17.8.09

Profesi Pengamen dan Pengemis




Pernah memperhatikan pengamen yang sedang menyanyi atau melihat pengemis yang sering memohon bantuan? Saya suka mengamati mereka. Ketika suatu saat sedang makan siang di dekat kampus daerah Pramuka, sedang asyik makan saya senang mengamati gejala sosial seperti itu. Banyak pengemis dan pengamen yang tidak hanya satu berkeliaran sepangjang warung di daerah Pramuka.

Ceritanya begini, suatu saat lagi makan di salah satu warung makan. Berhubung jam makan siang dan warungnya cukup terkenal, jadilah ramai sekali saat itu. Sewaktu dapat tempat duduk dan baru memesan makanan, datang seorang ibu-ibu lumayan tua mencoba mengetuk hati kami dan menengadahkan tangan. Seorang temanku mengulurkan bantuan. Ketika makanan kami datang dan hampir selesai makan, kira-kira tidak sampai setengah jam, ibu itu kembali datang dan mengulurkan tangannya menghampiri meja kami. Mungkin karena pengaruh usia sehingga beliau lupa sudah meminta belas kasih sama kami. Tentu permohonan kedua itu tidak kami respon.

Setelah berlalu, iseng aku mengutarakan analisisku pada teman-teman satu meja. Dalam waktu setengah jam, si ibu mengelilingi warung sepanjang pramuka, anggaplah ada lima warung makan dan setiap warung sekali jalan dapat lima ribu, jadi dalam waktu setengah jam penghasilannya sebesar dua puluh lima ribu. Belum lagi dalam setengah jam kedepan kembali pada rute rumah makan yang sama, keesokan harinya pun kembali dengan rutinitas yang sama, berapa banyak penghasilannya. Dan temanku sedikit tercengang saja denagn analisisku. Aku lanjutkan beranalisa, jika memang sang ibu sedang butuh uang, bukankah dia hanya cukup melakukan profesi itu sehari-dua hari dan kemudian menjadikan pendapatannya itu sebagai modal untuk bekerja yang lain? Dan pada kenyataannya, setiap kali kami makan di warung yang berbeda, kami menemui ibu yang sama dan dengan kostum bahkan jilbab yang sama. Dan dengan mimik wajah yang sama pula.

Cerita selanjutnya berlangsung ketika aku dan teman-teman makan siang di warung yang berbeda. Ada dua orang pengamen, yang satu membawa gitar dan yang satu vokalisnya sambil membawa bekas gelas air mineral. Jata teman sih itu duet pengamen yang suaranya paling bagus se-Pramuka. Setelah merka menyanyi, ya bolehlah aku akui kalau suaranya memang bagus dan cukup menghibur. Dan kemudian, dengan rokok mengepul di tangan, sang vokalis mengedarkan gelas meinuman itu ke penjuru warung makan yang lumayan besar. Mulanya, aku berniat memberi, sekedar mengapresiasi dan menghargai hiburan yang kunikmati, tapi batal ketika aku membayangkan uangku dan uang dari orang-orang itu akan dihabiskan untuk membeli rokok yang akan berubah menjadi asap dalam waktu sekejap, juga karena melihat badan-badan tegap mereka yang masih muda yang aku yakin mampu mengeluarkan tenaga untuk bekerja lebih baik dibandingkan hanya menjadikan mengamen sebagai profesi.

Analisisku kembali bermain. Mungkin secara pengahasilan analisisnya kurang lebih sama denagn analisis pertama. Mencoba berpositif thinking, namun aku tidak menemukan celahnya. Jika memang mereka tidak mampu bekerja karena lapangan kerja yang tidak ada, bukankah bisa menggunakan metode yang sama seperti yang aku pikirkan untuk sang ibu pengemis ya? Sehari-dua hari mengamen dan penghasilannya dijadikan modal usaha dan bekerja layak. Dan tentu saja kemudian berhenti mengamen.

Saya sempat mengutarakan gagasan sama teman, bagaimana jika saya membuat penelitian tentang gejala sosial ini. Skenarionya, saya duduk di suatu warung makan yang cukup ramai dan terkenal, kemudian duduk disana selama satu hari penuh dan mencatat berapa pengemis dan pengamen yang berada disana dan berapa kali orang yang sama kembali pada warung yang saya teliti. Kemudian mencoba mengkalkulasi berapa pendapatan mereka satu hari. Sepertinya keren untuk bahan skripsi. Tapi sayangnya saya dan teman-teman itu mahasiswa sains semua, ngga ada yang mahasiswa jurusan sosial.

Berbicara mengenai profesi, sebenarnya tidak semua pekerjaan bisa dikatakn sebagai profesi. Ada beberapa kriteria yang menjadikan pekerjaan tersebut menjadi profesi, diantaranya adalah pekerjaannya berupa pengabdian kepada masyarakat (selebihnya ngga dicatat sewaktu dosen menerangkan). Tapi cukup tergelitik juga sih ketika begitu banyak orang yang mengandalkan pekerjaan itu sebagai mata pencaharian mereka. Artinya, mungkin mereka hanya ingin berada dalam zona nyaman dengan pekerjaan ini yang notabene mendapatkan uang lumayan dengan cara cukup mudah. Padahal, dalam Al Qur’an sendiri diajarkan bahwa

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Q.S. Ar Ra’d:11]

Bahkan dijelaskan pula dalam hadist bahwa “ Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima).” [H.R. Bukhari].

Saya sebenarnya tidak melarang untuk bersedekah. Bahkan Allah SWT memberikan ganjaran yang besar bagi kita yang bersedekah.

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa [Q.S. Al Baqarah:276]

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [Q.S. An Nisaa':114]

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. [Q.S. Ibrahim:31]

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [Q.S. Al Baqarah:261]

Insya Allah ladang amal dan ladang sedekah sangat tebuka lebar. Kita dituntut lebih selektif untuk memilih mitra dalam kebaikan (maksudnya calon penerima sedekah kita) supaya kita dapat beribadah dan bersedekah yang membawa manfaat bagi diri kita sendiri dan bagi sekitar kita. Coretan ini hanya sebagai pemikiran dari diri saya pribadi untuk mencoba mendidik mereka dengan cara yang saya miliki. Hanya Ridho Allah SWT yang berusaha saya cari.

Wallahu a’lam bissawab.
Cmiiw
Samarinda, 120809







Ketika Berharap Berakhir Bahagia

Menulis cerita adalah salah satu hobbyku. Karena dengan menulis aku mampu mengekspresiakn dan mengimajinasikan segala jalur imajinasiku. Aku suka menulis cerita berupa karya sastra seperti puisi, cerpen, bahkan mungikin novel. Dengan menulis, aku mampu mengeluarkan beban yang bertengger di pundakku. Dengan menulis pula aku menyalurkan curahan hatiku.

Kalau menulis puisi, inspirasiku tak bertepi (ngutip slogan Annida). Terkadang apa yang ada di lintasan bisa mengalir saja ku tulis. Yang penting keindahan bahasa dan kesatuan makna. Aku terinspirasi dari gaya penulisan Chairil Anwar, yang berbeda dari zamannya dimana keterikatan oleh aturan gaya penulisan masih terasa. Tapi kalau diperhatikan, aku lebih suka puisi yang ber-rima sama di belakangnya, minimal satu bait sama.

Aku juga suka menulis cerpen. Dengan cerpen, ku butuh waktu dan konsentrasi cukup dan sedikit waktu yang lebih dibandingkan membuat puisi. Sebuah cerita, terkadang banyak sisi yang aku peroleh dari kehidupan sehari-hari. Imajinasi juga bisa datang dari segala penjuru sisi kehidupanku. Terkadang sesuatu yang kurang mendapatkan perhatian dari orang lain bahkan menjadi tokoh utama dalam khayalan ceritaku. Sembari meramu cerita fiksi, terkadang kuselipkan curahan hati. Aku bisa menumpahkan banyak curhat terselubung dalam cerpen, komposisinya ya tergantung suasana hati. Suatu saat kompisisi cerita nyatanya bisa melebihi 60 persen, terkadang hanya sedikit saja atau bisa tidak sama sekali.


Aku lebih menikmati menggunakan sudut pandang orang pertama dibandingkan orang ketiga. Soalnya lebih bebas curhat dengan gaya bahasa “aku”, seolah-olah aku berbicara tentang apa yang terjadi dalam diriku, padahal ngga semua sih. Menikmati alur dalam cerita sendiri itu mengasyikkan, terutama ketika mampu menyatu dalam sedih dan bahagianya sang tokoh utama. Berasa telah memberikan jiwa pada isi tulisan. Kalau sudah merasa menyatu begitu, aku tidak lagi memperdulikan perkataan orang yang mengejek tulisanku (tapi masih membuka telinga untuk mendengar pujian, kritikan, saran atau ejekan kok) ;)

Di akhir cerita, entah mengapa aku suka membuat ending sedikit menggantung atau berakhir sedih (sad ending). Karena aku memiliki pemikiran bahwa cerita pendek hanyalah potongan kecil dari gambaran fiksi kehidupan. Dimana sebuah potogan kecil cerita hidup, hanyalah sepenggal cerita. Dan terkadang cerita tidak selalu berakhir dengan indah. Dan because life always go on, maka cerita tersebut juga –dalam sepotong kisah itu, belum berakhir, always go on.

Namun terkadang, ketika akhir sebuah cerpen itu sedih, kebanyakan penonton kecewa ;) padahal cerita sedih itu banyak kita jumpai dalam kehidupan sekitar kita. Dan kehidupan nyata tidak selalu berkisah seperti cerita cinderella atau film-film bollywood. Dan terkadang, ketika cerita telah dibuat dan dirancang, akhirnya aku buat juga berbagai episode jadi cerita bersambung dan cerita yang berhappy ending. Kadang ngga tega juga kalau tokoh ceritanya menderita.

Ya, inilah sekelumit cerita dari balik dapur redaksi,… hehe,….


Kupu-kupu Merah [eps. 2 Kupu-Kupu Jingga]

bismillahirrahmanirrahim,.................



Aku memasuki sebuah ruko berlantai tiga. Dari luar, cat dinding berwarna orange membuat ruko ini terlihat segar, ditambah lampu-lampu hias yang menyemarakkan eksistensinya di tengah keramaian kawasan pertokoan. Di depan, terdapat plang lumayan besar bertuliskan “Ozzy, Rental Pengetikan & Warnet”. Disini tempat aku bekerja. Dan malam ini, aku diminta lembur mengerjakan ketikan skripsi orang yang besok pagi mau diambil.

“Assalamualaikum mba Sarah.” Sapaku kepada penjaga warnet yang mejanya berada di samping pintu. “Sudah makan belum? Nih aku bawakan nasi goreng.”

“Waalaikumsalam. Wah kebetulan dek, mbak belum makan nih. Thanks ya. Oya, motormu langsung dimasukkan garasi samping aja.” Jawabnya sumringah.

“Beres mba. Aku di atas atau di sini nih?”

“Dah sini aja. Mbak ngga kuat jaga warnet nih kalau lagi banyak kerjaan. Hehe ntar diajak chatting lupa sama ketikan.” Kata mba Sarah sembari berpindah posisi denganku. “Naik dulu ya.”

Mba Sarah mitra kerjaku. Biasanya sih kami kerja berempat sama bang Andri dan bang Riki. Berhubung malam ini kami yang lembur jadi bang Andri sama bang Riki ngga jaga. Di lantai dua tempat rental pengetikan dan di lantai satu warnet. Biasanya aku jaga di atas dan mba Sarah di bawah, tapi sesekali kami bertukar posisi juga biar ngga bosan.

Aku mulai menggerakkan jemariku mengetik skripsi yang panjangnya berlembar-lembar ketika aku mendengar suara yang cukup familiar bertanya padaku.

“Mba, ada yang kosong?”

Aku menoleh ke asal suara itu. Tiba-tiba saja aku terkejut. Dua orang gadis muda yang wajah dan suaranya tidak asing bagiku. Tentu saja aku terkejut dengan keberadaan mereka yang aku pikir tidak lazim pada jam-jam segini. Aku menoleh ke arah jam dinding, pukul 22.15.

Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut, mereka juga. Terlihat jelas dari rona wajah keduanya.


“Maaf ya, lagi penuh. Mungkin sebentar lagi ada yang kosong.” Jawabku sembari melontarkan senyuman kearah keduanya.

Terlihat kekecewaan yang begitu tampak dari wajah keduanya.

“Masya Allah bagaimana ini?” Kata ukhti berjilbab merah tua pada orang di sebelahnya.

“Kalau boleh tahu, ada apa ya? Mungkin ana bisa bantu.” Kataku pada mereka.

“Ukhti Ratna, anti kerja disini?” Tanya yang berjilbab biru muda padaku.

“Iya, setiap hari disini, tapi kebetulan malam ini lagi lembur ada ketikan. Ada apa ukhti?” Jawabku pada mereka.

Kemudian salah satu dari mereka menjelaskan padaku sembari tak lepas menunjukkan kekhawatiran pada wajah mereka.

“Insya Allah ana bisa bantu, dan kalau ngga keberatan, boleh minta password email kalian berdua? Biar nanti ana yang kirimkan.” Jawabku pada mereka sembari tersenyum hangat. Berusaha tulus, mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu di mushalla. Ya keduanya adalah aktivis mushalla yang kutemui dulu, ukhti Tias dan Silva.

Dan kemudian keduanya memelukku sembari berurai air mata. Pelan namun terdengar dengan jelas di telingaku sebuah permintaan maaf terlontar. Tulus. Entah ada hubungannya dengan kejadian dulu atau tidak. Apa aku mampu menolak permintaan tulus itu?

Sebelum aku menekuni kembali tugasku, aku mencoba menjalankan amanah dari kedua saudariku tersebut. aku diminta untuk mengirimkan file tugas yang menjadi nilai ujian bagi keduanya. Katanya sih paling lambat harus hari ini dikirimkan. Aku tidak berani berspekulasi mengapa mereka baru menyelesaikannya. Mungkin saja kesibukan mereka mempersiapkan penyambutan mahasiswa baru sehingga lupa dengan tugas kuliah. Alhamdulillah sudah terkirim dan kemudian aku diminta untuk mengeprint dan mengcopynya tiga rangkap dan menyerakhan pada mereka besok pagi. Senangnya aku bisa membantu mereka, semoga amal sholeh mereka menegakkan dakwah di kampus dapat pula kurasakan lagi suatu hari nanti, mengingat aku tidak mampu lagi merasakannya lagi.

Pukul 23.00 aku meneguk segelas kopi hangat mengusir rasa kantukku dan kembali dengan ketikanku yang masih berpuluh lembar banyaknya.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Pagi-pagi sekali aku pergi ke kampus, mengantarkan file tugas dari kedua sahabatku semalam. Setengah tujuh aku sudah stand by di mushalla, karena kami janjian bertemu disini. Sebenarnya aku masih sangat mengantuk sekali karena belum ada tidur sejak semalam. Setelah ini mungkin aku akan pulang dan tidur, tidak apalah absen sehari dari perkuliahan.

Malam ini aku juga berniat mencari mba Ratih. Entah aku akan mencarinya kemana. Karena aku tidak yakin apakah bisa bertemu dia di kostnya. Ataukah aku akan nekad mencarinya di tempat yang kata orang adalah lokasi dia bekerja? Bahkan akupun tidak tahu tempatnya dimana, lokasinya bagaimana, dan suasananya seperti apa. Aku takut untuk membayangkannya.

Bismillah, selepas isya aku mengendarai motorku menuju sebuah alamat. Suatu tempat yang lumayan familiar dikenal sebagai lokasi hitam di kotaku. Aku ragu, namun ku bulatkan tekadku. Aku harus menemui kakakku. Entah aku akan mampu membawanya pulang ataukah bagaimana nantinya, minimal aku sudah bisa mengembalikan uang biaya rumah sakit almarhumah ibu.

Rasa ragu kembali menyelimuti hatiku. Aku takut, apalagi denagn jilbabku yang lumayan besar ini dan kepergianku yang seorang diri. Sedari tadi kupacu motorku denagn perlahan, namun entah kekuatan dari mana yang membuatku semakin bertahan.

Akhirnya kuparkirkan motorku disini. Aku menangis tanpa suara di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Aku sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Bayangan akan suasana yang kuciptakan sendiri membuatku takut itu benar-benar terjadi. Aku terlarut dalam suasana yang aku sendiri tidak tahu seperti apa. Bayangan yang terbentuk dari imajinasiku mengenai tempat itu, dan, dan, dan aku tidak mampu melanjutkan perjalananku sendiri. Padahal lokasi itu sudah dekat denganku kini.

“Mau kemana mbak? Mau pesan apa?”

Suara ramah dari ibu-ibu setenagh baya pemilik warung kopi mengagetkanku. Aku mengusap airmata dan mencoba tersenyum ramah padanya.

“Minta teh hangat bu” Jawabku.

Tidak lama muncul pria paruh baya duduk tidak jauh dariku. Wajahnya yang tidak bersahabat membuatku semakin takut. Terlebih tatapan matanya yang seperti lupa akan dosa. Bicaranya yang jelas aku dengar membuatku semakin terpeosok ke dalam permainan pikiranku sendiri. Terburu-buru aku meninggalkan warung kopi itu. Semakin menjauh dan menjauh dari tempat itu. Sembari menangis tiada henti aku pacu motorku dengan kencang. Kuucap istighfar berulang kali. Astaghfirullahhal’adzim.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Aku terkejut bukan main ketika hendak membuka kunci rumah namun terbuka. Ada sedikit harapan menyelimuti ragaku yang sudah demikian payah hari ini. Ada asa yang menghujani pikiranku. Ada satu harapan bahwa mbak Ratih kembali pulang. Aku berlari menyisiri rumah, namun tidak ada tanda keberadaannya. Sampai kemudian aku mendengar suara air dan teriakan seseorang dari kamar mandi.

“Tidaaaaaaak,………!!!!!”

Secepatnya aku menghampiri dan membuka kamar mandi rumah kami. Kulihat disana, sesosok wanita bertubuh pucat, pakaiannya basah setelah disiramnya dengan air. Aku memeluknya, kakakku yang dari hati nuraniku sungguh sangat aku sayangi.

Ku halangi ia memukul perutnya yang terlihat sedikit membesar. Ku dekap ia penuh iba, ku usap rambut panjangnya sembari ku coba pulihkan kesadarannya.

Terngiang oleh pesan-pesan terakhir dari almarhumah ibunda padaku,

“Jagain Mbakmu ya Na. Ibu sudah ngga bisa jagain dia.”

Aku ingin menangis ketika menyadari bahwa kakakku telah membawa calon anggota baru pada kami. Namun rasanya airmataku tidak tersisa. Entah kekuatan apa yang menuntunku untuk membantunya bangkit, sembari ku bisikkan sesuatu padanya.

“Jangan kembali ke tempat itu lagi ya mba. biakan Nana yang menjaga mba disini. Nanti kalau anak ini sudah lahir, Nana bantu mba carikan ayah terbaik buat dia.”

Kini kupu-kupu jingga itu telah kembali. Meskipun sebagian sayapnya telah rusak, namun aku menerimanya kembali. Aku akan mengobatinya hingga ia mampu terbang lagi. Tidak lagi sebagai kupu-kupu malam yang hitam, namun terbang tinggi layaknya kupu-kupu yang indah, kupu-kupu merah.


10.8.09

Persyaratan Training

Persyaratan Intermediate Training
Pelajar Islam Indonesia (PII)
Kabupaten Paser
Tanah Grogot, 23-30 Agustus 2009


1. Telah lulus Basic Training minimal 6 (enam) bulan dan membawa surat mandat dari PD setempat
2. Bersedia aktif pada kepengurusan PD atau PW minimal 2 (dua) tahun
3. Bersedia melanjutkan ke jenjang training selanjutnya
4. Membayar Sumbangan Wajib Organisasi (SWO) sebesar Rp. 50.000,00/daerah dan Sumbangan Wajib Pribadi (SWP) sebesar Rp. 10.000,00/orang
5. Membawa Al Qur’an terjemah, peralatan tulis, peralatan sholat, perlengkapan pribadi, obat pribadi, berpakaian rapi dan bersepatu
6. Memiliki hapalan Al Qur’an minimal 50 ayat
7. Membuat makalah minimal 5 (lima) halaman (belum termasuk daftar isi, daftar pustaka, cover, dan kata pengantar), di ketik pada kertas berukuran A4, spasi1.5, Times New Roman 12, margin 4,4,3,3 dengan tema (pilih salah satu):
a. Strategi pembasisan PII di kalangan pelajar
b. Menggagas konsep dakwah sekolah melalui PII
c. Peran pelajar dalam dinamika Politik
d. Jilbab, antara budaya dan kewajiban seorang muslimah
e. Jihad dan terorisme
f. Pengaruh media terhadap perkembangan dakwah pelajar
8. Membuat resensi buku minimal 3 (tiga) halaman (belum termasuk cover) di ketik pada kertas berukuran A4, spasi1.5, Times New Roman 12, margin 4,4,3,3 dengan judul (pilih salah satu):
a. Dari Gerakan ke Negara : Anis Matta
b. Gerakan Pelajar Islam di Bawah Bayang-bayang Negara : Djayadi Hanan
c. Islam dan Pluralisme: Jalaludin Rakhmat
d. Jihad Sepanjang Zaman : Al-Izz Bin Abdussalam; Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
e. Laskar Pelangi : Andrea Hirata
f. Model Manusia Muslim Abad XXI : Anis Matta
g. My Potency : Endra K Prihadi
h. Orang Miskin Dilarang Sekolah : Eko Prasetyo
i. Psikologi Umum : Alex Sobur
j. Revolusi Jilbab
k. Yang Berguguran di Jalan Dakwah : Fathi Yakan
9. Membawa buku-buku ilmiah, pergerakan, kePIIan, sosial, sejarah, politik, komunikasi,psikologi, fiqih, manajemen, dll minimal 3 (tiga) buku/orang (diutamakan buku yang menjadi resensi)


NB: Untuk mendapatkan persyaratan advance training dan PID Kaltim, silahkan menghubungi sya_bilqis@yahoo.co.id





27.7.09

Menikmati liburan seru di Air Terjun


Sabtu kemarin, setelah beberapa bulan agenda ini diwacanakan, akhirnya terwujud juga, yakni jalan-jalan setelah Pekan Fisika. Rencana awal, jalan-jalan ini dimulai jam delapan pagi ngumpul di kampus. Berhubung aku musti ngurusin anak asuh alias adekku yang lagi ada sedikit problem sama teman sekelasnya, jadinya aku harus datang terlambat dan langsung meluncur ke TKP. Jam setengah sebelas baru aku pergi, dan untungnya ada teman juga yang pagi musti ngajar dulu, jadilah kami bergoncengan berdua pergi ke Air Terjun Tanah Merah.

Perjalanan kami berdua sempat terhambat sedikit karena rantai motorku lepas. Alhamdulillah, bapaak-bapak yang ada di belakang kami langsung nolongin betulin rantainya si Ranger Biru ku. Rasanya ucapan “terima kasih” tidak cukup untuk membalas kebaikan bapak itu \(*,*)/

Akibat insiden kecil ini, aku ragu-ragu juga memacu kendaraan terlalu cepat. Jadinya ga berani laju-laju, Cuma di kisaran 40 sampai 50an kilometer per jam saja. Padahal kalau normal bisa 60 sampai 70an. Lokasi air terjunnya di jalan raya Samarinda-Bontang. Kontur tanahnya bergunung-gunung dan berbelok-belok. Seperti jalanan Samarinda-Tenggarong, tapi jalanannya masih alami. Jadilah perjananan kami disuguhi pemandangan sawah-sawah dan pepohonan. Oh iya, itu kali pertama aku ke tanah merah bawa motor sendiri.

Sebenarnya aku tahu lokasinya, ngga jauh kok, mungkin 30 menit sampai. Patokannya pokoknya ada plang di kanan jalan. Sepanjang aku ngga menemukan plang, maka dalam pikiranku, kami belum akan sampai. Tapi, kok aku merasa perjalanan kami semakin jauh, dan situasi semakin sepi. Aku mulai curiga karena kami tidak juga menemukan plang yang dimaksudkan. Aku semakin curiga ketika aku melihat SMP dimana ayahku dulu sempat ngajar, di km 37 Samarinda-Bontang. Dan itu jauh, jaauh sekali dari lokasi air terjun! Aku suruh saja si Jannah turun tanya ibu-ibu di warung.

“Bu, mau nanya. Air terjun dimana bu ya?” Tanya Jannah
“Wah sudah lewat de. Jauh dai sini. Ini sudah perbatasan.”

Kami berdua kaget aja.

“Pokonya dekat pelebaran jalan, ada penggilingan padi disana.”

Wah, pelebaran jalan? Itu kan jauh banget. Akhirnya kami mutar. Dan benar saja. Jauh banget,… Seperti perjalanan pulang balik air terjun-kampus. Da sepanjang jalan kami tertawa aja sambil balap-balapan sama bus Damri Bontang. Takut nyasar lagi, kami jadi sering nanya orang di jalan. Dan yang terakhir, kami mau tanya sama bapak penjual pentolan. Dan belum sempat tanya, ternyata jalan kecil sebelah bapaknya itu ada plang yang tertutup pohon..! Itulah jalan menuju tempatya :wataw:



Alhamdulillah kami sampai, dan langsung makan. Laper euy dari pagi elum makan. Habis tu langsung diajak naik ke atas air terjun, aku ya menolaknya. Soalnya sakit perut ntar. Dari teman-teman yang sebelumnya sudah naik, aku dapat cerita kalau di atas mereka lihat orang pacaran. Wah kalau aku jadi mereka aku bakal gangguin sampai mereka risih sendiri…!! Enak saja berbuat tidak baik di tempat umum….!!!

Habis itu, aktivitasku banyak ku habiskan untuk bermain ayunan. Selain memang pengen, juga karena di ayunan itu ada orang pacaran berduaan. Kontan usilku kumat. Gangguin aja biar mereka tahu diri…!! Dan benar saja, ngga lama mereka pulang, bagus bagus. Di tempat lain juga ada orang bermesraan,…!! Aku lanjutkan saja,.. dekati mereka, buat mereka risih bermesraan,… haha ampuh lagi ;)

Serunya liburan kali ini. Meskipun ga ikut hiking ke atas air terjun, aku senang saja melihat tingkah polah teman-temanku yang seperti kemabli ke masa TK,. Main ayunan, kuda-kudaan. Alhamdulillah, meskipun sebentar, banyak kesan yang aku dapatkan.



Antara Belajar Masak dan Kehalalan Makanan


Banyak yang mengatakan bahwa perempuan itu musti bisa masak. Tidak harus sih, tapi memang suatu keniscayaan tersendiri bahwa perempuan itu memang dituntut bisa memasak. Mengapa memasak? Padahal banyak pekerjaan rumah lainnya yang harus dikuasai perempuan, tetapi untuk sebagian orang, memasak menjadi suatu prioritas. Soalnya memasak itu hubungannya dengan perut dan lidah. Perut yang merupakan representasi dari kebutuhan primer dan lidah yang berhubungan dengan selera. Kalau keduanya bisa terpenuhi tanpa terlambat, maka akan menumbuhkan semangat dan good feeling setiap hari :)

Saya juga sebenarnya bukan orang yang ahli memasak, tapi masih mencoba untuk menjadi chef pemula. Memasak itu asyik dan mengasyikkan kok. Apalagi kalau berhasil mempraktekkan resep orang atau bahkan mampu menciptakan resep masakan sendiri. Nikmatnya berlipat lho, meskipun terkadang mungkin hasil akhirnya kurang memuaskan.

Mengapa perempuan harus punya keahlian memasak? Karena dengan memasak kita dapat memenuhi kebutuhan pokok diri sendiri maupun keluarga, yakni makan. Selain itu dengan memasak kita juga bisa mengaplikasikan ayat berikut dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [Q.S. At Tahrim:6]

Lho kok bisa? Ya bisa. Dan itu merupakan tugas kita semua kan? Nah dengan pintar memasak, kita bisa mengontrol makanan-makanan yang kita suapkan ke dalam tubuh kita. Tentang kehalalannya, tentang kebaikannya, dan terhindar dari syubhat. Kalau kita tahu ilmunya, baik itu ilmu memasak, ilmu mengenai makanan yang halal dan thoyyib, maka kita Insya Allah telah melindungi diri sendiri dan keluarga dari makanan yang tidak halal untuk dikonsumsi. Ini ada kutipan hadits mengenai makanan yang tidak halal yang dimasukkan ke dalam tubuh kita.

“Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram, maka api neraka lebih utama baginya.” [H.R. Tirmidzi dari Ka’ab bin Ajazah r.a.]

Nah, dengan kita paham ilmunya (tidak hanya ditinjau dari ilmu syar’i tentunya, juga harus ilmu masaknya ya) maka kita sudah berusaha melindungi diri dan keluarga dari dahsyatnya api neraka.

Saya pernah menerangkan suatu hal pada teman, mengenai kehalalan makanan. Pandangan teman saya itu, makanan halal ya sebatas tidak mengandung babi. Dan ketika kami melewati salah satu restauran china, yang di bannernya menempelkan label halal, atau bahkan restauran Manado juga (dalam upaya wara’ nih) saya jelaskan saja, bahwa halal tidak hanya sebatas ada atau tidaknya kandungan babi dalam menu masakannya. Tapi, bagaimana proses membuatnya, apakah di restauran itu punya menu sajian haramnya juga atau tidak, kan panci dan peralatan masak lainnya mungkin saja bercampur. Kemudian, apakah daging lainnya di sembelih mereka sendiri atau oleh pemotongan hewan? Kan yang mulanya berlabel halal jadi syubhat deh, atau malah haram.

Ada juga nih tentang kue. Kalau kita bisa buat sendiri, dan berhati-hati dengan jenis bahan olahan kue, pastinya kita akan meneliti dulu sebelum membuatnya, minimal menyelidiki kehalalan bahan-bahan tersebut dengan melihat kode halal dari MUI yang ada pada kemasannya. Atau kalau mau lebih protect lagi, boleh juga mengecek kehalalannya dari daftar makanan dan minuman yang telah di sertifikasi MUI, bisa dicari lewat internet kok ;) Ya ini adalah upaya kita tentunya untuk melindungi dari api neraka bukan? :)

Pernah icip-icip puding di rumah makan, (ya karena dasarnya saya suka puding) tapi baru ngeh kalau rasanya agak beda. Dan juga ada kue yang di jual tapi pembuatnya ngga terlalu mempersoalkan kehalalannya. Waduh gawat kan kalau kita tidak perhatikan itu. Ya dari situlah kemudian saya giat untuk belajar masak, supaya bisa menjamin kehalalan dari makanan yang saya buat, minimal sebisa yang saya perbuat :)

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” [Q.S. An Nahl:114]

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini[397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. Al Maidah:3]


---------------------------------------------------

394]. Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145

[395]. Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.

[396]. Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.

[397]. Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

[398]. Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.



Puding Capuccino Yummy




Asssalamualaikum,.... chef nissa beraksi lagi,....
kali ini buat puding cappuccino.... aseli kreasi sendiri,..
ceritanya waktu itu lagi ngga ada kerjaan di rumah,.. ternyata di rumah ada agar-agar satu bungkus and serenteng coffemix,.. jadi dah inspirasi berjalan untuk buat nih puding,...
enak lho,... cocok buat yang suka bergadang malam :)
nih ekspresi ade waktu nyicipin,... matapsss,.... :D



1 bks agar-agar plain (mereknya swallow)
80 gr/2 sachet susu kental manis putih (mereknya frisian flag)
3 sachet coffemix (mereknya indocafe)
10 sdm gula pasir (mereknya sembarang) :D
½ sdm perasa makanan rasa mocca
¼ sdt garam
1 butir kuning telur
4 gelas air
Bahan-bahan:



Saus:

1 sachet susu kental manis putih (mereknya frisian flag)
1 ½ sdm tepung maizena
1 butir kuning telur
1 gelas air
¼ sdt garam
3 sdm gula pasir

Cara membuat:

Agar-agar:

Campurkan semua bahan dalam panci. Di aduk-aduk hingga semuanya tercampur rata. Setelah rata, nyalakan api dan didihkan adonan di atas api sedang sambil di aduk-aduk. Jika sudah mendidih, angkat lalu dinginkan. Setelah itu, masukkan ke dalam cetakan dan biarkan hingga mengeras.

Saus:

Campurkan susu, tepung maizena, gula, air dan garam dalam panci. Di aduk-aduk pada api yang sedang. Ambil satu sendok sayur adonan saus, ratakan dengan kuning telur, dan masukkan ke dalam adonan saus. Jika sudah mendidihm angkat lalu dinginkan. Sajikan di atas agar-agar.



26.7.09

My Trip, Traveling, dan Pengalaman Liburan Seruku


Aku suka travelling. Bukan sekedar jalan-jalan saja sih, jadinya pada saat aku pergi ke suatu tempat, sebenarnya bukan sedang liburan. Tapi ya sekalian lah,…. Hmmm,.. perjalanan travelling ku sudah menjelajahi beberapa kota nih, baik itu di Kalimantan Timur sendiri atau keliling Indonesia. Kebanyakan, perjalananku itu membawa misi kenegaraan (hehehe,…) tugas organisasi. Jadi ya ke tempat wisatanya ya masuk dalam agenda kegiatan, kalau ngga ada di agenda kegiatan ya cukup numpang foto aja di tempat itu he he he,…..

Pertama kali aku keluar kota itu waktu kecil, biasalah tradisi mudik alias pulang kampung. Waktu itu perjalanannya ke Surabaya ke tempat mbah dan asal muasalnya ayah, dan dilanjutkan ke Tegal, Peklongan, Brebes ke asal muasalnya ibu. Waktu itu masih kecil banget, jadi ngga ada kenangan yang masih menempel (kecuali waktu mandi di kali). Terus ke Surabaya lagi berdua dengan ayah waktu naik kelas dua SMP. Perjalanannya lumayan jauh soalnya naik kapal dari Banjarmasin, jadinya sempat menginjakkan kaki di Kalsel juga. Pengalaman ini sangat berharga sekali buat perjalanan travelingku selamjutnya lho,. Disimak sampai habis ya :p

Selanjutnya, aku pernah pergi ke Ambon, Maluku, untuk menghadiri Muktamar Nasional PII ke 25. Waktu itu mau naik kelas 3 SMA, kalau engga salah berangkatnya tanggal 28 Juni 2006. Waktu itu, masih hijau banget soal organisasi, jadinya belum terlalu memahami makna dan arti muktamar itu apa. Pada kegiatannya sendiri sih, aku kebanyakan menjadi penonton dan pengamat saja 8-) sesuai dengan statusku waktu itu jadi “peninjau” forever,. He he he…..

Oke aku ceritakan perjalanannya. Sebenarnya, aku baru bilang mau pergi itu dua hari sebelum kami benar-benar pergi. Jadi dadakan gitu, untung aja dibolehkan dan ngga ada hambatan, meskipun ortu sempat kaget juga,. Akhirnya kami pergi, tapi ke Makassar dulu transit di sana. Kami pergi naik kapal ke Makassar dan terombang-ambing di lautan sehari semalam. Sampai di Makassar, tinggalnya di kostan dekat Unhas, jadi tempat wisata tujuan kami ya Unhas itu :) hebat juga lho kami, sudah beberapa kali diajak berkeliling Universitas itu. Trus, kami pergi juga ke Ambon, kali ini naik pesawat. Alhamdulillah sampai dengan selamat disana. Satu minggu jalanin tugas kenegaraan, sampai juga di agenda jalan-jalan. Kami pergi ke pantai sana. Oh iya, yang berkesan itu makanannya. Makanannya lumayan asing dengan lidahku. Ada sagu, papeda, bener-bener lain dah pokoknya makanannya. Mungkin belum terbiasa kali ya, jadinya rada rewel juga ini lidah. Yang paling berkesan ya papeda. Bener-bener ngga terlupakan dah,.. :D

Pulang dari sana, mampir ke Makassar lagi. Nah baru ini bisa jalan-jalan. Ke Mall Ratu Indah, trus nikmati wisata kuliner disana juga. Yang berkesan itu ya makan sop konro, meskipun di Samarinda juga banyak yang jual, tapi kan keren juga bisa makan dari daerah asalnya sana. Tapi kok aneh ya, disana malah cari cotto makassar ga nemu :)

Perjalanan selanjutnya yang berkesan itu waktu ke Kabupaten Paser di Kaltim juga. Pertama kalinya ke sana, dan ngga pernah sama sekali menginjakkan kaki dan mendengar kabar apapun tentang daerah itu. Perginya pas awal bulan puasa 2006 juga. Bahkan, perginya cuma bertiga dan perempuan semua. Pergi dari Samarinda jam setengah empat, sampainya jam setengah dua malam. Sudah gitu sampai di lokasi acara malah buat kegaduhan sampai didatangin orang sekampung bawa parang ;) Waduh kacau dah waktu itu.

Rencananya, ke sana mau ikut Intermediate Training. Tapi ngga jadi karena kami kekurangan peserta. Akhirnya pulang deh beberapa hari berikutnya, soalnya dengar kabar ada kegiatan serupa di Kalsel, jadi cari info dari rumah (padahal sebenarnya alasan pulang itu karena masih takut dicariin warga :D).

Dan akhirnya kami jadi pergi ke Kalsel, minggu kedua puasa. Kejadiannya sama seperti sebelumnya, belum tahu lokasi dan hanya punya petunjuk dari telepon sama teman-teman disana. Dan pengalamanku naik bis ke Banjarmasin dulu lah yang jadi andalanku, soalnya kedua temanku belum pernah naik bus sama sekali.jadilah aku penuntun jalan lagi. Sesampainya di Banjarmasin, ternyata lokasi kegiatan bukan disitu, tapi di Marabahan, jauh lagi dai Banjarmasin. Dan kami pergi siang-siang pas puasa. Waktu itu digonceng sama mbak instrukturnya disana. Perjalanannya, mungkin seperti Samarinda-Tenggarong, tapi jalanannya lurus aja, ngga berliku-liku seperti di Tenggarong. Sepanjang mata memandang, banyak banget hutan gambut yang terbakar, sungguh memilukan :(. Kejadian yang diingat waktu training, pernah ada kabut asap yang tebal banget, padahal aku kan punya asma, jadinya terima materi pas training di salam kelas pakai slayer.

Disana, ngga sempat kemana-mana. Selesai acara, balik ke banjarmasin, langsung pesan tiket pulang. Kangen rumah euy, maklum ngga pernah ninggalin rumah selama itu waktu puasa. Dan benar saja, kami pulang lima hari sebelum lebaran. Jadi beli oleh-olehnya makana di bus aja, beli dodol kandangan yang banyak.

Habis itu kemana lagi ya…? Oh iya, pas tahun 2008, bulan Juli. Kami pergi ke Pontianak, menghadiri Muknas PII ke 26. Meskipun di peta itu Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur satu pulau, tapi ngga ada akses darat dari Samarinda ke Pontianak. Walhasil, kami pergi ke Surabaya dulu buat meneruskan perjalanan ke Kalbar. Perjalanan naik kapal, dua hari semalam. Sampai di sana sore. Langsung di drop ke sekretariat PII Jatim. Malamnya kami sempat jalan kaki lihat-lihat kota Surabaya. Sampai arut malam, kami sama sekali ngga bisa tidur. Oh iya, belum aku ceritakan, kalau kami besok subuhnya bareng sama teman-teman dari Jatim dan Jogja pergi lagi naik kapal menuju ke Pontianak. Tengah malam, rombongan dari jogja datang. Dan subuhnya, kami carter angkot menuju ke pelabuhan lagi.

Sesampainya disana, kekecewaan yang kami dapat. Kapal kami di delay. Katanya sih, siang baru berangkat, ternyata delay lagi, delay lagi sampai akhirnya malamnya baru berangkat. Jadi, aktivitasku seharina ngga jelas itu di pelabuhan, tidur dan melampiaskan rasa lelahku di sana. Eeh siang-siangnya ada dangdutan di sana sebagai hiburan :toe: Rupanya disana ketemu sama teman-teman dari Ambon. Sorenya, sudah bersiap-siap berebutan sama penumpang lainnya cari tempat ter pw di kapal. Ternyata eh ternyata, sudah naik, kapalnya dinyatakan ngga bisa berlayar.. jadilah kami jadi penumpang terlantar lagi di pelabuhan. Kira-kira malam jam sepuluh barulah bisa duduk tenang di atas kapal, itupun dapat tempat yang kurang nyaman, tapi okelah buat beristirahat, cukup save juga kiri-kanan. Yang jadi problem kalau lagi di kapal itu, apalagi kalau goyang-goyang, paslagi shalat, kadang berdiri aja mau jatuh, tapi itulah seninya. Pokoknya total perjalanan kami seminggu berada di atas laut dari Balikpapan ke Pontianak. Sampai-sampai ada teman yang mau shaum senin kamis, dikiranya hari kamis, padahal itu hari jumat :D

Pasca kegiatan muknas, sempat jalan-jalan sih di Pontianak, pergi ke tugu nol derajat trus beli oleh-oleh manisan dan dodol lidah buaya. Pulangnya kami lagi-lagi naik kapal. Tapi kali ini agak rame juga, soalnya bareng sama teman-teman dari Jakarta dan beberapa dari Sumatera. Trus menginjakkan kaki di Jakarta deh beberapa hari. Sampai di Jakarta juga ga sempat kemana-mana, cuma main ke Monas, itupun jalan kaki aja. Oh iya, mampir ke Kwitang sebelum digusur, cari buku-buku bajakan, he he. Dan alhamdulillah, pulang ke Kaltim nya naik pesawat, akhirnya :D

Beberapa bulan selang dari muknas, kembali traveling lagi ke Jakarta. Bedanya, kali ini pergi alone, sendiri. Sudah sendirian, dibawain bekal buku satu koper lagi, beneran buku semua tugh yang dibawa, baju malah sedikit. Meskipun sebelumnya sudah pernah kesana, tapi kan kondisinya beda. Sendiri dan cuma dituntun arah pakai hape. Waktu itu ada kegiatan Advance Training, training ketiga setelah Intra. Jadi dah, sewaktu sampai di bandara dituntun suruh naik Damri, padahal bingung tuh yang mana Damri, untung aja ada di sana (ya iyalah wong mangkalnya emang disana) disuruh turun di Gambir, trus ntar dijemput di sana. Ya udah deh, padahal wajah sang penjemput juga ngga tahu, mengandalkan feeling aja,. Alhamdulillah ketemu, katanya udah keliatan banget kalo mau ikut advan ciri-cirinya kelihatan dari jauh,. :)

Waktu itu lagi puasa, dan ternyata, puasaku hari itubertambah satu jam lho,… Sahurnya ngikut waktu Samarinda, bukanya ngikut waktu Jakarta. Begitu buka puasa langsung deh digiring ke Karawang, soalnya lokasi training disana dan ternayta jam sepuluh baru sampai, padahal belum nemu nasi tuh. Jadi dah malam-malam cari makanan di depan Islamic Centernya sana. Selam adi karawang juga ga sempat kemana-mana, cuma sempat ke mall nya sebentar, itupun ngikut teman yang cari ATM. Ternyata pulangnya ada insiden, ketemu preman yang lagi malak orang di dalam bis, dan orang yang di palak itu tepat di belakang kursiku. Duh jantungan dah, serasa mau teriak aja ngalaminnya.

Selesai training, kembali ke Jakarta. Dan perjalanan baru akhirnya ditempuh lagi. Gara-gara diajakin sama teman yang dari Jatim sama Jateng buat pulang kampung sebentar, yaah tergoda juga. Setelah telpon orang rumah, akhirnya direstui buat pulang ke rumah pak dhe di Surabaya. Jadilah besoknya kami ke Senen beli tiket ke Surabaya. Habis dari senen, mampir ke Monas lagi, tapi kali ini masuk and naik ke atas. Sempat foto-foto juga disana ;). Padahal jam satu kereta kami berangkat. Kami naik kereta kelas ekonomi, Cuma 36 ribu sampai ke Surabaya, wah aku heran. Tapi pang, berdesak-desakan, banyak orang jualan dan pengamen full nonstop. Keren dah pokoknya, journey tak terlupakan :D

Hmmm,…. Sebenarnya banyak tempat lagi yang ingin aku kunjungi. Yang pengen banget itu pergi ke Sumatera, Sumatera mana aja lah, pokoknya keren aja kalau bisa menginjakkan kaki ke Sumatera. Aku juga pengen naik motor melewati jembatan Suramadu,.. Hmmmm kapan ya,…?,,. Semoga kesampaian deh ;)


24.7.09

Prahara Usia 19


Prahara usia 19

Usiaku satu semester yang salu sembilan belas tahun. Sebuah usia yang sangat krusial bagi kehidupanku. Beberapa hari yang lalu aku mencoba mereview apa saja yang telah terjadi selama enam bulan aku menjabat sebagai seorang gadis berusia sembilan belas tahun.

Beberapa orang menganggap bahwa usia berkepala satu, adalah usia dimana nafas remaja masih sangat kencang berhembus pada egonya, pada tingkat kedewasaannya. Ya memang, banyak orang menganggap bahwa usia sembilan belas adalah usia remaja, dimana pada usia segini, masih dianggap dewasa yang dipaksakan dan anak kecil berbaju orang besar. Artinya? Terlalu kekanak-kanakan untuk dianggap orang dewasa, namun sudah tidak pantas lagi untuk dikatakan anak-anak.

Sedangkan aku? Aku menganggap diriku bukan anak-anak lagi, bukan remaja. Tapi masih terlalu dini untuk menganggapku orang dewasa. Kamu ingat cuplikan lagu Britney Spears? “I’m not a girl, not yet a woman”. Yeah that is me. Tapi jujurlah aku katakan, bahwa aku sudah bisa dikatakan dewasa ketimbang teman-teman seumuranku. Bukannya geer atau apa ya, tapi coba kamu bandingkan, diantara teman satu kelas, meskipun aku bukan yang paling muda, tapi akulah yang punya pandangan dan pemikiran lebih dewasa dibanding yang lainnya. Lihat saja temanku, ada yang usianya dua tahun di atasku, tapi pemikirannya masih kanak-kanak, belum mampu diajak berpikir dan membicarakan masalah orang dewasa. Bandingkan saja aku dengan kakak perempuanku. Aku bisa jamin aku lebih dewasa dari dia. Sewaktu sepupuku yang seumuran denganku itu melahirkan, aku sungguh ngga rela. Bayangkan saja, aku lebih siap menjadi ibu dibandingkan dia.


Heiiii,… aku tidak sedang mendongeng ataupun berbicara bohong denganmu,.. ini serius. Tapi,.. kenapa semua orang menganggapku anak kecil? Aku bukan anak kecil, aku juga bukan ABG. Aku ingin dihargai sebagai orang dewasa. Aku benci dengan mereka yang menganggapku anak kecil. Aku jadi ingat beberapa bulan yang lalu sewaktu diwawancarai kapan target menikah (aneh ya ada wawancara ditanya begituan?). kalau aku mau bicara jujur, sebenarnya targetku menikah itu ya di usia sembilan belas tahun ini. Tapi berhubung aku tahu yang mewawancaraiku ini belum menikah, dan mungkin sedikit heran juga dia kalau aku jujur, maka keluarlah angka dua puluh dua, angka karangan yang baru saat itu juga kepikiran olehku.

Oh iya, aku perlu juga menegaskan disini. Bahwa sebenarnya, bukanlah dengan menikah saja yang bisa menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Dan bukan karena alasan ini aku mau dianggap sebagai orang dewasa. Case closed ya soal ini. Aku khawatir ini akan membekas di otakmu tentang diriku, meskipun pembicaraanku nanti tidak akan jauh dari ini. Tapi bukan itu tujuanku.

Kenapa aku jadi curhat ini sama kamu? Karena aku lagi sebel sama orang rumah. Aku sebel sama kakakku. Aku ngga suka diperlakukan seperti ini. Bayangkan, aku tidak dilibatkan sama sekali dalam rencana pernikahan kakakku. Sama sekali ngga dianggap kata-kataku, bahkan aku di suruh masuk kamar dan tidur..!! Aku ngga suka, beneran…! Aku pengen terlibat pembicaraan, menularkan sedikit ilmu yang kumiliki (bukan sedikit sih, tapi banyak, setidaknya lebih banyak dai ilmu yang dimiliki kakakku itu) tentang tata cara pernikahan, tapi apa? Keluargaku itu menganggap aku masih kecil, anak bau kencur. Hupppf,.. aku donkol bin jengkol nih sekarang.

Di bawah, tuh masih terdengar pembicaraan mereka. Mau pakai band buat hiburan? What….? Pakai acara dangdutan segala?. Aihhh, benar-benar dah. Coba ada aku di bawah, aku pasti sudah mendebat mereka dengan ilmu bersilat lidahku yang lihai. Ahh kakakku sama aja. Waktu aku jelasin baik-baik kemarin, gak perlu pakai hiburan, gak perlu dandan heboh-heboh, gak perlu sewa gedung, dia bilang apa?

“Dasar anak kecil, kamu itu gak tahu apa-apa. Lagian aku asik-asik aja, mau pake band, mau dangdutan, lebih rame kan lebih bagus.”

Uuuwhhh aku mendidih dengarnya. Hei, padahal aku bicaranya sudah baik, sudah bil hikmah, wal mau‘idzatil hasanah. Ngga kayak gaya curhatanku kali ini lho, beneran. Waktu aku nasehatin, belikan buku-buku tentang pernikahan, mendidik anak sholeh, ehhhhh disemprot lagi dah,..

“Anak kecil kok bacaannya begini.”

Akhirnya aku juga yang baca semua buku itu.

Kenapa sih aku diperlakukan kayak anak kecil begini? Aku sebel lho,.. padahal kakakku itu yang lebih kekanakkan dibandingkan aku. Padahal, kakakku itu yang paling manja gak ketulungan. Padahal, aku cuma pengen dihargai eksistensiku aja. Aku ingin pendapatku diterima, aku ingin suaraku di dengar. Itu saja. Aku ingin menularkan ilmu yang agak dini aku terima ini sama kakakku. Aku ingin menjadikan rumahku ini baiti jannati,… apa caraku yang salah? Nggak kok, sudah baik aku menyampaikannya. Tapi tetap saja. Anak yang usianya berkepala satu belum bisa dipertimbangkan pendapatnya di keluargaku. Apa harus menunggu enam bulan lagi baru suaraku didengar? Duh lama amat, sementara nikahannya kakakku itu udah bulan depan.

Nasehati aku ya kawan,……….



Wassalamualaikum.
Amanda.


Dan klik. Manda mnggeserkan kursor ke arah send dan di kliknya. Dia mengatur napasnya yang sedari tedi menggebu. Juga menahan teriakannya yang sedari tadi ingin di keluarkannya.

Di bawah, masih terdengar jelas pembicaraan orangtuanya, dan pembicaraan calon orangtua kakakknya. Manda gemes pengen ikut duduk berunding. Namun, Erina kakaknya menghadang ketika ia akan memasuki ruang tamu.

“Ngga boleh ikut ya sayang, sana cuci muka gosok gigi tidur.”

Dan kemudian Manda cuma bisa menggerutu di depan komputer dan mulai mengkoneksikan jaringan internet dan mengirim email ke sahabatnya yang berapa ribuan kilometer darinya.

Ngga lama, handphonenya berdering, tanda sms masuk. Segera di buka isinya dan dibacanya.

“inet lola ni. Smsn aj y. Jiah jdulx, kirain prahara paan. Aku kok jadi takut km trmasuk org yg wajib nikah y, Man.”

Sembari mematikan komputernya dan merebahkan diri ke kasur, Manda mengetik balasan sms ke Risma, sahabatnya yang kuliah di luar kota.

“eh, yg mo nikah kk prempuan q, bkn aku lho yaw.”

“hehe bcanda. Hbis curhatanmu berat euy temanya. Ntar ku bahas ama mba kostku dulu yach. Gbs jwbnya euy. Aku kan masi kecil :p ”

“gak sopaaannnnn…!!! Buruan, dah mendidih nih. Klo skrg siang aja, dah naek gunung nih ngeluarin uneg2”

“dsar anggun… ank gunung wkwkkkkk…….”













20.7.09

Puding coklat yummy


Assalamualaikum,… jumpa lagi sama chef pemula,… ;)

Kali ini masakan yang saya buat yaitu puding coklat yummy…. Sebenarnya sih ini resep standar puding coklat yang bisa di search di google.. tapi di modifikasi dari beberapa resep,.. jadi deh puding cokelat yang yummy ini,….

Bahan-bahan:
1 bungkus agar-agar swallow cokelat
½ bungkus cocoa powder yang 45 gram
1 kaleng susu kental manis cokelat
4 sdm gula pasir

1 butir kuning telur
3 ½ gelas air
¼ sdt garam

Cara membuat :
Campurkan semua bahan dalam panci. Di aduk-aduk hingga semuanya tercampur rata. Setelah rata, nyalakan api dan didihkan adonan di atas api sedang sambil di aduk-aduk. Jika sudah mendidih, angkat lalu dinginkan. Setelah itu, masukkan ke dalam cetakan dan biarkan hingga mengeras.


Aktivis oh aktivis,……..


Sebuah corat-coret dari seseorang yang mengaku “aktivis” 

Aktivis itu adalah seorang manusia biasa. Tidak punya sayap ataupun tongkat. Hanya saja aktivis memiliki kesadaran untuk berbuat “lebih” dan bergerak sesuai dengan caranya tersendiri. Karena aktivis itu identik dengan aktivitas yang lebih dibanding mahasiswa biasa lainnya, maka tak heran bayak kerja yang dilakukan para aktivis ini secara bersamaan. Aktivitsnya ya selain aktivitas wajib kuliah, juga banyak rapat ataupun kegiatan yang dilakukannya. Aktivis juga banyak jenis naungannya, ada aktivis dakwah kampus, aktivis himpunan, aktivis lainnya juga banyak. Masing-masing punya peran dan tugas yang berbeda yang diembannya. Dan banyak pula aktivis-aktivis organisasi lainnya yang berada di luar kampus maupun di lingkungan luar lainnya. (saya termasuk yang mana ya…..?) 


Kalau kita mengartikan makna aktivis secara sempit, maka kita akan mendapatkan definisi aktivis yang diartikan sebagai tugas dakwah dan jalan panjang menuju surga Allah yang dalam perjalanannya itu terdapat banyak rintangan dan tantangan yang penuh onak dan duri. Tugas dakwah yang ditempuhnya itu juga semata-mata bukan hanya tugas dalam rangka memenuhi atau menyelesaikan program-program kerja yang sudah dituliskan, melainkan juga ada tugas dan misi suci yang diemban, yakni pewaris risalah Nabi, berdakwah dan meninggikan Islam dimana pun mereka berpijak.

Tapi ya kembali ke paragraf awal di atas. Aktivis itu bukan manusia suci ataupun merasa diri sok suci. Aktivis manusia biasa juga kok, punya salah dan khilaf juga. Hanya saja yang perlu diacungi jempol bagi para aktivis ini adalah, jika teman-temannya yang lain kuliah hanya sekedar kuliah, atau banyak istilah yang menyebutkan mahasiswa itu berjenis kupu-kupu (kuliah pulang-kulian pulang), atau kutilang (kuliah tidur pulang), maka para aktivis ini memiliki sense of humanity yang lebih dibanding yang lain (terlepas niat apa yang berada di balik aktivitas mereka).

Oke balik ke aktivis yang kita artikan secara sempit. Kita doakan saja semoga apa yang mereka usahakan dan lakukan semuanya atas dasar niat lillah karena Allah semata. Sehingga buah hasil dakwah yang mereka kerjakan bernilai pahala dan dapat memberatkan timbangan mereka dan meringankan langkah-langkah mereka. Terkadang, kita jumpai realitas yang melanda para aktivis. Yang mungkin sering terdengar adalah fenomena futur, disorientasi dakwah, virus merah jambu, dan mungkin banyak lagi kerikil-kerikil kecil yang menyandung perjalanan mereka. Namun, yang disayangkan dari “penyakit” yang melanda aktivis ini kalau tidak diobati secepatnya, akan menjadi parah dan kronis. Pengobatan itu memerlukan “dokter” yang ahli dan berkompeten untuk menanganinya. Selain butuh dokter, juga harus ada kemauan dari diri untuk sembuh dan kembali kepada orbit aktivitas dakwahnya.

Lingkungan juga berpengaruh besar dalam megembalikan semangat juang para aktivis dakwah ini. Terkadang, lingkungan berperan sebagai katalisator yang baik untuk menegmbalikan semangat dakwah para aktivis. Lingkungan memacunya untuk kembali mengemban amanah yang dipikul di pundaknya. Bahkan kata Opick pun dalam lagunya “Obat Hati”, salah satu obat penyakit hati adalah berkumpul dengan orang sholeh. Bahkan, terdapat dalam hadits yang menceritakan mengenai berteman dengan orang shaleh sebagai berikut:

Hadis riwayat Abu Musa ra Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang saleh dan berkawan dengan orang jahat adalah seperti seorang penjual minyak wangi (misk) dan seorang peniup dapur tukang besi. Penjual minyak wangi, dia mungkin akan memberikan kamu atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma harum darinya. Tetapi peniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang tidak sedap. (Shahih Muslim No.4762).

Tetapi terkadang, lingkungan juga mampu memvonis sang aktivis ketika sedang dilanda penyakit hati tersebut. Terkadang lingkungan sosialnya menjudge aktivis tersebut karena kesalahan yang diperbuatnya secara individu. Dan akhirnya, kesalahan yang hanya diperbuat dirinya seorang, wajihah ataupun tempat orgnaisasinya bernaung menjadi kena dampaknya juga. Atau, malah teman yang seharusnya beriringan membantu penyembuhannya, justru malah menjauhinya.

Ya, meskipun tidak semua fenomena itu terjadi, namun sedikit juga terdapat kejadian-kejadian tersebut di sekeliling kita. Kita rupanya harus membuka mata dan merapatkan barisan mengokohkan tujuan serta bergandengan tangan. Jangan sampai para aktivis ini hanya disibukkan pembenahan masalah internal saja namun action eksternalnya malah terhambat. Bukankah Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh seperti tercantum dalam surah Ash Shaff ayat 4?...

Baiklah,… di paragraf akhir ini saya berikan sebuah kalimat indah dari Asy Syaikh Hassan Al Banna berikut ini,….

‘janganlah kamu merasa kecil diri, lalu kamu samakan dirimu dengan orang lain. Atau kamu tempuh dalam dakwah ini jalan yang bukan jalan kaum mukminin. Atau kamu bandingkan dakwahmu yang cahayanya diambil dari cahaya Allah dan manhajnya diserap dari sunnah Rasul-Nya dengan dakwah-dakwah lainnya yang terbentuk oleh berbagai kepentingan lalu bubar begitu saja dengan berlalunya waktu dan terjadinya berbagai peristiwa. Kuncinya adalah Tsabat dalam jalan dakwah ini’.

Tsabat itu bermakna teguh pendirian dan tegar dalam menghadapi ujian serta cobaan di jalan kebenaran. Dan baiknya kita merenungi ayat Al Qur’an berikut ini,..

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT. maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah janjinya”. (Al Ahzab: 23)..

Ayo para aktivis,.. pesan saya yang utamanya ditujukan pada diri sendiri ini adalah:

Luruskan niat, niatkan semua usaha yang kita lakukan ini semata hanya kepada Allah SWT.

Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Jika terdapat aral melintangi perjalananmu, maka kembalilah kepada orbit dakwah, jangan menjadi orang-orang yang berguguran di jalan ini dan menjadi orang-orang yang tergilas oleh zaman pada perjalanan panjang ini.

Dan akhirnya, kita kembalikan semuanya kepada Allah SWT,.. semoga apa yang telah kita usahakan mendapat ridho Allah SWT,,… Amin.


belajar teori vs aplikasi

Jumat pagi pukul 09.00 di ruang 501 kelas Fisika,,……………….

Kami sekelas sedang menjalani ujian mata kuliah Getaran dan Gelombang. Aku dapat tempat paling depan. Berhubung sedang sakit kepala sedari semalam, jadilah aku banyak diam. Lagipula, kurang belajar juga. Pas soal diberikan, aku sedikit kecewa, karena soal ang diberikan sangat sangaaatt mudah.
Dari beberapa bab yang diajarkan, kebanyakan soal Getaran yang keluar. Padahal harusnya proporsi soal kan harus seimbang antara materi Getaran dan Gelombang. Karena fokus belajarku pada materi Gelombang dan sempat kecewa karena aku belajar materi yang hing-high lah, eh yang keluar malah materi yang gampang. Saking gampangnya dan ngga ada prediksi bakal keluar, ya aku ngga mendalami. Jadi dah gak bisa jawab dengan sempurna. (padahal itu soal yang biasa aku kasih sama praktikan sebelum masuk praktikum, nah ternyata jadi soal ujian buat mahasiswa semseter empat).

Setelah bereksperimen dengan kata-kata dan rumus-rumus fisika y(x,t) = A sin (t-kx) aku berhasil mengerjakannya sebelum jam pelajaran usai. Aku duduk di pojok kiri depan pas di samping jendela. Jadilah sambil liat-liat keluar kelas. Ngga ada apa-apa sih, Cuma bangunan mushalla baru yang sepi, karena aktivitas anak-anak LDK masih berpusat di bangunan mushalla lama. Trus, agak jauh ada kantin yang juga emang sepi (konon katanya, karena ibu-ibu penjualnya galak, makanya sepi). Dan di sebelah bangunan mushalla, ada bangunan sementara terbuat dari kayu tempat menaruh genset.

Melihat genset itu, aku jadi berpikir. Tentang materi Fisika Terapan yang pernah aku dapat beberapa munggu yang lalu. Mengenai aplikasi penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari. Aku dan beberapa kelompok teman-teman yang lain mendapat materi tentang pembangkit listrik. Aku kenanya materi pembangkit listrik tenaga uap. Dan ada juga teman yang mendapat materi pembangkit listrik tenaga diesel. Sempat di bahas juga mengenai prinsip kerja genset dalam kehidupan sehari-hari.

Yang aku pikirkan adalah, betapa ternyata materi yang kita dapatkan tersebut, hanya sebatas teori saja. Dan apliaksinya sudah diterapkan oleh para tukang yang sedang membangun gedung baru di samping kelas kami. Jadi ingat apa yang di sampaikan Pak Johan dosen kami, bahwa para tukang-tukang itu tidak belajar materi fisika, namun sudah mengaplikasikannya dalam pekerjaannya, misalnya mengenai penggunaan mesin ketam yang menggunakan kabel sangat panjang untuk menyalakannya. Ternyata bukan karena untuk memudahkan geraknya saja lantas di buat kabel yang sangat panjang. Namun, ternyata dalam rangka mengaplikasikan rumus fisika R = L/A, atau R sebanding dengan L, bahwa semakin panjang kawat tersebut (L) maka akan semakin besar pula hambatannya (R), dan semakin besar hambatan kawat tersebut maka akan mengakibatkan arus yang dikeluarkan untuk pengoperasian alat ketam tersebut menjadi kecil, bersesuaian dengan prinsip Hukum Ohm R = V/I, sehingga dengan arus yang kecil itu tidak akan mengambil arus yang terlalu besar dari listrik yang digunakan.

Dan untuk prinsip kerja genset tersebut, aku juga jadi merenung sendiri. Karena kami mahasiswa Fisika belaja mengenai teorinya sementara bapak-bapak tukang itu yang mungkin saja tidak mendalami pelajaran fisika justru yang mengaplikasikannya. Pernah juga nih berpikir iseng. Kalau sarjana pertanian itu jadi petani, sarjana perikanan itu jadi nelayan, maka sarjana fisika jadi tukang listrik? 

Hmmm, betapa sebenarnya ibrah yang harus di ambil adalah, kita mempelajari sesuatu harus komprehensip atau menyeluruh. Tidak hanya belajar teorinya saja, melainkan juga praktiknya. Sama saja ketika menemui orang yang pandai dalam hal agama namun aplikasinya nol besar. Atau seseorang yang ingin beribadah namun tidak tahu bagaimana caranya karena tidak pernah belajar teorinya. Sama seperti ujian hari itu, ketika hanya fokus pada belajar hitungan (bahkan hitungan tingkat tinggi), namun teorinya tidak paham, bahkan mengerjakan hitungan yang dasar saja sudah benar-benra di luar kepala,…

Belajar sesuatu, jangan setengah-setengah ya………. ;)




mak, ada bom...!!!!!

Atikah berlari memasuki rumahnya. Terburu-buru ia melepas sepatu dan menuju ruang tengah yang hanya berisi perabotan sederhana dan sebuah televisi 17 inchi. Melihat emaknya sedang makan bersama ketiga orang adiknya yang masih kecil-kecil, Atikah segera berlari dan menghampiri merka.

“Mak, ada bom mak…!! Di Jakarta ada bom…!!” Katanya sedikit panik.
“Apa tho Tikah, datang-datang bukannya salam dulu langsung teriak-teriak ada bom.” Jawab emak sembari asyik menyuapi Budi, adiknya Tikah yang masih berusia tiga tahun.
“Mak, Tikah serius nih, tadi pagi di Jakarta ada bom. Coba emak lihat tv.”Dan Tikah pun menyalakan televisi yang sedari tadi mati.

“Innalillahi,…. Tuh kan mak, Tikah ngga bohong. Coba emak lihat sendiri, semua stasiun tv meliput berita yang sama. Hotel JW Marriot sama Hotel Ritz Carlton di bom tadi pagi. Sudah ada korban yang meninggal mak.”

Sang emak menoleh sebentar ke arah televisi, kemudian kembali pada aktivitas makan siangnya sembari menyuapkan nasi ke anak-anaknya.

“Makan dulu sana.” Kata emak datar.
“Yah emak. Komentar dikit donk. Indonesia lagi gawat begitu.” Jawab Atikah sembari melepas tas selempangannya dan pergi ke dapur mengambil piring. Kemudian, dia bergabung dengan mak dan adik-adiknya di ruang tengah. Matanya masih menatap televisi memantau pemberitaan terbaru mengenai bom yang baru saja tadi pagi meledak di Jakarta.
“Makan dulu Tikah.” Kata emaknya sekali lagi.
“Iya mak.” Jawab Tikah sembari memalingkan wajahnya ke arah makanan yang ada di piringnya.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


“Tikaaah,………..!! Bantuin Emak di warung…!!” Teriak Emak dari warung yang berada di salah satu bagian rumahnya.

Dengan sedikit malas dia melangkah menuju warung. Matanya masih tertuju pada layar televisi yang kecil yang kini menyiarkan breaking news pidato presiden mengenai kejadian tadi pagi. Sengaja ia besarkan volume televisi sehingga meskipun tidak melihat, namun dia masih bisa mendengar suara berita. Kemudian, dia melanjutkan menggoreng pisang goreng yang dijual emaknya. Sementara emak sibuk melayani pembeli. Setelah pembeli itu pergi, kembali Atikah membuka pembicaraan seputar bom itu kepada emaknya.

“Mak, kasihan tuh pak presiden. Tikah hampir nangis dengar pidatonya.”
“Halah kamu ini. Anak kecil tahu apa tho.”
“Iya mak, sampai-sampai pemain bola itu ngga jadi main di Indonesia. Negara-negara lain juga ngeluarkan Travel Warning ke Indonesia. Trus pasti berpengaruh sama perekonomian negara yang mulai stabil.” Celoteh Atikah sembari menggoreng pisangnya.
“Ya trus maunya apa nduk? Biar aja lah bom itu di urusin sama negara. Kan ada polisi, ada tentara. Masak iya rakyat miskin kayak kita disuruh mikirin bom juga”
“Yah emak.”
“Loh, bener tho? Sekarang mikirnya gini aja. Ada nggak hubungannya bom itu sama kerjaan bapakmu, sama jualan emakmu? Ngga ada kan? Kalo bapakmu itu pengusaha atau pejabat kaya raya sana, wajar kalo emak disuruh mikirin juga. Lha wong bapakmu itu cuma tukang becak, makmu penjual gorengan kok disuruh mikirin juga. Emakmu ini yang dipikirin ya uang semsesteran mu yang belum dibayar. Adikmu yang mau masuk SD. Itu. Kok tega bener kalo negara juga minta diperhatiin masalah bom sama emak. Bisa botak kepala makmu ini Tikah.” Kata emak panjang lebar.

Atikah terdiam sejenak.

“Sudah, kata-kata emak ngga usah dipikirin. Biar kamu aja sana anak-anak mahasiswa sama pemerintah yang ngurusin bom-bom itu. Emak ngga ngerti nduk. Ngertinya Cuma ngulek bumbu, sama bikin pisang goreng. Cari duit biar bisa makan besok. Sudah kamu aja sana bantuin pemerintah, biar nanti kita dibantu juga, disejahterakan.”

Atikah kembali terdiam. Di satu sisi, dia ingin menunjukkan kepeduliannya pada negara. Bahwa betapa dahsyat akibat dari pemboman itu bagi negaranya, juga nama Islam yang kembali dikait-kaitkan dengan pelaku pemboman ini. Bahkan tim sepakbola MU pun membatalkan rencana bermain di Indonesia, yang sudah lama sekali dinanti-nantikan penggemarnya dan dipersiapkan dengan biaya yang tidak sedikit.

Atikahpun disadarkan oleh perkataan emaknya tadi. Ia terdiam. Betapa masalah perekonomian keluarganya tidak boleh ia lupakan. Dalam hati Atikah juga berdoa. Semoga dengan adanya pemboman ini, orang-orang yang memiliki kuasa atas negara sana juga tidak terlupa dengan permasalahan-permasalahan rakyat ataupun permasalahan yang lain yang harus diselesaikan secepatnya.

“Hei, jangan ngelamun nanti pisangnya gosong.”
“Eh, iya mak.” Jawab Tikah sembari tersenyum.
“Ya mudah-mudahan aja pelakunya cepat ketangkep, trus pemerintah bisa ngurusin kita lagi.” Kata emaknya sembari membalas senyum kecut Atikah. “Orang kecil kayak kita ya cuma bisa bantunya lewat doa, ngga bisa mikirin apa-apa. Lha wong yang dipikirin sendiri juga banyak kok ya. Makanya kuliah yang rajin. Nanti kamu nduk, kalo jadi orang besar jangan lupa sama orang kecil, dipikirn juga nasib kita-kita ini wong cilik.”

Dan Atikah pun tersenyum lebar. Melihat secercah harapan yang dibebani di pundaknya. Tentang penghidupan yang lebih layak, dan tentang masa depan bagi rakyat kecil sepertinya dan ribuan orang lainnya yang tersebar di Indonesia.


Diikuti dan dibuntuti orang ga jelas.....

Haduhh mimpi apa aku malam sebelum kejadian itu. Benar-benar dah,… perasaan ngga pernah punya musuh ataupun fans gelap gitu ya ;p sampai-sampai mengalami kejadian malam itu. Diikutin bapak-bapak sampai harus sembunyidi dalam Masjid.

Ceritanya, jam enam sore gitu habis pulang rapat seperti biasa dari tempat Umi. Mampir ke tempat teman di Dr Soetomo ambil beberapa file yang musti di print. Berhubung sewaktu mau ngeprint itu sudah adzan, jadilah mampir ke Al Ma’ruf sebentar untuk nemanin si Ayu shalat Maghrib.
Sebelum adzan nih ada bapak-bapak yang parkir motor pas di depanku. Padahal sudah duduk jauh dari keramaian, maksudnya mau menyendiri.

Bapak-bapak itu bertanya, “Ngapain di sini?”
Ya aku jawab aja, “Nunggu teman.” Sambil cuek-cuek aja plus online dari hape. Habis itu, ngga ada di tanya-tanya lagi.

Selesai shalat, Ayu menghampiriku dan mau cerita sesuatu. Aku bilang aja ntar aja ceritanya di jalan, habis aku ngga enak banget sama bapak-bapak itu yang keknya memperhatikan kita. Ya sudah lah, kami langsung pergi dan Ayu langsung ambil helm yang ada di dekatku yang sebelumnya dia tanya, apa itu helmnya atau bukan? Ya aku jawab aja iya. Kami langsung pergi ke rental tempat mba Oki kerja buat ngetik dan ngeprint sebentar. Ternyata aku baru sadar, kalau bapak-bapak itu mengikuti kami. Bahkan parkir di depan rentalnya mba Oki. Kontan saja si Ayu histeris. Aku sih biasa-biasa aja awalnya. Kami juga sadar, kalau ternyata helm yang Ayu pakai tadi bukan helmnya, tapi helm jamaah Al Ma’ruf. Jelas saja kami jadi ngga konsen ngetik dan langsung minta pamit sama mba Oki buat ke al Ma’ruf lagi dan mengembalikan helm itu. Aku suruh si Ayu buat biasa aja dan netral aja waktu ketemu bapak itu di depan rental.

Dan kemudian. Whusssssh,….. aku ngebut di tengah jalan itu. Maksud kami, mau lewat Kedondong biar ngga kena lampu merah. Dan pas kami belok, kata Ayu bapak itu mau lurus dan pas lihat kami belok ikutan belok juga. Astaghfirullah. Kami langsung saja sembunyi di dalam masjid sampai waktu yang kami sendiri ngga bisa tentukan. Dan bapak itu, dari motornya melihat kami dari jendela masjid. Saat itu baru ketakutan muncul dari diriku. Ngga tahu musti ngapain, mau telpon orang rumah tapi juga takut. Akhirnya Ayu telpon kakak laki-lakinya suruh jemput kami di Al Ma’ruf. Ternyata kakaknya masih lama jemputnya. Sementara kami tahu kalau di Alma’ruf pasca isya itu sepi banget. Bapak itu sih ngga ada lagi, tapi yang kami takutkan adalah, ketika kami keluar lingkungan masjid dan bertemu bapak itu lagi, dan kami diikuti. Hupppfffftttt menyeramkan.

Alhamdulillah ba’da isya aku melihat orang yang ku kenal. Dan langsung saja minta bantuan beliau, menemani kami berdua sebetar sampai kakaknya Ayu datang. Ngga lama, eeehhhh bapak itu muncul lagi. Kami berdua ketakutan lagi. Benar-benar ketakutan dan paranoid. Ngga tahu deh, entah di pelototin, atau dilihatin, bapak itu sadar kalau kami sudah punya bala bantuan, dan akhirnya,… bapak itu pergi.

Kami di iringi pake motor sampai rentalan Mba Oki lagi. Menunggu kakaknya Ayu di sana, dan kemudian kakaknya Ayu mengikutiku sampai rumah, dan kami bisa tidur dengan tenang di rumah.

Aduh,… kami berdua salah apa ya….?
Astaghfirullah…………………



18.7.09

Bidadari Seorang Pendiri Pergerakan

Muslimah Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah.

----------


Tidak mudah menjadi istri seorang Hasan Al Banna. Seseorang yang setiap detik kehidupannya sarat dengan kegiatan dakwah. Di pagi buta dia sudah bergegas untuk memulai berdakwah dan kembali pulang di gelap malam. Bisa dipastikan ia adalah seorang muslimah sejati, yang bisa mengisi kekosongan-kekosongan yang ditinggalkan oleh Imam Syahid Al Banna.

Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah. Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu hal yang main-main, bukan hanya sekedar dakwah seperti kebanyakan orang waktu itu. Bukan hanya sekedar membangun rumah kardus. Imam syahid tengah dan hendak membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah terwujud, tanpa seseorang yang ia yakini kesejatiannya.

Maka siapapun itu-pendampingnya-harus menyadari bahwa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan yang di emban oleh Imam Syahid. Ada dimensi waktu dan kuasa kapital disitu. Maka pertemuan diyakini menjadi suatu hal yang mahal bagi Imam Syahid dan istrinya.

Maka bagi Lathifah As Suri menjadi istri Hasan Al Banna menyimpan begitu banyak geregap. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah menyadari bahwa ia harus siap jika sewaktu-waktu dia harus menjalani hidup sendiri tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.

Dakwah Ikhwah yang dipimpin oleh suaminya banyak meminta resiko yang bukan main-main. Penjara bahkan nyawa menjadi konsekuensi logis, yang sewaktu-waktu siap menyapanya.

Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktivitas luarnya. Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka berdua adalah dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.

Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak heran jika ia menyadari betul tuntutan hidup menjadi istri seorang dai.

Malam, ia harus rela untuk terbangun menyambut kepulangan suaminya. Walau tak jarang Imam Syahid berlaku sangat hati-hati, bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari terkasihnya yang telah seharian mengurus rumah dan anak-anak mereka berdua. Imam Syahid bahkan tak segan untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.

Lathifah tidak pernah mengeluh, walau sehari-harinya hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah menuntut lebih kepada Imam Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia seorang istri Imam Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak-anak mereka yang berjumlah enam orang sesungguhnya adalah pencurahan konsentrasinya menjalani hidup. Satu-satunya yang pernah membuat dirinya gamang adalah, ketika salah satu anak mereka sakit keras dan Imam Syahid harus tetap menjalankan jihadnya. Ia bertanya kepada suaminya,"Bagaimana jika ia meninggal?". Imam Syahid hanya menarik napas panjang, ia kemudian berujar "Kakeknya lebih tau bagaimana mengurusnya."

Sejak dini, Lathifah menanamkan wawasan keislaman kepada anak-anaknya. Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya mereka tidak terpengaruh dengan seruan-seruan destruktif. Ketika Imam Syahid bolak-balik keluar penjara, Lathifah berusaha bersabar dan komitmen.

Lathifah sangat menyadari peran dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak2nya. Ia bahagia melihat anak-anaknya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.

Ketika Hasan Al-Banna syahid, anak-anaknya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tak ada kesah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang dikehendaki oleh mendiang suaminya. Ia tetap berlaku didalam rumah. Lathifah tidahk meremehkan hudud (batasan) yang Allah tentukan. Karenanya, tak heran diantara anak-anaknya tidak ada ikhtilat (percampuran) antara anak-anaknya dan sepupunya yang berlainan jenis.

Tidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam Syahid inginkan berlaku dikeluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah. Sendirian, ia besarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu memperdalam wawasan keislamannya.Yang dimaksud dengan wawasan keislamannya adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW, haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. LAthifah juga masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita seputar dunia Islam. Lathifah menyadari menyepelekan masalah ini akan memunculkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan keislamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran Islam. Dengan melalui pemahaman keislaman yang baik, seorang wanita akan menyadari betapa penting perannya terhadap keluarga dan masyarakat.

Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya sukses meraih predikat formal dalam pendidikan ilmiah. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, kini sebagai sekjen advokat di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlemen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai dosen di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini menjadi dokter. Dan Halah sebagai dosen kedokteran anak di Universitas Azhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami. Selain juga untuk anak-anaknya, tentu.

**********************

Sekedar info tambahan:

Hasan Al Banna syahid diusianya yang masih muda, sekitar 40 tahunan. Setelah seberondong timah panas ditembakkan oleh musuh-musuh Islam di sebuah jalan di Kairo.

Sebenarnya Hasan Al Banna masih bisa diselamatkan, tapi karena konspirasi politik para musuh Islam yang dipimpin oleh sang pengkhianat la'natullah Gamal Abden Naser, membuat tubuh Hasan Al Banna yang sedang sekarat dibiarkan tak berdaya, tanpa bantuan dari siapapun juga, termasuk dokter-dokter di Rumah Sakit.

Akhirnya sang pendiri Ikhwanul Muslimun itu pun syahid menemui kekasih tercintanya, Rabbnya.

Musuh-musuh Islam pun banyak yang tertawa dan berpesta dengan syahidnya sang Imam, tapi sesungguhnya Hasan Al Banna tidak pernah pergi meninggalkan pengikutnya.

Allah terlalu mencintai hamba-Nya yang satu ini, sehingga memanggilnya terlebih dahulu.

Hal yang memilukan adalah, meskipun Ikhwanul Muslimun mempunyai puluhan ribu pengikut, tapi tak seorangpun yang diijinkan untuk mensholati jenazah beliau, kecuali ayahnya yang sudah udzur, saudara perempuan dan istrinya.

by. aisyahragil
http://myquran.org/forum/index.php/topic,58637.0.html