8.12.09

MENUMBUHKAN TRADISI INTELEKTUAL ISLAM INDOENSIA

Oleh : Zulkifli Hasibuan*

Coba kita renungkan apa makna kenyataan sejarah sederhana ini ketika Al Ghazali yang berasal dari kota Thus di Persia ( sekarang Iran ) itu, sibuk menulis karya – karya polemis nya yang ditujukan kepada para Filsuf ( khususnya Ibnu Sina dan Al Farabi ), Indoensia dalam hal ini Tanah Jawah, menyaksikan kerajaan Kediri dengan Jayabaya sebagai rajanya. Al Ghazali dan Jayabaya memang hidup satu kurun, yaitu abad ke 12 Masehi.sebagaimana Al Ghazali yang meninggalkan warisan berbagai karya tulis seperti kitab Ihya ‘Ulumudin, Jayabaya juga meninggalkan sebuah karya tulis yaitu buku “Jangka Jayabaya ”.
Tanpa maksud mengurangi nilai warisan nenek moyang sendiri, namun jelas dari sudut penilain yang tidak apriori memihak, terdapat perbedaan kuantitatif antara isi karya warisan kedua tokoh itu. Yang pertama, Al ghazali mewariskan suatu rangkaian karya – karya renungan kefilsafatan dan kesufian yang amat mendalam, selain banyak yang besifat polemis; sedangkan yang kedua, yaitu Jayabaya mewariskan suatu karya yang oleh banyak orang, lebih – lebih di zaman modern ini dipandang sebagai hasil sebuah kreatifitas imaginative, jika bukan khayalan atau reka – reka belaka.

Penghadapan antara kedua tokoh dari satu zaman dengan mewariskan mereka masing – masing itu mengungkapkan satu kenyataan, yaitu bahwa berbeda dari kesadaran kebanyakan orang – orang muslin Indoensia sendiri, kedatangan Islam ketanah air ini khususnya dan Asia Tenggara umumnya adalah relative sangat baru.kebaruan ini sangat kuat terasa jika kita ketengahkan kenyataan histories lainnya,yaitu berdirinya Majapahit agak jauh sesudah periode Al Ghazali dan Jayabaya. Kerajaan Hindu yang sering dirujuk oleh kaum Nasionalis sebagai contoh persatuan tanah air kita dimasa lalu itu di dirikan pada tahun 1293 M, yaitu sekitar lima setengah abad setelah India tempat lahirnya agama Hindu jatuh ketangan orang – orang Muslim. Jatuhnya India ketangan orang – orang Muslim ini ditandai dengan ditaklukkannya Lembah Sungai Idrus oleh Bangsa Arab pada tahun 711 M. tepatnya pada masa kekuasaan Bani Umayyah di Damaskus. Juga cukup menarik untuk disadari, bahwa Majapahit didirikan hampir seabad setelah kesultanan Delhi di India Utara, yang didirikan pada tahun 1206 M.
Proses pengislaman Nusantara sendiri tergolong sangat cepat, sedemikan cepatnya sehingga membuat pengkaji masalah sejarah Islam terkenal, Marshal G.S Hogson ( Guru besar sejarah Islam Chicago University ), bertanya – tanya apakah gerangan yang sebenarnya terjadi saat itu digugusan Nusantara ini, sehingga agama Islam dalam waktu singkat diterima hampir secara Universal ? pertanyaan ini ternyata memancing munculnya jawaban yang beraneka ragam. Namun satu hal yang sudah jelas, yaitu karena kebaruannya plus kecepatan proses pertumbuhannya itu, sesungguhnya kaum Muslim Indoensia sebagian umat adalah tergolong muda atau baru dalam garis kelanjutan sejarah umat manusia.
Sebagai umat yang masih muda, maka kaum muslim Indoensia hanya memiliki tradisi Intelektual yang relatif muda pula, jika tidak dapat disebut lemah. Ini bias dibuktikan dari isi kepustakaan kita. Sementara itu, dianak benua Pakistan mislanya, disebabkan oleh pengalaman mereka memiliki sejarah keislaman yang panjang dengan kekuasaan politik Islam yang menjadi masa lampau gemilang anak benua itu kita dapati kepustakaan mereka penuh dengan warisan karya – karya klasik oleh anak negeri sendiri, yang mana karya – karya itu memperoleh pengakuan dunia. Dan karena adanya kesenjangan cultural antara kaum Muslim Indonesia dengan dunia Islam pada umumnya, seperti kesenjangan kebahasaan, tidak banyak orang Muslim Indonesia yang mengetahui bahasa Arab, apalagi bahasa – bahasa lain yang banyak digunakan oleh kepustakaan Islam, seperti bahasa Urdu dan Persia. Maka tradisi intelektual yang terjadi diluar itu hanya sedikit saja. Jika memang ada tradisi intelektual hanya mempunyai gaung di tanah air. Dengan mengesampingkan sejumlah kecil tokoh seperti Hamzah Fansuri, Nurudin Ar Raniri, Nawawi Bantani, Ihsan Muhammad Dahlan, Hamkah, kita dapat mengatakan bahwa umumnya tradisi intelektual Islam kita masih kecil menghasilkan karya – karya yang terbatas pada hal – hal elementer, bukan perenungan dan pemikiran yang mendalam.
Keadaan itu tidak bias tidak mengesankan kemiskinan intelektual, dan sebagai konsekwensi dari adanya kemiskinan ini adalah rendahnya kemampuan kita dalam memberi responsi pada tantangan zaman. Untuk memberi responsi pada tantangan zaman itu secara kreatif dan bermanfaat, kita dituntut memiliki kekayaan dan kesuburan intelektual. Kekayaan dan kesuburan intelektual inilah yang disebut sebagai suatu “ Tradisi Intelektual ”, karena ia tidak terwujud seketika setelah dimulai penggarapannya, melainkan tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang. Dan selama masa pertumbuhan dan perkembangan itu terjadi proses penumpukan dan akumulasi pengalaman masa lampau. Suatu tradisi intelektual tidak akan memiliki cukup vitalitas jika tidak memiliki keotentikan sampai batas – batas tertentu. Sedangkan keotentikan itu antara lain dapat diperoleh dari adanya akar dalam sejarah.
Berdasarkan analisa diatas, tradisi intelektual Islam di negeri ini pun sulit sekali memiliki vitalitas, jika tidak memiliki kesinambungan dengan pemikiran masa lampau. Dan pada zaman modern sekarang ini, kesinambungan temporal atau historis itu juga mulai dalam bentuk kesinambungan spatial atau geografis. Dalam arti bahwa apa yang terjadi di Indonesia, atau suatu negeri ( Islam ) manapun, akan mustahil dapat berkembang dengan baik jika tanpa ada kesinambungan dan keterkaitan dengan yang terjadi di negeri lain. Dalam abad teknologi komunikasi yang semakin canggih sekarang ini yang di ikuti oleh derasnya arus globalisasi __ isolasi cultural dan intelektual oleh siapa saja adalah kemustahilan.
Marilah kita sejenak merenungkan apakah kita kader Pelajar Islam Indonesia ( PII ) merupakan bagian dari kebangkitan ataupun pengusung tradisi intelektual Islam Indonesia ? mari kita lihat seberapa banyak kader PII yang memiliki karya – karya yang membanggakan ? berapa banyak kader PII yang suka membaca , berdiskusi ? seperti nya kita juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Padahal salah satu indicator kebangkitan intelektual adalah dengan semaraknya budaya baca dikalangan umat Islam Indonesia terkhusus kader PII.

- Penulis adalah mantan PW PII SUMUT 2006 – 200
- Anggota Jarik Sumut
- LPSDI SUMUT



Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment