13.12.10

[Taujih Part II] La Taghdob Walakal Jannah



La Taghdob Walakal Jannah.



Sebagai seorang manusia biasa, pastinya kita pernah mengalami situasi yang membuat kita marah. Siapapun kita, tentu saja pernah merasakan sakit hati, kecewa dan marah.



Pagi ini, seorang saudari memberikan taujihnya pada sebuah lingkaran kecil yang -semoga saja- kehadiran lingkaran tersebut untuk mengharapkan ridha Allah dengan niat untuk mengkaji dan menuntut ilmu. Seorang saudari yang menceritakan mengenai hakikat marah. Ia menceritakan sebuah dialog antara seorang anak dan ayahnya mengenai sebuah tema, yaitu marah.



******



"Ayah, tolong beritahuku tentang hakikat marah." Ujar anak kecil tersebut kepada ayahnya.



Sang ayah tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya, namun ita mengajak ke belakang rumahnya, dimana terdapat sebuah tembok besar disana.



"Ayah akan menjawab pertanyaanmu tapi sebulan lagi. Nak, sekarang coba kau lihat tembok besar itu."



"Apa hubungannya tebok besar dengan marah ayah?"



"Ayah mau kau mengikuti perintah ayah. Selama sebulan, ketika kau sedang marah dan melampiaskannya kepada orang lain, maka tancapkanlah paku dengan menggunakan palu ini pada tembok itu." Kata ayahnya sembari memberikan palu dan paku kepada anaknya tersebut.



Benar saja, sang anak kemudian mematuhi perintah ayahnya tersebut. Ketika ia sedang melampiaskan kemarahannya pada siapaun itu, baik kepada temannya, ibunya, atau siapapun yang ditemuinya, maka setelah itu ia menancapkan paku pada tembok besar di belakang rumahnya.



Sebulan kemudian, ia kembali menemui ayahnya di belakang rumahnya tersebut.



"Ayah, aku sudah memenuhi perintahmu. Sekarang lihatlah tembok itu, sudah penuh dengan tancapan paku."



"Anakku, sebelum ayah menjelaskan kepadamu mengenai hakikat marah, maukah kau mengikuti sekali lagi perintah ayahmu?"



"Hmmmm, baiklah ayah. Apa permintaan itu?"



"Ayah akan memberitahumu tentang hakikat marah sebulan lagi. Selama sebulan kedepan, kau harus berjanji kepada ayah untuk meminta maaf kepada orang yang pernah kau buat marah. Setelah kau meminta maaf, kau harus mencabut paku tersebut satu per satu hingga semua paku yang ada di tembok itu terlepas."



Karena anak tersebut penasaran dengan penjelasan ayahnya tentang hakikat marah, maka ia mengikuti apa yang diperintahkan ayahnya.



Sebulan telah berlalu, dan kemudian anak tersebut kembali menagih penjelasan ayahnya tentang hakikat marah.



"Lihatlah ayah, aku telah melaksanakan perintahmu. Aku telah meminta maaf dan paku-paku tersebut telah terccabut semua dari tembok itu." Kata anak tersebut.



"Wahai anakku, dengarlah penjelasan ayah. Sekarang kamu lihatlah tembok tempat kamu menancapkan paku itu. Pada mulanya, tembok tersebut mulus dan bersih dari cacat. Namun kamu lihat apa yang terjadi, ketika kamu marah dan menancapkan paku, seusungguhnya kamu telah menancapkan paku kepada orang yang kamu sakiti ketika kamu marah. Dan ketikapun kamu telah meminta maaf kepada orang yang kamu sakiti, maka sesungguhnya kamu tidak dapat mengembalikan perasaan dari orang yang kamu sakiti itu, ssekalipun kau sudah meminta maaf padanya dan permintaan maafmu diterima."



Sang anak tertegun.



"Oleh karena itu anakku, maka kau harus berhati-hati ketika marah. Jangan sampai dengan marahmu itu kau melukai hati saudaramu sendiri, jangan sampai kamu menyakiti hati orang lain. Itulah hakikat marah anakku."



********



Subhanallah, wahai teman-teman semua,.. Benarlah bahwa kita diminta untuk jangan marah,



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

[رواه البخاري]



Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhori) Hadits Arba'in No 16



"Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan." (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan)



Teman-teman, mari kita menjaga diri kita dari sifat kemarahan, karena sesuai dengan Hadits Rasulullah saw bahwa "Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : 'Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.' (HR. Bukhari dan Muslim). Menjadi pribadi yang pemaaf, tidak mudah marah, dan marilah kita menjadi orang yang kuat ^.^/



*saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan ya,....

*ditulis dengan bahasa sy sendiri,....

*mohon maaf apabila ada salah kata dan perbuatan,....

*Samarinda, 11 Des 10

[Taujih Part I] Tentang Surga




Di sudut tempat yang berbeda, tiga tahun yang lalu. Peran yang dilakoni pun berbeda, walaupun formasinya masih tetap sama. Aku bersemangat menimba ilmu dalam lingkaran majelis ilmu. Namun yang aku ingat sekarang, bukanlah materi yang disampaikan pada saat itu, bukan pula teman-teman dalam kelompok itu. Yang masih terbersit alam ingatan dan sedikit mengusik dalam kalbu adalah sebuah tema taujih di siang itu.



"Di sini kita pernah bertemu, mencari warna seindah pelangi"



Seorang asisten mentor memberikan taujihnya di siang yang terik itu. Temanya ringan, walau aku lupa-lupa ingat tentang detail materi yang ia sampaikan waktu itu. Intinya tentang surga. Dari kutipan sebuah buku yang aku lupa judul maupun covernya. Sang asisten mentor menceritakan tentang gambaran penghuni surga, serta ciri-cirinya. Aku terkesima, entah aku saja ataukah teman-temanku yang lain terbius dengan fatamorgana surga yang keluar dari lisannya.



"Bahwa ketika kita menginginkan menjadi ahli surga, maka bayangkanlah surga di setiap ingatan kita. Bayangkan kita menjadi penghuni surga, hadirkan surga dalam cita-cita kita, selain tentunya mengharapkan Ridha Allah."



Sebuah kalimat singkat penuh makna.



Jika aku mengingatnya, jika aku menghadirkan surga dalam dekapan mata, tanpa sadar akupun mengingatnya. Seorang pemberi taujih yang tak ku lupa wajahnya.



Aku kini merindu surga. Pun semoga kalian yang dulunya ada di lungkaran itu juga.



"Semoga kita semua dikumpulkan dan dipertemukan kembali dalam surga-Nya"



Kalimat singkat itu, masihkah kau mengingatnya wahai mba pentaujih....



Dalam doa, dalam sadar, aku meng-amin-kan doa itu.

2.12.10

(Cerita Sangat Pendek) Adikku, Berhentilah Bermain-main

Siang yang terik itu, kau menghampiriku dengan penasaran yang tinggi setelah aku pergi menemani persalinan seorang keluarga.

''Mbak Cha, melahirkan itu susah kah?''

Sedikit terkejut mendapat pertanyaan dari seorang gadis belia berusia kira-kira 15 tahun. Pertanyaan itu, sungguh membuatku tersentak dan memberikan isyarat akan kabar burung yang terdengar pahit di kalangan tetangga. Ku amati wajah polos gadis belia itu sembari mengamati perubahan biologis pada tubuhnya.

''Mbak Richa ga pernah melahirkan, coba kamu tanya Mbak Irma kalau nanti dia pulang'' jawabku, antara sedih, bingung, kasihan, yang jelas ribuan tanda tanya berkecamuk dalam pikiranku.

Selang beberapa minggu, pertahanan untuk berkhusnudzhon itu runtuh juga ketika sebuah undangan mampir ke rumah. Seminggu lagi, gadis mungil bernama Bunga itu akan menikah.

Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair

''Adik kecilku, ingin ku katakan sebuah nasihat kepadamu, janganlah lagi bermain-main dengan sebuah ikatan yang sangat kuat, maafkan mbak Richa, seorang yang pernah kau anggap kakak yang tanpa mampu mencegah ini terjadi. Seandainya ku bisa mengulang waktu, namun itu sepertinya tidak mungkin, semoga kisahmu menjadi pelajaran buatku, dan buat teman-teman seusiamu. Satu pesanku, pelajari ilmu matangkan, jadilah ibu yang baik bagi anakmu kelak''

Dan nasehat itu, belum mampu aku sampaikan padamu. Maafkan aku tak mampu menjadi kakak yang baik untukmu.

Puisi Keraguan

Aku ragu akan sesuatu yang aku ragu,..

Aku ragu terhadap keraguan yang mejalariku,..

Aku ragu dan meragukan keraguanku...



Intinya hanya satu,..

Ragu (titik)



Aku ragu bawa aku mampu menepis rasa ragu itu,..

Aku meragu atau keraguan yang masih aku ragu,..

Aku ragu karena mungkin diawali dengan keraguan itu,..

Aku ragu...



Jangan membuatku ragu atas setiap keraguan yg terjadi dlm diriku..

Jgn membuatku bertambah ragu,, karena tak ada yang menepis keraguan itu..

Jangan membuatku ragu, karena tidak ada jalan apapun yang akan di bangun di atas keraguan...



"ya muqallibal quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinik"

Renungan Pagi Tentang UTS dan Munakahat


Pagi ini aku mengawas ujian tengah semester di SMK. Ditengah hujan yang membasahi bumi Samarinda, aku menderu motor dengan semangat yang telah dibangun sejak sebelum tidur.

Dapat ruang 16 di kelas XII, aku menemukan atmosfer ujian yang baru dan aneh. Mungkin karena di awas oleh mahasiswa PPL, atau karena memang kesolidan kelas sudah terbangun sedemikian kuatnya sampai-sampai harus kerjasama dalam ujian. Hufht, anyway, aku malas merusak keindahan pagi ini dengan marah-marah nggak jelas.

Aku bagikan lembaran soal dan kertas jawaban pada mereka. Owh, pelajaran pertama Agama Islam, dan pelajarannya tentang Munakahat. Pertanyaannya mudah-mudah kok, yang jelas pastinya tentang pernikahan, dan dua soal yang sering terjadi di kehidupan sekarang, mengenai pendapat mereka tentang married by accident dan foto pra wedding. Tapi ya itu tadi, mau pelajaran apapun itu, kalau mereka nggak belajar ya nggak bisa jawab. Ribut lah yang terjadi di kelas.

Segerombol siswa di pojok kelas aku hampiri,
"Ayo jangan ribut." kata pamungkas yang pastinya sulit dilaksanakan.
"Soalnya susah bu." celetuk mereka.
"Gampang kok, tentang nikah aja masa gak tau?"
"Kita kan belum nikah bu."
"Ckckckck kalian ini, masa pacaran aja bisa tapi nikah gak tau?" candaku sambil terus berpatroli mendatangi segerombolan siswa lain yang juga ribut. Dibalas garukan kepala oleh mereka.

Hemm, kembali ke soal. Beberapa menit berlalu, beberapa siswa mengumpulkan jawaban yang sudah selesai. Ku perhatikan jawaban mereka, terutama dua soal yg terakhir. Hemm, waaaw, betapa terkejutnya aku, ternyata masih ada aja yang tidak mengerti bagaimana hukumnya nikah karena kecelakaan. Ada yang bilang boleh untuk melindungi sang anak, ada yang bilang boleh tapi nanti kalau melahirkan nikah lagi kalau nggak bisa zina seumur hidup. 'Anak-anak, kalau ini bukan ujian tak jelaskan ini jawaban dari pertanyaannya.' Tapi nga mungkin lah soal ini keluar kalau belum dijelaskan sebelumnya? Jangan-jangan ngga perhatikan kalau guru menjelaskan.

Anak-anakku yang cerdas, andai kalian memahami bahwa belajar itu adalah untuk memahamkan kalian akan sesuatu yang belum kalian ketahui, maka kalian akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru, yang tidak hanya berguna jika pelajaran itu muncul di ujian, tapi menjadi ilmu dalam kehidupan. Jika kalian mengetahui, bahwa ilmu agama yang kalian pelajari adalah bekal bagi kehidupan, tidak hanya kehidupan kini saja, juga nanti. Wa bil khusus ilmu tentang munakahat, adalah bekal bagi masa depan kalian, sebagai pengantar agar kalian lebih bertanggung jawab terhadap keluarga kalian nantinya. Dan tentang soal no 4 itu, sebenarnya untuk membuka cakrawala berpikir kalian bahwa MBA bukan berita baru lagi bagi remaja saat ini. Saya yakin, guru kalian sedang memberi bekal untuk kalian agar tidak terjerumus dalam perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai dengan norma manapun. Semoga ilmu yang kalian pelajari menjadi barokah, dan mampu di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

*10 Nov 10*

Dalam Persimpangan

"ku titipkan cahaya terang, tak padam di dera goda dan masa."

ketika Kau memberi ujian, maka Kau beri pula jalan untuk melaluinya. Aku jadi teringat beberapa bulan silam,. Kau beri jawaban sebelum ujian datang.. Jika itu ulangan, maka betapa dimudahkannya aku?.. Ya, dan aku melangkah bersama jawaban dariMu.

Namun ternyata ujian ada di tengah jalan. Kaki kaki lemahku yang semula berlari, diterpa batu dan rintangan berduri. Namun aku masih kuat berdiri. Walau akhirnya harus aku yang tinggal sendiri. Aku terus berjalan dan sesekali berlari. Menyusun strategi dan rencana mengunggah mimpi. Menjaga agar lilin harapan tak pernah padam, diterpa angin dan ujian yang menghantam. Karena aku percaya, ku mencoba investasi jutaan kebaikan.

Ketika kini ku terdiam, entah karena kaki lelah melangkah, atau lilin tak mampu menyala dengan indah, ataukah asa yang terancam punah? Atau ini semua akumulasi dari rasa lelah.. Dan mungkin semua itu adalah jawabannya...

Yang kini telah rapuh dalam berjalan, ku kembalikan semua kepada Tuhan, ku serahkan padaNya jalan mana yang Ia pilihkan. Aku dalam persimpangan.

Tipe Berdasarkan Golongan Darah

# GOLONGAN DARAH O Tempramentnya : - Berorientasi pada tujuan - Memiliki keinginan yang lurus - Tidak mau kalah - Tidak suka dikontrol - Bersifat romantis - Memutuskan sesuatu berdasarkan fakta - Mahir menggunakan bahasa yang baik - Memiliki kesadaran sosial yang tinggi Kelebihannya : - Memiliki pemikiran dan rasa cinta yang kuat - Memiliki keinginan untuk maju - Benci kekalahan - Memiliki harga diri yang tinggi - Puitis, ingin membahagiakan orang lain - Taat, Hangat, Bersahabat - Tidak banyak bicara - Keceriaan yang tidak dibuat-buat - Memberikan teladan Kekurangannya : - Suka ikut campur - Cenderung memutuskan sendiri - Tidak peduli dengan perasaan orang lain - Mudah grogi Terlalu PD saat mengucapkan opini sendiri - Kekanak-kanakan - Kurang akurat secara general - Suka berkelahi, memberontak



# GOLONGAN DARAH A Tempramentnya : - Khawatir terhadap sekeliling - Menghormati aturan, tata cara - Pemikirannya mudah berubah - Pesimis terhadap masa depan - Tahan untuk berupaya terus menerus - Tidak puas dengan keadaan sekarang - Ingin melakukan hal yang baik dalam hidupnya Kelebihannya : - Tidak mudah dibohongi - Serius, tidak mau melanggar aturan - Menghargai kerjasama tim - Tidak ceplas-ceplos - Dewasa, bertindak sesuai prinsip - Berhati-hati, bijaksana - Tegas, rapi, bersih, teratur - Berperasaan halus - Berbakat dan bermoral Kekurangannya : - Merasa benar sendiri - Kalau ngambek, lama - Suka ngotot - Sedikit keras kepala - Terlalu memusingkan apa kata lingkungan Gampang curiga - Tidak pandai dalam mengambil keputusan



# GOLONGAN DARAH B Tempramentnya : - Memiliki jalan sendiri, benci pembatasan - Memiliki pemikiran dan fleksibel - Menghargai keputusan yang akurat - Pemikirannya praktis dan spesifik - Berkonsenstrasi pada banyak hal - Selalu optimis terhadap masa depan - Sakit hatinya mudah sembuh - Gejolak perasaannya besar kelebihannya : - Simple tapi memiliki percaya diri - Hidup untuk pekerjaan dan masyarakat - Gigih, tekun - Menggunakan pengalaman sebagai sesuatu yang berharga - Berpikir positif - Berani tapi kadang kekanak-kanakan - Tidak menyembunyikan hati dengan kejujuran - Perencanaannya bersifat praktis - Kaya ide, demokratis, tulus - Tenang, gampang mengerti, menarik - Pembawaannya hangat kekurangannya : - Terkadang tidak masuk akal - Mudah dijebak - Tidak punya mimpi - Tindakannya sering berbeda dari yang lain - Banyak komplain - Tidak pasti, tidak tegas, bimbang - Kurang cermat - Suka melawan



# GOLONGAN DARAH AB Tempramentnya : - Pertimbangan dan analisisnya tajam - Pandai membina hubungan - Kontrol emosinya kurang - Berkonsentrasi tinggi tapi tidak bisa mempertahankannya - Membenci kemunafikan kelebihannya : - Ceria, manis, cerdas - Loyal, pandai, adil - Suka memberi bantuan - Berkepala dingin - Memiliki keinginan besar - Efisien, cepat dalam menangkap hal penting - Hobinya banyak - Konsisten - Sopan, rendah hati, sederhana kekurangannya : - Tekadnya kurang bulat - Tidak suka mengambil resiko - Tidak terlalu mementingkan formalitas - Kurang menyenangkan - Pandai dalam pembenaran diri - Kurang sabar - Monoton - Berkarakter ganda - Mudah menyerah - Tidak membereskan apap yang telah dilakukan - Tidak cukup kebebasan - Suka mengkritik - Sering menyakiti perasaan orang lain

Sayang. . . . . . . .

Ingatkah aku sayang...
Ketika suatu sore kau mengajakku ke tempat itu...
Kau menggenggam erat jemariku...
Kau menuntun meniti jalan berbatu...
Kita menyusuri jalan itu...
Berdua, tak ada yang mengganggu...
Dan jejak kenangan semakin memudar...
Karena aku melupakan masa indah itu...
Maaf pun terasa hambar terucap dari bibirku...

Sayang...
Belaian mesra ditengah hujan...
Juga tak mampu terlukiskan dalam ingatan..
Walau ku coba menarik semua bayang-bayang...
Tak juga sanggup mengukirkan kenangan indah itu...
Sekali lagi maaf...
Kembali ku lupakan momen cinta itu...

Dan ketika gerimis melanda...
Ku menangis memandang kelu wajahmu...
Bahkan sebelum air mata tumpah...
Kau menyekanya dengan air hujan...
Menerobos malam menjanjikan terang...
Pada sebuah episode masa depanku...
Masa depanku...
Bukan masa depanmu atau masa depan kita...
Karena katamu kau yakin dan percaya...
Masa depanmu adalah aku...

Dan lagi-lagi aku lupa...

Sayang,..
Bukannya aku tak mengerti cinta...
Namun kurasa, tatapanmu adalah cinta...
Desah napasmu adalah cinta...
Belaianmu adalah cinta...

Dan lagi-lagi...
Sekali lagi, aku lupa...

Sayang,..
Bukan ku hendak melupakan wajahmu...
Bukan ku hendak melupakan cintamu...
Apalagi ku menduakan sayangmu...

Sayang,..
Mengapa tak terbersit di benakku...
Jika nanti ku menduakan cintamu...
Menangiskah engkau mempertahankanku?
Ataukah tangisan kerelaan demi bahagiaku?
Ataukah hanya senyum getir dan tatapan nanar penghias harimu?
Karena kekasih hatimu kan pergi meninggalkanmu...

Sayang, maaf aku terlalu egois..
Membalas cinta dengan sinis..
Bahkan tak mampu tersenyum manis..
Walau kadang di hatimu tersimpan tangis..

Maaf sayang...
Maaf...
Ku tak mampu membalas sayang...
Ku tak mampu membalas cinta...
Ku tak mampu menyeka rindu..
Dan peluh di dahimu...

Akupun dalam gelapnya malam mencintaimu..
Hah? Mengapa cinta itu datang disaat gelap?
Mengapa cintaku tak mampu mengusir gelap?
Mengapa cintaku tak seterang mentari menyinari sisi gelapku, seperti cintamu?

Sayang, sekali lagi maaf...Yang mencintaimu dalam diam...

(Hah? Padahal cintanya adalah nyata..
Padahal cintanya adalah kata..
Padahal cintanya adalah perbuatan..
...Padahal cintanya adalah tanggung jawab..
Padahal cintanya adalah kasih sayang..

Namun kau hanya mampu mencintainya dalam diam?)

Terimalah pesan cinta dari anakmu,..
Untuk ayah...

23.9.10

Segelas Cappucino dan Seisi Dunia

Aku menyebutnya sugesti cappucino. Entah karena aku sedang terkena sugestiku sendiri, atau karena memang efek cappucino yang begitu dahsyat menimpa tubuhku, sehingga malam ini aku tak dapat tidur.

Lantas, apa yang aku kerjakan dalam ketidakmengantukkan ku ini? Banyak hal. Dan aku mampu merangkum seisi dunia dalam segelas cappucino. Kok bisa? Ya, bisa! Pernah mendengar cerita warung kopi dimana banyak mengalir informasi dari pengunjungnya? Mulai dari obrolan santai sampai obrolan kelas berat bak pengamat politikus ternama ada di dalamnya. Dan cerita itu mengalir dan mengental bak segelas kopi.

Namun aku tidak ingin bercerita tentang itu. Aku ingin mengisahkan tentang isi duniaku yang tercipta akibat sindrom segelas cappucino yang membuatku tidak mengantuk dan tidak tertidur. Dalam tenangnya malam, aku terjaga sambil bermimpi tentang sebuah kisah masa depan. Tentang cita-cita, harapan, impian. Tentang kisah menaklukkan dunia. Dunia mana yang ku coba taklukkan? Adalah duniaku, duniamu, dunia kita.

Ini tidak hanya sebuah mimpi, karena dalam terjaga aku menyadari bahwa kita tidak akan pernah terbangun dari mimpi ketika kita hanya mampu memimpikan tanpa mampu merealisasikan dan membangunkan mimpi itu....
26-08-10

Aku dan Kau

Aku dan Kau...

Aku bercerita kepada Kau tentang indahnya berenang mengarungi sungai yang arusnya deras itu...

Kau pun mengiyakan ceritaku...

Aku juga bercerita kepada Kau bahwa aku tidak bisa berenang...

Lagi-lagi Kau bercerita tentang keindahan itu...

Kau menyuruhku untuk mengarunginya...

Sekali lagi Aku katakan, Aku tidak bisa berenang...

Namun suatu hari, Kau mendorongku ke dalam aliran sungai itu...

Entah karena Kau tidak percaya bahwa Aku tidak bisa berenang...

Atau karena Kau yakin Aku mampu berenang dengan cepat...

Atau karena Kau bermaksud melatihku untuk cepat berenang...

Atau...

Karena mungkin Kau sudah lelah mendengar ceritaku tentang keinginan itu...

Aaah, apapun itu, Aku sekarang tenggelam...

Karena Aku tidak bisa berenang...

Aku melambaikan tangan meminta bantuan...

Namun Kau tidak bergeming, hanya menatap dari tepi sungai...

Aku meminta bantuan...

Dengan terisak aku berteriak padamu...

Namun kau malah beranjak pergi dari tepi sungai itu...

Sebelum derasnya arus membawaku, sebelum Aku pergi terseret aliran sungai itu, Aku berteriak satu hal padamu...

"Jangan biarkan aku tenggelam..."






*21.08.2010*

18.8.10

Memories Ramadhan 2006

Aku ingin bercerita tentang Ramadhan 2006. Banyak kisah yang tercipta di tahun itu. Tahun dimana aku mendaulat diriku sebagai “aktivis” hehe. Tentu saja, karena saat itulah dimana aku keluar dari lingkup Ramadhan di Sekolah. Tahun-tahun sebelumnya, Ramadhanku diisi dengan aktivitas di sekolah, terawih bersama sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh sekolah, juga buka puasa yang juga telah dijadwalkan sebelumnya. Di tahun itu, aku memberanikan diri “mendobrak” tradisi Ramadhanku. Memberanikan diri Ramadhan di luar sekolah dengan konsekuensi yang lumayan menakutkan bagiku saat itu, “satu hari tidak turun maka hukumannya menulis satu juz Al Qur’an” dan aku berhasil menorehkan cerita manis untuk dikenang pada Ramadhanku di tahun ini.

H-7 Ramadhan.
Siang begitu terik menyapa Samarinda hari itu. Di pelataran Masjid Al Ma’ruf, terlihat dua gadis berseragam SMA sedang melepas lelah. Saat itu keduanya rupanya sedang berpuasa membayar qadha puasa di tahun sebelumnya yang masih bersisa beberapa hari. Di terik matahari itu, keduanya baru saja roadshow mengelilingi beberapa sekolah di Samarinda untuk mengantar undangan kegiatan serta mengkonfirmasi peserta dari sekolah-sekolah tersebut. Dinginnya pelataran Masjid Al Ma’ruf cukup mengobati rasa lelah yang hinggap pada mereka. Setelah ini, perjalanan keduanya dilanjutkan dengan menyebrang masuk area Mall Lembuswana untuk melaporkan apa yang telah dilaksanakan hari ini kepada seorang yang begitu peduli dengan kegiatan mereka. Hari itu, persiapan kegiatan “Pesantren Jurnalistik Pelajar, Pelajar Islam Indonesia Samarinda” telah 65% terlaksana. Kedua gadis tersebut adalah aku dan sahabatku yang bernama Ayu.

H-2 Ramadhan.
Hari ini adalah hari pembukaan Pesantren Jurnalistik Pelajar. Menurut konfirmasi, ada sekitar 50 peserta yang akan mengikuti. Namun ternyata tidak sampai 20 peserta yang hadir. Ada sedikit kecewa terlintas karena kegiatan yang seharusnya mencapai target ternyata belum tersampaikan. Namun panitia tetap tidak putus asa. Tetap semangat menjadi panitia hingga nantinya acara usai. Bahkan sang ketua memarkirkan mobilnya tiga hari di lokasi untuk mengakomodir kebutuhan yang dibutuhkan oleh kepanitiaan.

Hari H Ramadhan.
Malam ini, sahurku pertama kali di lokasi kegiatan. Teman-teman yang laki-laki datang ke rumah untuk mengambil konsumsi kami. Malam itu begitu berbeda bagiku, karena saat itu adalah pertama kalinya aku menghabiskan Ramadhan pertamaku di luar rumah. Bersama peserta dan panitia lainnya kami menghabiskan menu di dini hari itu. Alhamdulillah, masih bisa bertemu dengan Ramadhan meskipun aku tidak menghabiskannya dengan ibu, ayah dan adik-adikku di rumah. Namun sayangnya, karena terlanjur pesan makanan dengan jumlah yang banyak, masih banyak bersisa. Akhirnya teman-teman PII wan berjalan untuk memberikan nasi bungkus yang berlebih tersebut.

H1 Ramadhan.
Hari ini hari terakhir pesantren Ramadhan. Sebelum kegiatan ditutup, aku, Ayu, dan Mala masih disibukkan dengan pekerjaan panitia namun juga tidak lupa mempersiapkan makalah LIT (Leadership Intermedate Training) PII yang akan dilaksanakan dua hari lagi di Tanah Grogot. Ditengah kesibukan tersebut, datanglah seorang kader Pengurus Wilayah yang mengunjungi kegiatan kami. Namun ternyata kedatangan beliau kami sambut dengan sedikit tidak ramah. Maklumlah karena kami merasa sedikit diabaikan pada saat itu, hehe. Ya namanya kader Pengurus Daerah yang pada saat itu merasa kurang mendapat perhatian, jadi ya sedikit ngambek (dan ini menjadi pelajaran berharga bagiku ketika menjadi Pengurus Wilayah untuk berusaha semaksimal mungkin mengakomodir kebutuhan teman-teman daerah :D ).

H3 Ramadhan.
Pukul 15.00, Aku, Ayu dan Mala membuat janji bertemu di Masjid al Ma’ruf. Dengan dana sisa pesantren jurnalistik, kami bermaksud untuk mengikuti LIT di Tanah Grogot. Setelah cukup lama di interogasi dengan Bapaknya Ayu mengenai mekanisme pemberangkatan kita, kami menunggu seseorang yang menjanjikan akan memandu kami hingga ke lokasi kegiatan. Namun setelah menunggu untuk waktu yang lumayan lama tidak ada yang muncul, dan ketika menghubung kakak PW yang ternyata sudah pergi duluan, akhirnya kami memberanikan diri untuk berangkat sendiri pada saat itu. Sebuah usaha yang sangat nekad menurutku karena kondisinya kami adalah rombongan perempuan yang belum pernah berpergian jauh sebelumnya, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di tanah Paser.

Dengan bermodalkan pengalamanku pergi naik bus ke Banjarmasin bersama ayah beberapa tahun yang lalu, aku memberikan jaminan kepada dua sahabatku itu bahwa kami akan sampai di Tanah Grogot dengan menaiki bus banjar. Walhasil, akulah menjadi pimpinan rombongan kala itu. Sebelum naik ke atas bus, ibuku menelpon dan aku menceritakan kondisi kami saat itu, dan ibuku hanya berpesan untuk berhati-hati di jalan. Ternyata sampai sekarang kedua temanku itu tidak memberitahu secara jujur kepaada kedua orangtuanya kalau kami berpergian hanya bertiga. Menurut sumber dari kakak PW, katanya kami akan sampai pukul 1 dini hari, dan disuruh untuk menginap di penginapan untuk melanjutkan perjalanan esok harinya. Ketakutan menggerayangiku saat mendengar kabar itu. Tidak dapat ku bayangkan bagaimana kondisi ketiga putri cantik ini di negeri orang yang kami tidak tahu bagaimana kondisinya. Belum lagi, kami harus terjaga bergantian untuk menjaga barang-barang kami selama di bus dan agar tidak ada yang terlelap ketika kami tiba di terminal persinggahan di Kuaro. Kalau saja kami ada yang terlelap dan tidak menyadarinya, maka kami akan ikut bus hingga ke Banjarmasin. Di perjalanan, Mala mencoba memulai menghapal surah An Naba sebagai konsekuensi dari tidak ikut pesantren Ramadhan di sekolahnya. Sementara aku dan Ayu, kami menghitung berapa hari kami bolos dari terawih bersama di kelas dan membayangkan bagaimana keritingnya tangan kami menulis juz demi juz ayat Al Qur’an sebagai harga yang harus kami bayar karena tidak mengikuti kegiatan Ramadhan di SMA 2, sekolah kami.


H4 Ramadhan.
Dini hari akhirnya kami sampai di terminal Kuaro. Alhamdulillah, rupanya kami ditunggu oleh kakak PW yang pada saat pesantren Ramadhan itu kami omelin. Bersamanya akhirnya kami sampai pula di SMA 1 Tanah Grogot, tempat berlangsungnya LBT dan LIT PII Kaltim. Karena sudah dini hari dan menjelang sahur, terbersit ide gilaku untuk membangunkan sahur menggunakan toa yang dibawa dari Samarinda. Dan ternyata, ide tersebut menimbulkan kekacauan. Tidak lama berselang, datang warga yang panic dengan membawa parang akibat mendengar bunyi sirene dari toa tersebut yang dikira adalah sirne kebakaran. Aku tidak tahu bahwa sehai sebelumnya terjadi kebakaran di lokasi tersebut. Well, satu hal yang ku syukuri sampai sekarang, bahwa tidak ketahuan oleh warga kalau aku yang membuat kegaduhan malam itu :D.

Siang harinya, kami bertiga beserta Kak Ferry dari Pengurus Daerah Kukar dan Icha Pengurus Daerah Balikpapan bertemu dengan instruktur kami LIT. Beberapa tahun sesudahnya, barulah aku tahu bahwa aktivitas yang kami lakukan pada saat itu bernama screening sekaligus mengambil sebuah keputusan mengenai jadi atau tidaknya kami mengikuti LIT. Aku beserta kedua sahabat seperjalananku di PD cukup percaya diri ketika ditanya mengenai makalah dan hapalan surah serta beberapa persyaratan lainnya. Namun kondisi peserta yang hanya lima orang (dan yang satu itupun dari hasil pemaksaan) dan minim pula persiapan dari teman kami lainnya, maka dengan berat hati LIT kami batal diselenggarakan. Aku menutupi wajahku dengan makalah yang telah ku buat dan mengeluarkan air mata. Pada saat itu juga, status kami berubah, dari calon peserta LIT menjadi panitia LBT. Job panitia pun kami kerjakan, dan impian berada di local dengan mendapatkan materi pun berganti dengan obrolan sore sambil mencuci piring sembari mengamati lalu lalang peserta LBT yang antri mandi.
Berselang satu hari, aku mendengar kabar dari kakak PW bahwa ada penyelenggaraan LIT di Kalsel. Mendengar berita baik itu, aku memutuskan untuk kembali ke Samarinda untuk mempersiapkan keberangkatan kami ke Kalimantan Selatan (sebenarnya kepulanganku juga disebabkan ketakutanku akibat ulah gila yang sudah kulakukan, hehe, soalnya aku dengar ada warga yang lihat siapa pelaku keributan malam itu :D).
Beberapa hari kemudian, setelah mendapatkan kepastian penyelenggaraan LIT di Kalsel dan persyaratan LIT sudah di tangan, aku beniat pergi LIT disana. Hanya satu yang belum mendapat kepastian, masalah perizinan kedua temanku, mengingat sudah seminggu mereka meninggalkan rumah. Beruntung Ayu diizinkan orang tuanya, namun sayang sekali Mala tidak mendapatkan hal yang sama. Akhirnya kami pergi bertiga, ditambah satu teman perjalanan baru, Kak Ferry. Akhirnya ketua rombongan berganti kepada Kak Ferry, walaupun informasi perjalanan aku yang pegang kendali karena pengalamanku bersama ayah yang pernah ke Banjarmasin sebelumnya.

Setelah lebih dari 12 jam di perjalanan, kami sampai juga di Banjarmasin. Dengan dijemput oleh dua orang kakak Pengurus Wilayah Kalsel, kami diinapkan semalam karena besoknya akan pergi ke lokasi training. Perjalanan menuju Marabahan lumayan jauh, tapi bisa ditempuh pakai motor. Dan ketika sampai di lokasi training, waaaaaw! Tempatnya agak terpencil dan dekat kuburan. Jika ditanya tentang LIT kami? Jawabannya, sangat berkesaaan sekali. Banyak cerita, banyak kenangan yang tak habis untuk aku uraikan disini. Berkesan sekali. Ada suatu saat, lokasi training kami diserang kabut asap sehingga pada saat pengisian materi rata-rata kami peserta menggunakan masker atau slayer untuk metutup mulut, sehingga aku pernah dijuluki wanita bercadar. Dan saat berkesan lainnya, ketika kami sadari kalau kami pasukan dari Kaltim yang mendominasi setiap diskusi.

Seminggu kemudian, akhirnya kami mampu menambah kuota kader LIT di Kalimantan Timur. Rasa haru serta bangga menyelimuti kami berbalut rindu pada rumah. Sebelumnya tak pernah aku menghabiskan libur Ramadhanku selama ini. Akhirnya kami pulang tanpa sempat membeli oleh-oleh buat orang rumah.

Petualangan Ramadhan di tahun 2006 aku tutp dengan aktivitas terakhirku di tahun itu dengan penggalangan dana korban kebakaran di Teluk Lerong. Menjelang lebaran, aku dan teman-teman PII lainnya menggalang dana turun ke jalan dan menyalurkannya kepada korban bencana.

Hmmm, mengenang itu semua membuatku sangat rindu dengan semuanya. Mungkin benar ini yang dinamakan romantisme sejarah. Namun aku yakin, dengan refleksi ini aku berharap bisa menemukan secercah spirit dari kisah indah masa lalu yang bisa aku jadikan semangat dalam menggapai kemuliaan di bulan Ramadhan ini. Aku merindukan semua pelaku cerita empat tahun silam. Ya Allah, semoga Kau pertemukan kami semua di dalam jannahMu. Amien ya Rabb…..

16.8.10

Kaderisasi Kehidupan

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. Annisa:9)

Menjadi seorang pengkader bukanlah sebuah tugas yang mudah. Usaha melaksanakan kaderisasi merupakan kerja berantai yang tidak dapat dibebankan hanya kepada satu generasi saja, dan tugas ini harus dilaksanakan berkesinambungan. Berbicara kaderisasi, dimanapun itu letaknya, pada hakikatnya adalah sebuah usaha untuk menyiapkan sebuah generasi penerus yang kuat. Kaderisasi juga merupakan suatu proses pendidikan, karena tidaklah mungkin dapat tercipta sebuah generasi yang kuat jika tidak disokong melalui sebuah proses pendidikan, transfer ilmu pengetahuan, dan pemberian bekal yang cukup dan dapat membuatnya mampu bertahan menghadapi realitas zamannya.

Diskusi mengenai kaderisasi sering kali kita dengar dan perbincangkan pada lingkup organisasi. Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa suatu organisasi jika kadernya saat ini tidak mampu menyiapkan generasi penerusnya maka organisasi tersebut tinggal menunggu namanya dikenang saja. Kerja organisasi tanpa disukung kinerja kaderisasi yang kuat hanya akan seperti menyiapkan sebuah pesta. Begitu usai masa kerjanya, tidak ada lagi yang tersisa selain dikenang untuk masa yang relative singkat, dan selanjutnya menjadi sesuatu yang perlahan dilupakan.
Mungkin luput dari kesadaran kita, bahwa proses ini tidak hanya akan kita temui ketika kita berorganisasi semata. Bahkan ada esensi yang lebih penting dari menyiapkan kader bagi pengemban misi dan eksistensi keberlangsungan suatu organisasi. Peran itu sangat dekat dan melekat dalam kehidupan sosial kita, yakni mempersiapkan jundi-jundi yang mampu mengemban amanah kehidupan, baik sebagai Abdullah dan juga khalifah, yang suatu saat nanti mampu mengisi dan mengganti peran kehidupan yang pastinya akan ditinggalkan oleh generasi sebelumnya.



Kita merupakan produk dari kaderisasi orang-orang terdahulu kita. Kita adalah generasi penerus dari orang tua kita dimana harapan dan cita-cita yang menjadi impian orang tua berada di pundak kita. Kita dididik oleh lingkungan keluarga dan lingkungan sosial untuk dapat bertahan hidup. Ini juga merupakan salah satu sunatullah bagi makhluk hidup yang ternyata juga merupakan bagian dari proses kaderisasi kehidupan, yakni berkembang biak untuk melestarikan keturunan dan kemampuan bertahan hidup untuk mampu mencapai tujuan awal tersebut. Proses pendidikan dalam rangka upaya penanaman dan pembentukan sikap serta kepribadian memerlukan kader-kader kehidupan yang mampu bertahan serta menghasilkan kader-kader generasi penerusnya.

Maka sekarang kita berada pada dua posisi yang berbeda namun harus bersinergis dalam pelaksanaannya, yakni sebagai kader dari proses kaderisasi yang dilaksanakan pendahulu kita, dan secara bersamaan kita juga menjadi pengkader yang diharusnya menyiapkan kader-kader selanjutnya. Perjalanan panjang kehidupan kita, baik di lingkungan keluarga, sosial, berorganisasi, mengenyam pendidikan, bersosialisasi dengan sekitar, itu merupakan suatu proses penyiapan diri dan bekal untuk menempuh kehidupan yang nantinya akan menjadi kehidupan baru kita.

Perjalanan tersebut mendidik kita untuk menyiapkan sebuah keluarga. Mengapa konsep kaderisasi yang hebat ini harus dimulai dengan sebuah lingkup kecil bernama keluarga? Karena kaderisasi hebat yang mampu menghasilkan peradaban dimulai dari pengkaderan kepada keluarga. Lihatlah shirah nabawiyah dimana Rasulullah dalam mengemban amanah kaderisasi dimulai dari rumah dan keluarga serta orang-orang terdekat untuk menyebarkkan dakwah dan ajaran Islam. Dimana metode pengkaderan ini sangat efektif dilakukan serta menghasilkan kader-kader cerdas dan militan.

Kesadaran inilah yang harus dibangun mulai dari sekarang. Mungkin peran kehidupan kita dalam keluarga sekarang masih sebatas menjadi anak, maka kita harus berperan dengan sebaik-baiknya menjadi seorang anak yang berbakti kepada Tuhannya serta kedua orang tuanya. Selain itu kita juga harus mempersiapkan diri untuk peran penting selanjutnya, sebagai orang tua. Peran ini mungkin sedikit terlupakan dalam kehidupan kita saat ini. Padahal, tugas tersebut membutuhkan persiapan yang matang dan membutuhkan proses yang tidak singkat. Dengan peran kita sebagai orang tua, maka kita memiliki peran untuk mengkader keluarga dan anak-anak nantinya. Ketika banyak individu yang menyadari perannya ini, dan ketika banyak pula keluarga-keluarga yang memahami bahwa dari sebuah keluarga kecil yang mampu mengkader anak-anaknya menjadi Abdullah dan khalifah, sadar akan potensi yang dimiliki mereka dan mampu mengarahkan potensi tersebut ke arah yang benar, maka kita telah mempersiapkan generasi yang kuat sepeninggal kita nantinya.

Banyak hal yang dapat kita persiapkan sejak dini untuk menerima amanah mulia tersebut. Dan persiapan yang paling penting adalah dengan mengkader diri sendiri untuk senantiasa memperbaiki diri, meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, serta tidak lupa untuk terus menyerukan kebaikan.

Sebagai orang yang sering terlibat dalam pengkaderan organisasi, saya berharap mampu menghasilkan kader-kader yang militant dan mampu menghasilkan generasi yang kuat. Selain itu, besar pula harapan saya untuk mampu mengkader anak-anak saya nantinya, sehingga mampu mneruskan perjuangan yang belum selesai untuk saya perjuangkan. Dan ketika ia dewasa nanti, ia mempersembahkan sebuah kata yang akan aku jadikan doa untukku saat ini. “Terima kasih bunda, telah memberikan kado special yaitu ayah yang sayang dengan kita semua, yang memberi teladan yang baik buat keluarga. Terima kasih Allah, telah memberikan kado special yaitu bunda yang telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, memberikan kasih saying dan pendidikan yang sangat berharga, dan telah mengenalkanMu padaku, mengajarkan cinta padaMu, dan memberikan arti pada kehidupanku.”

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al Furqan:74)

Renungan Angka 3

Entah mengapa akhir-akhir ini hariku diwarnai dengan angka tiga. Tiga yang semula tidak memiliki arti istimewa kemudian menjelma menjadi sesuatu yang bermakna. Namun maknanya sendiri masih menjadi ambigu bagiku walaupun ingin sekali untuk ku uraikan satu persatu.

3 Agustus 2010
Inspirasi oh inspirasi. Mengapa kau terlambat sekali datangnya. Delapan bulan aku menunggu untuk menarikan tanganku kembali di atas keyboard untuk hanya sekedar mengungkapkan isi hati baik lewat puisi ataubun bahasa-bahasa misteri. Namun inspirasi baru muncul di hari ini. Tidak untuk mengenang apa-apa, hanya saja mungkin memang ada pemicunya. Apapun itu, aku bahagia di tanggal tiga ini aku kembali mencari jutaan inspirasi yang akan aku jadikan prasasti.

Mengenang 3 bulan
Apa yang terjadi selama tiga bulan? Tak mampu aku ceritakan. Karena kata tak mampu teruraikan dan ikrar masih ku tunaikan. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku bagi. Namun apa daya, dalam keterbatasan ini aku hanya mampu mengenangnya dalam memori, dan membaginya sedikit dalam sepenggal kisah ini.

Cerita bermula dari kejadian tiga minggu yang mendebarkan. Minggu pertama ada yang datang mengantarkan harapan. Namun aku tak lagi mempan dengan harapan-harapan yang dilambungkan tinggi-tinggi dan kemudian dilepaskan pergi, semakin tinggi tertiup angin dan akupun tak kuasa memegangnya lagi. Oke, aku tutup minggu pertama dengan istighfar. Minggu kedua, cerita berulang dengan tokoh yang berbeda. Cerita masih bertema sama dan ditutup dengan ending yang sama. Astaghfirullahal’adzim. Aku kira kejadian akan berhenti sampai disini, namun ternyata masih ada minggu ketiga. Dan menutup kisah cerita tiga minggu dengan tanda tanya.

Apa yang terjadi dengan angka tiga berikutnya? Ternyata begitu ampuh mengubah hidupku dan mengubah pandangan tentangku. Sampai sini aku tak mampu melanjutkan cerita. Karena warna-warninya begitu terasa. Bahkan aku tak mampu membedakan makna dari air mata, karena tawa, sedih, bahagia, asa, dan semua mimpi diwakilkan oleh air mata.





Bulan ketiga
Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi pada bulan ini, mungkin karena banyaknya amanah, atau karena lelah, bisa jadi ini adalah batu ujian yang memang harus dilalui untuk perbaikan diri. Namun ujian begitu berat untuk dilalui, dari awal hingga akhir di bulan ke tiga. Kuatkah aku menghadapinya? Tentu saja aku kuat dan mampu bertahan hingga saat ini. Meski angin badai menerpa, lelah mencapai puncaknya dan amanah bertubi-tubi meminta haknya. Dan semalam, aku tutup bulan ketiga dengan hamdalah. Sampai detik ini aku mampu tersenyum cerah. Entah esok hari, entah lusa nanti, entah. Adakah yang mampu memberikan garansinya? Tidak ada. Namun yang pasti, aku kan berusaha memenuhi apa yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Resolusi tiga tahun
Tiga tahun itulah yang dipinta dan aku memenuhinya (?). Ada tanda tanya. Bukan ragu akan resolusi tiga tahunan itu. Namun hanya berusaha mempercepatnya saja. Namun jika memang pada akhirnya itulah yang tercipta, aku akan tetap tersenyum lega. Resolusi dua tahunan yang aku buat masih menyisakan tiga opsi yang berbeda. Artinya, masih akan banyak rencana-rencana yang belum bisa disusun dan dibayangkan sebelum aku menginjakkan kaki pada tahun kedua. Aku akan memenuhi janji yang telah terucapkan pada semua.
33 bulan
Akan banyak kejutan pada saat ini. KKN, PPL, skripsi, wisuda, kerja, konwil, berstruktur, demisioner, KB muda, mengabdi dan terus mengabdi. Hmmm menikah? Ini kata-kata sensitive yang aku coba hindari dalam penulisan renungan ini. Namun tentu saja hal tersebut menjadi persiapan berantai dalam cerita 33 bulan ini. Akan ada banyak mimpi, air mata, harapan, keinginan, kekecewaan, kebahagiaan yang mewarnainya. Dan harapanku, semoga mampu menutup renungan angka tiga ini dengan senyuman dan kebahagiaan. Apapun yang akan terjadi nantinya.
Ini adalah sekelumit cerita tentang angka tiga. Dan tentu saja setelah tiga tahun kedepan masih akan ada impian yang sangat panjang, harapan yang membentang luas yang akan aku ceritakan di lain episode. Tentang angka tiga ini, hanya sekelumit kisah menarik dalam hidupku untuk dibagikan. Meskipun cerita ini penuh makna, namun semoga tidak spekulatif dalam memaknainya. Karena ini semua cerita tentang keluarga, sahabat, teman-teman, aktivitasku, cerita hidupku, dan impian-impianku. Terima kasih kalian telah mengisi kehidupanku.


(Sebuah kisah yang menarik untuk memacu kembali inspirasi menulisku)
4 Agustus 2010

12.2.10

Mengapa kita harus menulis………??


Pernahkah kita lupa,,….???
Berapa kali kita lupa….??
Pada saat kapan kita lupa,,,..??
Dan pertanyaan penting selanjutnya adalah mengapa kita lupa,,,…..??


Benar tidak kalau lupa itu sesuatu yang wajar,,,..?? Sepakat tidak kalau saya katakan bahwa manusia itu tempatnya khilaf dan lupa,,,…?? Ya, lupa itu sesuatu yang wajar dan manusiawi. Tapi menjadi tidak wajar kalau kita selalu lupa berkali-kali, kemudian lupa lagi, dan lagi-lagi lupa. Supaya kita mampu meminimalisir lupa, maka menulisl adalah salah satu solusinya.

Manusia adalah individu yang memiliki banyak keterbatasan terutama dalam hal ingatan. Hanya moment-moment tertentu yang mampu kita ingat sampai sekarang. Padahal banyak moment berharga yang telah kita lalui dalam hidup yang mungkin kurang terpublikasi denagn sempurna. Keterbatasan inilah yang haru diantisipasi dengan mengabadikan setiap moment berharga, menyimpan semua ide yang penting dengan menulis.

Menulis merupakan aktivitas hidup. Dari bangku TK hingga kuliah, kita merekam ilmu pengetahuan yang kita dapat dengan menulis. Menulis adalah sesuatu yang mudah. Cukup dengan bekal sebatang pena, selembar kertas, menggerakkan tangan membentuk rangkaian huruf yang kita pikirkan maka kita sudah melakukan aktivitas menulis. Bahkan dari TK maupun SD kita sudah diajarkan untuk menulis. Dan syarat untuk menempuh kelulusan di perguruan tinggi adalah dengan menulis.

Namun yang membuat kita susah untuk menulis sebenarnya bukanlah karena kita malas untuk menulis, namun kita bingung dengan apa yang kita akan tuliskan, kita bingung akan sistematika tulisan, dan sejuta kebingungan lainnya yang membuat kita enggan untuk menggerakkan pulpen, atau menarikan jari kita di atas keyboard komputer atau laptop.

Jika kita tahu seberapa kuatnya pengaruh tulisan sebagai media, maka kita akan memiliki motivasi untuk menulis. Tulisan dapat membuat seseorang yang sebelumnya tidak dikenal menjadi terkenal, membuat seseorang menjadi kaya, bahkan bisa membuat orang masuk penjara. Begitu kuatnya pengaruh tulisan. Sehingga banyak sosiolog berpendapat, jurnalisme adalah kekuatan keempat yang mampu mengubah kondisi sosial dan politik sebuah negara.
Apabila ditanya mengenai alasan menagpa kita harus menulis, maka kita akan menemukan banyak alasan dan manfaat dari menulis. Motivasi tersebut bisa kita gali dari tekad dalam diri sendiri maupun motivai dari orang lain. Jika ditanya kenapa saya harus menulis, maka jawaban saya adalah....


Menulis itu merupakan firman Allah.

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, (Q.S. Al Qalam : 1)

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (Q.S. Al ‘Alaq : 4)


Terinspirasi dari seorang pemimpin besar Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan ”... ikatlah ilmu dengan menuliskannya....”.


Menulis itu bagaikan membuat prasasti untuk diri kita sendiri.

Kita mengenal praasti dari cerita kerajaan zaman dahulu. Prasasti merupakan suatu bukti sejarah mengenai keberadaan suatu kerajaan, bagaimana sejarahnya, dan bagaimana kehancurannya. Semua terekam dalam prasasti. Menjadi sebuah bukti dari masa lampau yang dihadirkan kemabli untuk masa kini. Kita bisa membuat prasasti itu sendiri untuk diri kita. Kita bisa menjadi pelaku sejarah dalam kehidupan masa depan nanti dengan membuat prasasti itu melalui tulisan.


Menulis dapat memperpanjang usia.

Bukan sulap buakn sihir, namun itulah kekuatan magis dari menulis. Kita hidup di abad 21 yang serba modern, namun kita dapat mengenal manusia dari zaman dahulu seperti Sir Isaac Newton, Galileo Galilei dari tulisan mereka. Artinya, meskipun usia jasad kita nantinya sudah tidak ada lagi, namun usia pemikiran kita akan selau dikenang dan diaplikasikan sepanjang zaman.


Menulis itu memperpanjang ingatan.

Ketika kita menuliskan sesuatu, maka kita telah melakukan beberapa proses belajar. Pertama kita mendapatkan ilmu dan menyimpannya di otak, kemudian kita melakukan proses berpikir lagi dengan memindahkan ingatan itu ke dalam tulisan. Dan proses terakhir yang tidak pernah berhenti adalah kita membaca kembali apa yang kita tulisakn dan itu dapat kita lakukan berulang-ulang kali. Semkin kita banyak membaca, maka ingatan kita akan semakin panjang terhadap apa yang kita tuliskan. Inilah mengapa dengan menulis kita mampu meminimalisir lupa.


Menulis itu juga berfungsi sebagai tabungan.

Ketika kita menabung uang, suatu saat uang itu akan habis untuk kita gunakan. Namun ketika kita menabung tulisan dan mempublikasikannya, maka tulisan dan apa yang kita tulis akan dapat berfungsi sebagai tabungan bagi kita, bukan dalam bentuk harta, namun amal yang akan kita peroleh kelak. Jadi, proses menulis bukan saja proses jangka pendek, nmaun jangka panjang untuk bekal kehidupan kita di masa datang.


Menulis itu bagaikan guru yang tak bersuara.

Menulis mampu mengajarkan orang lain untuk mampu mengetahui sesuatu bagaikan guru yang tak membawa spidol dan tak bersuara. Kita mampu menjadi guru tanpa harus kuliah di pendidikan, tanpa harus memiliki ijazah, tanpa harus berdiri di depan klelas hanya dengan menulis.



Beberapa tips untuk menulis yang ingin saya tularkan yaitu:

1. Menulislah dari hati.
Sesuatu yang datangnya dari hati maka akan sampai pula ke hati. Jika kita menulis dari dalam hati, maka kepuasan akan muncul sendiri ketika kita telah selesai menulisnya. Menulis denagn hati juga akan mendapatkan output yang baik untuk diri kita sendiri maupun odang lain. Itulah mengapa saya katakan jika sesuatu itu datangnya dari hati maka akan sampai pula ke hati.

2. Menulislah dari sesuatu yang ringan
Kita dapat mulai menuliskan sesuatu yang ringan, misalnya jadwal kegiatan harian, menulis catatan yang penting namun terkadang suka terabaikan,.atau kita dapat memulainya dengan menulis reviw agenda-agenda penting kita. menulis diary salah satu cara yang efektif untuk melatih kita untuk menulis. selain mengasah klemampuan berbahasa, menulis diary juga mampu merekam peristiwa yang etrjadi dalam kehidupan kita.

3. Tulislah apa yang kamu pikirkan.
Kalimat ini mungkin familiar di telinga kita. karena terkadang apa yang kita pikirkan tak mampu kita sampaikan secara lisan, maka kita mampu merekamnya dengan menuliskan apa yang kit apikirkan. Suatu ide dapat muncul tiba-tiba, suatu pemikiran yang besar juga muncul dari suatu gagasan yang kecil yang terkadang mampir di benak kita. Maka tidak heran ketika facebook bertanya kepada kita ”apa yang anda pikirkan?” dan seharusnya kita menjawabnya denagn menuliskan apa yang kita pikirkan bukan apa yang kita kerjakan.

4. Tulislah sesuai dengan apa yang kamu suka untuk tuliskan.
Jika kamu memiliki minat pada sastra, maka ekspresi dapat kamu keluarkan melalui tulisan. Lihatlah banyak sastrawan yang mampu menularkan ide, gagasan melalui media sastra. Seperti Buya Hamka atau Habiburrahman El Shirazy, seorang sastrawan yang mampu berdakwah melalui media sastra, Taufik Ismail yang mampu menyarakan realita sosial dalam bentuk puisi. Dengan m,enulis sesuai dengan minat dan bakat kita, maka kita akan menikmati aktivitas ini dan mendapatkan nilai plus yaitu menghasilkan sebuah karya.


Sampai disini, kita sudah melihat bagaimana dahsyatnya efek menulis, manfaat menulis. Namun itu semua akan menjadi sia-sia apabila kita tidak mampu menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Ibarat kata ketika kita menuliskan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka selama tulisan kita itu dibaca orang lain, kemudian diaplikasikannya, kemudian diajarkan kepada orang lain lagi yang kemudian ikut diaplikasikannya pula, maka kita tidak mampu membayangkan berapa banyak kita telah menyumbangkan sesuatu yang tidak bermanfaat kepada orang lain. Dan sebaliknya, ketika kita menuliskan sesuatu yang bermanfaat, kemudian dibaca dan diaplikasikan oleh orang lain kemudain diajarkannya lagi kepada yang lain, maka berapa banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari aktifitas sederhana ini, yakni menulis.

So, tunggu apalagi,,...?? Mari kita kampanyekan ”ayo menulis” pada diri kita sendiri dan menularkannya kepada orang lain.

5.1.10

Wong Fei Hung Ternyata Ulama dan Pendekar Sekaligus Tabib

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.
Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab- kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu) . Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.



kali ini copast dari inbox facebook dari http://www.facebook.com/profile.php?id=1727541659#/group.php?gid=197327930465