5.11.09

Detik-Detik Takdir

12.36 WITA, 17 Oktober 2009

Sarah berjalan cepat keluar dari kelasnya, padahal dosen baru saja mengucap salam mengakhiri pertemuan hari itu. Berkali-kali diliriknya arloji merah di tangan kirinya. Tak lama, terdengar ia mengguam sendiri.

“Sar, hapemu ketinggalan!” Kata Mega mengikuti Sarah dari belakang.

“Astaghfirullah. Thanks ya.” Jawab Sarah sembari menghentikan langkahnya.

“Keburu-buru amat, mau kemana sih?” Tanya Mega.

“Ini, ada janji sama anak-anak mau ngantar proposal. Sudah telat setengah jam ini. Pak Beni lama banget sih tadi keluarnya.”

Buru-buru Sarah mengambil handphonennya dan berlari ke arah parkiran motor yang berada tak jauh dari kelasnya.

“Duluan ya….”


13.30 WITA, 17 Oktober 2009

“Bang, sori ya, tadi ada trouble sama printer di sekretariat. Jadi Sarah sama teman musti ke rental dulu buat gandakan proposalnya. Maaf banget ya Bang, afwan.”

“Jangan lama-lama ya Dek soalnya dengar-dengar Pak Ali mau pergi nanti jam tiga.”

Sarah kembali melirik jam tangan merahnya dan tanagn kanannya memegang handphone, menelepon Bang Rahmat.

“Hmm, jam tiga ya Bang. Semoga deh bisa selesai cepat. Makasih ya Bang.”

“Iya sama-sama.”

Setelah salam, Sarah memutus panggilan. Masih ada satu jam setengah. Semoga cukup waktunya. Sarah menatap Irma yang menampakkan wajah bersalah padanya. Harusnya dia amanah dengan tugasnya! Kalo enggak kan ngga begini ceritanya.

Sesuai dengan rapat terakhir yang telah di sepakati, hari ini harusnya proposal sama surat pengantarnya sudah jadi dibuat oleh Irma, karena job dia di kepanitiaan ini adalah sebagai sekretaris, dan Sarah sendiri sebagai Humdan atau humas dana sudah berusaha mencari link ke berbagai instansi baik itu perusahaan maupun pemerintahan.

Dari seminggu kemarin dia sudah mencari peluang untuk memasukkan proposal. Akhirnya dengan bantua teman-teman yang lain juga dia sudah mengantongi beberapa nama ornag yang dikenalnya untuk mempermudah pencarian dana. Dari abangnya, dia dapat nomor kontak Bang Rahmad teman abangnya sewaktu kuliah dulu yang sekarang lumayan menduduki jabatan penting di perusahaan batu bara. Dan alhamdulillah, setelah dihubungi Bang Rahmad menyambut positif dan berniat membantu menghubungakn dengan salah satu staf perusahaan untuk melakukan audiensi.

13.05 WITA, 17 Oktober 2009

“Maaf ya Sar, tadi malam sempat buat tiga rangkap aja, itupun sudah diambil semua sama yang lain buat di sebarkan.” Kata Irma dengan wajah bersalah.

“Lho kan aku sudah bilang siang ini mau ke perusahaannya Bang Rahmad.” Jawab Irma sedikit emosi.

“Iya aku tahu. Barusan sebelum kamu datang aku rencananya mau ngeprint tapi mendadak printernya ngadat jadi ngga bisa.”

Sarah menggaruk jilbabnya yang tentu saja tidak gatal.

“Ya sudah kita ke rental dekat sini aja. Ayo cepat naik. Sekalian gih kamu ikut aku ngantar ini proposal.”

Sarah melajukan motornya denga kecepatan lumayan tinggi.


14.13 WITA, 17 Oktober 2009

Di lobby kantor, kedua gadis itu disapa hangat oleh receptionist.

“Sebentar dihubungkan dulu. Silahkan duduk mbak.” Jawab resepsionis berbaju biru itu setelah Sarah memeritahukan maksud kedatangannya.

“Pak Ali sedang ada tamu, silahkan ditunggu sebentar ya.” Kembali resepsionis itu berkata pada merka.

Sarah diam sembari tangannya bermain bermaksud mengirimkan pesan singkat ke Bang Rahmad.

Aslm bang, kita sdh dilobby d suruh tunggu pak Ali.


14.22 WITA, 17 Oktober 2009

Seorang pria berpostur tinggi besar berkemeja putih dan berpakaian kantoran muncul di depan Sarah dan Irma. Wajahnya yang bersahabat membuat senyum sarah sedikit muncul setelah beberapa jam menghilang.

“Assalamualaikum. Sudah lama nunggunya?”

“Waalaikumsalam.” Jawab keduanya hampir bersamaan.

“Ayo naik. Maaf ya lama, tadi ada tamu mendadak. Oh iya, waktu kalian ngga sampai 15 menit nih. Semoga berhasil ya. Tadi malam Danu juga sudah cerita sih kalian mau ngadakan kegiatan apa. Nanti saya coba bantu lobby Pak Ali juga.”


15.00 WITA, 17 Oktober 2009

Keduanya keluar dari kantor denagn wajah sumringah. Rupanya mereka baru saja mendapat tanggapan yang positir. Bahkan dari perusahaan batu bara tersebut bersedia menjadi sponsorship kegiatan mereka.

Tiba-tiba langkah Sarah mendadak berhenti. Entah sudah berapa kali hari itu dia melirik ke arloji merah yang dikenakannya. Seketika wajahnya pucat pasi. Rupanya ada suatu hal penting yang terlupa. Fatal bahkan sangat fatal dan heran mengapa ia sampai terlupa.

Diucapkannya istighfar berkali-kali. Distarter dan digasnya motornya hingga kencang sekali. Irma yang pasrah duduk di belakang motornya hanya mampu terpejam di atas motor. Sarah harus bisa mengendarai motor dan sampai di rumahnya sebelum setengah empat.

Kenapa aku bisa lupa shalat?? Lalai, ya ini pasti karena aku lalai!

Dengan kecepatan tinggi Sarah mengendarai motornya. Sementara pikirannya melayang-layang tak bertemu fokusnya.

“Kenapa tadi kamu ngga menyempatkan diri untuk shalat ketika panggilan azan berkumandang?”

“Aku sudah ada janji. Dan pikirku aku bisa segera shalat setelahnya.”

“Tapi nyatanya, kamu sekarang belum shalat kan? Setengah jam lagi your timr is over! Kenapa kamu ngga berhenti di masjid pinggir jalan?”

“Aku… aku malu. Apa kata orang melihat muslimah sepertiku baru akan shalat ketika waktunya sudah mepet.”

“Hahaha bodoh! Kamu lebih mementingkan pikiran orang lain! Kamu lebih malu dengan orang lain dibandingkan malu dengan penciptamu! Siapa yang beri kamu hidup?? Orang-orang yang menilaimu??


15.12 WITA, 17 Oktober 2009

Semua orang berlarian mengerubungi sebuah motor yang tergeletak tepat di tengah jalan. Tak jauh dari motor tersebut, tak kalah banyaknya orang mengelilingi dua orang yang sedang tergeletak tak berdaya bersimbah darah yang jaraknya masing-masing lima dan tujuh meter dari motor itu. Tak lama kemudian, ambulance meraung-raung diselingi sirine mobil polisi. Semua fokus pada dua tubuh yang tak sadarkan diri itu. Beberapa petugas medis kemudian menggotongnya masuk ke dalam ambulance, dan kemudian mobil tersebut berlalu kencang, menyisakan frekuensi bunyi sirene yang semakin lama semakin menghilang.

Polisi kemudian mengangkut puing-puning motor yang telah kehilangan bentuknya. Seorang petugas lainnya menginterogasi warga sekitar untuk mengetahui kronologis kejadian.

“Tadi motor merah laju pak, terus pas di simpangan ada truk pasir yang sama lajunya langsung motor merah kehilangan kendali, truknya ngga bisa ngerem Pak, jadi ya tabrakan.” Kata seorang warga begitu bersemangat menceritakan kejadian tersebut pada lelaki berseragam abu-abu itu.


14.00 WITA, 17 Oktober 2009

Sepasang suam isteri berlari-lari menuju sebuah ruangan Unit Gawat Darurat sebuah Rumah Sakit terkenal di kotanya. Dengan bersimbah airmata sang perempuan menangis tak tertahankan. Sementara lelaki disampingnya ikut berlari denagn tatapan kosong meskipun lisannya terus bergerak tanpa suara. Istighfar keluar dari bibirnya.

Di ruangan yang ia tuju, sudah ada beberapa orang yang berada di sanan sebelumnya. Tiga orang perempuan muda dan di depan UGD terdapat dua orang lelaki muda juga yang bergitu melihat sepasang suami istri paruh baya itu hanya mampu terdiam tanpa sedikitpun sapaaan hangat.

Kepada petugas, sang wantia tersebut bertanya.

“Pak, dimana anak saya Sarah?”

Petugas jaga UGD etrsebut menunjuk pada satu ranjang yang dipenuhi tiga gadis berjilbab.

Tak ada kata, tanpa suara. Namun satu detik kemudian pecahlah airmata yang auh lebih deras dari sebelumnya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.


18.15 WITA, 17 Oktober 2009

Suara adzan maghrib terdengar sangat pilu dari masjid yang letakya beberapa rumah dari kediaman berwarna hijau itu. Hujan rintik-rintik tak membuat sepi keadaan rumah. Semakin bertambahnya waktu, semakin banyak pula yang datang melaksanakan takziyah. Satu per satu orang-orang pamit sebentar untuk melaksanakan shalat maghrib di masjid. Pilu. Semua merasakan kehilangan sangat mendalam.

Beberapa menit sesudahnya, kembali orang-orang itu mengelilingi satu tubuh terbujur kaku di lantai ruang tamu. Sang ibu, tersandar lesu di dinding didampingi anak laki-lakinya yang kini berubah status menjadi anak tunggal.

Rumbongan teman organisasinya datang. Satu opersatu perempuannya mendekat ke arah wajah pucat kaku itu, yang lain mendekat ke ibunya. Mereka sama-sama menguatkan, meskipun kenyataannya sama-sama butuh kekuatan. Yang telah pergi tak kan bisa kembali.

“Insya Allah tante, sarah meninggal dalam keadaan syahid.” Suara paruh Siti mencoba menguatkan hati Tante Ayu ibunda Sarah.

Tak lama, lelaki yang tadi berkemeja putih, orang etreakhir yang Sarah ajak bicarapunturut hadir dalam keramaian malam itu. Ia mendekat ke Ayah Sarah yang begitu tabah melayani tamu yang begitu ramai di halaman rumahnya.

“Saya terkhir bicara denagn Sarah Om, dan dia begitu semangat membantu kegiatan amal yang akan mereka kerjakan.” Bang Rahmad berkata pelan dan begitu terkejut dengan peristiwa ini.

Sang ayah hanya mengangguk lesu. Mejabat erat para pelayat yang baru datang ke kediaman mereka.


18.45 WITA, 17 Oktober 2009

Semua begitu terharu, semua membicarakan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan Sarah semasa hidupnya. Beitu banyak pelayat yang datang. Semua memiliki satu harapan dalam lisan dan hati mereka. “Orang baik akan meninggalkan nama, kesna dan do’a ang baik pula.”

Namun, benarkah itu adanya? Pantaskah do’a itu baginya? Tidak ada yang tahu Sarah berpulang sebelum ia menunaikan kewajibannya. Sarah belum shalat zuhur. Sebuah ibadah yang sangat wajib ia tinggalkan. Tidak ada yang tahu, selain ia dan Tuhannya.

Tidak ada yang tahu.

Di tengah keramaian, di tengah lantunan do’a yang semakin deras diucapkan, tidak ada yang tahu, tidak ada yang mendengar, bahwa ada suara teriakan yang sangat kencang membahana di udara.

Tidak ada yang mendengar.



14.45 WITA, 17 Oktober 2009

“AAAAAAAAaaaaaaarrgggggggghhhhh…..!!!!!!!!!”

Airmata bersimbah begitu derasnya. Kalimat istighfar tak henti meluncur dari lisannya. Sejenak ia terdiam, membiarkan cairan hangat membasahi pipinya. Dan kemudian, ia bangkit dari tempatnya. Berjalan perlahan karen abergetar kakinya.

Disentunya air denagn tangan bergetar. Mula-mula dibasuhnya telapak tangan, berkumur, memasukkan air ke dalam ghidungnya. Kemudian, cukup lama ia mebasuh seluruh wajahnya, membasuh airmatanya denagn tetesan-tetesan w\air wudhu. Khusyuk meresapi air yang membuatnay sedikit merasa tenang, masih dengan berpegangan tangan pada tembok mengimbangi tubuhnya yang masih lemas tak bertenaga.

Ia berjalan pelan kembali ke kamarnya. Dikenakannya mukena putih. Dimulainya gerakan takbir. Pada sujud terakhir, lama ia mendekatkan wajah pada sajadahnya, hingga airmata keluar lagi mengaburkan sedikit penglihatannya.

Setelah salam kedua berakhir, diangkatnya kedua tangannya memanjatkan do’a. kalimat istighfar berkali-kali terlontar. Airmata lagi-lagi keluar.


15.05 WITA, 17 Oktober 2009

“Assalamu’alaikum, kenapa? Tumben telepon”

Mendengar suara Irma, ada sedikit lega dalam dadanya.

“Waalaikumsalam. Kamu ngga apa-apa Ir?”

“Alhamdulillah sehat. Lho, bukannya kita baru aja tadi ketemu Sar? Aneh banget deh.”

“Ngga. Tadi habis mimpi kamu masuk rumah sakit.”

“Ya elah, Cuma mimpi kali. Udah ah mimpi buruk ngga usah diceritain. Irmayani baik-baik aja Neng Sarah.”

Alhamdulillah. Dan Sarah mengakhiri teleponnya.

Semua kejadian tadi cuma mimpi.

15.25 WITA, 17 Oktober 2009

Adzan Ashar dari masjid dekat rumah berkumandang. Sarah menghentikan tilawahnya. Masih dengan wudhunya yang masih terjaga dan mukenah yang belum dilepasnya, Srah kembali bangiki. Tak mau lagi ia terlena seperti tadi siang. Karena kepanasan setelah ngantar proposal, ia berencana istirahat sejenak, namun kebablasan.

Pada sujud terakhirnya, kembali ia melantunkan do’a yang tadi berulang-ulang ia ucapkan.

“Ya Rabb. Maafkan hamba yang terkadang masih saja melalaikan shalat hamba. Terkadang shalat hamba diakhirkan. Padahal, usia hamba, tidaklah pernah hamba tahu, kapan usia ini akan berakhir. Terioma kasih ya Allah, Kau mengingatkanku dengan caraMu yang terindah.”



Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment