Mari sejenak kita berbincang tentang pekerjaan rumah untuk anak-anak kita.
Adakah manfaatnya? Pembahasan tentang PR ini saya dasarkan pada buku
The
Art and Science of Teaching karya Robert J. Marzano, ASCD, Alexandria,
Virginia, 2007. Saya juga mendasarkan pada buku yang lebih khusus, yakni
Rethinking
Homework karya Cathy Vatterott, Alexandria, Virginia, 2009.
Secara sederhana, tujuan pemberian PR adalah untuk mendukung pembelajaran
pada salah satu dari empat cara, memberi pengalaman prabelajar. Bisa pula untuk
menge
check pemahaman, praktek atau pemrosesan.
Prabelajar. PR diberikan untuk mengenalkan siswa terhadap
topik atau latar belakang tema yang akan dipelajari, sehingga anak akan lebih
siap untuk mempelajari materi secara lebih mendalam. Kita dapat menugaskan
siswa untuk membaca atau membuat garis besar bab. Dapat pula berupa tugas untuk
menemukan apa yang telah diketahui oleh siswa tentang topik yang akan dipelajari.
Dapat pula kita arahkan untuk menggali apa yang mereka ingin pelajari dari bab
atau tema tersebut.
Kita juga dapat memberi tugas kepada siswa untuk menulis berbagai pertanyaan
mereka sendiri, misal tentang sistem pencernaan. Manfaatnya, tugas menulis pertanyaan
ini dapat memancing rasa ingin tahu sekaligus menciptakan keterlibatan siswa
pada tema tersebut. Pemberian PR prabelajar dapat pula diarahkan untuk
merangsang ketertarikan anak terhadap konsep yang akan dipelajari.
Adapun PR untuk menakar sejauh mana siswa telah memahami apa yang dijelaskan
oleh pengajar di kelas, bentuknya beragam. Umumnya guru memberikan PR untuk
mengetahui sejauh mana siswa mampu memahami apa yang telah dijelaskan di kelas.
PR jenis ini juga dapat menjadi cara bagi guru untuk memperoleh
insight
(letikan ide) untuk pembelajaran siswa. Contoh PR yang semacam ini adalah
menugasi siswa menyelesaikan sejumlah soal matematika dan
menerangkan
cara menyelesaikan soal tersebut.
Dalam hal ini, seorang guru seharusnya tidak hanya memeriksa PR siswanya.
Lebih dari itu, menggali bagaimana mereka menyelesaikan soal tersebut. Guru
bertanya kepada tiap-tiap siswa langkah-langkah menyelesaikan soal yang ada
dalam PR tersebut sehingga dapat diketahui tingkat penguasaan materi
masing-masing siswa. Berawal dari PR, guru dapat menentukan apa yang harus ia
lakukan untuk meningkat mutu pembelajaran. Jadi, guru bukan hanya memeriksa
hasil kerja siswa atas PR yang diberikan. Lebih penting lagi adalah mengetahui
kepahaman siswa. Nah.
Jika ini dilakukan oleh guru secara benar, PR dapat membantu tugas guru
dalam membangun kompetensi (penguasaan yang matang) siswa pada bidang studi
yang ia ampu dengan senantiasa memeriksa tingkat penguasaan materi, lalu
memberi umpan-balik. Hanya memeriksa hasil kerja siswa terhadap PR yang
diberikan, dapat menjadikan guru terkecoh. Mengira siswa telah memiliki
kompetensi, padahal baru sebatas kemampuan mengerjakan PR saat itu saja.
Padahal boleh jadi, siswa menyelesaikan PR tanpa memahami materi. Siswa mampu
menyelesaikan soal karena ada orang yang mendampingi di rumah untuk
menyelesaikan tugas. Bukan memahamkan. Lebih parah lagi jika yang menyelesaikan
PR tersebut sebenarnya bukan siswa, melainkan ibu atau orang lain. Siswa hanya
pencatat. Karena itu, pemberian PR harus disertai tindak-lanjut yang jelas
serta diiringi umpan-balik yang tepat sehingga siswa lebih bergairah belajar.
Bentuk lain PR untuk memeriksa tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang
telah diajarkan adalah dengan memberikan jurnal yang meminta siswa untuk
menjelaskan sekaligus menjawab mengapa. Ini misalnya PR terkait percobaan
sains.
PR untuk Praktek
Selain untuk menakar tingkat pemahaman anak terhadap materi yang telah
diajarkan, PR kerap diberikan agar anak praktek lebih banyak. Anak diberi
latihan-latihan soal untuk dikerjakan di rumah. PR untuk memperbanyak praktek
diyakini banyak guru sebagai cara yang ampuh agar anak benar-benar menguasai
pelajaran. Asumsi dasarnya adalah, makin sering praktek makin makin hebat
penguasaan anak terhadap pelajaran tersebut. Asumsi PR jenis ini pula yang
mendasari berbagai sekolah memberi latihan soal sebanyak-banyaknya pada siswa
kelas 6 untuk hadapi ujian.
Meskipun sering praktek diperlukan untuk sejumlah jenis keterampilan, misal
menghafal, tapi PR untuk tujuan ini kerap terjebak pada 3 kesalahan.
Pertama,
guru boleh jadi yakin telah memberi PR untuk melatih anak melakukan praktek.
Tapi praktek itu hanyalah berlaku jika anak faham. Manakala anak sebenarnya
belum faham konsep atau keterampilan tersebut di kelas, maka banyaknya PR
praktek dapat menyebabkan anak frustasi.
Tatkala anak tidak menguasai konsep atau keterampilan, memperbanyak praktek
semisal mengerjakan soal berhitung, jadikan anak bosan. Jika tak tertangani,
kebosanan akan meningkat menjadi akut, terutama jika PR tersebut hanya
diperiksa dan dinilai saja. Kebosanan baru dapat menjadi tiket untuk meraih
kegembiraan manakala guru memberi umpan balik yang tepat terhadap hasil
pengerjaan PR siswa. Umpan balik yang baik menjadikan PR terasa bermakna buat
anak, meski dia banyak melakukan kesalahan saat mengerjakan. Sebaliknya, tanpa
umpan balik yang pas, PR dapat menjadikan anak merasakan kebosanan yang
menyiksa, terutama jika di kelas menggunakan model pembelajaran yang berfokus
pada guru (fun teaching dan sejenisnya). Bukan fokus pada penumbuhan orientasi
belajar.
Meskipun menjawab salah, anak merasa memperoleh pengalaman berharga manakala
guru mengajak anak “menemukan” kesalahan lalu “menemukan” jalan keluar yang
benar. Ini antara lain dengan meminta siswa menerangkan caranya menemukan
jawaban. Alina Tugend menunjukkan bahwa pendekatan model ini yang dikembangkan
oleh para guru di Jepang. | Kawan di Jepang, benar demikian?
Sampai tahun 2007, pembelajaran di Jepang berfokus pada menghafal. Sesudah
itu, guru memahamkan apa yang dihafalkan tersebut. Begitu Ken Watanabe yang
asli Jepang menuliskan dalam bukunya: Problem Solving. Model pembelajaran
inilah yang menghasilkan Jepang sekarang. Kesempatan menemukan kesalahan
sendiri saat di kelas ini mendorong anak Jepang lebih menyukai soal beresiko
gagal tinggi.
Lho, kok? Karena dengan itu ia dapat lebih banyak dari kesalahannya. Ia
menjadi lebih baik melalui kesalahan
(better by mistakes). Sikap dasar
ini pula yang mendasari Kaizen, gaya manajemen Jepang yang menekankan pada
perbaikan terus-menerus.
Kembali ke soal PR untuk praktek. Kelemahan
kedua PR jenis adalah
manakala guru lalai memeriksa tingkat pemahaman siswa. Lebih parah lagi jika
guru memang mengabaikan pentingnya menakar pemahaman TIAP siswa, bahkan ketika
membahas PR di kelas. Ini kerap terjadi karena guru menganggap praktek lebih
banyak melalui latihan soal bertumpuk menyebabkan siswa makin matang penguasaan
materinya.
Pengabaian memeriksa pemahaman siswa dapat berakibat fatal jika siswa
melakukan kesalahan saat mengerjakan dan menginternalisasi kesalahan konsep
(miskonsepsi) atau prosedur tersebut hanya karena jawaban anak kebetulan
hasilnya tepat. Cocok. Padahal anak mengerjakan soal dengan cara yang salah.
Ini berbeda dengan anak yang menemukan cara berbeda, tapi tetap benar caranya.
Ketiga, praktek yang merata lebih baik dibanding praktek massal. PR
praktek lebih efektif jika dibagi dalam beberapa hari. Memberi PR yang
bertumpuk untuk praktek matematika misalnya, dan dibebankan pada satu waktu,
dapat justru berakibat tidak baik. Terlebih jika guru tidak memberikan umpan
balik memadai terhadap hasil pengerjaan soal tiap siswa. Kesalahan semakin
terinternalisasi. Tidak adanya umpan balik memadai menjadikan anak yang sudah
faham jadi malas mengerjakan PR. Sedang yang kurang faham bisa tertekan.
Agar Siswa Berpikir Lebih Mendalam
PR jenis keempat dimaksudkan agar siswa melakukan pemrosesan materi
pelajaran yang telah dipelajari secara lebih mendalam. PR jenis ini kita berikan
manakala kita menginginkan siswa melakukan refleksi mendalam terhadap konsep
yang telah didiskusikan di kelas. Salah salah bentuknya adalah menugasi siswa
menemukan masalah dan merumuskan dalam bentuk pertanyaan.
Sesungguhnya, pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu. Maka,
kemampuan anak bertanya secara cerdas dan berbobot akan sangat berharga. Nah,
anak justru sulit menemukan pertanyaan kritis dan “baru” kecuali jika ia
memahami materi dengan baik. Maka, PR jenis ini pada dasarnya merupakan
strategi agar anak berpikir mendalam dan melakukan sintesis. MelaluiPR jenis
ini, guru merangsang kemampuan kognitif level keempat berdasarkan taksonomi
kognitif dari Bloom. Dan guru tidak akan mampu memberikan PR semacam ini
kecuali ia benar-benar seorang pengajar yang kompeten; baik dalam bidang studi
yang ia ajarkan maupun dalam kecakapan mengajar.
Ini memberi pelajaran berharga bahwa untuk mampu memberi PR berbobot yang
menggairahkan, guru harus banyak belajar. Guru juga dapat memberikan PR dapat
bentuk penugasan untuk menerapkan keterampilan atau pengetahuan yang telah
dipelajari. Guru menyajikan berbagai informasi yang disajikan terpisah-pisah
dan meminta siswa “merangkai”. Atau sebaliknya, guru menyajikan “gambar besar”
tentang suatu tema atau keadaan, lalu meminta siswa menemukan unsur-unsurnya.
Sebagaimana PR jenis lain, tugas ini baru akan bermakna apabila guru memberi
umpan balik secara tepat. Merangkai berbagai informasi berserak memerlukan
pijakan dan kemampuan alasan yang tepat. Proses penalaran sangat penting untuk
PR jenis ini.
PR untuk pemrosesan juga dapat diberikan dalam bentuk proyek jangka panjang
yang berkesinambungan. Kita memberi tugas merangkum dan menemukan konsep utama
pada tiap topik dan bab. Sesungguhnya merangkum bukan sekedar memendekkan
kalimat dan membuang bagian yang dianggap tidak perlu. Kemampuan merangkum
berkait erat dengan kemampuan memahami konsep. Yang mahir merangkum, akan mudah
menjelaskan.
Sesudah merangkum, guru dapat memberi PR untuk menjelaskan kembali atau menulis
dalam bahasa sendiri apa yang telah dirangkum. Penugasan jenis ini mendorong
siswa mencapai tingkat kemampuan kognitif yang tinggi. Tetapi jika salah
desain, PR semacam ini akan jadi beban berat. Maka, guru hendaknya telah
memastikan bahwa siswa sudah menguasai konsep dengan sangat baik sebelum
memberi tugas jenis ini.
Salah satu cara menakar pemahaman anak adalah dengan memberi PR jenis kedua
yang telah saya bahas di bagian awal tulisan ini. Tampak sepele tapi ketika
diabaikan dapat menjadikan PR jadi sia-sia adalah menggairahkan anak dengan
penugasan yang diberikan. Siswa sering tidak termotivasi mengerjakan PR karena
tugas tidak dirasa penting. Meski demikian, jika anak memiliki
adab yang
kuat terhadap guru dan ‘ilmu, ia akan senantiasa bersemangat
mengerjakan PR. Ini artinya, selain soal desain PR, menanamkan adab tetap
sangat penting.
Pemberian tugas terlalu berat juga dapat menyebabkan anak kehilangan
motivasi belajar. Bukan cuma motivasi kerjakan PR. Penugasan yang tidak tepat
pun dapat menjadi demotivator, yakni sesuatu yang merusak motivasi anak, baik
untuk belajar maupun ke sekolah. Tetapi, pemberian PR yang tepat akan
menjadikan siswa senantiasa menemukan tantangan dan gairah untuk belajar lebih
serius. Ini berarti, untuk memberikan PR yang tepat, guru perlu senantiasa
belajar. Jika guru malas belajar, lalu bagaimana siswanya?
*****
Masih banyak hal penting yang perlu kita perbincangkan seputar pekerjaan
rumah untuk anak. Perbincangan kita kali ini pun baru sebatas empat jenis PR,
dari yang saya harapkan dapat membahas berbagai aspek PR. Semoga yang sedikit
ini bermanfaat. Saya berharap dapat menuliskan pembahasan aspek lain dari PR
untuk anak.
Wallahul musta’an. ***
Catatan:
The Art and Science of Teaching pada akhirnya belum saya eksplorasi
secara memadai dalam tulisan ini. Saya juga berharap dapat menghadirkan tulisan
terkait bagaimana pada ulama' terdahulu menempuh jalan dengan menyalin suatu
kitab sampai beratus copy. Tulisan tangan.
~~~~~~
Tulisan ini di copast dari catatan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim di
Facebook