16.8.10

Renungan Angka 3

Entah mengapa akhir-akhir ini hariku diwarnai dengan angka tiga. Tiga yang semula tidak memiliki arti istimewa kemudian menjelma menjadi sesuatu yang bermakna. Namun maknanya sendiri masih menjadi ambigu bagiku walaupun ingin sekali untuk ku uraikan satu persatu.

3 Agustus 2010
Inspirasi oh inspirasi. Mengapa kau terlambat sekali datangnya. Delapan bulan aku menunggu untuk menarikan tanganku kembali di atas keyboard untuk hanya sekedar mengungkapkan isi hati baik lewat puisi ataubun bahasa-bahasa misteri. Namun inspirasi baru muncul di hari ini. Tidak untuk mengenang apa-apa, hanya saja mungkin memang ada pemicunya. Apapun itu, aku bahagia di tanggal tiga ini aku kembali mencari jutaan inspirasi yang akan aku jadikan prasasti.

Mengenang 3 bulan
Apa yang terjadi selama tiga bulan? Tak mampu aku ceritakan. Karena kata tak mampu teruraikan dan ikrar masih ku tunaikan. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku bagi. Namun apa daya, dalam keterbatasan ini aku hanya mampu mengenangnya dalam memori, dan membaginya sedikit dalam sepenggal kisah ini.

Cerita bermula dari kejadian tiga minggu yang mendebarkan. Minggu pertama ada yang datang mengantarkan harapan. Namun aku tak lagi mempan dengan harapan-harapan yang dilambungkan tinggi-tinggi dan kemudian dilepaskan pergi, semakin tinggi tertiup angin dan akupun tak kuasa memegangnya lagi. Oke, aku tutup minggu pertama dengan istighfar. Minggu kedua, cerita berulang dengan tokoh yang berbeda. Cerita masih bertema sama dan ditutup dengan ending yang sama. Astaghfirullahal’adzim. Aku kira kejadian akan berhenti sampai disini, namun ternyata masih ada minggu ketiga. Dan menutup kisah cerita tiga minggu dengan tanda tanya.

Apa yang terjadi dengan angka tiga berikutnya? Ternyata begitu ampuh mengubah hidupku dan mengubah pandangan tentangku. Sampai sini aku tak mampu melanjutkan cerita. Karena warna-warninya begitu terasa. Bahkan aku tak mampu membedakan makna dari air mata, karena tawa, sedih, bahagia, asa, dan semua mimpi diwakilkan oleh air mata.





Bulan ketiga
Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi pada bulan ini, mungkin karena banyaknya amanah, atau karena lelah, bisa jadi ini adalah batu ujian yang memang harus dilalui untuk perbaikan diri. Namun ujian begitu berat untuk dilalui, dari awal hingga akhir di bulan ke tiga. Kuatkah aku menghadapinya? Tentu saja aku kuat dan mampu bertahan hingga saat ini. Meski angin badai menerpa, lelah mencapai puncaknya dan amanah bertubi-tubi meminta haknya. Dan semalam, aku tutup bulan ketiga dengan hamdalah. Sampai detik ini aku mampu tersenyum cerah. Entah esok hari, entah lusa nanti, entah. Adakah yang mampu memberikan garansinya? Tidak ada. Namun yang pasti, aku kan berusaha memenuhi apa yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Resolusi tiga tahun
Tiga tahun itulah yang dipinta dan aku memenuhinya (?). Ada tanda tanya. Bukan ragu akan resolusi tiga tahunan itu. Namun hanya berusaha mempercepatnya saja. Namun jika memang pada akhirnya itulah yang tercipta, aku akan tetap tersenyum lega. Resolusi dua tahunan yang aku buat masih menyisakan tiga opsi yang berbeda. Artinya, masih akan banyak rencana-rencana yang belum bisa disusun dan dibayangkan sebelum aku menginjakkan kaki pada tahun kedua. Aku akan memenuhi janji yang telah terucapkan pada semua.
33 bulan
Akan banyak kejutan pada saat ini. KKN, PPL, skripsi, wisuda, kerja, konwil, berstruktur, demisioner, KB muda, mengabdi dan terus mengabdi. Hmmm menikah? Ini kata-kata sensitive yang aku coba hindari dalam penulisan renungan ini. Namun tentu saja hal tersebut menjadi persiapan berantai dalam cerita 33 bulan ini. Akan ada banyak mimpi, air mata, harapan, keinginan, kekecewaan, kebahagiaan yang mewarnainya. Dan harapanku, semoga mampu menutup renungan angka tiga ini dengan senyuman dan kebahagiaan. Apapun yang akan terjadi nantinya.
Ini adalah sekelumit cerita tentang angka tiga. Dan tentu saja setelah tiga tahun kedepan masih akan ada impian yang sangat panjang, harapan yang membentang luas yang akan aku ceritakan di lain episode. Tentang angka tiga ini, hanya sekelumit kisah menarik dalam hidupku untuk dibagikan. Meskipun cerita ini penuh makna, namun semoga tidak spekulatif dalam memaknainya. Karena ini semua cerita tentang keluarga, sahabat, teman-teman, aktivitasku, cerita hidupku, dan impian-impianku. Terima kasih kalian telah mengisi kehidupanku.


(Sebuah kisah yang menarik untuk memacu kembali inspirasi menulisku)
4 Agustus 2010
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment