20.7.09

belajar teori vs aplikasi

Jumat pagi pukul 09.00 di ruang 501 kelas Fisika,,……………….

Kami sekelas sedang menjalani ujian mata kuliah Getaran dan Gelombang. Aku dapat tempat paling depan. Berhubung sedang sakit kepala sedari semalam, jadilah aku banyak diam. Lagipula, kurang belajar juga. Pas soal diberikan, aku sedikit kecewa, karena soal ang diberikan sangat sangaaatt mudah.
Dari beberapa bab yang diajarkan, kebanyakan soal Getaran yang keluar. Padahal harusnya proporsi soal kan harus seimbang antara materi Getaran dan Gelombang. Karena fokus belajarku pada materi Gelombang dan sempat kecewa karena aku belajar materi yang hing-high lah, eh yang keluar malah materi yang gampang. Saking gampangnya dan ngga ada prediksi bakal keluar, ya aku ngga mendalami. Jadi dah gak bisa jawab dengan sempurna. (padahal itu soal yang biasa aku kasih sama praktikan sebelum masuk praktikum, nah ternyata jadi soal ujian buat mahasiswa semseter empat).

Setelah bereksperimen dengan kata-kata dan rumus-rumus fisika y(x,t) = A sin (t-kx) aku berhasil mengerjakannya sebelum jam pelajaran usai. Aku duduk di pojok kiri depan pas di samping jendela. Jadilah sambil liat-liat keluar kelas. Ngga ada apa-apa sih, Cuma bangunan mushalla baru yang sepi, karena aktivitas anak-anak LDK masih berpusat di bangunan mushalla lama. Trus, agak jauh ada kantin yang juga emang sepi (konon katanya, karena ibu-ibu penjualnya galak, makanya sepi). Dan di sebelah bangunan mushalla, ada bangunan sementara terbuat dari kayu tempat menaruh genset.

Melihat genset itu, aku jadi berpikir. Tentang materi Fisika Terapan yang pernah aku dapat beberapa munggu yang lalu. Mengenai aplikasi penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari. Aku dan beberapa kelompok teman-teman yang lain mendapat materi tentang pembangkit listrik. Aku kenanya materi pembangkit listrik tenaga uap. Dan ada juga teman yang mendapat materi pembangkit listrik tenaga diesel. Sempat di bahas juga mengenai prinsip kerja genset dalam kehidupan sehari-hari.

Yang aku pikirkan adalah, betapa ternyata materi yang kita dapatkan tersebut, hanya sebatas teori saja. Dan apliaksinya sudah diterapkan oleh para tukang yang sedang membangun gedung baru di samping kelas kami. Jadi ingat apa yang di sampaikan Pak Johan dosen kami, bahwa para tukang-tukang itu tidak belajar materi fisika, namun sudah mengaplikasikannya dalam pekerjaannya, misalnya mengenai penggunaan mesin ketam yang menggunakan kabel sangat panjang untuk menyalakannya. Ternyata bukan karena untuk memudahkan geraknya saja lantas di buat kabel yang sangat panjang. Namun, ternyata dalam rangka mengaplikasikan rumus fisika R = L/A, atau R sebanding dengan L, bahwa semakin panjang kawat tersebut (L) maka akan semakin besar pula hambatannya (R), dan semakin besar hambatan kawat tersebut maka akan mengakibatkan arus yang dikeluarkan untuk pengoperasian alat ketam tersebut menjadi kecil, bersesuaian dengan prinsip Hukum Ohm R = V/I, sehingga dengan arus yang kecil itu tidak akan mengambil arus yang terlalu besar dari listrik yang digunakan.

Dan untuk prinsip kerja genset tersebut, aku juga jadi merenung sendiri. Karena kami mahasiswa Fisika belaja mengenai teorinya sementara bapak-bapak tukang itu yang mungkin saja tidak mendalami pelajaran fisika justru yang mengaplikasikannya. Pernah juga nih berpikir iseng. Kalau sarjana pertanian itu jadi petani, sarjana perikanan itu jadi nelayan, maka sarjana fisika jadi tukang listrik? 

Hmmm, betapa sebenarnya ibrah yang harus di ambil adalah, kita mempelajari sesuatu harus komprehensip atau menyeluruh. Tidak hanya belajar teorinya saja, melainkan juga praktiknya. Sama saja ketika menemui orang yang pandai dalam hal agama namun aplikasinya nol besar. Atau seseorang yang ingin beribadah namun tidak tahu bagaimana caranya karena tidak pernah belajar teorinya. Sama seperti ujian hari itu, ketika hanya fokus pada belajar hitungan (bahkan hitungan tingkat tinggi), namun teorinya tidak paham, bahkan mengerjakan hitungan yang dasar saja sudah benar-benra di luar kepala,…

Belajar sesuatu, jangan setengah-setengah ya………. ;)




mak, ada bom...!!!!!

Atikah berlari memasuki rumahnya. Terburu-buru ia melepas sepatu dan menuju ruang tengah yang hanya berisi perabotan sederhana dan sebuah televisi 17 inchi. Melihat emaknya sedang makan bersama ketiga orang adiknya yang masih kecil-kecil, Atikah segera berlari dan menghampiri merka.

“Mak, ada bom mak…!! Di Jakarta ada bom…!!” Katanya sedikit panik.
“Apa tho Tikah, datang-datang bukannya salam dulu langsung teriak-teriak ada bom.” Jawab emak sembari asyik menyuapi Budi, adiknya Tikah yang masih berusia tiga tahun.
“Mak, Tikah serius nih, tadi pagi di Jakarta ada bom. Coba emak lihat tv.”Dan Tikah pun menyalakan televisi yang sedari tadi mati.

“Innalillahi,…. Tuh kan mak, Tikah ngga bohong. Coba emak lihat sendiri, semua stasiun tv meliput berita yang sama. Hotel JW Marriot sama Hotel Ritz Carlton di bom tadi pagi. Sudah ada korban yang meninggal mak.”

Sang emak menoleh sebentar ke arah televisi, kemudian kembali pada aktivitas makan siangnya sembari menyuapkan nasi ke anak-anaknya.

“Makan dulu sana.” Kata emak datar.
“Yah emak. Komentar dikit donk. Indonesia lagi gawat begitu.” Jawab Atikah sembari melepas tas selempangannya dan pergi ke dapur mengambil piring. Kemudian, dia bergabung dengan mak dan adik-adiknya di ruang tengah. Matanya masih menatap televisi memantau pemberitaan terbaru mengenai bom yang baru saja tadi pagi meledak di Jakarta.
“Makan dulu Tikah.” Kata emaknya sekali lagi.
“Iya mak.” Jawab Tikah sembari memalingkan wajahnya ke arah makanan yang ada di piringnya.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


“Tikaaah,………..!! Bantuin Emak di warung…!!” Teriak Emak dari warung yang berada di salah satu bagian rumahnya.

Dengan sedikit malas dia melangkah menuju warung. Matanya masih tertuju pada layar televisi yang kecil yang kini menyiarkan breaking news pidato presiden mengenai kejadian tadi pagi. Sengaja ia besarkan volume televisi sehingga meskipun tidak melihat, namun dia masih bisa mendengar suara berita. Kemudian, dia melanjutkan menggoreng pisang goreng yang dijual emaknya. Sementara emak sibuk melayani pembeli. Setelah pembeli itu pergi, kembali Atikah membuka pembicaraan seputar bom itu kepada emaknya.

“Mak, kasihan tuh pak presiden. Tikah hampir nangis dengar pidatonya.”
“Halah kamu ini. Anak kecil tahu apa tho.”
“Iya mak, sampai-sampai pemain bola itu ngga jadi main di Indonesia. Negara-negara lain juga ngeluarkan Travel Warning ke Indonesia. Trus pasti berpengaruh sama perekonomian negara yang mulai stabil.” Celoteh Atikah sembari menggoreng pisangnya.
“Ya trus maunya apa nduk? Biar aja lah bom itu di urusin sama negara. Kan ada polisi, ada tentara. Masak iya rakyat miskin kayak kita disuruh mikirin bom juga”
“Yah emak.”
“Loh, bener tho? Sekarang mikirnya gini aja. Ada nggak hubungannya bom itu sama kerjaan bapakmu, sama jualan emakmu? Ngga ada kan? Kalo bapakmu itu pengusaha atau pejabat kaya raya sana, wajar kalo emak disuruh mikirin juga. Lha wong bapakmu itu cuma tukang becak, makmu penjual gorengan kok disuruh mikirin juga. Emakmu ini yang dipikirin ya uang semsesteran mu yang belum dibayar. Adikmu yang mau masuk SD. Itu. Kok tega bener kalo negara juga minta diperhatiin masalah bom sama emak. Bisa botak kepala makmu ini Tikah.” Kata emak panjang lebar.

Atikah terdiam sejenak.

“Sudah, kata-kata emak ngga usah dipikirin. Biar kamu aja sana anak-anak mahasiswa sama pemerintah yang ngurusin bom-bom itu. Emak ngga ngerti nduk. Ngertinya Cuma ngulek bumbu, sama bikin pisang goreng. Cari duit biar bisa makan besok. Sudah kamu aja sana bantuin pemerintah, biar nanti kita dibantu juga, disejahterakan.”

Atikah kembali terdiam. Di satu sisi, dia ingin menunjukkan kepeduliannya pada negara. Bahwa betapa dahsyat akibat dari pemboman itu bagi negaranya, juga nama Islam yang kembali dikait-kaitkan dengan pelaku pemboman ini. Bahkan tim sepakbola MU pun membatalkan rencana bermain di Indonesia, yang sudah lama sekali dinanti-nantikan penggemarnya dan dipersiapkan dengan biaya yang tidak sedikit.

Atikahpun disadarkan oleh perkataan emaknya tadi. Ia terdiam. Betapa masalah perekonomian keluarganya tidak boleh ia lupakan. Dalam hati Atikah juga berdoa. Semoga dengan adanya pemboman ini, orang-orang yang memiliki kuasa atas negara sana juga tidak terlupa dengan permasalahan-permasalahan rakyat ataupun permasalahan yang lain yang harus diselesaikan secepatnya.

“Hei, jangan ngelamun nanti pisangnya gosong.”
“Eh, iya mak.” Jawab Tikah sembari tersenyum.
“Ya mudah-mudahan aja pelakunya cepat ketangkep, trus pemerintah bisa ngurusin kita lagi.” Kata emaknya sembari membalas senyum kecut Atikah. “Orang kecil kayak kita ya cuma bisa bantunya lewat doa, ngga bisa mikirin apa-apa. Lha wong yang dipikirin sendiri juga banyak kok ya. Makanya kuliah yang rajin. Nanti kamu nduk, kalo jadi orang besar jangan lupa sama orang kecil, dipikirn juga nasib kita-kita ini wong cilik.”

Dan Atikah pun tersenyum lebar. Melihat secercah harapan yang dibebani di pundaknya. Tentang penghidupan yang lebih layak, dan tentang masa depan bagi rakyat kecil sepertinya dan ribuan orang lainnya yang tersebar di Indonesia.


Diikuti dan dibuntuti orang ga jelas.....

Haduhh mimpi apa aku malam sebelum kejadian itu. Benar-benar dah,… perasaan ngga pernah punya musuh ataupun fans gelap gitu ya ;p sampai-sampai mengalami kejadian malam itu. Diikutin bapak-bapak sampai harus sembunyidi dalam Masjid.

Ceritanya, jam enam sore gitu habis pulang rapat seperti biasa dari tempat Umi. Mampir ke tempat teman di Dr Soetomo ambil beberapa file yang musti di print. Berhubung sewaktu mau ngeprint itu sudah adzan, jadilah mampir ke Al Ma’ruf sebentar untuk nemanin si Ayu shalat Maghrib.
Sebelum adzan nih ada bapak-bapak yang parkir motor pas di depanku. Padahal sudah duduk jauh dari keramaian, maksudnya mau menyendiri.

Bapak-bapak itu bertanya, “Ngapain di sini?”
Ya aku jawab aja, “Nunggu teman.” Sambil cuek-cuek aja plus online dari hape. Habis itu, ngga ada di tanya-tanya lagi.

Selesai shalat, Ayu menghampiriku dan mau cerita sesuatu. Aku bilang aja ntar aja ceritanya di jalan, habis aku ngga enak banget sama bapak-bapak itu yang keknya memperhatikan kita. Ya sudah lah, kami langsung pergi dan Ayu langsung ambil helm yang ada di dekatku yang sebelumnya dia tanya, apa itu helmnya atau bukan? Ya aku jawab aja iya. Kami langsung pergi ke rental tempat mba Oki kerja buat ngetik dan ngeprint sebentar. Ternyata aku baru sadar, kalau bapak-bapak itu mengikuti kami. Bahkan parkir di depan rentalnya mba Oki. Kontan saja si Ayu histeris. Aku sih biasa-biasa aja awalnya. Kami juga sadar, kalau ternyata helm yang Ayu pakai tadi bukan helmnya, tapi helm jamaah Al Ma’ruf. Jelas saja kami jadi ngga konsen ngetik dan langsung minta pamit sama mba Oki buat ke al Ma’ruf lagi dan mengembalikan helm itu. Aku suruh si Ayu buat biasa aja dan netral aja waktu ketemu bapak itu di depan rental.

Dan kemudian. Whusssssh,….. aku ngebut di tengah jalan itu. Maksud kami, mau lewat Kedondong biar ngga kena lampu merah. Dan pas kami belok, kata Ayu bapak itu mau lurus dan pas lihat kami belok ikutan belok juga. Astaghfirullah. Kami langsung saja sembunyi di dalam masjid sampai waktu yang kami sendiri ngga bisa tentukan. Dan bapak itu, dari motornya melihat kami dari jendela masjid. Saat itu baru ketakutan muncul dari diriku. Ngga tahu musti ngapain, mau telpon orang rumah tapi juga takut. Akhirnya Ayu telpon kakak laki-lakinya suruh jemput kami di Al Ma’ruf. Ternyata kakaknya masih lama jemputnya. Sementara kami tahu kalau di Alma’ruf pasca isya itu sepi banget. Bapak itu sih ngga ada lagi, tapi yang kami takutkan adalah, ketika kami keluar lingkungan masjid dan bertemu bapak itu lagi, dan kami diikuti. Hupppfffftttt menyeramkan.

Alhamdulillah ba’da isya aku melihat orang yang ku kenal. Dan langsung saja minta bantuan beliau, menemani kami berdua sebetar sampai kakaknya Ayu datang. Ngga lama, eeehhhh bapak itu muncul lagi. Kami berdua ketakutan lagi. Benar-benar ketakutan dan paranoid. Ngga tahu deh, entah di pelototin, atau dilihatin, bapak itu sadar kalau kami sudah punya bala bantuan, dan akhirnya,… bapak itu pergi.

Kami di iringi pake motor sampai rentalan Mba Oki lagi. Menunggu kakaknya Ayu di sana, dan kemudian kakaknya Ayu mengikutiku sampai rumah, dan kami bisa tidur dengan tenang di rumah.

Aduh,… kami berdua salah apa ya….?
Astaghfirullah…………………



18.7.09

Bidadari Seorang Pendiri Pergerakan

Muslimah Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah.

----------


Tidak mudah menjadi istri seorang Hasan Al Banna. Seseorang yang setiap detik kehidupannya sarat dengan kegiatan dakwah. Di pagi buta dia sudah bergegas untuk memulai berdakwah dan kembali pulang di gelap malam. Bisa dipastikan ia adalah seorang muslimah sejati, yang bisa mengisi kekosongan-kekosongan yang ditinggalkan oleh Imam Syahid Al Banna.

Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah. Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu hal yang main-main, bukan hanya sekedar dakwah seperti kebanyakan orang waktu itu. Bukan hanya sekedar membangun rumah kardus. Imam syahid tengah dan hendak membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah terwujud, tanpa seseorang yang ia yakini kesejatiannya.

Maka siapapun itu-pendampingnya-harus menyadari bahwa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan yang di emban oleh Imam Syahid. Ada dimensi waktu dan kuasa kapital disitu. Maka pertemuan diyakini menjadi suatu hal yang mahal bagi Imam Syahid dan istrinya.

Maka bagi Lathifah As Suri menjadi istri Hasan Al Banna menyimpan begitu banyak geregap. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah menyadari bahwa ia harus siap jika sewaktu-waktu dia harus menjalani hidup sendiri tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.

Dakwah Ikhwah yang dipimpin oleh suaminya banyak meminta resiko yang bukan main-main. Penjara bahkan nyawa menjadi konsekuensi logis, yang sewaktu-waktu siap menyapanya.

Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktivitas luarnya. Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka berdua adalah dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.

Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak heran jika ia menyadari betul tuntutan hidup menjadi istri seorang dai.

Malam, ia harus rela untuk terbangun menyambut kepulangan suaminya. Walau tak jarang Imam Syahid berlaku sangat hati-hati, bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari terkasihnya yang telah seharian mengurus rumah dan anak-anak mereka berdua. Imam Syahid bahkan tak segan untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.

Lathifah tidak pernah mengeluh, walau sehari-harinya hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah menuntut lebih kepada Imam Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia seorang istri Imam Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak-anak mereka yang berjumlah enam orang sesungguhnya adalah pencurahan konsentrasinya menjalani hidup. Satu-satunya yang pernah membuat dirinya gamang adalah, ketika salah satu anak mereka sakit keras dan Imam Syahid harus tetap menjalankan jihadnya. Ia bertanya kepada suaminya,"Bagaimana jika ia meninggal?". Imam Syahid hanya menarik napas panjang, ia kemudian berujar "Kakeknya lebih tau bagaimana mengurusnya."

Sejak dini, Lathifah menanamkan wawasan keislaman kepada anak-anaknya. Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya mereka tidak terpengaruh dengan seruan-seruan destruktif. Ketika Imam Syahid bolak-balik keluar penjara, Lathifah berusaha bersabar dan komitmen.

Lathifah sangat menyadari peran dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak2nya. Ia bahagia melihat anak-anaknya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.

Ketika Hasan Al-Banna syahid, anak-anaknya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tak ada kesah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang dikehendaki oleh mendiang suaminya. Ia tetap berlaku didalam rumah. Lathifah tidahk meremehkan hudud (batasan) yang Allah tentukan. Karenanya, tak heran diantara anak-anaknya tidak ada ikhtilat (percampuran) antara anak-anaknya dan sepupunya yang berlainan jenis.

Tidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam Syahid inginkan berlaku dikeluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah. Sendirian, ia besarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu memperdalam wawasan keislamannya.Yang dimaksud dengan wawasan keislamannya adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW, haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. LAthifah juga masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita seputar dunia Islam. Lathifah menyadari menyepelekan masalah ini akan memunculkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan keislamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran Islam. Dengan melalui pemahaman keislaman yang baik, seorang wanita akan menyadari betapa penting perannya terhadap keluarga dan masyarakat.

Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya sukses meraih predikat formal dalam pendidikan ilmiah. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, kini sebagai sekjen advokat di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlemen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai dosen di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini menjadi dokter. Dan Halah sebagai dosen kedokteran anak di Universitas Azhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami. Selain juga untuk anak-anaknya, tentu.

**********************

Sekedar info tambahan:

Hasan Al Banna syahid diusianya yang masih muda, sekitar 40 tahunan. Setelah seberondong timah panas ditembakkan oleh musuh-musuh Islam di sebuah jalan di Kairo.

Sebenarnya Hasan Al Banna masih bisa diselamatkan, tapi karena konspirasi politik para musuh Islam yang dipimpin oleh sang pengkhianat la'natullah Gamal Abden Naser, membuat tubuh Hasan Al Banna yang sedang sekarat dibiarkan tak berdaya, tanpa bantuan dari siapapun juga, termasuk dokter-dokter di Rumah Sakit.

Akhirnya sang pendiri Ikhwanul Muslimun itu pun syahid menemui kekasih tercintanya, Rabbnya.

Musuh-musuh Islam pun banyak yang tertawa dan berpesta dengan syahidnya sang Imam, tapi sesungguhnya Hasan Al Banna tidak pernah pergi meninggalkan pengikutnya.

Allah terlalu mencintai hamba-Nya yang satu ini, sehingga memanggilnya terlebih dahulu.

Hal yang memilukan adalah, meskipun Ikhwanul Muslimun mempunyai puluhan ribu pengikut, tapi tak seorangpun yang diijinkan untuk mensholati jenazah beliau, kecuali ayahnya yang sudah udzur, saudara perempuan dan istrinya.

by. aisyahragil
http://myquran.org/forum/index.php/topic,58637.0.html

KEPADA SAUDARIKU …

Ini adalah sepucuk surat buat segenap ukhti yang beriman kepada Alloh dan hari akhir. Buat segenap wanita… baik sebagai ummi, ukhti, istri maupun binti…yang oleh Alloh Ta’ala telah diberi amanah memelihara tanggung jawabnya masing-masing… niscaya di hari kiamat kelak akan menanyakan apa yang menjadi tangggung jawab anti semua.

Buat segenap remaja putri yang mengimani Alloh… buat siapa saja yang hari ini menjadi ukhti… kemudian esok bakal menjadi istri dan selanjutnya menjadi ummi.


Wahai wanita yang mengimani Alloh sebagai Rabb-nya, Islam sebagai dien-nya dan Muhammad sebagai nabi serta rasulnya. Mudah-mudahan engkau pernah membaca seruan nan luhur dari Alloh: “Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan suara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap berada di dalam rumahamu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan Rasul-Nya… (Al Ahzab: 32-33)

Itulah seruan Alloh kepada siapa saja yang memahami firman-Nya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan wanita yang mukmin apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang saiap yang mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dalam kesesatan yang nyata. (Al Ahzab: 36)

Wahai ukhti… bacalah dan jangan terperdaya. Engkau hidup di zaman dimana kehinaan telah menguasai keutamaan. Karena itu berhati-hatilah terhadap mode-mode busana menyolok para wanita telanjang, mode-mode yang menjadi salah satu penyebab kejahatan dan kerusakan.

Wahai ukhti… janganlah engkau terperdaya oleh para dajjal, turis-turis yang menyerukan tabarruj dan buka-bukaan. Mereka adalah musuh-musuhmu wahai putri Islam-khususnya- dan musuh para kaum muslimin pada umumnya.

Wahai ukhti… sebenarnya Alloh telah menurunkan ayat-ayatNya yang telah jelas, supaya dengan melaksanakan tuntunan-tuntunan syari’at yang ada di dalamnya, engkau menjadi terpelihara dan tersucikan dari kotoran-kotoran jahiliyah yang hari ini, musuh-musuh Islam, para penyeru kebebasan, berusaha keras untuk sekali lagi mengembalikan kaum wanita ke abad jahiliyah dengan bersembunyidi bawah cover Peradaban, Modernisasi dan Kebebasan.

Namun sebenarnya orang-orang gila itu lupa dan tidak pernah memperhatikan bahwa wanita muslimah tidak mungkin akan dapat menerima pembebasan dirinya lepas dari pengabdiannya kepada rabb-Nya untuk kemudian jatuh menjadi mangsa bagi budak-budak tentara iblis.

Wahai putri Islam…para penyeru tabarruj dan buka-bukaan amat berambisi untuk melepaskan hijabmu, mereka berlomba-lomba ingin mengeluarkanmu dari rumah-rumahmu dengan dalih emansipasi.

Sayang seribu kali sayang, ternyata banyak wanita yang telah keluar rumah dengan pakaian yang menampakan ketelanjangannya (berpakaian tapi telanjang). Mereka berjalan berlenggak-lenggok, sanggul kepalanya seperti punuk onta, menggugah kelelakian kaum lelaki dan membangkitkan letupan-letupan nafsu seksual yang mestinya terpendam.

Wahai putri fitrah… janganlah engkau tertipu dengan semboyan peradaban yang sebenarnya hanya akan menjajakan wanita sebagai barang dagangan yang ditawarkan kepada siapa saja yang menghendakinya. Jangan pula engkau tertipu dengan tipu daya yang tak tahu malu. Alloh berfirman: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh, tidaklah mereka mengikuti melainkan hanya persangkaan belaka dan tidaklah mereka melainkan hanya berdusta. (Al An’am: 116)

Pada busana sebatas lutut engkau bergegas? Demi Alloh, sungai manakah yang kan engkau seberangi ?

Seolah pakaian masih panjang di pagi hari

Namun kian tersingsing saat demi saat

Engkau sangka kamu laki-laki itu tanpa rasa ?

Sebab engkau mungkin tak lagi punya rasa ?

Tidak malukah engkau terhadap pandangan-pandangan mata itu ?

Aduhai ukhti… ! bacalah dan jangan terperdaya! Malukah engkau untuk bertaqwa dan berbusana iman ? Sementara engkau tiada malu untuk bertabarruj dan buka-bukaan ?

Wahai ukhti…, adakah akan merugikanmu penghinaan kaum juhala (orang-orang yang bodoh) itu selama kita berada di atas al haq sedang mereka di atas al bathil ?

Tidakkah engkau dengar firman Alloh: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulunya di dunia menertawakan orang-orang yang beriman. Dan bila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka mereka saling mengedip-edipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali dengan gembira. Dan jika mereka melihat orang-orang mukmin mereka berkata: ‘Sungguh mereka itu benar-benar orang yang sesat’, padahal orang-orang yang berdosa itu tiada dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang–orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al Muthafifin: 29-36)

Wahai ukhti… siapa yang kelak tertawa di akhirat niscaya dia akan banyak tertawa.

Atau engkau pernah berfikir bahwa hijabmu itu akan menghalanginya untuk mendapatkan seorang suami?

Hai ukhti… Demi Alloh! Pikiran itu hanyalah waswasah (bisikan) syetan.

Tidakkah engaku tahu bahwa Alloh telah menetapkan bagi wanita pasangannya masing-masing? Maka karena itu dengarkan firman-Nya: “Perempuan-perempuan buruk (jahat) untuk pasangan laki-laki yang buruk (jahat). Laki-laki yang buruk untuk pasangan perempuan-perempuan yang buruk pula. Dan perempuan-perempuan yang baik untuk pasangan laki-laki yang baik untuk pasangan perempuan-prempauan yang baik.” (An Nur: 26)

Oleh sebab itu mestinya engkau jangan ridha kecuali jika menjadi pedamping seorang suami yang baik, yang berpegang teguh pada ajaran diennya dan selalu merasa diawasi oleh Rabbnya.

Suami seperti inilah yang engkau bakal merasa aman bagi jaminan hidup masa depanmu. Lihatlah! Di sana banyak sekali putri-putri sebangsamu yang terjebak dalam tipu daya kehidupan Romantisme dan Cinta menyesatkan. Ternayata banyak di antara mereka kemudian gagal dalam menempuh jalan hidupnya…. Begitu tragis.

Alloh berfirman: “…barang siapa yang bertqwa kepada Alloh niscya Alloh butakan baginya jalan keluar dan niscaya Dia akan memberinya rizki dari jalan (arah) yang tiada disangka-sangkanya.” (At Thalaq: 2-3)

Tapi bagaimanakah engkau sanggup berbusana seperti ini di tengah musim panas dan teriknya sengatan matahari ?

Wahai putri fitrah… sesungguhnya di dalam iman terdapat rasa manis bagi jiwadan rasa tentram bagi dada. Kalau engkau tahu bahwa neraka jahannam itu lebih panas niscaya segala rasa panas dunia akan, menjadi ringan bagimu.

Ketahuilah, sungguh seringan-ringannya orang yang disiksa di neraka pada hari kiamat aialah seseorang yang di bawah telapak kakinya diletakkan sepotong ‘bara’ dari api neraka, tetapi dari sepotong bara di bawah kakinya itu kan mendidih otaknya…

Waspadalah akan godaan-godaan syetan. Dengan demikain apakah gerangan yang menyebabkanmu berpaling dari seruan Alloh? Dunia dan perhiasannyakah …?

Bacalah firman-Nya: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaianan, perhiasan dan bermegah-megahan anatar kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam-tanamannya itu mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu melihat warnanya menjadi kuning kemudian manjadi hancur. Dan akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunaan dari Alloh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenagan yang menipu.” (Al Hadid: 20)

Atau adakah engaku kini sedang bergembira ria dengan para pemuda dan dengan dunia kecantikan, seraya engaku katakana: “Nantilah saya akan berhijab kalau umurku sudah tua” ?

Ketahuilah –semoga Alloh menunjuki kita semua- bahwa apa yang engku gembirakan itu adalah nikmat Alloh sebab; “Apa-apa yang ada padamu dari suatu nikmat maka ia adalah datangnya dari Alloh.” (an Nahl: 53)

Mestinya engkau wajib bersyukur kepada Alloh dengan cara mentaati-Nya.

betapa banyak remaja yang hari-harimnya penuh tawa…

padahal kain-kain kafan t’lah siap untuknya

sedang ia tak mengira betapa banyak temanten putri dihias ‘tuk sang suami tiba-tiba nyawa melayang di malam taqdir

Wahai ukhti… kembalilah segera kepada nilai-nilai dan prinsip Islam, niscaya harga diri dan kehormatanmu akan terjaga di hadapan siapa saja. Angkatlah kemuliaanmu wahai ukhti dengan cara menutup aurat dan berhijab. Semoga Alloh memberi taufik kepada kita semua untuk bisa melakukan apa yang dicintai dan diridahi-Nya. Akhirnya akau memohon pada Alloh agar Ia menjadikan amalan kita ikhlas karena wajah-Nya. (Syeikh Faris Al Jabushi)

http://www.van.9f.com/kepada_saudariku.htm

15.7.09

Kupu-Kupu Jingga


Aku menarik napas pelan dan ku hembuskan perlahan juga. Berkali-kali kuusir kantukku dengan meminum segelas teh yang sudah tidak hangat lagi. Kulirik jam dinding sekilas. Pukul tiga lewat tujuh menit. Satu soal lagi harus ku selesaikan.

Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dari kamarku. Kalau malam begini, frekuensi bunyi yang kecil jadi mudah terdengar. Sepertinya ibu sedang bersiap untuk qiyamul lail. Aku pengen shalat juga, tapi lagi ngga bisa.

Alhamdulillah selesai tugasku, meskipun harus membutuhkan waktu setengah jam untuk mengerjakannya. Ku kendorkan urat-urat tangan yang sedari tadi tak berhenti menulis. Kusandarkan punggungku pada dinding sebelum aku bersiap untuk melabuhkan diri dalam mimpi. Dari kamar sebelah, ku dengar lantunan doa dipanjatkan ibu. Syahdu dan menusuk kalbuku. Tak terasa airmata meleleh mendengar suara lemah ibu mengalunkan doa.


“Ya Allah, berikan yang terbaik untuk ketiga anakku.
Kasihanilah mereka dan berika limpahan hidayah kepada merka.
Maafkanlah aku yang tidak bisa memberikan penghidupan yang layak bagi mereka.

Pulangkanlah anakku yang terlupa jalan rumahnya.
Ingatkanlah mereka yang hilang asanya.
Kuatkan langkah mereka,…….”

Aku ingin sekali memeluk ibu sekarang juga. Rasanya doa tadi mampu meluluhkan sedikit rasa lelahku akan perjuangan yang setiap harinya aku tempuh.

‘Maafkan aku bu, sering kali aku mengeluh atas beban yang diletakkan pada pundakku’

Dan aku merebahkan diri ke pangkuan malam yang semakin larut yang tak sabar berganti peran dengan fajar.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Rasa kantukku sudah tidak bisa lagi di tawar. Sudah dua malam ini tidurku tidak karuan. Dan tadi malam hanya berhasil terlelap satu jam dan tidak ada tidur lagi sampai sekarang. Dosen sudah pergi sedari tadi dan teman-teman sekelas pun sudah berhamburan keluar. Tapi, sejam lagi ada kuliah lain. Aku butuh tidur sekarang. Tapi tidur dimana?

Kuputuskan untuk tidur sejenak di mushalla. Dan akhirnya akupun menuntun kaki ini ke arah bangunan kecil yang letaknya agak jauh dari kelasku. Sesampainya di mushalla, terlihat cukup sepi. Biasanya jam sebelas begini mushalla memang sepi, karena akhwat-akhwat yang biasa disini masih berjibaku pada kuliahnya masing-masing. Langsung saja aku mengambil posisi di pojok belakang dekat lemari mukenah. Merebahkan punggungku dan bersiap untuk tidur sejanak.

Sayup-sayup ku dengar langkah dua orang akhwat muncul dan menghampiriku yang setengah tidur dan berbicara berdua.

(+) : “Siapa yang lagi tidur ukh?”

(-) : “Ngga tau siapa.”

“Oh, ukhti Ratna.”

(+) : “Wah lama ngga lihat beliau di mushalla.”

(-) : “Iya, begitu muncul, Cuma numpang tidur.”


Glek. Pembicaraan itu tiba-tiba menghilangkan rasa kantukku. Namun, kubiarkan mata ini terpejam begitu saja. Aku tahu dari suaranya siapa kedua akhwat itu. Tapi sudahlah, mereka tidak tahu kondisiku seperti apa. Kalau mereka tahu, mungkin tak akan pernah kata-kata tadi terucap dari bibir mereka. Kumaafkan atas ketidaktahuan mereka.

Aku harus tidur sekarang walaupun hanya sepuluh menit saja. Karena aku tidak akan punya waktu lagi untuk sekedar memejamkan mata. Setelah kuliah siang ini, aku harus ke rental untuk kerja sampai jam tujuh malam. Selanjutnya, berpindah lagi ke tempat fotokopian, kerja disana sampai jam setengah sepuluh malam.

Aku bukan workaholic, tapi memang aku harus bekerja. Seperti dua malam tadi, selepas pulang dari jadwal kerja biasanya, aku harus menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan sore ini sehingga tugas kuliahku sendiri baru bisa kekerjakan jam satu tadi malam. Maka, akupun benar-benar tidak punya waktu untuk berorganisasi di kampus meskipun aku ingin sekali melakukannya. Aku harus kerja. Kalau tidak, aku tidak tahu dengan apa aku mampu membayar uang kuliah dan makan sehari-hariku dengan ibu.

Ibuku sudah tua dan sakit-sakitan. Bulan kemarin, usianya sudah 59 tahun. Sementara bapak, sudah meninggal sepuluh bulan yang lalu karena suatu kecelakaan yang sangat tragis. Semenjak itulah, aktivitasku berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi yang namanya syuro, rapat dan aktivitas organisasi karena waktuku tersita untuk kuliah dan bekerja.

Aku sebenarnya punya dua orang kakak. Kakak pertama laki-laki bernama Rahman, yang sudah dua tahun merantau ke Sumatera dan tidak pernah memberi kabar. Terakhir aku dengar beritanya dari seorang teman lamanya yang mampir ke rumah, bahwa dia sudah menikah dengan anak bossnya. Sungguh tega dia. Tidak memberi kabar tentang pernikahannya, bahkan untuk pulang menghadiri pemakaman bapaknya pu tidak. Betapa hancur hati ibuku mendengar berita pernikahannya. Dia adalah anak kesayangan ibu yang selalu dibanggakan ibu setiap saat. Aku jadi teringat legenda Malin Kundang. Tapi aku sangat yakin, tidak akan pernah keluar sumpah atau kutukan dari suara lembut ibuku untuknya. Ibu terlalu baik untuk melakukannya.

Sementara kakak keduaku pun sudah meninggalkan rumah sebulan setelah kematian bapak. Mbak Ratih sekarang kost didekat pabrik tempatnya bekerja. Dan aku, tidak pernah cocok denagn kakak perempuanku itu. Katanya, dia selalu mengirimkan uang kepada ibu setiap bulan. Tapi aku heran, karena setahuku, kehidupan kami ya dari penghasilanku bekerja. Setiap kali aku menanyakan ini padanya, mbak Ratih selalu saja menyangkal dan bilang selalu memberi uang pada ibu dan akhirnya kami bertengkar. Aku tidak tahu harus percaya ibu atau kakakku itu.

Suara sms dari handphoneku benar-benar telah membuatku membuka mata. Dari ibu. Ada kebahagiaan tersendiri bagiku telah berhasil mengumpulkan uang dan menghadiahi sebuah handphone untuk ibu dihari ulang tahunnya kemarin.

Sudah makan nak? Makan dulu. Nanti sakit.

Dan kuputuskan untuk pergi ke kantin, memesan teh hangat dan sepiring nasi campur, sebagai amunisi untuk hariku hari ini yang masih panjang.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


“Umurmu sudah dua puluh ya Na.” Kata ibu suatu malam.

“Iya, sudah tua ya. Emang kenapa Bu?” Jawabku sembari sibuk menyisir rambut ibuku yang sudah banyak ubannya.

Malam itu, kami berdua duduk di depan televisi di ruang keluarga kami yang kecil dan bercat krem. Ditemani cahaya lampu dan bunyi jam dinding yang beradu dengan suara pemain sinetron, yang tergantung pada tembok di belakang televisi. Tak ada hiasan apapun di rumah kecil kami, kecuali foto pernikahan ibu dan bapak terpajang di sebelah kanan jam dinding. Dan di sebelah kirinya, terdapat fotoku bertiga kakakku sewaktu kecil. Waktu memang tidak dapat diputar untuk merasakan suasana hangat ketika kami dulu masih berkumpul berlima disini, bertahun-tahun yang lalu.

“Ibu pengen cucu Na. kamu cepat nikah sana”

“Waduh Ibu. Nana masih kecil. Suruh mba Ratih aja tuh nikah. Nana ma kuliah dulu.”

“Mbakmu ngga bisa diharapkan Na. Apalagi Rahman. Kalau ibumu menginggal, apa dia mau ngantar jenazah Ibu ke makam ya.”

“Hush Ibu, ngga boleh ah ngomong begitu. Kalau Ibu ngga ada, Nana sama siapa?” Dan tanganku sekarang bergerak-gerak mengepang rambut panjang ibu.

“Makanya kamu nikah cepat biar ada temannya.”

“Ibu ah, Nana malu nih. Nanti aja ya bu dipikirinnya. Hehehe.”

“Jagain Mbakmu ya Na. Ibu sudah ngga bisa jagain dia.”

“Harusnya kan dia yang jagain Nana ya Bu.”

Mendadak sunyi. Meskipun suara bising dari televisi memenuhi udara di sekeliling kami, namun beberapa saat tak ada percakapan antara aku dan ibu. Dan aku kembali berbicara.

“Bu, Nana malam ini tidur sama Ibu ya.”



Dan aku menangis mengingat percakapan dengan ibu semalam. Secepat kilat aku memacu motorku menelusuri jalan raya yang begitu padat siang ini. Tahukah kau apa yang terjadi?

‘Ibu, tunggu aku……’

Aku telah sampai di lorong rumah sakit. Berlari menuju kamar UGD. Kutahan teriakan yang sejak tadi meraung-raung di alam tak sadarku.

Ibu. Kulihat badannya terbujur kaku. Selang-selang bertebaran dan banyak perban menempel. Kudengar napasnya pelan keluar dari hidungnya. Ibu. Kudengar bibir halusnya mencoba melafadzkan kalimat syahadat. Aku ingin teriak. Aku ingin pingsan. Entah berapa liter airmata telah ku keluarkan sedari tadi. Aku tidak sanggup kehilangan ibu.

Kutuntun ibu perlahan mengucapkan kalimat itu. Meskipun sakit hati ini melihatnya. Dan….

Laa ilaaha illallaah , Muhammad Rasuulullaah.

Ilahi, Ibuku telah pergi. Sama kejadiannya dengan perginya bapakku. Menginggal karena korban tabrak lari. Ya Allah, semua yang berasal dari Mu akan kembali pada Mu.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Aku mengamatinya mengemas barang. Seminggu setelah kepulangan ibu kami, tak kuduga akan secepat ini Mbak Ratih akan kembali meninggalkanku. Aku ingin marah. Aku ingin beradu mulut dengannya. Tapi, aku ingat pesan almarhumah ibu untuk menjaganya. Aku tidak tahu apakah aku akan sanggup memenuhinya, setelah sebelumnya aku tidak berhasil memenuhi keinginan ibu untuk menghadirkan Kak Rahmad pada pemakamannya.

Kuperhatikan dengan sendu kakak perempuanku ini. Wajahnya pualam dan cantik. Bahkan aku pernah iri karena dia banyak mewarisi kecantikan ibu sementara aku tidak. Namun sangat disayangkan bahwa kecantikannya tidak ditutupi dan dijaga denagn sempurna. Celana jeans ketat, kaos kuning dengan lengan menggantung dan jilbab yang melilit lehernya, namun memperlihatkan poninya itu, tak mampu lagi menyembunyikan identitas Mbak Ratih di mataku. Aku sudah tahu semua, meskipun terlambat aku mengetahuinya, setelah ibu tiada.

“Mbak mau pergi juga?” Akhirnya kukeluarkan suara. Meskipun aku tahu keberadaanku sedari tadi sudah disadarinya.

“Mbak mau kerja lagi. Kalau ngga kerja, kamu mau makan apa?” Jawabnya sembari asyik memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar. “Rumah sakit juga belum di bayar kan?”

“Rumah sakit biar Ratna yang bayar. Mbak ngga usah kerja lagi. Biar Ratna yang kerja. Toh selama ini Ibu sama Ratna bisa hidup dengan tangan Ratna sendiri tanpa bantuan Mbak.” Kataku sembari menahan sekuat tenaga airmata yang hendak keluar.

“Heh, berapa kali sih aku musti bilang sama kamu kalau aku yang menghidupi kalian!” Kali ini dia berbicara sambil menatapku sinis. “Kamu kira aku ini kerja buat siapa hah? Anak kecil ngga tahu diri! Baru punya gaji recehan aja sudah mentang-mentang ya!”

Dan dia menyenggolku sembari keluar kamar denagn tas besarnya. Dan berlalu, menuju pintu rumah yang masih terbuka. Beberapa langkah dia mulai keluar dari pintu, aku berteriak memanggilnya.

“Mbak tunggu…………!!”

Aku berlari menuju kamar ibu yang sekarang menjadi kamarku. Mengambil tas yang lumayan besar yang tersimpan rapi di lemari ibu. Dan kemudian berdiri di hadapan kakakku.

“Ini,… Diambil lagi barang kakak.” Akhirnya aku menangis juga. “Masih utuh, ngga ada disentuh Ibu sedikitpun. Kalau kakak ngga percaya…… Silahkan dihitung sendiri….”

Kulihat wajah putih kakakku menjadi pucat. Seakan tidak percaya dan sembari menghitung lembaran-lembaran uang yang setelah ku hitung kemarin nominalnya tidak sedikit. Dua puluh juta rupiah.

Saat aku menyadarinya kemarin, barulah ku tahu siapa kakakku yang sebenarnya. Tidak perlu aku membuktikan dengan mata kepalaku sendiri, karena aku yakin bahwa firasat yang kuat dari seorang ibu tidak mampu dibohongi oleh jilbab kecil yang sengaja dililitkannya ketika pulang ke rumah ini.

“Ibu tidak pernah akan mau menyuapkan sepeserpun barang haram pada kami. Apa kakak tidak ingat?”

Aku melihat airmata yang keluar dari mata indah mbak Ratih. Mata yang kian lama semakin kulihat memudar cahayanya.

“Ibu minta Ratna menjaga Mbak……”

Langit senja berwarna jingga menjadi saksi kepergiannya. Sayup-sayup terdengar adzan dari masjid yang berada tidak jauh dari rumah kami. Dan akupun tidak sanggup menahan kepergian Mbak Ratihku. Sang kupu-kupu malam akan kembali ke sarangya, dan aku hanya mampu berdiri sekuat tenaga, tak mampu menghentikan langkahnya.

Namun, kulihat dari sorot matanya, masih ada iman itu di dada. Aku tinggal berjuang semampuku untuk mengembalikannya dan menjaga amanah ibu. Kupu-kupu itu senja berwarna jingga. Jangan biarkan warnanya memudar dan menjadi gelap, segelap pekatnya malam. Ya Allah, adakah secercah harapan pada kehidupannya?

“Kupu-kupu jangan pergi…
Terbang dan tetaplah disini…
Bunga-bunga menantimu…
Rindu warna indah dunia…

Anak kecil tersenyum manis…
Pandang tarianmu indah…
Bahagia dalam nyanyian…
Kupu-kupu jangan pergi…”



*Samarinda, 150709, 12.30*

terinspirasi dari

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [Q.S. 66:6]


Udang Goreng Crispy

Assalamualaikum,…

Menu hari ini adalah Udang Goreng Crispy. Menu dasarnya didapat dari Umi, waktu tadi sore masak bareng di rumah beliau, dan sedikit dimodifikasi. Berhubng mangsaknya bukan di dapur sendiri, jadi ga pede untuk foto-foto,….


Bahan-bahan:

500 gram udang, kupas
1 buah jeruk ipis
1 buah serai

1 ruas jahe
1 ruas lengkuas
1 sdm garam
1 sdt gula
8 gram penyedap rasa ayam
250 gram tepung

Cara Membuat:

Cuci udang ayam dengan air. Pada pencucian terakhir, gunakan perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis. Bilas sekali lagi.

Memarkan serai, lengkuas dan jahe.

Panaskan air sebanyak satu gelas. Rebus sampai mendidih udang beserta bumbu yang dimemarkan. Tambahkan garam dan gula. Tiriskan.

Campurkan tepung dan penyedap rasa beserta air sedikit. Lumuri udang dengan tepung.

Panaskan minyak di atas kompor, goreng udang diatas api sedang. Angkat hingga kuning kecokelatan. Sajikan.




Model Pembelajaran yang Efektif bagi Penderita Autisme

Oleh : Nur Annissa Rahmah



Abstract: sometime we cannot comprehend world owned by autistic child. though, given the and see through their world, we earn to know what they want and how effective study model for them. and the mportant things is we earn to develop;build effective communications to assist them, even we earn to alter friend life become normal return. education is medium able to alter personality of someone . by comprehending education method to child of autis, hence we will make way to their world and can draw up them to face life like other normal child in general. The main factor that be notice for successful of curing management or helping the development of autistic children, was connected with the appropriation to certain specification of a problem with the weakness / lack on the children that must be identificated. Without the clear and appropriate information about the ability ang lack kevel on examination, will cannot be made an effective and appropriate program to help the development of the children.
Key word: the meaning of authistic, approach of study for authistic.


Pengertian Autisme dan Autistik

Istilah Autisme berasal dari kata "Autos" yang berarti diri sendiri "Isme"
yang berarti suatu aliran. Berarti suatu paham yang tertarik hanya pada
dunianya sendiri. Autisme juga suatu keadaan di¬mana seseorang anak berbuat semau¬nya sen¬diri baik cara berfikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda, biasanya sekitar usia 2-3 tahun.

Au¬tisme bisa mengenai siapa saja, baik sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak-anak atau¬pun de¬wasa dan semua etnis (Faisal Ya¬tim da¬lam Kasih, 2006).
Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut
komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak
sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudah
ada sejak lahir. Penyandang autisme seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Istilah autisme baru diper¬kenalkan sejak tahun 1913 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan itu sudah ada sejak berabad-abad yang lampau. Au¬tisme bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) di¬mana terjadi penyimpangan per¬kem¬bangan sosial, kemam¬puan berbahasa, dan kepedulian terhadap se¬kitar sehingga a¬nak autisme seperti hidup da¬lam dunia¬nya sen¬diri (Handojo, 2003).
Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental,
sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk
bidang-bidang tertentu (savant).

Karakteristik Penderita Autisme
Anak autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang:
1. Komunikasi:
o Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.
o Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian sirna,
o Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
o Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain
o Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi
o Senang meniru atau membeo (echolalia)
o Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya
o Sebagian dari anak ini tidak berbicara ( non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa
o Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu
2. Interaksi sosial:
o Penyandang autistik lebih suka menyendiri
o Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan
o tidak tertarik untuk bermain bersama teman
o Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh
3. Gangguan sensoris:
o sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk
o bila mendengar suara keras langsung menutup telinga
o senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda
o tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut
4. Pola bermain:
o Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya,
o Tidak suka bermain dengan anak sebayanya,
o tidak kreatif, tidak imajinatif
o tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya di putar-putar
o senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda,
o dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana
5. Perilaku:
o dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif)
o Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke pesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang
o tidak suka pada perubahan
o dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong
6. Emosi:
o sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan
o temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya
o kadang suka menyerang dan merusak
o Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri
o tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain


Pendekatan Pembelajaran
Ada beberapa model pendekatan pembelajaran bagi penderita autisme. Pendekatan pembelajaran tersebut didapat melalui pendidikan formal dan pendidikan di rumah. Pendidikan di rumah tersebut adalah pendidikan atau pengajaran yang diberikan secara khusus oleh orang tua dengan metode yang berbeda sebagai bekal awal bagi anak yang menderita autistik. Pendidikan tersebut berupa terapi-terapi khusus.
Sebelum/sembari mengikuti pendidikan formal (sekolah). Anak autistik dapat dilatih melalui terapi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak antara lain:
1. Terapi Wicara: Untuk melancarkan otot-otot mulut agar dapat berbicara lebih baik.
2. Terapi Okupasi : untuk melatih motorik halus anak.
3. Terapi Bermain : untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain.
4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy) : untuk menenangkan anak melalui pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.
5. Terapi melalui makan (diet therapy) : untuk mencegah/mengurangi tingkat gangguan autisme.
6. Sensory Integration therapy : untuk melatih kepekaan dan kordinasi daya indra anak autis (pendengaran, penglihatan, perabaan)
7. Auditory Integration Therapy : untuk melatih kepekaan pendengaran anak lebih sempurna
8. Biomedical treatment/therapy : untuk perbaikan dan kebugaran kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphine, allergen, dsb)
9. Hydro Therapy : membantu anak autistik untuk melepaskan energi yang berlebihan pada diri anak melalui aktifitas di air.
10. Terapi Musik : untuk melatih auditori anak, menekan emosi, melatih kontak mata dan konsentrasi.
Terapi-terapi di atas dapat diberikan oleh terapis yang berpengalaman, namun ada baiknya peran serta orang tua sangatlah diperlukan disini, dan hendaknya perlakuan dan kasih sayang orang tua akan memberikan efek yang sangat baik bagi perkembangan mental anak. Peran orang tua dan guru/terapis dalam mengembangkan po¬tensi amak secara menyeluruh sangatlah besar. Dibutuhkan usaha dan kerja keras tanpa henti serta kesediaan untuk men-coba berbagai cara untuk menggali potensi anak dan mengem¬bang¬kannya se¬optinal mungkin.
Pendekatan pembelajaran bagi penderita autistik adalah sebagai berikut:
A. Program Intervensi Dini:
1. Discrete Trial Training dari Lovaas: Merupakan produk dari Lovaas dkk pada Young Autistikm Project di UCLA USA, walaupun kontroversial, namun mempunyai peran dalam pembelajaran dan hasil yang optimal pada anak-anak penyandang autistik. Program Lovaas (Program DTT) didasari oleh model perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) yang merupakan faktor utama dari program intensive DTT. Pengertian dari Applied Behavioral Analysis (ABA), implementasi dan evaluasi dari berbagai prinsip dan tehnik yang membentuk teori pembelajaran perilaku (behavioral learning), adalah suatu hal yang penting dalam memahami teori perilaku Lovaas ini. Metode ini dipilih karena beberapa alasan, antara lain karena metode ini sangat terstruktur sehingga dengan mu¬dah dapat diajarkan kepada tera¬pis yang akan menangani anak autis. Materi yang akan diajarkan dengan metode ini juga telah tersedia walaupun harus diter¬jemahkan dan disesuaikan dari bahasa Inggris ke ba¬hasa Indonesia.
Teori pembelajaran perilaku (behavioral learning) didasari oleh 3 hal:
• Perilaku secara konseptual meliputi 3 term penting yaitu antecedents/perilaku yang lalu, perilaku, dan konsekwensi.
• Stimulus antecendent dan konsekwensi sebelumnya akan berefek pada reaksi perilaku yang muncul.
• Efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap antecendent dan konsekwensi. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang positif sebagai kunci dalam merubah perilaku. Sehingga perilaku yang baik dapat terus dilakukan, sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time out, hukuman, atau dengan kata tidak).
Dalam teknisnya, DTT terdiri dari 4 bagian yaitu:
• stimuli dari guru agar anak berespons
• respon anak
• konsekwensi
• berhenti sejenak,dilanjutkan dengan perintah selanjutnya
2. Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Program for preschooler and parents)
Intervensi LEAP menggabungkan Developmentallly Appropriate Practice (DAP) dan teknik ABA dalam sebuah program inklusi dimana beberapa teori pembelajaran yang berbeda digabungkan untuk membentuk sebuah kerangka konsep. Meskipun metoda Ini menerima berbagai kelebihan dan kekurangan pada anak-anak penyandang autistik, titik berat utama dari teori dan implementasi praktis yang mendasari program ini adalah perkembangan sosial anak. Oleh sebab itu, dalam penerapan ini teori autistik memusatkan diri pada central social deficit. Melalui beragamnya pengaruh teoritis yang diperolehnya, model LEAP menggunakan teknik pengajaran reinforcement dan kontrol stimulus. Prinsip yang mendasarinya adalah :
1. Semua anak mendapat keuntungan dari lingkungan yang terpadu
2. Anak penyandang autistik semakin membaik jika intervensi berlangsung konsisten baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat
3. Keberhasilan semakin besar jika orang tua dan guru bekerja bersama-sama
4. Anak penyandang autistik bisa saling belajar dari teman-teman sebaya mereka
5. Intervensi haruslah terancang, sistematis, individual
6. Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dan yang normal akan mendapat keuntungan dari kegiatan yang mencerminkan DAP. Kerangka konsep DAP berdasarkan teori perilaku, prinsip DAP dan inklusi.
3. Floor Time:
Pendekatan Floor Time berdasarkan pada teori perkembangan interaktif yang mengatakan bahwa perkembangan ketrampilan kognitif dalam 4 atau 5 tahun pertama kehidupan didasarkan pada emosi dan relationship (Greenspan & Wieder 1997a). Jadi hubungan pengaruh dan interaksi merupakan komponen utama dalam teori dan praktek model ini.
Greenspan dkk mengembangkan suatu pendekatan perkembangan terintegrasi untuk intervensi anak yang mempunyai kesulitan besar (severe) dalam berhubungan (relationship) dan berkomunikasi, dan tehnik intervensi interaktif yang sistematik inilah yang disebut Floor Time. Kerangka konsep program ini diantaranya:
• relationship
• acuan (milestone) sosial yang spesifik
• hipotetikal tentang autistik
4. TEACCH (Treatment and Education of Autistik and Related Comonication Handicapped Children)
Divisi TEACCH merupakan program nasional di North Carolina USA, yang melayani anak penyandang autistik, dan diakui secara internasional sebagai sistem pelayanan yang tidak terikat/bebas. Dibandingkan dengan ketiga program yang telah dibicarakan, program TEACCH menyediakan pelayanan yang berkesinambungan untuk individu, keluarga dan lembaga pelayanan untuk anak penyandang autistik. Penanganan dalam program ini termasuk diagnosa, terapi/treatment, konsultasi, kerjasama dengan masyarakat sekitar, tunjangan hidup dan tenaga kerja, dan berbagai pelayanan lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang spesifik. Para terapis dalam program TEACCH harus memiliki pengetahuan dalam berbagai bidang termasuk, speech pathology, lembaga kemasyarakatan, intervensi dini, pendidikan luar biasa dan psikologi. Konsep pembelajaran dari model TEACCh berdasarkan tingkah laku, perkembangan dan dari sudut pandang teori ekologi, yang berhubungan erat dengan teori dasar autisme.
Untuk program terapi intervensi dini Erba dalam American Journal of Orthopsychiatry yang dilansir pada Januari 2000, empat program intervensi dini bagi anak autistik, yaitu Discrete Trial Training (DTT), Learning Experience an Alternative Program for preshoolers and parents (LEAP), Floor Time, dan Treatment and Education of Autistic and related Communication handicapped CHildren (TEACCH).
Program DTT adalah program individu yang berdasarkan kekurangan pada anak (child’s deficits), namun program intervensinya mengikuti suatu bentuk kurikulum standar. “Meski profil anak menentukan program awal, tetapi semua anak harus menguasai bahan yang sama untuk semua perintah,” kata Tri Gunadi.
Pada program Lovaas, orangtua diminta menyediakan 10 jam dari 40 jam terapi setiap minggunya dan orangtua dilatih dalam melakukan prosedur terapi. Pada Floor Time orangtua juga dilatih selaku terapis, dan program didasari kekurangan anak itu sendiri(child’s deficits). Baik DTT dan Floor Time dilakukan terutama dirumah. Sebaliknya intervensi dini pada TEACCH dan program LEAP dilakukan di lingkungan sekolah (center) dengan dukungan konsultatif dan bantuan untuk program dirumah.

Para orangtua harus turut serta secara aktif dalam program terapi, tetapi tidak diminta untuk melakukan intervensi one on one untuk anak-anaknya. TEACCH didasari kelebihan anak, sedangkan LEAP didasari kelemahannya. Semua program menekankan pentingnya program intensif, namun besar waktu intervensi berkisar antara 15 sampai 40 jam per minggu.
Anak autistik yang mendapatkan program intervensi dini dan terapi penunjang lainnya, dipersiapkan secara baik dalam kelas transisi serta mendapat kesempatan ikut serta dalam pendidikan lanjutan. Tapi, hal itu seharusnya didukung oleh semua pihak, baik guru, teman-teman sekelas, orangtua mereka, serta lingkungan dan masyarakat sekitar.


Layanan Pendidikan Lanjutan
Pada anak autistik yang telah diterapi dengan baik dan memperlihatkan keberhasilan yang menggembirakan, anak tersebut dapat dikatakan "sembuh" dari gejala autistiknya. Ini terlihat bila anak tersebut sudah dapat mengendalikan perilakunya sehingga tampak berperilaku normal, berkomunikasi dan berbicara normal, serta mempunyai wawasan akademik yang cukup sesuai anak seusianya. Pada saat ini anak sebaiknya mulai diperkenalkan untuk masuk kedalam kelompok anak-anak normal, sehingga ia (yang sangat bagus dalam meniru/imitating) dapat mempunyai figur/role model anak normal dan meniru tingkah laku anak normal seusianya.
1. Kelas Terpadu sebagai kelas transisi
Kelas ini ditujukan untuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadu dan terrstruktur, dan merupakan kelas persiapan dan pengenalan akan pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa, tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak autistik ( kelas kecil dengan jumlah guru besar, dengan alat visual/gambar/kartu, instruksi yang jelas, padat dan konsisten, dsb).
Tujuan kelas terpadu adalah untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler, sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya
Prasyarat:
1. Diperlukan guru SD dan terapis sebagai pendamping, sesuai dengan keperluan anak didik (terapis perilaku, terapis bicara, terapis okupasi dsb)
2. Kurikulum masing-masing anak dibuat melalui pengkajian oleh satu team dari berbagai bidang ilmu ( psikolog, pedagogi, speech patologist, terapis, guru dan orang tua/relawan)
3. Kelas ini berada dalam satu lingkungan sekolah reguler untuk memudahkan proses transisi dilakukan ( mis: mulai latihan bergabung dengan kelas reguler pada saat olah raga atau istirahat atau prakarya dsb)
2. Program inklusi (mainstreaming)
Program ini dapat berhasil bila ada:
1. Keterbukaan dari sekolah umum
2. Test masuk tidak didasari hanya oleh test IQ untuk anak normal
3. Peningkatan SDM/guru terkait
4. Proses shadowing/dapat dilaksanakan Guru Pembimbing Khusus (GPK)
5. Idealnya anak berhak memilih pelajaran yang ia mampu saja (Mempunyai IEP/Program Pendidikan Individu sesuai dengan kemampuannya)
6. Anak dapat tamat (bukan lulus) dari sekolahnya karena telah selesai melewati pendidikan di kelasnya bersama-sama teman sekelasnya/peers.
7. Tersedianya tempat khusus (special unit) bila anak memerlukan terapi 1:1 di sekolah umum
Anak autistik mempunyai cara berpikir yang berbeda dan kemampuan yang tidak merata disemua bidang, misalnya pintar matematika tapi tidak suka menulis dsb.
Kesulitan-kesulitan anak pada bulan-bulan pertama antara lain:
1. Kesulitan berkonsentrasi
2. Anak belum dapat mengikuti instruksi guru
3. Perilaku anak masih sulit diatur
4. Anak berbicara/mengoceh atau tertawa sendiri pada saat belajar
5. Timbul tantrum bila tidak mampu mengerjakan tugas
6. Komunikasi belum lancar dan tidak runtut dalam bercerita
7. Pemahaman akan materi sangat kurang
8. Belum mau bermain dan berkerjasama dengan teman-temannya
Pada bulan-bulan pertama ini sebaiknya anak autistik didampingi oleh seorang terapis yang berfungsi sebagai shadow/guru pembimbing khusus (GPK). Tugas seorang shadow guru pembimbing khusus (GPK) adalah:
1. Menjembatani instruksi antara guru dan anak
2. Mengendalikan perilaku anak dikelas
3. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi
4. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya
5. Menjadi media informasi antara guru dan orangtua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya.
Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam mendampingi anak penyandang autistik pada saat diperlukan, sehingga proses pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Guru kelas tetap mempunyai wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya peraturan yang berlaku.
3. Sekolah Khusus:
Pada kenyataannya dari kelas Terpadu terevaluasi bahwa tidak semua anak autistik dapat transisi ke sekolah reguler. Anak-anak ini sangat sulit untuk dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi di sekeliling mereka. Beberapa anak memperlihatkan potensi yang sangat baik dalam bidang tertentu misalnya olah raga, musik, melukis, komputer, matematika, ketrampilan dsb. Anak-anak ini sebaiknya dimasukkan ke dalam Kelas khusus, sehingga potensi mereka dapat dikembangkan secara maksimal.
Contoh sekolah khusus: Sekolah ketrampilan, Sekolah pengembangan olahraga, Sekolah Musik, Sekolah seni lukis, Sekolah Ketrampilan untuk usaha kecil, Sekolah komputer, dlsb.
4. Program sekolah dirumah (Homeschooling Program):
Adapula anak autistik yang bahkan tidak mampu ikut serta dalam Kelas Khusus karena keterbatasannya, misalnya anak non verbal, retardasi mental, masalah motorik dan auditory dsb. Anak ini sebaiknya diberi kesempatan ikut serta dalam Program Sekolah Dirumah (Homeschooling Program). Melalui bimbingan para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orangtua dan orang-orang disekitarnya, dapat dikembangkan potensi/strength anak. Kerjasama guru dan orangtua ini merupakan cara terbaik untuk mengeneralisasi program dan membentuk hubungan yang positif antara keluarga dan masyarakat. Bila memungkinkan, dengan dukungan dan kerjasama antara guru sekolah dan terapis di rumah anak-anak ini dapat diberi kesempatan untuk mendapat persamaan pendidikan yang setara dengan sekolah reguler/SLB untuk bidang yang ia kuasai. Dilain pihak, perlu dukungan yang memadai untuk keluarga dan masyarakat sekitarnya untuk dapat menghadapi kehidupan bersama seorang autistik.

Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar merupakan interaksi antara siswa (anak autistik) yang belajar dan guru pembimbing yang mengajar. Dalam upaya membelajarkan anak autistik tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak autistik harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak autistik pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak autistik.
Komponen-komponen yang harus ada dalam kegiatan belajar mengajar adalah :
1. Anak didik yakni anak autistik dan anak-anak yang masuk dalam spektrum autistik.
2. Guru pembimbing. Seorang guru pembimbing anak autistik harus memiliki dedikasi, ketelatenan, keuletan dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak autistik.

Prinsip-prinsip Pendidikan dan Pengajaran
Pendidikan dan pengajaran anak autistik pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Terstruktur
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik diterapkan prinsip terstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Struktur pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik meliputi :
• waktu
• ruang, dan
• kegiatan
b. Terpola
Kegiatan anak autistik biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpola dan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.
Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang, dapat dilatih dengan memakai jadwal yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). Diharapkan pada akhirnya anak lebih mudah menerima perubahan, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (adaptif) dan dapat berperilaku secara wajar (sesuai dengan tujuan behavior therapi).
c. Terprogram
Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evaluasi. Prinsip ini berkaitan erat dengan prinsip dasar sebelumnya. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak, sehingga apabila target program pertama tersebut menjadi dasar target program yang kedua, demikian pula selanjutnya.
d. Konsisten
Dalam pelaksanaan pendidikan dan terapi perilaku bagi anak autistik, prinsip konsistensi mutlak diperlukan. Artinya : apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap susatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), begitu pula apabila anak berperilaku negatif (Reniforcement) Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda (maintenance) secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya.
Konsisten memiliki arti "Tetap", bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal, ruang, dan waktu. Konsisten bagi guru pembimbing berarti; tetap dalam bersikap, merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu anak autistik. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. Orang tua pun dituntut konsisten dalam pendidikan bagi anaknya, yakni dengan bersikap dan memberikan perlakukan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan dirumah.
e. Kontinyu
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Maka prinsip pendidikan dan pengajaran yang berkesinambungan juga mutlak diperlukan bagi anak autistik. Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, therapi perilaku dan pendidikan bagi anak autistik harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu).
3. Kurikulum
Dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik tentunya harus berdasarkan pada kurikulum pendidikan yang berorientasi pada kemampuan dan ketidak mampuan anak dengan memperhatikan deferensiasi masing-masing individu.
4. Pendekatan dan Metode
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik menggunakan Pendekatan dan program individual. Sedangkan metode yang digunakan adalah merupakan perpaduan dari metode yang ada, dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Metode dalam pengajaran anak autistik adalah metode yang memberikan gambaran kongkrit tentang "sesuatu", sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang "sesuatu" tersebut.

Faktor Penentu Keberhasilan Pendidikan dan Pengajaran bagi Anak Autistik.
Tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak autistik dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Berat/ringannya kelainan/gejala
2. Usia pada saat diagnosis
3. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa
4. Tingkat kelebihan (streng) dan kekurangan (weakness) yang dimiliki anak.
5. Kecerdasan/IQ
6. Kesehatan dan kestabilan emosi anak
7. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru, kurikulum, metode, sarana pendidikan, lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat).

Kesimpulan
Setiap manusia dilahirkan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Anak dengan perlakuan khusus seperti penderita autisme juga membutuhkan pendidikan dan pembelajaran yang akan menunjang kebutuhaknnya akan ilmu pengetahuan.
Fungsi seorang pendidik dalam menangani penderita autisme adalah selain sebagai seorang guru, juga menjadi partner dalam proses berlangsungnya penyembuhan dan penanganan anak tersebut.
Tujuan utama dari memahami model pembelajaran ini terhadap anak yang khusus (autis) adalah mengurangi gejala perilaku yang mem¬pengaruhi fungsi perkem¬bangan anak dan mendorong mengem¬bangkan fungsi perkembangan anak seperti me¬ngem¬¬bangkan kemampuan ber¬bahasa, ting¬kah laku, penyesuaian diri, sosia¬lisasi, dan ke¬tra¬m¬pilan bina diri. Jika guru dan orang tua akan me¬ngembangkan pro¬gram, maka terlebih dahulu tentukan tujuan yang akan dicapai dan dilihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai anak.

Daftar Pustaka
http://arcivmetri.wordpress.com/2008/08/15/desain-ruang-terapi-bagi-anak-autis/
http://autismadiun.blogspot.com/
http://lavender2night.multiply.com/journal/item/15/KEBIJAKAN_PELAYANAN_Pendidikan_Bagi_Anak_Autis
http://puterakembara.org/index.shtml
http://rizkyp13.multiply.com/journal/item/14/INFORMASI_MENGENAI_AUTISME
http://unhalu.ac.id/staff/La_Tahang/?p=30
http://www.borobudurbiz.com/
http://www.ditplb.or.id
http://www.whandi.net/index.php




12.7.09

Resensi: Menuju Jama’atul Muslimin,


Judul Buku : Menuju Jama’atul Muslimin, Telaah Sistem Jama’ah dalam Gerakan Islam
Pengarang : Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA
Alih Bahasa : Aunur Rafiq Shaleh Tahmid, Lc
Penerbit : Robbani Press
Cetakan Ke : 5
Tahun Terbit : Juli 2007
Tebal Buku : 427 Halaman

Isi Buku :

Sinopsis

Buku “Menuju Jama’atul Muslimin” ini terdiri dari tiga bab utama. Bagian pertama menjelaskan mengenai Struktur Organisasi Jama’atul Muslmin. Sebelumnya, mengenai konsep jama’ah, dijelaskan bahwa jama’ah diartikan dengan sejumlah besar manusia atau sekelompok manusia yang berhimpun untuk mencapai tujuan yang sama. Dijelaskan berdasar pada tinjauan syari’at Islam yang menunjukkan betapa pentingnya wujud jama’atul muslimin, dimulai dengan pembahasan mengenai umat Islam, baik menurut bahasa maupun berdasarkan letak geografis.

Menurut bahasa, Umat Islam mempunyai banyak arti diantaranya kaum, jama’ah, dan golongan manusia. Pengarang al Mufradat fi Dalalatiha al-‘Arabiyah mengartikan umat adalah setiap jama’ah yang disatukan oleh sesuatu hal; satu agama, satu zaman, atau satu tempat. Baik faktor pemersatu itu dipaksakan ataupun berdasarkan atas pilihan.
Sedangkan berdasarkan secara geografis, titik tolak pembebasan tanah air umat Islam dimulai dari kawasan Darul ‘Adl yaitu Darul Islam. Negara yang bisa disebut sebagai negara Islam yang sebenarnya ialah negara yang dikuasai oleh kekuasaan negara keadilan (darul ‘adl) yaitu negara yang menegakkan Islam dan melindungi hukum-hukumnya serta dipimpin oleh seorang khalifah pemegang imamah. Batas-batas tanah air Islam ini meluas sesuai dengan meluasnya kekuasaan darul ‘adl, meliputi negeri-negeri darul Islam secara umum. Selanjutnya, pemerintahan-pemerintahan Islam ini seluruhnya harus tunduk kepada satu pemerintahan pusat yang dikepalai oleh seorang imam. Jika negeri-negeri itu tidak diperintahkan dengan syari’at Allah oleh para penguasa Islam, serta tidak tuntuk kepada satu kekuasaan pusat, maka tidak bisa disebut darul ‘adl. Batas-batas bagi negara Islam dan tanah airnya meliputi seluruh belahan bumi. Setiap belahan bumi yang tidak diperintah dengan Islam, maka merupakan negeri yang dirampas dan harus dikembalikan kepadanya.
Umat Islam mempunyai akar sejarah yang sangat tua yakni sejak pertama manusia di atas bumi hingga datang penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad saw. Umat ini, sepanjang sejarahnya telah menempuh dua periodisasi yakni, pertama sebelum diutusnya Muhammad saw dan kedua dimulai dengan Muhammad saw. Pada periode ini da’wah mulai beralih dari kerangka kekauman yang terbatas, kepada kerangka kemanusiaan yang bersifat umum. Ummat Muhammad yang meliputi segenap manusia terbagi menjadi dua, yakni ummat yang menyambut dan menerima da’wah Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam secara kaffah. Golongan ini disebut sebagai umat yang menerima da’wah. Kedua yakni golongan yang tidak mau menerima da’wah Muhammad saw, dan tidak masuk Islam secara kaffah. Golongan ini menjadi ummat yang harus dida’wahi.
Karakteristik umat Islam dan sendi-sendi utama umat Islam adalah aqidahnya yang bersih dari segala bentuk kemusyrikan, universalitas dan integralitas aqidah, Rabbaniyah, kesempurnaan, keterbatasan dari kekurangan, kepertengahannya, dan fungsinya sebagai saksi atas manusia. Adapun unsur kesatuan ummat Islam adalah kesatuan aqidah, kesatuan ibadah, kesatuan adat dan perilaku, kesatuan sejarah, kesatuan bahasa, kesatuan jalan, kesatuan dustur, dan kesatuan pimpinan.
Selanjutnya dibahas mengenai urgensi syura sebagai lambang tertinggi yang darinya lahir berbagai kebijaksanaan sebagai manifestasi political will umat Islam. Sejalan dengan itu tak mungkin diwujudkan sebuah syura meliputi seluruh umat tanpa adanya imamah atau sistem kepemimpinan. Imam menurut bahasa ialah setiap orang yang dianut oleh suatu kaum, baik mereka berada di jalan lurus atau sesat. Ar Razi dalam tafsirnya mendefinisikan Imam yaitu setiap orang yang diajdikan teladan dalam masalah agama. Berdasarkan ayat-ayat al Qur’an dan pendapat para ulama bahasa, tafsir, dan aqidah, jelas semuanya sepakat bahwa imam adalah lafazh yang berarti kepemimpinan tertinggi di antara mereka; ke atas pundaknya diletakkan tanggung jawab kebaikan mereka dalam agama dan dunia. Imam Mawardi menyebutkan tujuh orang yang layak menjadi imam harus memenuhi persyaratan berikut, yakni ‘adalah (bermoral Islami) berikut semua persyaratannya, ilmu yang dapat mengantarkan kepada ijtihad dalam berbagai kasus dan hukum, sehat panca indera seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, supaya dapat mengetahui sesuatu secara langsung, tidak memiliki cacat anggota badan yang akan menghalangi kesigapan gerak dan kecekatan kerja, mempunyai pandangan yang dapat membawa kepada kebijakan rakyat, memiliki keberanian dan kegigihan untuk melindungi kawan dan memerangi lawan, berketurunan dari Quraisy. Mengenai syarat yang ketujuh ini, para ulama masih memperselisihkannya. Namun banyak hadits yang menunjukkan kemungkinan munculnya khilafah dari selain Quraisy, sekaligus merupakan khilafah yang sah (syar’i) dalam umat Islam di mana seseorang tidak boleh keluar darinya karena hanya bukan dari Quraisy.
Dengan segala karakteristik positifnya telah terbentuk, ditambah lagi denagn adanya lembaga syura yang berjalan di dalam kerangak sebuah imamah, berarti pada saat itulah sebuah jama’atul muslimin telah eksis dengan segala makna hakikatnya.
Tujuan Jama’atul Muslimin, yakni terdiri dai tujuan khusus bagi umat Islam, yakni, pembentukan pribadi-pribadi muslim, pembentukan rumah tangga muslim, pembentukan masyarakat muslim, penyatuan umat. Adapun tujuan umum, yakni agar seluruh manusia mengabdi kepada Allah swt, agar senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, agar menyampaikan da’wah Islam kepada segenap umat manusia, agar menghapuskan fitnah dari segenap muka bumi, agar memerangi segenap umat manusia sehingga mereka bersaksi dengan persaksian yang benar.

Adapun bagian kedua buku ini yakni membahas jalan menuju jama’atul muslimin. Bagian ke dua ini diawali dengan pembahasan mengenai hukum Islam, karena berdirinya jama’atul muslimin erat kaitannya dengan hukum-hukum Islam tersebut. Sejak da’wah Islam dibawah pimpinan Rasulullah saw mulai digelar di Makkah, turunlah pengarahan-pengarahan Rabbani sesuai dengan keperluan jama’ah dan tuntutan tahapan yang dihadapi oleh jama’ah. Dalam kaitannya dengan jama’ah Islam yang sedang berupaya menegakkan kembali Jama’atul Muslimin dalam kehidupan umat Islam, pengarahan Rabbani dan sunnah Nabawiyah telah diturunkan secara sempurna. Sehingga setiap muslim dan jama’ah Islam dituntut melaksanakan seluruh pengarahan Rabbani dan sunnah Nabawi secara utuh. Hukum Islam dari segi hakikat dan caranya terbagi dua, yakni substansi hukum dan cara pelaksanaan hukum. Kedua bagian hukum ini, dari segi pelakunya, terbagi dua, yakni hukum-hukum yang khusus bagi Muslim sebagai individu dalam umat Islam, dan hukum-hukum yang khusus bagi jama’ah sebagai jama’ah dari umat Islam. Jama’ah umat Islam adalah kelompok atau golongan yang membawa da’wah untuk menegakkan Jama’atul Muslimin pada masa ketiadaannya.
Ajaran Islam bersifat syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh-sempurna-dan saling menyempurnakan). Oleh karena Muslim memiliki kemampuan sektoral dan terbatas, tidak mungkin Islam akan tegak secara utuh manakala kaum Muslimin menerapkannya secara individual, namun harus diterapkan secara jama’i (kolektif). Jika Jama’atul Muslimin kita nyatakan tidak ada di masa sekarang ini, maka harus diupayakan jalan menuju terbentuknya Jama’atul Muslimin yaitu dengan adanya jama’ah dari sebagian umat Islam (jama’atun minal Muslimin) yang mengupayakan perwujudannya.
Rasulullah saw sejak masa-masa pertama diturunkan wahyu Ilahi menyadari bahwa tugas mulia ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh satu orang manusia tetapi memerlukan suatu jama’ah yang kuat. Dalam perjalanan kepada Rabb-nya, Nabi Ibrahim as mengumumkan hakikat yang merupakan syarat kemenangan da’wah ini, yaitu menegakkan jama’ah yang akan membawa da’wah dan membelanya. Jika jama’ah ini tidak tegak, maka tidak akan pernah kemenangan dagi da’wah. Hakikat ini pun telah dipahami Rasulullah saw sejak awal masa da’wahnya. Dan hakikat ini pula yang harus dipahami oleh setiap da’i Islam. Rasulullah saw mengungkapkan pentingnya jama’ah ini bagi keberhasilan da’wah, dan menyatakan bahwa jama’ah inilah yang akan menentukan eksis atau tidaknya da’wah Islam. Jika telah jelas hakikat ini dari Sirah Rasulullah saw dan kewajban ini pun telah dipahami oleh para da’i Islam, maka setiap Muslim yang menyadari kewajiban da’wah Islam atas dirinya dan ingin bergerak untuk da’wah ini, wajib menjadikan langkah pertamanya dalam kehidupan ini sebagaimana langkah Rasulullah, yaitu mencari jama’ah, atau mewujudkannya, untuk membantunya melaksanakan kewajiban da’wah yang amat berat tersebut.
Adapun rambu-rambu dari sirah Nabi falam menegakkan jama’ah berisi enam karakteristik pokok sebuah jama’ah yaitu:
1. Menyebarkan prinsip-prinsip da’wah
Dalam tahapan ini Rasulullah menempuh dua jalan yakni dengan melakukan kontak pribadi, seperti dilakukan Beliau kepada Khadijah ra dan Ali bin Abi Thalib. Dakwah Islam perlu menempuh jalan ini dalam keadaan permulaan da’wah dan pada saat pemerintah yang berkuasa melarang para aktivis da’wah melakukan aktivitas da’wah secara terang-terangan. Jalan selanjutnya yakni melakukan kontak umum. Cara ini disebut tahapan da’wah secara terang-terangan.
2. Pembentukan da’wah
Pembentukan (takwin) da’wah ini merupakan tindak lanjut dari ramu pertama Sirah Rasulullah saw baik dalam kontak pribadi maupun kontak jama’i. Sisi penataan dalampembinaan jama’ah kadang berlangsung pada tahapan iitishal fardi (kontak priadi) pada rambu pertama, ayitu tahapan sirriyah, dan kadang berlangsug pada tahapan ittishal jama’I (kontak umum) atau kadang berlangsung pada kedua tahapan tersebut.
3. Konfrontasi bersenjata terhadap musuh da’wah
Karakter rambu pertama adalah membagi manusia menjadi dua bagian kelompok pertama, kelompok yang menerima prinsip-prinsip da’wah, menjadi bagian dari rambu kedua, yaitu harus dibina dan dibentuk denagn prinsip-prinsip da’wah, sedangkan kelompok kedua, yakni kelompok yang menentang prinsip-prinsip da’wah menjadi bagian dari rambu ketiga, yaitu harus dihadapi dengan kekuatan senajta agar mereka mau menyerah kepada kekuatan da’wah. Hal itu dilakukan setelah ditegakkan hujjah yang nyata atas mereka pada rambu pertama, berupa penyebaran pikiran-pikiran dan ajaran-ajaran da’wah. Fungsi rambu ketiga ini ialah mempertahankan kelompok yang masuk ke dalam takwin.
4. Sirriyah dalam kerja membina jama’ah
Faktor-faktor yang menajmin keberlangsungan proses pembinaan jama’ah meliputi tiga hal, yakni sirriyah dalam gerak pembinaan jama’ah, bersabar atas segala kesulitan, dan menghindari konfrontasi melawan kebatilan dalam dua tahapan awal yakni penyebaran dan takwin. Maksud sirriyah dalma kerja membina jama’ah ialah membatasi pengetahuan program kerja pada lingkungan pimpinan. Setiap individu dalam kerja sirri ini tidak boleh mengetahui tugas anggota lain, tetapi harus mengatahui tugas pribadinya. Sirriyah merupakan “kotak” tempat menyimpan program amal jama’i dan “tirai” yang menutupi dan melindungi program tersebut. Sirriyah adalah suatu prinsip yang sangat penting dan harus dipegang teguh sepanjang gerakan pembinaan jama’ah, terutama pada tahap-tahap pertama, agar tidak dipukul dalam usia bayi. Sirriyah hanya menyangkut aspek penataan (tanzhim) saja, bukan menyangkut aspek pemikiran atau nilai-nilai Islam yang harus dikemukakan. Para da’i harus memperhatikan rambu ini dan meng-utamakannya dalam gerak mereka. Karena ia merupakan “kunci” keamanan yang akan melindung amal jama’i dari intaian mata-amta musuh yang mengawasinya.
5. Bersabar atas gangguan musuh
Di antara faktor terpenting yang dapat melindungi dtruktur jama’ah pada tahapan takwin ialah kesabaran seluruh anggoa jama’ah dan keberhasilan merekan meredam emosi dalam menghadapi setiapgangguan dan ejekan musuh. Berulang-ulangnya perintah bersabar pada ayat-ayat Makiyah, menunjukkan pentingnya sifat ini dalam memelihara eksistensi jama’ah, terutama pada tahapan takwiniyah.
6. Menghindari medan pertempuran
Kitman (perahasiaan) dan sabar belum cukup ntuk melindungi jama’ah dari gangguan, karena perbedaan kemampuan manusia dalam menerapkan kedua hal tersebut. Juga karena sebagian besar ajaran Islam pasti akan nampak pada par pelakunya dalam bentuk sikap dan perilaku. Karena itu, pimpinan yang bijaksana segera membuat faktor yang lebih aman untuk melindungi jama’ah tersebut. Denagn terpeliharanya eksistensi jama’ah maka akan tercapai kemenangan Islam dan tersebar ajaran-ajarannya. Tetapi jika jama’ah ini hancur, akan menagkibatkan bekunya hukum-hukum Islam dan terhapusnya ajaran-ajarannya. Menjauhi medan pertempuran dalam tahapan takwiniyah merupakan upaya perlindungan bagi pelaksanaan ibadah kepada Allah.
Setelah penjelasan mengenai rambu-rambu jalan menuju terbentuknya Jama’atul Muslimin, berikut dijelaskan tabiat jalan tersebut, yakni jalan ujian dan cobaan. Tabiat jalan ini telah banyak disimpulkan menjadi dua kategori, yakni jalan kebaikan dan keburukan. Tujuan tabiat jalan ini adalah membentuk manusia yang baik melalui perbuatan-perbuatannya, agar dengan demikian pergerakan manusia di atas bumi ini pun menjadi baik. Roda pergerakan manusia di permukaan bumi ini tidak mungkin dapat berjalan seperti yang diinginkan Allah kecuali jika diambil dan dipegang oleh tangan-tangan yang telah digembleng dengan tarbiyah yang dikehendaki Allah, dan tidak mungkin dapat mengetahui ‘tangan-tangan’ yang layak tersebut kecuali setelah melalui berbagai ujian saringan. Ujian-ujian itulah yang disebut tabiat jalan. Dan tangan-tanagn yang layak itulah yang ditetapkan sebagai tujuan dari tabiat jalan yang penuh berkah ini.

Pada bagian ketiga, penulis membahas mengenai jama’ah-jama’ah terpenting yang aktif di medan da’wah Islam. Perjuangan Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, dilakukan melalui perjuangan individual (amal fardi) dan melalui per-juangan kolektif (amal jama’i). Ditinjau dari tujuannya, perjuangan kolektif terbagi dalam beberapa bagian, yakni:
a. Perjuangan kolektif ayng tujuannya langsung menegakkan khilafah.
Kelompok ini antara lain, Hizbut Tahrir, Da’wah Ikhwanul Muslimin, Partai Masyumi.
b. Perjuangan kolektif yang tujuan langsungnya da’wah sosial,budaya, dan sufi.
Kelompok ini antara lain Anshar as-Sunnah, Jama’ah Tabligh
c. Perjuangan kolektif yang sudah bubar, sementara yang lain tetap dapat mempertahankan diri.
Dalam pembahasan selanjutnya dibahas mengenai empat kelompok jama’ah sebagai sampel pembahasannya, masing-masing memiliki kecenderunagn yang berbeda. Dalam kaidah penilaian atas jama’ah-jama’ah Islam, kriteria yang menjadi referensi dalam penilaian terhadap organisasi tersebut adalah Islam. Dengan Islam ditinjau tujuan-tujuannya, sarana-sarana untuk mencapai tujuan, serta pemikiran dan karakteristiknya.
Pertama, Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah yang didirikan di Kairo 1345 H yang orientasi dakwahnya kepada seruan sosial dan ilmu pengetahuan. Kedua, Hizbut Tahrir yang didirikan di Yordania pada 1378 H yang orientasi dakwahnya pada seruan politik (as-siyasi). Ketiga, Jama’ah Tabligh yang didirikan di India yang berorientasi pada seruan sufiyyah. Keempat, yang tulisan tentangnya dan aktivitasnya ditulis di akhir karena tlisan tentang itu sangat banyak, yakni Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir pada 1347 H. Penulis menganggap bahwa jama’ah ini mewakili gerakan da’wah yang memiliki karakteristik syamil (menyeluruh). Tidak hanya memperhatikan aspek sosial dan ilmu pengetahuan semata, melainkan juga aspek sufiyyah dan siyasiyyah bahkan juga meliputi aspek harakiyyah dan jihadiyyah (pergerakan dan jihad).
Pada akhirnya, karakteristik jalan menuju penegakan khilafah Islamiyah amatlah sulit, sebelum mendapatkan pertolongan dari Allah, penuh dengan berbagai macam hal yang tidak disukai oleh nafsu. Setelah mendapat pertolongan Allah dihiasi dengan berbagai macam syahwat. Yang dituntut adalah tetap teguh berpijak kepada kebenaran dalam kedua situasi tersebut, yakni situasi bala’ dan bujukan. Ada banyak jama’ah Islamiyah yang telah menempuh jalan ini. Di antara jama’ah tersebut ada yang tujuan dan sarananya terbatas sehingga tidak mengantarkannya kepada tujuan yang diharapkan. Menurut syari’at Islam ia tertolak. Ada juga jama’ah yang tujuan dan sarananya lengkap, mencerminkan kesempurnaan dan keluhuran Islam dan diterima menurut syari’at Islam. Jama’ah yang memiliki kesempurnaan dan kekomprehensifan dalam tujuan dan sarananyalah yang layak mendapat loyalitas dan dukungan setiap Muslimin.

Penilaian Terhadap Buku

Setelah membaca buku yang berjudul “Menuju Jama’atul Muslimin, telaah sistem jama’ah dalam gerakan Islam” ini, terdapat beberapa penilaian mengenai konten buku tersebut. Buku karangan Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA ini merupakan hasil thesis yang diajukan beliau untuk meraih gelar MA di universitas Islam di Madinah. Karena merupakan hasil thesis, adapun konten dalam isinya merupakan hasil penelitian yang didalamnya terdapat berbagai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berangkat dari penilaian tersebut, saya dalam menilai buku ini murni merujuk pada tulisan yang disampaikan penulis berdasarkan fakta yang disampaikan beliau dalam buku ini.
Saya sampaikan penilaian bahwa buku ini layak untuk dibaca, bahkan penting untuk kita semua sebagai pengemban risalah dakwah. Didalamnya dijelaskan mengenai pentingnya berjamaah dan berpegang teguh pada tali agama Allah secara amal jama’i. dengan alurnya yang pas, penulis menyajikan di muka yakni hakikat makna umat Islam beserta ciri-ciri dan kesatuan yang dimilikinya, dijelaskan juga konsep syura dan imamah yang sangat erat kaitannya dengan konsep jama’ah yang dijadiakn topik oleh penulis. Selanjutnya dijelaskan mengenai jalan menuju jama’atul muslimin yang dimulai dari penjelasan mengenai hukum-hukum Islam dan penegasan bahwa tidak ada parsialisasi dalam menegakan ajaran Islam, dengan demikian berarti pengertian syumuliyyah benar-benar ingin diterapkan dalam kehidupan. Dan pengertian ini juga sejalan dengan alur yang dibawa oleh penulis pada esensi dari buku ini bahwa untuk mewujudkan jama’atul Muslimin diperlukan suatu wadah atau jama’ah yang dalam pencapaian tujuannya harus benar-benar sesuai dengan konsep syumuliyyah tersebut.
Adapun keunggulan dalam buku ini adalah penulis menyampaikan pemikiran dan gagasannya disertai fakta-fakta dan di dalam buku ini juga disertai lampiran-lampiran yang penting sebagai penguat atau bukti atas informasi yang diberikannya. Selain itu, dalam menuliskan urgensi-urgensi pembahasan yang di ulas, penulis juga menyertakan dalil-dalil baik dari al-Qur’an maupun Hadits, serta banyak dikaitkan dengan sirah Rasulullah maupun kisah Nabi-Nabi lainnya yang termaktub dalam Nash al-Qur’an maupun Hadits. Dalam ulasannya tentang jama’ah-jama’ah yang dijadikan contoh atau wakil dari objek penelitiannya, disertakan juga keterangan-keterangan yang terdapat dari dokumen-dokumen maupau buku yang bekaitan denagn jama’ah tersebut. Kelebihan lain yang saya analisis dari buku ini adalah dalam menilai atau meneliti jama’ah-jama’ah tersebut, tidak berdasarkan atas perilaku orang atau pelaku jama’ah tersebut, bahkan ditulis secara khusus alasannya karean akan menjadi tidak objektif penilaiannya apabila didasarkan atas perbuatan pelaku jam’ah tersebut, mengingat keterbatasan manusia yang kadang kala dapat berbuat salah ataupun khilaf. Namun, dalam penelitiannya, penulis menyandarkan pada tujuannya, sarana-sarana untuk mencapai tujuan, serta pemikiran dan karakteristiknya.
Pada bagian akhir buku, penulis memberikan hasil penelitian dan penilainanya terhadap jama’ah objek penelitiannya tersebut. Saya pribadi, menyerahkan penilaian akhir mengenai ending buku ini kepada masing-masing pembaca untuk dapat terlibat dalam amal jama’i sesuai dengan jalan yang dipilih oleh pembaca. Namun, besar harapan penulis maupun saya, agar buku ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang penting dalam menentukan langkah pembaca dalam menilai dan mewujudkan Jama’atul Muslimin di muka bumi ini.




Tumis Kacang Panjang vs Usus Ayam







Bahan-bahan:

500 gram usus ayam (yang sudah dibersihkan)
1 buah jeruk ipis
1 ikat kacang panjang
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
5 buah cabe hijau
1 sdm garam
1 sdt gula
8 gram penyedap rasa ayam
3 sdm saus tiram

Cara Membuat:

Cuci usus ayam dengan air sebanyak tiga kali. Pada pencucian terakhir, gunakan perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis. Bilas sekali lagi.

Kemudian potong-potong usus ayam sepanjang 3 cm. Potong juga kacang panjang sepanjang 3 cm dan cuci juga kacang panjang hingga bersih.

Iris halus bawang merah, bawang putih, dan cabe.

Panaskan minyak dalam kompor berapi sedang. Kemudian masukkan bawang dan cabe yang telah diiris tipis. Setelah agak layu, masukkan kacang panjang, aduk rata.

Masukkan usus ayam, aduk rata.

Masukkan garam, gula dan penyedap rasa. Tunggu agak lama, masukkan saus tiram, aduk.

Tunggu kira-kira 20 menit atau sampai kacang panjang layu dan mengering, lalu angkat. Sajikan.





Assalamualaikum,…

Akhirnya berhasil juga ngepost masakan. Ini resep masakan yang aku masak hari ini. Simpel, murah, dan yummy. Cocok buat yang baru belajar masak. Dengan budget di bawah 20.000 sudah bisa membuat masakan sendiri yang enak dan lezat. sebenarnya ada poto-potonya,. tapi nih card readernya bermasalah,... ga bisa ngepost poto deh,...

Aku bingung mau nulis apa



Aku bingung mau nulis apa
Beribu sajak mewarnai hari namun ku tak berhenti terpana

Aku bingung mau nulis apa
Untaian kata menari-nari dalam kepala namun ku tak dapat merenda

Aku bingung mau nulis apa
Karena hati tak mampu berkomunikasi dengan kata

Aku bingung mau nulis apa
Jika jiwa dilanda sakit yang membara maka dunia akan terbakar karenanya

Aku bingung mau nulis apa
Mengapa duka tak mampu dirangkai dengan tawa
Agar semuanya indah?
Agar semuanya berkah?
Agar semuanya merekah?

Hmm, aku semakin bingung mau nulis apa
Benar-benar kecewa
Benar-benar luka
Benar-benar sirna

Namun ku harap bisa merangkai kata
Untaian mutiara penyejuk jiwa
Rangkaian warna penghias asa
Jalinan hikmah yang terkatup dalam dada
Penyejuk hati, pelita diri,

Namun aku hilang kata
Tak tau apa yang harus dikata…………..



Aku bingung mau nulis apa
Beribu sajak mewarnai hari namun ku tak berhenti terpana

Aku bingung mau nulis apa
Untaian kata menari-nari dalam kepala namun ku tak dapat merenda

Aku bingung mau nulis apa

profilku




Masa kecil saya dihabiskan di kota tempat saya lahir yakni Samarinda. Sebuah kota yang menyenangkan, kota yang penuh kenangan. Saya bersekolah di TK Handayani, SD di SDN 082 yang sekarang sudah berganti nama yang aku tidak tahu SD berapa, SMP di SMPN 2, SMA di SMA N 2, dan masuk kuliah pada tahun 2007 di Universitas Mulawarman Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika. Sekarang akan menginjak tahun ketiga saya duduk di bangku perkuliahan.

Sejak SMP, bahkan SD, saya suka membaca. Novel dan cerita sastra lainnya adalah pilihan favorit saya. Dulu sewaktu SMP, saya ingat sekali aktivitas yang sering saya jalani di sekolah. Menjadi penghuni ruangan paling sepi di sekolah, yaitu perpustakaan. Yang saya lakukan adalah membaca novel. Beruntung sekali saya telah mengenal Marah Rusli, Sutan Takdir Ali Syahbana, Hamka, Chairil Anwar, WS Rendra, Taufik Islail dan sastrawan-sastrawan Indonesia lainnya. Begitu banyak pengalaman yang menark ketika aku mengarungi samudera pemikiran dan karya-karya mereka. Sejak itu saya menyukai karya sastra, jauh sebelum ada adegan di film Ada Apa Dengan Cinta yang menyinggung Chairil Anwar disana. Dan dengan membaca itu, menginspirasi saya untuk menulis. Saya menulis apa saja. Dan yang paling simpel dan mudah adalah merangkai kata lewat puisi. Guruku adalah pujangga-pujangga besar itu.

Idolaku adalah Chairil Anwar. Aku suka gaya bahasanya yang apa adanya. Dan puisinya, tidak banyak namun sangat bermakna. Kata-katanya lugas, dan aku suka karya Chairil Anwar. dulu, aku suka baca karya-karyanya. Bahkan, buku-buku yang membahas karyanya, baik berupa kritikan maupun ulasan sudah habis ku lahap, tapi sekarang sudah lupa. Heran ya ada buku begituan di perpus SMP. Puisi paling kusuka adalah “Aku”, dulu hapal lho. Sekarang masih hapal ngga ya?

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Dam satu bagian dari puisi Chairil Anwar yang kusuka juga, cukup familiar dan terkenal kalau suka nonton AADC

Bukan maksud mau berbagi nasib
Nasib adalah kesunyian masing-masing

Sekarang aku masih suka baca novel, namun pengalaman SMP ku duu adalah hal yang tidak mungkin aku lupakan.

Sewaktu SMA, saya mengenal organisasi. Saya mengikuti pengkaderan oganisasi pelajar ekstra sekolah yakni Pelajar Islam Indonesia (PII). Organisasi yang menempa saya dan mengubah hidup saya sedemikian dahsyatnya. Saya belajar bersosialisasi dan berorganisasi dari PII ini. Hingga sekarang, saya masih bergabung di PII dan beberapa organisasi mahasiswa lainnya.




Saya bingung kalau harus menceritakan tentang diri saya sendiri,….

Lahir pada tanggal 5 Januari 1990, saya diberi nama Nur Annisa Rahmah. Kata ayah, nama itu berarti “Cahaya Wanita Penyayang”.. Sebuah nama yang indah…… Dari seorang ayah yang bernama Asmuin, dan ibu bernama Kartini, saya terlahir sebagai anak pertama. Adik saya empat. Adik yang pertama bernama Rezza Rahmawan sekarang naik kelas XII IPS di SMA N 2, adik kedua Riski Masita Rahmah yang baru masuk SMP di tempat ayah mengajar, SMP N 34, adik ketiga Elsa Monica Saraswati yang kini naik kelas II SD N 034 dan yang terakhir, baru tiga tahun bernama Andre Kurniawan.