2.12.10

Puisi Keraguan

Aku ragu akan sesuatu yang aku ragu,..

Aku ragu terhadap keraguan yang mejalariku,..

Aku ragu dan meragukan keraguanku...



Intinya hanya satu,..

Ragu (titik)



Aku ragu bawa aku mampu menepis rasa ragu itu,..

Aku meragu atau keraguan yang masih aku ragu,..

Aku ragu karena mungkin diawali dengan keraguan itu,..

Aku ragu...



Jangan membuatku ragu atas setiap keraguan yg terjadi dlm diriku..

Jgn membuatku bertambah ragu,, karena tak ada yang menepis keraguan itu..

Jangan membuatku ragu, karena tidak ada jalan apapun yang akan di bangun di atas keraguan...



"ya muqallibal quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinik"

Renungan Pagi Tentang UTS dan Munakahat


Pagi ini aku mengawas ujian tengah semester di SMK. Ditengah hujan yang membasahi bumi Samarinda, aku menderu motor dengan semangat yang telah dibangun sejak sebelum tidur.

Dapat ruang 16 di kelas XII, aku menemukan atmosfer ujian yang baru dan aneh. Mungkin karena di awas oleh mahasiswa PPL, atau karena memang kesolidan kelas sudah terbangun sedemikian kuatnya sampai-sampai harus kerjasama dalam ujian. Hufht, anyway, aku malas merusak keindahan pagi ini dengan marah-marah nggak jelas.

Aku bagikan lembaran soal dan kertas jawaban pada mereka. Owh, pelajaran pertama Agama Islam, dan pelajarannya tentang Munakahat. Pertanyaannya mudah-mudah kok, yang jelas pastinya tentang pernikahan, dan dua soal yang sering terjadi di kehidupan sekarang, mengenai pendapat mereka tentang married by accident dan foto pra wedding. Tapi ya itu tadi, mau pelajaran apapun itu, kalau mereka nggak belajar ya nggak bisa jawab. Ribut lah yang terjadi di kelas.

Segerombol siswa di pojok kelas aku hampiri,
"Ayo jangan ribut." kata pamungkas yang pastinya sulit dilaksanakan.
"Soalnya susah bu." celetuk mereka.
"Gampang kok, tentang nikah aja masa gak tau?"
"Kita kan belum nikah bu."
"Ckckckck kalian ini, masa pacaran aja bisa tapi nikah gak tau?" candaku sambil terus berpatroli mendatangi segerombolan siswa lain yang juga ribut. Dibalas garukan kepala oleh mereka.

Hemm, kembali ke soal. Beberapa menit berlalu, beberapa siswa mengumpulkan jawaban yang sudah selesai. Ku perhatikan jawaban mereka, terutama dua soal yg terakhir. Hemm, waaaw, betapa terkejutnya aku, ternyata masih ada aja yang tidak mengerti bagaimana hukumnya nikah karena kecelakaan. Ada yang bilang boleh untuk melindungi sang anak, ada yang bilang boleh tapi nanti kalau melahirkan nikah lagi kalau nggak bisa zina seumur hidup. 'Anak-anak, kalau ini bukan ujian tak jelaskan ini jawaban dari pertanyaannya.' Tapi nga mungkin lah soal ini keluar kalau belum dijelaskan sebelumnya? Jangan-jangan ngga perhatikan kalau guru menjelaskan.

Anak-anakku yang cerdas, andai kalian memahami bahwa belajar itu adalah untuk memahamkan kalian akan sesuatu yang belum kalian ketahui, maka kalian akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru, yang tidak hanya berguna jika pelajaran itu muncul di ujian, tapi menjadi ilmu dalam kehidupan. Jika kalian mengetahui, bahwa ilmu agama yang kalian pelajari adalah bekal bagi kehidupan, tidak hanya kehidupan kini saja, juga nanti. Wa bil khusus ilmu tentang munakahat, adalah bekal bagi masa depan kalian, sebagai pengantar agar kalian lebih bertanggung jawab terhadap keluarga kalian nantinya. Dan tentang soal no 4 itu, sebenarnya untuk membuka cakrawala berpikir kalian bahwa MBA bukan berita baru lagi bagi remaja saat ini. Saya yakin, guru kalian sedang memberi bekal untuk kalian agar tidak terjerumus dalam perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai dengan norma manapun. Semoga ilmu yang kalian pelajari menjadi barokah, dan mampu di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

*10 Nov 10*

Dalam Persimpangan

"ku titipkan cahaya terang, tak padam di dera goda dan masa."

ketika Kau memberi ujian, maka Kau beri pula jalan untuk melaluinya. Aku jadi teringat beberapa bulan silam,. Kau beri jawaban sebelum ujian datang.. Jika itu ulangan, maka betapa dimudahkannya aku?.. Ya, dan aku melangkah bersama jawaban dariMu.

Namun ternyata ujian ada di tengah jalan. Kaki kaki lemahku yang semula berlari, diterpa batu dan rintangan berduri. Namun aku masih kuat berdiri. Walau akhirnya harus aku yang tinggal sendiri. Aku terus berjalan dan sesekali berlari. Menyusun strategi dan rencana mengunggah mimpi. Menjaga agar lilin harapan tak pernah padam, diterpa angin dan ujian yang menghantam. Karena aku percaya, ku mencoba investasi jutaan kebaikan.

Ketika kini ku terdiam, entah karena kaki lelah melangkah, atau lilin tak mampu menyala dengan indah, ataukah asa yang terancam punah? Atau ini semua akumulasi dari rasa lelah.. Dan mungkin semua itu adalah jawabannya...

Yang kini telah rapuh dalam berjalan, ku kembalikan semua kepada Tuhan, ku serahkan padaNya jalan mana yang Ia pilihkan. Aku dalam persimpangan.

Tipe Berdasarkan Golongan Darah

# GOLONGAN DARAH O Tempramentnya : - Berorientasi pada tujuan - Memiliki keinginan yang lurus - Tidak mau kalah - Tidak suka dikontrol - Bersifat romantis - Memutuskan sesuatu berdasarkan fakta - Mahir menggunakan bahasa yang baik - Memiliki kesadaran sosial yang tinggi Kelebihannya : - Memiliki pemikiran dan rasa cinta yang kuat - Memiliki keinginan untuk maju - Benci kekalahan - Memiliki harga diri yang tinggi - Puitis, ingin membahagiakan orang lain - Taat, Hangat, Bersahabat - Tidak banyak bicara - Keceriaan yang tidak dibuat-buat - Memberikan teladan Kekurangannya : - Suka ikut campur - Cenderung memutuskan sendiri - Tidak peduli dengan perasaan orang lain - Mudah grogi Terlalu PD saat mengucapkan opini sendiri - Kekanak-kanakan - Kurang akurat secara general - Suka berkelahi, memberontak



# GOLONGAN DARAH A Tempramentnya : - Khawatir terhadap sekeliling - Menghormati aturan, tata cara - Pemikirannya mudah berubah - Pesimis terhadap masa depan - Tahan untuk berupaya terus menerus - Tidak puas dengan keadaan sekarang - Ingin melakukan hal yang baik dalam hidupnya Kelebihannya : - Tidak mudah dibohongi - Serius, tidak mau melanggar aturan - Menghargai kerjasama tim - Tidak ceplas-ceplos - Dewasa, bertindak sesuai prinsip - Berhati-hati, bijaksana - Tegas, rapi, bersih, teratur - Berperasaan halus - Berbakat dan bermoral Kekurangannya : - Merasa benar sendiri - Kalau ngambek, lama - Suka ngotot - Sedikit keras kepala - Terlalu memusingkan apa kata lingkungan Gampang curiga - Tidak pandai dalam mengambil keputusan



# GOLONGAN DARAH B Tempramentnya : - Memiliki jalan sendiri, benci pembatasan - Memiliki pemikiran dan fleksibel - Menghargai keputusan yang akurat - Pemikirannya praktis dan spesifik - Berkonsenstrasi pada banyak hal - Selalu optimis terhadap masa depan - Sakit hatinya mudah sembuh - Gejolak perasaannya besar kelebihannya : - Simple tapi memiliki percaya diri - Hidup untuk pekerjaan dan masyarakat - Gigih, tekun - Menggunakan pengalaman sebagai sesuatu yang berharga - Berpikir positif - Berani tapi kadang kekanak-kanakan - Tidak menyembunyikan hati dengan kejujuran - Perencanaannya bersifat praktis - Kaya ide, demokratis, tulus - Tenang, gampang mengerti, menarik - Pembawaannya hangat kekurangannya : - Terkadang tidak masuk akal - Mudah dijebak - Tidak punya mimpi - Tindakannya sering berbeda dari yang lain - Banyak komplain - Tidak pasti, tidak tegas, bimbang - Kurang cermat - Suka melawan



# GOLONGAN DARAH AB Tempramentnya : - Pertimbangan dan analisisnya tajam - Pandai membina hubungan - Kontrol emosinya kurang - Berkonsentrasi tinggi tapi tidak bisa mempertahankannya - Membenci kemunafikan kelebihannya : - Ceria, manis, cerdas - Loyal, pandai, adil - Suka memberi bantuan - Berkepala dingin - Memiliki keinginan besar - Efisien, cepat dalam menangkap hal penting - Hobinya banyak - Konsisten - Sopan, rendah hati, sederhana kekurangannya : - Tekadnya kurang bulat - Tidak suka mengambil resiko - Tidak terlalu mementingkan formalitas - Kurang menyenangkan - Pandai dalam pembenaran diri - Kurang sabar - Monoton - Berkarakter ganda - Mudah menyerah - Tidak membereskan apap yang telah dilakukan - Tidak cukup kebebasan - Suka mengkritik - Sering menyakiti perasaan orang lain

Sayang. . . . . . . .

Ingatkah aku sayang...
Ketika suatu sore kau mengajakku ke tempat itu...
Kau menggenggam erat jemariku...
Kau menuntun meniti jalan berbatu...
Kita menyusuri jalan itu...
Berdua, tak ada yang mengganggu...
Dan jejak kenangan semakin memudar...
Karena aku melupakan masa indah itu...
Maaf pun terasa hambar terucap dari bibirku...

Sayang...
Belaian mesra ditengah hujan...
Juga tak mampu terlukiskan dalam ingatan..
Walau ku coba menarik semua bayang-bayang...
Tak juga sanggup mengukirkan kenangan indah itu...
Sekali lagi maaf...
Kembali ku lupakan momen cinta itu...

Dan ketika gerimis melanda...
Ku menangis memandang kelu wajahmu...
Bahkan sebelum air mata tumpah...
Kau menyekanya dengan air hujan...
Menerobos malam menjanjikan terang...
Pada sebuah episode masa depanku...
Masa depanku...
Bukan masa depanmu atau masa depan kita...
Karena katamu kau yakin dan percaya...
Masa depanmu adalah aku...

Dan lagi-lagi aku lupa...

Sayang,..
Bukannya aku tak mengerti cinta...
Namun kurasa, tatapanmu adalah cinta...
Desah napasmu adalah cinta...
Belaianmu adalah cinta...

Dan lagi-lagi...
Sekali lagi, aku lupa...

Sayang,..
Bukan ku hendak melupakan wajahmu...
Bukan ku hendak melupakan cintamu...
Apalagi ku menduakan sayangmu...

Sayang,..
Mengapa tak terbersit di benakku...
Jika nanti ku menduakan cintamu...
Menangiskah engkau mempertahankanku?
Ataukah tangisan kerelaan demi bahagiaku?
Ataukah hanya senyum getir dan tatapan nanar penghias harimu?
Karena kekasih hatimu kan pergi meninggalkanmu...

Sayang, maaf aku terlalu egois..
Membalas cinta dengan sinis..
Bahkan tak mampu tersenyum manis..
Walau kadang di hatimu tersimpan tangis..

Maaf sayang...
Maaf...
Ku tak mampu membalas sayang...
Ku tak mampu membalas cinta...
Ku tak mampu menyeka rindu..
Dan peluh di dahimu...

Akupun dalam gelapnya malam mencintaimu..
Hah? Mengapa cinta itu datang disaat gelap?
Mengapa cintaku tak mampu mengusir gelap?
Mengapa cintaku tak seterang mentari menyinari sisi gelapku, seperti cintamu?

Sayang, sekali lagi maaf...Yang mencintaimu dalam diam...

(Hah? Padahal cintanya adalah nyata..
Padahal cintanya adalah kata..
Padahal cintanya adalah perbuatan..
...Padahal cintanya adalah tanggung jawab..
Padahal cintanya adalah kasih sayang..

Namun kau hanya mampu mencintainya dalam diam?)

Terimalah pesan cinta dari anakmu,..
Untuk ayah...

23.9.10

Segelas Cappucino dan Seisi Dunia

Aku menyebutnya sugesti cappucino. Entah karena aku sedang terkena sugestiku sendiri, atau karena memang efek cappucino yang begitu dahsyat menimpa tubuhku, sehingga malam ini aku tak dapat tidur.

Lantas, apa yang aku kerjakan dalam ketidakmengantukkan ku ini? Banyak hal. Dan aku mampu merangkum seisi dunia dalam segelas cappucino. Kok bisa? Ya, bisa! Pernah mendengar cerita warung kopi dimana banyak mengalir informasi dari pengunjungnya? Mulai dari obrolan santai sampai obrolan kelas berat bak pengamat politikus ternama ada di dalamnya. Dan cerita itu mengalir dan mengental bak segelas kopi.

Namun aku tidak ingin bercerita tentang itu. Aku ingin mengisahkan tentang isi duniaku yang tercipta akibat sindrom segelas cappucino yang membuatku tidak mengantuk dan tidak tertidur. Dalam tenangnya malam, aku terjaga sambil bermimpi tentang sebuah kisah masa depan. Tentang cita-cita, harapan, impian. Tentang kisah menaklukkan dunia. Dunia mana yang ku coba taklukkan? Adalah duniaku, duniamu, dunia kita.

Ini tidak hanya sebuah mimpi, karena dalam terjaga aku menyadari bahwa kita tidak akan pernah terbangun dari mimpi ketika kita hanya mampu memimpikan tanpa mampu merealisasikan dan membangunkan mimpi itu....
26-08-10

Aku dan Kau

Aku dan Kau...

Aku bercerita kepada Kau tentang indahnya berenang mengarungi sungai yang arusnya deras itu...

Kau pun mengiyakan ceritaku...

Aku juga bercerita kepada Kau bahwa aku tidak bisa berenang...

Lagi-lagi Kau bercerita tentang keindahan itu...

Kau menyuruhku untuk mengarunginya...

Sekali lagi Aku katakan, Aku tidak bisa berenang...

Namun suatu hari, Kau mendorongku ke dalam aliran sungai itu...

Entah karena Kau tidak percaya bahwa Aku tidak bisa berenang...

Atau karena Kau yakin Aku mampu berenang dengan cepat...

Atau karena Kau bermaksud melatihku untuk cepat berenang...

Atau...

Karena mungkin Kau sudah lelah mendengar ceritaku tentang keinginan itu...

Aaah, apapun itu, Aku sekarang tenggelam...

Karena Aku tidak bisa berenang...

Aku melambaikan tangan meminta bantuan...

Namun Kau tidak bergeming, hanya menatap dari tepi sungai...

Aku meminta bantuan...

Dengan terisak aku berteriak padamu...

Namun kau malah beranjak pergi dari tepi sungai itu...

Sebelum derasnya arus membawaku, sebelum Aku pergi terseret aliran sungai itu, Aku berteriak satu hal padamu...

"Jangan biarkan aku tenggelam..."






*21.08.2010*

18.8.10

Memories Ramadhan 2006

Aku ingin bercerita tentang Ramadhan 2006. Banyak kisah yang tercipta di tahun itu. Tahun dimana aku mendaulat diriku sebagai “aktivis” hehe. Tentu saja, karena saat itulah dimana aku keluar dari lingkup Ramadhan di Sekolah. Tahun-tahun sebelumnya, Ramadhanku diisi dengan aktivitas di sekolah, terawih bersama sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh sekolah, juga buka puasa yang juga telah dijadwalkan sebelumnya. Di tahun itu, aku memberanikan diri “mendobrak” tradisi Ramadhanku. Memberanikan diri Ramadhan di luar sekolah dengan konsekuensi yang lumayan menakutkan bagiku saat itu, “satu hari tidak turun maka hukumannya menulis satu juz Al Qur’an” dan aku berhasil menorehkan cerita manis untuk dikenang pada Ramadhanku di tahun ini.

H-7 Ramadhan.
Siang begitu terik menyapa Samarinda hari itu. Di pelataran Masjid Al Ma’ruf, terlihat dua gadis berseragam SMA sedang melepas lelah. Saat itu keduanya rupanya sedang berpuasa membayar qadha puasa di tahun sebelumnya yang masih bersisa beberapa hari. Di terik matahari itu, keduanya baru saja roadshow mengelilingi beberapa sekolah di Samarinda untuk mengantar undangan kegiatan serta mengkonfirmasi peserta dari sekolah-sekolah tersebut. Dinginnya pelataran Masjid Al Ma’ruf cukup mengobati rasa lelah yang hinggap pada mereka. Setelah ini, perjalanan keduanya dilanjutkan dengan menyebrang masuk area Mall Lembuswana untuk melaporkan apa yang telah dilaksanakan hari ini kepada seorang yang begitu peduli dengan kegiatan mereka. Hari itu, persiapan kegiatan “Pesantren Jurnalistik Pelajar, Pelajar Islam Indonesia Samarinda” telah 65% terlaksana. Kedua gadis tersebut adalah aku dan sahabatku yang bernama Ayu.

H-2 Ramadhan.
Hari ini adalah hari pembukaan Pesantren Jurnalistik Pelajar. Menurut konfirmasi, ada sekitar 50 peserta yang akan mengikuti. Namun ternyata tidak sampai 20 peserta yang hadir. Ada sedikit kecewa terlintas karena kegiatan yang seharusnya mencapai target ternyata belum tersampaikan. Namun panitia tetap tidak putus asa. Tetap semangat menjadi panitia hingga nantinya acara usai. Bahkan sang ketua memarkirkan mobilnya tiga hari di lokasi untuk mengakomodir kebutuhan yang dibutuhkan oleh kepanitiaan.

Hari H Ramadhan.
Malam ini, sahurku pertama kali di lokasi kegiatan. Teman-teman yang laki-laki datang ke rumah untuk mengambil konsumsi kami. Malam itu begitu berbeda bagiku, karena saat itu adalah pertama kalinya aku menghabiskan Ramadhan pertamaku di luar rumah. Bersama peserta dan panitia lainnya kami menghabiskan menu di dini hari itu. Alhamdulillah, masih bisa bertemu dengan Ramadhan meskipun aku tidak menghabiskannya dengan ibu, ayah dan adik-adikku di rumah. Namun sayangnya, karena terlanjur pesan makanan dengan jumlah yang banyak, masih banyak bersisa. Akhirnya teman-teman PII wan berjalan untuk memberikan nasi bungkus yang berlebih tersebut.

H1 Ramadhan.
Hari ini hari terakhir pesantren Ramadhan. Sebelum kegiatan ditutup, aku, Ayu, dan Mala masih disibukkan dengan pekerjaan panitia namun juga tidak lupa mempersiapkan makalah LIT (Leadership Intermedate Training) PII yang akan dilaksanakan dua hari lagi di Tanah Grogot. Ditengah kesibukan tersebut, datanglah seorang kader Pengurus Wilayah yang mengunjungi kegiatan kami. Namun ternyata kedatangan beliau kami sambut dengan sedikit tidak ramah. Maklumlah karena kami merasa sedikit diabaikan pada saat itu, hehe. Ya namanya kader Pengurus Daerah yang pada saat itu merasa kurang mendapat perhatian, jadi ya sedikit ngambek (dan ini menjadi pelajaran berharga bagiku ketika menjadi Pengurus Wilayah untuk berusaha semaksimal mungkin mengakomodir kebutuhan teman-teman daerah :D ).

H3 Ramadhan.
Pukul 15.00, Aku, Ayu dan Mala membuat janji bertemu di Masjid al Ma’ruf. Dengan dana sisa pesantren jurnalistik, kami bermaksud untuk mengikuti LIT di Tanah Grogot. Setelah cukup lama di interogasi dengan Bapaknya Ayu mengenai mekanisme pemberangkatan kita, kami menunggu seseorang yang menjanjikan akan memandu kami hingga ke lokasi kegiatan. Namun setelah menunggu untuk waktu yang lumayan lama tidak ada yang muncul, dan ketika menghubung kakak PW yang ternyata sudah pergi duluan, akhirnya kami memberanikan diri untuk berangkat sendiri pada saat itu. Sebuah usaha yang sangat nekad menurutku karena kondisinya kami adalah rombongan perempuan yang belum pernah berpergian jauh sebelumnya, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di tanah Paser.

Dengan bermodalkan pengalamanku pergi naik bus ke Banjarmasin bersama ayah beberapa tahun yang lalu, aku memberikan jaminan kepada dua sahabatku itu bahwa kami akan sampai di Tanah Grogot dengan menaiki bus banjar. Walhasil, akulah menjadi pimpinan rombongan kala itu. Sebelum naik ke atas bus, ibuku menelpon dan aku menceritakan kondisi kami saat itu, dan ibuku hanya berpesan untuk berhati-hati di jalan. Ternyata sampai sekarang kedua temanku itu tidak memberitahu secara jujur kepaada kedua orangtuanya kalau kami berpergian hanya bertiga. Menurut sumber dari kakak PW, katanya kami akan sampai pukul 1 dini hari, dan disuruh untuk menginap di penginapan untuk melanjutkan perjalanan esok harinya. Ketakutan menggerayangiku saat mendengar kabar itu. Tidak dapat ku bayangkan bagaimana kondisi ketiga putri cantik ini di negeri orang yang kami tidak tahu bagaimana kondisinya. Belum lagi, kami harus terjaga bergantian untuk menjaga barang-barang kami selama di bus dan agar tidak ada yang terlelap ketika kami tiba di terminal persinggahan di Kuaro. Kalau saja kami ada yang terlelap dan tidak menyadarinya, maka kami akan ikut bus hingga ke Banjarmasin. Di perjalanan, Mala mencoba memulai menghapal surah An Naba sebagai konsekuensi dari tidak ikut pesantren Ramadhan di sekolahnya. Sementara aku dan Ayu, kami menghitung berapa hari kami bolos dari terawih bersama di kelas dan membayangkan bagaimana keritingnya tangan kami menulis juz demi juz ayat Al Qur’an sebagai harga yang harus kami bayar karena tidak mengikuti kegiatan Ramadhan di SMA 2, sekolah kami.


H4 Ramadhan.
Dini hari akhirnya kami sampai di terminal Kuaro. Alhamdulillah, rupanya kami ditunggu oleh kakak PW yang pada saat pesantren Ramadhan itu kami omelin. Bersamanya akhirnya kami sampai pula di SMA 1 Tanah Grogot, tempat berlangsungnya LBT dan LIT PII Kaltim. Karena sudah dini hari dan menjelang sahur, terbersit ide gilaku untuk membangunkan sahur menggunakan toa yang dibawa dari Samarinda. Dan ternyata, ide tersebut menimbulkan kekacauan. Tidak lama berselang, datang warga yang panic dengan membawa parang akibat mendengar bunyi sirene dari toa tersebut yang dikira adalah sirne kebakaran. Aku tidak tahu bahwa sehai sebelumnya terjadi kebakaran di lokasi tersebut. Well, satu hal yang ku syukuri sampai sekarang, bahwa tidak ketahuan oleh warga kalau aku yang membuat kegaduhan malam itu :D.

Siang harinya, kami bertiga beserta Kak Ferry dari Pengurus Daerah Kukar dan Icha Pengurus Daerah Balikpapan bertemu dengan instruktur kami LIT. Beberapa tahun sesudahnya, barulah aku tahu bahwa aktivitas yang kami lakukan pada saat itu bernama screening sekaligus mengambil sebuah keputusan mengenai jadi atau tidaknya kami mengikuti LIT. Aku beserta kedua sahabat seperjalananku di PD cukup percaya diri ketika ditanya mengenai makalah dan hapalan surah serta beberapa persyaratan lainnya. Namun kondisi peserta yang hanya lima orang (dan yang satu itupun dari hasil pemaksaan) dan minim pula persiapan dari teman kami lainnya, maka dengan berat hati LIT kami batal diselenggarakan. Aku menutupi wajahku dengan makalah yang telah ku buat dan mengeluarkan air mata. Pada saat itu juga, status kami berubah, dari calon peserta LIT menjadi panitia LBT. Job panitia pun kami kerjakan, dan impian berada di local dengan mendapatkan materi pun berganti dengan obrolan sore sambil mencuci piring sembari mengamati lalu lalang peserta LBT yang antri mandi.
Berselang satu hari, aku mendengar kabar dari kakak PW bahwa ada penyelenggaraan LIT di Kalsel. Mendengar berita baik itu, aku memutuskan untuk kembali ke Samarinda untuk mempersiapkan keberangkatan kami ke Kalimantan Selatan (sebenarnya kepulanganku juga disebabkan ketakutanku akibat ulah gila yang sudah kulakukan, hehe, soalnya aku dengar ada warga yang lihat siapa pelaku keributan malam itu :D).
Beberapa hari kemudian, setelah mendapatkan kepastian penyelenggaraan LIT di Kalsel dan persyaratan LIT sudah di tangan, aku beniat pergi LIT disana. Hanya satu yang belum mendapat kepastian, masalah perizinan kedua temanku, mengingat sudah seminggu mereka meninggalkan rumah. Beruntung Ayu diizinkan orang tuanya, namun sayang sekali Mala tidak mendapatkan hal yang sama. Akhirnya kami pergi bertiga, ditambah satu teman perjalanan baru, Kak Ferry. Akhirnya ketua rombongan berganti kepada Kak Ferry, walaupun informasi perjalanan aku yang pegang kendali karena pengalamanku bersama ayah yang pernah ke Banjarmasin sebelumnya.

Setelah lebih dari 12 jam di perjalanan, kami sampai juga di Banjarmasin. Dengan dijemput oleh dua orang kakak Pengurus Wilayah Kalsel, kami diinapkan semalam karena besoknya akan pergi ke lokasi training. Perjalanan menuju Marabahan lumayan jauh, tapi bisa ditempuh pakai motor. Dan ketika sampai di lokasi training, waaaaaw! Tempatnya agak terpencil dan dekat kuburan. Jika ditanya tentang LIT kami? Jawabannya, sangat berkesaaan sekali. Banyak cerita, banyak kenangan yang tak habis untuk aku uraikan disini. Berkesan sekali. Ada suatu saat, lokasi training kami diserang kabut asap sehingga pada saat pengisian materi rata-rata kami peserta menggunakan masker atau slayer untuk metutup mulut, sehingga aku pernah dijuluki wanita bercadar. Dan saat berkesan lainnya, ketika kami sadari kalau kami pasukan dari Kaltim yang mendominasi setiap diskusi.

Seminggu kemudian, akhirnya kami mampu menambah kuota kader LIT di Kalimantan Timur. Rasa haru serta bangga menyelimuti kami berbalut rindu pada rumah. Sebelumnya tak pernah aku menghabiskan libur Ramadhanku selama ini. Akhirnya kami pulang tanpa sempat membeli oleh-oleh buat orang rumah.

Petualangan Ramadhan di tahun 2006 aku tutp dengan aktivitas terakhirku di tahun itu dengan penggalangan dana korban kebakaran di Teluk Lerong. Menjelang lebaran, aku dan teman-teman PII lainnya menggalang dana turun ke jalan dan menyalurkannya kepada korban bencana.

Hmmm, mengenang itu semua membuatku sangat rindu dengan semuanya. Mungkin benar ini yang dinamakan romantisme sejarah. Namun aku yakin, dengan refleksi ini aku berharap bisa menemukan secercah spirit dari kisah indah masa lalu yang bisa aku jadikan semangat dalam menggapai kemuliaan di bulan Ramadhan ini. Aku merindukan semua pelaku cerita empat tahun silam. Ya Allah, semoga Kau pertemukan kami semua di dalam jannahMu. Amien ya Rabb…..

16.8.10

Kaderisasi Kehidupan

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. Annisa:9)

Menjadi seorang pengkader bukanlah sebuah tugas yang mudah. Usaha melaksanakan kaderisasi merupakan kerja berantai yang tidak dapat dibebankan hanya kepada satu generasi saja, dan tugas ini harus dilaksanakan berkesinambungan. Berbicara kaderisasi, dimanapun itu letaknya, pada hakikatnya adalah sebuah usaha untuk menyiapkan sebuah generasi penerus yang kuat. Kaderisasi juga merupakan suatu proses pendidikan, karena tidaklah mungkin dapat tercipta sebuah generasi yang kuat jika tidak disokong melalui sebuah proses pendidikan, transfer ilmu pengetahuan, dan pemberian bekal yang cukup dan dapat membuatnya mampu bertahan menghadapi realitas zamannya.

Diskusi mengenai kaderisasi sering kali kita dengar dan perbincangkan pada lingkup organisasi. Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa suatu organisasi jika kadernya saat ini tidak mampu menyiapkan generasi penerusnya maka organisasi tersebut tinggal menunggu namanya dikenang saja. Kerja organisasi tanpa disukung kinerja kaderisasi yang kuat hanya akan seperti menyiapkan sebuah pesta. Begitu usai masa kerjanya, tidak ada lagi yang tersisa selain dikenang untuk masa yang relative singkat, dan selanjutnya menjadi sesuatu yang perlahan dilupakan.
Mungkin luput dari kesadaran kita, bahwa proses ini tidak hanya akan kita temui ketika kita berorganisasi semata. Bahkan ada esensi yang lebih penting dari menyiapkan kader bagi pengemban misi dan eksistensi keberlangsungan suatu organisasi. Peran itu sangat dekat dan melekat dalam kehidupan sosial kita, yakni mempersiapkan jundi-jundi yang mampu mengemban amanah kehidupan, baik sebagai Abdullah dan juga khalifah, yang suatu saat nanti mampu mengisi dan mengganti peran kehidupan yang pastinya akan ditinggalkan oleh generasi sebelumnya.



Kita merupakan produk dari kaderisasi orang-orang terdahulu kita. Kita adalah generasi penerus dari orang tua kita dimana harapan dan cita-cita yang menjadi impian orang tua berada di pundak kita. Kita dididik oleh lingkungan keluarga dan lingkungan sosial untuk dapat bertahan hidup. Ini juga merupakan salah satu sunatullah bagi makhluk hidup yang ternyata juga merupakan bagian dari proses kaderisasi kehidupan, yakni berkembang biak untuk melestarikan keturunan dan kemampuan bertahan hidup untuk mampu mencapai tujuan awal tersebut. Proses pendidikan dalam rangka upaya penanaman dan pembentukan sikap serta kepribadian memerlukan kader-kader kehidupan yang mampu bertahan serta menghasilkan kader-kader generasi penerusnya.

Maka sekarang kita berada pada dua posisi yang berbeda namun harus bersinergis dalam pelaksanaannya, yakni sebagai kader dari proses kaderisasi yang dilaksanakan pendahulu kita, dan secara bersamaan kita juga menjadi pengkader yang diharusnya menyiapkan kader-kader selanjutnya. Perjalanan panjang kehidupan kita, baik di lingkungan keluarga, sosial, berorganisasi, mengenyam pendidikan, bersosialisasi dengan sekitar, itu merupakan suatu proses penyiapan diri dan bekal untuk menempuh kehidupan yang nantinya akan menjadi kehidupan baru kita.

Perjalanan tersebut mendidik kita untuk menyiapkan sebuah keluarga. Mengapa konsep kaderisasi yang hebat ini harus dimulai dengan sebuah lingkup kecil bernama keluarga? Karena kaderisasi hebat yang mampu menghasilkan peradaban dimulai dari pengkaderan kepada keluarga. Lihatlah shirah nabawiyah dimana Rasulullah dalam mengemban amanah kaderisasi dimulai dari rumah dan keluarga serta orang-orang terdekat untuk menyebarkkan dakwah dan ajaran Islam. Dimana metode pengkaderan ini sangat efektif dilakukan serta menghasilkan kader-kader cerdas dan militan.

Kesadaran inilah yang harus dibangun mulai dari sekarang. Mungkin peran kehidupan kita dalam keluarga sekarang masih sebatas menjadi anak, maka kita harus berperan dengan sebaik-baiknya menjadi seorang anak yang berbakti kepada Tuhannya serta kedua orang tuanya. Selain itu kita juga harus mempersiapkan diri untuk peran penting selanjutnya, sebagai orang tua. Peran ini mungkin sedikit terlupakan dalam kehidupan kita saat ini. Padahal, tugas tersebut membutuhkan persiapan yang matang dan membutuhkan proses yang tidak singkat. Dengan peran kita sebagai orang tua, maka kita memiliki peran untuk mengkader keluarga dan anak-anak nantinya. Ketika banyak individu yang menyadari perannya ini, dan ketika banyak pula keluarga-keluarga yang memahami bahwa dari sebuah keluarga kecil yang mampu mengkader anak-anaknya menjadi Abdullah dan khalifah, sadar akan potensi yang dimiliki mereka dan mampu mengarahkan potensi tersebut ke arah yang benar, maka kita telah mempersiapkan generasi yang kuat sepeninggal kita nantinya.

Banyak hal yang dapat kita persiapkan sejak dini untuk menerima amanah mulia tersebut. Dan persiapan yang paling penting adalah dengan mengkader diri sendiri untuk senantiasa memperbaiki diri, meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, serta tidak lupa untuk terus menyerukan kebaikan.

Sebagai orang yang sering terlibat dalam pengkaderan organisasi, saya berharap mampu menghasilkan kader-kader yang militant dan mampu menghasilkan generasi yang kuat. Selain itu, besar pula harapan saya untuk mampu mengkader anak-anak saya nantinya, sehingga mampu mneruskan perjuangan yang belum selesai untuk saya perjuangkan. Dan ketika ia dewasa nanti, ia mempersembahkan sebuah kata yang akan aku jadikan doa untukku saat ini. “Terima kasih bunda, telah memberikan kado special yaitu ayah yang sayang dengan kita semua, yang memberi teladan yang baik buat keluarga. Terima kasih Allah, telah memberikan kado special yaitu bunda yang telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, memberikan kasih saying dan pendidikan yang sangat berharga, dan telah mengenalkanMu padaku, mengajarkan cinta padaMu, dan memberikan arti pada kehidupanku.”

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al Furqan:74)

Renungan Angka 3

Entah mengapa akhir-akhir ini hariku diwarnai dengan angka tiga. Tiga yang semula tidak memiliki arti istimewa kemudian menjelma menjadi sesuatu yang bermakna. Namun maknanya sendiri masih menjadi ambigu bagiku walaupun ingin sekali untuk ku uraikan satu persatu.

3 Agustus 2010
Inspirasi oh inspirasi. Mengapa kau terlambat sekali datangnya. Delapan bulan aku menunggu untuk menarikan tanganku kembali di atas keyboard untuk hanya sekedar mengungkapkan isi hati baik lewat puisi ataubun bahasa-bahasa misteri. Namun inspirasi baru muncul di hari ini. Tidak untuk mengenang apa-apa, hanya saja mungkin memang ada pemicunya. Apapun itu, aku bahagia di tanggal tiga ini aku kembali mencari jutaan inspirasi yang akan aku jadikan prasasti.

Mengenang 3 bulan
Apa yang terjadi selama tiga bulan? Tak mampu aku ceritakan. Karena kata tak mampu teruraikan dan ikrar masih ku tunaikan. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku bagi. Namun apa daya, dalam keterbatasan ini aku hanya mampu mengenangnya dalam memori, dan membaginya sedikit dalam sepenggal kisah ini.

Cerita bermula dari kejadian tiga minggu yang mendebarkan. Minggu pertama ada yang datang mengantarkan harapan. Namun aku tak lagi mempan dengan harapan-harapan yang dilambungkan tinggi-tinggi dan kemudian dilepaskan pergi, semakin tinggi tertiup angin dan akupun tak kuasa memegangnya lagi. Oke, aku tutup minggu pertama dengan istighfar. Minggu kedua, cerita berulang dengan tokoh yang berbeda. Cerita masih bertema sama dan ditutup dengan ending yang sama. Astaghfirullahal’adzim. Aku kira kejadian akan berhenti sampai disini, namun ternyata masih ada minggu ketiga. Dan menutup kisah cerita tiga minggu dengan tanda tanya.

Apa yang terjadi dengan angka tiga berikutnya? Ternyata begitu ampuh mengubah hidupku dan mengubah pandangan tentangku. Sampai sini aku tak mampu melanjutkan cerita. Karena warna-warninya begitu terasa. Bahkan aku tak mampu membedakan makna dari air mata, karena tawa, sedih, bahagia, asa, dan semua mimpi diwakilkan oleh air mata.





Bulan ketiga
Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi pada bulan ini, mungkin karena banyaknya amanah, atau karena lelah, bisa jadi ini adalah batu ujian yang memang harus dilalui untuk perbaikan diri. Namun ujian begitu berat untuk dilalui, dari awal hingga akhir di bulan ke tiga. Kuatkah aku menghadapinya? Tentu saja aku kuat dan mampu bertahan hingga saat ini. Meski angin badai menerpa, lelah mencapai puncaknya dan amanah bertubi-tubi meminta haknya. Dan semalam, aku tutup bulan ketiga dengan hamdalah. Sampai detik ini aku mampu tersenyum cerah. Entah esok hari, entah lusa nanti, entah. Adakah yang mampu memberikan garansinya? Tidak ada. Namun yang pasti, aku kan berusaha memenuhi apa yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Resolusi tiga tahun
Tiga tahun itulah yang dipinta dan aku memenuhinya (?). Ada tanda tanya. Bukan ragu akan resolusi tiga tahunan itu. Namun hanya berusaha mempercepatnya saja. Namun jika memang pada akhirnya itulah yang tercipta, aku akan tetap tersenyum lega. Resolusi dua tahunan yang aku buat masih menyisakan tiga opsi yang berbeda. Artinya, masih akan banyak rencana-rencana yang belum bisa disusun dan dibayangkan sebelum aku menginjakkan kaki pada tahun kedua. Aku akan memenuhi janji yang telah terucapkan pada semua.
33 bulan
Akan banyak kejutan pada saat ini. KKN, PPL, skripsi, wisuda, kerja, konwil, berstruktur, demisioner, KB muda, mengabdi dan terus mengabdi. Hmmm menikah? Ini kata-kata sensitive yang aku coba hindari dalam penulisan renungan ini. Namun tentu saja hal tersebut menjadi persiapan berantai dalam cerita 33 bulan ini. Akan ada banyak mimpi, air mata, harapan, keinginan, kekecewaan, kebahagiaan yang mewarnainya. Dan harapanku, semoga mampu menutup renungan angka tiga ini dengan senyuman dan kebahagiaan. Apapun yang akan terjadi nantinya.
Ini adalah sekelumit cerita tentang angka tiga. Dan tentu saja setelah tiga tahun kedepan masih akan ada impian yang sangat panjang, harapan yang membentang luas yang akan aku ceritakan di lain episode. Tentang angka tiga ini, hanya sekelumit kisah menarik dalam hidupku untuk dibagikan. Meskipun cerita ini penuh makna, namun semoga tidak spekulatif dalam memaknainya. Karena ini semua cerita tentang keluarga, sahabat, teman-teman, aktivitasku, cerita hidupku, dan impian-impianku. Terima kasih kalian telah mengisi kehidupanku.


(Sebuah kisah yang menarik untuk memacu kembali inspirasi menulisku)
4 Agustus 2010

12.2.10

Mengapa kita harus menulis………??


Pernahkah kita lupa,,….???
Berapa kali kita lupa….??
Pada saat kapan kita lupa,,,..??
Dan pertanyaan penting selanjutnya adalah mengapa kita lupa,,,…..??


Benar tidak kalau lupa itu sesuatu yang wajar,,,..?? Sepakat tidak kalau saya katakan bahwa manusia itu tempatnya khilaf dan lupa,,,…?? Ya, lupa itu sesuatu yang wajar dan manusiawi. Tapi menjadi tidak wajar kalau kita selalu lupa berkali-kali, kemudian lupa lagi, dan lagi-lagi lupa. Supaya kita mampu meminimalisir lupa, maka menulisl adalah salah satu solusinya.

Manusia adalah individu yang memiliki banyak keterbatasan terutama dalam hal ingatan. Hanya moment-moment tertentu yang mampu kita ingat sampai sekarang. Padahal banyak moment berharga yang telah kita lalui dalam hidup yang mungkin kurang terpublikasi denagn sempurna. Keterbatasan inilah yang haru diantisipasi dengan mengabadikan setiap moment berharga, menyimpan semua ide yang penting dengan menulis.

Menulis merupakan aktivitas hidup. Dari bangku TK hingga kuliah, kita merekam ilmu pengetahuan yang kita dapat dengan menulis. Menulis adalah sesuatu yang mudah. Cukup dengan bekal sebatang pena, selembar kertas, menggerakkan tangan membentuk rangkaian huruf yang kita pikirkan maka kita sudah melakukan aktivitas menulis. Bahkan dari TK maupun SD kita sudah diajarkan untuk menulis. Dan syarat untuk menempuh kelulusan di perguruan tinggi adalah dengan menulis.

Namun yang membuat kita susah untuk menulis sebenarnya bukanlah karena kita malas untuk menulis, namun kita bingung dengan apa yang kita akan tuliskan, kita bingung akan sistematika tulisan, dan sejuta kebingungan lainnya yang membuat kita enggan untuk menggerakkan pulpen, atau menarikan jari kita di atas keyboard komputer atau laptop.

Jika kita tahu seberapa kuatnya pengaruh tulisan sebagai media, maka kita akan memiliki motivasi untuk menulis. Tulisan dapat membuat seseorang yang sebelumnya tidak dikenal menjadi terkenal, membuat seseorang menjadi kaya, bahkan bisa membuat orang masuk penjara. Begitu kuatnya pengaruh tulisan. Sehingga banyak sosiolog berpendapat, jurnalisme adalah kekuatan keempat yang mampu mengubah kondisi sosial dan politik sebuah negara.
Apabila ditanya mengenai alasan menagpa kita harus menulis, maka kita akan menemukan banyak alasan dan manfaat dari menulis. Motivasi tersebut bisa kita gali dari tekad dalam diri sendiri maupun motivai dari orang lain. Jika ditanya kenapa saya harus menulis, maka jawaban saya adalah....


Menulis itu merupakan firman Allah.

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, (Q.S. Al Qalam : 1)

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (Q.S. Al ‘Alaq : 4)


Terinspirasi dari seorang pemimpin besar Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan ”... ikatlah ilmu dengan menuliskannya....”.


Menulis itu bagaikan membuat prasasti untuk diri kita sendiri.

Kita mengenal praasti dari cerita kerajaan zaman dahulu. Prasasti merupakan suatu bukti sejarah mengenai keberadaan suatu kerajaan, bagaimana sejarahnya, dan bagaimana kehancurannya. Semua terekam dalam prasasti. Menjadi sebuah bukti dari masa lampau yang dihadirkan kemabli untuk masa kini. Kita bisa membuat prasasti itu sendiri untuk diri kita. Kita bisa menjadi pelaku sejarah dalam kehidupan masa depan nanti dengan membuat prasasti itu melalui tulisan.


Menulis dapat memperpanjang usia.

Bukan sulap buakn sihir, namun itulah kekuatan magis dari menulis. Kita hidup di abad 21 yang serba modern, namun kita dapat mengenal manusia dari zaman dahulu seperti Sir Isaac Newton, Galileo Galilei dari tulisan mereka. Artinya, meskipun usia jasad kita nantinya sudah tidak ada lagi, namun usia pemikiran kita akan selau dikenang dan diaplikasikan sepanjang zaman.


Menulis itu memperpanjang ingatan.

Ketika kita menuliskan sesuatu, maka kita telah melakukan beberapa proses belajar. Pertama kita mendapatkan ilmu dan menyimpannya di otak, kemudian kita melakukan proses berpikir lagi dengan memindahkan ingatan itu ke dalam tulisan. Dan proses terakhir yang tidak pernah berhenti adalah kita membaca kembali apa yang kita tulisakn dan itu dapat kita lakukan berulang-ulang kali. Semkin kita banyak membaca, maka ingatan kita akan semakin panjang terhadap apa yang kita tuliskan. Inilah mengapa dengan menulis kita mampu meminimalisir lupa.


Menulis itu juga berfungsi sebagai tabungan.

Ketika kita menabung uang, suatu saat uang itu akan habis untuk kita gunakan. Namun ketika kita menabung tulisan dan mempublikasikannya, maka tulisan dan apa yang kita tulis akan dapat berfungsi sebagai tabungan bagi kita, bukan dalam bentuk harta, namun amal yang akan kita peroleh kelak. Jadi, proses menulis bukan saja proses jangka pendek, nmaun jangka panjang untuk bekal kehidupan kita di masa datang.


Menulis itu bagaikan guru yang tak bersuara.

Menulis mampu mengajarkan orang lain untuk mampu mengetahui sesuatu bagaikan guru yang tak membawa spidol dan tak bersuara. Kita mampu menjadi guru tanpa harus kuliah di pendidikan, tanpa harus memiliki ijazah, tanpa harus berdiri di depan klelas hanya dengan menulis.



Beberapa tips untuk menulis yang ingin saya tularkan yaitu:

1. Menulislah dari hati.
Sesuatu yang datangnya dari hati maka akan sampai pula ke hati. Jika kita menulis dari dalam hati, maka kepuasan akan muncul sendiri ketika kita telah selesai menulisnya. Menulis denagn hati juga akan mendapatkan output yang baik untuk diri kita sendiri maupun odang lain. Itulah mengapa saya katakan jika sesuatu itu datangnya dari hati maka akan sampai pula ke hati.

2. Menulislah dari sesuatu yang ringan
Kita dapat mulai menuliskan sesuatu yang ringan, misalnya jadwal kegiatan harian, menulis catatan yang penting namun terkadang suka terabaikan,.atau kita dapat memulainya dengan menulis reviw agenda-agenda penting kita. menulis diary salah satu cara yang efektif untuk melatih kita untuk menulis. selain mengasah klemampuan berbahasa, menulis diary juga mampu merekam peristiwa yang etrjadi dalam kehidupan kita.

3. Tulislah apa yang kamu pikirkan.
Kalimat ini mungkin familiar di telinga kita. karena terkadang apa yang kita pikirkan tak mampu kita sampaikan secara lisan, maka kita mampu merekamnya dengan menuliskan apa yang kit apikirkan. Suatu ide dapat muncul tiba-tiba, suatu pemikiran yang besar juga muncul dari suatu gagasan yang kecil yang terkadang mampir di benak kita. Maka tidak heran ketika facebook bertanya kepada kita ”apa yang anda pikirkan?” dan seharusnya kita menjawabnya denagn menuliskan apa yang kita pikirkan bukan apa yang kita kerjakan.

4. Tulislah sesuai dengan apa yang kamu suka untuk tuliskan.
Jika kamu memiliki minat pada sastra, maka ekspresi dapat kamu keluarkan melalui tulisan. Lihatlah banyak sastrawan yang mampu menularkan ide, gagasan melalui media sastra. Seperti Buya Hamka atau Habiburrahman El Shirazy, seorang sastrawan yang mampu berdakwah melalui media sastra, Taufik Ismail yang mampu menyarakan realita sosial dalam bentuk puisi. Dengan m,enulis sesuai dengan minat dan bakat kita, maka kita akan menikmati aktivitas ini dan mendapatkan nilai plus yaitu menghasilkan sebuah karya.


Sampai disini, kita sudah melihat bagaimana dahsyatnya efek menulis, manfaat menulis. Namun itu semua akan menjadi sia-sia apabila kita tidak mampu menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Ibarat kata ketika kita menuliskan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka selama tulisan kita itu dibaca orang lain, kemudian diaplikasikannya, kemudian diajarkan kepada orang lain lagi yang kemudian ikut diaplikasikannya pula, maka kita tidak mampu membayangkan berapa banyak kita telah menyumbangkan sesuatu yang tidak bermanfaat kepada orang lain. Dan sebaliknya, ketika kita menuliskan sesuatu yang bermanfaat, kemudian dibaca dan diaplikasikan oleh orang lain kemudain diajarkannya lagi kepada yang lain, maka berapa banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari aktifitas sederhana ini, yakni menulis.

So, tunggu apalagi,,...?? Mari kita kampanyekan ”ayo menulis” pada diri kita sendiri dan menularkannya kepada orang lain.

5.1.10

Wong Fei Hung Ternyata Ulama dan Pendekar Sekaligus Tabib

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.
Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab- kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu) . Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.



kali ini copast dari inbox facebook dari http://www.facebook.com/profile.php?id=1727541659#/group.php?gid=197327930465


29.12.09

Ketika Cinta Tidak Perlu Diberi Nama

Sudah lama ngga ngeblog,,... dilanda malas nulis,... :) tapi itu ngga menurunkan niat dan semangat untuk terus menggali ilmu,...

copast dari http://eramuslim.com/oase-iman/ketika-cinta-tidak-perlu-di-beri-nama.htm semoga bermanfaat,.....



Udara yang cukup panas siang itu cukup membuat pori – pori kulit saya banyak mengelurkan keringat. Tetapi, saya cukup beruntung karena angkot yang tumpangi hanya berisi beberapa penumpang, hingga saya bisa lebih leluasa duduk tanpa harus berhimpit – himpitan dengan penumpang yang lain.

Tidak beberapa lama kemudian, angkot yang saya tumpangi kemudian sedikit merapat untuk kemudian naiklah dua orang penumpang. Seorang wanita yang mungkin umurnya saya perkirakan masih 20-an dengan dua orang anaknya. Secara jujur saya ingin mengatakan penampilan wanita muda itu dengan kedua orang anaknya itu jauh dari kesan menyejukkan mata. Rambut kusam dengan pakainnya yang bila boleh dikatakan tidak layak lagi.

Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah dua orang bocah yang duduk bersama perempuan itu. Dua orang bocah yang penampilan setali tiga uang dengan wanita muda itu. Bocah perempuan yang kira-kita umurnya delapan tahun duduk didekat saya, beberapa benjolan yang berisi nanah mengihiasi kepala dan bagian kaki serta lenganya. Dan sedikit menimbulakan bau yang kurang sedap. Begitu juga dengan bocah satu tahun yang berada dalam gendongan perempuan itu.

Beberapa penumpang yang ada didalam angkot itu, sedikit menutup hidungnya, mungkin karena bau yang ditimbulakan oleh koreng – koreng penumpang kecil itu. Saya yang kebetulan duduk di dekat dua bocah itu, rasaya pun ingin muntah, Karena bau anyir itu.

Merasa tidak diharapkan kehadirannya, wanita itu kemudian merapatkan bocah tertuanya untuk lebih dekat kepada tubuhnya, memeluk tubuh mungil itu dengan sebelah tangannya, sedang tangan yang satu ia pergunakan untuk menggendong bocah yan paling kecil. Tangannya kemudian membelai kepala anaknya yang tertua dan menciumnya penuh sayang.

Melihat apa yang dilakukan wanita muda itu, membuat hati saya jadi terenyuh. Saya yakin wanita itu pasti merasa bahwa orang – orang yang berada di angkot itu merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Namun, perbuatannya tadi itu saya tafsirkan sebagai bentuk pembelaan kepada kedua anaknya. Sebagai bentuk wujud cinta seorang ibu keapada sang anak. Apapun keadaan anaknya.

Ah, saya jadi teringat dengan wanita mulia yang ada di ujung Sumatera. Ibu saya, yang selalu setia menyambut kedatangan saya dari luar kota tempat saya kuliah dengan senyumnya yang menawan. Tak Pernah saya berpikir betapa besar cinta wanita separuh paya itu kepada saya. Sebuah cinta yang murni bagaikan tetesan embun di pagi hari yang menyegarkan suasana pagi hari yang sejuk.

Perasaan cinta. Yang tidak hanya dilatar belakangi oleh nafsu untuk memiliki sepenuhnya yang dicintai. Sebuah perasaan yang tulus untuk kebahagiaan sang buah hati. Sebuah ungkapan kasih sayang untuk sebuah daging yang telah lama bersemayam dalam tubuhnya. Karena sesungguhnya cinta adalah perasaan di mana setiap orang yang memiliki perasaan itu akan sepenuhnya menyerahkan jiwa dan raganya untuk yang di cintai.

Rumit memang, untuk mendefinisikan rasa cinta yang tak akan pernah habis untuk di bahas keberadaannya. Namun, toh tak ada salahnya bila kemudian saya merasakan rasa cinta begitu besar kepada semua yang layak untuk saya cintai apapun itu bentuknya. Tanpa aturan – aturan yang mengharuskan cinta itu untuk di definisikan artinya secara kaku.

Seperti juga perasaan wanita muda yang saya jumpai terhadap dua orang anaknya yang berada di angkot, kepada dua bocah yang mungkin sebagian orang mengganggapnya sebagai makhluk yang jijik. Tapi itulah sebenarnya rasa cinta yang kadang membuat kita memiliki energi lebih untuk melindungi orang yang kita cintai. Toh sebenarnya wanita itu juga mungkin seperti saya, tak mengerti apa itu sebenarnya definisi dari cinta yang abstrak. Wallahu.alam.

by: Dian Sianturi


8.12.09

Catatan Ramadhan: Mencari Makna Perjalanan

Ribuan langkah kau tapaki. Pelosok negeri kau sambangi.
Ribuan langkah kau tapaki. Pelosok negeri kau sambangi.
Tanpa Kenal lelah jemu. Sampaikan firman Tuhanmu.
Tanpa Kenal lelah jemu. Sampaikan firman Tuhanmu.*

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Aku mencoba memejamkan mata di sela-sela deru mesin kendaraan dan hembusan angin yang kencang, serta medan jalanan yang tidak rata. Kulepas jaket tebal yang sedari tadi menyelimuti tubuhku, dan kusembunyikan seluruh wajah dengan jaketku itu untuk menghalau laju angin yang menerpa wajahku. Jam di handphone menunjukkan pukul sembilan malam, artinya masih ada dua jam perjalanan yang harus kami tempuh untuk sampai ke tempat tujuan kami, sebuah Kabupaten yang berada di perbatasan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang lama perjalanan dari kotaku Samarinda kurang lebih tujuh jam. Sebelumnya, telah kami lalui perjalanan menggunakan bus, menyebrang dengan speedboat dan ini angkutan terakhir yang kami naiki.

Semakin aku memerintahkan mataku untuk terpejam, semakin kuat pula dorongan otak utuk melawannya. Berbagai macam pikiran bercampur baur menjadi satu. Teringat beberapa jam lalu sebelum kepergianku hari ini dimulai.


“Bu, uang jajannya ditambahin ya, soalnya lagi ngga ada dana nih buat berangkat.” Pintaku dengan wajah memelas sembari melipat pakaian yang akan ku bawa ke Tanah Grogot. “Soalnya bendaharanya lagi disana bu, lagipula keuangan memang lagi menipis nih. Berangkatnya aja kok ntar pulangnya gampang.” Lanjutku masih dengan wajah yang sama.
“Iya iya. Kalau sudah disana kan ngga bisa minta lagi sama siapa-siapa.” Jawab ibuku sembari mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru. “Ini jatah baju lebaranmu ya. Ngga ada tambahan lagi.”
“Baiklah. Alhamdulillah.” Jawabku, sembari tersenyum polos. “Ngga apa-apa deh ngga pakai baju baru, yang penting bisa berangkat.” Senyumku dalam hati.

Supir angkutan Penajam-Tanah Grogot masih memacu kendaraannya dengan kencang, sementara pikiranku masih berputar-putar tak tentu kemana arahnya. Perutku yang belum terisi makanan berat semenjak buka puasa beberapa jam lalu juga mulai memberontak sementara aroma makanan yang telah disiapkan ibu juga menggoda penciumanku. Sementara untuk makan, rasanya tidak mungkin dapat menelan nasi dalam perjalanan seperti ini.

Perang batin bergemuruh dalam pikiranku saat ini.
“Apa yang kau cari dari perjalanan ini Nisa?”
“Aku ngga tahu.”
“Kamu ngga tahu? Setelah sejauh perjalanan dan pengorbananmu kamu ngga tahu apa yang kau cari?”
“Aku benar-benar ngga tahu. Perjalananku adalah pemenuhan tugas dan amanahku.”
“Cuma itu?”
“Aku… A-aku… Ak-aku… sebenarnya aku tahu apa tujuanku. Hanya saja, aku malu, terlampau malu untuk sekedar membicarakannya dalam pikiranku.”
“Memangnya apa tujuanmu….?”
“Jangan tanya. Aku tak mampu mengatakannya….. sudah jangan tanya lagi….!!”

“Ka Nisa,… Ka….” Terdengar suara Aje yang duduk di sampingku membangunkanku dari tidur singkat. “Ada telepon dari Ka Jannah.” Lanjutnya.
Aku meraih handphonenya dan berbicara dengan Ka Jan di ujung telepon sana. Suaranya yang ramai menghilangkan sedikit kantukku.
“Dah sampai di mana de?”
“Ngga tahu Ka masih hutan nih.”
“Tanya sama siapa gitu. Atau sama sopirnya kah.”
“Iya.” Jawabku sambil tersenyum. Rupanya kakakku itu mengkhawatirkan kami juga.

Setelah itu suara yang ku dengar dari ujung telepon bermacam-macam. Sepertinya anak-anak disana berebut ingin berbicara denganku. Mereka adalah adik-adikku yang masih SMA. Semangatnya dalam menyiapkan kegiatan Training Ramadhan ini membuatku haru. Rasanya semua lelah, penat dan dilemaku terbang bersama angin mendengar mereka begitu menantikan kedatanganku. Ribuan langkah aku semakin dekat dengan kalian. Tunggulah kehadiranku disana pejuang-pejuang muda.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Hari demi hari kulalui disini. Sebuah kota kecil yang suasananya akan aku rindukan suatu saat nanti jika aku pulang. Kotanya masih asri dan suasananyapun tidak begiu ramai. Pernah aku bercanda pada temanku yang asli orang Tanah Grogot kalau suasana jalan rayanya sama seperti di Samarinda jam sebelas malam saking lengan dan sepinya kendaraan. Belum seminggu saja aku sudah hapal jalan-jalannya.

Ya, sudah hampir seminggu aku berada disini. Bergantian dengan Kak Jan mengisi training. Materi keislaman, kepemimpinan, dan yang lainnya juga kami sampaikan. Karena padatnya aktivitas disini hampir saja aku terlupa untuk menelepon rumah. Teringat beberapa malam lau ketika ayah menelepon dan aku bilang bahwa sedang mengisi materi. Teringat pula ketika hari-hari sebelumnya aku menghubungi orang rumah hanya untuk meminta kiriman pulsa. Pikiranku melayang-layang kehilangan fokus. Telingaku terpecah antara mendengarkan lantunan tilawah di masjid dan mendengarkan sisi lain di hatiku yang bergemuruh. Entah karena ikatan kerinduan yang begitu kuat, tak lama kemudian aku mendapat telepon dari rumah.

“Assalamualaikum ka, kapan pulang?” Suara adikku Monik yang masih kelas dua SD mengawali pembicaraan.
“Waalaikumsalam. Besok lusa de.” Jawabku.
Di belakang sana, terdengar suara adik kecilku yang sepertinya ingin bicara denganku juga.
“Kak, Aan mau ngomong.” Kata Monik kemudian.
“Halo…. Kakak apan ulan?” Suara adik balitaku kemudian terdengar.
“Sebentar lagi de. Tungguin aja ya.”
“Bawa ole-ole ya uat Aan.”
Aku tersenyum mendengar celotehannya. Tiba-tiba aku merasa rindu direpotkan olehnya. Merasa kangen bermain ataupun memarahinya. Jikalau aku tidak pergi, mungkin rasa rindu ini tidak kuat seperti biasanya.
“Kalau ada nanti kakak carikan ya. Mana ibu?”
Dan tak lama kemudian berganti menjadi suara ibu.
“Hallo. Eh, gimana sahurnya disana?” Tanya ibuku.
“Enak kok bu. Banyak panitianya yang masak. Kakak tinggal makan aja.” Jawabku.
“Kemaren ibu sakit ngga bisa puasa.”

Lama aku terdiam. Anak mana yang tidak tergetar hatinya mendengar ibundanya yang sakit? Aku merasa bersalah tidak ada di rumah saat ini, ketika ibu membutuhkan aku, menggantikan peranya mengurus rumah. Aku ingin pulang dan berada di rumah saat ini. Mendampingi buku, menggantikannya memasak dan menjaga adik-adikku.

Ada air mata yang tertahan di ujung kelopak mata. Hanya bisa tertahan tanpa aku mampu keluarkan. Entah karena betapa kerasnya hatiku, ataukah ini pertanda rasa cintaku yang teramat dangkal kepada ibu? Ibu yang begitu mengikhlaskan anaknya menjalani aktivitas lebih dari biasanya. Tidak melarang kegiatan ini dan itu seperti kebanyakan orang tua lainnya. Memberi kebebasan sepenuhnya kepdadaku untuk bertanggung jawab terhadap jalan yang telah aku pilih. Tak pernah protes ketika agenda di kampus ataukah kegiatan di luar yang memaksaku untuk pulang senja dan mengurangi aktivitas di rumah bersama keluarga. Ibuuu… batinku berteriak memanggilmu. Andai saja aku bisa pulang saat ini, mungikn aku sudah akan melakukannya.

“Sekarang masih sakit kah bu?”
“Sudah ngga. Ini Ibu sudah puasa. Kemaren empat hari ngga puasa.”
Dan hingga detik aku mendengar suara ibu ini, aku menyadari bahwa ibu mengabarkan setelah ia sembuh. Ibu tidak ingin aku mencemaskan keadaannya.

“Bu…..” Berat kata-kataku untuk melanjutkannya. “…. Nanti kalau kakak ke Samarinda, ada yang mau di selesaikan dulu disini. Jadi, ngga bisa nginap dirumah dulu. ngga apa-apa kah bu?”
“Iya ngga apa-apa. Nanti kabari aja ya.”

Hingga telepon itu terputus pun, aku masih tidak sanggup untuk mengeluarkan air mata. Ya Allah betapa kini kusadari, semakin jauh perjalanan Kau mengajarkanku arti kerinduan. Semakin lama waktu memisahkan akan semakin membuat makna tentang arti pertemuan. Ternyata dengan jalan ini Kau menyadarkan aku arti akan sebuah cinta dari keluarga. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Ketika setiap hari bertemu, bertatap wajah dan bercerita tentang hari-hariku, tentang aktivitasku dan tentang cita-cita dan masa depanku, setiap hari mencium tangan dan memberikan senyuman, rasa kerinduan ini tidak pernah tumbuh sedemikian kuatnya. Kerinduan akan arto sebuah keluarga, baiti jannati. Aku rindu rumah. Rindu yang tak pernah terpikirkan olehku ketika seharian meninggalkan rumah.

Ramadhan ini, aku ingin juga menikmati sahur dan buka puasa bersama ibu, ayah, dan keempat adik-adikku. Monik mulai belajar puasa, Aan belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya sembari menikmati buka puasa dengan anak-anak kecil di masjid. Rezza dan Puput belajar rajin shalat dan tepat waktu. Ramadhan ini kami semua mengalami proses belajar. Sementara aku disini, ratusan kilometer dari mereka, aku belajar banyak dari perjalanan. Belajar memahami sebuah makna, sebuah arti dari ikatan indahnya sebuah keluarga.

Teringat kembali dialog batinku saat aku memuli perjalanan ini. Aku malu untuk mengatakan tujuanku menempuh perjalanan ini. Kini ku azzamkan dalam hati dan dalam diri, tujuan itu akan tetap terpatri dalam perjalananku pulang nanti, dan juga perjalanan-perjalanan hidupku setelah ramadhan ini berakhir, dan menyongsong Ramadhan-Ramadhan yang akan datang. Aku berjalan mencari Ridho Ilahi.

“Ibu, besok lusa Kakak pulang. Tunggu Kakak di rumah ya……….”


*Smd,111009*

*spesial buat ade2ku yang ada disana,....*


*) Lirik Nasyid Sang Murabbi, Izzatul Islam


MENUMBUHKAN TRADISI INTELEKTUAL ISLAM INDOENSIA

Oleh : Zulkifli Hasibuan*

Coba kita renungkan apa makna kenyataan sejarah sederhana ini ketika Al Ghazali yang berasal dari kota Thus di Persia ( sekarang Iran ) itu, sibuk menulis karya – karya polemis nya yang ditujukan kepada para Filsuf ( khususnya Ibnu Sina dan Al Farabi ), Indoensia dalam hal ini Tanah Jawah, menyaksikan kerajaan Kediri dengan Jayabaya sebagai rajanya. Al Ghazali dan Jayabaya memang hidup satu kurun, yaitu abad ke 12 Masehi.sebagaimana Al Ghazali yang meninggalkan warisan berbagai karya tulis seperti kitab Ihya ‘Ulumudin, Jayabaya juga meninggalkan sebuah karya tulis yaitu buku “Jangka Jayabaya ”.
Tanpa maksud mengurangi nilai warisan nenek moyang sendiri, namun jelas dari sudut penilain yang tidak apriori memihak, terdapat perbedaan kuantitatif antara isi karya warisan kedua tokoh itu. Yang pertama, Al ghazali mewariskan suatu rangkaian karya – karya renungan kefilsafatan dan kesufian yang amat mendalam, selain banyak yang besifat polemis; sedangkan yang kedua, yaitu Jayabaya mewariskan suatu karya yang oleh banyak orang, lebih – lebih di zaman modern ini dipandang sebagai hasil sebuah kreatifitas imaginative, jika bukan khayalan atau reka – reka belaka.

Penghadapan antara kedua tokoh dari satu zaman dengan mewariskan mereka masing – masing itu mengungkapkan satu kenyataan, yaitu bahwa berbeda dari kesadaran kebanyakan orang – orang muslin Indoensia sendiri, kedatangan Islam ketanah air ini khususnya dan Asia Tenggara umumnya adalah relative sangat baru.kebaruan ini sangat kuat terasa jika kita ketengahkan kenyataan histories lainnya,yaitu berdirinya Majapahit agak jauh sesudah periode Al Ghazali dan Jayabaya. Kerajaan Hindu yang sering dirujuk oleh kaum Nasionalis sebagai contoh persatuan tanah air kita dimasa lalu itu di dirikan pada tahun 1293 M, yaitu sekitar lima setengah abad setelah India tempat lahirnya agama Hindu jatuh ketangan orang – orang Muslim. Jatuhnya India ketangan orang – orang Muslim ini ditandai dengan ditaklukkannya Lembah Sungai Idrus oleh Bangsa Arab pada tahun 711 M. tepatnya pada masa kekuasaan Bani Umayyah di Damaskus. Juga cukup menarik untuk disadari, bahwa Majapahit didirikan hampir seabad setelah kesultanan Delhi di India Utara, yang didirikan pada tahun 1206 M.
Proses pengislaman Nusantara sendiri tergolong sangat cepat, sedemikan cepatnya sehingga membuat pengkaji masalah sejarah Islam terkenal, Marshal G.S Hogson ( Guru besar sejarah Islam Chicago University ), bertanya – tanya apakah gerangan yang sebenarnya terjadi saat itu digugusan Nusantara ini, sehingga agama Islam dalam waktu singkat diterima hampir secara Universal ? pertanyaan ini ternyata memancing munculnya jawaban yang beraneka ragam. Namun satu hal yang sudah jelas, yaitu karena kebaruannya plus kecepatan proses pertumbuhannya itu, sesungguhnya kaum Muslim Indoensia sebagian umat adalah tergolong muda atau baru dalam garis kelanjutan sejarah umat manusia.
Sebagai umat yang masih muda, maka kaum muslim Indoensia hanya memiliki tradisi Intelektual yang relatif muda pula, jika tidak dapat disebut lemah. Ini bias dibuktikan dari isi kepustakaan kita. Sementara itu, dianak benua Pakistan mislanya, disebabkan oleh pengalaman mereka memiliki sejarah keislaman yang panjang dengan kekuasaan politik Islam yang menjadi masa lampau gemilang anak benua itu kita dapati kepustakaan mereka penuh dengan warisan karya – karya klasik oleh anak negeri sendiri, yang mana karya – karya itu memperoleh pengakuan dunia. Dan karena adanya kesenjangan cultural antara kaum Muslim Indonesia dengan dunia Islam pada umumnya, seperti kesenjangan kebahasaan, tidak banyak orang Muslim Indonesia yang mengetahui bahasa Arab, apalagi bahasa – bahasa lain yang banyak digunakan oleh kepustakaan Islam, seperti bahasa Urdu dan Persia. Maka tradisi intelektual yang terjadi diluar itu hanya sedikit saja. Jika memang ada tradisi intelektual hanya mempunyai gaung di tanah air. Dengan mengesampingkan sejumlah kecil tokoh seperti Hamzah Fansuri, Nurudin Ar Raniri, Nawawi Bantani, Ihsan Muhammad Dahlan, Hamkah, kita dapat mengatakan bahwa umumnya tradisi intelektual Islam kita masih kecil menghasilkan karya – karya yang terbatas pada hal – hal elementer, bukan perenungan dan pemikiran yang mendalam.
Keadaan itu tidak bias tidak mengesankan kemiskinan intelektual, dan sebagai konsekwensi dari adanya kemiskinan ini adalah rendahnya kemampuan kita dalam memberi responsi pada tantangan zaman. Untuk memberi responsi pada tantangan zaman itu secara kreatif dan bermanfaat, kita dituntut memiliki kekayaan dan kesuburan intelektual. Kekayaan dan kesuburan intelektual inilah yang disebut sebagai suatu “ Tradisi Intelektual ”, karena ia tidak terwujud seketika setelah dimulai penggarapannya, melainkan tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang. Dan selama masa pertumbuhan dan perkembangan itu terjadi proses penumpukan dan akumulasi pengalaman masa lampau. Suatu tradisi intelektual tidak akan memiliki cukup vitalitas jika tidak memiliki keotentikan sampai batas – batas tertentu. Sedangkan keotentikan itu antara lain dapat diperoleh dari adanya akar dalam sejarah.
Berdasarkan analisa diatas, tradisi intelektual Islam di negeri ini pun sulit sekali memiliki vitalitas, jika tidak memiliki kesinambungan dengan pemikiran masa lampau. Dan pada zaman modern sekarang ini, kesinambungan temporal atau historis itu juga mulai dalam bentuk kesinambungan spatial atau geografis. Dalam arti bahwa apa yang terjadi di Indonesia, atau suatu negeri ( Islam ) manapun, akan mustahil dapat berkembang dengan baik jika tanpa ada kesinambungan dan keterkaitan dengan yang terjadi di negeri lain. Dalam abad teknologi komunikasi yang semakin canggih sekarang ini yang di ikuti oleh derasnya arus globalisasi __ isolasi cultural dan intelektual oleh siapa saja adalah kemustahilan.
Marilah kita sejenak merenungkan apakah kita kader Pelajar Islam Indonesia ( PII ) merupakan bagian dari kebangkitan ataupun pengusung tradisi intelektual Islam Indonesia ? mari kita lihat seberapa banyak kader PII yang memiliki karya – karya yang membanggakan ? berapa banyak kader PII yang suka membaca , berdiskusi ? seperti nya kita juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Padahal salah satu indicator kebangkitan intelektual adalah dengan semaraknya budaya baca dikalangan umat Islam Indonesia terkhusus kader PII.

- Penulis adalah mantan PW PII SUMUT 2006 – 200
- Anggota Jarik Sumut
- LPSDI SUMUT