18.2.09

Rosa Rarks, Inspirasi Untuk Maju dan Mengubah Dunia

Di suatu sore pada bulan Desember 1955 M, Rosa Parks, seorang wanita berkulit hitam yang bekerja sebagai buruh harian untuk memenuhi kebutuhannya. Ia telah bersiap-siap untuk pulang setelah seharian bekerja keras. Rosa melewati jalanan sambil menenteng tasnya, merasakan kehangatan semangat yang keluar dari dalam dirinya.

Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu menyeberang jalan, untuk kemudian berdiri sesaat menunggu bus umum yang akan membawanya ke tempat tujuannya. Setelah sepuluh menit menunggu, Rosa melihat pemandangan memilukan yang akrab dengan zaman kala itu.

Seorang laki-laki kulit hitam harus bangkit dari kursinya sambil mempersilahkan tempat duduknya untuk ditempati orang kulit putih!


Perilaku ini tidak lahir dari ruh persaudaraan atau sentuhan persaudaraan sejarah, tapi lahir dari undang-undang Amerika saat itu –yang melarang orang berkulit hitam duduk di atas kursi sedang tuannya si kulit putih berdiri di atas kaki-.

Hali itupun berlaku bagi siapa pun, tak mengenal usia. Meskipun yang duduk adalah wanita hitam tua renta, dan yang berdiri adalah pemuda yang gagah perkasa. Bila wanita tua berkulit hitam itu duduk dan pemuda kulit putih itu berdiri, maka telah terjadi pelanggaran hukum dan si wanita tua itu harus siap membayar denda.

Pada saat itu, Anda akan akrab dengan papan yang digantung di pintu-pintu swalayan dan rumah makan, yang bertuliskan, ”Dilarang Masuk bagi Kucing, Anjing, dan Orang Hitam!”
Diskriminasi itu membuat sakit dan pilu nurani Rosa, sekaligus membuatnya geram dan marah.


Saat bus kota berhenti, Rosa naik dengan dada bergejolak.

Rosa menoleh kanan kiri, mencari tempat duduk kosong. Ia melihat kursi kosong. Ia segera merangsak menuju ke tempat duduk itu dengan mendekap tasnya. Ia duduk sambil menerawangi jalan yang dilewati oleh bus kota.

Saat tiba di halte berikutnya, ada seorang pnumpang kulit putih yang naik. Kursi bus saat itu telah penuh terisi. Dengan tenang, ia melangkah menuju ke arah Rosa agar bisa mendapatkan tempat duduk. Namun alangkah terkejutnya ia, kareb aRosa melihat padanya tanpa peduli, lalu kembali melihat jalan.

Laki-laki itu marah, dan seluruh penumpang kulit putih bersahut mencela Rosa, mengancamnya bial ia tak segera bangkit dan mempersilakan duduk si penumpang kulit putih.

Namun, Rosa terus menolak dan memaksa tetap duduk. Saat sopir melihat pelanggaran hukum ini, ia langsung menuju kantor polisi untuk melaporkan perbuatan wanita berkulit hitam yang mengganggu tuan-tuan berkulit putih!!

Ya, pemeriksaan pun terjadi, dan rosa harus membayar denda sebesar lima belas dolar sebagai ganti atas pelanggarannya terhadap hak orang lain (orang kulit putih).

Dari sini, awan hitam muali menaungi langit Amerika. Orang-orang kulit hitam berdemo seantero Amerika, memutuskan untuk memboikot sarana transportasi dan meminta hak-hak mereka sebagai manusia –hak hidup dan hak pergaulan manusia-.

Gejolak itu berlangsung selama 381 hari. Dan selama itu, Amerika dilanda keributan.
Akhirnya, mahkamah memutuskan untuk memenangkan perkara Rosa Parks, dan dihapuslah kebiasaan zalim tersebut maupun kebiasaan atau undang-undang apartheid lainnya.

Setelah Rosa Parks berusia 80 tahun, ia menuliskan pengalamannya dalam buku yang diterbitkan dengan judul Quiet Strength. Pada tanggal 24 Oktober 2005 ribuan orang berjubel untuk ikut mengiringi jenazah Rosa Parks, pionir hak sipil Amerika yang meninggal pada usia sekitar 92 tahun.

Pada hari itu, jutaan manusia menangis, pemimpin-pemimpin negara berkumpul, dan bendera Amerika dikibarkan. Jasadnya disimpan di gedung Kongres sejak wafatnya hingga sebelum dikubur. Ini merupakan sebuah penghormatan yang hanya diberikan pada pemimpin negara dan orang-orang yang hebat.

Ketika ia meninggal, di lehernya tergantung lencana terhebat. Lencana presiden untuk kebebasan pada tahun 1996 dan lencana emas Kongres pada tahun 1999. inilah penghormatan sipil tertinggi di Amerika.

Di atas semua lencana itu adalah lencana yang diberikan pada anak negeri yang berani mengatakan tidak. Orang yang paling terkenal berkata tidak di sejarah Amerka.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment