21.10.09

Mengukur arah mata angin yang sejati



Untuk mengukur arah mata angin, kita menggunakan alat yang bernama kompas. Namun, jarum kompas sendiri tidak selamanya akurat dalam mengukur arah mata angin, karena jarum kompas mengalami deklinasi. Jarum kompas peka terhadap gaya magnet. Deklinasi kompas selalu berubah-ubah tergantung pada posisi tempat dan waktu dan Data tentang deklinasi kompas di suatu tempat dapat menghubungi BMG.

Namun, jika inforrmasi dari BMG tidak dapat diperoleh, maka kita dapat melakukan percobaan sederhana untuk mengukur arah mata angin yang sejati dengan bantuan sinar matahari dengan cara sebagai berikut:

1. Melakukan kegiatan ini sekitar jam 11.00 waktu setempat.
2. Memilih tempat yang datar, dan terbuka (terkena cahaya matahari langsung)
3. Membuat sebuah lingkaran di tempat itu dengan diameter ± 100 cm.
4. Menancapkan sebuah tongkat kecil lurus setinggi ± 150 cm tegak lurus tepat di tengah lingkaran itu.
5. Memberi tanda titik B pada titik perpotongan antara bayangan ujung tongkat itu dengan garis lingkaran sebelah barat (ketika bayangan sinar matahari mulai masuk lingkaran). Titik B ini terjadi sebelum waktu dhuhur.
6. Memberi tanda titik T pada titik perpotongan antara bayangan ujung tongkat itu dengan garis lingkaran sebeleah timur (ketika bayangan sinar matahari keluar lingkaran). Titik ini terjadi sesudah waktu dhuhur.
7. Menghubungkan titik B dan T tersebut dengan garis lurus.
8. Titik B merupakan titik Barat dan titik T merupakan titik Timur, sehingga sudah didapatkan garis lurus yang menunjukkan arah Barat dan Timur yang sejati.
9. Membuat garis ke arah utara dan selatan tegak lurus pada garis Barat-Timur, maka garis ini menunjukkan arah Utara dan Selatan sejati.




Selamat mencoba,….



19.10.09

Tukang Ojek Bang Rafly

Aku biarkan tanganku menari di atas senar gitar. Memetik asal tanpa persaan dan tanpa jiwa. Hahaha aku tertawa dalam hati. Masih ada sisa-sisa kemampuanku dulu. Ku mainkan lagi gitar milik Dendi ini dengan sedikit bersemangat.

Lagu itu masih aku hapal meskipun sudah enam bulan ini tidak pernah aku mainkan. Tanganku juga masih lincah meskipun sudah lama ingin aku hentikan. Aku menikmati lirik lagu More Than Words yang kuncinya sedang aku mainkan saat ini.

“Syahahahaha. Sudah tobat loe Brur..! Tumben loe turun. Dah bosen ngaji di kamar ya?” Suara Dendi yang lebih pada ejekan itu mengganggu telingaku.

‘Ngga boleh?” Jawabku malas sembari terus memainkan lagu ini tanpa menghiraukannya.

“Syahahaha welcome home Safril. Ini rumah loe yang sesungguhnya.”

Tak ku hiraukan kata-kata itu aku hanya tersenyum pahit. Aku biarkan Dendi asyik dengan rokoknya yang mengepul di sampingku. Beberapa kali ia menawarkannya padaku.

“Sorry, loe kan tahu gue ngga ngerokok lagi.”

“Syahaha. Loe juga ngga ngegitar lagi kan, nih sekarang loe pegang. Kali aja loe juga pengen ngerokok lagi.”


Sejenak aku terdiam. Tak lama. Dan kemudian aku lanjutkan bermain gitar lagi. Penghuni Bangsal 15 dan kontrakan sebelah muncul meramaikan ruangan tamu rumah kontrakan. Aku lupa kalau ini malam minggu, dan aku juga lupa kalau kebiasaan Bangsal 15 -nama beken kontrakanku ini- kalau malam minggu adalah ngumpul bareng anak kontrakan seberang, main PS, main domino, catur, mengokok, main gitar, hmmm apa lagi ya? Aku hampir lupa.

Satu hal yang bisa aku pastikan, ngga ada cewek disini. Bukan karena mereka paham koridor syariat tentang hubungan lawan jenis, tapi karena mereka adalah jomblo-jomblo ngga berkualitas yang wajah mereka pun pas-pasan. Hahaha bukannya aku GR, keberadaan makhluk manis bernama perempuan yang main ke bangsal ini terhenti sejak enam bulan yang lalu, semenjak aku mengisolir diri dari komunitas bangsal 15 dan anak kontrakan sebelah.

Berkali-kali mereka menggodaku untuk sekedar menyicip rokok ataupun bergabung dengan aktivitas mereka. Aku hanya tersenyum sambil menikmati duniaku sendiri. Larut dalam alunan lagu-lagu yang dulu biasa aku mainkan. Meskipun telingaku berdimensi ke masa lalu mengenang masa-masa dulu lewat petikan lagu, namun sesekali masih terdengar celetukan mereka menganggapku asing berada di sini.

Heran? Tentu saja mereka heran. Jangankan mereka, akupun heran dengan keberadaanku disini. Terakhir aku bergabung dalam suasana party malam minggu begini sekitar empat bulan lalu, ketika aku datang untuk menceramahi mereka dengan dalil-dalil yang aku kutip dari perkataan Bang Rafly ataupun dari kajian-kajian yang sering aku dan Bang Rafly ikuti. Saat itu, ghiroh dan semangatku masih menggebu. Semangat dalam pencarian jati diri dan menyampaikan kebenaran. Tak peduli dengan bagaimana cara dan metode dakwah yang relevan denagn objek dakwahnya, semangat “katakanlah kebenaran walau terasa pahit” begitu menyinari geloraku saat itu.

Dan aku masih ingat perlakuan temanku. Ditertawakan, dilempari kulit kacang, disodorin rokok. Kemudian aku begitu marah pada mereka dan keesokan harinya berkemas ingin pindah dari bangsal 15 ini. Bangsal yang begitu punya sejarah dalam kehidupanku di rantau orang.

“Kalian sudah ngga satu visi sama Ane, mendingan Ane pindah untuk menyelamatkan akidah Ane.” Kataku sembari mengemasi barang-barang ketika mereka menatapku bengong di depan pintu kamar.

“Loe marah gara-gara kejadian tadi malam?” Dendi, setengah tidak percaya menanyakan itu padaku. “Kita bercanda Bro..!”

“Ente pikir Ane main-main?!!” Kataku sembari menatap tajam pada mereka. Tatapan menyimpan amarah yang tertahankan.

Beberapa kalimat sumpah serapah meluncur dari lisanku saat itu. Lupa akan niat dan esensi awal aku mendakwahi mereka semalam. Aku marah, bercampur amarah. Mereka hanya terdiam mendengarkan bait-bait kata pedas yang sebelumnya tak pernah muncul dari bibirku.

Satu keadaan yang membuatku mengurungkan langkah pergi dari bangsal ini adalah, air mata penyesalan dari Dendi. Belum pernah aku melihatnya sebelum itu. Bagaimana tidak, dialah yang semalam begitu getol memperolok-olokku. Meskipun aku sadar itu adalah candaan, tapi aku merasakan itu adalah penghinaan terbesar yang terjadi dalam hidupku. Nerasa dihina dan direndahkan martabatnya oleh teman sendiri.

Air mata penyesalan itu begitu tulus. Selain itu, penghuni bangsal 15 lainnya yang berjumlah tujuh orang pun menahanku dengan permintan maaf yang tulus. Mereka mengingatkanku akan perjuangan kami sebagai anak rantauan yang hidup pas-pasan dan berwajah pas-pasan dalam menjalani liku awal perkuliahan di kampus ini. Akupun terduduk, ketika satu satu mereka memelukku dengan permintaan maaf tulus mengalir. Satu sisi laki-laki terbuka pagi itu. Dendi bisa menangis karenaku.

Hari-hariku setelah itu, aku disibukkan oleh aktivitas dan komunitas baru di kampus. Bergabung dalam barisan dakwah membuatku sangat sibuk, sehingga bangsal menjadi rumah kedua setelah sekretariat LDK. Malam minggu aku disibukkan dengan ikut kjian bersama Bang Rafly, sang ketua lembaga dakwah kemahasiswaan di kampus. Aku juga ikut beliau dalam setiap kajian-kajian keislaman, menemani mengisi mentoring, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan nyaris lupa dengan komunitas bangsal 15. Mungkin juga karena aku trauma mendakwahi mereka lagi.


“Loe kenapa Sap?” Ipank tiba-tiba dudk di kursi tepat di sampingku sambil membawa sebotol minuman dingin.

“Ngga apa-apa.” Jawabku datar. Bohong.

“Biasanya malam minggu loe jalan. Bang Rafly lagi sakit?”

“Ngga tahu.”

“Kangen sama Nurul?” Tanya Ipank tiba-tiba.

Aku sedikit kaget. Heran aja kok dia bisa mengira aku ingat pada Nurul? Sudah sangat lama aku tidak pernah memikirkannya. Bahkan sudah lupa bagaimana wajahnya.

“Ngga.”

Ipank mengambil gitar dari tanganku. Memainkan lagu sekena hatinya.

“Gue lihat dari azan tadi loe belum bergerak dari sini. Sholat dulu sana, sudah telat satu jam.”

Aku tersenyum mendengar sindirannya.

“Sudah pergi-pergi sana.” Kata Ipank kemudian.

“Ente sendiri sudah shalat belum?”

Dibalas dengan tawa kencang. Dan akupun berjalan tanpa tenaga ke kamarku di lantai dua.


Aku kembali bergabung turun ke bawah. Duduk bersandar pada kursi dan menikmati canda tawa mereka.

“Sudah ah! Gue berhenti main!” Dendi berkata sembari melepaskan jepitan jemuran yang menghiasi telinganya. Ada tujuh buah, artinya Dendi sudah kalah main domino tujuh kali berturut-turut. Dihapusnya juga bedak coretan yang memenuhi wajahnya. Sembari mengelus-elus telinganya yang memerah, ia mengambil posisi duduk di sampingku.

“Sudah bosan jadi ojeknya Pak Ustadz?”

Aku tersentak mendengar kata-kata barusan.

“Mak-sud-nya?” Tanyaku tebata-bata.

“Gue mengenal loe lebih dari yang loe tahu Bro.” Jawab Dendi santai.

Benarkah? Tanyaku dalam hati. Sejauh mana Den?

“Kejadian tadi anggap aja sisi devil gue lagi kumat. Syahaha.” Tawa mengalir dari bibirnya.

Aku memejamkan mata. Terpikir kata-kata Dendi. Ya, benar Den, aku lagi futur saat ini. Terlalu lelah untuk memikiran bahwa aku tidak ada artinya selama ini. Jadi tukang ojek? Ya! Aku lebih berasa menjadi tukang ojek Bang Rafly. Enam bulan ini hanya aku habiskan untuk mengantar-menemani-menjemput. Padahal kau tahu? Aku juga ingin dihargai. Aku ingin diberi kesempatan untuk sekedar dilihat tanpa membawa-bawa nama besar Bang Rafly selaku ketua lembaga dakwah kampus.

Malam ini aku tidak datang kajian. Kalaupun aku datang, toh bukan aku yang diharapkan, bukan aku yang dicari. Biarlah mereka berjalan sendiri tanpa aku.

Entah mengapa aku sekarang kehilangan kesadaran dan akal sehatku. Bodohnya aku. Ku biarkan setan bermain-main dalam pikiranku, membiarkan ia menuruti hawa nafsuku an melenakanku.

Syahahaha. Suara tertawa khas Dendi muncul dari dalam batinku. Menertawakan kebodohanku sendiri. Anak muda, apa yang kau cari di dunia ini? Sebuah pertanyaan yang aku mengerti dan pahami jawabannya. Namun sayangnya terlalu berat untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Seperti kondisiku saat ini. Apa yang aku cari selama enam bulan ini? Pengakuandari orang lain bahwa aku adalah seorang aktivis dakwah? Jasa dan pengorbananku agar diketahui orang lain? Jabatan organisasi di dunia? Atau apa akhi?

Aku terbatuk-batuk menghirup asap rokok yang dihembuskan Dendi.

“Syahaha, paru-paru loe dah terbiasa ama udara sehat ya. Baru dekat gue semenit aja udah sesak napas.” Dendi berkata dilanjukan dengan tertawa lepas dan tiba-tiba berhenti.

“Tobat kaya loe susah gak sih?” Tanya Dendi tiba-tiba dengan suara pelan.

Aku membuka mata, menatap matanya dalam.

“Serius?” Aku bertanya menekan.

Dandi terdiam. Sedetik kemudian suara tawanya yang khas menggelegar, mengagetkan anak-anak lain yang asyik bermain melantai di depan televisi beberapa meter dari kami. Aku melihat binar kesungguhan dari matanya. Ente bertanya di waktu yang ngga tepat bro. Sorry, ane lagi futur.

Terdengar suara salam berbunyi. Aku dan beberapa orang menoleh ke arah pintu depan yang terbuka. Aku terkejut dan segera bangkit membalas salam. Tamu yang datang berjumlah enam orang. Teman-teman lain pun sama terkejutnya denganku dan segera menghentikan aktivitas mereka.

“Antum sakit Bang? Teman-teman pada khawatir antum ngga datang kajian malam ini. Makanya kita berniat menjenguk malam ini juga.” Kata Budi, adik tingkatku yang juga sama-sama ikut kajian malam ahad.

Aku bingung menjawabnya. Sakit? Secara fisik memang tidak, tapi hatiku iya. Aku hanya tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk. Anal-anak lain pun salah tingkah dengan kedatangan tamu yang tak di sangka-sangka ini. Beberapa yang terlihat bingung langsung ngeloyor masuk ke dapur.

“Tadi teman-teman hubungi ponsel antum beberapa kali tapi ngga diangkat.” Suara berwibawa Bang Rafly keluar juga. Sorot mata teduh dari beliau menatapku. Aku tertunduk lesu. “Tapi alhamdulillah sepertinya ngga apa-apa.” Sambungnya kemudian. Sepertinya beliau bisa membaca pikiranku.

Tak lama, Ihsal dan Ipank keluar membawa nampan berisi the hangat dan kacang kulit yang biasa menemani mereka begadang. Lumayan bisa mengusir kecanggunganku sedikit meskipun setelah mempersilahkan, mereka berdua dan anak-anak lainnya hilang dari peredaran. Mungkin saja mereka sedang bersembunyi di dapur meninggalkanku disni.

Aku tersenyum simpul mendengar cerita mereka mengulas kajian tadi. Aku hanya bisa menjadi penonton meskipun sesekali Bang Rafly menanyakan pendapatku yang aku jawab singkat.

Anak-anak keluar beserta piring yang berisi nasi goreng dan telur dadar. Aku tidak menyangka ternyata mereka menyuguhkan hidangan makan malam untuk kami.

“Wah subhanallah, kebetulan lagi lapar.” Kata Mukhlis.

“Rezeki silaturahmi ini namanya. Makasih banyak lho ya.” Sambung Refandi.

“Alhamdulillah. Enak lho. Siapa yang masak?” Tanya Bang Rafly.

“Dendi Bang.” Jawab Ihsal.

“Ya kita-kita cuma bisa ngasih ini Bang.” Jawab Dendi. “Maklum, saya masih banyak dosa jadi ngga bisa kasih manfaat banyak ama orang-orang.”

Aku hanya mampu terdiam ketika Bang Rafly tersenyum menghentikan makannya sebentar, sambil menepuk pundak Dendi yang tepat duduk di sampingnya.

“Loh jangan salah. Orang menyingkirkan duri dari jalanan saja sudah berpahala. Coba bayangkan kalau yang melewati jalanan itu adalah seorang guru yang hendak mengajar atau sesrorang yang hendak menyebarkan kebaikan. Berapa banyak kebaikan orang itu?”

Aku tertunduk semakin lesu. Tersindir? Ya tentu saja aku tersindir. Aku merasa ditegur oleh Allah melalui teman-temanku. Betapa tidak, saat aku tadi berprasangka yang tidak baik pada penghuni bangsal ini yang meninggalkanku sendiri, ternyata mereka sedang melakuakn kebaikan yang sungguh tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

“Apalagi kalian sekarang. Subhanallah, berapa kebaikan yang sudah kalian lakukan.” Kembali Bang Rafly sibuk dengan piringnya. “Dan yang penting, niat kita bukan karena pengen dipuji, tapi memang tulus memberi. Hmmm tapi kalo ini memang benar-benar mantap nasi gorengnya.”

“Boleh nih Bang ajari kita resepnya.” Kata Mukhlis pada Dendi.

Aku masih terdiam dengan senyuman yang dipaksakan melihat teman-teman sudah mulai akrab dengan komunitas lain dalam hidupku. Keakraban yang sangat sulit aku ciptakan dalam bulan-bulan terakhir ini.

Hingga kunjungan malam ini berakhir, aku masih terdiam.memikirkan segala yang terjadi hari ini. Memikirkan perkataan Bang Rafly tadi. Dan yang penting, niat kita bukan karena pengen dipuji, tapi memang tulus memberi. Niat. Setiap Amal Tergantung Niatnya. Diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal.

Aku mendapat sms dari Bang Rafly yang dari isinya membuatku tersentuh.

Untuk membuat sebuah rumah, tidak akan bisa jika semuanya ingin menjadi bata. Banyak peran yang harus kita isi. Dan ingat, segala perbuatan kita tergantung dari iat. Keep hamasah akhi, be yourself. Jadi baik itu baik, tapi jadi pribadi lebih baik itu yang lebih baik. Afwan. Selama ini sudah merepotkan dan membebani antum.



18.10.09

Perhitungan Arah Kiblat


Ketika sedang melaksanakan perintah shalat, pernahkah kita terbayang bahwa seluruh penjuru dunia menghadap ke arah yang sama setiap saat dan setiap waktu ke arah yang sama yakni kiblat? Pernahkah terpikir dalam benak kita bagaimana caranya mengetahui atau mengukur apakah jika kita sedang shalat maka apabila ditarik garis lurus dari arah shalat kita, maka akan menghadap ke Mekkah?

Sebenarnya ada perhitungan yang cukup mudah untuk mengetahui hal tersebut. Pada mata kuliah Bumi dan Antariksa pada semester tiga, dosen kami Pak Riskan Qadar menjelaskan bagaimana cara mengukur arah kiblat.

Ka’bah merupakan kiblat bagi orang-orang yang akan melaksanakan sholat di dalam masjidil haram. Masjidil haram merupakan kiblat bagi orang yang sholat di Makkah dan sekitarnya. Kota Makkah merupakan kiblat bagi orang yang melaksnakan sholat jauh dari kota Makkah

Bila dalam keadaan bingung sehingga tidak mengetahui arah kiblat, cukup menghadap kemana saja yang diyakini bahwa arah yang demikian itu adalah arah kiblat

Apakah kita ingin menjadi orang yang bingung selamanya???

Dalil syar’I
Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.(Al-Baqarah 149)

Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk (Al-Baqarah 150)



Untuk perhitungan arah kiblat, ada 3 buah titik yang diperlukan:
1. Titik A, terletak di Ka’bah (φ = +21° 25’ LU dan l = 39° 50’ BT)
2. Titik B, terletak di lokasi yang akan dihitung arah kiblatnya.
3. Titik C, terletak di titik kutub utara.
a = sisi BC, c = sisi AB
b = sisi AC



a = 90° - φB
b = 90° – 21° 25’ = 68° 35’
c = adalah l antara bujur Ka’bah dan bujur
kota B
Jika λ = 0°0’ s/d 39° 50’ BT; c = 39°50’ -l
Jika λ = 39° 50’ s/d 180° 0’BT; c = l -39°50’
Jika λ = 0°0’’ s/d 140° 10’ BB; c = l +39°50’
Jika λ = 140°10’ s/d 180° 0’BB; c = 320°10’-l


Atau dapat dicari dengan menggunakan rumus lain



nah sekarang yang harus dilakukan adalah mencari kompas dan membuktikan apakah arah kiblat di masjid ataupun di rumahmu sudah benar?,.. Silahkan mencoba,….


Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Q.S. Al Mujaadilah:11]






16.10.09

Pertentangan Dua Hati


“Jadi solusinya gimana?”

Sampai pada kalimat ini, aktivitas Nita terhenti. Diteguknya kopi susu yang sudah tak hangat lagi dan kemudian ditatapnya penuh sabar bagaikan seorang psikiater yang sedang menghadapi kliennya. Nita mengeluarkan senyum sebelum melontarkan kata-kata.

“Hmm, masalahnya wajar kok, jadi harus dikasih solusi yang wajar juga.” Kata Nita kemudian.

“Wajar kah Nit? Menurutku ini sudah ngga wajar…….”

Nita kembali tersenyum.

“Ya sudah kalau menurutmu ini ngga wajar. Trus kamu maunya apa Ci? Aku mau bantu tapi kamu juga harus tahu ending dari permasalahanmu ini akan dibawa kemana. Ingat lho Ci, masalah ini kamu sendiri yang bisa selesaikan. Aku hanya bisa memberi saran.”

Segelas teh hangat menemani curahan hati Aci kepada Nita sahabatnya sejak sekolah dulu. sesekali pembicaraan terhenti oleh isak tangisan. Masalah klasik tentang cinta, selalu saja terjadi di sekeliling kita entah disadai ataupun tidak.

“Haha Aci, Aci.”

“Jangan gitu lah kau Nit. Aku bingung ini.” Kata Aci dengan wajah putihnya yang bersemu merah jambu.

“Kenapa Ci, ada yang salah dengan kata-kataku? Aku jujur itu. Masalah ini wajar lho Ci, semua orang juga mengalaminya. Tapi menjadi ngga wajar ketika kamu membiarkannya berlarut-larut padahal kamu tahu itu ngga baik buat dirimu.”

“Jadi gimana solusinya?”

“Sudah selsai ceitanya?” Tanya Nita tapa menjawab pertanyaan sebelumnya.

“Nitaaaa…!!” Aci mulai gemes dengan sahabatnya itu.

“Hehehe iya iya sudah nih bercandanya. Oke. Kesimpulannya, kamu itu sekarang lebih butuh di dengar daripada diceramahin iya ngga?”

Aci mengangguk mantap. “Iya Nit. Dan jujur, aku takut banget sebelum cerita ini ke kamu, kamu bakal ceramahin aku, menjudge kalau aku ini salah itu salah dan…. Dan ketakutan-ketakutanku lainnya.”

“Aku tahu kok betapa sakitnya dijudge orang lain Ci, makanya aku ngga melakukan itu sama kamu sekarang. Aku mendegarkan karena kamu butuh di dengar. Aku juga tahu kalau sebenarnya kamu sudah tahu solusi dari masalah ini kan?”

Lagi-lagi Aci mngangguk pelan.

“Sekarang yang harus kamu pahami, ketika kamu menceritakan masalah ini ke aku, kamu juga musti sadar bahwa kamu mempoercayakan controlling dari aku. Aku punya hak untuk menegur kamu dan berkewajiban membantu permasalahanmu.”

Aci terdiam dan tertunduk lesu.

“Karena apa Ci? Karena kau sudah percaya. Kepercayaan itu mahal harganya. Dan aku harus menjaganya.” Nita menggenggam erat tangan Aci. “Dan aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu keluar dari masalah ini.”

Ada bening di mata keduanya yang tidak mampu di artikan oleh kata. Aci memeluk erat sahabatnya itu.

“Makasih Nit.” Bisik Aci di telinga Nita yang samar terdengar oleh Nita karena beradu dengan isak tangis keduanya.

“Kalau ada yang tahu masalah ini dan menjugde, didengarkan aja ya Ci. Itu artinya mereka sedang menyampaikan rasa cinta mereka ke kamu, meskipun kadang terdengar pahit.”

“Hehe iya Nita. Udah ah, kok kita jadi lebay gini sih? Mana nih Aci ama Nita yang sok ceria?”

Keduanya tertawa.

Rasa haru bergemuruh di dalam batin Nita. Bening itu mengalir mengantarkan kepulangan Aci dari rumahnya. Bening yang sejak tadi tertahan.



Alhamdulillah masih dapat di percaya menampung cerita orang lain tentang hati dan perasaan. Dan cerita tentang perasaanku sendiri, siapakah yang akan mendengarkan?


*Smd151009*

Terkadang kita lebih banyak butuh di dengar. Maka dengarkanlah keluh kesah orang lain. Solusi akan mengalir sebagai kata-kata cinta yang indah bukan seperti kata-kata perintah, padahal maksud dan tujuan keduanya sama :)


coretanisengdotcom %peace%



15.10.09

Cara Praktis Menghafal Al-Qur'an

Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad r. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al quran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran. Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:

Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:

1- Bacalah ayat pertama 20 kali:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {1}

2- Bacalah ayat kedua 20 kali:

وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {2}


3- Bacalah ayat ketiga 20 kali:

وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا {3}

4- Bacalah ayat keempat 20 kali:

وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا {4}

5- Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.

6- Bacalah ayat kelima 20 kali:

وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {5}

7- Bacalah ayat keenam 20 kali:

وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا {6}

8- Bacalah ayat ketujuh 20 kali:

لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا {7}

9- Bacalah ayat kedelapan 20 kali:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {8}

10- Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.

11- Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.

- BAGAIMANA CARA MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?

Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 20 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.

- BAGIMANA CARA MENGGABUNG ANTARA MENGULANG (MURAJA'AH) DAN MENAMBAH HAFALAN BARU?

Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal al quran terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua al quran, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karena itu cara yang paling baik dalam meghafal al quran adalah dengan mengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru.

Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tiga bagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.

Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah enghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-qur an.

Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiapharinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

- BAGAIMANA CARA MENGULANG AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH MENYELESAIKAN MURAJAAH DIATAS?

Mulailah mengulang al-qur an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Quran setiap dua minggu sekali.

Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al qur an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun.

- APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL QUR AN SELAMA SATU TAHUN?

Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, jadikanlah al qur an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi r semasa hidupnya, beliau membagi al qur an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.

Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: "kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)". (HR. Ahmad).

Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:

- Hari pertama: membaca surat "al fatihah" hingga akhir surat "an-nisa",

- Hari kedua: dari surat "al maidah" hingga akhir surat "at-taubah",

- Hari ketiga: dari surat "yunus" hingga akhir surat "an-nahl",

- Hari keempat: dari surat "al isra" hingga akhir surat "al furqan",

- Hari kelima: dari surat "asy syu'ara" hingga akhir surat "yaasin",

- Hari keenam: dari surat "ash-shafat" hingga akhir surat "al hujurat",

- Hari ketujuh: dari surat "qaaf" hingga akhir surat "an-naas".

Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: " Fami bisyauqin ( فمي بشوق ) ", dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:

- huruf "fa" symbol dari surat "al fatihah", sebagai awal wirid beliau hari pertama,

- huruf "mim" symbol dari surat "al maidah", sebagai awal wirid beliau hari kedua,

- huruf "ya" symbol dari surat "yunus", sebagai wirid beliau hari ketiga,

- huruf "ba" symbol dari surat "bani israil (nama lain dari surat al isra)", sebagai wirid beliau hari keempat,

- huruf "syin" symbol dari surat "asy syu'ara", sebagai awal wirid beliau hari kelima,

- huruf "wau" symbol dari surat "wa shafaat", sebagai awal wirid beliau hari keenam,

- huruf "qaaf" symbol dari surat "qaaf", sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat "an-nas".

Adapun pembagian hizib yang ada pada al-qur an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

- BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (MIRIP) DALAM AL-QUR AN?

Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).

- KAIDAH DAN KETENTUAN MENGHAFAL:

1- Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.

2- Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-qur an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.

3- Hafalkanlah mulai dari surat an-nas hingga surat al baqarah (membalik urutan al Qur an), karena hal itu lebih mudah.

4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.

5- Setiap yang menghafalkan al-quran pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa "tajmi'" (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-qur an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-quran merupakan harta yang sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orag yang dikaruniai Allah swt, akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini. Amin ya rabal 'alamin.

> Sumber: islamhouse.com
http://myquran.org/forum/index.php/topic,42003.0.html


17.8.09

Profesi Pengamen dan Pengemis




Pernah memperhatikan pengamen yang sedang menyanyi atau melihat pengemis yang sering memohon bantuan? Saya suka mengamati mereka. Ketika suatu saat sedang makan siang di dekat kampus daerah Pramuka, sedang asyik makan saya senang mengamati gejala sosial seperti itu. Banyak pengemis dan pengamen yang tidak hanya satu berkeliaran sepangjang warung di daerah Pramuka.

Ceritanya begini, suatu saat lagi makan di salah satu warung makan. Berhubung jam makan siang dan warungnya cukup terkenal, jadilah ramai sekali saat itu. Sewaktu dapat tempat duduk dan baru memesan makanan, datang seorang ibu-ibu lumayan tua mencoba mengetuk hati kami dan menengadahkan tangan. Seorang temanku mengulurkan bantuan. Ketika makanan kami datang dan hampir selesai makan, kira-kira tidak sampai setengah jam, ibu itu kembali datang dan mengulurkan tangannya menghampiri meja kami. Mungkin karena pengaruh usia sehingga beliau lupa sudah meminta belas kasih sama kami. Tentu permohonan kedua itu tidak kami respon.

Setelah berlalu, iseng aku mengutarakan analisisku pada teman-teman satu meja. Dalam waktu setengah jam, si ibu mengelilingi warung sepanjang pramuka, anggaplah ada lima warung makan dan setiap warung sekali jalan dapat lima ribu, jadi dalam waktu setengah jam penghasilannya sebesar dua puluh lima ribu. Belum lagi dalam setengah jam kedepan kembali pada rute rumah makan yang sama, keesokan harinya pun kembali dengan rutinitas yang sama, berapa banyak penghasilannya. Dan temanku sedikit tercengang saja denagn analisisku. Aku lanjutkan beranalisa, jika memang sang ibu sedang butuh uang, bukankah dia hanya cukup melakukan profesi itu sehari-dua hari dan kemudian menjadikan pendapatannya itu sebagai modal untuk bekerja yang lain? Dan pada kenyataannya, setiap kali kami makan di warung yang berbeda, kami menemui ibu yang sama dan dengan kostum bahkan jilbab yang sama. Dan dengan mimik wajah yang sama pula.

Cerita selanjutnya berlangsung ketika aku dan teman-teman makan siang di warung yang berbeda. Ada dua orang pengamen, yang satu membawa gitar dan yang satu vokalisnya sambil membawa bekas gelas air mineral. Jata teman sih itu duet pengamen yang suaranya paling bagus se-Pramuka. Setelah merka menyanyi, ya bolehlah aku akui kalau suaranya memang bagus dan cukup menghibur. Dan kemudian, dengan rokok mengepul di tangan, sang vokalis mengedarkan gelas meinuman itu ke penjuru warung makan yang lumayan besar. Mulanya, aku berniat memberi, sekedar mengapresiasi dan menghargai hiburan yang kunikmati, tapi batal ketika aku membayangkan uangku dan uang dari orang-orang itu akan dihabiskan untuk membeli rokok yang akan berubah menjadi asap dalam waktu sekejap, juga karena melihat badan-badan tegap mereka yang masih muda yang aku yakin mampu mengeluarkan tenaga untuk bekerja lebih baik dibandingkan hanya menjadikan mengamen sebagai profesi.

Analisisku kembali bermain. Mungkin secara pengahasilan analisisnya kurang lebih sama denagn analisis pertama. Mencoba berpositif thinking, namun aku tidak menemukan celahnya. Jika memang mereka tidak mampu bekerja karena lapangan kerja yang tidak ada, bukankah bisa menggunakan metode yang sama seperti yang aku pikirkan untuk sang ibu pengemis ya? Sehari-dua hari mengamen dan penghasilannya dijadikan modal usaha dan bekerja layak. Dan tentu saja kemudian berhenti mengamen.

Saya sempat mengutarakan gagasan sama teman, bagaimana jika saya membuat penelitian tentang gejala sosial ini. Skenarionya, saya duduk di suatu warung makan yang cukup ramai dan terkenal, kemudian duduk disana selama satu hari penuh dan mencatat berapa pengemis dan pengamen yang berada disana dan berapa kali orang yang sama kembali pada warung yang saya teliti. Kemudian mencoba mengkalkulasi berapa pendapatan mereka satu hari. Sepertinya keren untuk bahan skripsi. Tapi sayangnya saya dan teman-teman itu mahasiswa sains semua, ngga ada yang mahasiswa jurusan sosial.

Berbicara mengenai profesi, sebenarnya tidak semua pekerjaan bisa dikatakn sebagai profesi. Ada beberapa kriteria yang menjadikan pekerjaan tersebut menjadi profesi, diantaranya adalah pekerjaannya berupa pengabdian kepada masyarakat (selebihnya ngga dicatat sewaktu dosen menerangkan). Tapi cukup tergelitik juga sih ketika begitu banyak orang yang mengandalkan pekerjaan itu sebagai mata pencaharian mereka. Artinya, mungkin mereka hanya ingin berada dalam zona nyaman dengan pekerjaan ini yang notabene mendapatkan uang lumayan dengan cara cukup mudah. Padahal, dalam Al Qur’an sendiri diajarkan bahwa

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Q.S. Ar Ra’d:11]

Bahkan dijelaskan pula dalam hadist bahwa “ Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima).” [H.R. Bukhari].

Saya sebenarnya tidak melarang untuk bersedekah. Bahkan Allah SWT memberikan ganjaran yang besar bagi kita yang bersedekah.

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa [Q.S. Al Baqarah:276]

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [Q.S. An Nisaa':114]

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. [Q.S. Ibrahim:31]

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [Q.S. Al Baqarah:261]

Insya Allah ladang amal dan ladang sedekah sangat tebuka lebar. Kita dituntut lebih selektif untuk memilih mitra dalam kebaikan (maksudnya calon penerima sedekah kita) supaya kita dapat beribadah dan bersedekah yang membawa manfaat bagi diri kita sendiri dan bagi sekitar kita. Coretan ini hanya sebagai pemikiran dari diri saya pribadi untuk mencoba mendidik mereka dengan cara yang saya miliki. Hanya Ridho Allah SWT yang berusaha saya cari.

Wallahu a’lam bissawab.
Cmiiw
Samarinda, 120809







Ketika Berharap Berakhir Bahagia

Menulis cerita adalah salah satu hobbyku. Karena dengan menulis aku mampu mengekspresiakn dan mengimajinasikan segala jalur imajinasiku. Aku suka menulis cerita berupa karya sastra seperti puisi, cerpen, bahkan mungikin novel. Dengan menulis, aku mampu mengeluarkan beban yang bertengger di pundakku. Dengan menulis pula aku menyalurkan curahan hatiku.

Kalau menulis puisi, inspirasiku tak bertepi (ngutip slogan Annida). Terkadang apa yang ada di lintasan bisa mengalir saja ku tulis. Yang penting keindahan bahasa dan kesatuan makna. Aku terinspirasi dari gaya penulisan Chairil Anwar, yang berbeda dari zamannya dimana keterikatan oleh aturan gaya penulisan masih terasa. Tapi kalau diperhatikan, aku lebih suka puisi yang ber-rima sama di belakangnya, minimal satu bait sama.

Aku juga suka menulis cerpen. Dengan cerpen, ku butuh waktu dan konsentrasi cukup dan sedikit waktu yang lebih dibandingkan membuat puisi. Sebuah cerita, terkadang banyak sisi yang aku peroleh dari kehidupan sehari-hari. Imajinasi juga bisa datang dari segala penjuru sisi kehidupanku. Terkadang sesuatu yang kurang mendapatkan perhatian dari orang lain bahkan menjadi tokoh utama dalam khayalan ceritaku. Sembari meramu cerita fiksi, terkadang kuselipkan curahan hati. Aku bisa menumpahkan banyak curhat terselubung dalam cerpen, komposisinya ya tergantung suasana hati. Suatu saat kompisisi cerita nyatanya bisa melebihi 60 persen, terkadang hanya sedikit saja atau bisa tidak sama sekali.


Aku lebih menikmati menggunakan sudut pandang orang pertama dibandingkan orang ketiga. Soalnya lebih bebas curhat dengan gaya bahasa “aku”, seolah-olah aku berbicara tentang apa yang terjadi dalam diriku, padahal ngga semua sih. Menikmati alur dalam cerita sendiri itu mengasyikkan, terutama ketika mampu menyatu dalam sedih dan bahagianya sang tokoh utama. Berasa telah memberikan jiwa pada isi tulisan. Kalau sudah merasa menyatu begitu, aku tidak lagi memperdulikan perkataan orang yang mengejek tulisanku (tapi masih membuka telinga untuk mendengar pujian, kritikan, saran atau ejekan kok) ;)

Di akhir cerita, entah mengapa aku suka membuat ending sedikit menggantung atau berakhir sedih (sad ending). Karena aku memiliki pemikiran bahwa cerita pendek hanyalah potongan kecil dari gambaran fiksi kehidupan. Dimana sebuah potogan kecil cerita hidup, hanyalah sepenggal cerita. Dan terkadang cerita tidak selalu berakhir dengan indah. Dan because life always go on, maka cerita tersebut juga –dalam sepotong kisah itu, belum berakhir, always go on.

Namun terkadang, ketika akhir sebuah cerpen itu sedih, kebanyakan penonton kecewa ;) padahal cerita sedih itu banyak kita jumpai dalam kehidupan sekitar kita. Dan kehidupan nyata tidak selalu berkisah seperti cerita cinderella atau film-film bollywood. Dan terkadang, ketika cerita telah dibuat dan dirancang, akhirnya aku buat juga berbagai episode jadi cerita bersambung dan cerita yang berhappy ending. Kadang ngga tega juga kalau tokoh ceritanya menderita.

Ya, inilah sekelumit cerita dari balik dapur redaksi,… hehe,….


Kupu-kupu Merah [eps. 2 Kupu-Kupu Jingga]

bismillahirrahmanirrahim,.................



Aku memasuki sebuah ruko berlantai tiga. Dari luar, cat dinding berwarna orange membuat ruko ini terlihat segar, ditambah lampu-lampu hias yang menyemarakkan eksistensinya di tengah keramaian kawasan pertokoan. Di depan, terdapat plang lumayan besar bertuliskan “Ozzy, Rental Pengetikan & Warnet”. Disini tempat aku bekerja. Dan malam ini, aku diminta lembur mengerjakan ketikan skripsi orang yang besok pagi mau diambil.

“Assalamualaikum mba Sarah.” Sapaku kepada penjaga warnet yang mejanya berada di samping pintu. “Sudah makan belum? Nih aku bawakan nasi goreng.”

“Waalaikumsalam. Wah kebetulan dek, mbak belum makan nih. Thanks ya. Oya, motormu langsung dimasukkan garasi samping aja.” Jawabnya sumringah.

“Beres mba. Aku di atas atau di sini nih?”

“Dah sini aja. Mbak ngga kuat jaga warnet nih kalau lagi banyak kerjaan. Hehe ntar diajak chatting lupa sama ketikan.” Kata mba Sarah sembari berpindah posisi denganku. “Naik dulu ya.”

Mba Sarah mitra kerjaku. Biasanya sih kami kerja berempat sama bang Andri dan bang Riki. Berhubung malam ini kami yang lembur jadi bang Andri sama bang Riki ngga jaga. Di lantai dua tempat rental pengetikan dan di lantai satu warnet. Biasanya aku jaga di atas dan mba Sarah di bawah, tapi sesekali kami bertukar posisi juga biar ngga bosan.

Aku mulai menggerakkan jemariku mengetik skripsi yang panjangnya berlembar-lembar ketika aku mendengar suara yang cukup familiar bertanya padaku.

“Mba, ada yang kosong?”

Aku menoleh ke asal suara itu. Tiba-tiba saja aku terkejut. Dua orang gadis muda yang wajah dan suaranya tidak asing bagiku. Tentu saja aku terkejut dengan keberadaan mereka yang aku pikir tidak lazim pada jam-jam segini. Aku menoleh ke arah jam dinding, pukul 22.15.

Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut, mereka juga. Terlihat jelas dari rona wajah keduanya.


“Maaf ya, lagi penuh. Mungkin sebentar lagi ada yang kosong.” Jawabku sembari melontarkan senyuman kearah keduanya.

Terlihat kekecewaan yang begitu tampak dari wajah keduanya.

“Masya Allah bagaimana ini?” Kata ukhti berjilbab merah tua pada orang di sebelahnya.

“Kalau boleh tahu, ada apa ya? Mungkin ana bisa bantu.” Kataku pada mereka.

“Ukhti Ratna, anti kerja disini?” Tanya yang berjilbab biru muda padaku.

“Iya, setiap hari disini, tapi kebetulan malam ini lagi lembur ada ketikan. Ada apa ukhti?” Jawabku pada mereka.

Kemudian salah satu dari mereka menjelaskan padaku sembari tak lepas menunjukkan kekhawatiran pada wajah mereka.

“Insya Allah ana bisa bantu, dan kalau ngga keberatan, boleh minta password email kalian berdua? Biar nanti ana yang kirimkan.” Jawabku pada mereka sembari tersenyum hangat. Berusaha tulus, mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu di mushalla. Ya keduanya adalah aktivis mushalla yang kutemui dulu, ukhti Tias dan Silva.

Dan kemudian keduanya memelukku sembari berurai air mata. Pelan namun terdengar dengan jelas di telingaku sebuah permintaan maaf terlontar. Tulus. Entah ada hubungannya dengan kejadian dulu atau tidak. Apa aku mampu menolak permintaan tulus itu?

Sebelum aku menekuni kembali tugasku, aku mencoba menjalankan amanah dari kedua saudariku tersebut. aku diminta untuk mengirimkan file tugas yang menjadi nilai ujian bagi keduanya. Katanya sih paling lambat harus hari ini dikirimkan. Aku tidak berani berspekulasi mengapa mereka baru menyelesaikannya. Mungkin saja kesibukan mereka mempersiapkan penyambutan mahasiswa baru sehingga lupa dengan tugas kuliah. Alhamdulillah sudah terkirim dan kemudian aku diminta untuk mengeprint dan mengcopynya tiga rangkap dan menyerakhan pada mereka besok pagi. Senangnya aku bisa membantu mereka, semoga amal sholeh mereka menegakkan dakwah di kampus dapat pula kurasakan lagi suatu hari nanti, mengingat aku tidak mampu lagi merasakannya lagi.

Pukul 23.00 aku meneguk segelas kopi hangat mengusir rasa kantukku dan kembali dengan ketikanku yang masih berpuluh lembar banyaknya.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Pagi-pagi sekali aku pergi ke kampus, mengantarkan file tugas dari kedua sahabatku semalam. Setengah tujuh aku sudah stand by di mushalla, karena kami janjian bertemu disini. Sebenarnya aku masih sangat mengantuk sekali karena belum ada tidur sejak semalam. Setelah ini mungkin aku akan pulang dan tidur, tidak apalah absen sehari dari perkuliahan.

Malam ini aku juga berniat mencari mba Ratih. Entah aku akan mencarinya kemana. Karena aku tidak yakin apakah bisa bertemu dia di kostnya. Ataukah aku akan nekad mencarinya di tempat yang kata orang adalah lokasi dia bekerja? Bahkan akupun tidak tahu tempatnya dimana, lokasinya bagaimana, dan suasananya seperti apa. Aku takut untuk membayangkannya.

Bismillah, selepas isya aku mengendarai motorku menuju sebuah alamat. Suatu tempat yang lumayan familiar dikenal sebagai lokasi hitam di kotaku. Aku ragu, namun ku bulatkan tekadku. Aku harus menemui kakakku. Entah aku akan mampu membawanya pulang ataukah bagaimana nantinya, minimal aku sudah bisa mengembalikan uang biaya rumah sakit almarhumah ibu.

Rasa ragu kembali menyelimuti hatiku. Aku takut, apalagi denagn jilbabku yang lumayan besar ini dan kepergianku yang seorang diri. Sedari tadi kupacu motorku denagn perlahan, namun entah kekuatan dari mana yang membuatku semakin bertahan.

Akhirnya kuparkirkan motorku disini. Aku menangis tanpa suara di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Aku sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Bayangan akan suasana yang kuciptakan sendiri membuatku takut itu benar-benar terjadi. Aku terlarut dalam suasana yang aku sendiri tidak tahu seperti apa. Bayangan yang terbentuk dari imajinasiku mengenai tempat itu, dan, dan, dan aku tidak mampu melanjutkan perjalananku sendiri. Padahal lokasi itu sudah dekat denganku kini.

“Mau kemana mbak? Mau pesan apa?”

Suara ramah dari ibu-ibu setenagh baya pemilik warung kopi mengagetkanku. Aku mengusap airmata dan mencoba tersenyum ramah padanya.

“Minta teh hangat bu” Jawabku.

Tidak lama muncul pria paruh baya duduk tidak jauh dariku. Wajahnya yang tidak bersahabat membuatku semakin takut. Terlebih tatapan matanya yang seperti lupa akan dosa. Bicaranya yang jelas aku dengar membuatku semakin terpeosok ke dalam permainan pikiranku sendiri. Terburu-buru aku meninggalkan warung kopi itu. Semakin menjauh dan menjauh dari tempat itu. Sembari menangis tiada henti aku pacu motorku dengan kencang. Kuucap istighfar berulang kali. Astaghfirullahhal’adzim.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Aku terkejut bukan main ketika hendak membuka kunci rumah namun terbuka. Ada sedikit harapan menyelimuti ragaku yang sudah demikian payah hari ini. Ada asa yang menghujani pikiranku. Ada satu harapan bahwa mbak Ratih kembali pulang. Aku berlari menyisiri rumah, namun tidak ada tanda keberadaannya. Sampai kemudian aku mendengar suara air dan teriakan seseorang dari kamar mandi.

“Tidaaaaaaak,………!!!!!”

Secepatnya aku menghampiri dan membuka kamar mandi rumah kami. Kulihat disana, sesosok wanita bertubuh pucat, pakaiannya basah setelah disiramnya dengan air. Aku memeluknya, kakakku yang dari hati nuraniku sungguh sangat aku sayangi.

Ku halangi ia memukul perutnya yang terlihat sedikit membesar. Ku dekap ia penuh iba, ku usap rambut panjangnya sembari ku coba pulihkan kesadarannya.

Terngiang oleh pesan-pesan terakhir dari almarhumah ibunda padaku,

“Jagain Mbakmu ya Na. Ibu sudah ngga bisa jagain dia.”

Aku ingin menangis ketika menyadari bahwa kakakku telah membawa calon anggota baru pada kami. Namun rasanya airmataku tidak tersisa. Entah kekuatan apa yang menuntunku untuk membantunya bangkit, sembari ku bisikkan sesuatu padanya.

“Jangan kembali ke tempat itu lagi ya mba. biakan Nana yang menjaga mba disini. Nanti kalau anak ini sudah lahir, Nana bantu mba carikan ayah terbaik buat dia.”

Kini kupu-kupu jingga itu telah kembali. Meskipun sebagian sayapnya telah rusak, namun aku menerimanya kembali. Aku akan mengobatinya hingga ia mampu terbang lagi. Tidak lagi sebagai kupu-kupu malam yang hitam, namun terbang tinggi layaknya kupu-kupu yang indah, kupu-kupu merah.


10.8.09

Persyaratan Training

Persyaratan Intermediate Training
Pelajar Islam Indonesia (PII)
Kabupaten Paser
Tanah Grogot, 23-30 Agustus 2009


1. Telah lulus Basic Training minimal 6 (enam) bulan dan membawa surat mandat dari PD setempat
2. Bersedia aktif pada kepengurusan PD atau PW minimal 2 (dua) tahun
3. Bersedia melanjutkan ke jenjang training selanjutnya
4. Membayar Sumbangan Wajib Organisasi (SWO) sebesar Rp. 50.000,00/daerah dan Sumbangan Wajib Pribadi (SWP) sebesar Rp. 10.000,00/orang
5. Membawa Al Qur’an terjemah, peralatan tulis, peralatan sholat, perlengkapan pribadi, obat pribadi, berpakaian rapi dan bersepatu
6. Memiliki hapalan Al Qur’an minimal 50 ayat
7. Membuat makalah minimal 5 (lima) halaman (belum termasuk daftar isi, daftar pustaka, cover, dan kata pengantar), di ketik pada kertas berukuran A4, spasi1.5, Times New Roman 12, margin 4,4,3,3 dengan tema (pilih salah satu):
a. Strategi pembasisan PII di kalangan pelajar
b. Menggagas konsep dakwah sekolah melalui PII
c. Peran pelajar dalam dinamika Politik
d. Jilbab, antara budaya dan kewajiban seorang muslimah
e. Jihad dan terorisme
f. Pengaruh media terhadap perkembangan dakwah pelajar
8. Membuat resensi buku minimal 3 (tiga) halaman (belum termasuk cover) di ketik pada kertas berukuran A4, spasi1.5, Times New Roman 12, margin 4,4,3,3 dengan judul (pilih salah satu):
a. Dari Gerakan ke Negara : Anis Matta
b. Gerakan Pelajar Islam di Bawah Bayang-bayang Negara : Djayadi Hanan
c. Islam dan Pluralisme: Jalaludin Rakhmat
d. Jihad Sepanjang Zaman : Al-Izz Bin Abdussalam; Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
e. Laskar Pelangi : Andrea Hirata
f. Model Manusia Muslim Abad XXI : Anis Matta
g. My Potency : Endra K Prihadi
h. Orang Miskin Dilarang Sekolah : Eko Prasetyo
i. Psikologi Umum : Alex Sobur
j. Revolusi Jilbab
k. Yang Berguguran di Jalan Dakwah : Fathi Yakan
9. Membawa buku-buku ilmiah, pergerakan, kePIIan, sosial, sejarah, politik, komunikasi,psikologi, fiqih, manajemen, dll minimal 3 (tiga) buku/orang (diutamakan buku yang menjadi resensi)


NB: Untuk mendapatkan persyaratan advance training dan PID Kaltim, silahkan menghubungi sya_bilqis@yahoo.co.id





27.7.09

Menikmati liburan seru di Air Terjun


Sabtu kemarin, setelah beberapa bulan agenda ini diwacanakan, akhirnya terwujud juga, yakni jalan-jalan setelah Pekan Fisika. Rencana awal, jalan-jalan ini dimulai jam delapan pagi ngumpul di kampus. Berhubung aku musti ngurusin anak asuh alias adekku yang lagi ada sedikit problem sama teman sekelasnya, jadinya aku harus datang terlambat dan langsung meluncur ke TKP. Jam setengah sebelas baru aku pergi, dan untungnya ada teman juga yang pagi musti ngajar dulu, jadilah kami bergoncengan berdua pergi ke Air Terjun Tanah Merah.

Perjalanan kami berdua sempat terhambat sedikit karena rantai motorku lepas. Alhamdulillah, bapaak-bapak yang ada di belakang kami langsung nolongin betulin rantainya si Ranger Biru ku. Rasanya ucapan “terima kasih” tidak cukup untuk membalas kebaikan bapak itu \(*,*)/

Akibat insiden kecil ini, aku ragu-ragu juga memacu kendaraan terlalu cepat. Jadinya ga berani laju-laju, Cuma di kisaran 40 sampai 50an kilometer per jam saja. Padahal kalau normal bisa 60 sampai 70an. Lokasi air terjunnya di jalan raya Samarinda-Bontang. Kontur tanahnya bergunung-gunung dan berbelok-belok. Seperti jalanan Samarinda-Tenggarong, tapi jalanannya masih alami. Jadilah perjananan kami disuguhi pemandangan sawah-sawah dan pepohonan. Oh iya, itu kali pertama aku ke tanah merah bawa motor sendiri.

Sebenarnya aku tahu lokasinya, ngga jauh kok, mungkin 30 menit sampai. Patokannya pokoknya ada plang di kanan jalan. Sepanjang aku ngga menemukan plang, maka dalam pikiranku, kami belum akan sampai. Tapi, kok aku merasa perjalanan kami semakin jauh, dan situasi semakin sepi. Aku mulai curiga karena kami tidak juga menemukan plang yang dimaksudkan. Aku semakin curiga ketika aku melihat SMP dimana ayahku dulu sempat ngajar, di km 37 Samarinda-Bontang. Dan itu jauh, jaauh sekali dari lokasi air terjun! Aku suruh saja si Jannah turun tanya ibu-ibu di warung.

“Bu, mau nanya. Air terjun dimana bu ya?” Tanya Jannah
“Wah sudah lewat de. Jauh dai sini. Ini sudah perbatasan.”

Kami berdua kaget aja.

“Pokonya dekat pelebaran jalan, ada penggilingan padi disana.”

Wah, pelebaran jalan? Itu kan jauh banget. Akhirnya kami mutar. Dan benar saja. Jauh banget,… Seperti perjalanan pulang balik air terjun-kampus. Da sepanjang jalan kami tertawa aja sambil balap-balapan sama bus Damri Bontang. Takut nyasar lagi, kami jadi sering nanya orang di jalan. Dan yang terakhir, kami mau tanya sama bapak penjual pentolan. Dan belum sempat tanya, ternyata jalan kecil sebelah bapaknya itu ada plang yang tertutup pohon..! Itulah jalan menuju tempatya :wataw:



Alhamdulillah kami sampai, dan langsung makan. Laper euy dari pagi elum makan. Habis tu langsung diajak naik ke atas air terjun, aku ya menolaknya. Soalnya sakit perut ntar. Dari teman-teman yang sebelumnya sudah naik, aku dapat cerita kalau di atas mereka lihat orang pacaran. Wah kalau aku jadi mereka aku bakal gangguin sampai mereka risih sendiri…!! Enak saja berbuat tidak baik di tempat umum….!!!

Habis itu, aktivitasku banyak ku habiskan untuk bermain ayunan. Selain memang pengen, juga karena di ayunan itu ada orang pacaran berduaan. Kontan usilku kumat. Gangguin aja biar mereka tahu diri…!! Dan benar saja, ngga lama mereka pulang, bagus bagus. Di tempat lain juga ada orang bermesraan,…!! Aku lanjutkan saja,.. dekati mereka, buat mereka risih bermesraan,… haha ampuh lagi ;)

Serunya liburan kali ini. Meskipun ga ikut hiking ke atas air terjun, aku senang saja melihat tingkah polah teman-temanku yang seperti kemabli ke masa TK,. Main ayunan, kuda-kudaan. Alhamdulillah, meskipun sebentar, banyak kesan yang aku dapatkan.



Antara Belajar Masak dan Kehalalan Makanan


Banyak yang mengatakan bahwa perempuan itu musti bisa masak. Tidak harus sih, tapi memang suatu keniscayaan tersendiri bahwa perempuan itu memang dituntut bisa memasak. Mengapa memasak? Padahal banyak pekerjaan rumah lainnya yang harus dikuasai perempuan, tetapi untuk sebagian orang, memasak menjadi suatu prioritas. Soalnya memasak itu hubungannya dengan perut dan lidah. Perut yang merupakan representasi dari kebutuhan primer dan lidah yang berhubungan dengan selera. Kalau keduanya bisa terpenuhi tanpa terlambat, maka akan menumbuhkan semangat dan good feeling setiap hari :)

Saya juga sebenarnya bukan orang yang ahli memasak, tapi masih mencoba untuk menjadi chef pemula. Memasak itu asyik dan mengasyikkan kok. Apalagi kalau berhasil mempraktekkan resep orang atau bahkan mampu menciptakan resep masakan sendiri. Nikmatnya berlipat lho, meskipun terkadang mungkin hasil akhirnya kurang memuaskan.

Mengapa perempuan harus punya keahlian memasak? Karena dengan memasak kita dapat memenuhi kebutuhan pokok diri sendiri maupun keluarga, yakni makan. Selain itu dengan memasak kita juga bisa mengaplikasikan ayat berikut dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [Q.S. At Tahrim:6]

Lho kok bisa? Ya bisa. Dan itu merupakan tugas kita semua kan? Nah dengan pintar memasak, kita bisa mengontrol makanan-makanan yang kita suapkan ke dalam tubuh kita. Tentang kehalalannya, tentang kebaikannya, dan terhindar dari syubhat. Kalau kita tahu ilmunya, baik itu ilmu memasak, ilmu mengenai makanan yang halal dan thoyyib, maka kita Insya Allah telah melindungi diri sendiri dan keluarga dari makanan yang tidak halal untuk dikonsumsi. Ini ada kutipan hadits mengenai makanan yang tidak halal yang dimasukkan ke dalam tubuh kita.

“Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram, maka api neraka lebih utama baginya.” [H.R. Tirmidzi dari Ka’ab bin Ajazah r.a.]

Nah, dengan kita paham ilmunya (tidak hanya ditinjau dari ilmu syar’i tentunya, juga harus ilmu masaknya ya) maka kita sudah berusaha melindungi diri dan keluarga dari dahsyatnya api neraka.

Saya pernah menerangkan suatu hal pada teman, mengenai kehalalan makanan. Pandangan teman saya itu, makanan halal ya sebatas tidak mengandung babi. Dan ketika kami melewati salah satu restauran china, yang di bannernya menempelkan label halal, atau bahkan restauran Manado juga (dalam upaya wara’ nih) saya jelaskan saja, bahwa halal tidak hanya sebatas ada atau tidaknya kandungan babi dalam menu masakannya. Tapi, bagaimana proses membuatnya, apakah di restauran itu punya menu sajian haramnya juga atau tidak, kan panci dan peralatan masak lainnya mungkin saja bercampur. Kemudian, apakah daging lainnya di sembelih mereka sendiri atau oleh pemotongan hewan? Kan yang mulanya berlabel halal jadi syubhat deh, atau malah haram.

Ada juga nih tentang kue. Kalau kita bisa buat sendiri, dan berhati-hati dengan jenis bahan olahan kue, pastinya kita akan meneliti dulu sebelum membuatnya, minimal menyelidiki kehalalan bahan-bahan tersebut dengan melihat kode halal dari MUI yang ada pada kemasannya. Atau kalau mau lebih protect lagi, boleh juga mengecek kehalalannya dari daftar makanan dan minuman yang telah di sertifikasi MUI, bisa dicari lewat internet kok ;) Ya ini adalah upaya kita tentunya untuk melindungi dari api neraka bukan? :)

Pernah icip-icip puding di rumah makan, (ya karena dasarnya saya suka puding) tapi baru ngeh kalau rasanya agak beda. Dan juga ada kue yang di jual tapi pembuatnya ngga terlalu mempersoalkan kehalalannya. Waduh gawat kan kalau kita tidak perhatikan itu. Ya dari situlah kemudian saya giat untuk belajar masak, supaya bisa menjamin kehalalan dari makanan yang saya buat, minimal sebisa yang saya perbuat :)

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” [Q.S. An Nahl:114]

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini[397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. Al Maidah:3]


---------------------------------------------------

394]. Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145

[395]. Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.

[396]. Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.

[397]. Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

[398]. Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.



Puding Capuccino Yummy




Asssalamualaikum,.... chef nissa beraksi lagi,....
kali ini buat puding cappuccino.... aseli kreasi sendiri,..
ceritanya waktu itu lagi ngga ada kerjaan di rumah,.. ternyata di rumah ada agar-agar satu bungkus and serenteng coffemix,.. jadi dah inspirasi berjalan untuk buat nih puding,...
enak lho,... cocok buat yang suka bergadang malam :)
nih ekspresi ade waktu nyicipin,... matapsss,.... :D



1 bks agar-agar plain (mereknya swallow)
80 gr/2 sachet susu kental manis putih (mereknya frisian flag)
3 sachet coffemix (mereknya indocafe)
10 sdm gula pasir (mereknya sembarang) :D
½ sdm perasa makanan rasa mocca
¼ sdt garam
1 butir kuning telur
4 gelas air
Bahan-bahan:



Saus:

1 sachet susu kental manis putih (mereknya frisian flag)
1 ½ sdm tepung maizena
1 butir kuning telur
1 gelas air
¼ sdt garam
3 sdm gula pasir

Cara membuat:

Agar-agar:

Campurkan semua bahan dalam panci. Di aduk-aduk hingga semuanya tercampur rata. Setelah rata, nyalakan api dan didihkan adonan di atas api sedang sambil di aduk-aduk. Jika sudah mendidih, angkat lalu dinginkan. Setelah itu, masukkan ke dalam cetakan dan biarkan hingga mengeras.

Saus:

Campurkan susu, tepung maizena, gula, air dan garam dalam panci. Di aduk-aduk pada api yang sedang. Ambil satu sendok sayur adonan saus, ratakan dengan kuning telur, dan masukkan ke dalam adonan saus. Jika sudah mendidihm angkat lalu dinginkan. Sajikan di atas agar-agar.



26.7.09

My Trip, Traveling, dan Pengalaman Liburan Seruku


Aku suka travelling. Bukan sekedar jalan-jalan saja sih, jadinya pada saat aku pergi ke suatu tempat, sebenarnya bukan sedang liburan. Tapi ya sekalian lah,…. Hmmm,.. perjalanan travelling ku sudah menjelajahi beberapa kota nih, baik itu di Kalimantan Timur sendiri atau keliling Indonesia. Kebanyakan, perjalananku itu membawa misi kenegaraan (hehehe,…) tugas organisasi. Jadi ya ke tempat wisatanya ya masuk dalam agenda kegiatan, kalau ngga ada di agenda kegiatan ya cukup numpang foto aja di tempat itu he he he,…..

Pertama kali aku keluar kota itu waktu kecil, biasalah tradisi mudik alias pulang kampung. Waktu itu perjalanannya ke Surabaya ke tempat mbah dan asal muasalnya ayah, dan dilanjutkan ke Tegal, Peklongan, Brebes ke asal muasalnya ibu. Waktu itu masih kecil banget, jadi ngga ada kenangan yang masih menempel (kecuali waktu mandi di kali). Terus ke Surabaya lagi berdua dengan ayah waktu naik kelas dua SMP. Perjalanannya lumayan jauh soalnya naik kapal dari Banjarmasin, jadinya sempat menginjakkan kaki di Kalsel juga. Pengalaman ini sangat berharga sekali buat perjalanan travelingku selamjutnya lho,. Disimak sampai habis ya :p

Selanjutnya, aku pernah pergi ke Ambon, Maluku, untuk menghadiri Muktamar Nasional PII ke 25. Waktu itu mau naik kelas 3 SMA, kalau engga salah berangkatnya tanggal 28 Juni 2006. Waktu itu, masih hijau banget soal organisasi, jadinya belum terlalu memahami makna dan arti muktamar itu apa. Pada kegiatannya sendiri sih, aku kebanyakan menjadi penonton dan pengamat saja 8-) sesuai dengan statusku waktu itu jadi “peninjau” forever,. He he he…..

Oke aku ceritakan perjalanannya. Sebenarnya, aku baru bilang mau pergi itu dua hari sebelum kami benar-benar pergi. Jadi dadakan gitu, untung aja dibolehkan dan ngga ada hambatan, meskipun ortu sempat kaget juga,. Akhirnya kami pergi, tapi ke Makassar dulu transit di sana. Kami pergi naik kapal ke Makassar dan terombang-ambing di lautan sehari semalam. Sampai di Makassar, tinggalnya di kostan dekat Unhas, jadi tempat wisata tujuan kami ya Unhas itu :) hebat juga lho kami, sudah beberapa kali diajak berkeliling Universitas itu. Trus, kami pergi juga ke Ambon, kali ini naik pesawat. Alhamdulillah sampai dengan selamat disana. Satu minggu jalanin tugas kenegaraan, sampai juga di agenda jalan-jalan. Kami pergi ke pantai sana. Oh iya, yang berkesan itu makanannya. Makanannya lumayan asing dengan lidahku. Ada sagu, papeda, bener-bener lain dah pokoknya makanannya. Mungkin belum terbiasa kali ya, jadinya rada rewel juga ini lidah. Yang paling berkesan ya papeda. Bener-bener ngga terlupakan dah,.. :D

Pulang dari sana, mampir ke Makassar lagi. Nah baru ini bisa jalan-jalan. Ke Mall Ratu Indah, trus nikmati wisata kuliner disana juga. Yang berkesan itu ya makan sop konro, meskipun di Samarinda juga banyak yang jual, tapi kan keren juga bisa makan dari daerah asalnya sana. Tapi kok aneh ya, disana malah cari cotto makassar ga nemu :)

Perjalanan selanjutnya yang berkesan itu waktu ke Kabupaten Paser di Kaltim juga. Pertama kalinya ke sana, dan ngga pernah sama sekali menginjakkan kaki dan mendengar kabar apapun tentang daerah itu. Perginya pas awal bulan puasa 2006 juga. Bahkan, perginya cuma bertiga dan perempuan semua. Pergi dari Samarinda jam setengah empat, sampainya jam setengah dua malam. Sudah gitu sampai di lokasi acara malah buat kegaduhan sampai didatangin orang sekampung bawa parang ;) Waduh kacau dah waktu itu.

Rencananya, ke sana mau ikut Intermediate Training. Tapi ngga jadi karena kami kekurangan peserta. Akhirnya pulang deh beberapa hari berikutnya, soalnya dengar kabar ada kegiatan serupa di Kalsel, jadi cari info dari rumah (padahal sebenarnya alasan pulang itu karena masih takut dicariin warga :D).

Dan akhirnya kami jadi pergi ke Kalsel, minggu kedua puasa. Kejadiannya sama seperti sebelumnya, belum tahu lokasi dan hanya punya petunjuk dari telepon sama teman-teman disana. Dan pengalamanku naik bis ke Banjarmasin dulu lah yang jadi andalanku, soalnya kedua temanku belum pernah naik bus sama sekali.jadilah aku penuntun jalan lagi. Sesampainya di Banjarmasin, ternyata lokasi kegiatan bukan disitu, tapi di Marabahan, jauh lagi dai Banjarmasin. Dan kami pergi siang-siang pas puasa. Waktu itu digonceng sama mbak instrukturnya disana. Perjalanannya, mungkin seperti Samarinda-Tenggarong, tapi jalanannya lurus aja, ngga berliku-liku seperti di Tenggarong. Sepanjang mata memandang, banyak banget hutan gambut yang terbakar, sungguh memilukan :(. Kejadian yang diingat waktu training, pernah ada kabut asap yang tebal banget, padahal aku kan punya asma, jadinya terima materi pas training di salam kelas pakai slayer.

Disana, ngga sempat kemana-mana. Selesai acara, balik ke banjarmasin, langsung pesan tiket pulang. Kangen rumah euy, maklum ngga pernah ninggalin rumah selama itu waktu puasa. Dan benar saja, kami pulang lima hari sebelum lebaran. Jadi beli oleh-olehnya makana di bus aja, beli dodol kandangan yang banyak.

Habis itu kemana lagi ya…? Oh iya, pas tahun 2008, bulan Juli. Kami pergi ke Pontianak, menghadiri Muknas PII ke 26. Meskipun di peta itu Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur satu pulau, tapi ngga ada akses darat dari Samarinda ke Pontianak. Walhasil, kami pergi ke Surabaya dulu buat meneruskan perjalanan ke Kalbar. Perjalanan naik kapal, dua hari semalam. Sampai di sana sore. Langsung di drop ke sekretariat PII Jatim. Malamnya kami sempat jalan kaki lihat-lihat kota Surabaya. Sampai arut malam, kami sama sekali ngga bisa tidur. Oh iya, belum aku ceritakan, kalau kami besok subuhnya bareng sama teman-teman dari Jatim dan Jogja pergi lagi naik kapal menuju ke Pontianak. Tengah malam, rombongan dari jogja datang. Dan subuhnya, kami carter angkot menuju ke pelabuhan lagi.

Sesampainya disana, kekecewaan yang kami dapat. Kapal kami di delay. Katanya sih, siang baru berangkat, ternyata delay lagi, delay lagi sampai akhirnya malamnya baru berangkat. Jadi, aktivitasku seharina ngga jelas itu di pelabuhan, tidur dan melampiaskan rasa lelahku di sana. Eeh siang-siangnya ada dangdutan di sana sebagai hiburan :toe: Rupanya disana ketemu sama teman-teman dari Ambon. Sorenya, sudah bersiap-siap berebutan sama penumpang lainnya cari tempat ter pw di kapal. Ternyata eh ternyata, sudah naik, kapalnya dinyatakan ngga bisa berlayar.. jadilah kami jadi penumpang terlantar lagi di pelabuhan. Kira-kira malam jam sepuluh barulah bisa duduk tenang di atas kapal, itupun dapat tempat yang kurang nyaman, tapi okelah buat beristirahat, cukup save juga kiri-kanan. Yang jadi problem kalau lagi di kapal itu, apalagi kalau goyang-goyang, paslagi shalat, kadang berdiri aja mau jatuh, tapi itulah seninya. Pokoknya total perjalanan kami seminggu berada di atas laut dari Balikpapan ke Pontianak. Sampai-sampai ada teman yang mau shaum senin kamis, dikiranya hari kamis, padahal itu hari jumat :D

Pasca kegiatan muknas, sempat jalan-jalan sih di Pontianak, pergi ke tugu nol derajat trus beli oleh-oleh manisan dan dodol lidah buaya. Pulangnya kami lagi-lagi naik kapal. Tapi kali ini agak rame juga, soalnya bareng sama teman-teman dari Jakarta dan beberapa dari Sumatera. Trus menginjakkan kaki di Jakarta deh beberapa hari. Sampai di Jakarta juga ga sempat kemana-mana, cuma main ke Monas, itupun jalan kaki aja. Oh iya, mampir ke Kwitang sebelum digusur, cari buku-buku bajakan, he he. Dan alhamdulillah, pulang ke Kaltim nya naik pesawat, akhirnya :D

Beberapa bulan selang dari muknas, kembali traveling lagi ke Jakarta. Bedanya, kali ini pergi alone, sendiri. Sudah sendirian, dibawain bekal buku satu koper lagi, beneran buku semua tugh yang dibawa, baju malah sedikit. Meskipun sebelumnya sudah pernah kesana, tapi kan kondisinya beda. Sendiri dan cuma dituntun arah pakai hape. Waktu itu ada kegiatan Advance Training, training ketiga setelah Intra. Jadi dah, sewaktu sampai di bandara dituntun suruh naik Damri, padahal bingung tuh yang mana Damri, untung aja ada di sana (ya iyalah wong mangkalnya emang disana) disuruh turun di Gambir, trus ntar dijemput di sana. Ya udah deh, padahal wajah sang penjemput juga ngga tahu, mengandalkan feeling aja,. Alhamdulillah ketemu, katanya udah keliatan banget kalo mau ikut advan ciri-cirinya kelihatan dari jauh,. :)

Waktu itu lagi puasa, dan ternyata, puasaku hari itubertambah satu jam lho,… Sahurnya ngikut waktu Samarinda, bukanya ngikut waktu Jakarta. Begitu buka puasa langsung deh digiring ke Karawang, soalnya lokasi training disana dan ternayta jam sepuluh baru sampai, padahal belum nemu nasi tuh. Jadi dah malam-malam cari makanan di depan Islamic Centernya sana. Selam adi karawang juga ga sempat kemana-mana, cuma sempat ke mall nya sebentar, itupun ngikut teman yang cari ATM. Ternyata pulangnya ada insiden, ketemu preman yang lagi malak orang di dalam bis, dan orang yang di palak itu tepat di belakang kursiku. Duh jantungan dah, serasa mau teriak aja ngalaminnya.

Selesai training, kembali ke Jakarta. Dan perjalanan baru akhirnya ditempuh lagi. Gara-gara diajakin sama teman yang dari Jatim sama Jateng buat pulang kampung sebentar, yaah tergoda juga. Setelah telpon orang rumah, akhirnya direstui buat pulang ke rumah pak dhe di Surabaya. Jadilah besoknya kami ke Senen beli tiket ke Surabaya. Habis dari senen, mampir ke Monas lagi, tapi kali ini masuk and naik ke atas. Sempat foto-foto juga disana ;). Padahal jam satu kereta kami berangkat. Kami naik kereta kelas ekonomi, Cuma 36 ribu sampai ke Surabaya, wah aku heran. Tapi pang, berdesak-desakan, banyak orang jualan dan pengamen full nonstop. Keren dah pokoknya, journey tak terlupakan :D

Hmmm,…. Sebenarnya banyak tempat lagi yang ingin aku kunjungi. Yang pengen banget itu pergi ke Sumatera, Sumatera mana aja lah, pokoknya keren aja kalau bisa menginjakkan kaki ke Sumatera. Aku juga pengen naik motor melewati jembatan Suramadu,.. Hmmmm kapan ya,…?,,. Semoga kesampaian deh ;)


24.7.09

Prahara Usia 19


Prahara usia 19

Usiaku satu semester yang salu sembilan belas tahun. Sebuah usia yang sangat krusial bagi kehidupanku. Beberapa hari yang lalu aku mencoba mereview apa saja yang telah terjadi selama enam bulan aku menjabat sebagai seorang gadis berusia sembilan belas tahun.

Beberapa orang menganggap bahwa usia berkepala satu, adalah usia dimana nafas remaja masih sangat kencang berhembus pada egonya, pada tingkat kedewasaannya. Ya memang, banyak orang menganggap bahwa usia sembilan belas adalah usia remaja, dimana pada usia segini, masih dianggap dewasa yang dipaksakan dan anak kecil berbaju orang besar. Artinya? Terlalu kekanak-kanakan untuk dianggap orang dewasa, namun sudah tidak pantas lagi untuk dikatakan anak-anak.

Sedangkan aku? Aku menganggap diriku bukan anak-anak lagi, bukan remaja. Tapi masih terlalu dini untuk menganggapku orang dewasa. Kamu ingat cuplikan lagu Britney Spears? “I’m not a girl, not yet a woman”. Yeah that is me. Tapi jujurlah aku katakan, bahwa aku sudah bisa dikatakan dewasa ketimbang teman-teman seumuranku. Bukannya geer atau apa ya, tapi coba kamu bandingkan, diantara teman satu kelas, meskipun aku bukan yang paling muda, tapi akulah yang punya pandangan dan pemikiran lebih dewasa dibanding yang lainnya. Lihat saja temanku, ada yang usianya dua tahun di atasku, tapi pemikirannya masih kanak-kanak, belum mampu diajak berpikir dan membicarakan masalah orang dewasa. Bandingkan saja aku dengan kakak perempuanku. Aku bisa jamin aku lebih dewasa dari dia. Sewaktu sepupuku yang seumuran denganku itu melahirkan, aku sungguh ngga rela. Bayangkan saja, aku lebih siap menjadi ibu dibandingkan dia.


Heiiii,… aku tidak sedang mendongeng ataupun berbicara bohong denganmu,.. ini serius. Tapi,.. kenapa semua orang menganggapku anak kecil? Aku bukan anak kecil, aku juga bukan ABG. Aku ingin dihargai sebagai orang dewasa. Aku benci dengan mereka yang menganggapku anak kecil. Aku jadi ingat beberapa bulan yang lalu sewaktu diwawancarai kapan target menikah (aneh ya ada wawancara ditanya begituan?). kalau aku mau bicara jujur, sebenarnya targetku menikah itu ya di usia sembilan belas tahun ini. Tapi berhubung aku tahu yang mewawancaraiku ini belum menikah, dan mungkin sedikit heran juga dia kalau aku jujur, maka keluarlah angka dua puluh dua, angka karangan yang baru saat itu juga kepikiran olehku.

Oh iya, aku perlu juga menegaskan disini. Bahwa sebenarnya, bukanlah dengan menikah saja yang bisa menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Dan bukan karena alasan ini aku mau dianggap sebagai orang dewasa. Case closed ya soal ini. Aku khawatir ini akan membekas di otakmu tentang diriku, meskipun pembicaraanku nanti tidak akan jauh dari ini. Tapi bukan itu tujuanku.

Kenapa aku jadi curhat ini sama kamu? Karena aku lagi sebel sama orang rumah. Aku sebel sama kakakku. Aku ngga suka diperlakukan seperti ini. Bayangkan, aku tidak dilibatkan sama sekali dalam rencana pernikahan kakakku. Sama sekali ngga dianggap kata-kataku, bahkan aku di suruh masuk kamar dan tidur..!! Aku ngga suka, beneran…! Aku pengen terlibat pembicaraan, menularkan sedikit ilmu yang kumiliki (bukan sedikit sih, tapi banyak, setidaknya lebih banyak dai ilmu yang dimiliki kakakku itu) tentang tata cara pernikahan, tapi apa? Keluargaku itu menganggap aku masih kecil, anak bau kencur. Hupppf,.. aku donkol bin jengkol nih sekarang.

Di bawah, tuh masih terdengar pembicaraan mereka. Mau pakai band buat hiburan? What….? Pakai acara dangdutan segala?. Aihhh, benar-benar dah. Coba ada aku di bawah, aku pasti sudah mendebat mereka dengan ilmu bersilat lidahku yang lihai. Ahh kakakku sama aja. Waktu aku jelasin baik-baik kemarin, gak perlu pakai hiburan, gak perlu dandan heboh-heboh, gak perlu sewa gedung, dia bilang apa?

“Dasar anak kecil, kamu itu gak tahu apa-apa. Lagian aku asik-asik aja, mau pake band, mau dangdutan, lebih rame kan lebih bagus.”

Uuuwhhh aku mendidih dengarnya. Hei, padahal aku bicaranya sudah baik, sudah bil hikmah, wal mau‘idzatil hasanah. Ngga kayak gaya curhatanku kali ini lho, beneran. Waktu aku nasehatin, belikan buku-buku tentang pernikahan, mendidik anak sholeh, ehhhhh disemprot lagi dah,..

“Anak kecil kok bacaannya begini.”

Akhirnya aku juga yang baca semua buku itu.

Kenapa sih aku diperlakukan kayak anak kecil begini? Aku sebel lho,.. padahal kakakku itu yang lebih kekanakkan dibandingkan aku. Padahal, kakakku itu yang paling manja gak ketulungan. Padahal, aku cuma pengen dihargai eksistensiku aja. Aku ingin pendapatku diterima, aku ingin suaraku di dengar. Itu saja. Aku ingin menularkan ilmu yang agak dini aku terima ini sama kakakku. Aku ingin menjadikan rumahku ini baiti jannati,… apa caraku yang salah? Nggak kok, sudah baik aku menyampaikannya. Tapi tetap saja. Anak yang usianya berkepala satu belum bisa dipertimbangkan pendapatnya di keluargaku. Apa harus menunggu enam bulan lagi baru suaraku didengar? Duh lama amat, sementara nikahannya kakakku itu udah bulan depan.

Nasehati aku ya kawan,……….



Wassalamualaikum.
Amanda.


Dan klik. Manda mnggeserkan kursor ke arah send dan di kliknya. Dia mengatur napasnya yang sedari tedi menggebu. Juga menahan teriakannya yang sedari tadi ingin di keluarkannya.

Di bawah, masih terdengar jelas pembicaraan orangtuanya, dan pembicaraan calon orangtua kakakknya. Manda gemes pengen ikut duduk berunding. Namun, Erina kakaknya menghadang ketika ia akan memasuki ruang tamu.

“Ngga boleh ikut ya sayang, sana cuci muka gosok gigi tidur.”

Dan kemudian Manda cuma bisa menggerutu di depan komputer dan mulai mengkoneksikan jaringan internet dan mengirim email ke sahabatnya yang berapa ribuan kilometer darinya.

Ngga lama, handphonenya berdering, tanda sms masuk. Segera di buka isinya dan dibacanya.

“inet lola ni. Smsn aj y. Jiah jdulx, kirain prahara paan. Aku kok jadi takut km trmasuk org yg wajib nikah y, Man.”

Sembari mematikan komputernya dan merebahkan diri ke kasur, Manda mengetik balasan sms ke Risma, sahabatnya yang kuliah di luar kota.

“eh, yg mo nikah kk prempuan q, bkn aku lho yaw.”

“hehe bcanda. Hbis curhatanmu berat euy temanya. Ntar ku bahas ama mba kostku dulu yach. Gbs jwbnya euy. Aku kan masi kecil :p ”

“gak sopaaannnnn…!!! Buruan, dah mendidih nih. Klo skrg siang aja, dah naek gunung nih ngeluarin uneg2”

“dsar anggun… ank gunung wkwkkkkk…….”













20.7.09

Puding coklat yummy


Assalamualaikum,… jumpa lagi sama chef pemula,… ;)

Kali ini masakan yang saya buat yaitu puding coklat yummy…. Sebenarnya sih ini resep standar puding coklat yang bisa di search di google.. tapi di modifikasi dari beberapa resep,.. jadi deh puding cokelat yang yummy ini,….

Bahan-bahan:
1 bungkus agar-agar swallow cokelat
½ bungkus cocoa powder yang 45 gram
1 kaleng susu kental manis cokelat
4 sdm gula pasir

1 butir kuning telur
3 ½ gelas air
¼ sdt garam

Cara membuat :
Campurkan semua bahan dalam panci. Di aduk-aduk hingga semuanya tercampur rata. Setelah rata, nyalakan api dan didihkan adonan di atas api sedang sambil di aduk-aduk. Jika sudah mendidih, angkat lalu dinginkan. Setelah itu, masukkan ke dalam cetakan dan biarkan hingga mengeras.