Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

12.1.16

Obrolan Pagi





Tiba-tiba saja kau bertanya padaku, "Sejak kapan kau mencintaiku?"

Aku hanya membutuhkan tiga menit untuk memberitahumu, barangkali tiga puluh menit jika kau menginginkan penjelasan, sekaligus memberi ruang padaku untuk bernostalgia. Tapi kita sama-sama tidak menyadari, ada selang tiga tahun bagi kita untuk sama-sama menyadari, bahwa kita ditakdirkan saling melengkapi, bahwa ternyata, selain ada kata "aku" dan "kau", kita membutuhkan "kita" untuk mengikatnya bersama.

Aku memutar mata, memamerkan senyum misterius untuk memancing rasa penasaranmu. Sejak kapan aku mencintaimu? Benarkah kau ingin tahu?

"Pertama...," aku memberi jeda dengan mencari-cari kedua bola matamu dan menatapnya tajam. Oh, pengakuan ini sejujurnya tidak akan pernah bisa kulafalkan sebelumnya. Tapi, bukankah kau juga harus tahu, sejak kapan aku mulai mengubah frasa "teman" menjadi naik level ke sesuatu yang membutuhkan pengorbanan lebih dari sekadar menjadikanmu sebagai teman? "Saat aku pernah mengeluh padamu ketika aku sedang sakit. Kau tahu apa komentarmu waktu itu? Sudah saatnya kamu butuh suami."

"Oh," reaksimu, namun dengan jelas aku melihatmu mengalihkan pandangan padaku seperti sedang berpikir. "Setahun yang lalu?" tanyamu mengonfirmasi.

"Sepertinya begitu. Dan kurasa, kamu cuma bercanda waktu itu, kan?" Aku membalikkan tanya sambil tertawa. "Aku tahu kamu bagaimana."

Kamu ikut tertawa bersamaku.

"Kedua?"

"Kedua, saat kau menghilang tanpa jejak dan sama sekali tidak meninggalkan pesan. Dan aku adalah orang pertama yang kau hubungi kembali. Mungkin bagimu itu hanya sesuatu, tapi bagiku adalah segalanya." Ya Tuhan, jantungku mendentum saat pengakuan barusan itu kusampaikan.

"Kau memarahiku saat itu--"

"--karena kau tidak tahu betapa khawatirnya aku."

Kau menghela napas panjang, sambil mencuri pandang dengan tersenyum yang langsung kutangkap pandangan itu lalu menguncinya.

"Maaf."

"Kau sudah mengucapkannya waktu itu. Dan kurasa, memang tidak ada yang harus dimaafkan."

"Dan yang ketiga?"

"Sekarang..., dan untuk selamanya."

Kau terdiam, dan kembali memasang senyum yang lebih tulus dari sebelumnya, atau bahkan lebih tulus ketimbang senyum manapun yang pernah kau pamerkan kepadaku. 

Aku ikut tersenyum bersamamu. Meskipun, aku tahu 'selamanya' bukanlah kata yang dengan jujur mampu aku pertanggungjawabkan setelah ini. Aku tahu, akan ada masanya ketika aku merasa lelah untuk mencintaimu, bahkan ketika aku berusaha dengan sekuat tenagaku. Akan ada saat ketika musim semi yang paling indah berganti dengan musim dingin yang paling mencekam. Bunga-bunga yang pernah bersemi itu tertutup salju dan tertimbun badai dalam suhu terendah sepanjang yang aku bisa tahan. Tapi, aku akan setia menunggu musim menghangat, masa di mana kata cinta akan menjadi atmosfer kembali hingga aku mampu menghirupnya bersamamu. Tapi kata 'sekarang' yang baru saja kuucapkan, adalah sebuah kejujuran yang mampu kuungkapkan, sejujur matahari yang tengah menyinari pagi kita, menyusup malu-malu melalui celah jendela.


22.9.15

Tarian Kemarau




Matahari mencapai puncaknya saat seorang gadis dengan kaki gemetar melangkah ke tengah ladang yang kering kerontang. Dadanya bergemuruh bagaikan embusan badai di musim salju. Laksana deru es memeluk angin kencang yang menghantam setiap gubuk kecil yang hanya memiliki kayu bakar terakhir dengan api menyala sendu. Tapi itu semua hanya berlangsung di dalam benak sang dara. Tidak pernah ada badai salju di tanah mereka. Meskipun ada, dan andaikan badai salju tersebut akan memorak-porandakan gubuk mereka, itu jauh lebih baik ketimbang puncak kemarau yang tengah melanda sekarang.

‘Setidaknya, jika musim dingin itu terjadi, aku tidak perlu mengalami ketakutan yang tengah kualami saat ini,’ batinnya.

Tangannya menggenggam sebatang bambu dengan ujung runcing yang bahkan tidak pernah ditatapnya. Dari jarak tidak terlalu jauh darinya, pemuda berusia dua tahun lebih muda darinya menghunuskan pedang, tatapannya mengandung nafsu untuk mengalahkannya dalam sekali tebasan. Gadis itu, Naya namanya, hanya berani menatap dengan getir, tidak mampu menyembunyikan ketakutan yang bersemayam pada kedua bola matanya, membiarkan sang pemuda meraup sisa-sisa harapan yang dia miliki… kalau masih ada.

***

“Aku sudah memutuskan…,” tatapannya melayang ke atas kasur, saudara lelakinya terbaring tak berdaya di sana, “aku yang akan menggantikan Victor pada Turnamen Tarian Kemarau nanti,” lanjutnya dengan suara pelan namun tegas.

Seketika gubuk yang hanya memiliki satu obor sebagai penerangan itu hening. Sebuah keheningan yang menyayat hati, bagaikan permainan suling dalam upacara kematian di Halfland yang dilangsungkan secara turun-temurun hingga sekarang. Dan keheningan itu dipecahkan oleh isak tangis teredam salah seorang adik perempuannya.

“Ba… bagaimana mungkin aku membiarkanmu turun dalam turnamen itu, Naya?! Setelah apa yang dialami Victor dua tahun yang lalu pada turnamen yang sama?!” pekik Isabella adiknya.

***
  
Gemuruh penonton di pinggir ladang membuyarkan ingatannya yang tadi sempat berkelana menyusuri masa beberapa hari sebelum dirinya berada di pusat keramaian ini. Pandangan Naya bergerak menyusuri penonton, barangkali adik-adiknya ada di antara kerumunan mereka, menontonnya. Meskipun beberapa kali ia mengharapkan tidak ada satupun kerabatnya yang akan menangisi darahnya yang tertumpah di atas retakan tanah ladang panas dan kering.

*** 

“Victor tidak pernah muncul sejak kekalahannya dua tahun lalu, aku tidak dikenal oleh mereka. Dan aku yakin, mereka tidak akan pernah memedulikan apakah Victor atau siapa pun yang akan mewakili rumah ini dalam turnamen.” Dadanya seolah berapi, bagaikan ranting dan daun kering di puncak musim panas yang terkadang membakar dirinya sendiri. “Aku tidak akan pernah membiarkan mereka membawa Victor yang lemah.” Suara Naya tercekat. 

Dia bisa membaca pikiran Isabella, bahkan Maureen adik bungsunya yang bisu dan hanya menatap dirinya dengan berkaca-kaca. Satu-satunya opsi yang paling memungkinkan adalah membiarkan Victor masuk ke dalam pertandingan, dengan begitu bisa memuluskan jalan kakak sulung mereka hingga tidak lagi merasakan kesakitan. Itu adalah satu-satunya opsi, hingga Naya mencetuskan niatnya untuk menggantikan posisi Victor, mengenakan jubah dan baju zirahnya, memasang ikat kepala hitam sebagai pertanda bahwa dia pernah menjalani pelatihan militer bersama banyak pemuda di tanah Halfland beberapa waktu silam.

***

Tarian Kemarau, pesta akbar pemanggil hujan di mana awal mulanya para cenayang dan pertapa percaya, bahwa bumi di puncak kemarau pada siklus dua tahunan meminta persembahan. Semua pemilik rumah harus mempersembahkan pemuda mereka sebagai peserta. Darah yang membasuh retakan-retakan tanah pada ladang gandum akan kembali menyuburkan, mengundang hujan turun mengguyur tanah mereka. Raja dan panglima perang turut menabuh genderang, dengan menjadikannya sebagai pesta rakyat dan ladang untuk mencari kesempatan merekrut para perwira baru—mengabaikan yang mati atau terluka parah, ya, tentu saja, Victor adalah contohnya.

“Ini akan sangat mudah untuk diselesaikan,” geram pemuda bernama Vlad.

Satu tebasan pedang menggores lengan Naya, darah menetes pada ujung pedang perak itu. Seringai muncul pada bibir Vlad, barangkali tengah membayangkan 20 keping emas yang akan ia dapatkan jika melewati babak pertama, lalu 200 jika dia sanggup melesat di babak kedua, dan 2.000 emas jika berhasil memenangkan pertandingan ini sampai selesai.

***

"Aku yang wajahnya paling mirip dengan Victor, aku yang bertanggung jawab menjaga kalian setelah Victor tidak mampu melakukannya. Dan aku, adalah seorang pekerja di dapur istana. Melakukan itu bahkan mungkin akan semudah menebas daging kalkun atau mencincang biri-biri sebagai makan siang para pekerja di istana." Suara Naya melemah dan bergetar.

Isabella hendak meneriakkan tangisnya, namun ditahan karena tidak ingin membangunkan kakaknya yang tengah tidur terkulai lemah. Hanya Maureen yang bangkit. Air matanya sudah diusap dengan punggung tangannya, lalu tangan mungil itu mengambil sebilah belati, membuat kedua kakaknya terkejut dengan apa yang dilakukan si bungsu bisu mereka.

***

Satu tebasan lagi menerabas ke arah kiri, namun tindakan impulsif sang gadis, secekatan saat ia menghampiri tungku ketika air rebusan kepala kambing yang ada di dalamnya mendidih dan hendak meluap dan menyimburkan air untuk memadamkan apinya di bawah panci, secepat itulah ia mengelak dari serangan yang baru ini. Dadanya masih berdebar. Gadis itu terkejut, lawannya gemas dengan upaya pembelaan dirinya.

“Orang yang bangkit dari sekarat bisa juga membela diri? Apa kabar Victor? Lelah dengan tidur panjangmu?” ejek Vlad kepadanya.

Gemuruh kembali melanda dada Naya. Ia tahu yang dirinya lakukan hanyalah perlu diam, sediam yang Maureen lakukan, untuk memerankan skenario ini.

Untuk memenangkan babak dalam pertempuran, petarung hanya perlu menjatuhkan dan memerahkan tanah dengan darah lawan. Hanya itu. Tapi, jarang menemukan para petarung baik hati yang mau membiarkan lawannya terjatuh saja. Dan Naya terlanjur berjanji pada Maureen untuk melakukan satu hal.

Dua kali lengan kanannya tertebas, yang ini cukup dalam. ‘Ini hanya seperti tergores pisau daging!’ batinnya meyakinkan diri. Tapi Naya masih berdiri dengan kedua kakinya. Tombak yang menjadi senjata membantunya untuk bertahan.

SRET!

Vlad memotong bambunya hingga terbelah menjadi dua, Naya berdiri limbung tanpa tumpuan bersandar. Bambunya menyisakan setengah. Matanya menyalang, menatap dengan tegas wajah lelaki itu. Dengan kekuatan entah datang dari mana, gadis itu akhirnya bersuara.

“Aku tidak akan membiarkan nyawaku dihargai hanya dengan 20 keping emas!”

Vladimir terkejut mendengar suara perempuan, dan saat ia lengah itulah si gadis kidal memindahkan bambunya, dengan ujung yang terbelah ia menggoreskan luka di tempat yang sama dengan yang ia dapati. Suara pedang berkelontang jatuh, dengan satu kakinya gadis itu menendang dada sang lawan dan membiarkan pemuda itu terjerembab di tanah. Darah lawannya telah membasahi bumi, masuk ke dalam rongga tanah yang retak.

“Kau! Bisa-bisanya!”

Gemuruh suara dan tabuhan gendang semakin memekakkan telinga saat mereka telah mendapatkan pemenangnya.

Setidaknya, Naya telah menepati janji pada adiknya, dan ia tahu bahwa Maureen akan melaksanakan janji yang ia minta, di malam saat gadis itu memotong rambut panjang miliknya.


***

Mata Maureen berkaca-kaca, namun tangannya sigap, mencengkeram pirang platina berombak milik kakaknya. Terdengar bunyi gesekan rambutnya dengan belati… dan kini jatuh ke atas lantai kamar tempat mereka berkumpul di malam itu. Isabella berlari keluar kamar dan berlari ke peraduannya sendiri. Dari bawah, raungannya masih terdengar samar. 

“Jadi, kau merestuiku, Maureen?”

Gadis itu mengangguk, namun belatinya dengan cekatan memotong rambut panjang Naya. Dia tahu, jika ingin menggantikan peran Victor, Naya harus melakukannya dengan sempurna.

“Jika aku menjadi korban nanti, kaulah yang akan menggantikan peranku di rumah ini.” Naya menahan suaranya supaya tetap tenang. “Isabella, biarkan dia memupuk dan meraih mimpinya untuk menjadi seorang istri pekerja istana. Biarkan dia menempuh jalannya. Tapi kau, kau harus percaya, Victor akan pulih. Aku percaya itu. Kau hanya perlu bersabar dan terus merawatnya….”

Suaranya terhenti karena adiknya menatap wajahnya dengan lekat, Naya melihat kesungguhan yang tidak pernah dilihat sebelumnya pada gadis tiga belas tahun itu.


“Aku berjanji, nyawaku tidak akan kubiarkan hanya seharga 20 keping emas saja.”




---

Diikutkan dalam #FragmenKemarau @KampusFiksi | 1.200 kata | Sumber gambar

18.4.14

Mari Kita Bicara




"Apa kau bercanda? Ini jelas tidak baik-baik saja!"

"Maaf. Ya sudah, kita bicarakan yang lain saja."

"Tidak bisa begitu! Aku butuh penjelasan!"

"Sudah, nanti saja kita bahas. Sekarang, aku ingin bertanya satu hal padamu. Hmm, banyak sih, tapi sepertinya satu dulu."

"Huh? Kamu mau bertanya apa?"

"Apakah sekarang kamu bahagia?"

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Tidak. Hanya bertanya saja. Kamu tidak mau menjawab?"

"Hum, oke baiklah. Ya, aku bahagia. Rasanya semua yang kutargetkan hampir semua tercapai. Tinggal satu, oh tapi yang terakhir itu bisa kudapat sebentar lagi, sepertinya."

"Oh, begitu."

"Ya, kenapa?"

"Tidak apa-apa. Kalau begitu, kamu hidup untuk apa?"

"Maksudmu untuk apa?"

"Ya, tidak ada maksud apa-apa, hanya bertanya: untuk alasan apa kamu hidup selama ini? Mengejar kebahagiaan?"

"Bisa dibilang begitu, kan?"

"Jadi, jika yang satu tadi itu berhasil kamu dapatkan, tujuan hidupmu juga sudah tercapai?"

"Iya."

"Terus kalau sudah dapat, kamu mati dong."

"HAH?"

"Kan tujuan hidupnya sudah tercapai. Habis itu, mau apa lagi?"

"Ya aku juga tidak tahu mau apa lagi. Kalau sudah kaya, mapan, berkecukupan, ya sudah kan? Tinggal cari istri. Tidak susah kok, banyak yang mau, hahaha."

"Huuu. Kalau sudah mati, kamu mau ke mana?"

"Ke surga."

"Semudah itu?"

"Dan kenapa harus berpikir serumit itu?"

"Kamu... Yakin masuk surga?"

"Hahahaha. Kamu ini sudah dua lima, tapi pertanyaanmu seperti anak dua belas saja yang sedang mengerjakan PR Agama."

"Entahlah, hanya berpikir saja. Dan bagaimana jika kita buat saja dialog ini semudah itu? Seperti pertanyaan seorang bocah dua belas tahun yang bertanya soal tugas Agama?"

"Kamu mempersulit dirimu sendiri."

"Aku hanya ingin mengetahui pemikiranmu."

"Huh, baiklah. Aku umat beragama, jika ke arah situ pembicaraan ini yang ingin kamu ketahui. Aku percaya Tuhan, meskipun aku tidak tahu apakah dalam konteks ini, percaya yang kamu maksud sama dengan percaya yang ada dalam pemikiranku."

"Maksudmu, percayamu itu berbeda dari membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan perbuatan?"

"Ah, itu kan hanya retoris."

"Ehehe, kupikir malah justru percayamu itu yang retoris. Jadi misalnya kamu mencintai seorang gadis, kamu hanya membenarkan, kemudian mengucapkannya saja tanpa ada tindakan? Ah, gadis itu pasti sudah kabur menunggu kepastian darimu yang tidak kunjung datang."

"Hahaha."

"Berarti benar. Jadi.."

"Eits tunggu. Tidak bisa disimpulkan semudah itu."

"Bisa saja. Andre, aku mengenalmu sudah lama, lebih dari hitungan lima tahun kita berteman, kan? Jadi tanpa pembenaran darimu pun, aku sudah mengetahuinya, kawan."

"Oh, terserahmu lah."

"Iya, jadi kamu melakukan pembelaan pun sepertinya tidak mempan."

"Kalau begitu mengapa kamu mempertanyakan hal-hal yang menurutmu sudah kamu ketahui?"

"Hanya... Semacam ingin mendapatkan penyangkalan. Oke, jangan dipotong lagi, aku belum selesai berbicara. Jadi, jika kamu mempercayai Tuhan, apa hanya dengan pembenaran dalam hati saja dan pengucapan secara lisan, menurutmu itu sudah dibilang 'cukup' menjadi orang yang percaya Tuhan?"

"Jadi, apakah jika aku beribadah harus laporan padamu dulu setiap waktu?"

"Hahaha, sudah ah jangan[i] sewot,[/i] aku hanya bertanya. Kalau memang kamu seperti apa yang baru saja kamu katakan, tentang beribadah dan berbuat baik itu sudah kamu laksanakan, aku hanya bisa mengucap syukur. Kemudian beroda semoga kita bisa bertemu dan berteman lagi di surga, boleh berharap seperti itu kan?"

"Kamu minta doa saja sana ke Tuhanmu—"

"Sudah."

"—eh?"

"Ya. Aku sudah berdoa seperti itu. Semoga Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan semesta alam raya mengabulkan doaku."

"Kamu ini kenapa, Ariana?"

"Hehe, tidak apa-apa."

"Oke, kalau begitu jelaskan, tentang pembicaraan awal kita yang tadi kaupotong jadi malah membicarakan soal bahagia, surga, Tuhan, dan hal-hal remeh lainnya itu."

"Ya Tuhan! Oke, persepsi kita soal itu rupanya [i]memang[/i] tidak sejalan. Kamu menganggap itu sebagai hal yang hanya bisa dengan mudah diucapkan, tapi aku menjadikan itu sebagai penerang jalan. [i]Way of life.[/i] Aku dan segala hal tentang kekolotanku soal sembahyang lima waktu, dan lain sebagainya. Kamu menganggap itu hal remeh sementara aku menjadikan itu sebagai tumpuan."

"Jangan mulai lagi deh, Ariana. Jelaskan, mengapa kamu menutupi hal penting soal kepindahanmu ke Bandar Lampung padaku, sekarang!"

"Aku... Aku akan menikah, bulan depan."

"Oh. Astaga!"

"Iya."

"Bagaimana bisa? Ba-bagaimana kamu tidak cerita padaku, Ariana?"

"Ini... Ini aku sudah cerita."

"Tapi bagaimana bisa?!"

"Bagaimana bisa apanya? Ada seorang yang baik memintaku pada kedua orang tuaku, lalu aku mengetahui kebaikannya, dan bersedia menerima kekurangannya. Aku berusaha yakin kalau dia mampu menjadi nahkoda yang baik bagi kehidupanku mendatang dan... Aku akan berusaha untuk mencintainya. Aku yakin pasti bisa."

"Yakin bagaimana? Apanya?!"

"Aku memiliki persepsi keyakinan yang berbeda denganmu, ingat kan? Jadi aku yakin pasti bisa."

"Kenapa... Kenapa bisa?"

"Bisa saja. Karena, aku sedang berusaha untuk menjadikan Tuhan sebagai tujuan dan menjalani keyakinanku sebaik-baiknya. Karena, aku sedang berusaha untuk menjadi orang baik, itu saja."

"..."

"Maaf kalau ternyata kita memang benar-benar berbeda. Bisakah tetap berteman, selamanya?"

10.9.13

Terselip Sebuah Cerita


Baru seminggu aku bekerja disini. Menerima berbagai map hasil penelitian dari peneliti, kemudian memperbaiki karya ilmiah mereka dari segi tanda baca dan penulisan EYD sesuai dengan kaidah berbahasa yang benar.  Untuk kemudian, bisa layak diterbitkan dan menjadi rujukan dan konsumsi kaum akademisi yang haus akan hasil penelitian terbaru.

Sebuah map bertuliskan Prof. Dr. Sulastri, M.Si sudah berpindah dari mejaku. Baru saja aku menuju ke ruangan beliau untuk mengembalikannya. Irisnya yang hitam dibalik kacamata menyapu halaman demi halaman penelitiannya itu. Aku mengamati wajahnya. Masih cantik. Walau telah menginjak usia lima puluh tahun, aura kecantikan beliau masih terpancar, meski kerutan wajahnya tidak dapat disamarkan. Masih sama dengan foto masa mudanya yang pernah kulihat. Beliau belum menikah. Seperti ada cerita masa lalu yang belum usai.

Kurogoh laci mejaku, mencari sebuah portrait yang kumaksudkan tadi. Tidak ada. Dimana foto itu?

Derap langkah yang berhenti di pintu ruanganku menjawab pertanyaan tadi.

“Sarah.” Suara yang biasa tegas, terdengar lirih. Foto Ibu Sulastri muda sepertinya terselip di antara kertas pekerjaanku tadi.

“Kamu anaknya ….?” Tangan kirinya memegang potret hitam putih dirinya dan seorang pemuda.

Aku tergagap, mengangguk pelan. “Bapak menunggu anda Professor, tapi …” 

Ia masih seorang lelaki dari desa yang tak berpendidikan tinggi.

Di Atas Pusara Ayahnya

Satu jam berlalu setelah berita kematian seorang pejabat tinggi daerah beredar. Kini di sebuah kompleks pemakaman terkenal telah ramai dikunjungi oleh para pelayat. Sebentar lagi, prosesi pemakaman akan dilangsungkan. Mobil-mobil berjejer rapi hingga memadati pinggir jalan. Semua ingin memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang. Keluarga pun banyak memadati petak dua kali satu meter tempat peristirahatan terakhir sang pejabat. 

Dari kejauhan, di bawah pohon kamboja yang tumbuh subur di area pemakaman, aku berdiri mematung. Berpakaian serba hitam sebagai tanda bela sungkawa, dan membawa seikat rangkaian bunga mawar merah tua. Aku belum beranjak dari tempat ini, karena di tempat mendiang dikuburkan masih sangat ramai. 

Aku hanya melihat dari jauh, mencoba mengenali satu per satu keluarga yang hadir. Aku mengenali sosok istri pejabat itu. Ibu yang cukup berumur dibalut kerudung putih dan kaca mata hitamnya sedang menaburkan bunga sembari terduduk di sisi makam. Aku juga melihat anak tertua, Afian, dengan kaca mata hitam pula duduk di samping ibundanya. Yang tidak terlihat adalah wajah Adrian, yang mungkin saat ini sedang melintasi garis meridian demi melihat tanah basah tempat ayahnya dikuburkan.

Beberapa saat berlalu, aku keluar dari tempat ini bersamaan dengan pulangnya para pelayat yang hadir. Rangkaian mawar merah tua masih aku bawa. Ingin rasanya kuletakkan bunga ini di atas makam beliau, namun ini bukan saatnya. Masih ramai, dan tentu kehadiranku disana akan menyumbangkan tanda tanya besar.


Sejam kemudian, aku memutuskan untuk kembali. Namun sepertinya kedatanganku kali ini masih bukan di waktu yang tepat. Aku kembali berdiri di tempat yang sama dengan sebelumnya, menyaksikan drama keluarga yang begitu menyayat hati.

Keluarga sah almarhum Satrio Miharja masih berada disana. Beserta dua wajah baru yang tidak diundang.

“… kalian sudah kuperingatkan! Pergi dari sini. Sekarang!” Suara tegas Afian, memerintah kepada dua orang yang terdiri dari lelaki muda dan seorang ibu berusia lima puluhan.

Suara isak dari ibu berkerudung hitam itu mengusik kesunyian di sekitar pemakaman.

“Kamu tidak bisa melarang kami untuk kesini! Walau bagaimanapun, ini adalah makam ayahku juga!” Teriak sang lelaki yang baru datang di depan wajah Afian.

Afian, sang putra pertama membuka kaca matanya dan menampakkan sorotan yang mengancam pada pemuda itu yang disinyalir usianya lebih muda darinya.

“Pak Diman!” Teriaknya pada sopir pribadi mereka yang masih berada di sekitar tanah kuburan ayahnya.  “Bawa ibu pulang duluan. Aku akan membereskan sampah kecil ini dulu sebelum pulang!”

Pak Diman yang namanya tadi dipanggil, tergopoh-gopoh membawa sang nyonya yang tadi hanya terduduk dan diam menyaksikan kedatangan dua orang baru tersebut. Sorot mata sang nyonya yang amat sangat kelelahan tidak mampu menambahkan ekspresi duka maupun keterkejutan lagi, menurut saja apa titah sulungnya.

Aku menyembunyikan postur kecilku di belakang batang pohon yang kokoh sembari memandang sosok nyonya besar dan supirnya, yang keluar dari area pemakaman. Selanjutnya, inderaku kukonsentrasikan ke tempat tadi sepenuhnya.

“Kalau kau datang kemari hanya untuk masalah warisan, lupakan! Kau dan ibumu tidak akan mendapatkan harta sepeser pun!”

“Kau sungguh hina! Bagaimana mungkin berbicara warisan sementara kuburan ayahmu, ayah kita, …” pemuda kedua itu menunjuk ke makam di sebelah mereka. “masih basah, belum kering?”

“Kau hanyalah seorang anak dari istri yang tidak sah!” Bentak Afian, yang juga menunjuk sosok ibu yang sedari tadi menangis tak henti sembari mencoba menenangkan anaknya yang terpancing emosi.

“Kami tidak mengharap warisan, Nak. Kami hanya ingin melakukan penghormatan terakhir. Walau bagaimanapun, ayahmu adalah suami sah ibu di mata Tuhan. Dan Andre, adalah adikmu juga, bagaimanapun kau mengingkarinya.” Ujar sang ibu, dengan air mata berleraian.

Aku tidak sanggup lagi menyimak pembicaraan tersebut. Kuputuskan untuk meninggalkan tempat ini, tanpa sempat mengantarkan doa secara pribadi dan meletakkan rangkaian bunga ini di atas makamnya. Kuusap air mata yang perlahan jatuh ketika indera pendengaranku masih mampu menangkap pembicaraan mereka yang ada di dekat makam sana. Orang waras mana yang memperkarakan warisan saat kuburan orang tuanya belum kering?


Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke tempat ini, sejam lagi kemudian. Ini adalah kesempatan terakhir. Jika tidak ada momen untukku meletakkan sendiri rangkaian bunga ini, maka akan kuletakkan saja di bawah pohon kamboja yang tadi menemaniku mematung.

Keberuntungan memihakku kali ini. Di atas tanah basah miliknya tidak ada siapa-siapa. Aku menahan keinginanku untuk segera berlari menuju ke gundukan tanah itu. Aku hanya berjalan dengan tenang, menjaga langkahku agar tidak terpeleset oleh kontur tanah pemakaman yang tidak rata. Dan kini aku sampai di atas pusaranya.

“Ayah.” Ucapku lirih.

Kusapu daun yang berguguran di atas makamnya yang basah dan penuh dengan taburan bunga. Andai menghapus luka itu semudah membuang daun-daun kering yang sudah mulai berguguran di atas makamnya, maka tidak perlu ada air mata yang kini jatuh membasahi pipiku ini.

Seorang ayah, adalah cinta pertama bagi putrinya. Ayahlah yang melindungi putrinya ketika ada yang mengganggu. Ayah pula, yang nantinya akan memegang dengan mantap tangan lelaki yang dipilih anak perempuannya untuk bersama mengikrarkan akad, mengantarkan sang putri ke kehidupannya yang baru. Ayah adalah orang yang bersanding disampingnya kemudian menyerahkannya kepada lelaki yang direstuinya untuk menjadi pendamping bagi anaknya. 

Seharusnya memang begitu. Namun itu tidak terjadi dalam cerita kehidupanku. Kalimat sapa itu, baru saja aku ucapkan untuk pertama kalinya, di atas gundukan tanah basah, saat pemiliknya tidak lagi memiliki nyawa.

“Ayah, anak perempuanmu satu-satunya datang. Maaf atas keterlambatanku untuk berdoa di atas pusaramu. Kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang, Yah? Kuharap seperti itu. Supaya aku mampu dengan mudah memaafkan kesalahanmu padaku dan ibu.”

“Ayah, aku mencintaimu.”

Kukecup nisan dingin itu. Berharap itu bisa menggantikan jasadmu yang tidak pernah mampu aku cium, baik dalam keadaan hidup maupun tak bernyawa.

Aku sudah akan beranjak pergi ketika sebuah suara, yang masih aku kenal siapa pemiliknya, memanggil namaku dengan nada yang tidak biasa.

“Audriana?”

Aku menoleh, mengusapkan air mata yang tak henti keluar. Sosok Adrian berdiri di sisi lain makam, dengan wajah penuh tanda tanya besar dan juga raut kesedihan yang mendalam.

“Kamu…. Siapa?”

“Aku…. Anak dari istri ketiga ayahmu.”

Itulah fakta yang sebenarnya, yang tidak mampu aku tutupi lagi. Yang menjadi penyebab aku harus mengakhiri hubunganku dengan lelaki yang kini pandangannya mengisyaratkan meminta banyak penjelasan ketika melihatku, sang mantan tunangannya yang menangis tiada henti dan mengecup nisan, di atas pusara ayahnya.


***

Tulisan ini (994 kata) diikutkan ke Ngasih Hadiah September Bahagia by Harry Irfan yang dikembangkan dari fiksi mininya yaitu: 

ANAK BARU. “Anak mana Lo?” | “Aku anak dari istri ketiga bapakmu!”

7.9.13

Sebuah Kesalahan




Pukul 23.05, Kantor.

Tidak biasanya ia masih di kantor pada jam segini. Di atas mejanya, tumpukan berkas berserakan. Laptop pribadi dan komputer kantor menyala. Beberapa orang hilir mudik keluar masuk ruangannya.

Ini sebuah kejadian tidak diduga, ujian baginya yang baru dinaikkan jabatannya sebagai penanggung jawab keuangan. Ada kesalahan dalam menginput data ke buku besar yang dilakukan bawahannya. Sangat fatal.  Anggotanya sedang mengecek ulang semua data dari semua berkas dan bukti pembayaran namun belum diketahui letak kesalahannya dimana.

Handphonenya berdering beberapa kali. Bukan saatnya untuk menjawab telepon dari nomor tidak dikenal. Data keuangan ini harus segera diselesaikan dan diperbaiki hari ini juga. Sekarang. Tidak ada kompromi. Besok ada pelaporan keuangan.

Sekretarisnya masuk dengan wajah pucat.

“Pak, istri Bapak telepon.”

Ah, bukankah dirinya telah memberitahu kalau ada urusan penting dan tidak dapat diganggu dengan alasan apapun?

“Pak?”

Lelaki itu mengabaikan perkataan sekretarisnya, masih fokus meneliti berkas di hadapannya.

“Ibu ada di rumah sakit…”

“… terjatuh di kamar mandi dua jam yang lalu. Janin di kandungannya meninggal.”

“Pihak rumah sakit mencoba menghubungi ponsel Bapak tapi tidak ada jawaban. Bapak diminta kesana sekarang.”

Terdiam. Laki-laki itu dihadapkan pada dua tanggung jawab penting.

Namun ia tidak beranjak dan memilih bersama tumpukan berkas ini.

15.8.13

Lelaki Tanpa Nama



Seseorang memanggilku dari arah jam tiga. Seketika seluruh badan ini gemetar. Bukan karena nama Tiara yang dipanggilnya, tapi karena suara itu, suara yang masih sangat familiar di telinga.

Andai saja aku yang melihatnya terlebih dahulu, sebisa mungkin aku akan menghindar. Entah dengan berpura-pura tidak melihat kemudian pergi dengan jalan yang lain, atau apa saja yang bisa aku lakukan supaya tidak terjadi percakapan, atau sekedar tatap muka.

Aku menoleh ke kanan. Rasanya bibir ini tidak mampu kugerakkan untuk sekedar menyapa atau mengucap salam. Aku sempat terdiam beberapa saat. Aku hanya mampu menatapnya dengan tatapan sendu. Berdiri beberapa meter dari tempatku duduk, aku melihat seorang laki-laki yang sedang menggendong anak perempuan cantiknya. Ia, lelaki yang dulu kukenal hatinya.

Kau tahu, lelaki muda yang menggendong anak perempuannya adalah pemandangan yang paling aku suka, kan? Dan kini, orang itu memberikan pemandangannya buatku. Sore ini, di sebuah tempat minum kopi di pinggir jalan ibukota.
 
@>-----

“Aku sudah menikah Tiara.”

Aku hanya bisa terdiam sambil menatap secangkir kopi hitam di hadapanku. Kuaduk-aduk perlahan kopi yang belum ku minum sama sekali. Kuperhatikan ampasnya di dasar cangkir  yang terasa ketika sendok diadukkan.

Aku sudah tahu.

Pandanganku masih tidak lepas dari cangkir, dan tanganku masih dengan sendok adukan kopi. Hitam, pahit, pekat. Seperti itu juga perasaanku, yang ikut diaduk-aduk oleh apa yang terjadi saat ini, juga saat yang lalu yang telah terjadi.

“Kenapa kamu tidak datang?”

Pertanyaan itu lagi. Mengapa pertanyaan ini muncul lagi, bahkan itu muncul darimu? Tidakkah kamu tahu bahwa aku mengingkari rasa sakitku sendiri demi menjawab pertanyaan itu dari teman-temanmu, dari teman-temanku?

“Karena yang kutemui hanyalah selembar undangan” Jawabku, sambil menatap tajam sang pemilik suara.

Aku tidak pernah mengharapkan lebih. Aku juga tidak membutuhkan penjelasan, karena tanpa dijelaskan pun aku sudah tahu. Saat itu, aku hanya memilih untuk berpura-pura tidak tahu untuk membohongi diriku sendiri. Parahnya, dia mengamini. Sampai suatu ketika semua tabir telah terbuka, aku hanya mampu pasrah, pada kenyataan yang sudah dapat kuprediksi sebelumnya.

“Tidak kusangka, kau begitu cepat berganti hati. Dan bagiku, itu sudah membuktikan semuanya. Kamu tahu bahwa aku tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi kamu tidak tahu kan, bahwa aku mengetahui banyak hal dari yang kamu prediksi!” Ujarku, tajam.

Aku menghela napas sejenak, mengatur emosi dan menurunkan adrenalin. Kuteguk dengan perlahan air mineral botolan yang juga kupesan tadi.

“Aku sudah prediksi sebelumnya kan? Yang kusesali bukan karena ‘apa’ yang terjadi, tapi ‘bagaimana’ itu bisa terjadi. Secepat itu.”

Cukup. Sudah cukup Tiara. Jangan menyiksa dirimu lagi dengan mengingat semua yang sudah terjadi!

Kembali kuaduk lagi kopi hitamku yang sudah tidak panas lagi.

“Aku minta maaf Tiara.” Ujarnya lirih.

Terlambat. Mengapa kamu baru meminta maaf sekarang?

“Yang aku sesalkan adalah, kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya bahwa kau akan menikah? Kenapa aku harus mengetahuinya dari orang lain? Kenapa kau memberitahu semua temanmu sementara aku tidak? Kenapa harus selembar undangan yang datang bukan kau yang mengantarnya sendiri? Kenapa, bahkan kau tidak menganggapku sebagai temanmu lagi? Dan ribuan ‘kenapa’ yang sebenarnya tidak perlu dibahas lagi! Basi!”

Satu sisi hatiku berkata ‘cukup’. Namun sisi lainnya berkata ‘teruskan’. Selesaikan sekarang juga hingga tidak akan berbekas lagi. Lagi-lagi kuteguk sisa air mineralku hingga habis. Aku terlalu sibuk untuk mengembalikan kembali rona wajahku yang memerah seperti kepiting rebus karena menahan amarah yang tertahan, sehingga aku pun tidak menyadari betapa merah juga wajahnya.

“Tiara…” Ucapnya lirih, setelah mendapat serangan dari kalimatku.

“… Aku tahu ini akan berat untuk kita. Kamu tahu konsekuensinya jika aku  tetap memaksakan kehendak….” Ia melanjutkan.

Bukan itu masalahnya! Kau tahu itu!  

“… Kau menghilang begitu saja dari kehidupanku. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan semuanya? Kamu pikir aku bisa menghadapi itu dengan mudah?” Ia kembali melanjutkan.

“Kamu tahu aku melakukan itu demi kamu juga. Apa kamu sejahat itu menyalahkan kepergianku sementara kamu juga secara bersamaan menjalin hubungan dengan orang yang kamu panggil istri sekarang?” Aku menimpali.

“Dan kamu masih menuntutku untuk datang? Kamu gila! Oh tidak. Kamu hanya tidak pernah paham. Kamu selalu menuntutku untuk mengerti kondisimu sementara kamu tidak melakukan yang sebaliknya. Dimana letak adilnya?”

Cukup. Iya, sudah cukup.

Aku menghela napas panjang, mengakhiri semua pembicaraan omong kosong ini. 

“Sudah ya, sampai disini saja pembicaraan kita, karena aku rasa semuanya juga percuma apabila harus dijelaskan saat ini. Semuanya sudah terlambat. Perkataan maaf pun tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi.” Ujarku, sembari mengambil tas yang kuletakkan di kursi samping.

“Selamat atas pernikahanmu, maaf karena kemarin aku tidak bisa datang. Dan juga selamat, atas kehamilan Vina.” Aku berdiri, beranjak pergi. Tidak perlu ia tahu darimana informasi yang baru saja aku katakan itu.
Aku melangkah perlahan, menahan jatuhnya air mata. Entah seberapa merah mataku atau wajahku saat ini.

“Oya…” Beberapa langkah dari meja, aku kembali menoleh ke belakang, kembali menatap wajahnya. “Tolong sekalian bayarkan kopi dan air mineralku. Aku anggap permintaan maafmu aku terima.” Sembari kutatap secangkir kopi hitam yang sama sekali tak kusentuh. 

Matanya merah, pun wajahnya juga, sama sepertiku. Tapi tetap saja, bagaimanapun perihnya perasaannya, ada seseorang disisinya, membuatnya begitu mudah melupakan dan membuang segalanya. Sementara aku? Apa dia peduli bagaimana kondisiku? Ironis sekali ya, secangkir kopi bisa membayar permintaan maafnya yang sungguh sangat terlambat.

Semoga suatu saat nanti kita dipertemukan dengan kondisi yang lebih baik. Dan semoga kamu masih menjadi lelaki yang kukenal hatinya.

@>-----

Seperti dejavu. Kami mengalami situasi yang sama, di tempat yang sama, di meja yang sama, namun dengan kondisi dan personel yang berbeda. Tempat ini pun ikut berubah, menjadi semakin modern baik interiornya maupun menunya. Beragam jenis kopi yang disajikan semakin bertambah banyak dan beraneka ragam.

Tanpa sengaja memori beberapa waktu silam kembali berputar seperti putaran film yang ditampilkan ulang. Sudah lama berlalu, seperti kejadiannya baru kemarin saja.

Aku mempersilakannya duduk di depanku, dan si batita munginya duduk di sebelahnya. Gadis cilik itu cantik sekali. Tidak ada sedikitpun kemiripan dengan wajah ayahnya. Ia mewarisi dengan sempurna wajah ibunya. Sepertinya begitu, aku juga tidak tahu persis. Aku hanya tahu ibunya dari foto mereka sebelum menikah. 

“Hai gadis manis, siapa namanya?” Ujarku, sembari mengelus dagunya yang runcing, mencoba mencairkan suasana yang kaku, juga mencairkan hatiku yang beku.

“Tata…” Jawabnya, sembari mengalihkan pandangan ke arah ayahnya, membuatku tanpa sengaja melakukan hal yang sama.

“Namanya Qonita.” 

“Ooh…”

Aku mengaduk kopiku. Kali ini bukan lagi kopi hitam yang pekat, tapi, cappuccino dengan krim yang banyak diatasnya. Manis dan pahit bercampur jadi satu, juga menghasilkan rasa sensasi yang bercampur aduk jadi satu. Mewakili perasaanku kali ini, mungkin.

“Kamu sehat Tiara?” 

“Alhamdulillah.” Jawabku sambil menyeruput kopi hangatku perlahan. “Gimana juga kabarnya?” Pertanyaan basa-basi, tidak sopan rasanya jika tidak menanyakan hal yang sama.

Sebenarnya aku sudah tidak ingin mengetahui kabarnya lagi. Tidak juga aku mengetahuinya atau diam-diam mencari informasi tentang kehidupannya. Tidak setelah pertemuan terakhir itu. Kuputus semua bentuk komunikasi yang dapat menghubungkan aku dengannya. Menghilang sekalian tampaknya menjadi obat bagiku. Setiap orang memiliki jalannya sendiri kan untuk mengobati lukanya? Dia memilih untuk mengobatinya dengan cara mengeliminasi aku dari kehidupannya dan mengganti secepatnya dengan orang lain yang lebih pantas baginya dan keluarga besarnya. Maka aku memilih untuk menghilang dan menghilangkan dia dari kehidupanku. Ya, aku memilih jalan itu. 

Namun kali ini takdir mempertemukan kami lagi yang memaksaku untuk keluar dari persembunyian. Melihat wajahnya kembali, dengan situasi yang berbeda. Bukan berarti luka itu sudah tidak ada. Luka itu masih ada, membekas disana, namun tidak lagi berdarah dan menganga. Waktu memang obat paling ampuh untuk menyembuhkan luka.

“Baik.” Jawabnya, dengan senyum yang berat.

Ada jeda yang cukup lama sebelum ia menjawab, yang memaksaku untuk menatap lekat raut wajahnya.

Sesuatu sedang terjadi disana? Kamu masih tidak bisa membohongiku.

“Syukurlah.” Kataku datar, masih mencoba menangkap gurat yang disembunyikan di wajahnya. Sudahlah, aku tidak mau bertanya atau mencari tahu.

Lalu perhatianku kembali pada seseorang disampingnya. 

“Kamu mau es krim sayang? Tante belikan es krim mau?” Ujarku ke arah gadis manis itu, sembari mengulurkan kedua tangan berharap ia mau menerima tawaranku untuk menggendongnya. Bagaimanapun rumitnya hubunganku dengan ayahnya atau ibunya dulu (meskipun aku tak pernah mengenal ibunya), gadis kecil ini sama sekali tidak tidak tahu apa-apa.

“Berapa umurnya?” Tanyaku kepada ayahnya, ketika sang gadis sudah berada di gendonganku dan siap kubawa ke etalase kaca yang memajang aneka makanan dan minuman.

“Tiga bulan lagi dua tahun.”

Aku kembali dari memesan es krim dengan Qonita di tangan kiri dan semangkuk es krim vanilla di tangan kanan. Kududukkan batita ini di kursi kosong sebelah kananku dan mulai menyuapinya dengan es krim yang baru saja kita beli. Bagiku, kehadiran gadis cilik ini cukup mengalihkan perhatian dan bisa menjadi pelarian dari menghindari pembicaraan tentang masa lalu. Namun harus kuakui, menatapnya membuatku ingat dengan raut foto ibunya, yang tentu saja menggoreskan cerita lain di hati.

“Tiara, apa kamu sudah menikah?”

Sendok es krimku terhenti di udara, kemudian kupalingkan wajahku ke arah datangnya suara.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Kujawab dengan pertanyaan dan tatapan tajam. Sedikit sunggingan senyuman untuk mengintimidasi.

“Maaf, aku hanya bertanya.” Balasnya.

Kuhembuskan napas perlahan dan kujawab pertanyaan darinya dengan satu kalimat dan lagi-lagi dengan sedikit senyuman. “Belum.”

Jeda lama. Cukup lama karena telah tiga suapan eskrim telah dinikmati Qonita.

“Sebenarnya kabarku tidak baik-baik saja.”

Prediksiku benar lagi kan? Kembali kutekuni minumanku yang tinggal separuh, demi menahan diri untuk bertanya ‘kenapa’. Benar saja, jeda waktu diantara kami tidak membuat dia menceritakan mengapa seperti itu keadaannya. Juga tidak membuatku kembali bertanya.

“Vina….” Ia mengeluarkan kata lagi, kali ini tanpa senyuman, hanya menyisakan tatapan tajam yang beradu dengan tatapanku.

“…. pergi.”

Kembali aku merasakan dejavu menimpaku hari ini. Mendengarnya perasaanku seperti dicampur aduk jadi satu. Seperti terjun bebas dari tebing yang tinggi, namun tidak mati. 

Entahlah, dulu aku sempat membayangan adegan ini akan terjadi. Dulu, dulu sekali, saat awal luka ini masih berdarah dan bernanah. Tapi kini, sungguh aku tidak pernah berharap khayalan saatku terluka dulu akan menjadi kenyataan, di saat aku telah memulai lembaran baru dalam kehidupan.

Kulihat air muka perubahan dalam wajahnya. Sendu, dan mungkin sedang menahan jatuhnya air mata. Aku tidak ingin bertanya apapun tentang makna kata ‘pergi’. Apakah Vina pergi selamanya dari kehidupan ini, ataukah hanya pergi dari kehidupannya. Aku sungguh tidak ingin tahu. Yang jelas, satu hal yang aku tahu dibalik kata itu, pergi akan memberikan luka pada yang ditinggalkan.

Perhatianku teralih begitu saja pada seseorang yang sedang duduk di sampingku. Ku belai rambut ikalnya, dan kembali kusuapi dengan eskrim vanilla.

Sekecil ini kamu ditinggal pergi ibumu sayang?

Kukecup keningnya yang lebar dan kembali kuarahkan perhatian pada lelaki di depanku. Keadaan memang cepat sekali berubah. Aku tidak tahu harus memilih sikap yang mana. Apakah aku harus senang? Tertawa kecil dalam hati? Ataukah aku harus kasihan dengannya? Tidak bisa kupungkiri, masih ada sisa sekeranjang kecil kasihan yang terselip di dalam hatiku. Aku memilih perasaan yang terakhir tadi.

“Tata… Tidak biasanya dia bisa akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya.”

“Oh ya? Kamu lupa kalau aku ini sangat suka dan dicintai anak kecil?” Jawabku, sembari tertawa renyah.

Dia tersenyum, tidak lantas menanggapi perkataanku tadi.

“Iya, tentu saja aku tidak pernah lupa.” Ujarnya. “Tiara…”

“…. Aku ingin kita melupakan yang telah terjadi kemarin…. Dan memulai segalanya dari awal.”

Aku menghela napas panjang, kemudian membalas pernyataan tadi dengan tatapan kosong.

“Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf.” Kataku setelah jeda yang cukup lama. “Apa itu dinilai kurang untuk ‘memulai segalanya dari awal’ seperti yang kamu maksudkan?”

“Eh. Maaf. Maksudku bukan seperti itu.” Ujarnya, sembari mengaduk kopinya dengan sangat pelan, bukan memaksudkan untuk meminumnya dengan segera, hanya sebagai sekedar mencari apa yang bisa dilakukan.

“Entahlah…” ia memalingkan wajahnya begitu saja, menatap ke arah jendela. “Akhir-akhir ini, aku hanya berpikir kalau… Bagaimana jika kita memulai segalanya dari awal… dan aku juga sering terpikir.. andai saja, waktu bisa diulang…”

Dari awal, hmm tidak, dari sejak orang ini berkata sesuatu tentang ‘pergi’, aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan pemuda itu. Misterinya hanyalah kapan pemuda itu akan mewujudkannya. Sepertinya sekarang. Tidak ada lagi kepura-puraan yang perlu ditampilkan. Seketika saja aku memutus pembicaraan.

“Apa kamu sedang berandai-andai tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi?” Ucapku tajam yang mampu mengalihkan pandangannya lagi dari ujung jendela. “Aah, aku pikir bukan saatnya aku pura-pura tidak tahu kemana arah pembicaraanmu itu.” Aku jeda sejenak, untuk lagi-lagi menghela napas panjang. Mengungkit sesuatu yang menyesakkan di masa lalu membutuhkan ketenangan dengan porsi ekstra. “Kau ingin aku menemanimu? Berada di sisimu dan tidak akan pernah pergi? Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan status sosialmu? Atau alasan-alasan lainnya yang membuat kau dulu mencoret namaku dalam daftar masa depanmu?”

Final. Itulah final dari pernyataan ambigu dan pertemuan tidak disengaja hari ini.

Pemuda itu, lagi-lagi hanya bermain dengan sendok kopinya tanpa mampu membalas tatapan tajamku. Wajah pucatnya sedari aku bersuara yang terakhir tadi, hanya terpaku pada secangkir kopi hitamnya, yang kemudian diteguknya dengan cepat.

“Kamu selalu bisa membaca pikiranku.”

“Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan mengangkat masalah ini di awal pertemuan kita, setelah sekian lama kau membuangku begitu saja.”

Dan kopi hitamnya habis. Diletakkannya cangkir kosong sembari membalas tatapanku yang sedari tadi menyerangnya. Aku kembali bersuara tanpa mengizinkan ia mengucap sepatah kata.

“Kamu masih ingat ini?” Kataku sembari menunjukkan sesuatu yang melingkar di jari manis tangan kiriku.

Ekspresinya tidak jauh berubah, meskipun rona keterkejutan mampu terbaca dari gurat wajahnya.

“Cincin itu.” Gumamnya datar.

“Ya, cincin itu.” Ujarku, sembari melepas sebuah cincin yang lain untuk melepas cincin berwarna perak yang kami maksud itu.

@>------

“Tiara…!” 

Seseorang memanggil namaku cukup kencang. Derap langkahnya berirama cukup cepat dan semakin lama terdengar semakin jelas, sehingga bisa kuprediksi kalau orang tersebut sedang berlari menghampiriku yang sedang menunduk mengamati sesuatu yang terpajang rapi disitu.

“Kemana aja sih?” Ujar orang tersebut dengan nada sedikit kesal, dan orang tersebut sudah berdiri di sebelah kanan Tiara dengan napas tersengal-sengal setelah berlari.

“Sini-sini aja.” Jawabku datar. 

“Lima belas menit lagi busnya berangkat!” katanya kemudian. Susah diartikan, apakah itu bentuk pemberitahuan atau sebuah kata perintah untuk ‘Buruan naik bus sekarang!’

“Iya tahu.” Ucapku. Tanpa bermaksud untuk mengabaikan bocah lelaki yang sudah rela menjemputku berlari sekian jauh dari tempat parkir bus. “Bentar napa, lagi lihat-lihat ini nah.” Lanjutku, sembari memandangi satu per satu souvenir yang diletakkan di atas meja di depanku.

“Ntar kamu ditinggal bus!”

“Gak mungkin. Nih uang untuk bayar busnya kan aku yang bawa.” Jawabku sambil mengulurkan lidah dan menepuk-nepuk tas selempanganku. “Sabar dikit dong, mereka semua itu rela nunggu bendahara. Kasihan banget ibu bendahara panitia satu ini, dari kemarin yang diurus peserta semua, sampai nggak punya waktu untuk beli oleh-oleh. Masih lima belas menit juga kan? Nggak masalah.”

Aku kembali mengamati souvenir-sovenir itu.

“Berapa bu?” Ujarku sembari menunjuk sebuah cincin berwarna perak.

“Lima puluh ribu, Neng.” Jawab ibu paruh baya tersebut.

“Mahal amat bu, sepuluh ribu bisa?”

“Nggak bisa Neng, itu cincin perak, nggak dapat segitu.”

“Yaah, nggak jadi deh.” Ujarku sambil berlalu begitu saja. 

Selang bebrapa lama, pemuda dua puluh tahun itu menyusul dan menyejajari langkahku.

“Nggak jadi beli?” Tanyanya.

“Mahal. Lagian, itu mah bukan cincin perak, warnanya doang yang perak.”

“Ya iyalah, mana ada cincin perak harganya dua puluh rebu. Bilang aja nggak punya duit.” Ujarnya dengan santai.

“Perasaan hagranya lima puluh, kata siapa dua puluh ribu?”

“Kataku. Nih, ambil. Kasihan amat bendaharaku ini ya, beli cincin dua puluh ribu aja nggak bisa.” Jawabnya, sembari menyerahkan bungkusan kecil berisi cincin yang aku lihat tadi, kemudian ia berjalan cepat mendahuluiku.

Tiba-tiba langkahku terhenti begitu saja. Sementara ia, sudah berjalan dengan cepatnya beberapa meter dariku. Kemudian ia menoleh ke belakang, memberikan senyumnya yang biasa, dan meneriakkan sesuatu kepadaku.

“Lima menit lagi berangkat! Ayo cepetan jangan bengong!” Teriaknya. “Anak-anak lain jangan dikasi tahu ya soal itu. Ntar mereka pada minta juga, bisa bangkrut.” Lanjutnya sembari tertawa, meunjuk ke arah bungkusan yang masih ku genggam dengan erat ini.

Untuk beberapa saat aku masih terdiam. Namun sesaat kemudian, aku berlari perlahan menujunya, menuju tempat parkir bus yang tidak mungkin akan berjalan sebelum kami tiba disana. Aku berlari menepis keraguan yang timbul tenggelam. Tapi akhirnya aku juga menenggelamkan diri kepada perasaan itu. Perasaan yang sebenarnya kami sama-sama tahu, namun sama-sama menutupinya dengan cantik. Aku hanya terus menunggu kapan saatnya akan tiba. Saat inikah? Tidak, ini bukan saatnya. Masih terlalu muda. Namun ini aku anggap sebagai pertanda. Biarlah untuk saat ini aku berada disampingnya, sebagai sahabat yang baik, sahabat yang setia.

Aku yakin di lingkungan kami ini, hanya jariku yang akan menerima cincin darinya. Namun di tempat lain, aku tidak tahu, dan tidak punya kapasitas untuk mengetahuinya.

@>------

“Kau tahu? Sudah tujuh tahun, cincin ini tidak pernah lepas dari jariku.” Kataku. “Dulu sekali, aku sempat berharap, cincin ini akan segera dilepas. Digantikan dengan cincin perak yang sebenarnya.” Jeda. “Tapi ternyata ia tetap saja tidak tergantikan, selalu berada di tempatnya semula. Sampai yang lainnya harus mengalah.” Lanjutku.

Pandangan mataku beralih kepada cincin emas bermata tiga yang kulepas terlebih dahulu tadi. Cincin itu sejak awal terlupakan dan belum mendapat tempat sebagaimana mestinya.

“Ini…” Aku menunjukkan cincin emas itu, yang berpendar terkena pantulan sinar mentari siang. “… Adalah cincin pertunanganku. Bulan depan, aku akan menikah.”

“Dan sekarang, sudah saatnya aku harus melepas salah satu dari kedua cincin ini, kepada pemiliknya.”

Aku letakkan cincin berwarna perak itu kedepannya, saat itu juga. Segera setelahnya, kupasang kembali cincin bermata tiga. Ia kini menjadi pemilik jari manis  di tangan kiriku seutuhnya.

Sebenarnya aku sudah mempersiapkan diri untuk mengatakannya, dengan cara yang lebih baik. Namun pertemuan hari ini, memaksaku mempercepat persembunyian yang juga otomatis mempercepat pemberitahuan ini padanya.

“Maaf, dulu sempat terbersit dalam pikiranku kau akan kembali dan berada di sisiku lagi, selamanya. Tapi rupanya, tidak ada rasionalisasi untuk itu. Aku sadar telah tenggelam begitu dalam, namun seiring berlalunya waktu, menuntutku untuk bangun dan bangkit dari itu semua. Aku menemukan lagi rasionalitas itu. Aku bersyukur untuk itu.”

“Aku…” Suaranya tertahan oleh dering pesan yang masuk ke ponselku.

“Sebentar….” Aku membacanya dalam hati, dan kemudian segera meraih tasku yang berada di ujung meja.

“Aku rasa, semuanya sudah jelas. Maaf ya, ada yang sudah menungguku di parkiran. Seharusnya aku tidak menyampaikan undangan pernikahanku dengan cara seperti ini. Nanti akan aku antar sendiri undangannya dan aku tidak akan memaksamu untuk datang.”

Aku menoleh dan memandang lekat pada entitas di sebelah kananku yang sedari tadi diam tanpa suara, menikmati es krim vanillanya sendiri, seolah paham bahwa kedua orang dewasa di sekelilingnya sedang membahas hal yang rumit. Aku mencium pipinya yang mungil, cukup lama, hingga rasanya mampu mentransfer kesedihannya dan membagi kasih sayang yang tidak lagi diterima dari ibunya.

Aku melangkah pergi menuju kasir. Calon ibu mertuaku sudah menunggu di parkiran depan sana untuk menemaniku mencari perlengkapan yang berhubungan dengan persiapan pernikahan.

“Oya…” Beberapa langkah dari meja, aku kembali menoleh ke belakang, kembali menatap wajahnya. “Kali ini aku yang bayar semuanya. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menerimamu kembali.” Sembari kutatap cangkir-cangkir dan mangkok kosong di atas meja.

 “Tiara…” 

Aku kembali menoleh ke belakang, memandang ke arah pemilik suara.

“Apakah kita bisa…. Menjadi sahabat lagi… Seperti dulu?” Suaranya melemah, menahan deru yang sama denganku sebelumnya, juga saat ini.

Seandainya waktu dapat diulang. Ah, sejujurnya aku benci kalimat itu, juga kalimat-kalimat pengandaian lainnya. Namun kini, aku harus mengakuinya bahwa ada sebuah kalimat ‘seandainya’ yang terlintas di kepalaku. Seandainya perasaan itu dulu tidak ada, dan tidak pernah ada, mungkinkah aku telah menjadi pagar ayu di pernikahanmu dan kamu akan menjadi saksi pada akad nikahku nanti?

Aku menyebutmu lelaki tanpa nama, karena dulu namamu sudah melekat di hatiku tanpa perlu diragukan dan diucapkan. Hari ini, saat ini, aku masih memanggilmu lelaki tanpa nama, karena aku tidak ingin melekatkan namamu dalam kapasitas memori takku. Aku ingin membuang ingatanku tentang namamu. Sehingga dalam lirih maupun letihnya hari-hariku, tidak lagi aku menyebut nama itu. Seperti dulu.

“Biarkan waktu saja yang menjawabnya, seperti ketika ia menyembuhkan luka.” Jawabku, tersenyum.

Aku berjalan dan tidak akan menoleh lagi. Meskipun sayup-sayup kudengar tangisan Qonita di telinga. Meskipun ia kembali datang dan menawarkan untuk mengembalikan semua yang dulu pernah ada. Tidak. Aku sudah memutuskan kebahagiaanku sendiri. Aku sudah memenangkan rasionalitas logika atas dominasi perasaanku sendiri. Aku sudah memutuskan, bahagiaku ada di depan sana, bukan ada pada yang telah tertinggal di belakang sana.

Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita semua.