5.2.09

Akhir Dari Perjalanan..............

Aku melangkah keluar Bandara Soekarno Hatta, mencoba mencari sosok tinggi besar Bang Arman kakak iparku dan Salsabila anaknya. Sungguh, pikiranku sedang kacau kini sehingga tidak bisa konsentrasi melihat banyaknya orang di bandara ini, bahkan untuk megenal wajah Bang Arman pun susah aku mengingatnya.
Tiba-tiba ku mendengar suara gadis kecil memanggilku.
”Tante Irene.......”
Aku menoleh ke arah suara itu. Dan benar sekali, aku menemukan sosok Bang Arman dan gadis empat tahun berjilbab pink menantiku. Pasti Abi nya yang menyuruh Salsa memanggilku, karena dia pasti tidak mengenaliku. Pertemuan terakhir kami waktu Salsa satu tahun, sebelum mbak Indri dan Bang Arman pindah ke Jakarta.
Aku memeluk dan menggendongnya.
”Salsa sudah besar ya. Sudah sekolah belum? Kenal sama tante ngga?”
Aku tersenyum mendengar cerita lucu dari keponakanku itu ketika menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Pertemuanku dengannya cukup menghangatkan suasana hatiku kini. Sementara aku menggendongnya, bang Arman membawa koperku ke mobil.
”Mau istirahat di rumah dulu atau langsung ke Ruamh Sakit nih?” Tanya Bang Arman.
”Ke Rumah Sakit aja.” Jawabku.
”Ya sudah, tapi mampir makan dulu ya, Salsa belum sarapan tadi pagi. Kamu sudah lapar juga kan?”
Aku mengangguk dan tersenyum kecil.
Sejenak aku menikmati kebersamaanku dengan Salsabila. Mendengar celoteh dan ceritanya tentang teman-temannya, sekolah dan cerita lainnya sedikit melupakanku pada segala permasalahan yang terjadi. Aku bahagia bila di dekat anak kecil, apalagi itu keponakanku sendiri.


Tak lama perjalanan kami sampai juga di salah satu ruang Rumah Sakit. Aku begitu tak sabar menemuinya. Dan ketika ku buka pintu salah satu ruang di Rumah Sakit itu, kulihat sosok teduh berjilbab rapi berwarna hijau tersenyum menyambut dan membalas salamku. Tak ada sedikitpun kelelahan di wajahnya. Padahal aku tahu, beberapa jam yang lalu ia habis melakukan perjuangan yang aku rasa sangat melelahkan.
”Baru datang Ren? Ngga istirahat dulu di rumah?”
”Ngga sabar pengen lihat si kecil mba” Jawabku sembari duduk di samping ranjangnya. ”Kapan lahirnya mba? Kok sudah cantik nih? Ngga capek atau sakit kah?” Tanyaku keheranan.
Wajar kalau aku heran, setahuku dimana-mana orang habis melahirkan itu pasti sakit atau capek. Sementara mba Indri sebaliknya.
”Ya sakit lah. Kalau orang jihad itu ngga ada yang ngga capek Ren. Melahirkan itu kan salah satu jihad, dan jihad itu balasannya kalau ngga syahid ya memperoleh kemenangan kan, nah sekarang mba sudah dapat kemenangan. Si Raihan itulah buah manis kemenangan mba. Kalau sudah dapat anugrah terindah begini, lantas kenapa harus mengeluh sakit atau capek Ren?”
Aku benar-benar kagum dengan sosok kakakku ini. Barakallah mba, aku hanya tersenyum tulus membalas taushiyah singkat yang disampaikannya.
” Kapan nyusul mba nih? Biar merasakan juga indahnya merasakan jihad sebagai seorang wanita?” Tanya mba Indri. ”Atau mau dicarikan sama Abi nya Salsa orang sini, biar pulang bawa oleh-oleh?” Lanjutnya sambil tertawa kecil.
”Aah mba ini, Irene tuh belum lulus kuliah mba, baru juga semester 6..” Jawabku diplomatis.
”Umi umi, Salsa mau lihat adek Raihan mi...” Rengek Salsa pada umi nya.
”Ayo sama Abi lihat adek.” Jawab Abi nya sambil menggendong Salsa dan siap membawanya keluar ruangan.
”Memangnya adek Raihan dimana Bi?”
”Tadi habis dimandiin suster. Coba lihat di ruangan bayi sana sama Abi” Jawab umi nya.

Setelah berlalu bang Arman dan Salsa, sejenak sunyi menyeruak di dalam ruangan. Entah mengapa perasaan duka itu muncul lagi tak dapat ku tepis.
”Sudah cari tahu kabar temanmu itu, Ren?” Rupanya mba Indri mengamati perubahanku.
”Belum mba.” Jawabku pilu. ”Atau Irene coba telepon mamanya aja ya mba? Siapa tahu dia dirawat disini juga” Jawabku sembari beranjak keluar ruangan setelah dibalas anggukan oleh mba Indri.
Aku menekan handphone dan mencari satu nomor. Ketika tersambung, aku terlibat percakapan serius dan mendapatkan informasi yang aku cari. Aku kembali masuk dengan berlinang airmata.
”Dia dirawat disini juga mba......”
”Ya sudah cepat dicari ruangannya”
”Tapi mba disini ga ada yang jaga....”
Kakakku tersenyum dan menunjukkan sikap keibuannya. ”Mba ini sudah besar lho, ga perlu dijagain. Kan sebentar lagi Salsa sama abi nya datang. Ayo dikejar Ren, kamu kan sudah jauh-jauh sampai ke Jakarta.”
Aku tersenyum dan segera pergi menuju lobby Rumah Sakit untuk mencari info yang baru saja aku dapat dari mamanya temanku itu. Kuhapus air mata yang tadi sempat mampir di pipiku. Aku tidak boleh terlihat sedih. Seorang pejuang dakwah sedang menanti untuk ku jenguk. Ribuan kilometer telah ku jalani, dan kuharap kedatanganku ini disambut senyuman terindah olehnya. Disambut dengan sambutan terhangat dan taushiyah-taushiyah menyejukkan hati darinya.
Namun sepertinya harapanku harus ku kurangi. Aku tak berani melangkah masuk ketika aku berdiri di depan ruang ICU Rumah Sakit ini. Kakiku kelu untuk melangkah. Aku dilanda ketakutan yang besar jika ternyata harapanku itu jauh dari kenyataan.
Ku beranikan langkah ini memasuki ruangan. Di depan pintu, kulihat seorang wanita paruh baya menghampiriku. Seorang wanita yang tampak modis yang kalau aku boleh jujur, dandanan dan pakaiannya kurang sesuai dengan usianya kini. Aku tahu, tante Juana namanya.
”Tolong ya kamu lihatkan anak tante dulu di dalam. Tante mau urus prosedur operasinya dulu” Katanya yang cenderung angkuh.
”Ka-kapan di operasinya tante?”
”Tante juga lupa, kalo ngga besok, lusa atau besoknya lagi. Tante lupa. Itu juga operasinya yang ketiga. Soalnya sore ini Tante sama papinya mau terbang ke Australia, itu si Andreas adiknya mau wisuda minggu depan. Jadi tante musti tinggal dia sebentar. Ga tau deh anak itu, masa kalah sama adiknya, apalagi kecelakaan gini. Kapan dia mau lulusnya? Tante bingung deh. Ya sudah tante tinggal dulu ya. Kalo ada apa-apa panggil suster aja, atau telepon aja tante ya.”
Dan wanita itu pergi berlalu begitu saja. Astaghfirullah, air mataku jatuh begitu saja mendengar setiap kata demi kata yang telontar dari mulut beliau. Masih adakan wanita yang segitu kurang pedulinya dengan anaknya sendiri yang terbaring di Rumah Sakit? Ah mungkin keadaannya di dalam sudah agak baik, jadi bisa ditinggal. Tapi yang jelas, kini aku bersinggungan langsung dengan sikap tante Juana yang selama ini hanya bisa aku dengar dari cerita anaknya.
Tak cukup segitu saja penyambutanku disini. Aku rasanya tak sanggup berdiri ketika ku melihatnya, sahabatku, tertidur kaku yang aku tidak tahu kapan ia bangunnya. Hidupnya kini bergantung pada selang-selang yang menempel di tubuhnya. Di kepalanya kini tak ada selembar kainpun seperti biasanya, diganti dengan lilitan perban yang aku tak tahu apakan masih tersisa rambut di dalamnya. Dan di tangannya, tertempel entah berapa jarum yang menghubungkannya dengan selang-selang yang aku tak tahu persis fungsinya. Yang aku tahu, hidupnya kini sebagian besar ditopang oleh semua alat-alat disini. Tangannya itu, kini sedikit terlihat, karena baju yang ia kenakan tidak cukup panjang menutup tangannya, selain juga dikarenakan banyaknya infus-infus itu.
Tangisku kini benar-benar pecah, namun tak sanggup ku keluarkan suara. Hanya zikir dan airmata yang sanggup mewakili ekspresiku ini melihatnya disini. Temanku, sahabatku Vanessa Carolina, ingin rasanya kukenakan jilbab dikepalamu, kututup leher, tangan dan semua auratmu yang terlihat ini. Teringatku situasi ketika kau sadar, aku tahu persis, bahkan sehelai rambutpun tak rela jika terlihat dan seujung kakipun tak kau biarkan orang lain yang bukan muhrim melihatnya. Namun kini... Ingin kubangunkan dirimu dan kusadarkan jiwamu. Namun aku tiada daya.
Aku coba tenangkan diriku, kutata hatiku. Kutatap wajah sayu didepanku. Tak ada suara, selain suara alat-alat medis disini. Tak ada gerak, selain gerak alat deteksi jantung dan gerakan nafas pelan di dadanya. Hanya itu gerakan kehidupan yang terlihat dari Olin.
Semuanya kini serba absurd. Bagaikan secepat roller coaster ingatanku melesat jauh pada kejadian suatu hari itu. Seperti putaran roll film yang diputar di depanku, aku menyaksikan kejadian tepat sebelum kecelakaan itu terjadi.


Kami baru saja selesai ujian. Hari ini, mata kuliah yang diujikan paling berat dibandingkan dengan sebelumnya. Aku seperti biasa duduk di depan mengerjakannya. Dan seperti biasa juga, sebelum habis waktunya aku telah menyelesaikan ujian kali ini dengan sukses. Alhamdulillah, telah terbayang nilai A menghiasi KHS ku untuk mata kuliah ini. Aku berdiri, bersiap meluncur ke bengkel perut alias kantin untuk mengisi kembali energi yang lumayan terkuras dari tadi pagi. Sebelum pergi, aku menoleh ke bangku sahabatku, Olin. Terlihat wajahnya pucat dan keringat bercucuran dari dahinya. Aku tersenyum kearahnya dan dia membalas senyumanku.
’Semangat ukhti, doaku semoga bisa membantumu melalui ujian ini’ Kataku dalam hati dan dibalas kepalan tangan ringan yang artinya ”takbir”
’Allahu akbar’ Dibalasnya dengan bahasa bibir yang ku tahu artinya.
Telah ada kesepakatan diantara kami. Bahwa ketka quis ataupun ujian, tidak ada interaksi dalam rangka ’tolong-menolong’ yang merupakan penghalus kata dari mencontek, atau berbuat curang. Tolong-menolong itu berlakunya kalau belajar, di luar itu ya berjuang sendiri.

Sudah setengah jam lebih aku menunggunya disini. Sudah dua kali aku pesan minuman namun Olin belum keluar juga. Dan ngga lama kemudian, muncul juga sesosok Olin dengan jilbab biru besar yang melambai-lambai di belakangnya.
”Minum dulu” Kataku sambil menyodorkan segelas es jerukku.
Bisa dipastikan reaksinya setelah ini, biasanya kalau sudah ada tanda-tanda gagal dalam quis atau ujiannya, Olin selalu sedikit reaktif seperli logam Na+ kalau terkena air. Makanya aku suruh dia minum buat menenangkan dirinya dulu. Setelah habis cairan jeruk di gelas, ternyata Olin bereaksi lain dari biasanya. Tumben.
”Bisa ngerjain tadi?”
”Ngga tahu nih Ren, padahal yang kamu ajarin itu keluar semua, tapi ya tetap aja ngga bisa. Hehehe. Biarin lah paling diomelin lagi, ya didengarin aja lah Ren” Jawabnya santai.
Aku jadi ingat dengan cerita Olin tentang keluarganya. Orangtuanya selalu menginginkan kesempurnaan dari anaknya. Prestasi akademik, karir masa depan, calon pendamping, bahkan pakaian dan gaya hidup harus selalu diperhatikan. Model keluarga masa kini yang berkiblat bukan pada budaya timur. Itulah yang membuatnya selalu tidak nyaman bersama kedua orangtuanya.
”Ya kamu kan juga tahu Ren, mami pengen aku punya nilai bagus, cepet lulus, karir cemerlang, nikahnya ma anak konglomeratlah. Trus kalo sudah begini, pasti di banding-bandingin sama Andreas itu.”
Aku tahu kok, Olin sering cerita tentan itu. Tentang orangtuanya, adiknya yang kuliah di luar itu, perlakuan, tuntutan, dan sikap maminya yang semakin meruncing semenjak dia bergabung dengan komunitas dakwah di kampus. Melihat orang lain berjibab saja maminya agak gimana gitu, apalagi sekarang, anak perempuannya telah berhijrah total. Tambah banyak saja tekanan dari maminya itu.
”Tapi tenang aja Ren, aku sadar kok, setiap orang itu kan punya potensi diri masing-masing. Kalau semua orang bisa, nanti siapa dong yang minta diajarin? Kan ngga ada lagi ladang dakwah buat orang yang pintar untuk mengajari yang kurang pintar? Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. Bangunan yang kokoh kan unsurnya bukan dari bata aja, ada pasir, semen, kayu. Kalau aku ngga bisa memposisikan diriku sebagai bata, aku bisa berperan sebagai kayu, atau bahkan pasir. Kalau aku ngga bisa berjihad lewat ilmu, kan bisa lewat harta, bisa juga lewat sastra. Ingat lho Ren, aku kan pintar nulis. Meskipun mami ga suka, atau menilai keberhasilan itu dari sesuatu yang abstrak, aku ngga peduli. Semua yang kulakukan kan untuk mengharap Ridha Allah Ren, bukan penghargaan atau prestasi manusia.”
Aku berdecak kagum mendengar paparan sahabatku ini. Aku sebenarnya bersahabat dengan orang hebat, bukan dengan seorang gadis yang selalu diremehkan semua orang. Olin memang orang hebat, semua orang seharusnya mengakui kemahirannya dalam bersastra, juga mengakui keprofesionalannya dalam hal tulis-menulis. Makanya dia diamanahkan sebagai wakil sekretaris di lembaga dakwah fakultas, juga sekretaris himpunan mahasiswa.
Memang harus diakui juga kalau akulah yang lebih menonjol. Bukan bermaksud membanggakan diri, tapi orang-orang melihatnya begitu. Padahal kenyataannya, akulah yang selalu belajar banyak darinya. Olinlah guru kehidupan terbaik yang ku kukenal. Dimana ketika kita masih belajar tentang teori kehidupan, dia telah mengalaminya, bahkan kini, aku bisa pastikan dia telah lulus ujian kehidupannya, dengan pernyataan yang baru saja disampaikannya.
Aku tak tahan menahan haru, kupeluk sahabatku ini. Kupeluk erat seakan kami tidak bertemu lagi. Dan inilah aku, tak tahan mengeluarkan air mata.
”Ih Irene apaan sih, malu nih, nangis lagi”
”Hehehe I proud become your friend”
“Aku selalu berdo’a, semoga orang tuaku dibukakan pintu hidayah oleh Allah” Pinta Olin tulus
“Amin. Oke Mujahidah Olin siap berjihad?”
“Hehehe oke Mujahidah Irene, ayo kita tebarkan dakwah”
Itulah kata-kata pelecut semangat yang sering kami ucapkan kalau hendak berpisah. Setelah itu kami pergi masing-masing, karena sebelum zuhur aku harus sampai ke tempat aku mengajar. Sementara Olin masih akan mengarsipkan surat di sekeretariat Mushalla. Setelah shalat katanya ia akan pergi ke warnet mempublikasikan buletin online lembaga dakwah, trus pulang ke kost karena hari ini ada ngajar mengaji anaknya ibu kost.



Berita itu baru sampai padaku keesokan harinya ketika tiga orang akhwat kerumahku dan mengabarkan berita duka itu.
”Kemarin ukhti Olin kecelakaan” Kata Mba Ranti dengan berkaca-kaca
”Sewaktu pulang dari kampus, ada mobil ugal-ugalan yang nabrak Olin. Kata orang yang melihat, kepalanya berdarah-darah sewaktu dibawa ke Rumah Sakit.” Kata Indah menjelaskan.
Menangis. Itulah satu-satunya reaksi yang bisa aku perlihatkan.
”Kita coba hubungi anti tapi hp anti ngga aktif dari kemarin. Orangtuanya juga sudah dihubungi. Katanya, kemarin langsung sampai ke sini. Makanya kami inisiatif kesini. Karena kabarnya ukhti Olin akan dipindahkan orangtuanya ke Jakarta” Mba Diana menambahkan.
Hanya menangis dan menangis. Semakin tertahan kata-kataku untuk keluar, namun aku paksa juga untuk mengucap.
”Kita ke ruamh sakit sekarang ya” Pintaku segera.
Dan kami berempat meluncur ke rumah sakit. Aku dibonceng Indah, karena jujur, aku tak mampu untuk membawa motor sendiri dalam kondisi seperti ini. Kami berlarian kecil di sepanjang koridor rumah sakit. Dan ketika sampai di ruangannya aku begitu kaget melihat kondisi disana. Hanya ada ruangan putih pucat, sprei putih polos, ranjang kosong, dan seorang suster yang merapikan ruangan. Aku begitu panik disana.
”Suster, pasien disini kemana ya?” Tanya mba Diana.
”Oh sudah dipindahkan” Jawab suster tersebut.
”Kemana sus?” Tanyaku.
”Sudah dirujuk ke Rumah Sakit Jakarta. Orngtuanya yang meminta”
Seketika juga badanku melayang. Kepalaku berputar, karena sedari pagi belum terisi energi. Ditambah berita-berita duka yag ku terima. Dan kini, belum sempat ku melihat sahabatku, dia sudah pergi. Namun aku sempat bersyukur, karena dia belum akan pergi untuk selamanya.



Sudah tiga seminggu semenjak peristiwa itu terjadi. Sempat aku berhubungan dengan tante Juana, mami Olin untuk menanyaan kabarnya. Namun, jawaban yang diberiakn sangat tidak memuaskan bagiku. Sepertinya aku harus pergi ke Jakarta melihat langsung. Tapi, bagaimana caranya? Untuk mengandalkan tabunganku rasanya kurang, karena sudah kupakai untuk keperluan kuliah dan lainnya. Untuk meminta sama orangtua, rasanya aku kurang berani. Tiba-tiba aku ingat satu nama. Mbak Indri, kakakku. Kenapa aku bisa melupakannya? Aku kan punya kakak yang ada di Jakarta. Setidaknya jika aku tidak bisa pergi kesana, aku bisa mendapatkan informasi dari orang yang aku percaya. Malam itu juga aku menelpon kakakku, menceritakan semuanya kepada kakakku itu.
”Ren, mba mau banget bantu kamu, tapi kayaknya belum bisa Ren, soalnya mungkin dalam beberapa hari kedepan mba sudah mau melahirkan.”
Astaghfirullah aku lupa kalau mba Indri sedang hamil tua.
”Mba dengar mama mau pergi ke sini dampingi mba melahirkan. Atau begini saja Ren, yang kesini kamu aja. Bilang aja sama mama, sekalian kamu jaga Salsa selama mba masih di rumah sakit. Kan lagi libur juga kan kamu. Nanti mba bantu ngomong sama mama deh”
Dan aku mencoba menjalankan usul kakakku itu. Awalnya aku susah meyakinkan mama. Selain karena aku tidak pernah dibiarkan pergi jauh sendirian, mama juga takut kalau sampai disana aku lupa dengan kewajibanku menjaga Salsa disana. Tapi setelah beberapa hari ku jelaskan dan dibujuk juga oleh mba Indri akhirnya aku diizinkan juga. Keinginanku pergi ke Jakarta bertambah kuat setelah semalam aku bermimpi kurang enak tentang Olin. Namun aku menepis perasaan itu.
Pagi ini aku berangkat juga. Namun, aku agak terlambat karena aku dapat kabar kalau mba Indri tadi subuh sudah melahirkan. Nanti katanya, aku dijemput Bang Arman dan Salsa, kakak ipar dan keponakanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti padaku, dan pada semuanya. Dua kupanjatkan dari atas pesawat ini agar semuanya baik-baik saja.



Setelah shalat zuhur ku tunaikan, aku kembali ke ruangan kakakku dan menceritakan keadaan Olin. Aku harus memegang amanah mamaku. Kakakku mungkin masih akan di rawat empat hari lagi di rumah sakit. Akhirnya diputuskan oleh Bang Arman, mulai besok setiap pagi Bang Arman akan mengantarku ke Rumah Sakit dan mengantar Salsa sekolah. Kira-kira jam 2 siang, Salsa pulang sekolah dan Bang Arman menjemput Salsa dan aku dari rumah sakit. Jadi aku punya banyak waktu untuk menengok Olin dan kakakku bergantian selama di rumah sakit. Tak henti aku mengucapkan terima kasih pada bang Arman dan mba Indri yang begitu baik padaku.
Begitulah kesibukan yang kujalani selama di sini. Pagi ini, pagi keempatku di ruangan Olin. Tak ada seorangpun yang menjenguk Olin selain aku. Beberapa kali suster dan dokter masuk memeriksa keadaan Olin. Aku tak memperhatikan mereka, karena energiku disini ku curahkan untuk memberikan spirit dan doa bagi kesembuhan sahabatku ini. Yang aku perhatikan adalah, dokternya laki-laki. Tak begitu jelas terlihat wajahnya olehku. Toh itu juga ngga penting dan aku juga tidak ingin memperhatikan terlalu dalam dokter yang cukup muda ini. Ingin aku berteriak padanya agar tidak menyentuh sahabatku ini. Namun aku tak kuasa, dan aku akan selalu berdoa agar melelui tangan dokter itu Allah memberikan kesembuhan pada Olin.
Malam ini, Olin akan di operasi. Aku meminta izin untuk menginap di rumah sakit menemani Olin, sementara kakakku mulai kemarin sudah pulang dari rumah sakit ini. Dan akupun mendapat izin dari Bang Arman.
Aku baru saja keluar dari mushalla rumah sakit. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan dokter Farid, dokter yang merawat Olin. Aku juga berpapasan dengan suster-suster yang biasa memeriksa Olin. Sejuta harapanku ku letakkan pada mereka, dan juga pada tim dokter yang akan mengoperasi temanku itu. Selanjutnya waktuku kuhabiskan untuk tilawah di dekat Olin, mengajaknya berbicara, dan memberikan kata-kata spirit baginya. Karena aku sering dengar kalau seseorang itu sedang koma, maka ia akan mendengar apa yang kita lakukan didekatnya. Entah apakah itu benar atau tidak, yang penting aku telah berusaha semampuku melakukan apa yang terbaik untuk sahabatku ini.
Detik-detik menjelang operasinya kini, semakin banyak teman-teman yang menelponku menanyakan kabar dan memberikan spirit serta do’a untuk kesembuhan Olin. Sayangnya tak ada satupun keluarganya yang meneleponku. Aku semakin semangat memberikan motivasi dan spirit pada Olin, tak peduli banyaknya air mata yang telah keluar dari mataku.

to be continued yaaaa.........
Reaksi:

1 comment:

  1. Luar biasa, kisahnya sangat membawa perasaan saya hanyut sangat dalam. Apakah ini benar benar terjadi atau hanya sekedar cerita fiksi saja? Yang pasti, saya sangat tersentuh sekali. Saya membayangkan bagaimana ibu saya dulu di kampung ketika melahirkan saya, Masya Allah, sungguh besar perjuangannya. Inilah sebetulnya letak kemuliaan wanita.

    Makanya, saya heran melihat wanita wanita yang tega membunuh anak bayinya sebelum lahir. Ya tentu kita maklum, sebabnya mungkin adalah karena insident. Tapi, setegah itukah?

    Secara naluriah, saya yakin betul, semua wanita pasti sangat tersayat sayat ketika melakukan tindakan tidak manusiawi seperti itu. Ada semacam ketidakrelaan yang bagaimanapun juga harus dilawan. Harga diri mengalahkan hati nurani. Mengalahkan fitah kemanusiaan.

    Anyway, pada kalimat ” Kapan nyusul mba nih? Biar merasakan juga indahnya merasakan jihad sebagai seorang wanita?” Tanya mba Indri. ”Atau mau dicarikan sama Abi nya Salsa orang sini, biar pulang bawa oleh-oleh?” Lanjutnya sambil tertawa kecil.
    ”Aah mba ini, Irene tuh belum lulus kuliah mba, baru juga semester 6..” Jawabku diplomatis.
    .

    Bener pesan Mbaknya. Bersegeralah jika memang sudah siap mental dan psikis. Jangan ditunda tunda, bahaya loh...hehehe..

    Ok, secara keseluruhan saya suka tulisan kamu. Tapi ada baiknya, jika tulisan panjang seperti ini dipecah aja jadi 2 atau 3 bagian. Karena tidak semua orang mampu atau sempat membaca tulisan sepanjang itu sekaligus.

    Wassalamuu Alaikum

    ReplyDelete