14.8.13

Maafkan Aku

Malam temaram meskipun purnama bersinar terang. Angin malam berhembus meskipun hembusannya tidak kencang namun menenangkan. Mampu meninabobokan insan yang tiada lelah membanting tulang di siang harinya demi meneruskan penghidupan.

Aku disini, menunggu seseorang datang. Malam yang temaram semakin suram dengan hanya ditemani cahaya lilin yang berpendar dan obor yang menerangi sekitar. Menurut orang yang sedang dimabuk cinta, tempat ini romantis. Ah, rupanya aku salah memilih tempat. Sudahlah, aku memilih tempat ini bukan karena romantisnya, tapi karena privacynya.

Sosok lelaki itu datang m mendekat, dari jauh aku sudah mampu mengenali siluet tubuhnya. Perlahan ia mendekat menuju meja yang telah kupesan di pojok tempat makan yang cukup terkenal ini. Kini ia telah berdiri di depanku, akupun berdiri menyambutnya. Wajahnya pucat. Dingin tangannya saat ku jabat rupanya tidak mampu mendinginkan suasana hatinya yang membara.

"Sehat kamu Rio?" Ucapku, berbasa-basi.

"Langsung saja ke apa yang mau kamu bicarakan." Ujarnya tajam. Sorot mata itu, tak pernah aku lihat sebelumnya.

Aku terdiam agak lama, hingga pelayan mengantarkan minuman, kami tidak juga memulai bicara.

"Maaf... " Ujarku dengan tatapan tulus membawa permohonan maaf. "Aku juga mencintainya.... Jasmine." Ucapku akhirnya. "Aku tidak tahu kalau ternyata aku akan mencintai orang yang sama."

Ia hanya terdiam, memandang minuman di depannya dengan penuh amarah.

"Bulan depan kami akan menikah. Dan ku harap kamu dapat menghadirinya." Kataku pelan.

Tidak ada jawaban, sebuah tinju mendarat di pipiku. Aku menerimanya dengan rela. Maafkan aku sahabat.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment