“Kamu ada di sini?” Aku mendengar
nada terkejut dari suaramu ketika mendapatiku tengah berdiri memandangi langit
dari tempat ini.
“Iya. Eh, maaf.” Aku terbata-bata
mengucap kata maaf, seolah tengah menemukan harta karun yang ternyata itu
adalah singgasanamu. “Balkon ini, tempatmu biasa menyendiri?”
Lancang aku bertanya seperti itu, namun kamu hanya tersenyum dengan manis dan ikut berdiri di sampingku, di salah satu sudut bagian rumahmu yang terbuka dan paling dekat dengan langit. Ada pagar setinggi dada orang dewasa yang memagari, juga beragam jenis bunga dan tanaman yang tumbuh dengan subur di sini. Sebagai tanda bahwa tempat ini sering dikunjungi. Maka, keberadaanku di tempat ini, mungkin lebih lancang dibanding pertanyaan tadi.
“Pestanya sudah selesai.” Kamu tidak
menjawab pertanyaanku, yang bisa aku artikan dengan jawaban 'ya'.
Seperti yang kamu bilang tadi, pestanya sudah selesai. Meskipun ada satu dua orang tamu atau kerabat yang masih mengunjungi kediaman ini, tapi sudah tidak sebanyak tadi. Seseorang yang mirip sekali denganmu berkata padaku untuk menganggap ini rumah sendiri. Aku mengiyakan, bahkan tidak menganggapnya sekedar basa-basi belaka. Kususuri kediamanmu yang besar ini dan mendapati sebuah ruang tempat kita berdiri saat ini.
“Capek?” tanyamu.
Aku membalasnya dengan seulas
senyuman dan gelengan kepala pelan. Untuk ukuran pesta pernikahan bagi dua
insan yang telah menginjak kepala lima, bagiku tidak terlalu melelahkan. Hanya akad
sederhana, tidak ada acara resepsi glamor yang terkesan menghambur-hamburkan
uang. Begitu jarum jam menunjukkan angka empat, semuanya sudah selesai.
“Nggak juga,” jawabku. Aku tersenyum
ke arahmu. Kembali kulihat raut wajah itu dalam limit waktu yang lama. Entah mengapa,
aku menemukan kedamaian di sana. Kesimpulanku, tidak ada yang berubah darimu,
meskipun waktu telah merentang cukup panjang di antara pertemuan pertama kita
dulu.
Ah pertemuan itu, bagaimana
mungkin aku bisa lupa dengan masa remajaku dulu? Seorang gadis kelas satu SMA
yang begitu hiperaktif, seperti katamu, yang jatuh cinta dengan kakak tingkat yang
begitu pendiam. Siapa lagi kalau bukan kamu, pengurus klub Jurnalistik dan
pimpinan redaksi majalah sekolah.
Apa kau lupa bagaimana pertama
kali kita bertemu? Kamu masuk ke kelas kami sebagai bagian dari promosi
ekstrakurikuler sekolah. Tentu saja bukan kamu yang berbicara mengenai organisasi
yang kaupimpin. Kamu hanya berdiri di depan pintu, mengawasi dari balik
kacamata berbingkai tebalmu, dan melipat kedua lengan di depan dada. Kamu diam,
tidak berekspresi apa-apa. Saat seorang anggota klub Jurnalistik mengenalkan
namamu, Fajar Danujaya, seketika itulah aku memilihmu sebagai orang yang
menjadi objek cinta pertamaku. Namaku Senja Anaresta. Lihat, Fajar dan Senja. Bukankah
kita adalah pasangan yang saling melengkapi?
“Jadi, apa kamu bahagia dengan
pernikahan ini, Senja?” tiba-tiba kamu bertanya.
“Diam. Aku sedang mengingat
pertemuan pertama kita dulu.”
Kudengar dengusan pendek darimu,
dan bisa kupastikan kamu pun sedang melakukan hal yang sama denganku. Mengenang
kembali romansa zaman putih abu-abu. Kulihat senyum terpatri dari bibirmu.
***
“Kak, ini cerpenku yang ketiga
dalam minggu ini,” ujarku.
“Letakkan saja di situ,” jawabmu.
Kamu hanya menunjuk ke salah satu meja yang ada di sekretariat ekskul Jurnalistik
tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
Bibirku maju sejenak. Ingin protes
atas pengabaianmu, namun semua kata terkunci dalam hati, aku hanya diam dan
melakukan sesuai perintahmu.
“Cerpenmu yang lain, ambil saja
di situ. Sudah kuberi komentar.”
“Jadi apa hasilnya?”
“Tidak layak terbit.”
Aku terdiam, bersungut-sungut
mengambil semua cerpen jerih payahku dan membayangkan banyaknya coretan yang
telah kautorehan di sana. Aku segera pergi dari tempat itu dan memutuskan tidak
akan kembali dalam waktu dekat. Masa bodoh dengan tugasku sebagai koordinator peliputan
bakti sosial sekolah. Aku membencimu, benci karena pengabaian yang kauberikan
sementara aku, tidak pernah lelah sedikit pun untuk mengambil hatimu, melalui
tulisan. Toh, aku bergabung dengan klub ini pun hanya untuk bisa mendapatkan
perhatianmu.
“Tulisanku tidak pernah baik di
matamu.”
***
“Kita bertemu lagi.”
“Senja Anaresta,” ujarmu datar. Tak
ada ekspresi keterkejutan atau sejenisnya ketika bertemu denganku kembali.
“Selamat datang di kantor ini,”
ujarku ramah pada pegawai baru yang ternyata adalah sosok cinta pertamaku dulu.
Begitulah takdir kembali
mempertemukan kita kembali. Seolah cerita lama yang belum usai kembali terbuka.
Tidak ada lagi gadis lima belas tahun yang begitu ekspresif mengejar cinta
pertamanya. Pun juga begitu denganmu. Kamu tidak sedingin dulu, justru yang
kulihat adalah seorang editor yang mumpuni di bidangnya. Karirmu begitu
cemerlang, kamu menjadi bintang di kantor tempat kita bekerja. Dan waktu terus
saja bergulir, membuat kebersamaan di antara kita kembali dekat.
Aku jatuh cinta lagi, kepadamu.
Tapi bukan jenis cinta yang
menggebu dengan cerpen sebagai perantara dan keinginan untuk mendapatkan
perhatian yang selalu menjadi kebahagiaan yang selalu kukejar. Bukan yang
seperti itu. Ini seperti sesuatu yang mampu membuatku bertahan meskipun badai
dan gejolak melanda hubungan kita.
Tanpa disangka, ternyata ibuku
dan ayahmu adalah dua orang yang sudah saling mengenal dan dekat sebelumnya. Seolah
pemilik alam semesta merentangkan jalan begitu mudah di antara kita. Cerita
kita, cerita lama yang selalu kuingat dalam setiap pertemuanku denganmu, belum
berakhir. Dan akan terus menjadi lembaran baru bagiku, juga bagi kehidupanmu.
***
“Kalau ini semua demi kebahagiaan
orang tua kita, aku bisa apa, Fajar?”
Pikiranku yang tadi melayang kembali ke saat ini. Di mana ada aku yang memijakkan kaki di
atas balkon rumahmu, yang sebenarnya adalah kediaman milik sang ayah yang
beberapa jam lalu juga resmi menjadi ayahku. Ayah tiri yang menikahi ibuku.
Kamu tidak menjawab apa-apa. Kudengar
embusan napasmu begitu berat. Aku menghindari melihat wajah tirus milikmu. Langit
menjadi pelampiasan bagiku untuk tidak menatap matamu. Senja. Lihatlah, aku
bisa menyaksikan guratan jingga yang kian lama kian memudar dan akan terganti
dengan semburat ungu yang akan merentangkan tangannya untuk menyambut malam. Gelap,
kelam. Tapi langit di saat malam adalah representasi kebebasan. Di mana
tersuguhkan hamparan hitam yang tak bertepi. Kelip bintang yang bertaburan
bagaikan cahaya lilin yang bergelantungan di angkasa, membuat hitam yang
identik dengan gelap menjadi bernuansa.
Jika kehidupan kita diibaratkan dengan malam, kamu akan memilih apa? Menjadi
gelap, atau kelip bintang yang akan menimbulkan nuansa?
“Boleh aku memelukmu?” ujarmu
tiba-tiba.
“Aku tidak tahu, apakah boleh
atau tidak,” jawabku datar.
“Sebagai seorang kakak?”
“Maaf tapi kurasa, tidak…”
Tidak ada benci atau dendam atau
kesan mengutuk takdir dalam kalimat terakhirku tadi. Hanya saja, kau tahu,
sudah tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk mengakhiri cerita ini. Semuanya
sudah habis ketika mengetahui bahwa lelaki yang begitu dihormati ibuku dan akan
menggantikan sosok almarhum papa yang sudah meninggal belasan tahun yang lalu
adalah papamu. Dan kau tahu itu artinya apa. Tidak ada harapan untuk mengakhiri
cerita kita seperti yang kita inginkan.
“—Kak.” Aku melanjutkan kalimat setelah jeda cukup lama. “Pada
akhirnya, aku akan memanggilmu seperti awal aku menyapamu dulu kan, Kak Fajar?”
Ada sebersit senyum di ujung
kalimatku.
Jika pertanyaan tadi ditujukan padaku, aku memilih menjadi butiran
bintang yang menerangi gelap. Tapi aku lebih menyukai senja daripada malam. Boleh
kan aku tetap bertahan sebagai Senja dan kau menjadi Fajar?
Karena akhirnya Senja dan Fajar
tidak pernah menyatu, hanya saling melengkapi. Penghubung antara siang dan
malam dan berpadu dalam perputaran bumi pada porosnya. Dan mereka, ditakdirkan
bersama untuk berevolusi mengeliling matahari. Bersama, beriringan, bukan
bersatu.
"Aku akan mencintaimu lagi, tapi dengan cara yang berbeda."
Dengan posisi yang berbeda.
Dengan posisi yang berbeda.
------
Tantangan #CintaDuaCara @KampusFiksi 1150 words
0 komentar:
Post a Comment