14.8.13

Berkibar di Ujung Sana

Aku berdiri menyeimbangkan tubuhku di pinggir kolam renang, menatap gugup pada riuh ramai suara di bangku penonton. Tanganku gemetar, keringat dingin muncul di dahi. Inilah saatnya, saat yang telah aku tunggu bertahun-tahun lamanya.

Suara tanda dimulainya pertandingan telah terdengar. Sepersekian detik kemudian aku meluncur, menyatu dengan satu-satunya sahabatku, yakni air. Aku berpacu dengan waktu. Kukerahkan semua potensiku. Tak ingin aku sia-siakan perjuangan latihan demi latihan yang telah kutempuh selama ini.

 “Kamu harus bisa membanggakan bangsa, meski hanya dengan satu kaki.”

Suara itu terngiang di telinga.

“Iya Kek, Nirmala akan buat merah putih berkibar di tiang tertinggi dan Indonesia Raya berkumandang. Juga membawa pulang medali emas untuk kakek.”

Kalimat itu kembali terdengar seolah baru saja kuucapkan.

Ujung kolam renang baru saja kusentuh, tinggal satu perjalanan kembali. Perjuangan ini untuk negeri, begitu nasehatnya padaku. Namun bagiku, perjuangan ini juga untuk dia, yang dulu pernah memperjuangkan merah putih untuk berkibar di tanah kita, yang telah memperjuangkan hidupku yang nyaris tak berharga, karena tidak berkembangnya satu kaki dengan sempurna.

Akan aku persembahkan kemenangan untuk bangsa, walau hanya dalam kejuaraan dunia renang khusus orang cacat. Sedikit lagi, sepersekian detik perjalanan. Aku ingin melihat merah putih berkibar di ujung sana.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment