18.2.12

Ummu Salamah

Apakah diantara kalian ada yang tidak familiar dengan nama Ummu Salamah? Kalau jawabannya adalah “Ya” maka saya akan mengajak kalian untuk sedikit mengenal beliau…

Ummu Salamah adalah seorang Ummul-Mukminin yang berkepribadian kuat, cantik, dan menawan, serta memiliki semangat jihad dan kesabaran dalam menghadapi cobaan, lebih-lebih setelah berpisah dengan suami dan anak-anaknya. Berkat kematangan berpikir dan ketepatan dalam mengambil keputusan, dia mendaparkan kedudukan mulia di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.. Di dalam sirah Ummahatul Mukminin dijelaskan tentang banyaknya sikap mulia dan peristiwa penting darinya yang dapat diteladani kaum muslimin, baik sikapnya sebagai istri yang selalu menjaga kehormatan keluarga maupun sebagai pejuang di jalan Allah.

Nama sebenarnya Ummu Salamah adalah Hindun binti Suhail, dikenal dengan narna Ummu Salamah. Beliau dibesarkan di lingkungan bangsawan dari Suku Quraisy. Ayahnya bernama Suhail bin Mughirah bin Makhzurn. Di kalangan kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang dermawan sehingga dijuluki Dzadur-Rakib (penjamu para musafir) karena dia selalu menjamu setiap orang yang menyertainya dalam perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya, terkaya, dan terbesar wibawanya. Ibu dari Ummu Salamah bernama Atikah binti Amir bin Rabi’ah bin Malik bin Jazimah bin Alqamah al-Kananiyah yang berasal dari Bani Faras.

Demikianlah, Hindun dibesarkan di dalam lingkungan bangsawan yang dihormati dan disegani. Kecantikannya meluluhkan setiap orang yang melihatnya dan kebaikan pribadinya telah tertanam sejak kecil.

B. Pernikahan dan Perjuangannya

Banyak pemuda Mekah yang ingin mempersunting Hindun, dan yang berhasil menikahinya adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, seorang penunggang kuda terkenal dari pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah berani. Ibunya bernama Barrah binti Abdul-Muththalib bin Hasyim, bibi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Abdullah adalah saudara sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak Abu Lahab. Mereka hidup bahagia, dan rumah tangga mereka diliputi kerukunan dan kesejahteraan.

Tidak lama setelah itu, dakwah Islam menarik hati mereka sehingga mereka memeluk Islam dan menjadi orang-oramg pertama yang masuk Islam. Begitu pula dengan Hindun, dia tergolong orang-orang yang pertama masuk Islam, dan bersama suaminya memulai perjuangan dalam hidup mereka.

Orang-orang Quraisy selalu mengganggu dan menyiksa kaum muslimin agar mereka meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Melihat kondisi seperti itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengizinkan mereka untuk hijrah ke Habasyah, sehingga mereka disebut sebagai kaum muhajirin yang pertama. Mereka menetap di Habasyah, dan di sana Hindun melahirkan anak-anaknya: Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah.

Setelah beberapa lama, mereka berniat kembali ke Mekah, terutama setelah mendengar keislaman dua tokoh penting Quraisy, Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul-Muththalib. Akan tetapi, ternyata penyiksaan masih terus berlangsung, bahkan bertambah dahsyat. Untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya, Abu Salamah meminta perlindungan dari Abu Thalib (paman Nabi) dari siksaan kaumnya, yaitu Bani Makhzum, dan Abu Thalib menyatakan perlindungannya.

C. Cobaan Datang

Karena orang-orang Quraisy masih saja menyiksa kaum muslimin, akhirnya Allah membuka hati penduduk Madinah untuk menerima Islam. Kemudian Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk hijrah ke sana, baik secara kelompok maupun perseorangan. Abu Salamah, istri, dan anaknya (Salamah) hijrah ke sana. Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh kaum Bani Makhzum (kaumnya Ummu Salamah) yang kemudian merampas serta menyandera Ummu Salamah. Keluarga Abu Salamah (Bani Asad) ikut campur tangan dan mereka menolak menyerahkan Salamah, bahkan si anak dirampas dan dijauhkan dari ibunya. Sedangkan Bani Makhzum menculik Ummu Salamah dan dipenjara. Adapun Abu Salamah dibiarkan ke Yatsrib dengan hati penuh kesedihan karena harus berpisah dengan istri dan anaknya.

Keadaan demikian berjalan kurang lebih setahun lamanya. Ummu Salamah terus-menerus menangis karena kecewa atas perbuatan kaumnya, sehingga akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya yang merasa iba dan membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya di Madinah. Adapun Bani Asad menyerahkan kembali putranya, Salamah, kepadanya. Akan tetapi, banyak rintangan yang harus dia hadapi, dan berkat keimanan dan keinginan yang kuat, dia mampu mengatasi semua itu dan tiba di Madinah.

D. Pesan Abu Salamah untuk Istrinya

Dalam membela Islam, peran Abu Salamah sangat besar. Dia dikenal berani dalam berperang. Rasulullah menghargainya dengan mengangkatnya sebagai wakil Rasulullah di Madinah ketika beliau pergi memimpin pasukan dalam perang Dzil Asyirah pada tahun kedua hijriah. Abu Salamah ikut dalam Perang Badar dan Uhud. Ketika dalam perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka yang cukup parah dan nyaris meninggal, namun beberapa saat kemudian dia sembuh.

Setelah Perang Uhud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mencrima berita bahwa Bani Asad hendak menyerang kaum muslimin di Madinah. Sebelum mereka menyerang, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. berinisiatif mendahului mereka. Dalam misi ini, beliau menunjuk Abu Salamah untuk memimpin pasukan yang berjumlah seratus lima puluh orang dan di dalamnya terdapat Saad bin Abi Waqash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amir bin Jarrah, dan yang lainnya. Pasukan diarahkan ke Bukit Quthn, tempat mata air Bani Asad. Kemenangan gemilang diraih oleh pasukan Abu Salamah, dan mereka kembali ke Madinah dengan membawa banyak harta rampasan perang. Di Madinah, luka-luka Abu Salamah karnbuh sehingga dia harus beristirahat beberapa waktu. Ketika sakit, Rasulullah selalu menjenguk dan mendoakannya.

Ummu Salamah selalu mendampingi suaminya yang sedang dalam keadaan sakit sehingga dia merawat dan menjaganya siang dan malam. Suatu hari, demam Abu Salamah menghebat, kemudian Ummu Salamah berkata kepada suaminya, “Aku mendapat benita bahwa seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga, jika setelah itu istrinya tidak menikah lagi, dan Allah akan mengumpulkan mereka nanti di surga. Demikian pula jika si istri yang meninggal, dan suaminya tidak menikah lagi sepeninggalnya. Untuk itu, mari kita berjanji bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalku, dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah lagi sepeninggalmu.” Abu Salamah berkata, “Maukah engkau menaati perintahku?” Dia menjawab, “Adapun saya bermusyawarah hanya untuk taat.” Abu Salamah berkata, “Seandainya aku mati, maka menikahlah.” Lalu dia berdoa kepada Allah ”Ya Allah, kurniakanlah kepada Ummu Salamah sesudahku seseorang yang lebih baik dariku, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”

Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. selalu berada di samping Abu Salamah dan senantiasa memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan kedua mata Abu Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan lupa?” Beliau menjawab, “Aku sama sekali tidak dalam keadaan lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas takbir itu.” Kemudian beliau menoleh kepada Ummu Salamah dan bersabda, “Barang siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan. Ya Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan melaksanakannya untuknya.”

Setelah itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. berdo’a: “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya, dan berilah pengganti yang lebih baik untuknya.”

Abu Salamah wafat setelah berjuang menegakkan Islam, dan dia telah memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah. Sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salarnah diliputi rasa sedih. Dia menjadi janda dan ibu bagi anak-anak yatim.

Setelah wafatnya Abu Salarnah, para pemuka dari kalangan sahabat bersegera meminang Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda penghormatan terhadapat suaminya dan untuk. melindungi diri Ummu Salamah. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab meminangnya, tetapi Ummu Salamah menolaknya.

Pada saat dirundung kesedihan atas suami yang benar-benar dicintainya serta belum mendapatkan orang yang lebih baik darinya, ia didatangi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan maksud menghiburnya dan meringankan apa yang dialaminya. Rasulullah berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan untukmu (suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya, “Siapa yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai Rasulullah?”

E. Di Rumah Rasulullah.

Rasulullah mulai memikirkan perkara Ummu Salamah, seorang mukminah mujahidah yang memiliki kesabaran, dan Ummu Salamah pun telah menolak lamaran dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar. Rasulullah pun berpikir dengan penuh pertimbangan dan kasih sayang untuk tidak membiarkannya larut dalam kesedihan dan kesendirian.

Dalam keadaan seperti itu Rasulullah mengutus Hathib bin Abi Balta’ah menemui Ummu Salarnah dengan maksud meminangnya untuk beliau. Maka oleh Ummu Salamah diterimanya pinangan tersebut. Bagaimana mungkin baginya untuk tidak menerima pinangan dari orang yang lebih baik dari Abu Salamah, bahkan lebih baik dan semua orang di dunia.

Dengan perkawinan tersebut maka Ummu Salamah termasuk kalangan Ummahatul- Mukminin, dan oleh Rasulullah ia ditempatkan di kamar Zainab binti Khuzaimah yang digelari Ummul-Masakiin (ibu bagi orang-orang miskin) sampai Ummu Salamah meninggal dunia.

Hal itu diceritakan oleh Ummu Salamah kepada kami. Ia berkata, “Aku dipersunting oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., lalu aku dipindahkan dan ditempatkan di rumah Zainab (ummul- masakiin).”

Beberapa keistimewaan yang dimiliki Ummu Salamah adalah ketajaman logika, kematangan berpikir, dan keputusan yang benar atas banyak perkara. Karena itu, ia memiliki kedudukan yang agung di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., seperti interaksinya dengan para Ummahatul-Mukminin yang merupakan interaksi yang diliputi rasa kasih sayang dan kelemahlembutan.

F. Kedudukannya yang Agung

Di antara perkara yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam adalah apa yang diceritakan Urwah bin Zubair “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruh Ummu Salamah melaksanakan shalat shubuh di Mekah pada hari penyembelihan (qurban) — padahal saat itu merupakan hari (giliran)nya. Oleh sebab itu, Rasulullah merasa senang atas kesetujuannya.”

Begitu juga hadits Ummi Kulsum binti Uqbah yang dimasukkan oleh Ibnu Sa’ad dalam (kitab) Thabaqat-nya. Ummi Kultsum berkata, “Tatkala Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Ummu Salamah, belau berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku menghadiahkan untuk Raja Najasyi sejumlah bejana berisikan minyak wangi dan selimut. Akan tetapi, aku bermimpi bahwa Raja Najasyi itu telah meninggal dunia, kemudian hadiah yang kuberikan kepadanya dikembalikan kepadaku. Karena dikembalikan kepadaku, maka barang tersebut menjadi milikkü.”

Sebagaimana yang dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., Raja Najasyi meninggal dunia, dan hadiah tersebut dikembalikan kepadanya. Lalu beliau memberikan kepada setiap istrinya masing-masing satu uqiyah (1/2 liter Mesir) dan beliau memberi (sisa) keseluruhannya serta selimut kepada Ummu Salamah.

Setelah Ummu Salamah menjadi istrinya, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. memasukkannya dalam kalangan ahlul-bait. Di antara riwayat tentang masalah tersebut adalah bahwasanya pernah pada suatu hari Rasulullah berada di sisi Ummu Salamah, dan anak perempuan Ummu Salamah ada di sana. Rasulullah kemudian didatangi anak perempuannya, Fathimah azZahra, disertai kedua anaknya, Hasan dan Husain r.a., lalu Rasullah memeluk Fathimah dan berkata, “Semoga rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah pada kalian wahai ahlul-bait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.”

Lalu menangislah Ummu Salamah. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menanyakan tentang penyebab tangisnya itu. Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau mengistimewakan mereka sedangkan aku dan anak perempuanku engkau tinggalkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau dan anak perempuanmu termasuk keluargaku.”

Anak perempuan Ummu Salamah, Zainab, tumbuh dalam peliharaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. ia termasuk di antara wanita yang memiliki ilmu yang luas pada masanya.

Sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mempersunting Ummu Salamah, wahyu pernah turun kepada Rasulullah di kamar Aisyah, yang dengan hal itu Aisyah membanggakannya pada istri-stri beliau yang lain. Maka setelah Rasulullah menikahi Ummu Salamah, wahyu turun kepadanya ketika beliau berada di kamar Ummu Salamah.

G. Beberapa Sikap Cemerlang pada Masa Hidup Ummu Salamah.

Di antara sikap agungnya adalah apa yang ditunjukkannya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. pada hari (perjanjian) Hudaibiyah. Pada waktu itu ia menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dalam perjalanannya menuju Mekah dengan tujuan menunaikan umrah, tetapi orang-orang musyrik mencegah mereka untuk memasuki Mekah, dan terjadilah Perjanjian Hudaibiyah antara kedua belah pihak.

Akan tetapi, sebagian besar kaum muslimin merasa dikhianati dan merasa bahwa orang-orang musyrik menyianyiakan sejumlah hak-hak kaum muslimin. Di antara mayonitas yang menaruh dendam itu adalah Umar bin al-Khaththab, yang berkata kepada Rasulullah dalam percakapannya dengan beliau, “Atas perkara apa kita serahkan nyawa di dalam agama kita?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menjawab, “Saya adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyianyiakanku.”

Akan tetapi, tanda-tanda bahaya semakin memuncak setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruh kaum muslimin melaksanakan penyembelihan hewan qurban kemudian bercukur, tetapi tidak seorang pun dari mereka melaksanakannya. Beliau mengulang seruannya tiga kali tanpa ada sambutan.

Beliau menemui istrinya, Ummu Salamah, dan menceritakan kepadanya tentang sikap kaum muslimin. Ummu Salamah berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan perintah Allah ini dilaksanakan oleh kaum muslimin? Keluarlah engkau, kemudian janganlah mengajak bicara sepatah kata seorang pun dari mereka sampai engkau menyembelih qurbanmu serta memanggil tukang cukur yang mencukurmu.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. kagum atas pendapatnya dan bangkit mengerjakan sebagaimana yang diusulkan Ummu Salamah. Tatkala kaum muslimin melihat Rasulullah mengerjakan hal itu tanpa berkata kepada mereka, mereka bangkit dan menyembelih serta sebagian dari mereka mulai mencukur kepala sebagian yang lain tanpa ada perasaan keluh kesah dan penyesalan atas tindakan Rasulullah yang mendahului mereka.

Ummu Salamah telah menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. di banyak peperangan, yaitu peperangan Khaibar, Pembebasan Mekah, pengepungan Tha’if, peperangan Hawazin, Tsaqif kemudian ikut bersama beliau di Haji Wada’.

Kita tidak melupakan sikapnya terhadap Umar bin al-Khaththab, tatkala Urnar datang kepadanya dan mengajak bicara tentang perkara keperluan Ummahatul-Mukminin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. serta kekasaran mereka terhadap Rasulullah. Maka ia berkata, “Engkau ini aneh, wahai anak al-Khaththab. Engkau telah ikut campur di setiap perkara sehingga ingin mencampuri urusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. beserta istri-istrinya?”

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. meninggal dunia ia senantiasa mengenang beliau dan sangat berduka cita atas kewafatannya. Beliau senantiasa banyak melakukan puasa dan beribadah, tidak kikir pada ilmu, serta meriwayatkan hadits yang berasal dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Telah diriwayatkannya sekian banyak hadits shahih yang bersumber dari Rasulullah dan suaminya, Abu Salamah, serta dari Fathimah az-Zahraa Sedangkan orang yang meriwayatkan darinya banyak sekali, di antara mereka adalah anak-anaknya dan para pemuka dan sahabat serta ahli hadits.

Di antara beberapa sikapnya yang nyata adalah pada hari pembebasan kota Mekah. Waktu itu Nabi keluar dari Madinah bersarna bala tentaranya dengan kehebatan dan jumlah yang belum pernah disaksikan oleh bangsa Arab, sehingga orang-orang musyrik Quraisy merasa takut, dan mereka keluar dari rumah dengan rnaksud menemui Rasulullah untuk bertobat dan menyatakan keislaman mereka.

Termasuk dari mereka, Abu Sufyan bin al-Harts bin Abdul-Muththalib (anak paman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.) dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah (anak bibi [dari ayah] Rasulullah, saudara Ummu Salamah sebapak). Ketika mereka berdua meminta izin masuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., beliau enggan memberi izin masuk bagi keduanya disebabkan penyiksaan mereka yang keras terhadap kaurn muslimin menjelang beliau hijrah dari Mekah.

Maka berkatalah Ummu Salamah kepada Rasulullah dengan perasaan iba terhadap keluarganya sendiri dan juga keluarga Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mereka berdua adalah anak parnanmu dan anak bibirnu (dan ayah) serta iparmu.” Rasulullah menjawab, “Tidak ada keperluan bagiku dengan mereka berdua. Adapun anak parnanku, aku telah diperlakukan olehnya dengan tidak baik. Adapun anak bibiku (dari ayah) serta iparku telah berkata di Mekah dengan apa yang ia katakan.”

Pernyataan itu telah sampai kepada Abu Sufyan, anak paman Rasulullah. Maka ia berkata, “Demi Allah, ia harus mengizinkanku atau aku mengambil anak ini dengan kedua tanganku -pada saat itu ia bersama anaknya, Ja’far- kemudian karni harus berkelana di dunia sehingga mati kehausan dan kelaparan.”

Lalu Ummu Salamah memberitahukan perkataan Abu Sufyan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan kembali memohon rasa belas kasih. Akhirnya hati beliau menjadi luluh, lalu mengizinkan keduanya masuk. Maka masuklah keduanya dan menyatakan keislaman serta bertobat di hadapan Rasulullah.

H. Sikapnya terhadap Fitnah

Ummu Salamah selalu berada di rumahnya, senantiasa ikhlas beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjaga Sunnah suaminya tercinta pada masa (khilafah) Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab..

Pada masa khilafah Utsman bin Affan ia melihat kegoncangan situasi serta perpecahan kaum muslimin di seputar khalifah. Bahaya fitnah sernakin memuncak di langit kaum muslirnin. Maka ia pergi menernui Utsman dan menasihatinya supaya tetap berpegang teguh pada petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. serta petunjuk Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab, tidak menyimpang dan petunjuk tersebut selama-lamanya.

Apa yang dikhawatirkan Ummu Salamah terjadi juga, yaitu peristiwa terbunuhnya Utsman yang saat itu tengah membaca Al-Qur’an dan angin fitnah tengah bertiup kencang terhadap kaurn muslimin. Pada saat itu Aisyah telah membulatkan tekad untuk keluar menuju Bashrah disertai Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin al-’Awwam dengan tujuan mernobilisasi massa untuk melawan Ali bin Abi Thalib. Maka Ummu Salamah mengirim surat yang memiliki sastra indah kepada Aisyah.

“Dari Ummu Salamah, Istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’ minin.
Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan Dia.
Amma ba’du.
Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dan umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya.
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau niengeluarkannya Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengetahui bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.
Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya.”

Ummu Salamah berada di pihak Ali bin Abi Thalib karena beliau menggikuti kesepakatan kaum muslimin atas terpilihnya beliau sebagai khalifah mereka. Karena itu, Ummu Salamah mengirim/mengutus anaknya, Umar, untuk ikut berperang dalan barisan Ali .

I. Saat Wafatnya

Pada tahun ke-59 hijriah, usia Ummu Salamah telah mencapai 84 tahun. Usia tua dan pikun merambah di pertambahan umurnya. Allah ta’ala mengangkat rohnya yang suci naik ke atas menuju hadirat-Nya. Ia meninggal dunia setelah hidup dengan aktivitas yang dipenuhi oleh pengorbanan, jihad, dan kesabaran di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Beliau dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’ di samping kuburan Ummahatul-Mukminin lainnya.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Ummu Salamah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.


walau copast semoga gak mengurangi maksud mempublikasikannyaya...

coapst disini http://katahatimutiara.wordpress.com/2011/12/10/ummu-salamah-radhiyallahu-anha/#more-1094

26.1.12

Kerendahan Hati ~ Taufik Ismail


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Makna Sebuah Titipan ~ WS Rendra


Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,

bahwa :

sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Allah

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu

diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan

bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,

seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti

matematika:

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,

dan bukan kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

#fiksimini# Jalan Kita Berbeda


ketika kau membuka dan membaca pesan itu,, aku hanya bingung dengan apa yang kau pikirkan.. mengapa bisa begitu?? padahal.. padahal.. kau tahu apa yang harus kau lakukan.. begitupun aku.. kita telah memilih jalan yang berbeda..






kenapa harus berbeda? ya karena jalan kita memang berbeda,.. walau tujuan kita adalah sama. Rumah. Menuju tempat yang paling nyaman untuk kau bersandar.. Melepas penat dan menabur impian,, ...setelah lama kau berpetualang,, mengejar mimpi.. Namun harus kau sadari, bahwa mimpimu yang sebenarnya ada disana,, di Rumah.. Walau memang rumah kita berbeda..





Rumahmu dan rumahku.. Semoga dapat menjadi jalan untuk kita,, agar suatu saat nanti,, kita bisa memiliki rumah yang berdampingan di surga.. Walau aku tak ...habis pikir.. Mengapa?? ya inilah takdir kita,, jalan yang harus kita tempuh,, jarak yang harus kita rengkuh,,. Menaklukkan segala ego yang bersemayam di dada.. Menjadi pemenang dalam suka maupun duka,, tentu saja,, tetap saja,, lewat jalan yang berbeda.. Menuju muara yang sama.. Surga..





Ada apa denganmu?? Sungguh aku tak tahu.. Seharusnya aku yang tanya begitu.. Yang aku tahu adalah,, jalan menuju surga dan ridha penuh onak dan duri.. Apakah semuanya harus menyerah ketika setitik luka menerjang?? Bukankah jalan juang itu m...emang berat dan penuh tantangan?? Jangan menambah luka dengan terjatuh dan kembali meregang sakit karena terluka.. Jalan ini masih panjang.. Sepanjang perjalanan kehidupan yang tak tahu kan berhenti dimana.. Marilah kita cari ujung dari perjalanan penuh ujian ini,, kembali kepada jalan yang telah digariskan dalam kehidupan kita masing-masing.. Aku ingin ku melihatmu pada ujung jalan ini,, begitu juga sebaliknya.. Aku ingin tak ada yang berpaling dan menyerah di tengah perjalanan.. Kenapa perjuangan itu pahit?? karena surga itu manis..





Kembalilah ke jalanmu.. Tak perlu melihat ke belakang pada kehidupanmu yang lalu.. Pandanglah dengan lekat orang-orang yang mencintaimu,, menginspirasi hidupmu,, yang telah men...yediakan hidangan terlezat di rumahmu.. Misi hidup kita,, jangan pernah terlupa.. Jadikan itu sebagai azzam ketika kau merasa lelah berada pada jalanmu yang telah berbeda.. Tetaplah menatap kehidupan dengan tersenyum penuh kemenangan,, karena musuhmu nyata.. Dan yang terbesar ada pada dirimu.. Selamat menempuh perjalanan itu.. Sampai bertemu di akhir cerita,, karena bukankan kita berjalan untuk sebuah akhir yang sama??





Sudahi pernyataan itu karena hanya akan membuatmu dan membuatku terpaku.. Jadikan kesakitan atau masa lalu yang pahit sebagai motivasi untuk kebaikan di masa depanmu.. Jangan mengulang kesalahan itu.. Tatap masa de...pan dengan penuh keyakinan.. Bukankah pengendara motor menggunakan spion untuk melihat ke belakang hanya sesekali saja?? Tidak untuk selamanya.. Jalanmu adalah di depan.. Tantanganmu adalah masa kini dan harapanmu aalah masa depan.. Ingat pesanku,, aku ingin melihatmu di akhir perjalanan,, menjadi seorang pemenang.. Begitupun aku.. Aku akan memenangkan ujian hidupku.. Kau akan melihatku tersenyum di akhir nanti.. Kau pun akan melihatku tersenyum sepanjang perjalanan.. Aku berjanji pada Tuhanku, pada diriku, juga padamu, bahwa aku akan menjadi pemenang..





#goresantintatanpaamakna#

#smd.24.12.2010#

17.3.11

22.12.10

Untukmu Para Instruktur [Renungan Untuk Diri Sendiri]


Libur telah tiba,libur telah tiba

Hore,Hore,Hore

Simpanlah tas dan bukumu

Lupakan keluh kesahmu

Libur telah tiba,libur telah tiba

Hatiku gembira!

Libur sekolah merupakan waktu yang ditunggu-tunggu bagi semua anak sekolah, apalagi setelah berjibaku dengan ujian yang dirasa cukup menguras energi dan pikiran. Liburan merupakan sarana yang tepat untuk memulihkan hati, pikiran, dan mempersiapkan diri menuju semester berikutnya yang tentu saja akan lebih berat tantangannya dibandingkan dengan semester yang telah lalu. Maka dari itu, banyak yang memanfaatkan libur untuk liburan, rekreasi, jalan-jalan, atau hanya di rumah dengan aktivitas yang berbeda dari biasanya, yakni bersantai (Loh bukannya tiap hari juga aktivitasnya bersantai?) ^_^

Namun ada juga yang memanfaatkan sarana liburan untuk menebar kebaikan. Bak jamur yang sedang tumbuh di musim hujan, saat liburan inilah moment yang sangat pas bagi kader Pelajar Islam Indonesia untuk melebarkan sayapnya menebar kebaikan dan mencetak generasi Muslim yang Cendekia dan Pemimpin. Dalam prosesnya itu, harus ada kesadaran dari dalam diri untuk rela mengorbankan watu liburnya, dimana yang lain bisa bersantai, namun bagi kader PII harus berjibaku dalam urusan pentrainingan, mencari dana, mencari peserta, mengurus masalah teknis dalam seminggu pelaksanaan, dan lain sebagainya.

Pun demikian bagi seorang Instruktur. Peran yang diembannya juga tidaklah mudah. Saya ingin menganalogikan dengan proses menanak nasi. Ketika kita sedang menanak nasi, kita melakukan proses perubahan yang revolusioner, dari mengubah butiran beras menjadi sepiring nasi hangat yang dapat dimakan.

Bagaimana seorang instruktur berperan dalam proses analogi menanak nasi ini? Seorang instruktur harus mempunyai skill memasak, tahu dengan jelas jenis beras yang akan dimasaknya dan bagaimana mengolahnya walau dengan jenis beras yang berbeda-beda. Dan tidak lupa, seorang instruktur juga harus mempersiapkan perlengkapan memasak yang terbaik yang ia punya. Ia harus mempersiapkan peralatan masak yang baik, bumbu racikan yang mantap, dan tak lupa peralatan makan yang cantik.

Bagaimana jika seorang instruktur tak mampu mengusahakannya? Mempersiapkan masakan dengan skill yang apa adanya, bumbu seadanya, dan peralatan makan yang apa adanya (daripada tidak ada, katanya). Jika itu yang terjadi, dan menyadari kelemahan pada proses memasaknya yang dirasa kurang dalam beberapa hal, maka ia harus mempunyai kemauan untuk meningkatkan skill yang ia punya disertai niat yang kuat serta keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk sebuah kebaikan.

Saya tertarik dengan sebuah kalimat ini:

"Bagaimana mungkin bisa mendapatkan nasi yang matang dengan sempurna jika kita memasaknya dengan panci yang bolong."

Hmmmm maksudnya gimana tuh?... Ya, bagaimana kita akan mencetak seorang kader yang Muslim, Cendekia, Pemimpin jika apa yang ada dalam diri kita belum mampu mengaktualisasikan hal tersebut, atau belum mengusahakan memenuhi kriteria itu.

Jadi instruktur itu, memiliki beban moral yang sangat besar. Namun, juga berpotensi menghasilkan ladang pahala yang juga sangat besar. Mengaktualisasikan kriteria kader Muslim Cendekia dan Pemimpin, mencetak kader yang komitemen terhadap kePelajaran, keIslaman, dan keIndonesiaan, dan yang penting menyadarkan kepada generasi muda akan peran dan tanggung jawabnya sebagai abdullah dan khalifah, sebelum itu semua ditransformasikan kepada kader yang dibina, bukankah itu semua harus ada dulu dalam diri seorang instruktur??

Bagaimana kalau itu belum atau tidak dimiliki oleh seorang instruktur? Kalau belum, semoga memiliki kesadaran untuk meraihnya. Namun kalau tidak, maka aktivitas keinstrukturan yang dilakukan mungkin hanya sebagai penggugur tanggung jawab yang telah diikrarkan, atau memenuhi kebutuhan pentrainingan. Maka aktivitas yang dilakukan tak ubahnya hanya sekedar menyampaikan informasi, tanpa ada ruh dalam proses transformasi nilai. Dan, tak ubahnya seperti lilin yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri. Dan semoga kita tidak termasuk orang yang dimaksud dalam surah berikut ini:

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?"

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan."

Q.S. Ash Shaff : 2-3

Namun, semoga kita menjadi orang yang termasuk mendapatkan seperti di bawah ini:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,

niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

Q.S. Ash Shaff : 10-12

Musim training telah tiba, ratusan calon kader siap untuk dibina. Maka, lakukanlah tugas dengan sebaik-baiknya wahai para Instruktur, persiapkan diri sebaik-baiknya. Tingkatkan amal ibadah harian, maka itu akan menambah kuallitas kefaqihan. Tingkatkan wawasan dan ilmu, maka itu akan menambah kualitas keilmuan. Mari kita semua sama-sama belajar dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketaqwaan.

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)."

Q.S. Al Anfaal : 60

Sampaikan salam dan semangat untuk para Instruktur dimanapun berada. Sampaikan semangat untuk Panitia yang berusaha mensukseskan kegiatan. Sampaikan salam persaudaraan untuk calon kader dimanapun ia akan dibina. Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita dalam menggapai ridho-Nya.

Saya Berbicara Tentang Tulus, Ikhlas, Dan Sebagainya.....


Beberapa minggu ini, ketika aku mengucapkan kata "tulus" atau "ikhlas" ternyata banyak yang berkomentar, atau berkata, bahkan memprotes,. "ikhlas itu tak semudah diucapkan" "ah bohong saja yang bisa bilang ikhlas itu" "ikhlas itu susah" "emang ada yang bisa memaafkan dengan tulus?" Aku tersenyum (dengan ikhlas ^.^) mendengarnya. Setidaknya ada beberapa kesimpulan yang aku bisa simpulkan, bahwa ikhlas itu tidak hanya menjadi hak milik satu orang saja, namun menjadi perkara atau aktivitas yang bisa dilakukan oleh semua orang dan WAJIB dilakukan ketika ada beberapa persoalan yang menuntut untuk kita untuk berlaku ikhlas. Kembali ke pernyataan dan komentar beberapa orang mengenai tulus dan ikhlas, saya tidak bisa menyalahkan itu semua, karena ya memang benar adanya,. Namun,. Ikhlas itu bukan berarti tidak bisa diupayakan.. Saya percaya jika ada yang pernah bilang bahwa ikhlas itu susah,, saya juga tahu bahwa tulus itu tak mudah.. Maka,, apa yang seharusnya kita lakukan??.. Jawabannya ya ikhlas ^_^ jika kau bisa berlaku ikhlas, maka kau akan bisa mendamaikan hati dan hidupmu. Kau juga mampu meredam iri hati, dengki, dan mampu membunuh dendam.. Hidupmu akan tenang dan pasti mampu merasakan manisnya buah keikhlasan.. Jika kau tidak mampu ikhlas, itu hanya akan membunuh hidupmu dan hari-harimu.. Terkadang ada yang berbicara bahwa "saya ikhlas" namun dalam kenyataannya ada saat-saat dimana orang tersebut tidak mampu mengaplikasikan pernyataannya tersebut. Lantas apakah orang tersebut salah?.. Hemm,, bisa jadi ketika ia berbicara seperti itu, ia sedang berusaha mengupayakan ikhlas tersebut. Sepakat kan kalau berlaku ikhlas itu susah? Maka bantulah ia mengupayakan ikhlas itu... Saya lebih salut kepadanya daripada orang yang cenderung menyalahkan diri maupun takdir, atau orang yang putus asa atas ujian yang dihadapinya dan putus asa dari rahmat Allah yang begitu luasnya.. Saya tahu bahwa praktek ikhlas tak semudah teorinya, aplikasi ikhlas tak semudah ucapannya.. Namun bukan berarti ikhlas itu tidak dapat dilakukan. Ikhlas itu HARUS diupayakan, PANTAS diperjuangkan, dan LAYAK untuk dilakukan.. Mari kita bersama-sama belajar dan mengaplikasikan ilmu ikhlas, walau kualitas ikhlas kita tak seperti ikhlasnya Nabi Ibrahim As mengorbankan anaknya demi melaksanakan titah TuhanNya..

19.12.10

Bersyukur Aku Masih Mempunyai Ayah


Beruntung aku masih mempunyai ayah...

Tempat ku bersandar di kala lelah..

Tempat mengadu dikala gundah..

Menjadi andalan saat ku lelah...


Beruntung ku masih memiliki ayah...

Sang pelindung kala aku lemah...

Pemberi semangat ketika penat...

Menyeka peluh setiap saat..


Beruntungnya aku masih memiliki ayah..

Lelaki pencinta yang cintanya bukan tanpa makna..

Lelaki pemberi janji yang janjinya bukan tanpa arti...

Lelaki tegap bertanggung jawab tanpa sedikitpun meremehkan dan mengingkari tanggung jawabnya...


Dan aku pantas untuk berbahagia memiliki ayah,..

Ayah jagoan di seluruh kehidupan..

Ayah andalan tanpa pernah diragukan..


Dan aku kini mengucap syukur karena masih diberi kesempatan hidup dan mengisi kehidupan ayah...



Catatan singkat untuk ayah juara no 1 di dunia,... Sampai detik ini tidak akan ada yg menggantikan posisimu dlm hidupku,..

18des10

18.12.10

Ketika Sebuah Apel Jatuh di Atas Kepala Newton


Ketika wabah sedang melanda kota Cambridge, Inggris pada tahun 1666, Isaac Newton memutuskan mengungsi sementara di luar kota. Suatu hari, ketika dia sedang berjalan-jalan di taman, dia melihat sebuah apel jatuh. Apel tersebut jatuh begitu saja, seolah-olah diraih dari bawah oleh sebuah tangan tidak kelihatan. Versi lain dari cerita ini, yang lebih dramatis, apel tersebut jatuh ke atas kepala Newton ketika dia sedang tertidur di bawah sebatang pohon. Mana yang benar kita tidak tahu. Yang kita tahu, cerita tersebut dianggap menginspirasi Newton menemukan hukum gravitasi.

Cerita tersebut sungguh menarik, dan hampir semua dari kita pernah mendengarnya. Cerita tersebut tentu turut menyumbang kepercayaan kita bahwa penemuan hukum gravitasi oleh Newton adalah buah kejeniusan yang muncul mendadak. Sesaat sebelum apel tersebut jatuh, hukum gravitasi belum ada. Apel jatuh; hukum gravitasi mulai menemukan bentuknya di benak Newton. Hanya, dan hanya seorang jenius seperti Newton yang bisa melakukannya. Tidak perlu kerja keras bertahun-tahun untuk merumuskannya.

Sayangnya, cerita apel jatuh tersebut kemungkinan adalah cerita fiktif yang dikarang oleh Voltaire. Dan andaikata pun cerita tersebut nyata, Newton tidak serta merta menemukan teori gravitasi. Untuk menemukan hukumnya yang terkenal itu, Newton kemudian menghabiskan waktu bertahun-tahun memenuhi seluruh catatannya dengan coretan tangan dan mengukur gerakan pendulum dengan teliti. Teori gravitasi tidaklah lahir begitu saja dalam momen singkat tersebut. Seorang Newton pun membutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun sebelum berani merumuskan hukumnya dalam buku Principia yang diterbitkan pada tahun 1687.

Newton sendiri mengakui dia harus berpikir terus menerus selama bertahun-tahun untuk merumuskan hukum gravitasi. Kita mengenal Newton sebagai sosok jenius, tetapi di masa mudanya, para teman-temannya mengenalnya sebagai sosok yang gigih luar biasa. Newton menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berpikir dan berpikir. Tidak ada seorang pun yang berpikir sekeras Newton di jamannya. Bahkan bila dia tidak “dipaksa” melakukan percobaan untuk membuktikan teori-teorinya, teman-temannya kuatir dia akan meninggal karena belajar dan berpikir tanpa henti, dan lupa menjaga tubuhnya. Dia bahkan sering lupa untuk makan, dan dia juga benar-benar lupa untuk menikah karena Newton hidup melajang sampai akhir hayatnya.

Kegigihan Newton bisa dilihat ketika dia bertekad menguasai buku matematika karangan Rene Descartes, Geometry. Newton berkali-kali mengalami kesulitan memahami buku tersebut dan sering harus berhenti membaca setelah beberapa halaman, dan mengulangi dari awal sampai dia benar-benar memahami materinya. Setelah itu, dia akan meneruskan beberapa halaman berikutnya sampai menemukan kesulitan lagi. Demikian seterusnya hingga di menguasai seluruh buku tersebut. Siapa yang mengatakan Newton tidak perlu belajar lebih keras dari kita? Newton pun jelas tetap membutuhkan kerja keras untuk belajar.

Kita jelas harus mengakui Newton adalah seorang jenius dan hampir semua orang sepakat menempatkannya sebagai ilmuwan paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Seperti yang ditulis oleh teman karibnya, Alexander Pope di batu nisan Newton: Tuhan menciptakan Newton, dan terkuaklah hukum-hukum alam. Kita memang layak mengagumi karya-karya Newton. Namun semoga sekarang kita bisa mengagumi sesosok jenius tersebut karena buah kerja keras dan kegigihannya yang tak kunjung henti.

***

Ilmuwan yang berhak menerima tongkat estafet dari Newton tentu saja hanya satu orang. Albert Einstein. Dan sama seperti kisah Newton yang penuh romantisme, kisah Einstein juga tidak jauh berbeda. Einstein sering digambarkan tumbuh dalam lingkungan yang kurang bersahabat, dan mengalami keterlambatan perkembangan mental ketika masih kecil karena belum bisa berbicara lancar sampai usia empat tahun. Einstein juga pernah ditolak masuk ke perguruan tinggi dan harus mencoba masuk lagi setahun kemudian. Tetapi entah kenapa, tiba-tiba dia berubah menjadi seorang jenius ketika bekerja di kantor hak paten di Zurich. Inilah kisah jenius yang sesungguhnya. Tidak ada penjelasan lain yang bisa menjelaskan pencapaian Einstein yang tiba-tiba seperti itu.

Tentu saja sebagian dari cerita tersebut memang berdasar. Einstein memang sering terlihat gagap berbicara ketika masih kecil, tetapi hal itu bukan karena keterlambatan perkembangan mentalnya. Sebaliknya, Einstein kecil kelihatannya memiliki kecenderungan untuk berusaha berbicara dalam kalimat yang lengkap. Dari kecil dia juga sudah menunjukkan imajinasi luar biasa, dan terutama tertarik dengan cara kerja benda-benda.

Sementara fakta bahwa Einstein pernah ditolak masuk ke perguruan tinggi memang benar, tetapi penjelasannya karena waktu itu Einstein dianggap belum cukup umur. Waktu itu, umurnya kurang dua tahun dari persyaratan minimum. Seorang profesor yang terkesan dengan kecerdasan Einstein waktu itu mengundangnya untuk ikut dalam kuliahnya sambil menunggu dia cukup umur untuk diterima.

Sementara cerita bahwa Einstein dilahirkan di lingkungan yang kurang mendukung juga tidak sepenuhnya benar. Memang benar keluarga Einstein adalah Yahudi yang hidup di Jerman, tetapi keluarga Einstein tidak pernah mendapatkan masalah berarti karena ras mereka. Mereka tinggal di apartemen yang cukup bagus di kota Ulm, bagian selatan Jerman dan kemudian pindah ke Munich. Keluarga Einstein yang harmonis dan berpendidikan tinggi sangat mendorong anak-anak mereka dalam belajar dan mengeksplorasi minat mereka. Einstein muda tidak pernah kekurangan buku-buku terbagus pada jaman itu dan dia melahap semua buku-buku yang disediakan untuknya. Pada umur 13 tahun Einstein sudah membaca buku Immanuel Kant Critique of Pure Reason. Dia juga mencintai musik dan kelak terkenal dengan permainan biolanya yang piawai.

Paman Einstein, Jacob adalah seorang insinyur berpengalaman. Pada tahun 1880, ayah Einstein dan Jacob patungan membuka usaha yang kemudian masuk ke bidang baru, teknik listrik. Selama puncak kejayaannya, perusahaan mereka mempekerjakan 200 karyawan. Einstein yang sering berkunjung ke pabrik tersebut tidak pernah ketinggalan perkembangan teknologi listrik terkini, apalagi ayah dan paman Einstein tidak segan-segan membelanjakan uang mereka untuk membeli mesin-mesin hasil inovasi terbaru.

Jacob, dan paman Einstein yang lainnya, Caesar Koch, menyayangi Einstein dan membantu perkembangan mental Einsten muda dengan menjadi mentor dan membelikan anak yang penuh semangat belajar tersebut buku-buku matematika terbaru. Pada umur sepuluh, Einstein berkenalan dengan Max Talmud, yang banyak membantunya kemudian. Talmud adalah tamu keluarga dan masih berusia dua puluh satu tahun waktu itu. Kecerdasan dan keluasan pengetahuannya banyak membantu perkembangan mental Einstein, terutama di bidang matematika.

Dan ketika Einstein masuk ke perguruan tinggi, dia sudah menghabiskan belasan tahun mendalami matematika dengan minat tinggi dari orang-orang yang berkompeten dan menaruh perhatian pada perkembangannya. Kejeniusan Einstein tidaklah muncul tiba-tiba sebagaimana banyak dipercaya orang selama ini. Dia mendapatkannya melalui ketekunan belajar, dan tak kalah pentingnya, dukungan dan bimbingan dari keluarga dan orang-orang yang mencintainya selama belasan tahun.

Kisah kedua jenius besar tersebut – Newton dan Einstein – dengan jelas memperlihatkan betapa panjangnya persiapan yang harus mereka jalani sebelum mampu menghasilkan karya besar mereka. Mereka mungkin saja diberkati dengan kecerdasan di atas rata-rata, tetapi mereka tetap harus menekuni terlebih dahulu bidang mereka setidaknya selama belasan tahun sebelum mampu melahirkan karya agung mereka. Kejeniusan mereka yang kita kenal selama ini tidak muncul begitu saja dari ruang hampa.

Tentu saja sekarang kita sudah melihat banyak contoh pentingnya kerja keras di semua bidang. Namun apakah kerja keras belaka cukup? Jelas tidak sesederhana itu. Siapa pun pasti bisa menemukan contoh orang yang sudah bekerja keras belasan atau malah puluhan tahun dan yang didapatkan bukannya keahlian, melainkan penyakit dan kesengsaraan. Adakah yang lebih menyedihkan dari itu? Kita sudah menginvestasikan belasan tahun bekerja keras dan kemudian menemukan semua waktu yang sudah kita habiskan sia-sia belaka. Jika Anda tidak yakin kerja keras saja adalah jawabannya, maka Anda benar. Tidak semua kerja keras mampu membawa Anda ke tempat yang diinginkan. Kerja keras yang dibutuhkan adalah kerja keras dengan cara yang benar. Kita akan mengupas lebih jauh mengenai hal tersebut di artikel-artikel berikutnya, dimulai dari kisah seorang individu yang dikenal dengan nama SF.

http://itpin.orangenexus.com/2010/12/05/ketika-sebuah-apel-jatuh-di-atas-kepala-newton/

Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Islam


Hmmm,.. ada beberapa yang request catatan bertemakan ini,.. Okelah saya kabulkan,.. tapi copy paste aja yah,.. soalnya belum punya pengalaman heheh... Semoga bermanfaat dan kita sama-sama belajar ^_^



****



Setelah kita mengetahui tentang tujuan menikah maka Islam juga mengajarkan kepada umatnya untuk berhati-hati dalam memilih pasangan hidup karena hidup berumah tangga tidak hanya untuk satu atau dua tahun saja, akan tetapi diniatkan untuk selama-lamanya sampai akhir hayat kita.



Muslim atau Muslimah dalam memilih calon istri atau suami tidaklah mudah tetapi membutuhkan waktu. Karena kriteria memilih harus sesuai dengan syariat Islam. Orang yang hendak menikah, hendaklah memilih pendamping hidupnya dengan cermat, hal ini dikarenakan apabila seorang Muslim atau Muslimah sudah menjatuhkan pilihan kepada pasangannya yang berarti akan menjadi bagian dalam hidupnya. Wanita yang akan menjadi istri atau ratu dalam rumah tangga dan menjadi ibu atau pendidik bagi anak-anaknya demikian pula pria menjadi suami atau pemimpin rumah tangganya dan bertanggung jawab dalam menghidupi (memberi nafkah) bagi anak istrinya. Maka dari itu, janganlah sampai menyesal terhadap pasangan hidup pilihan kita setelah berumah tangga kelak.



Lalu bagaimanakah supaya kita selamat dalam memilih pasangan hidup untuk pendamping kita selama-lamanya? Apakah kriteria-kriteria yang disyariatkan oleh Islam dalam memilih calon istri atau suami?



A. Kriteria Memilih Calon Istri

Dalam memilih calon istri, Islam telah memberikan beberapa petunjuk di antaranya :



1. Hendaknya calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)



Dalam hadits di atas dapat kita lihat, bagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menekankan pada sisi agamanya dalam memilih istri dibanding dengan harta, keturunan, bahkan kecantikan sekalipun.



Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu … .” (QS. Al Baqarah : 221)

Sehubungan dengan kriteria memilih calon istri berdasarkan akhlaknya, Allah berfirman :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) … .” (QS. An Nur : 26)



Seorang wanita yang memiliki ilmu agama tentulah akan berusaha dengan ilmu tersebut agar menjadi wanita yang shalihah dan taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wanita yang shalihah akan dipelihara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya :



“Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya, oleh karena itu Allah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)

Sedang wanita shalihah bagi seorang laki-laki adalah sebaik-baik perhiasan dunia.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)



2. Hendaklah calon istri itu penyayang dan banyak anak.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :

Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ” … kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak … .” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)



Al Waduud berarti yang penyayang atau dapat juga berarti penuh kecintaan, dengan dia mempunyai banyak sifat kebaikan, sehingga membuat laki-laki berkeinginan untuk menikahinya.



Sedang Al Mar’atul Waluud adalah perempuan yang banyak melahirkan anak. Dalam memilih wanita yang banyak melahirkan anak ada dua hal yang perlu diketahui :



a. Kesehatan fisik dan penyakit-penyakit yang menghalangi dari kehamilan. Untuk mengetahui hal itu dapat meminta bantuan kepada para spesialis. Oleh karena itu seorang wanita yang mempunyai kesehatan yang baik dan fisik yang kuat biasanya mampu melahirkan banyak anak, disamping dapat memikul beban rumah tangga juga dapat menunaikan kewajiban mendidik anak serta menjalankan tugas sebagai istri secara sempurna.



b. Melihat keadaan ibunya dan saudara-saudara perempuan yang telah menikah sekiranya mereka itu termasuk wanita-wanita yang banyak melahirkan anak maka biasanya wanita itu pun akan seperti itu.



3. Hendaknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah nikah.

Hal ini dimaksudkan untuk mencapai hikmah secara sempurna dan manfaat yang agung, di antara manfaat tersebut adalah memelihara keluarga dari hal-hal yang akan menyusahkan kehidupannya, menjerumuskan ke dalam berbagai perselisihan, dan menyebarkan polusi kesulitan dan permusuhan. Pada waktu yang sama akan mengeratkan tali cinta kasih suami istri. Sebab gadis itu akan memberikan sepenuh kehalusan dan kelembutannya kepada lelaki yang pertama kali melindungi, menemui, dan mengenalinya. Lain halnya dengan janda, kadangkala dari suami yang kedua ia tidak mendapatkan kelembutan hati yang sesungguhnya karena adanya perbedaan yang besar antara akhlak suami yang pertama dan suami yang kedua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjelaskan sebagian hikmah menikahi seorang gadis :



Dari Jabir, dia berkata, saya telah menikah maka kemudian saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan bersabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Apakah kamu sudah menikah ?” Jabir berkata, ya sudah. Bersabda Rasulullah : “Perawan atau janda?” Maka saya menjawab, janda. Rasulullah bersabda : “Maka mengapa kamu tidak menikahi gadis perawan, kamu bisa bermain dengannya dan dia bisa bermain denganmu.”



4. Mengutamakan orang jauh (dari kekerabatan) dalam perkawinan.

Hal ini dimaksudkan untuk keselamatan fisik anak keturunan dari penyakit-penyakit yang menular atau cacat secara hereditas.



Sehingga anak tidak tumbuh besar dalam keadaan lemah atau mewarisi cacat kedua orang tuanya dan penyakit-penyakit nenek moyangnya.



Di samping itu juga untuk memperluas pertalian kekeluargaan dan mempererat ikatan-ikatan sosial.





B. Kriteria Memilih Calon Suami

1. Islam.

Ini adalah kriteria yang sangat penting bagi seorang Muslimah dalam memilih calon suami sebab dengan Islamlah satu-satunya jalan yang menjadikan kita selamat dunia dan akhirat kelak.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“ … dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al Baqarah : 221)



2. Berilmu dan Baik Akhlaknya.

Masa depan kehidupan suami-istri erat kaitannya dengan memilih suami, maka Islam memberi anjuran agar memilih akhlak yang baik, shalih, dan taat beragama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)

Islam memiliki pertimbangan dan ukuran tersendiri dengan meletakkannya pada dasar takwa dan akhlak serta tidak menjadikan kemiskinan sebagai celaan dan tidak menjadikan kekayaan sebagai pujian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (nikah) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur : 32)

Laki-laki yang memilki keistimewaan adalah laki-laki yang mempunyai ketakwaan dan keshalihan akhlak. Dia mengetahui hukum-hukum Allah tentang bagaimana memperlakukan istri, berbuat baik kepadanya, dan menjaga kehormatan dirinya serta agamanya, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjalankan kewajibannya secara sempurna di dalam membina keluarga dan menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai suami, mendidik anak-anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dengan tenaga dan nafkah.

Jika dia merasa ada kekurangan pada diri si istri yang dia tidak sukai, maka dia segera mengingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yaitu :



Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Jangan membenci seorang Mukmin (laki-laki) pada Mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai.” (HR. Muslim)



Sehubungan dengan memilih calon suami untuk anak perempuan berdasarkan ketakwaannya, Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki :

“Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”



Untuk dapat mengetahui agama dan akhlak calon suami, salah satunya mengamati kehidupan si calon suami sehari-hari dengan cara bertanya kepada orang-orang dekatnya, misalnya tetangga, sahabat, atau saudara dekatnya.

Demikianlah ajaran Islam dalam memilih calon pasangan hidup. Betapa sempurnanya Islam dalam menuntun umat disetiap langkah amalannya dengan tuntunan yang baik agar selamat dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Wallahu A’lam Bis Shawab.



http://gugundesign.wordpress.com/2009/03/18/kriteria-memilih-pasangan-hidup-menurut-islam/#comment-1247

14.12.10

Ku Akan Selalu Ada,... Untuk Kita,......


jika kita terjatuh, terjatuhlah bergantian



jika kita merasa sakit, sakitlah bergantian



jika kita kecewa, kecewalah bergantian



jika kita terluka, terlukalah bergantian





Jadi, akan ada tangan yang menyambutku ketika aku terjatuh



akan ada punggung yang kuat menopangku, ketika aku sakit



akan ada bahu yang kokoh yang akan menampungku, ketika aku kecewa



akan ada pengobat hatiku ketika aku terluka..





Begitu juga dengan kau....



Tak perlu merasa sunyi dalam kesendirianmu....



Karena akan banyak telinga yang mendengar keluh kesahmu.....



Akan banyak air mata yang mengalir untuk menguatkanmu.....



Akan banyak tawa yang hadir untuk menghiburmu....



Ada jutaan nasehat dan pelajaran hidup yang akan datang mengisi lukamu....





Namun, jika kita terjatuh, sakit, kecewa, luka bersama-sama,....



Punggungku masih kuat untuk menopang kegundahan kita,.....



Malamku masih panjang untuk bermunajat tentang kita,.....



Dan senyumku masih akan hadir untuk kita,.......

13.12.10

Takut . . . . .


Apa itu takut?



Pernahkah kita dihinggapi rasa takut?



Apa yang dilakukan ketika kita merasa takut?





Aku pernah mengalami itu. Rasa takut yang kadang berlebihan kepada suatu hal, dan yang paling sering adalah "Ketakutan menghadapi masa depan." Hemm.



Terkadang kita mengalami ketakutan-ketakutan akan sesuatu yang belum akan kita alami. Ketakutan tersebut terkadang (bahkan seringnya) berakumulasi menjadi satu sehingga membuat sugesti tersendiri bahwa saya “takut” untuk menghadapinya. Bahkan lebih dari itu, saya pun bisa jadi salam mempersepsikan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Akhirnya di masa yang sedang dihadapi saat ini, saya mengalami "Trauma Persepsi". Mungkin hal tersebut dialami tidak hanya pada saya, mungkin ada diantara kalian pula yang mengalami hal serupa.



Terkadang, atau bahkan seringnya mengalami kejadian, saya takut ketika menghadapi sesuatu yang dalam pikiran saya adalah sesuatu yang sangat besar yang ketika itu gagal, akan mengubah setidaknya rencana besar yang ada di hidup saya. Contoh simpelnya begini, saya takut menghadapi dosen pembimbing PPL untuk meminta tanda tangan RPP. -contohnya ngambil yg faktual aja masalah PPL he he he- Karena ada isu yang berkembang bahwa jika dalam rentang waktu hingga saat itu belum menghubungi dosen pembimbing maka akan dipersilahkan mengulang PPL di tahun depan. Dari isu tersebut mulalilah muncul rasa ketakutan-ketakutan yang merambat pada stabilitas kehidupan saat ini. Dalam benak saya, ketika saya harus PPL di tahun depan lagi, maka akan menghambat rencana kelulusan yang telah di rancang jauh sebelum kejadian itu terjadi.



Apa akibat dari ketakutan itu? Jadi susah makan, bad mood, kepikiran terus-terusan, pokoknya kita jadi memikirkan sesuatu yang belum tentu itu yang akan terjadi nanti. Namun ketika bisa memberanikan diri untuk menghadapinya, seburuk apapun dapaknya, setidaknya kita telah memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan. Dan ternyata apa hasilnya? Tidak sesuai dengan ketakutan-ketakuan yang menjalari pikiran yang berdampak pada kestabilan kehidupan. Diomelin sebentar, RPP diterima, ditandatangani, allamdulillah aal izz well ^_^



Ternyata ketakutan itu hilang, bahkan menjadi ketakutan yang berlebihan saja ^_^



Alhamdulillah, dengan doa, usaha, tawakal dan sedikit saja keberanian untuk menerima kenyataan, semua ketakutan sirna ^_^





Ada contoh lain dari ketakutan itu sendiri. Kadang, saya takut untuk pergi ke dokter. Saya takut untuk mendengar vonis dari dokter atau saya takut mendengar analisa dokter akan penyakit yang saya derita. Padahal, kalau saya tidak ke dokter, usaha apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasi sakit yang saya derita itu? Intinya adalah saya tidak siap dan tidak berani untuk menghadapi penyakit yang saya derita, dan saya terus menerus dihantui oleh pertanyaan, kira-kira saya sakit apa ya? Padahal mungkin saja penyakit yang sebenarnya tidak seseram yang saya bayangkan.





Contoh yang mungkin juga sering kita hadapai, kita sering mengalami ketakutan-ketakutan yang itu belum akan terjadi. Misalnya, saya takut dengan tanggal tertentu atau momen tertentu yang dimana anggapan saya adalah pada saat-saat itu saya akan merasa rapuh, atau merasa sakit atau hal-hal lain yang mungkin akan menguras emosi -ceilah-. Sehingga ketika saya dari sekarang memikirkan momen-momen "danger" itu, saya merasa masa disaat saya memikirkan hal itu, maka disaat itu bisa jadi saya mengalami ketidakstabilan kondisi. Padahal belum tentu kejadian pada momen itu adalah seperti apa yang saya takutkan, bisa jadi saya akan baik-baik saja saat itu. Dan seringnya, itu terbukti benar., bahwa saya baik-baik saja ^.^/



Jadi akhirnya saya berpikir, untuk apa saya memikirkan hal-hal yang berlebihan akan sesuatu yang belum terjadi?? Yang ada hanya menguruas pikiran, tenaga, waktu, hmmmm apa lagi ya yang dikuras? :D dan membuang-buang energi saja. Apalagi ketka waktu kita hanya dihabiskan untuk berlarut-larut memikirkan tanpa mencari solusi alternatif dalam mengatasi ketakutan-ketakutan yang terjadi pada masa yang akan datang nanti. Sepertinya itu akan membuat kita menjadi lebih bijak dalam memikirkan dan bertindak atas persoalan yang belum terjadi, juga mengajarkan kita untuk berani menerima kenyataan sepahit apapun yang berhubungan dengan sesuatu yang belum terjadi.



Intinya adalah BERANI

Berani menerima kepahitan

Dan yang terpenting adalah berani menerima dan menghadapi kenyataan..



"Dari Sa'ad Ibnu Waqqash Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setiap selesai sholat selalu memohon perlindungan dengan doa-doa: (artinya = Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan, aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur)." Diriwayatkan Bukhari.



*Samarinda, 12 Des 2010

*Di bawah selimut dan ditemani embun pagi

[Ta'lim PW] Refleksi Ketauhidan Nabi Ibrahim As




Laporan Ta’lim PW PII Kalimantan Timur



Hari/Tanggal : Jumat, 10 Desember 2010

Pukul : 20.30-21.30 WITA

Tempat : Kediaman Yunda Nur Ayu Saputri

Mualim : Yunda Nur Annisa Rahmah

Materi : Akidah



REFLEKSI KETAUHIDAN NABI IBRAHIM AS



Bismillahirrahmaanirrahiim…



Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?"

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?

­Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

QS Al An’am 74-83



Surah tersebut menginspirasi kita untuk dapat meneladani Kisah Nabi Ibrahim AS dalam pencariannya mencari Tuhan.

Sebagai seorang muslim wajib mengimani adanya Allah SWT. Keberadaan alam sesmesta dan kehidupan di dunia ini adalah bukti nyata bahwa Allah SWT Sang Maha Pemilik Kehidupan. Bagi-Nya, apa yang ada di langit dan di bumi merupakan bagian kecil dari kekuasaan-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang terjadi dan akan terjadi



Pada dasarnya, semua makhluk yang diciptakan Allah memiliki kewajiban utama untuk tunduk dan menyembah kepada-Nya, Allah tidak mengharapkan dan tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya karena Dia-lah Yang Maha Kaya. Justru manusialah yang sangat membutuhkan dan mengharapkan nikmat-nikmat-Nya. Rasa ketergantungan ini seharusnya tertanam dalam tiap-tiap jiwa manusia, agar manusia sadar bahwa setiap detik dalam kehidupannya adalah sepenuhnya berada dalam genggaman Allah, segala nikmat yang dimilikinya adalah milik Allah, dan setiap keberhasilannya adalah merupakan ridha Allah dan taufiq dari-Nya (QS. Adz-Dzariyat: 56).



Sejarah dan perjalanan keberislaman khalilullah nabi Ibrahim as diungkap di banyak tempat referensi ajaran Islam, utamanya dalam Al-Qur’an. Ibrahim as merupakan nabi yang cerdas yang sejak kecil telah menghadapi kerasnya hidup, bahkan hidup di tengah-tengah masyarakat yang nyaris sudah tidak mengenal Allah SWT. Masa-masa kegelapan seperti penyembahan berhala sebagai Tuhan, kesyirikan, dan pemujaan kepada dewa telah menyelimuti bumi Allah kala itu. Bila ditadaburi dari perjalanan nabi Ibrahim as, maka sesungguhnya hal ini sarat akan nilai, sikap pemurnian, dan bertauhid kepada Allah SWT dengan memperlihatkan perlawanan yang dasyhat kepada kejahatan dan tipu muslihat iblis serta bala tentaranya.



Ibrahim as digolongkan sebagai muslim yang taat, anti terhadap kemusyrikan dan beliau telah mengukir sejarah berqurban sebagai bentuk dan lambang kecintaan yang tinggi dan ketaatan yang amat mendalam kepada Dzat yang Maha Agung, Al-Qur’an meringkaskan perjalanan nabi Ibrahim as yang mulia tersebut, Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (Q.S An Nahal :120)



Dalam kisah perjalanan kerasulannya, ada pesan khusus yang ingin disampaikan Ibrahim as untuk ummatnya, yaitu kecintaan yang mendalam pada Allah SWT. Cinta adalah kesadaran diri (wa’yu fî al-nafs), Dorongan hati dan perasaan jiwa yang menyebabkan seorang memiliki kecenderungan yang dalam kepada yang ia cintai dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang dan penuh harap (raja’). Cinta adalah fithrah bagi manusia, ajaran Islam pun mengakui akan hal ini (Q.S Ali Imran 14) oleh karenanya Islam mengaturnya sehingga cinta itu menjadi cinta yang mulia. Bagi insan yang bertakwa, cintanya terpaut mendalam hanya kepada Allah SWT, “..... adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 165)



Maka sungguhlah indah dan alangkah nikmatnya jika bentuk cinta seperti ini menjadi karakter dalam diri kita semua. Rasulullah SAW telah menujukan jalan dalam hal ini, yaitu mengikuti ajaran dan sunnahnya. Subhanallah. Allah SWT pun akan mencintai kita (hubban), menyayangi kita (rahîman), melindungi kita (himayah), memelihara dari mara bahaya bagi diri dan iman kita, bahkan Sang Khalik akan menberi ampun atas dosa dan kesalahan ( maghfirah).

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran: 31)



Menjauhi Syirik, Sikap Agung Ibrahim as

Amal yang sangat di benci Allah SWT adalah Perbuatan Syirik, yaitu sebuah bentuk penyimpangan prinsip hidup yang amat dahsat yang terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Arti Syirik dalam Islam adalah menyekutukan Allah SWT baik pada Ubudiyah (perkara ibadah) maupun Uluhiyah (aspek ketuhanan). Secara umum hal ini dapat berbentuk seperti ritual-ritual kepada sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan ghaib selain Allah SWT, bisa juga berupa penyembelihan, yaitu pemberian sesajen kepada sesuatu dengan mengharapkan satu lain hal dalam hidup ini. Kemusyrikan menjadi sejarah kelam dalam perjalanan hidup ummat manusia ini, dan menjadi titik hitam yang kerap terjadi diantara tradisi dan budaya hidup manusia.



Kesyirikan yang dikenal dalam Islam ini belum terjadi pada ummat manusia sebelum nabi Nuh as (Ulama Ibnu Abbas dan Ibnu Qoyim berpendapat sama dalam hal ini). Rentang masa kehidupan antara nabi Adam as dan Nuh as adalah sepuluh abad, dimana dijelaskan oleh banyak ayat Al-Qur’an bahwa manusia masa itu masih bertauhid kepada Allah SWT dengan baik, belum terjadi perselisihan tentang Allah SWT.



Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (QS. Al-Baqarah: 213)



Manusia dahulunya hanyalah satu umat, Kemudian mereka berselisih. kalau tidaklah Karena suatu ketetapan yang Telah ada dari Tuhanmu dahulu, Pastilah Telah diberi Keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS. Yunus: 19)



Petaka kesyirikan yang menghampiri manusia adalah diawali dengan perbuatan memuja secara berlebihan, bahkan berdoa dan berharap kepada orang-orang shaleh yang telah meninggal pada awal-awal kenabian Nuh as akan sesuatu hal dalam kehidupan mereka. Kelakuan ini berkembang dan bervariasi bentuknya menjadi penyakit serta merusak mental manusia dari masa ke masa berikutnya. Iblis secara utuh telah berhasil memperdayakan manusia dan merusak tauhidnya. Akibat ulah Iblis ini, manusia terpisahkan dari Rabb yang sesungguhnya, Allah yang selalu dipuja, Allah yang selalu memberi rejeki, memberkahi, dan mencurahkan nikmat-nikmat-Nya. Oleh karena itu, diutusnya nabi dan rasul laksana rantai yang tak terputus dan berakhir pada khatâm al-Anbiya’(penutup) yaitu Muhammad SAW, adalah untuk menyampaikan ajaran Tauhid yang satu dari Tuhan yang satu, dan Dia adalah Allah SWT.



Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya) (Q.S As-sura : 13).



Perbuatan syirik merupakan bentuk kedzaliman kepada Allah SWT dan digolongkan sebagai dosa besar. Allah SWT menghukum perbuatan syirik di dunia dalam bentuk tidak adanya maghfirah sebelum bertaubat, diputihkan/dianulir semua amal kebaikannya, seiring itu juga diabaikan Allah dan tidak diberi pertolongan. Adapun hukuman di akhirat adalah diharamkan baginya mencium harumnya surga dan dicampakan diri mereka ke dalam neraka.



“janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Q. S : Lukman 13)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar” (Q.S. An-Nisa: 48)

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Q.S. Al-Maidah: 72)

"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Q.S. Az-Zumar: 65)



Refleksi Ketauhidan Ibrahim as di Masa Sekarang

Kisah dan syari’at nabi Ibrahim as bagi ummat nabi Muhammad saw ternyata bukan tanpa maksud. Dalam banyak suratnya, al-Qur’an mengungkapkan tentang keshalehan, ketaatan, keberanian, dan kecerdasan nabi Ibrahim as, namun di atas semua itu adalah kisah ini memperlihatkan bentuk ketakwaan Ibrahim as kepada Allah SWT dalam usahanya mencari prinsip-prinsip tauhid dan dengan sikapnya yang tegas dan berani menghadang nilai dan perilaku syirik masyarakatnya, An-nahyu anil mungkar, walâ ta’âwanu ala ‘udwan. Bagi Ibrahim as keberanian mengoreksi kesalahan pengabdian ummat dimasanya adalah domainnya sebagai muslim yang taat yang telah dikaruniai pemamahaman Tauhidnya yang murni. Kisah ini memiliki dua pengaruh positif untuk manusia sesudahnya, terutama ummat nabi Muhammad saw. Pertama, adalah Ibrahim as telah melahirkan kesadaran yang panjang bagi manusia tentang urgensi tauhid yang murni, tidak bercampur sedikitpun dengan kesyirikan. Kedua, kisah Ibrahim as menjadi simbol penghormatan dan penghargaan yang tinggi di sisi Allah SWT. Allah SWT memuji hamba-Nya lantaran kebersihan tauhidnya, berbekal tauhid yang bersih dan benar akan membimbing manusia ke dalam bentuk ibadah-ibadah dan ketaatan yang ikhlas.



Pada masa sekarang, aspek-aspek perusak tauhid sangat bervariasi meski tidak seperti masa Ibrahim as, lain lubuk lain belalang. Hal inilah yang menjadi tantangan untuk ummat Islam, khususnya ummat Islam Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Budaya dan tradisi kuno kembali bermunculan dan menampakkan diri, seperti adanya komunitas-komunitas pemuja setan, komunitas paranormal yang sedikit demi sedikit menggeser tauhid yang bersih, komunitas pencinta sesajen, sesembelihan yang dikaitkan dengan selain Allah, dan tradisi-tradisi yang menyekutukan-Nya. Demikian pula dengan bermunculannya penyimpangan-penyimpangan ajaran Islam, nabi-nabi palsu, para intelektual yang cenderung bebas nilai, pencitraan yang menyudutkan Islam, provokasi kartun nabi Muhammad SAW, film-film fitnah Islam, bahkan terusiknya kenyamanan di negara–negara minoritas dan lainnya.



Pada dasarnya, tauhid yang dibawa Ibrahim as memiliki nilai yang universal, bukan sebatas pada kepercayaan, tetapi tauhid yang mampu melahirkan amal, menggerakkan, dan mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan ummat sesuai masa dan kebutuhan zamannya. Inilah fungsi sekaligus tantangan untuk berkarya dan mengabdi bagi setiap mukmin, keluarga mukmin, dan lebih luas lagi untuk komunitas dan masyarakan muslim.



Zaman berubah, musim pun berganti, dengan kondisi muram wajah ummat Islam saat ini, terutama dalam hal peningkatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan ummat Islam, serta hal-hal lainnya, mayoritas ummat Islam hendaknya memulai amal jama’i dalam al-amr bi al-ma’ruf, wa ta’âwanu ala al-birri wa taqwa.



Maka dengan pemahaman Tauhid yang benar, rasa kecintaan pada Allah SWT dan Islam akan melahirkan mukmin sejati yang siap berbuat banyak untuk ummat dan agama melalui berbagai amal baik. Lembaga ataupun pribadi, dari surau-surau hingga masjid, dapat mencintai saudara seimannya dari berbagai lapisan.



“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)” (QS. Al-Ahzab:23)



Membahayakan aqidah

Aqidah dalam Islam sangat prinsip, esensinya adalah tauhid. Nabi Muhammad SAW memprioritaskan pembinaan aqidah umat, agar iman kaum muslimin itu benar-benar berkualitas. Hal ini sangat diutamakan dalam ajaran Islam. Mengapa? karena hal ini merupakan pondasi yang sangat mendasar di hati umat Islam.



Aqidah adalah sesuatu yang sangat tingai nilainya bagi seorang muslim Dengan aqidah yang kuat seorang muslim akan memiliki sikap yang teguh pendiriannya (istiqomah) di dalam hidup dan kehidupannya sehari-hari. Maka nilai aqidah bagi seorang muslim itu tidak dapat ditukar dengan uang, harta, bahkan nyawa sekalipun.



Tetapi terkadang aqidah (keyakinan atau kepercayaan) ini bisa goyah dan luntur dengan adanya berbagai aliran pemikiran dan paham yang terus berkembang dan muncul di masyarakat, yang dapat melunturkan nilai-nilai aqidah Islamiyah, sehingga menimbulkan banyak tantangan dan problem umat.



Tantangan Menghadang

Ajaran tauhid (aqidah) sangat fundamental, yang perlu perhatian utama bagi umat Islam, sehingga tetap terjaga kesucian dan kemumiannya sekalipun banyak tantangan-tantangan yang timbul dan terjadi di kalangan umat Adalah Iblis menjadi musuh bebuyutan manusia sejak Nabi Adam AS sampai hari kiamat kelak. Bahkan Iblis bersumpah untuk dapat menjerumuskan Nabi Adam AS dan keturunannya. Hal ini menjadi tantangan yang dihadapi manusia. Selain itu ada juga tantangan yang dapat merusak terhadap nilai-nilai aqidah seperti halnya animisme, dinamisme, pluralisme, liberalisme, sekularisme, dan sinkretisme.



Menurut Indrawan WS dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, animisme adalah kepercayaan yang beranggapan bahwa semua benda mempunyai roh dan memiliki kekuatan. Demikian pula dengan dinamisme hanya beda-beda tipis antara keduanya, sehingga muncul anggapan dan kepercayaan terhadap tempat-tempat dan benda-benda khusus seperti keris, tombak dan jimat.



Pluralisme ini juga disuntikkan terhadap kaum muslimin dengan tujuan utamanya adalah agar kaum muslimin beranggapan semua agama itu benar, padahal kebenaran mutlak hanya satu, itulah dinul Islam. Sekularisme merupakan suatu paham yang memisahkan agama dari kehidupan (bernegara). Membangun struktur kehidupan di atas landasan selain dari Islam.



Islam Agama Dakwah

Islam adalah agama dakwah yang sifatnya universal dan selalu ‘up to date’ setiap saat Islam tentu mampu memberikan solusi dan jawatan agar umat ini tetap berpegang teguh terhadap kebenaran yang mutlak yaitu Dinullah (Islam). Akhimya kita berdoa semoga aqidah kita murni, keimanan kita semakin mantap, nilai keislaman kita semakin meningkat dan nilai keberagamaan kita semakin kuat.



Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Ali Imran: 147).



****************

Kesimpulan yang dapat diambil dari Mualim adalah, agar kita dapat meneladani Nabi Ibrahim AS dalam merefleksikan ketauhidannya kepada Allah SWT dengan cara:

1. Mencintai Allah SWT dengan sebenra-benarnya cinta (Q.S. Al Baqarah:165)

2. Menjauhi syirik dengan segala bentuk kesyirikannya (Q. S : Lukman 13)



Refleksi ketauhidan yang dapat kita lakukan pada saat sekarang adalah dengan senantiasa memperbarui syahadat kita dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga memiliki tantangan dari hal-hal yang dapat merusak terhadap nilai-nilai aqidah seperti halnya animisme, dinamisme, pluralisme, liberalisme, sekularisme, dan sinkretisme.

Semoga Allah merahmati kita semua.



“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” Q.S Al Fatihah:6-7



Sumber :

1. http://dinnirasjid.blogspot.com/2009/11/refleksi-ketauhidan-nabi-ibrahim-as.html

2. http://mimbarjumat.com/archives/19