17.8.09

Kupu-kupu Merah [eps. 2 Kupu-Kupu Jingga]

bismillahirrahmanirrahim,.................



Aku memasuki sebuah ruko berlantai tiga. Dari luar, cat dinding berwarna orange membuat ruko ini terlihat segar, ditambah lampu-lampu hias yang menyemarakkan eksistensinya di tengah keramaian kawasan pertokoan. Di depan, terdapat plang lumayan besar bertuliskan “Ozzy, Rental Pengetikan & Warnet”. Disini tempat aku bekerja. Dan malam ini, aku diminta lembur mengerjakan ketikan skripsi orang yang besok pagi mau diambil.

“Assalamualaikum mba Sarah.” Sapaku kepada penjaga warnet yang mejanya berada di samping pintu. “Sudah makan belum? Nih aku bawakan nasi goreng.”

“Waalaikumsalam. Wah kebetulan dek, mbak belum makan nih. Thanks ya. Oya, motormu langsung dimasukkan garasi samping aja.” Jawabnya sumringah.

“Beres mba. Aku di atas atau di sini nih?”

“Dah sini aja. Mbak ngga kuat jaga warnet nih kalau lagi banyak kerjaan. Hehe ntar diajak chatting lupa sama ketikan.” Kata mba Sarah sembari berpindah posisi denganku. “Naik dulu ya.”

Mba Sarah mitra kerjaku. Biasanya sih kami kerja berempat sama bang Andri dan bang Riki. Berhubung malam ini kami yang lembur jadi bang Andri sama bang Riki ngga jaga. Di lantai dua tempat rental pengetikan dan di lantai satu warnet. Biasanya aku jaga di atas dan mba Sarah di bawah, tapi sesekali kami bertukar posisi juga biar ngga bosan.

Aku mulai menggerakkan jemariku mengetik skripsi yang panjangnya berlembar-lembar ketika aku mendengar suara yang cukup familiar bertanya padaku.

“Mba, ada yang kosong?”

Aku menoleh ke asal suara itu. Tiba-tiba saja aku terkejut. Dua orang gadis muda yang wajah dan suaranya tidak asing bagiku. Tentu saja aku terkejut dengan keberadaan mereka yang aku pikir tidak lazim pada jam-jam segini. Aku menoleh ke arah jam dinding, pukul 22.15.

Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut, mereka juga. Terlihat jelas dari rona wajah keduanya.


“Maaf ya, lagi penuh. Mungkin sebentar lagi ada yang kosong.” Jawabku sembari melontarkan senyuman kearah keduanya.

Terlihat kekecewaan yang begitu tampak dari wajah keduanya.

“Masya Allah bagaimana ini?” Kata ukhti berjilbab merah tua pada orang di sebelahnya.

“Kalau boleh tahu, ada apa ya? Mungkin ana bisa bantu.” Kataku pada mereka.

“Ukhti Ratna, anti kerja disini?” Tanya yang berjilbab biru muda padaku.

“Iya, setiap hari disini, tapi kebetulan malam ini lagi lembur ada ketikan. Ada apa ukhti?” Jawabku pada mereka.

Kemudian salah satu dari mereka menjelaskan padaku sembari tak lepas menunjukkan kekhawatiran pada wajah mereka.

“Insya Allah ana bisa bantu, dan kalau ngga keberatan, boleh minta password email kalian berdua? Biar nanti ana yang kirimkan.” Jawabku pada mereka sembari tersenyum hangat. Berusaha tulus, mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu di mushalla. Ya keduanya adalah aktivis mushalla yang kutemui dulu, ukhti Tias dan Silva.

Dan kemudian keduanya memelukku sembari berurai air mata. Pelan namun terdengar dengan jelas di telingaku sebuah permintaan maaf terlontar. Tulus. Entah ada hubungannya dengan kejadian dulu atau tidak. Apa aku mampu menolak permintaan tulus itu?

Sebelum aku menekuni kembali tugasku, aku mencoba menjalankan amanah dari kedua saudariku tersebut. aku diminta untuk mengirimkan file tugas yang menjadi nilai ujian bagi keduanya. Katanya sih paling lambat harus hari ini dikirimkan. Aku tidak berani berspekulasi mengapa mereka baru menyelesaikannya. Mungkin saja kesibukan mereka mempersiapkan penyambutan mahasiswa baru sehingga lupa dengan tugas kuliah. Alhamdulillah sudah terkirim dan kemudian aku diminta untuk mengeprint dan mengcopynya tiga rangkap dan menyerakhan pada mereka besok pagi. Senangnya aku bisa membantu mereka, semoga amal sholeh mereka menegakkan dakwah di kampus dapat pula kurasakan lagi suatu hari nanti, mengingat aku tidak mampu lagi merasakannya lagi.

Pukul 23.00 aku meneguk segelas kopi hangat mengusir rasa kantukku dan kembali dengan ketikanku yang masih berpuluh lembar banyaknya.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Pagi-pagi sekali aku pergi ke kampus, mengantarkan file tugas dari kedua sahabatku semalam. Setengah tujuh aku sudah stand by di mushalla, karena kami janjian bertemu disini. Sebenarnya aku masih sangat mengantuk sekali karena belum ada tidur sejak semalam. Setelah ini mungkin aku akan pulang dan tidur, tidak apalah absen sehari dari perkuliahan.

Malam ini aku juga berniat mencari mba Ratih. Entah aku akan mencarinya kemana. Karena aku tidak yakin apakah bisa bertemu dia di kostnya. Ataukah aku akan nekad mencarinya di tempat yang kata orang adalah lokasi dia bekerja? Bahkan akupun tidak tahu tempatnya dimana, lokasinya bagaimana, dan suasananya seperti apa. Aku takut untuk membayangkannya.

Bismillah, selepas isya aku mengendarai motorku menuju sebuah alamat. Suatu tempat yang lumayan familiar dikenal sebagai lokasi hitam di kotaku. Aku ragu, namun ku bulatkan tekadku. Aku harus menemui kakakku. Entah aku akan mampu membawanya pulang ataukah bagaimana nantinya, minimal aku sudah bisa mengembalikan uang biaya rumah sakit almarhumah ibu.

Rasa ragu kembali menyelimuti hatiku. Aku takut, apalagi denagn jilbabku yang lumayan besar ini dan kepergianku yang seorang diri. Sedari tadi kupacu motorku denagn perlahan, namun entah kekuatan dari mana yang membuatku semakin bertahan.

Akhirnya kuparkirkan motorku disini. Aku menangis tanpa suara di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Aku sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Bayangan akan suasana yang kuciptakan sendiri membuatku takut itu benar-benar terjadi. Aku terlarut dalam suasana yang aku sendiri tidak tahu seperti apa. Bayangan yang terbentuk dari imajinasiku mengenai tempat itu, dan, dan, dan aku tidak mampu melanjutkan perjalananku sendiri. Padahal lokasi itu sudah dekat denganku kini.

“Mau kemana mbak? Mau pesan apa?”

Suara ramah dari ibu-ibu setenagh baya pemilik warung kopi mengagetkanku. Aku mengusap airmata dan mencoba tersenyum ramah padanya.

“Minta teh hangat bu” Jawabku.

Tidak lama muncul pria paruh baya duduk tidak jauh dariku. Wajahnya yang tidak bersahabat membuatku semakin takut. Terlebih tatapan matanya yang seperti lupa akan dosa. Bicaranya yang jelas aku dengar membuatku semakin terpeosok ke dalam permainan pikiranku sendiri. Terburu-buru aku meninggalkan warung kopi itu. Semakin menjauh dan menjauh dari tempat itu. Sembari menangis tiada henti aku pacu motorku dengan kencang. Kuucap istighfar berulang kali. Astaghfirullahhal’adzim.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Aku terkejut bukan main ketika hendak membuka kunci rumah namun terbuka. Ada sedikit harapan menyelimuti ragaku yang sudah demikian payah hari ini. Ada asa yang menghujani pikiranku. Ada satu harapan bahwa mbak Ratih kembali pulang. Aku berlari menyisiri rumah, namun tidak ada tanda keberadaannya. Sampai kemudian aku mendengar suara air dan teriakan seseorang dari kamar mandi.

“Tidaaaaaaak,………!!!!!”

Secepatnya aku menghampiri dan membuka kamar mandi rumah kami. Kulihat disana, sesosok wanita bertubuh pucat, pakaiannya basah setelah disiramnya dengan air. Aku memeluknya, kakakku yang dari hati nuraniku sungguh sangat aku sayangi.

Ku halangi ia memukul perutnya yang terlihat sedikit membesar. Ku dekap ia penuh iba, ku usap rambut panjangnya sembari ku coba pulihkan kesadarannya.

Terngiang oleh pesan-pesan terakhir dari almarhumah ibunda padaku,

“Jagain Mbakmu ya Na. Ibu sudah ngga bisa jagain dia.”

Aku ingin menangis ketika menyadari bahwa kakakku telah membawa calon anggota baru pada kami. Namun rasanya airmataku tidak tersisa. Entah kekuatan apa yang menuntunku untuk membantunya bangkit, sembari ku bisikkan sesuatu padanya.

“Jangan kembali ke tempat itu lagi ya mba. biakan Nana yang menjaga mba disini. Nanti kalau anak ini sudah lahir, Nana bantu mba carikan ayah terbaik buat dia.”

Kini kupu-kupu jingga itu telah kembali. Meskipun sebagian sayapnya telah rusak, namun aku menerimanya kembali. Aku akan mengobatinya hingga ia mampu terbang lagi. Tidak lagi sebagai kupu-kupu malam yang hitam, namun terbang tinggi layaknya kupu-kupu yang indah, kupu-kupu merah.


Reaksi:

1 comment:

  1. wah ceritanya bagus,.... teruskan berkarya ya,....

    ReplyDelete