepala dua namun masih terjebak pada seragam putih abu-abu.

Tak perlu kuhabiskan waktu menjelaskan mengapa berulang kali aku tidak naik kelas, atau seberapa bermasalahnya aku dengan orang yang ada di sekelilingku. Bagiku hidup bukan hanya selembaran nilai rapor yang harus ditandatangani orang tua setiap akhir semesternya. Bagiku, hidup jauh lebih rumit daripada itu. Dan kenyataan bahwa orang yang menyebabkan rumitnya hidup yang harus ku jalani ini adalah orang yang amat ku sayangi, itu semakin menambah rumit kehidupanku.

Lupakan sejenak tentang itu. Kini, pikiranku tiba-tiba beralih pada sebuah fokus kehidupan yang lain. Mentari Jingga memang mengguratkan keindahannya yang cukup menyihir walau hanya sekejap mata dan kemudian pergi. Aku tidak memiliki kuasa untuk menahannya, karena aku bukanlah siapa-siapa. Pemuja rahasia? Mungkin saja. Mungkin aku seorang yang menunggu semburatnya untuk mengantarkanku terlelap dan bermimpi. Karena di siang hari, aku tidak memiliki mimpi yang nyata. Karena di malam hari ketika tidur, itulah impianku yang sesungguhnya.

            Ah, aku tidak mampu mengontrol wajahku untuk tidak tersenyum ketika melihat wajahnya dari kejauhan.

***

Aku tidak tahu apa itu cinta. Tapi apabila kamu merasakan kebencian yang amat sangat dalam, namun dengan hanya melihat mata teduhnya saat ia kelelahan kamu mampu melupakan semua kebencianmu, apa itu dinamakan cinta? Kata orang, cinta butuh bukti tidak sekedar pernyataan. Ketika kamu tiba-tiba berpikir untuk melakukan sesuatu sebagai bukti cintamu, apakah kamu sedang merasakan jatuh cinta? Kalau memang seperti itu, maka aku akan membuktikan semua itu pada orang yang sangat ku cintai dan akan berusaha memaafkan semua kesalahannya. Kesalahan fatal sekalipun.
 
***

Pagi ini, aku melihat Mentari Jingga sedang sibuk dengan kardus-kardusnya, dan instruksi-instruksi yang keluar dari bibirnya. Betapa sibuknya sekelompok orang di depan gerbang sekolah ini. Hari ini sekolah diliburkan jelang Ramadhan, dan seperti agenda rutin tahunan sekolah ini, OSIS akan melaksanakan bakti sosial membagi sembako ke Panti Asuhan sebagai kado Ramadhan kepada yang kurang mampu. Dan jangan tanya mengapa hari ini aku ada di sekolah, karena aku juga sedang berencana memberikan kado untuk orang yang spesial.

            “Ran! Ini kardus gula yang belum di packing kamu bawa ke anak-anak di sekretariat untuk di packing sekarang!” Teriaknya pada seorang gadis berkacamata bernama Rani yang berdiri tidak jauh darinya.

            “Mamat, Mat! Sumbangan Bu Neni sudah diambil belum? Ambil sana gih ntar gak keburu di pack sama anak-anak!” Teriaknya lagi pada yang lain. Dan semakin terlihat betapa sibuknya dia memberikan instruksi pada yang lain. Ia sendiri, gadis belia berkerudung putih susu, sibuk pula mengangkat beberapa dus yang tertumpuk di depan gerbang sekolah. Sementara aku, si berandal yang terkenal suka bikin rusuh, mengamatinya sambil berpura-pura membaca buku, di sebuah bangku tidak jauh dari situ.

       “Tari… Tari…!” Seorang anak perempuan teman sekelasku yang ku tahu bernama Nita menghampirinya dengan tergesa-gesa. “Pihak Panti Asuhan sudah siapkan acara penyambutan nanti jam sebelas. Tapi mobil pick up yang kita sewa kemarin barusan konfirm nggak bisa ngantar. Aduh Gue bingung musti sewa kemana lagi. Pakai mobil anak-anak udah Gue hitung-hitung nggak cukup. Mana acaranya tiga jam lagi, di sekretariat masih banyak yang harus dikerjakan lagi” Sambung Nita dengan panik.

            Bisa kulihat kalau Mentari Jingga sang ketua panitia mulai panik dengan situasi yang tidak diduga ini. Menurutku sih ini masalah sepele saja, namun sepertinya karena kelelahan sejak tadi pagi, juga mungkin dari kemarin-kemarin, ia bingung juga. Aku menghentikan bacaanku dan segera datang menghampiri mereka. Sebuah kejutan sepertinya melihat reaksi kedua orang ini yang memandangku dari ujung kaki hingga ujung kepala seperti sedang memberikan sensor Sinar X padaku.

            “Ada yang bisa dibantu?” Ucapku datar sambil membalas tatapan aneh mereka berdua.

            Taka ada balasan.

            “Hmm oke sorry, tapi tadi gue gak sengaja dengar dari sana.” Lanjutku sembari menunjuk ke arah bangku dimana tadi aku tiduran sambil pura-pura baca buku. 

Tak ada balasan lagi.

“Gue bisa mengusahakan pick up jam sepuluh. Gue bisa nyetir. Asal harga sewanya cocok, gue juga bisa bantu angkat-angkat barang.”

            Mungkin mereka masih kaget dengan keberadaanku, dan tawaran bantuan itu. Seorang Adhan Pradana, siswa yang hampir setiap bulan diskros karena kenakalannya, yang dua kali tidak naik kelas, yang tidak pernah peduli dengan sekelilingnya tiba-tiba datang menawarkan bantuan. Setiap orang pasti punya masa kelam dalam hidupnya, dan anggap saja ini adalah titik balik dalam kehidupanku. Bukankah setiap orang harus berubah menuju kebaikan? Sepertinya kejadian semalam cukup membuatku sadar untuk berubah. Dan inilah momen pertama kebaikanku.

            Walau terperangah cukup lama, akhirnya mereka setuju. Transaksi disepakati, bahkan aku menawarkan harga separuh dari yang mereka sepakati dengan penyewa pick up sebelumnya. Tapi kemudian aku juga membuat kesepakatan untuk menambah lima puluh ribu rupiahs ebagai biaya tambahan untuk aku ikut bantu mengangkat-angkat barang. Mereka menyepakati, karena tentu saja dengan tambahan itu mereka cukup diuntungkan karena mendapatkan harga yang masih jauh lebih murah dari sebelumnya. Dan bagaimanapun, ini adalah penghasilan pertamaku dari hasil keringat sendiri. Akan ku gunakan untuk membeli kado untuk orang yang ku cinta.

***

“Makasih Dhan untuk hari ini.” Ucap Tari sembari ikut membersihkan barang-barang seusai acara.

“Makasih untuk apa? Gue kan sudah dibayar professional, hahaha.” Jawabku sembari tertawa renyah.

“Emmm, kalau begitu, Saya mau minta maaf, karena… karena…”

“Karena salah sangka sama Gue? Sudah biasa kok. Seharusnya Gue yang minta maaf ke orang-orang kali ya, karena sudah jadi orang jahat selama ini.”

“Eh, tapi tetap saja Saya salah. Apa bisa dimaafkan?” Pintanya tulus.

Aku terdiam sejenak. 

            “Begini saja, Gue mau minta bantuan sama Elo. Dan setelah selesai, Gue anggap kesalahan Lo, yang sebenarnya bukan kesalahan sih ya, itu dimaafkan.” Jawabku. 

Kemudian aku jelaskan permohonanku, dan dia mengangguk sembari tersenyum. Aku merasa bunga-bunga bermekaran sebelum musimnya.

***

            Langit menggurat jingga mengantarkan kepulangan Mentari Jingga ke rumahnya. Dan aku terpaku sendiri menatap bungkusan cantik berpita emas di jok depan pick up yang baru saja diduduki oleh Mentari Jingga. Kerudung pilihannya sungguh cantik, tidak salah aku memilih dia untuk menemaniku memilihkan kado spesial ini. Entahlah, dari sekian banyak gadis berkerudung di sekolahku, aku memilih dia untuk menemaniku membelikan kado ini. Namun untuk berharap lebih pada gadis sholeha sepertinya, aku perlu berkaca diri. Menerima maafnya hari ini pun rasanya tidak pantas, dan mengetahui dia akan bersedia memenuhi permintaanku hari ini, rasanya seperti mimpi.

            Kini aku dihadapkan kepada pilihan sulit berikutnya untuk menyerahkan kado ini kepada orang yang tepat. Aku tidak mempunyai keberanian. Bahkan hanya untuk meletakkannya begitu saja di dalam kamarnya tanpa berkomentar apa-apa, rasanya sulit. Tapi sekali lagi, cinta butuh pembuktian dan aku harus berani membuktikannya.

***

            Ini sahur pertama. Namun aku terbangun bukan karena mendengar aktivitas dapur, tapi oleh isak tangis dari kamar sebelah. Pasti Ibu baru datang. Mungkin ia baru menyadari ada bungkusan tergeletak di kamarnya. Aku ingin pura-pura terpejam namun aku tidak bisa. Lebih baik aku ke dapur saja menyiapkan makan sahur untukku. Bukankah ini sahur pertamaku setelah sekian lama? 

            Kemudian terjadi begitu saja, orang yang begitu ku benci namun amat sangat ku cintai tiba-tiba muncul dengan air mata berderai, mengambil panci dari tanganku. Aku duduk memandanginya mengambil alih pekerjaanku. Aku menatapnya lama. Ia masih cantik, terlebih dengan kerudung jingga yang kini dikenakannya. Ingin aku teriakkan ‘aku sayang ibunda’ tapi tertahan begitu saja di rongga dada.

            “Maafkan Ibu Nak. Akan sulit untuk mengakhirinya sekarang. Namun Ibu akan berusaha.” Ucapnya lirih. “Dan kejadian kemarin malam, Ibu janji tidak akan terulang kedua kalinya.”

            Sekelebat muncul kembali peristiwa itu. Seorang ibu paruh baya datang ke rumah, menanyakan dimana suaminya pada Ibu. Memaki-maki, mengucapkan kata-kata sumpah serapah hingga semua tetangga keluar. Menampar dan menarik rambut ibuku dan menampar pipinya. Aku yang mencoba melerai keduanya terkena pukulan di kepala. Namun pukulan di hatiku amat jauh lebih sakit kurasa. Ibu itu mungkin terluka atas apa yang –aku tidak tahu- mungkin telah dilakukan ibuku pada kehidupannya. Namun aku, yang sepanjang usiaku hingga kini dinafkahi dan dibesarkan oleh ibu tanpa pernah tahu siapa ayahku, amat sangat jauh lebih terluka karena tak memiliki daya, bahkan untuk membela ibuku sendiri.

Wanita yang kini memakai kerudung jingga itu, telah menghabiskan dua puluh tahun hidupnya sebagai seorang Wanita Tuna Susila.

            “Adhan sayang Ibu.”

14.10.13

Seperti Itulah

Aku mencintainya...
Aku melihatnya membaca buku itu...
Kemudian aku pun ikut membacanya...

Aku jatuh cinta pada buku itu...
Aku menyukai jalan ceritanya...
Aku mencintai penulisnya...

Aku mencintai buku-bukunya yang lain...
Aku mencintai tulisannya...

Sampai sekarang aku masih mencintai buku itu, penulisnya, dan buku yang lain yang ditulisnya...
Tapi aku tidak mencintai dia lagi...

Seperti itulah hubungan kami...


24.9.13

Fall (or Fool) in Love (?)

Sejauh ini aku telah jatuh cinta dua kali.
Pada orang yang layak, namun diwaktu yang salah.
Karena hanya mengejar bayangan yang terus pergi menuju cahaya.
Iya, mereka pergi menuju cahaya,
Namun aku hanya terpaku, menatap bayangan yang semakin pergi semakin memendek.

Bolehkah aku jatuh cinta sekarang?
Tidak boleh Nak, kamu terlalu kecil untuk menanggung bebannya.
Senyummu terlalu manis untuk berpura-pura bahagia ketika kau terluka.

Maka titipkan saja namanya,
Pada sehelai daun yang akan meninggi seiring pertumbuhan batang pohonnya.
Titipkan saja namanya,
Pada hamparan pasir di tepi pantai yang akan melarutkannya dan membawa ke laut lepas.

Yang manapun yang terbaik bagimu,
Akan dikirimkan kepadamu,
Sebagai bingkisan yang patut kamu syukuri,
Sepanjang waktu.




Puisi titipan 'anakku' ._.v

10.9.13

Terselip Sebuah Cerita


Baru seminggu aku bekerja disini. Menerima berbagai map hasil penelitian dari peneliti, kemudian memperbaiki karya ilmiah mereka dari segi tanda baca dan penulisan EYD sesuai dengan kaidah berbahasa yang benar.  Untuk kemudian, bisa layak diterbitkan dan menjadi rujukan dan konsumsi kaum akademisi yang haus akan hasil penelitian terbaru.

Sebuah map bertuliskan Prof. Dr. Sulastri, M.Si sudah berpindah dari mejaku. Baru saja aku menuju ke ruangan beliau untuk mengembalikannya. Irisnya yang hitam dibalik kacamata menyapu halaman demi halaman penelitiannya itu. Aku mengamati wajahnya. Masih cantik. Walau telah menginjak usia lima puluh tahun, aura kecantikan beliau masih terpancar, meski kerutan wajahnya tidak dapat disamarkan. Masih sama dengan foto masa mudanya yang pernah kulihat. Beliau belum menikah. Seperti ada cerita masa lalu yang belum usai.

Kurogoh laci mejaku, mencari sebuah portrait yang kumaksudkan tadi. Tidak ada. Dimana foto itu?

Derap langkah yang berhenti di pintu ruanganku menjawab pertanyaan tadi.

“Sarah.” Suara yang biasa tegas, terdengar lirih. Foto Ibu Sulastri muda sepertinya terselip di antara kertas pekerjaanku tadi.

“Kamu anaknya ….?” Tangan kirinya memegang potret hitam putih dirinya dan seorang pemuda.

Aku tergagap, mengangguk pelan. “Bapak menunggu anda Professor, tapi …” 

Ia masih seorang lelaki dari desa yang tak berpendidikan tinggi.

Di Atas Pusara Ayahnya

Satu jam berlalu setelah berita kematian seorang pejabat tinggi daerah beredar. Kini di sebuah kompleks pemakaman terkenal telah ramai dikunjungi oleh para pelayat. Sebentar lagi, prosesi pemakaman akan dilangsungkan. Mobil-mobil berjejer rapi hingga memadati pinggir jalan. Semua ingin memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang. Keluarga pun banyak memadati petak dua kali satu meter tempat peristirahatan terakhir sang pejabat. 

Dari kejauhan, di bawah pohon kamboja yang tumbuh subur di area pemakaman, aku berdiri mematung. Berpakaian serba hitam sebagai tanda bela sungkawa, dan membawa seikat rangkaian bunga mawar merah tua. Aku belum beranjak dari tempat ini, karena di tempat mendiang dikuburkan masih sangat ramai. 

Aku hanya melihat dari jauh, mencoba mengenali satu per satu keluarga yang hadir. Aku mengenali sosok istri pejabat itu. Ibu yang cukup berumur dibalut kerudung putih dan kaca mata hitamnya sedang menaburkan bunga sembari terduduk di sisi makam. Aku juga melihat anak tertua, Afian, dengan kaca mata hitam pula duduk di samping ibundanya. Yang tidak terlihat adalah wajah Adrian, yang mungkin saat ini sedang melintasi garis meridian demi melihat tanah basah tempat ayahnya dikuburkan.

Beberapa saat berlalu, aku keluar dari tempat ini bersamaan dengan pulangnya para pelayat yang hadir. Rangkaian mawar merah tua masih aku bawa. Ingin rasanya kuletakkan bunga ini di atas makam beliau, namun ini bukan saatnya. Masih ramai, dan tentu kehadiranku disana akan menyumbangkan tanda tanya besar.


Sejam kemudian, aku memutuskan untuk kembali. Namun sepertinya kedatanganku kali ini masih bukan di waktu yang tepat. Aku kembali berdiri di tempat yang sama dengan sebelumnya, menyaksikan drama keluarga yang begitu menyayat hati.

Keluarga sah almarhum Satrio Miharja masih berada disana. Beserta dua wajah baru yang tidak diundang.

“… kalian sudah kuperingatkan! Pergi dari sini. Sekarang!” Suara tegas Afian, memerintah kepada dua orang yang terdiri dari lelaki muda dan seorang ibu berusia lima puluhan.

Suara isak dari ibu berkerudung hitam itu mengusik kesunyian di sekitar pemakaman.

“Kamu tidak bisa melarang kami untuk kesini! Walau bagaimanapun, ini adalah makam ayahku juga!” Teriak sang lelaki yang baru datang di depan wajah Afian.

Afian, sang putra pertama membuka kaca matanya dan menampakkan sorotan yang mengancam pada pemuda itu yang disinyalir usianya lebih muda darinya.

“Pak Diman!” Teriaknya pada sopir pribadi mereka yang masih berada di sekitar tanah kuburan ayahnya.  “Bawa ibu pulang duluan. Aku akan membereskan sampah kecil ini dulu sebelum pulang!”

Pak Diman yang namanya tadi dipanggil, tergopoh-gopoh membawa sang nyonya yang tadi hanya terduduk dan diam menyaksikan kedatangan dua orang baru tersebut. Sorot mata sang nyonya yang amat sangat kelelahan tidak mampu menambahkan ekspresi duka maupun keterkejutan lagi, menurut saja apa titah sulungnya.

Aku menyembunyikan postur kecilku di belakang batang pohon yang kokoh sembari memandang sosok nyonya besar dan supirnya, yang keluar dari area pemakaman. Selanjutnya, inderaku kukonsentrasikan ke tempat tadi sepenuhnya.

“Kalau kau datang kemari hanya untuk masalah warisan, lupakan! Kau dan ibumu tidak akan mendapatkan harta sepeser pun!”

“Kau sungguh hina! Bagaimana mungkin berbicara warisan sementara kuburan ayahmu, ayah kita, …” pemuda kedua itu menunjuk ke makam di sebelah mereka. “masih basah, belum kering?”

“Kau hanyalah seorang anak dari istri yang tidak sah!” Bentak Afian, yang juga menunjuk sosok ibu yang sedari tadi menangis tak henti sembari mencoba menenangkan anaknya yang terpancing emosi.

“Kami tidak mengharap warisan, Nak. Kami hanya ingin melakukan penghormatan terakhir. Walau bagaimanapun, ayahmu adalah suami sah ibu di mata Tuhan. Dan Andre, adalah adikmu juga, bagaimanapun kau mengingkarinya.” Ujar sang ibu, dengan air mata berleraian.

Aku tidak sanggup lagi menyimak pembicaraan tersebut. Kuputuskan untuk meninggalkan tempat ini, tanpa sempat mengantarkan doa secara pribadi dan meletakkan rangkaian bunga ini di atas makamnya. Kuusap air mata yang perlahan jatuh ketika indera pendengaranku masih mampu menangkap pembicaraan mereka yang ada di dekat makam sana. Orang waras mana yang memperkarakan warisan saat kuburan orang tuanya belum kering?


Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke tempat ini, sejam lagi kemudian. Ini adalah kesempatan terakhir. Jika tidak ada momen untukku meletakkan sendiri rangkaian bunga ini, maka akan kuletakkan saja di bawah pohon kamboja yang tadi menemaniku mematung.

Keberuntungan memihakku kali ini. Di atas tanah basah miliknya tidak ada siapa-siapa. Aku menahan keinginanku untuk segera berlari menuju ke gundukan tanah itu. Aku hanya berjalan dengan tenang, menjaga langkahku agar tidak terpeleset oleh kontur tanah pemakaman yang tidak rata. Dan kini aku sampai di atas pusaranya.

“Ayah.” Ucapku lirih.

Kusapu daun yang berguguran di atas makamnya yang basah dan penuh dengan taburan bunga. Andai menghapus luka itu semudah membuang daun-daun kering yang sudah mulai berguguran di atas makamnya, maka tidak perlu ada air mata yang kini jatuh membasahi pipiku ini.

Seorang ayah, adalah cinta pertama bagi putrinya. Ayahlah yang melindungi putrinya ketika ada yang mengganggu. Ayah pula, yang nantinya akan memegang dengan mantap tangan lelaki yang dipilih anak perempuannya untuk bersama mengikrarkan akad, mengantarkan sang putri ke kehidupannya yang baru. Ayah adalah orang yang bersanding disampingnya kemudian menyerahkannya kepada lelaki yang direstuinya untuk menjadi pendamping bagi anaknya. 

Seharusnya memang begitu. Namun itu tidak terjadi dalam cerita kehidupanku. Kalimat sapa itu, baru saja aku ucapkan untuk pertama kalinya, di atas gundukan tanah basah, saat pemiliknya tidak lagi memiliki nyawa.

“Ayah, anak perempuanmu satu-satunya datang. Maaf atas keterlambatanku untuk berdoa di atas pusaramu. Kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang, Yah? Kuharap seperti itu. Supaya aku mampu dengan mudah memaafkan kesalahanmu padaku dan ibu.”

“Ayah, aku mencintaimu.”

Kukecup nisan dingin itu. Berharap itu bisa menggantikan jasadmu yang tidak pernah mampu aku cium, baik dalam keadaan hidup maupun tak bernyawa.

Aku sudah akan beranjak pergi ketika sebuah suara, yang masih aku kenal siapa pemiliknya, memanggil namaku dengan nada yang tidak biasa.

“Audriana?”

Aku menoleh, mengusapkan air mata yang tak henti keluar. Sosok Adrian berdiri di sisi lain makam, dengan wajah penuh tanda tanya besar dan juga raut kesedihan yang mendalam.

“Kamu…. Siapa?”

“Aku…. Anak dari istri ketiga ayahmu.”

Itulah fakta yang sebenarnya, yang tidak mampu aku tutupi lagi. Yang menjadi penyebab aku harus mengakhiri hubunganku dengan lelaki yang kini pandangannya mengisyaratkan meminta banyak penjelasan ketika melihatku, sang mantan tunangannya yang menangis tiada henti dan mengecup nisan, di atas pusara ayahnya.


***

Tulisan ini (994 kata) diikutkan ke Ngasih Hadiah September Bahagia by Harry Irfan yang dikembangkan dari fiksi mininya yaitu: 

ANAK BARU. “Anak mana Lo?” | “Aku anak dari istri ketiga bapakmu!”