31.7.13

Apa Dia Akan Menungguku Datang Kembali?



Kangen.

‘Vina, apa kabar? Sehat?’
Aku menarikan jari pada tuts handphone untuk mengirim pesan ke seseorang yang beribu kilometer jaraknya dari tempatku saat ini. Tepat saat opsi ‘kirim’ seharusnya ditekan, aku malah memilih untuk ‘keluar’ sehingga pesan sangat pendek tersebut hanya mampu memenuhi memori telepon saja.

Baru seminggu yang lalu kami bertatap muka setelah sekian lama hanya mampu menatapnya dari jauh. Namun rasa rindu tak mampu dibendung. Wajah teduhnya membayangiku lebih sering malam mini. Entah karena purnama sedang bersinar sempurna, seperti cahaya yang memancar dari rautnya .

Dari sorot matanya saat itu, aku tahu dia mencintaiku, akupun mencintainya. Kami sama-sama saling jatuh cinta, dalam diam, diam yang mengharukan. Diam yang selamanya hanya akan tetap menjadi diam bila aku terus diam.

Kumainkan handphoneku, entah tak sengaja satu nama itu selalu saja menghiasi layar handphoneku, tanpa mampu aku mengirim pesan padanya, tanpa mampu aku telepon untuk mendengar suaranya. Aku mencintainya, aku merindukannya malam ini. Mungkin dia juga sama. Aku tidak tahu. Aku tidak berani menyatakan perasaan ini. Apa dia akan menungguku datang kembali?

25.7.13

LELAH


Tanggal 26 Juli esok, adalah perayaan pertama Hari Puisi Indonesia. Sebagai apresiasi untuk perayaan ini, saya mau kembali menulis puisi dan secara kebetulan, dari forum myquran ini, baru nemu istilah yang namanya Puisi Akrostik. Kalau mau baca pengertian istilahnya, silahkan googling saja, banyak penjelasannya kok.

@>----

LELAH




Lama sudah rasanya aku ingin pergi
Entah bagaimana, namun kaki ini masih tertahan disini
Lalu jejak kaki yang mengukir di belakang selalu membayangi
Aku hanyalah bayangan palsu yang terus terbebani
Haruskah aku tetap bertahan untuk tidak segera mengakhiri?

24.7.13

Flash Fiction: Parcel





Wanita berkerudung hitam itu keluar dari ruang besuk tahanan dengan mata sembap. Seorang sipir yang dikenalnya menyapa.

“Sudah ketemu ibunya, Mbak?”

Ia mengangguk.

“Ini kolak pisang Pak, untuk berbuka.” Ucapnya sembari tersenyum dan menyerahkan bungkusan di tangan kanannya.

“Saya titip ini juga untuk ibu.” Ia juga menyerahkan keranjang berpita merah yang dibawanya.

Sipir paruh baya itu menatapnya dengan sendu. Ia bukan lagi gadis muda yang dilihatnya pertama kali beberapa tahun yang lalu.

“Ibunya masih belum mau terima bingkisan ini Mbak?”

“Belum Pak.”

Wanita itu, yang hari-harinya digunakan untuk bekerja sebagai pembantu di kota, dan setiap jelang lebaran pulang kampung untuk menjenguk ibunya, menatap nanar bingkisan yang tidak pernah mau diterima.

“Kalau tahun ini ibu nggak mau terima lagi, ambil saja buat istri Bapak. Isinya ada kue lebaran, minuman, mukena, baju, sama kerudung.” Ucapnya, kali ini dengan upaya menahan air mata.

“Semoga ibumu diberi hidayah Mbak. Nanti Bapak berikan ke ibumu sampai dia mau terima.” 

Air mata menetesi pipinya menemaninya keluar dari lembaga permasyarakatan. Teringat kembali kejadian silam saat ibunya mencoba untuk menjual dirinya ketika ia belia. Sebuah upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan diri dan kehormatannya, harus dibayar dengan menjebloskan ibunya ke dalam penjara untuk waktu yang lama.

17.7.13

Puding Cokelat Oreo Saus Vanila

Assalamualaikum, saya mau share puding kreasi saya sendiri yang ternyata enak banget. Puasa begini, enaknya sih berbuka dengan yang manis ya. Tapi, kalau yang manis belum dapat, pakai yang manis lainnya aja deh (ini maksudnya apa ya) hihihi. Berbekal coba-coba resep baru, akhirnya jadi deh puding enak, manis, dan seger buat buka puasa. 

Nah, kalau di rumah nggak sedia alat ukur (timbangan, gelas ukur, dan sejenisnya) saya kasih resep yang bisa diukur pakai alat ukur sehari-hari. Hehehe, walau begitu rasanya tetap enak kok, pas di lidah, enak di perut, karena memasaknya pakai cinta #eaaaahh.




Bahan-Bahan :

1 bungkus agar-agar cokelat
120 gram (atau 2/3 gelas) gula pasir
4 gelas belimbing air
100 gram cokelat blok
6 buah Oreo (yang creamnya putih)

Bahan Vla :

1 bungkus My Vla rasa vanila (ehmmm, berhubung pengen praktis ya pakai ini aja xixix)
1 gelas air panas

Cara Membuat :

Campur agar-agar, gula pasir, air, dan cokelat blok. Rebus hingga mendidih, jangan lupa diaduk-aduk. Dinginkan, baru deh dimasukkan cetakan.
Hancurkan Oreo, tapi jangan terlalu hancur ya. Masukkan ke dalam cetakan agar-agar.
Kalau sudah agak dingin, masukkan ke dalam kulkas.


Cara Membuat Vla :

Ikuti instruksi di belakang bungkus ^_^

Selamat mencoba dan menikmati. Happy Blogging. Happy Cooking. Happy Fasting teman-teman \(^_^)/

16.7.13

Flash Fiction : Mengabadikan Senja







Senja mengguratkan cahaya keemasannya yang mempesona, memaksaku menepikan motor sejenak untuk menikmati keindahannya, di Tepi Sungai Mahakam yang membelah kota. Agenda mendokumentasi kegiatan berbuka puasa kuputuskan ditunda esok saja.

Kunikmati syahdunya lantunan ayat suci yang terdengar dari masjid di seberang jalan. Sementara pandanganku dimanjakan oleh siluet senja dengan pantulan sinarnya di permukaan sungai. Sebuah kompilasi yang pas dalam menghayati ayat Tuhan yang tersebar di hamparan bumi.

Kameraku berpindah-pindah dari padatnya arus jalan raya, teduhnya riak sungai yang terpantul cahaya senja, anak kecil yang berkeliling menawarkan takjil, namun tiba-tiba berhenti pada pemandangan yang sedari tadi luput dari perhatianku. Seorang gadis sedang khusyuk dengan kanvas dan kuas ditangannya. 

Dzikir yang terlantun dari masjid berhenti, disusul suara bedug dan adzan maghrib. Alhamdulillah, puasa hari ini tertunaikan. Kuucap syukur juga atas keindahan saat menanti berbuka puasa kali ini. Aku teringat tidak membawa bekal apapun untuk berbuka. Segera kucari sosok anak kecil yang berjualan kolak pisang tadi, namun sudah tidak ada.

“Selamat berbuka puasa.”

Gadis berkerudung merah tiba-tiba sudah berdiri dihadapanku dengan sebotol air mineral yang terulur ke arahku. Kanvas yang masih basah oleh tinta tergenggam di tangan kirinya. Aku menangkap sesosok lelaki dengan kamera di ujung lukisanya.

Ternyata kami mengabadikan momen yang sama.

12.7.13

Cermin : Makam

 




Apa yang ada di benakmu ketika melihat pemuda dua puluh tahunan membawa boneka panda besar dan satu tas berisi kado? Seperti ulang tahun datang terlalu cepat. Apalagi bagiku dulu, seorang gadis berusia lima tahun mendapatkan boneka dan mainan adalah hal terindah.


Sayangnya, kebahagiaan itu harus ternoda dengan adegan yang terjadi selanjutnya. Ketika melihat boneka yang baru saja kupeluk dirampas dan dibuang ke selokan, mainanku dilempar ke orang yang baru saja memberinya, dan isak tangis membahana di udara. Aku meraung saat itu, karena merasa bunda merampas kebahagiaanku. Rupanya tangisanku juga beradu dengan tangis paman baik hati yang baru saja memberiku hadiah itu. 

Bagi anak kecil, mereka akan merekam dengan jelas kejadian yang amat berkesan selama masa pertumbuhannya. Aku memilih kenangan tadi. Saat itu, terlalu kecil untukku dapat mencerna dialog bunda dan paman itu. Paman itu menangis dan memohon sambil berlutut, namun bunda memukulinya tanpa menghiraukan aku yang juga menangis karena hatiku terluka hadiahku dibuang.

Sekarang aku mengerti. Butuh dua puluh tahun untuk bisa memahami peristiwa silam. Namun ternyata semuanya terlambat. Untuk memberi balasan hadiah yang belum sempat kunikmati, dan menerima penyesalannya yang belum mampu aku artikan dulu, kukirimkan rangkaian bunga, dalam ziarah jelang Ramadhanku kali ini, di atas makammu, ayah.

1.6.13

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

~Sapardi Djoko Damono~



Aku mulai bulan ini dengan rintik hujan di pagi hari. Membuat aktivitas harian berjalan lambat. Slow motion. Sembari menikmati kemalasan dan dinginnya hujan pagi di bulan Juni. Cerita di awal bulan ini, mirip dengan puisi sapardi Djoko Damono di atas. Tentang ketabahan berpaut rindu, tentang kebijaksanaan untuk menghapus jejak-jejak masa lalu, tentang kearifan demi memendam sebuah harapan yang tak terucapkan.

Aku tidak punya resolusi apa-apa di bulan ini, di bulan yang lalu, pun di bulan selanjutnya. Entah sudah berpuluh bulan akuu lupa dengan aktivitas itu. Hidup tanpa resolusi bukan berarti tanpa cita, hanya saja ada aktivitas yang memang telah terkikis oleh waktu. Entahlah. Sebenarnyaku punya resolusi, namun cukup disimpan dalam hati.

Pagi ini aku ingin bercerita tentang impian masa depan dan jejak masa lalu. Mereka silih berganti memenuhi rongga hidupku. Antara optimisme melangkah, namun masih sering menoleh ke belakang. Antara takut melangkah maju dan tersendat jejak-jejak yang masih tersisa.

Selamat datang bulan Juni. Semoga hujan di pagi ini menghapus jejak masa lalu yang tersisa, dan menyuburkan benih-benih harapan untuk masa depan.


28.5.13

Everybody's Changing

Saya merasa ada yang berubah. Banyak hal yang hari demi hari berubah tanpa mampu kita kontrol. Simpel saja, ketika kamu terbiasa dengan apa yang kamu alami, maka ketika segala sesuatunya berubah, kamu juga akan merasakan perubahan itu. Ada yang berubah secara perlahan, namun pasti. Entah apa yang terjadi itu kamu sadari atau tidak. Ada pula yang berubah secara mendatak. Cetar! Seperti petir yang tiba-tiba datang dan menghantam kehidupanmu.

Apapun itu, perubahan tetaplah terjadi. Itu adalah sunatullah yang harus kita jalani. Sebagai contoh, saya terbiasa memakai cincin di jari manis tangan kiri. Suatu hari, saya ingin mengubahnya dengan memindahkan cincin ke jari manis di tangan kanan. Simpel kan, bukan suatu perubahan besar yang akan mengubah dunia. Tetapi, beberapa saat kemudian, ada perubahan yang terjadi yang lambat laun dirasakan. Ada bekas yang tertinggal di jari manis saya seperti orang yang gagal tunangan dan cincinnya dikembalikan (heheh). Tanpa sadar, saya juga sering mengggerakkan cincin dengan jempol saya, dan kebiasaan itu baru saya sadari kalau hilang ketika cincin itu sudah tidak lagi disana.

Sesimpel itu. Itu baru perubahan kecil. Apalagi perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan kita. Kehilangan sesuatu, kehilangan seseorang, dan kehilangan-kehilangan yang lainnya. Siapalah kita yang pada dasarnya tidak punya apa-apa. Yang terlahir di dunia tidak membawa apapun.

Pada akhirnya, yang bertahan adalah yang siap dengan perubahan.

"Bukan mereka yang terkuat dan terbesar yang akan dapat mempertahankan eksistensinya. Tapi hanya mereka yang mampu beradaptasi terhadap perubahan" - Anonim

1.10.12

PR Mencerdakan untuk Anak Kita ~ Ust. M. Fauzil Adhim


Mari sejenak kita berbincang tentang pekerjaan rumah untuk anak-anak kita. Adakah manfaatnya? Pembahasan tentang PR ini saya dasarkan pada buku The Art and Science of Teaching karya Robert J. Marzano, ASCD, Alexandria, Virginia, 2007. Saya juga mendasarkan pada buku yang lebih khusus, yakni Rethinking Homework karya Cathy Vatterott, Alexandria, Virginia, 2009.

Secara sederhana, tujuan pemberian PR adalah untuk mendukung pembelajaran pada salah satu dari empat cara, memberi pengalaman prabelajar. Bisa pula untuk mengecheck pemahaman, praktek atau pemrosesan.

Prabelajar. PR diberikan untuk mengenalkan siswa terhadap topik atau latar belakang tema yang akan dipelajari, sehingga anak akan lebih siap untuk mempelajari materi secara lebih mendalam. Kita dapat menugaskan siswa untuk membaca atau membuat garis besar bab. Dapat pula berupa tugas untuk menemukan apa yang telah diketahui oleh siswa tentang topik yang akan dipelajari. Dapat pula kita arahkan untuk menggali apa yang mereka ingin pelajari dari bab atau tema tersebut.

Kita juga dapat memberi tugas kepada siswa untuk menulis berbagai pertanyaan mereka sendiri, misal tentang sistem pencernaan. Manfaatnya, tugas menulis pertanyaan ini dapat memancing rasa ingin tahu sekaligus menciptakan keterlibatan siswa pada tema tersebut. Pemberian PR prabelajar dapat pula diarahkan untuk merangsang ketertarikan anak terhadap konsep yang akan dipelajari.

Adapun PR untuk menakar sejauh mana siswa telah memahami apa yang dijelaskan oleh pengajar di kelas, bentuknya beragam. Umumnya guru memberikan PR untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu memahami apa yang telah dijelaskan di kelas. PR jenis ini juga dapat menjadi cara bagi guru untuk memperoleh insight (letikan ide) untuk pembelajaran siswa. Contoh PR yang semacam ini adalah menugasi siswa menyelesaikan sejumlah soal matematika dan menerangkan cara menyelesaikan soal tersebut.



Dalam hal ini, seorang guru seharusnya tidak hanya memeriksa PR siswanya. Lebih dari itu, menggali bagaimana mereka menyelesaikan soal tersebut. Guru bertanya kepada tiap-tiap siswa langkah-langkah menyelesaikan soal yang ada dalam PR tersebut sehingga dapat diketahui tingkat penguasaan materi masing-masing siswa. Berawal dari PR, guru dapat menentukan apa yang harus ia lakukan untuk meningkat mutu pembelajaran. Jadi, guru bukan hanya memeriksa hasil kerja siswa atas PR yang diberikan. Lebih penting lagi adalah mengetahui kepahaman siswa. Nah.

Jika ini dilakukan oleh guru secara benar, PR dapat membantu tugas guru dalam membangun kompetensi (penguasaan yang matang) siswa pada bidang studi yang ia ampu dengan senantiasa memeriksa tingkat penguasaan materi, lalu memberi umpan-balik. Hanya memeriksa hasil kerja siswa terhadap PR yang diberikan, dapat menjadikan guru terkecoh. Mengira siswa telah memiliki kompetensi, padahal baru sebatas kemampuan mengerjakan PR saat itu saja. Padahal boleh jadi, siswa menyelesaikan PR tanpa memahami materi. Siswa mampu menyelesaikan soal karena ada orang yang mendampingi di rumah untuk menyelesaikan tugas. Bukan memahamkan. Lebih parah lagi jika yang menyelesaikan PR tersebut sebenarnya bukan siswa, melainkan ibu atau orang lain. Siswa hanya pencatat. Karena itu, pemberian PR harus disertai tindak-lanjut yang jelas serta diiringi umpan-balik yang tepat sehingga siswa lebih bergairah belajar.

Bentuk lain PR untuk memeriksa tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan adalah dengan memberikan jurnal yang meminta siswa untuk menjelaskan sekaligus menjawab mengapa. Ini misalnya PR terkait percobaan sains.


PR untuk Praktek

Selain untuk menakar tingkat pemahaman anak terhadap materi yang telah diajarkan, PR kerap diberikan agar anak praktek lebih banyak. Anak diberi latihan-latihan soal untuk dikerjakan di rumah. PR untuk memperbanyak praktek diyakini banyak guru sebagai cara yang ampuh agar anak benar-benar menguasai pelajaran. Asumsi dasarnya adalah, makin sering praktek makin makin hebat penguasaan anak terhadap pelajaran tersebut. Asumsi PR jenis ini pula yang mendasari berbagai sekolah memberi latihan soal sebanyak-banyaknya pada siswa kelas 6 untuk hadapi ujian.

Meskipun sering praktek diperlukan untuk sejumlah jenis keterampilan, misal menghafal, tapi PR untuk tujuan ini kerap terjebak pada 3 kesalahan. Pertama, guru boleh jadi yakin telah memberi PR untuk melatih anak melakukan praktek. Tapi praktek itu hanyalah berlaku jika anak faham. Manakala anak sebenarnya belum faham konsep atau keterampilan tersebut di kelas, maka banyaknya PR praktek dapat menyebabkan anak frustasi.

Tatkala anak tidak menguasai konsep atau keterampilan, memperbanyak praktek semisal mengerjakan soal berhitung, jadikan anak bosan. Jika tak tertangani, kebosanan akan meningkat menjadi akut, terutama jika PR tersebut hanya diperiksa dan dinilai saja. Kebosanan baru dapat menjadi tiket untuk meraih kegembiraan manakala guru memberi umpan balik yang tepat terhadap hasil pengerjaan PR siswa. Umpan balik yang baik menjadikan PR terasa bermakna buat anak, meski dia banyak melakukan kesalahan saat mengerjakan. Sebaliknya, tanpa umpan balik yang pas, PR dapat menjadikan anak merasakan kebosanan yang menyiksa, terutama jika di kelas menggunakan model pembelajaran yang berfokus pada guru (fun teaching dan sejenisnya). Bukan fokus pada penumbuhan orientasi belajar.

Meskipun menjawab salah, anak merasa memperoleh pengalaman berharga manakala guru mengajak anak “menemukan” kesalahan lalu “menemukan” jalan keluar yang benar. Ini antara lain dengan meminta siswa menerangkan caranya menemukan jawaban. Alina Tugend menunjukkan bahwa pendekatan model ini yang dikembangkan oleh para guru di Jepang. | Kawan di Jepang, benar demikian?

Sampai tahun 2007, pembelajaran di Jepang berfokus pada menghafal. Sesudah itu, guru memahamkan apa yang dihafalkan tersebut. Begitu Ken Watanabe yang asli Jepang menuliskan dalam bukunya: Problem Solving. Model pembelajaran inilah yang menghasilkan Jepang sekarang.  Kesempatan menemukan kesalahan sendiri saat di kelas ini mendorong anak Jepang lebih menyukai soal beresiko gagal tinggi.

Lho, kok? Karena dengan itu ia dapat lebih banyak dari kesalahannya. Ia menjadi lebih baik melalui kesalahan (better by mistakes). Sikap dasar ini pula yang mendasari Kaizen, gaya manajemen Jepang yang menekankan pada perbaikan terus-menerus.

Kembali ke soal PR untuk praktek. Kelemahan kedua PR jenis adalah manakala guru lalai memeriksa tingkat pemahaman siswa. Lebih parah lagi jika guru memang mengabaikan pentingnya menakar pemahaman TIAP siswa, bahkan ketika membahas PR di kelas. Ini kerap terjadi karena guru menganggap praktek lebih banyak melalui latihan soal bertumpuk menyebabkan siswa makin matang penguasaan materinya.

Pengabaian memeriksa pemahaman siswa dapat berakibat fatal jika siswa melakukan kesalahan saat mengerjakan dan menginternalisasi kesalahan konsep (miskonsepsi) atau prosedur tersebut hanya karena jawaban anak kebetulan hasilnya tepat. Cocok. Padahal anak mengerjakan soal dengan cara yang salah. Ini berbeda dengan anak yang menemukan cara berbeda, tapi tetap benar caranya.

Ketiga, praktek yang merata lebih baik dibanding praktek massal. PR praktek lebih efektif jika dibagi dalam beberapa hari. Memberi PR yang bertumpuk untuk praktek matematika misalnya, dan dibebankan pada satu waktu, dapat justru berakibat tidak baik. Terlebih jika guru tidak memberikan umpan balik memadai terhadap hasil pengerjaan soal tiap siswa. Kesalahan semakin terinternalisasi. Tidak adanya umpan balik memadai menjadikan anak yang sudah faham jadi malas mengerjakan PR. Sedang yang kurang faham bisa tertekan.


Agar Siswa Berpikir Lebih Mendalam

PR jenis keempat dimaksudkan agar siswa melakukan pemrosesan materi pelajaran yang telah dipelajari secara lebih mendalam. PR jenis ini kita berikan manakala kita menginginkan siswa melakukan refleksi mendalam terhadap konsep yang telah didiskusikan di kelas. Salah salah bentuknya adalah menugasi siswa menemukan masalah dan merumuskan dalam bentuk pertanyaan.

Sesungguhnya, pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu. Maka, kemampuan anak bertanya secara cerdas dan berbobot akan sangat berharga. Nah, anak justru sulit menemukan pertanyaan kritis dan “baru” kecuali jika ia memahami materi dengan baik. Maka, PR jenis ini pada dasarnya  merupakan strategi agar anak berpikir mendalam dan melakukan sintesis. MelaluiPR jenis ini, guru merangsang kemampuan kognitif level keempat berdasarkan taksonomi kognitif dari Bloom. Dan guru tidak akan mampu memberikan PR semacam ini kecuali ia benar-benar seorang pengajar yang kompeten; baik dalam bidang studi yang ia ajarkan maupun dalam kecakapan mengajar.

Ini memberi pelajaran berharga bahwa untuk mampu memberi PR berbobot yang menggairahkan, guru harus banyak belajar. Guru juga dapat memberikan PR dapat bentuk penugasan untuk menerapkan keterampilan atau pengetahuan yang telah dipelajari. Guru menyajikan berbagai informasi yang disajikan terpisah-pisah dan meminta siswa “merangkai”. Atau sebaliknya, guru menyajikan “gambar besar” tentang suatu tema atau keadaan, lalu meminta siswa menemukan unsur-unsurnya.

Sebagaimana PR jenis lain, tugas ini baru akan bermakna apabila guru memberi umpan balik secara tepat. Merangkai berbagai informasi berserak memerlukan pijakan dan kemampuan alasan yang tepat. Proses penalaran sangat penting untuk PR jenis ini.

PR untuk pemrosesan juga dapat diberikan dalam bentuk proyek jangka panjang yang berkesinambungan. Kita memberi tugas merangkum dan menemukan konsep utama pada tiap topik dan bab. Sesungguhnya merangkum bukan sekedar memendekkan kalimat dan membuang bagian yang dianggap tidak perlu. Kemampuan merangkum berkait erat dengan kemampuan memahami konsep. Yang mahir merangkum, akan mudah menjelaskan.

Sesudah merangkum, guru dapat memberi PR untuk menjelaskan kembali atau menulis dalam bahasa sendiri apa yang telah dirangkum. Penugasan jenis ini mendorong siswa mencapai tingkat kemampuan kognitif yang tinggi. Tetapi jika salah desain, PR semacam ini akan jadi beban berat.  Maka, guru hendaknya telah memastikan bahwa siswa sudah menguasai konsep dengan sangat baik sebelum memberi tugas jenis ini.

Salah satu cara menakar pemahaman anak adalah dengan memberi PR jenis kedua yang telah saya bahas di bagian awal tulisan ini. Tampak sepele tapi ketika diabaikan dapat menjadikan PR jadi sia-sia adalah menggairahkan anak dengan penugasan yang diberikan. Siswa sering tidak termotivasi mengerjakan PR karena tugas tidak dirasa penting. Meski demikian, jika anak memiliki adab yang kuat terhadap guru dan ‘ilmu, ia akan senantiasa bersemangat mengerjakan PR. Ini artinya, selain soal desain PR, menanamkan adab tetap sangat penting.

Pemberian tugas terlalu berat juga dapat menyebabkan anak kehilangan motivasi belajar. Bukan cuma motivasi kerjakan PR. Penugasan yang tidak tepat pun dapat menjadi demotivator, yakni sesuatu yang merusak motivasi anak, baik untuk belajar maupun ke sekolah. Tetapi, pemberian PR yang tepat akan menjadikan siswa senantiasa menemukan tantangan dan gairah untuk belajar lebih serius. Ini berarti, untuk memberikan PR yang tepat, guru perlu senantiasa belajar. Jika guru malas belajar, lalu bagaimana siswanya?

*****
Masih banyak hal penting yang perlu kita perbincangkan seputar pekerjaan rumah untuk anak. Perbincangan kita kali ini pun baru sebatas empat jenis PR, dari yang saya harapkan dapat membahas berbagai aspek PR. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Saya berharap dapat menuliskan pembahasan aspek lain dari PR untuk anak.

Wallahul musta’an. ***


Catatan:

The Art and Science of Teaching pada akhirnya belum saya eksplorasi secara memadai dalam tulisan ini. Saya juga berharap dapat menghadirkan tulisan terkait bagaimana pada ulama' terdahulu menempuh jalan dengan menyalin suatu kitab sampai beratus copy. Tulisan tangan.


~~~~~~

Tulisan ini di copast dari catatan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim di Facebook


12 Penyakit Guru (belum) Profesional

Ada 12 penyakit yang sering diderita oleh guru, penyakit itu antara lain:

1. Tipes : Tidak punya selera (monoton dan membosankan)
2. Mual : mutu amat lemah (mutu lemah mau jadi guru bersertifikat pendidik? jangan ngimpi)
3. Kudis : Kurang disipiln (murid disuruh disiplin, namun kalau kita tidak disiplin? ^$#&@$)
4. Asma : Asal masuk kelas (kewajiban guru kepada peserta didik, bukan rutinitas)

5. Kusta : Kurang Strategi (hoaammm… di kelas siswa bakal ngantuk berat

6. TBC : Tidak Bisa Computer (Jaman Gini ga bisa komputer? haddeeeeehhhhh…… %$^%#@)

7. KRAM : Kuram Terampil

8. Asam Urat : Asal Sampaikan materi urutan kurang akurat (kualitas bos,, bukan kuantitas….)

9. Lesu : Lemah Sumber (cuma pake 1 referensi, LKS pula ; pake internet… ga kenal internet? NDESO (by tukul arwana )

10. Diare : Dikelas Anak-anak remehkan (Guru hanya menang belajar 1 malam dari siswa, apa masih meremehkan siswa?)

11. Ginjal : Gajinya nihil jarang aktif dan terlambat (Penyakit yang paling parah , guru bukan cari uang, tapi cari nafkah batin .. ingat semboyan Pahlawan tanpa tanda jasa)

12. Encok :Enak - enak Cangkruk Ogah ke Kelas 
Pagi-pagi tidak sengaja buka grup FB "Super Teacher of SMK TI Airlangga" dan baca postingan diatas, saya jadi senyum-senyum sendiri. Emmm, yah lucu juga akronim-akronimnya, menggeltiki sekaligus "menyindir" ya, hehehe. Tapi bagi saya, yang memang belum menjadi seorang guru profesional, namun tiada henti berusaha menuju kesana, tulisan itu layak untuk dicerna dan menjadi bahan evaluasi diri untuk terus menjadi yang terbaik.

Menjadi seorang guru, bagi saya bukanlah sebuah jalan pelarian, namun memang menjadi panggilan hati. Jadi, untuk mencintainya pun prosesnya tidak susah. Tapi ya harus diakui, dalam perjalanannya, tentu saja banyak kendala yang harus dihadapi, dan bisa jadi salah satunya yang tertulis diatas. Hemmmm, jadi guru memang tidak mudah. Butuh banyak strategi agar bisa dicintai dan mendapat hati siswa. Apalagi untuk mata pelajaran MAFIA (MAtematika FIsika kimiA), yang pelajarannya susah dan harus mendapat perhatian ekstra dari siswa agar mereka bisa memahaminya.

Oke well, semoga para guru bisa membuat strategi yang jitu untuk menghindari dan menyembuhkan penyakit guru tersebut ya. Semoga kita menjadi guru yang profesional, dicintai muridnya, disenangi pelajarannya, ditiru akhlak baiknya. Amiin......


29.9.12

Cerita Tentang Mimpi Yang Lain

Kata orang mimpi itu adalah bunga tidur. Kalau kata saya, mimpi adalah mimpi. Mimpi bukanlah kisah nyata, hehe ya iyalah. Mungkin saja mimpi adalah bunganya tidur, tapi bisa jadi mimpi bagian dari refleksi alam bawah sadar kita tentang apa yang secara tidak sengaja terekam oleh pikiran bawah sadar kita.



Kalau di posting sebelumnya saya bercerita tentang impian, nah kali ini saya ingin sedikit membahas tentang mimpi yang hanya bisa dialami saat kita tertidur. Yah begitulah, hehehe. Bermula dari membaca cerita sebuah novel filsafat yang judulnya Dunia Sophie, saya tertarik dengan pembahasan mengenai seorang tokoh yang cukup terkenal di dunia psikologi yaitu Sigmund Freud. Di novel itu diceritakan kalau Sigmud Freud dan teorinya tentang alam bawah sadar. Dikatakan bahwa mimpi itu adalah refleksi dari apa yang terekam dalam alam bawah sadar kita.

Yah simpel saja, namun ternyata itu sangat mengena bagi saya. Apalagi di novel itu diceritakan juga contohnya seperti apa. Well, dan malamnya kemudian saya bermimpi. Mimpi saya sih simpel saja, saya bermimpi bersama tetangga sebelah rumah dan melakukan sesuatu di sebuah asrama di luar kota untuk mendaftar kuliah. Nah, sesuai dengan teori alam bawah sadar saya, ternyata sehari sebelum bermimpi itu saya bertemu dengan tetangga saya itu, di pagi hari tanggal 26 September membicarakan sesuatu yang nampaknya kami berdua hindari, hehehe (anak FKIP Unmul pasti tahu tanggal bersejarah apa itu). Saya coba-coba deh analisis sendiri makna mimpi itu. Dan ternyata cocok. Well, akhirnya saya tahu kan apa maksudnya Freud dengan alam bawah sadar itu? Heheh, anggap saja sok tahu deh, karena saya bukan orang psikologi :D

Nah yang mau saya bagi disini sebenarnya adalah .......................... Tentang mimpi saya semalam. Saya bermimpi naik pesawat dengan beberapa orang teman, segerombolan begitu, duduk di samping saya, tulis saja si A ya, kalau nama aslinya dimunculkan nanti bisa heboh dia kalau tiba-tiba mensearch namanya di google dan kemudian nyangkut di tulisan ini, ahhahah, si A saja biar aman :P. Oke, ceritanya saya duduk di atas pesawat, di sebelah saya si A, kemudian di depan dan belakang pesawat itu adalah si B, C, D, E, F, G, dan lain-lain.

Mimpi yang simpel kan? Hehehhe. Dan ternyataaa, dari mimpi saya itu saya menyadari bahwa saya merindukan mereka semua, merindukan aktivitas berkumpul bersama dan saya dimimpiin bersama mereka lagi melakukan suatu perjalanan yang pernah saya lalui dulu. Hufff miss you all. Rindu dengan aktivitas itu. TErnyata alam bawah sadar saya menyimpan rekaman itu dengan baik. Hohoho jadi rindu.



Inti dari tulisan yang serba panjang dan tidak jelas ini adalah, saya kangen. Titik. :)


26.9.12

Me, My Dreams,....

Hari ini 26 September 2012. Tidak ada yang istimewa kecuali kalau hari ini ternyata adalah hari wisudanya mahasiswa Pendidikan Unmul... Harus saya akhu kalau ini adalah lagi-lagi hari kekalahan saya melawan kemalasan dalam menyelesaikan urusan akademik saya... Uwauuuwww,, 2007 sampai 2012 sudah lima tahun dan saya belum lulus-lulus, he. Sedih? tentu saja, sudahlah, hehehe.

Saya tidak akan curhat untuk menuliskan kenapa lagi-lagi saya gagal dan menyerah, mengaku kalah. Hmmm, sepertinya hanya menuliskan alibi, dan alibi sahaja. Hehehe, ditambah kanan kiri depan belakang tekanan demi tekanan bertubi-tubi untuk memaksa saya lulus. He he he.

Baiklah, saya akan menuliskan mimpi-mimpi saya saja lah. Daripada terpuruk dengan keadaan saat ini. Cieh ahhahaha... Dimulai dari saat dimana saya merasa lelah, karena terlalu banyak rencana yang saya tuliskan dan kemudian gagal. Terus gagal dan gagal lagi. Yeahh semangat sajalah. Mulai sekarang saya memutuskan untuk tidak pernah berhenti dari yang namanya bangkit dari kegagalan. Saya mau menghabiskan kegagalan di masa muda. Biar bisa bersantai menikmati keberhasilan di masa yang akan datang.

Hummm baiklah, saya akan menuliskan mimpi-mimpi yang belum terlaksana dan semoga bisa mencapainya di masa yang akan datang. Saya sekarang sedang membayangkan, sepuluh tahun yang akan datang saya menjadi apa ya? Seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak? Ataukah seorang guru, wanita paruh karir yang juga masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya? Atau seorang dosen? 

Untuk opsi yang terakhir mungkin juga menjadi opsi terakhir kali yah dalam impian saya sekarang ini. Saya punya keinginan untuk melanjutkan studi, tapi mungkin tidak dalam setahun dua tahun ini. Fokus saya sekarang yah lulus dan terus mengajar, itu saja. Mengapa demikian? Karena saya masih ingin menjadi guru dan belum memikirkan untuk menjadi dosen. Lantas apa hubungannya S2 sama dosen? Ya karena menurut saya banyak korelasinya. Pertama, kuliah itu biayanya tidak sedikit, apalagi kalau harus keluar kota. Yah, menurut perhitungan matematis, tentu saja ada harapan pasca S2 nanti dalam jangka beberapa tahun untuk mengembalikan biaya pendidikan yang telah dikeluarkan, dan yang paling cepet ya jadi dosen, hehehe, pemikiran simpel. Tapi tentu saja banyak saingannya boooo mau jadi dosen, apalagi saya kalah start kan ya sama teman-teman saya yang duluan S2 dan bermimpi jadi dosen. Saya baru start mereka sudah lulus dan peluangnya pun lebih cepat masuk. 

Ah sudahlah, saya tidak mauuuuu jadi dosen. Why? Karena saya mencintai yang namanya profesi guru, ehhehhe, dan profesi guru yang paling fleksibel kalau sudah berumah tangga nantinya. (Hei, cita-cita tertinggi saya masih jadi ibu rumah tangga lho). :) Nah, inilah cita-cita kedua saya. Jadi guru. Saya menikmati profesi saya saat ini. Cinta mati. :)

Nah, sekarang kita ke mimpi jadi housewife. Ini akan menjadi episode cerita sendiri, nanti akan saya buat ceritanya tersendiri,... Sudah terlalu panjang untuk memulai menulis setelah tangan ini tidak berkarya lebih dari bilangan bulan lamanya. See you next time.... :)