10.7.09

Selalu Ada Hikmahnya




“Minum Rian”. Katanya sembari memberikan air mineral itu dan mengusap punggungnya.

Sementara Rian, membalas dengan senyum pucat dari wajahnya. Segera saja dia guyurkan air itu ke wajahnya, kemudian berjongkok dan meminumnya sedikit. Tak lama, cairan itu keluar lagi meskipun tak sebanyak sebelumnya.

Lima menit. Sepuluh menit. Dan pada menit yang ke lima belas, Rian bangkit dan menuju motornya yang terparkir anggun di dekatnya.

“Hey mau kemana?”. Tanya Mela di sebelahnya.

“Ke kampus”. Jawabnya lemah, kemudian melirik ke arloji silver di tangan kirinya. “Kita sudah terlambat 13 menit”. Dan kemudian, “Hoekkkksss…”. Rian kembali menuju pinggir selokan.

“Udah gak usah kemana-mana sini aja”. Kembali Mela mengelus punggung sahabatnya.

Dengan sisa-sisa kekuatannya dia menjawab pernyataan sahabatnya.

“Ga bisa, sudah bolos tiga kali. Kalo ini ga turun, ngga bakal bisa ujian”.

“Tapi ngga bisa Rian, kamu aja masih begini”.

Sebenarnya dalam keadaan normal, Rian bisa saja memberikan sejuta argumentasi maupun opininya agar Mela menuruti perkataannya. Tapi kan kondisinya beda. Rian juga sadar kalau dia kali ini ngga bisa bawa badannya sendiri, apalagi bawa motor beserta tumpangannya yang imut itu.

“Tapi kalau kita paksain masuk kan ngga bisa juga, kita udah telat nih”.

“Ibunya kan kooperatif, datang jam berapapun ngga masalah, yang penting absen jujur, ngga nitip”.

“Tetap aja ngga bisa. Atau…”. Mela menarik kunci motor yang dibawa Rian pada tangan kirinya. “Ijinkan aku jadi penyelamatmu hari ini oke”

“Tapi Mel,…”

“Naik atau terancam ga bisa ujian?”. Ancam Mela, dan dia tersenyum. Akhirnya bisa menang berdebat dengan Rian.

Rian ngga bisa berpikir jernih. Kepalanya masih nyut-nyutan, dan semakin parah karena dia memikirkan kalau ternyata tidak bisa ujian beneran. Duh, menyesal juga dia mengambil jatah libur terlalu banyak, meskipun sebenarnya untuk alasan yang bisa dimaklumi sebagian kecil orang. Pertama sakit, kedua ada aksi, ketiga ada syuting alias syuro penting.

“Hayuk ibu Rianda Puspa Dewi, kau harus percaya dengan kemampuanku naik motor”.

“Bismillahirrahmanirrahim, jangan takut ya Rian, jangan banyak bergerak”. Kembali Mela mengomandoi.

Dan brumm,…. Motorpun melaju pelan. Benar-benar pelan untuk seukuran Rian. Sepanjang perjalanan Mela tidak henti-hentinya berbicara. Kepala Rian yang sakit, ditambah khawatir akan keselamatan dirinya, sahabatnya, dan motornya, dan juga ancaman ga bisa ujian terus menghantuinya. Jadi wajar saja dia protes gara-gara suara berisik sang pengendara.

“Fokus kedepan, jangan banyak ngobrol, kepalaku pusing nih”. Omel Rian.

“Waduh Rian, kalo aku ngga diajak ngobrol bisa grogi nih. Maklum pertama kali ngebonceng duduk samping begitu”.

“What?”. Sontak Rian tersentak dan membuat motor sedikit bergoyang.

“Sudah dibilang jangan banyak gerak…..”

Dan Rian hanya bisa tertunduk lesu sembari mencium minyak kayu putih yang sedari tadi di genggamnya. ‘Begini ya rasanya jadi penumpang, biasa jadi joki sih’. Gumamnya.

“Rian, ngobrol lagi. Kenapa sih kamu kok bisa muntah-muntah begitu? Habis makan duren ya? Atau habis begadang? Atau…..”. Celoteh Mela.

Rian hanya tersenyum tak mampu menjawab. Mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi dari semalam. Tetangganya baru datang dari Kutai Barat, dan bawa duren sekarung. Benar-benar sekarung. Malam sebelum tidur, dimakanlah dua buah sendirian. Pukul 3 malam, bangun lail lanjut nonton bola sampai subuh. Shalat, setelah itu ingat cucian belum dicuci. Setelah puas main air, buat sarapan pagi. Dan rupanya, si Hitam manis ini lupa belum mengerjakan PR Fismat. Sambil sarapan, Rian tergoda lagi sama bau duren yang sedari tadi malam menghiasi dapurnya.

Kalau tidak ditelepon Mela mungkin Rian ngga sadar kalau sudah nyaris hampir akan telat. Dan waktu tempuh rumah ke kampus yang biasanya setengah jam dipangkas jadi lima belas menit. Dan akhirnya di tengah jalan terjadilah kejadian mual tadi.

“Rian, Rian. Ngga usah cerita aku juga bisa nebak kok. Haha. Dengarkan ya. Hikmah pertama hari ini adalah,,……

Jangan pernah meremehkan kemampuan orang lain. Terbukti kan aku bisa naik motor dan gonceng kamu. Pengalaman pertama nih, hehehe…..

Hikmah nomor dua, jangan menyukai sesuatu secara berlebihan. Ngaku deh, habis makan duren kan? Kamu tuh sih kalau cium bau duren kayak orang kesurupan aja makannya,.

Hikmah nomor tiga,… Sabar ya bu…. Kalau naik motornya sabar, sampai juga kok ngga perlu ngebut.”

Dan memang benar saja, mereka sudah dekat dengan kawasan kampus.

“Hikmah nomor empat, berkendaralah yang sopan selama di jalan. Taati peraturan lalu lintas, kalau mau belok pasang rating, kalau mau jalan pakai helm standar yang baik dan benar”.

Rian panas juga nih dinasehatin yang terakhir ini. ‘Hei Mela, kejadian ini ngga ada hubungannya dengan pelanggaran lalu lintas, kecuali kalau ngebut di jalan itu termasuk pelanggaran, hehe’.

“Ngga punya SIM itu termasuk melanggar lalu lintas lho Mel”. Kata Rian pelan.

“Oh iya ya,.. Hahaha anggap aja itu ngga termasuk”. Jawab Mela renyah, sadar ngga punya SIM saolnya dia.

“Lanjut ah. Hikmah nomor lima, aturlah Rian waktumu itu yang baik. Senangnya ngerjakan sesuatu mepet-mepet. Kalau ada kejadian unpredictable gini kan bisa di antisipasi. Minimal berangkat ke kampus itu 45 menit sebelum kuliah. Terus, kalau ada tugas selesaikan cepat, ga usah tunggu besok. Oke? Mumpung Bu Rianda ngga bisa banyak ngomong sekarang, gantian Mela yang imut ini bicara ya Bu,… hahaha”.

Mereka sudah memasuki kawasan kampus. Dan kemudian keduanya terpaku melihat kelas mereka yang sangat lengang.

“Sebelum bilang hikmah nomor enam, aku mau tanya nih. Kok kampus sepi?”. Tanya Mela gugup.

“Ngga tahu”.

“Ini tanggal merah bukan?”.

“Ngga tahu”.

“Rian, hari ini libur bukan?”. Suara Mela meninggi.

“Ngga tahu. Aduh Mel kepalaku tambah sakit…!”.

“Kepalaku juga.”

Dan hikmah nomor enamnya. Lihat kalender sebelum pergi kuliah…!! Aduh hari libur apa sih hari ini......?”.. Kata Mela setengah berteriak.

“Hikmah nomor enam itu, alhamdulilah hari ini ngga bolos atau terlambat masuk kuliah”. Jawab Rian dengan senyum pucatnya.

Selalu ada hikmah kok di balik setiap kejadian, 








Samarinda, 7 juli 2009



Tiba-tiba saja, motor yang dikendarai dua orang gadis itu mendadak berjalan pelan. Setelah sebelumnya menari-nari di jalan raya denagn kecepatan di atas 60 km per jam, menerobos truk yang sedang melaju dan selamat melewati lubang besar yang menganga di pinggir jalan, mendadak motor itu mengurangi kecepatannya secara drastis, menepi, dan berhenti. Sang pengendara langsung saja melepas helmnya dan berdiri ke tepi selokan, menepiskan jilbabnya yang terjuntai panjang dan mengeluarkan cairan yang sedari tadi mengguncang perutnya.

Sementara Mela, gadis mungil yang sedari tadi terguncang juga dibawa kebut-kebutan oleh pemilik motor, terlihat begitu panik, terlebih ketika mendengar suara-suara yang berasal dari muntahan Rian, sahabatnya. Tak lama dia pergi, dan kembali dengan sebotol air mineral.

Selalu Ada Hikmahnya




“Minum Rian”. Katanya sembari memberikan air mineral itu dan mengusap punggungnya.

Sementara Rian, membalas dengan senyum pucat dari wajahnya. Segera saja dia guyurkan air itu ke wajahnya, kemudian berjongkok dan meminumnya sedikit. Tak lama, cairan itu keluar lagi meskipun tak sebanyak sebelumnya.

Lima menit. Sepuluh menit. Dan pada menit yang ke lima belas, Rian bangkit dan menuju motornya yang terparkir anggun di dekatnya.

“Hey mau kemana?”. Tanya Mela di sebelahnya.

“Ke kampus”. Jawabnya lemah, kemudian melirik ke arloji silver di tangan kirinya. “Kita sudah terlambat 13 menit”. Dan kemudian, “Hoekkkksss…”. Rian kembali menuju pinggir selokan.

“Udah gak usah kemana-mana sini aja”. Kembali Mela mengelus punggung sahabatnya.

Dengan sisa-sisa kekuatannya dia menjawab pernyataan sahabatnya.

“Ga bisa, sudah bolos tiga kali. Kalo ini ga turun, ngga bakal bisa ujian”.

“Tapi ngga bisa Rian, kamu aja masih begini”.

Sebenarnya dalam keadaan normal, Rian bisa saja memberikan sejuta argumentasi maupun opininya agar Mela menuruti perkataannya. Tapi kan kondisinya beda. Rian juga sadar kalau dia kali ini ngga bisa bawa badannya sendiri, apalagi bawa motor beserta tumpangannya yang imut itu.

“Tapi kalau kita paksain masuk kan ngga bisa juga, kita udah telat nih”.

“Ibunya kan kooperatif, datang jam berapapun ngga masalah, yang penting absen jujur, ngga nitip”.

“Tetap aja ngga bisa. Atau…”. Mela menarik kunci motor yang dibawa Rian pada tangan kirinya. “Ijinkan aku jadi penyelamatmu hari ini oke”

“Tapi Mel,…”

“Naik atau terancam ga bisa ujian?”. Ancam Mela, dan dia tersenyum. Akhirnya bisa menang berdebat dengan Rian.

Rian ngga bisa berpikir jernih. Kepalanya masih nyut-nyutan, dan semakin parah karena dia memikirkan kalau ternyata tidak bisa ujian beneran. Duh, menyesal juga dia mengambil jatah libur terlalu banyak, meskipun sebenarnya untuk alasan yang bisa dimaklumi sebagian kecil orang. Pertama sakit, kedua ada aksi, ketiga ada syuting alias syuro penting.

“Hayuk ibu Rianda Puspa Dewi, kau harus percaya dengan kemampuanku naik motor”.

“Bismillahirrahmanirrahim, jangan takut ya Rian, jangan banyak bergerak”. Kembali Mela mengomandoi.

Dan brumm,…. Motorpun melaju pelan. Benar-benar pelan untuk seukuran Rian. Sepanjang perjalanan Mela tidak henti-hentinya berbicara. Kepala Rian yang sakit, ditambah khawatir akan keselamatan dirinya, sahabatnya, dan motornya, dan juga ancaman ga bisa ujian terus menghantuinya. Jadi wajar saja dia protes gara-gara suara berisik sang pengendara.

“Fokus kedepan, jangan banyak ngobrol, kepalaku pusing nih”. Omel Rian.

“Waduh Rian, kalo aku ngga diajak ngobrol bisa grogi nih. Maklum pertama kali ngebonceng duduk samping begitu”.

“What?”. Sontak Rian tersentak dan membuat motor sedikit bergoyang.

“Sudah dibilang jangan banyak gerak…..”

Dan Rian hanya bisa tertunduk lesu sembari mencium minyak kayu putih yang sedari tadi di genggamnya. ‘Begini ya rasanya jadi penumpang, biasa jadi joki sih’. Gumamnya.

“Rian, ngobrol lagi. Kenapa sih kamu kok bisa muntah-muntah begitu? Habis makan duren ya? Atau habis begadang? Atau…..”. Celoteh Mela.

Rian hanya tersenyum tak mampu menjawab. Mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi dari semalam. Tetangganya baru datang dari Kutai Barat, dan bawa duren sekarung. Benar-benar sekarung. Malam sebelum tidur, dimakanlah dua buah sendirian. Pukul 3 malam, bangun lail lanjut nonton bola sampai subuh. Shalat, setelah itu ingat cucian belum dicuci. Setelah puas main air, buat sarapan pagi. Dan rupanya, si Hitam manis ini lupa belum mengerjakan PR Fismat. Sambil sarapan, Rian tergoda lagi sama bau duren yang sedari tadi malam menghiasi dapurnya.

Kalau tidak ditelepon Mela mungkin Rian ngga sadar kalau sudah nyaris hampir akan telat. Dan waktu tempuh rumah ke kampus yang biasanya setengah jam dipangkas jadi lima belas menit. Dan akhirnya di tengah jalan terjadilah kejadian mual tadi.

“Rian, Rian. Ngga usah cerita aku juga bisa nebak kok. Haha. Dengarkan ya. Hikmah pertama hari ini adalah,,……

Jangan pernah meremehkan kemampuan orang lain. Terbukti kan aku bisa naik motor dan gonceng kamu. Pengalaman pertama nih, hehehe…..

Hikmah nomor dua, jangan menyukai sesuatu secara berlebihan. Ngaku deh, habis makan duren kan? Kamu tuh sih kalau cium bau duren kayak orang kesurupan aja makannya,.

Hikmah nomor tiga,… Sabar ya bu…. Kalau naik motornya sabar, sampai juga kok ngga perlu ngebut.”

Dan memang benar saja, mereka sudah dekat dengan kawasan kampus.

“Hikmah nomor empat, berkendaralah yang sopan selama di jalan. Taati peraturan lalu lintas, kalau mau belok pasang rating, kalau mau jalan pakai helm standar yang baik dan benar”.

Rian panas juga nih dinasehatin yang terakhir ini. ‘Hei Mela, kejadian ini ngga ada hubungannya dengan pelanggaran lalu lintas, kecuali kalau ngebut di jalan itu termasuk pelanggaran, hehe’.

“Ngga punya SIM itu termasuk melanggar lalu lintas lho Mel”. Kata Rian pelan.

“Oh iya ya,.. Hahaha anggap aja itu ngga termasuk”. Jawab Mela renyah, sadar ngga punya SIM saolnya dia.

“Lanjut ah. Hikmah nomor lima, aturlah Rian waktumu itu yang baik. Senangnya ngerjakan sesuatu mepet-mepet. Kalau ada kejadian unpredictable gini kan bisa di antisipasi. Minimal berangkat ke kampus itu 45 menit sebelum kuliah. Terus, kalau ada tugas selesaikan cepat, ga usah tunggu besok. Oke? Mumpung Bu Rianda ngga bisa banyak ngomong sekarang, gantian Mela yang imut ini bicara ya Bu,… hahaha”.

Mereka sudah memasuki kawasan kampus. Dan kemudian keduanya terpaku melihat kelas mereka yang sangat lengang.

“Sebelum bilang hikmah nomor enam, aku mau tanya nih. Kok kampus sepi?”. Tanya Mela gugup.

“Ngga tahu”.

“Ini tanggal merah bukan?”.

“Ngga tahu”.

“Rian, hari ini libur bukan?”. Suara Mela meninggi.

“Ngga tahu. Aduh Mel kepalaku tambah sakit…!”.

“Kepalaku juga.”

Dan hikmah nomor enamnya. Lihat kalender sebelum pergi kuliah…!! Aduh hari libur apa sih hari ini......?”.. Kata Mela setengah berteriak.

“Hikmah nomor enam itu, alhamdulilah hari ini ngga bolos atau terlambat masuk kuliah”. Jawab Rian dengan senyum pucatnya.

Selalu ada hikmah kok di balik setiap kejadian, 








Samarinda, 7 juli 2009



Tiba-tiba saja, motor yang dikendarai dua orang gadis itu mendadak berjalan pelan. Setelah sebelumnya menari-nari di jalan raya denagn kecepatan di atas 60 km per jam, menerobos truk yang sedang melaju dan selamat melewati lubang besar yang menganga di pinggir jalan, mendadak motor itu mengurangi kecepatannya secara drastis, menepi, dan berhenti. Sang pengendara langsung saja melepas helmnya dan berdiri ke tepi selokan, menepiskan jilbabnya yang terjuntai panjang dan mengeluarkan cairan yang sedari tadi mengguncang perutnya.

Sementara Mela, gadis mungil yang sedari tadi terguncang juga dibawa kebut-kebutan oleh pemilik motor, terlihat begitu panik, terlebih ketika mendengar suara-suara yang berasal dari muntahan Rian, sahabatnya. Tak lama dia pergi, dan kembali dengan sebotol air mineral.

Ikhlaskan Kakakmu ya Nad,....





“Hehe. Maaf de. Soalnya kakak juga lagi sibuk. Masuk malam ini. Sejam lagi musti pergi”. Jawabnya sembari mengikuti mataku yang menatap jam dinding. Pukul sepuluh malam. “Sebenarnya, kakak memang lupa”.

Sudah kuduga.

“Tadi Marinda yang mengingatkan”.

Mendadak wajahku layu. Meskipun ku sudah menduganya, tapi aku tidak menduga kalau nama itu akan muncul pada pembicaraan malam ini. Mengapa harus disebut namanya? Bisakah kau berbohong atau tidak perlu mengatakan ini? Nadia, sudahlah. Kamu bukan termasuk orang yang terdapat dalam sabda Rasulullah yang memperbolehkan dusta dalam tiga perkara. Kamu kan bukan istrinya. Sudahlah terima saja. Kata hatiku mulai bergemuruh.

Dan suasana menjadi hening. Baik ibu, aku maupun kak Ivan tidak ada yang membuka suara.

“Nadia, kamu mau hadiah apa dari kakak?”. Tanya kak Ivan.

“Ngga usah ka, sebentar lagi juga gajian”. Jawabku. “Sebenarnya ada sih. Ngga tahu kenapa tadi pas baca buku mata kanan ini kok kabur ya? Apa pengaruh umur yang sudah tua kali ya?”. Sambungku lagi.

Dan kemudian, keluarlah beberapa lembar kertas berwarna merah dari dompetnya. Aku tertawa dalam hati. Aku masih seperti yang dulu, yang selalu merengek minta hadiah saat usiaku semakin bertambah. Kali ini sih sebenarnya sudah ngga mau lagi. Tapi berhubung ada yang menawarkan diri dan aku memang butuh kacamata, ku terima saja hadiah ulang tahun dari kakakku itu. Akan panjang pembahasan kalau aku menolaknya.

“Jazakallah ya kak”. Jawabku sembari tersenyum.

“Iya,. Sudah 27 ya. Kapan mau nambahin cucu buat ibu?”. Tanya ka Ivan.

Ini lagi yang di bahas. Aku sudah berusaha menghindari pertanyaan ini seharian dan selalu mendapatkan pertanyaan yang intinya sama. Dan kini ada lagi yang bertanya.

“Belum ketemu jodoh kak”. Jawabku singkat.

“Jodoh harus dicari Nad”.

“Kamu lah Van, carikan temanmu atau siapa gitu yang pantas buat pendamping adikmu”. Dan ibu pun bersuara.

“Sudah tiga kali bu. Ditolak semua sama Nadia. Ivan curiga Nadia punya calon sendiri. Kasitahu lah de, biar kakak bantu prosesnya, kasihan kan Ibu”. Lanjut ka Ivan.

‘Ngga usah bawa-bawa Ibu disini!’. Protesku dalam hati. Dan untuk beberapa saat aku terdiam.

“Biar kakak yang menikah lagi duluan. Baru Nadia. Nadia masih ingin jaga Naila bu. Nadia khawatir Naila bakal terlupa kalau Nadia menikah. Walau bagaimanapun, Naila itu seperti anak Nadia sendiri. Dan Nadia belum akan menikah sebelum kakak mendapatkan ibu yang pantas untuk Naila”. Jawabku tegas.

Tanpa sengaja aku menggiring pembicaraan ke topik yang baru.

“Ya sudah Van, sana cari pengganti Sinta. Biar Nadia juga cepat menikahnya”. Kata Ibu tiba-tiba.

“Lho bu, kok jadi Ivan sekarang yang disuruh menikah?”.

“Lho kamu nda dengar barusan kata-kata adikmu?”. Sela Ibu. “Kamu sendiri sudah punya calon kah Van? Ngga baik menduda terlalu lama”.

“Bingung bu”. Jawab ka Ivan pelan, nyaris tak terdengar. “Sebenarnya ada. Tapi…”

“Nadia ngga setuju dengan Marinda”. Potongku tiba-tiba. Setelah sedari tadi mendengar pembicaraan ibu-anak ini.

Kak Ivan hanya terdiam kaku mendengar pernyataanku barusan. Aku menang disini. Karena apapun pernyataanku selalu akan didukung ibu. Ibu ada bersamaku. Dan penolakanku itu, bukan tanpa alasan. Dan alasan itu selalu kulontarkan setiap kali permasalahan ini muncul ke permukaan.

“Jadi baiknya seperti apa Nadia?”. Sepertinya kak Ivan sudah kehabisan kata-kata.

Aku tertunduk lesu. Menatap kaus kakiku dan memilin ujung jilbab biru muda yang ku kenakan. Tak terasa airmata mengalir deras dari pipiku.

“Nadia hanya ingin……. Kakak mendapatkan isteri yang sebaik almarhumah mba Sinta. Bahkan kalau bisa, lebih baik dari mba Sinta…… Nadia…”. Aku menyeka airmataku dengan ujung tangan gamisku. Sementara ibu, duduk di sebelahku sembari mengelus punggung kurusku.

“Nadia hanya ingin…….. Naila mendapat…….. ibu yang terbaik…… Itu sebenarnya kado ulang tahun yang Nadia inginkan dari kakak”.

Dan hening kembali terjadi. Hingga kami mendengar dengan jelas tangis Naila dari kakarku. Aku berlari menuju kamar. Menutup pintu, melepas jilbab dan kaus kakiku kemudian berbering di sampingnya. Terdengar nyaring Naila memanggil kata ‘umi’, kata yang dulu pertama kali di ucapkannya. Aku mengelus penuh cinta pada gadis mungil piatu ini. Menyadari keberadaanku di sampingnya, Naila kembali melanjutkan tidur dan aku meneruskan tangisku pelan. Beberapa bulan ini, dia tidak lagi tinggal bersamaku. Berdua dengan ayahnya. Kecuali kalau kak Ivan tugas malam seperti ini, maka aku lagi yang menemaninya.

Kado itu, begitu beratkah untuk kau berikan padaku kak?

Air mataku kembali meleleh deras. Dan ku lihat ibu membuka pintu kamarku dan tersenyum, dan kembali menutup pintu. Setelahnya aku mendengar suara motor yang semakin lama semakin tak terdengar.

Hupft…. Aku menepis perasaan yang seringkali hinggap di benakku. Apa ini cinta? Tidak. Aku tidak boleh mencintai dia. Dia kakakku. Cukup cinta itu sebagai seorang kakak saja. Bukan cinta yang lain.

Tapi tetap saja ngga bisa. Aku pun juga tidak bisa mencintai dia sebagai kakak. Karena pada kenyataannya dia bukanlah kakak kandungku. Dia bukan mahrom bagiku.

Astaghfirullah, keluar lagi air mataku.

Aku adalah Naila masa lalu. Terlahir dari seorang ibu yang langsung tiada ketika melahirkanku, dan dicampakkan oleh ibu tiri yang telah merebut kasih sayang dari bapakku. Dan kemudian, ibu Rahmah mengambilku, menyelamatkan masa depanku dan memelihara bersama anak lelaki tunggalnya yang lebih tua dua tahun dariku. Dan aku bahagia karena ibu begitu sayang padaku.

Dan aku tidak mau nasib yang sama padaku menimpa Naila ku.

Ah cinta. Apakah cinta membukakan mata dan menulikan telinga. Sehingga ku biarkan dua orang itu terluka? Tiga, bukan dua. Ibu juga. Tapi, bukan itu alasan aku menolaknya. Aku tahu siapa Marinda.

Aku menangis tersedu. Ketidaksukaanku pada Marinda bukan tanpa alasan. Mba Marin, biasa ku memanggilnya begitu, adalah sosok akhwat yang lebih tua setahun dariku. Wajahnya begitu cantik dan baik. Sangat baik malah. Akhir-akhir ini dia mencoba untuk dekat dengan keluarga kami. Terutama denagn ibu dan Naila. Tidak ada alasan untuk menolaknya menjadi calon istri. Dia nyaris sempurna di mata manusia. Cantik, karir bagus, reputasi bagus, dan berasal dari keluarga terpandang. Dan dibanding aku, aku tidak ada apa-apanya.

Hanya saja, banyak gaya hidupnya yang tidak berkesesuaian dengan gaya hidup keluarga kami. Ada ketakutan yang sangat besar melanda hatiku. Aku takut, kakakku tidak mampu mengimbangi hidupnya dan aku takut, didikanku pada Naila akan berubah secara sangat drastis. Aku takut dia tidak bisa menerima seorang kakakku yang hanya seorang pegawai kantoran biasa, yang dengan gaji bulanan yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidupnya. Aku takut dia tidak bisa menerima status duda kakakku yang ditinggal istrinya ketika melahirkan. Aku takut dia tidak mampu menjadi ibu bagi ananknya. Aku takut. Dan seribu ketakutan melanda diriku.

Aku mengenal mba Marin dengan baik. Pernah beberapa saat mabit bersama dengannya. Bahkan berkali-kali menginap di rumahnya. Dengan itu sedikit banyak akupun bisa menilai gaya hidupnya. Aku memang jahat, menilai orang secara sepihak saja. Penilaianku berat sebelah!. Astaghfirullah aku jahat sekali.

Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu, dan berniat istikharoh. Menyerahkan semua pilihan terbaik kepada Allah. Allahu Akbar. Kuangkat takbir dan megagungkan namaMu.

‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada Mu dari anugerah Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa dan aku tidak berkuasa. Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Zat Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib….’

*_*_*_*_*_*_*

“Ikhlaskan kakakmu ya…”

Suara lembut dari mba Sinta mengalun dalam mimpiku. Dan aku sontak terbangun. Keringat mengucur deras dari wajahku. Sayup-sayup terdengar adzan subuh dari masjid dekat rumah. Ilahi, inikah jawaban istikharohku?. Kulangkahkan kaki memenuhi panggilan Ilahi. Setelah dzikir kuucap usai shalat, kuraih handphoneku dan mengirim pesan singkat untuk kakakku.

Nadia restui kk sama mb Marinda. Insya Allah.







Samarinda, 8 Juli 2009 13.10



Aku menggendong Naila menuju kamarku. Gadis mungil berusia dua tahun itu sudah terlelap semenjak dibawa ayahnya kesini. Kemudian, aku kembali ke ruang tengah. Disana ada Ibu dan kak Ivan.

“Nad, selamat ulang tahun ya”. Kata kak Ivan yang duduk tepat di depanku, dipisahkan meja jati dan taplaknya berwarna hijau bunga-bunga.

“Kirain sudah lupa. Jam berapa ini sudah?”. Aku menjawab dengan senyum kecil sembari melirik jam dinding yang terpampang megah di dinding ruang keluarga kami.

When Mr Spiderman Has Gone




Sebenarnya pikiran dan konsentrasiku tidak pada lagu-lagu yang kudengar. Itu hanya sekedar teman malam ini. Aku tersenyum simpul mengevaluasi hari ini. Setelah nangis hebat di belakang kelas tadi, aku muncul dengan senyum ke dalam kelas. Tentu saja teman-temanku kembali menginterogasi.

Dan aku menyerah. Akhirnya ku ceritakan juga tentang tragedi perjodohan itu. Toh pada saatnya nanti mereka juga pasti akan tahu. Di tempat yang sama denganku duduk sekarang beberapa jam yang lalu, teman-temanku hanya mampu memelukku dan berbagi airmata. Tak ada solusi. Namun itu sangat berarti bagiku, karena ada beberapa kepala yang sanggup kubagi dukaku kepada mereka.

Hmm, Aan sama Elsa kemana ya? Tumben mereka tidur jam segini. Aku menjadi sangat kangen pada mereka, seolah-olah kami tidak akan bertemu lagi. Apa anak-anakku nanti se imut dan se lucu mereka ya? Ada banyak ketakutan yang menyeruak hidupku. Aku takut akan nasib masa depanku sendiri. Tiba-tiba menjadi gelap, tak mampu aku merabanya dengan sebuah lilin harapanku yang semakin meredup.

Tiba-tiba dari mp3 ku melantun Nantikanku di Batas Waktu nya Edcoustic. Aku tak ingat kapan pernah menaruhnya di hape.

“Sungguh walau ku kelu, tuk mengungkapkan perasaanku,
namun penantianku, pada dirimu jangan salahkan………”

Aaaarrghhh…….. Segera kumatikan dan ku lepas headset yang memekakkan telingaku. Tak ada penantian di batas waktu buatku. Tak ada penantian. Sebaiknya memang aku menelpon ibu, menanyakkan keadaannya sebelum operasi besok malam.

Dan aku menikmati bercengkrama dengan ibu. Aku kangen ibu. Aku utarakan keinginanku untuk pulang besok, menemani ibu hingga keluar dan sadar dari meja operasi. Namun ibu, dengan suara lemahnya melarangku.

“Ngga usah kesini nak. Ibu ngga apa-apa. Doakan aja dari sana. Biar ibu bisa sehat lagi dan bisa bayar hutang rumah sakit ini. Ibu ngga mau kamu yang dikorbankan nak”.

Suara isak tangis ibu dan aku terdengar bersamaan.

“Ibu, ibu ngga usah mikir macam-macam ya. Ibu siapkan mental aja untuk besok. Echa percaya Ibu akan sembuh”.

“Belajar yang rajin aja disana ya nak. Ngga usah kesini. Ibu ngga apa-apa”.

Dan semakin kencang kuayunkan diriku, hingga pembicaraanku dan ibu berhenti.

Suara handphoneku berdering. Sms masuk dan langsung kubaca.

Cha, kerumah ya. Lgsg ke ruang tengah aj spt biasa.

Aku mengusap air mata. Sedikit tersenyum saja membaca sms tante Sil. Padahal kami kan hanya terpisah tembok saja. Hanya perlu sepuluh langkah untuk sampai ke dapur rumahnya. Aku mengucap salam dan masuk lewat pintu dapur yang masih terbuka, dan langsung duduk pada sofa empuk di ruang tengah karena sudah dipersilahkan via sms tadi.

Tak lama, kulihat Salim, om Ibrahim dan tante Sil habis turun dari tangga dengan wajah serius. Ketika melihatku, Salim tersenyum kaku. Dingin, namun mampu mencairkan suasana sejenak. Kemudian dia berlalu masuk ke balik pintu kamarnya. Om Ibrahim dan istrinya duduk di depanku.

“Besok Salim pulang. Om mau kembalikan motormu”. Kata om Ibrahim sembari menyerahkan kunci dan STNK motorku.

“Kami juga mau ngucapkan terima kasih Cha atas pinjamannya”. Kata tante Sil kemudian. “Ini ada sedikit rezeki dari kami”.

Aku menerima sebuah amplop cokelat. Apa ini? Kubuka perlahan dan aku terhenyak. Lima lembar uang berwarna merah. Lima ratus ribu. Aku tidak bisa menerimanya. Dengan halus aku menolak. Bagaimana bisa aku menerima imbalan atas permohonan kedua orang baik yang telah banyak membantuku ini? Padahal uang kos dua bulan saja belum ku bayar.

“Rezeki jangan ditolak Cha. Ambillah, jangan sampai tante maksa lho ya”. Lagi-lagi tante Sil mendesakku sembari tersenyum tulus.

Ya, aku tidak mampu meolaknya. Toh aku juga sangat membutuhkan uang saat ini. ‘Ibu, ini rezeki buat ibu.’

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Di kostnya Melly, aku dan ketiga temanku berkumpul. Padahal biasanya selepas kuliah aku langsung pulang ke kostku sendiri, cuman hari ini lagi malas. Ngga mau melihat pelepasan si akhi Salim itu. Jadi ya sudah, aku sandarkan saja punggungku ke kasur empuk milik Melly.

Ngga lama, aku di telpon dan diminta pulang sama tante Sil. Aduh, aku dilema nih, pulang ngga ya? Aku khawatir saja kejadian kedatangan akh Salim itu terulang lagi. Saat acara makan siang harus ditunda karena menunggu kehadiranku. Aduh tante ini, aku benar-benar ngga enak diperlakukan istimewa seperti ini.

Akhirnya kuptuskan untuk pulang. Nah benar saja, mereka sudah siap pergi seolah-olah hanya menunggu kehadiranku, aduh jadi GR banget nih. Tante Sil, om Ibrahim, dan kedua anak kecilnya bersiap mengantar sang Sulung ke bandara Sepinggan di Balikpapan. Balikpapan, aku jadi kangen ibu. Seandainya aku diperbolehkan ibu untuk menemaninya, tentu aku sudah minta ikut sama mereka.

Perpisahan. Aku ngga sedih. Karena hanya orang yang berani untuk bertemu yang berani untuk berpisah. Aku hanya tertunduk kaku. Berusaha menjaga pandanganku. Karena mungkin ini pertemuan terakhirku dengannya. Karena bisa jadi setelah menikah nanti aku tidak lagi tinggal di kost ini.

Aku berjalan menuju kamarku. Satu-satunya cara ampuh untuk menenangkan hatiku saat ini adalah tidur. Ya, tidur sejenak.

Aku teringat satu hal yang membuatku beranjak bangun sebelum benar-benar terlelap. Aku lupa mengembalikan novel The Kite Runner pada Salim. Segera saja ku sms tante Sil, karena memang aku ngga punya nomor hape ikhwan itu.

Tak lama ada balasan, dari nomor tak dikenal.

Nnti aja ukh balikinnya. Insya Allah Ramadhan nt ana pulang. ASR.

Aku mendadak sedih lagi. Apa mungkin bisa ketemu lagi?

Tak lama setelah itu, sms masuk lagi. Dari nomor yang sama.

Nt malam, ada yg mau dibcrakan papa sama anti.

Segera saja ku hapus dua sms itu. Aaarggghhhh,….. Kuhempaskan wajahku dengan bantal. Tidur,…. Tidur,….!!! Aku berteriak dalam hati dan kembali menghempaskan punggung ini.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

“Begini Echa”. Suara teduh om Ibrahim memulai pembicaran. Raut kelelahan sehabis perjalanan ke Balikpapan terpancar dari wajah om dan tante ini. “Om punya niat untuk membeli motomu”. Lanjutnya.

Aku terdiam. Apakah ini suatu pencerahan atas doaku supaya mendapat jalan keluar dari kemelut persoalanku? Tapi, bagaimana kalau kakakku itu sudah menjawab lamarannya om Irawan? Bukankah semua akan sia-sia saja dan aku akan kehilangan peninggalan ayah satu-satunya yakni si ranger biru yang setia menemaniku. Aku masih terdiam ketika om Ibrahim melanjutkan perkataannya.

“Rencananya motor itu buat Salim kalau dia pulang lagi kesini. Jadi, selama masih kuliah, kamu bisa pakai motornya seperti biasa”. Om Ibrahim melanjutkan.

“Iya Cha, soalnya kamu kan tahu tante ngga bisa naik motor, jadi ya kamu pakai aja nanti motornya”. Kata Tante Silvi.

Aku masih bimbang. Ya Allah, Kau membantuku lewat perantara keluarga yang baik ini. Tapi, aku masih speechless.

“Bagaimana Cha? Kalau bersedia, malam ini kita langsung akad ya”. Om Ibrahim, masih dengan nada tenangnya, sepertinya bisa membaca kebimbanganku. “Dua belas juta, bagaimana?”.

Aku terkejut mendengar nominal yang disebut om Ibrahim. Dua belas juta.

“Sebentar saya berpikir dulu om”. Jawabku lemah.

“Echa, Om boleh tanya satu hal?”. Kembali om Ibrahim berbicara. Jarang aku melihatnya banyak bicara seperti ini. Aku mengangguk lemah. “Kamu masih mau kuliah atau menikah?”.

Aku terperanjat mendengarnya. Kulihat wajah mereka berdua. Hanya kesungguhan yang kulihat. Lantas, apa maksudnya pertanyaan itu? Tak terasa air mataku keluar.

“Kuliah….”. jawabku semakin pelan. Ada kegetiran kurasa ketika ku menjawabnya.

“Kalau memang mau kuliah, terima niat baik kami untuk membantumu. Insya Allah ada jalan untuk ibumu tanpa harus ada perjodohan itu”.

Aku semakin tersentak. Hei, tahu darimana? Tanyaku dalam hati. Tangsiku semakin meluncur deras. Tante Silvi pindah ke sampingku dan memelukku. Seolah bisa membaca penasaranku, om Ibrahim kembali menjelaskan.

“Salim tidak sengaja mendengar pembicaraanmu kemarin sore. Dan dia menceritakan pada kami malamnya. Om langsung telepon kakakmu dan bilang bahwa kami akan membayar semua biaya pengobatan ibumu dengan syarat perjodohan itu dibatalkan. Sebelum ke bandara tadi kami juga sudah mengunjungi ibumu. Dia titip salam buatmu. Dia baik-baik saja”.

Allahu Akbar. Aku bertakbir dalam hati. Tak perlu kutanya darimana om Ibrahim tahu nomor telepon kakakku. Dia kan baak kostku, tentu saja dia tahu.

“Saya,……. Saya berhutang budi banyak dengan Om dan Tante…”. Ucapku

“Ngga ada yang hutang budi disini. Kalau kamu jual motormu, maka kamulah yang sudah membiayainya sendiri. Kami hanya membantu sebisanya”.

“Nanti kalau kurang tante pinjamkan. Ngga usah mikir bagaimana bayarnya. Ajarin Elsa sama Aan belajar ngaji sama mata pelajaran aja gantinya”. Dan tante Sil melanjutkan.

Aku semakin terhanyut dalam pelukan tante Silvi. Allahu Rabbi.

Sms masuk ke hapeku.

Assalamualaikum. Afwan malam2 sms. Ana ad krm email ke t4 anti, sdkt mnjelaskn klw2 yg dsmpaikn papa krg jelas. ASR

Perlahan aku mulai bisa tersenyum. Bismillah, kulakukan akad jual beli dengan om Ibrahim. Kuambil semua berkas-berkasnya si Ranger Biru. Semoga almarhum ayah tidak marah dengan keputusanku ini.

“Walaupun motor ini jadi punya Salim, kamu tetap bisa pakai kok. Di rumah ini kan selain Salim ngga ada yang bisa naik motor”. Kata om Ibrahim.



*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Hari ini seperti biasa aku akan pergi ke kampus. Sebelum pergi aku sempatkan cuci motor sebentar. Malu nih, soalnya kan bukan motorku lagi. Hmm hikmahnya, harus jadi rajin sekarang nih. Sebelum kuliah, rencananya mau ke bank. Transfer uang ke rekening kakakku. Bukankah yang dituntutnya padaku adalah uang. Jadi kuanggap masalah perjodohan itu selesai dengan aku mengirim uang ini. Alhamdulillah, aku bisa bernafas lega. Oh iya, aku sempatkan mampir ke warnet sebentar. Penasaran juga dengan isi emailnya akh Salim. Mungkin dia tahu alamat emailku dari mamanya.


Assalamualaikum.

Afwan ukhti kalau sekiranya email ini kurang berkenan.

Mungkin sudah diceritakan bagaimana akhirnya kami tahu permasalahan anti. Afwan kalau ana tidak sengaja dengar percakapan ukhti di taman belakang. Afwan juga kalau akhirnya permasalahan anti ana ceritakan dengan mama dan papa.

Dan mama antusias sekali untuk membantu anti. Ternyata ana tahu kenapa mama begitu dekat sama anti. Melihat anti mungkin mengingatkan mama akan masa mudanya. Mungkin pakaiannya saja yang membedakan anti sama mama.

Sebagai saudara seiman dan seaqidah, sudah selayaknya kita saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Insya Allah apa yang ana lakukan ini sebagai ikhtiyar ana untuk membantu anti.

Semoga apa yang kami usahakan bisa meringankan beban anti.
Oh iya, novelnya nanti saja ya dikembalikannya. Tafadhol dibaca saja dulu.
Insya Allah Ramadhan nanti pulang.

Salam.
ASR.


Kuklik reply, dan kubiarkan tanganku menari-nari pada tuts keyboard komputer didepanku.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menurutpi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya." Riwayat Muslim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, ana ucapkan syukur kepada Allah yang telah meringankan beban hamba-Nya, melalui tangan antum sekeluraga yang telah membantu langkah anak yatim seperti ana. Rasanya mengucapkan ribuan terima kasih pun tak mampu membalaskan kebaikan dan pertolongan kalian. Ana hanyalah hamba-Nya yang dho’if, yang lemah dan mudah putus asa dan futur.
Akhi, Allah telah membebaskan ana dari satu ujian yang sangat berat berkat pertolongan antum. Ana sungguh tidak tahu dengan apa bisa membalasnya. Namun ana sepertinya harus menyadari, bahwa ujian aka terus senantiasa mengiring kehidupan manusia. Setelah ujian ini akan banyak ujian lainnya yang menanti ana.
Akhi, kiranya perlu antum ketahui, ana menaruh simpati yang dalam kepada antum sebelum kejadian ini, bahkan setelah antum menjadi pahlawan dalam hidup ana, perasaan itu semakin memuncak. Ana takut hal ini akan menjadi celah syaithan untuk menguji ana juga antum. Ana takut tidak mampu menjaga hati yang masih lemah ini. Ana sungguh takut jika ujian kemarin ana bisa melampauinya, namun untuk ujian ini ana gagal bahkan harus terperosok oleh jurang hina yang sangat dalam.

“Dan janganlah kamu dekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu yang buruk.” (Al-Isra:32)

Akhi, ana menganggap ujian hati ini sama beratnya dengan ujian kemarin. Sungguh Allah sangat cinta kepada ana sekarang.

Ana tidak bermaksud menorehkan virus atau mengusik hati antum dengan coretan kata-kata ana ini. Sungguh, juga tidak bermaksud untuk melupakan kebaikan-kebaikan yang antum dan keluarga antum berikan pada ana. Sungguh ana minta maaf.

Mungkin suatu hari ana mampu meredam perasaan yang terlarang ini. Tapi, siapa yang tahu hati seseorang. Mungkin ana sedang futur dan hati ini bisa saja berpenyakit. Insya Allah, Ramadhan nanti ana akan pulang ke Balikpapan. Usahakan untuk meminimalisir percakapan ya.

Ana sungguh menyadari bahwa tidak ada yang salah pada pembicaraan antum kepada ana. Tapi, ana yang dho’if ini mungkin masih lemah dan terkadang tidak mampu mengendalikan diri. Sungguh, ana ingin menyerahkan cinta ini hanya kepada Allah dan akan menyimpan cinta insani ini sebelum diminta oleh pemiliknya kelak.

Semoga antum tidak terusik akhi dengan email ana ini. Tidak ada maksud apa-apa selain perbaikan diri.

La haula walaa quwwata illa billaah…..
Ya muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik…..

Sekali lagi afwan, bila hal ini menganggu antum.
Jazakummullah khairan katsira.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Reisha Nurmala Fitriani.

Dan klik.
Saved to draft.

Aku menarik nafas panjang. Lega setelah menuliskannya. Meskipun keberanianku hanya seujung kuku untuk mengirimkannya. Kembali ku ulangi proses tadi dengan menulis email di layar yang kosong. Akhirnya, yang terkirim sebagai balasan hanyalah beberapa potong paragraf.


Assaalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan antum sekeluarga dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menurutpi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya." Riwayat Muslim.
Jazakummullah khairan katsira.
Fastabiqul khairaat.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Reisha Nurmala Fitriani.


Dan kali ini benar-benar terkirim. Alhamdulillah. Semoga aku mampu melewati ujian kali ini. Aku harus komitmen dengan pernyataanku kepada om Ibrahim. Aku mau kuliah. Demi ibu dan pembuktian kepada kakak-kakakku. Demi menumut ilmu dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Aku ganti status facebookku terbaru,

“kusampul hatiku, dan kukunci rapat-rapat. kan kubuka jika saatnya tiba”

dan tak lama, sms masuk ke hapeku.

Online terus….!!! Kuliah bu,…!! Dosennya dah masuk…… Melettttttt

Astaghfirullah. Masih saja aku ini pelupa dan ceroboh. Segera ku logout semua situs yang kubuka, bayar warnet, dan secepatnya ngebut.

Semoga Mr Spiderman ngga marah motornya kubuat kebut-kebutan…….



Aku duduk di sebuah ayunan yang berada di depan bangunan kostku. Di tengah taman yang sunyi ini, diteman cahaya bulan sabit yang temaram berwarna keemasan. Aku heran, kenapa malam ini begitu sunyi, tidak seperti biasanya yang begitu hidup dengan suara berisik teman-teman satu kost, tangisan atau suara tawa renyah dari kedua anak Tante Sil, si Andre atau Aan, dan Elsa. Tapi malam ini tidak ada suara. Seperti hidup di kota mati.

Aku semakin kencang mengayun ayunanku. Sembari menatap langit yang tak tahu dimana atapnya kan berakhir dan ditemani alunan merdu penyiar radio yang kudengar dari handphone dengan headset. Sesekali terdengar lagu persada yang sekarang sedang hits. Dan kini, suara Ariel Peterpan bergemuruh di telingaku.

“Takkan selamanya,…”

Hupffftt,…… langsung saja kumatikan radio itu. Bosen ah dengar lagu-lagu mellow dan cengeng. Ku putar mp3 yang ada di hape, kuganti dengan lagu-lagu nasyid. Dan ku ayunkan kembali ayunan kayu ini.

Netiket: Etika Internet yang kian Pudar




Tulisan ini diadaptasi dari beberapa sumber dan juga pengalaman pribadi penulis tatkala mengikuti sebuah forum/milis.


1. Jangan Gunakan Huruf Kapital

Karena penggunaan karakter huruf bisa dianalogikan dengan suasana hati si penulis. Huruf kapital mencerminkan penulis yang sedang emosi, marah atau berteriak. Tentu sangat tidak menyenangkan tatkala anda dihadapkan dengan lawan bicara yang penuh dengan emosi bukan? Walau begitu, ada kalanya huruf kapital dapat digunakan untuk memberi penegasan maksud. Tapi yang harus dicatat, gunakanlah penegasan maksud ini secukupnya saja, satu-dua kata dan jangan sampai seluruh kalimat/paragraf.


2. Kutip Seperlunya

Ketika anda ingin memberi tanggapan terhadap postingan seseorang dalam satu forum, maka sebaiknya kutiplah bagian terpentingnya saja yang merupakan inti dari hal yang ingin anda tanggapi dan buang bagian yang tidak perlu. Jangan sekali-kali mengutip seluruh isinya karena itu bisa membebani bandwith server yang bersangkutan dan bisa berakibat kecepatan akses ke forum tersebut menjadi terganggu.

Ini berlaku juga untuk fasilitas reply pada e-mail, terlebih jika anda aktif dalam suatu milis. Ketika anda meng-klik tombol "Reply", umumnya sebagian besar program mailer akan menulis ulang pesan asli yang anda terima secara otomatis ke dalam kotak surat anda. Jika harus mengutip pesan seseorang dalam jawaban e-mail, usahakan menghapus bagian-bagian yang tidak perlu, dan ambillah (sebagai kutipan) bagian yang relevan dengan jawaban anda saja.


3. Perlakuan Terhadap Pesan Pribadi

Jika seseorang mengirim informasi atau gagasan kepada anda secara pribadi (private message), anda tidak sepatutnya mengirim/menjawabnya kembali ke dalam forum umum, kelompok grup, atau milis.


4. Hati-hati Dalam Mem-forward

Tidak semua berita yang beredar di internet itu benar adanya. Seperti halnya spam, hoax juga merupakan musuh besar bagi para kebanyakan netter. Maka, sebelum anda mem-forward pastikanlah terlebih dahulu bahwa informasi yang ingin anda kirim itu adalah benar adanya. Jika tidak, maka anda dapat dianggap sebagai penyebar kebohongan yang akhirnya kepercayaan orang-orang di sekitar anda pun akan hilang.


5. Jangan Gunakan "CC"

Ketika mengirim e-mail ke sejumlah orang, jangan cantumkan nama-nama pada kolom "CC". Jika anda melakukan hal itu --biasa disebut cross posting--, semua orang yang menerima e-mail anda, akan bisa melihat alamat-alamat e-mail orang lain. Umumnya orang tidak suka bila alamat e-mailnya dibeberkan di depan umum. Gunakanlah selalu "BCC". Dengan cara ini setiap orang hanya bisa melihat alamat e-mailnya sendiri.


6. Jangan Sembarangan Menggunakan Format HTML
Jika anda mengirim sebuah pesan penting ke rekan anda, jangan gunakan format HTML tanpa anda yakin bahwa program e-mail rekan anda bisa membaca kode HTML. Jika tidak, pesan anda sama sekali tidak terbaca atau kosong. Sebaliknya, gunakanlah format plain text.


7. Jangan Kirim File (berukuran besar) Melalui Attachment

Peraturan e-mail secara internasional melarang transfer file melalui e-mail, apalagi di dalam milis. Jangan pernah membayangkan, rekan anda atau anggota milis yang lain memiliki mailbox/hard disk yang cukup seperti anda. Pada umumnya penyedia jasa internet (ISP) di Indonesia 'hanya' memberi quota space 2-5 MB. Pengiriman file yang besar, akan membuat proses downloading menjadi lamban, dan ini jelas menambah beban pulsa.

Saat file melebihi kuota, maka proses downloading praktis terganggu. Jika ini terjadi, anda bisa dituduh telah melakukan bomb-mail, yang di dalam dunia internet, dianggap sebagai tindakan kriminal.

Jika memang harus melakukan transfer file, sebaiknya minta izin dulu, bahwa anda akan mengirim file, sekaligus jelaskan besar file-nya. Setelah rekan anda setuju, barulah kirim melalui attachment. Tapi untuk lebih amannya, gunakanlah situs yang khusus menyediakan jasa transfer file ini. Selain praktis, semua rekan anda pun bisa menentukan pilihan, ingin ikut mengunduh atau tidak, tanpa perlu risau e-mailnya terganggu. Toh sudah banyak situs-situs gratisannya.


8. Ketika 'Harus' Menyimpang Dari Topik

Tiap milis/forum tentu memiliki peraturan khusus mengenai obyek bahasan yang diperkenankan. Sehingga tatkala anda ingin menyampaikan/meminta sebuah informasi di luar topik yang telah ditentukan, sepatutnya sertakan pula tanda khusus pada kolom subyek e-mail anda agar anggota milis yang lain tidak terkecoh dengan isi e-mail anda. Contohnya, ketika ingin menyampaikan lowongan pekerjaan di milis yang khusus membahas tentang software:
[OOT] Loker di PT. Software Citra Kencana, Membutuhkan Programmer.


9. Hindari Personal Attack

Ketika anda tengah dalam situasi debat yang sengit, jangan sekali-kali anda menjadikan kelemahan pribadi lawan sebagai senjata untuk melawan argumentasinya. Sebab, ini hanya akan menunjukkan seberapa dangkal pengetahuan anda. Lawan argumentasi hanya dengan data/fakta saja, sedikit langkah diplomasi mungkin bisa membantu. Tapi ingat, jangan sekali-kali menggunakan kepribadian lawan debat sebagai senjata sekalipun ia adalah orang yang anda benci. Budayakan sikap debat ilmiah, bukan debat kusir.


10. Kritik dan Saran yang Bersifat Pribadi Harus Lewat PM (Personal Message)

Jangan mengkritik seseorang di depan forum. Ini hanya akan membuatnya rendah diri. Kritik dan saran yang diberikan pun harus bersifat konstruktif, bukan destruktif. Beda bila kritik dan saran itu ditujukan untuk anggota forum secara umum atau pihak moderator dalam rangka perbaikan sistem forum, anda boleh mempostingnya di dalam forum selama tidak menunjuk orang per orang tertentu.


11. Jujur Dalam Mencantumkan Sumber dan/atau Penulis

Jangan sekali-kali mengakui tulisan orang lain sebagai hasil karya pribadi anda. Walaupun tulisan itu telah anda revisi sedemikian rupa, namun mau tidak mau anda telah mengadaptasi dari milik orang lain. Oleh karenanya, anda harus mencantumkan sumber referensi tersebut. Bila anda mengutip dari sebuah situs, maka cantumkanlah nama/alamat situs tersebut. Begitupun bila situs itu ternyata juga boleh mengutip dari sumber lain yang merupakan penulis aslinya, maka anda harus mencantumkan kedua sumber tersebut, penulis asli dan situs tempat anda mengutip.


12. Bijaklah Ketika Hendak Meng-copy Sebuah Situs

Walaupun sangat mudah untuk mengintip source code sebuah situs, tapi secara etika setidaknya anda komunikasikan terlebih dahulu dengan web master yang bersangkutan. Malah, hal ini justru bisa memberikan keuntungan lebih. Ketika sang web master menyambut baik 'permohonan ijin' anda untuk mempelajari source code-nya dan ada hal yang tidak anda pahami, menjadi sangat mudah untuk bertanya kepadanya.

Penggunaan Offline Browser Tools, seperti HTTRACK atau Teleport juga harus memperhatikan beberapa hal, seperti:

* Apakah ada ketentuan Copyright?
* Apakah pemilik mengijinkan anda menyalinnya untuk penggunaan pribadi? -> Jangan mengkomersilkan!
* Jangan sampai membebani bandwith server, baik bandwith situs atau bandwith jaringan anda. Lebih-lebih jika anda mengunduh dari tempat umum seperti warnet, maka sebaiknya jangan mengunduh pada waktu-waktu sibuk. Pembebanan bandwith secara berlebihan akan membuat situs down dan mengganggu akses pengguna lain dalam jaringan yang sama dengan anda.
* Jangan mencuri data yang bersifat pribadi seperti e-mail atau data rahasia perusahaan yang memang tidak diperuntukkan kepada khalayak.

Ditulis ulang dari: http://apadong.com/2006/06/26/netiket-etika-internet-yang-kian-pudar/
oleh kang ARS di http://myquran.org/forum/index.php/topic,10702.0.html



Siapa bilang internet tidak memiliki aturan? Siapa bilang dalam dunia maya kita bebas bertindak tanpa peduli kepentingan orang lain? Sesungguhnya tidak ada kebebasan mutlak di dunia ini. Sekalipun ini adalah dunia tanpa batas, namun seperti halnya interaksi dalam dunia nyata, begitu kita bersinggungan dengan orang lain maka sudah pasti ada aturan main, adab ataupun etika yang harus dipatuhi.

Berawal dari keprihatinan terhadap fenomena berinternet yang semakin vulgar dan cenderung melampaui batas, maka saya mencoba menuliskan kembali hal-hal yang patut dijadikan batu pijakan bagi para netter. Istilah yang dikenal sebagai "netiket" atau nettiquette.

2.7.09

Antara Hati Berkarat dan Hati Kemilau


Berkarat??? Tahukah anda dengan kata “karat” atau kalau anda pernah belajar ilmu fisika atau kimia pasti anda akan menemukan atau mendengar kata “korosi”??? nah!! Kata karat dan korosi tersebut merupakan dua kata yang berbeda tetapi mempunyai maksud yang sama. Mungkin anda pernah melihat logam sejenis besi, baja atau apapun yang berkarat. Efek dari logam yang berkarat dalam waktu yang terlampau lama akan menyebabkan logam tersebut menjadi lapuk yang lama-kelamaan akan menjadi serbuk logam. Sekarang coba anda flashback kembali peristiwa tersebut, awalnya logam tersebut masih mempunyai bentuk tetapi karena terjadi korosi lama-kelamaan logam tersebut berubah bentuknya menjadi serpihan-serpihan. Sama halnya dengan hati kita.
Antara Hati Berkarat dan Hati Kemilau




Tahukah anda hal-hal apa yang mampu membuat hati kita berkarat??? Kalau kita melihat logam yang berkarat tentunya hal-hal yang membuat logam tersebut berkarat adalah udara dan air, sedangkan hal-hal yang membuat hati kita berkarat bukanlah air dan udara melainkan kelalaian dan dosa. Mengapa kelalaian dan dosa membuat hati kita berkarat??? Karena kelalaian dan dosa dapat mengurangi dan melemahkan keimanan dan ketakwaan seseorang. Selain itu, kelalaian dan dosa yang terus-menerus dilakukan dapat melenakan kita untuk selalu mengingat Allah SWT dan melaksanakan perintah-perintahNya sehingga dapat membuat hati kita berkarat akibat terlalu seringnya kita berbuat lalai dan dosa.

Kemilau??? Tahukah anda dengan kata “kemilau”??? kemilau merupakan suatu cahaya yang begitu menyilaukan. Anda pernah melihat berlian atau permata??? Nah!!! Biasanya kata kemilau itu seperangkat dengan kata berlian atau permata. Kalau anda belum pernah melihat berlian atau permata. Gimana kalau anda saya ajak untuk mengingat sesuatu. Pernahkah anda melihat salah satu iklan tentang shampoo??? nah!!!disanalah anda akan menemukan kata “kemilau”. Sungguh kemilau merupakan suatu peristiwa yang disukai banyak oaring karena dengan kemilau membuat apa saja yang ada disekitarnya menjadi indah meskipun bentuknya tidak indah. Sama halnya dengan hati kita.

Tahukah anda hal-hal apa yang mampu membuat hati kita kemilau??? Kalau kita melihat berlian atau permata atau barang-barang yeng berbahan kaca kemilau tentunya hal-hal yang membuat permata, berlian atau barang-barang berbahan kaca kemilau adalah seringnya barang-barang tersebut dirawat,dipelihara dan dibersihkan dengan menggosok-gosokkan ke kain atau apapun yang dapat membersihkannya sehingga membuat barang-barang tersebut menjadi kemilau, sedangkan hal-hal yang membuat hati kita kemilau adalah seringnya hati kita dirawat, dipelihara dan dibersihkan dengan kalimat istighfar dan dzikir. Mengapa kalimat istighfar dan dzikir membuat hati kita kemilau??? Karena kalimat istighfar dan dzikir dapat menambah dan menguatkan keimanan dan ketakwaan seseorang. Selain itu, kalimat istighfar dan dzikir yang terus-menerus dilafadzkan dan dilakukan dapat beristiqomah untuk selalu mengingat Allah SWT dan melaksanakan perintah-perintahNya sehingga dapat membuat hati kita selalu kemilau dan lama-kelamaan menjadi lebih kemilau jika kita selalu merawat, memelihara dan membersihkannya dengan kalimat istighfar dan dzikir.

Tahukah anda manfaat yang akan anda dapatkan jika hati anda selalu kemilau??? Manfaatnya adalah anda akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, sabar dan tabah dalam menghadapi kehidupan, dapat mengurangi emosi dalam menghadapi siapapun yang berbuat khilaf terhadap kita sehingga kita dengan mudah memberikan maaf kepada siapapun yang meminta maaf terhadap kita, dan lain sebagainya. Pokoknya banyak banget deh manfaat yang dapat kita peroleh dari kemilaunya hati.

Sekarang tinggal anda yang memilih, mau membuat hati anda berkarat atau membuat hati anda kemilau????semua jawabannya ada pada hati dan diri anda masing-masing karena setiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda. Semoga dapat bermanfaat dan secepatnya anda dapat mengambil pilihan sehingga anda tidak terlambat untuk membuat hati anda berkarat atau kemilau.

-----------
Lina El-Barich

http://www.dudung.net/artikel-islami/antara-hati-berkarat-dan-hati-kemilau.html

30.6.09

Goodbye Mr Spiderman







Namun suatu hari, saya pernah mengunjungi sebuah kafe, dimana tanpa kusadari kulihat ada laba-laba yang bersarang di langit-langit dekat tempat dudukku. Heran juga bagaimana kafe yang cukup terkenal itu kurang menjaga kebersihan sehingga pemandangan laba-laba itu luput dari perhatiannya. Saya perhatikan baik-baik bagaimana laba-laba membuat rumah dari jaringnya. Sungguh menakjubkan.

Dan rupanya pemilik kafe sadar kalau saya memperhatikan itu. Langsung saja seorang waiternya mengambil alat pembersih dan mengusir laba-laba dan sarangnya.

Dan saat itu juga saya baru tersadar bahwa Spiderman itu tidak nyata. Jaring laba-laba dalam dunia nyata tidak kuat untuk melindungi dirinya sendiri. Bagaimana mungkin saya bisa terlena oleh kehebatan tokoh yang tidak nyata sementara kita sekarang membutuhkan sosok pahlawan yang nyata?

Saya jadi teringat sebuah ayat yang ada hubungannya dengan laba-laba.

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin.
Q.S. Al Ankabut (41-44).

Ternyata dalam kitab suci kita sendiri dijelaskan tentang laba-laba, bahkan dijadikan salah satu nama surah. Subhanallah. Dengan indah Allah mengumpamakan laba-laba yang memiliki rumah lemah sebagai orang yang mengambil perlindungan selain Allah.

Banyak hal yang bisa kita ambil hikmah dari cerita saya ini. Seperti ayat yang saya kutip diatas, rasanya tidak pantas kalau kita berlindung pada selain Allah. Seperti laba-laba yang membuat rumah. Begitu rumahnya disentuh atau ditiup angin, akan hancur.

Laba-laba pun menyadarkan saya dari kepahlawnan yang hanya ada dalam cerita imajinasi. Jaring laba-laba itu lemah, dan selemah-lemahnya rumah. Lantas bagaimana bisa menahan berat badannya spiderman dan dengan modal itu bisa menjadi hero?

Maka kita harus bangun dari mimpi akan sosok kepahlawanan yang tidak nyata itu dan mencoba menjadi pahlawan yang nyata. Pahlawan itu ada. Seperti perjuangan seorang ayah yang menjadi pahlawan bagi hidup keluarganya. Perjuangan seorang ibu yang mendidik dan memperjuangkan kehidupan anaknya. Kepahlawaan pemuda Palestina yang berjuang demi tanah air dan agamanya.

Kita harus menjadi super hero. Yang senantiasa menggali dan mempelajari makna-makna kepahlawanan dalam kehidupan. Mengetahui bagaimana hakikat diri dengan terus mempelajari ayat-ayat Allah yang tersirat dan tersurat dalam setiap hidup kita, dengan ilmu, iman, dan amal.

Maka, tidaklah berat jika saya mengatakan: “Goodbye Mr Spiderman……”



dari sebuah cerpen penuh motivasi,... :)


Kalau saya menyebutkan kata laba-laba, apa yang pertama kali melintas di pikiran anda? Bisa jadi kalian menyebutkan satu nama super hero yang cukup terkenal yang identik dengan laba-laba yaitu Spiderman. Benar ngga?

Saya ingin bercerita sedikit tentang Spiderman, karena dulu saya sangat mengidolakan super hero ini. Kenapa dulu idola saya Spiderman? Karena saya menganggap Spiderman adalah sosok pahlawan yang tidak ingin dikenal bahwa dia pahlawan. Tidak seperti orang-orang yang menganggap dirinya pahlawan dan ingin diketahui orang lain jasa-jasanya. Spiderman menolong dengan kekuatannya sendiri. Dan saya pernah terobsesi untuk menjadi pahlawan seperti Spiderman.

Lembah Lolipop




Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "

Pemikiran ¡nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ¡sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ¡nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ¡nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ¡nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop



---------
http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000289.php



Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

12.5.09

belenggu





belenggu ini bernama dusta,..
ataukah lara,..
ataukah luka,...?
ah sudahlah,,,, aku lupa


belenggu ini bernama siksa,..
ataukah romansa,...
ataukah hanya sebuah kata,..??
ah sudahlah,.. aku mau melupakannya


semua yang ada di rasa,..
pahit dan getir aku telah lama merasa
namun hanya sebatas asa



asa yang terbang menampakkan kejamnya duka, luka, lara

semua bercampur atas nama hampa






lupakan







dan aku menjadi orang yang terlupa






kasihan...................... .........

Puisi untuk my parents





Aku ingin memberi sebentuk bunga
Yang kurangkaikan dengan indah nuansa
persembahan tulus dari melodi nada
syair kehidupan dengan tangis dan bahagia

Aku ingin memberi pancaran rona
yang terindah dari dasar jiwa
dari hati tulus memancarkan cinta
melangkah pasti diiringi rintihan do'a

Aku ingin memberi bahagia
melebihi salam termanis dalam suka
mewarnai usiamu dikala tua
melengkapi pengabdianku yang tiada apa

sebelum bahtera dia bersandar di dermagaku
dan malam datang ke peraduan rindu
bahtera melaju mengarungi hidup yang membiru
aku ingin memberi dunia padamu
membiarkan hangat merengkuh malammu
mewanginya mawar menghirup dahagamu

dan sebelum pengabdianku terbagi
aku ingin memberikan seluruh hati
dan segenap jiwa dalam diri

hanya untukmu,.
Ayah dan bundaku...

6.5.09

puisi jadul,... "Aku Menangis"


dari seorang hamba yang mengharap Ridha-Mu


Nissa



Dalam kesunyian hati ini aku menangis
meniti kabut yang menyelimuti diri dan hari-hari
aku menatap hari nanti yang begitu sepi
karena gita cinta mulai bersemi dalam diri

Aku menangis karena ku sadar kecewa dan lara menghatui
karena cintaku yang tak sempurna kepada-Mu
karena getir iman yang memudar di dadaku
Aku kecewa karena cintaku yang dangkal kepada-Mu

kuharap dengan sisa umurku yang tak panjang
kukuan membawa bekal untuk hari kemudian
dan perasaan kecewaku karena berlumur segudang dosa
dapat terhapus oleh Maha Rahman-Mu

puisi jadul,... "When fairy fall in love"





Sepasang sayapnya mengepak indah
Cahaya mentari senja jatuh ke perak bola matanya
Senyum anggunnya terungging merekah semerah hatinya

Sang peri terbang ke angkasa
Diiringi munculnya pelangi
Bunga-bunga semerbak berdansa
Diatas hijaunya taman bak permadani
Kupu-kupu bertebaran mengiringi

Sementara sang peri dengan bangga bernyanyi
"Aku Jatuh Cinta"

Sang raja dengan cinta menyematkan tiara
Permaisuri dengan cinta mengalungkan bunga
Seluruh rakyatnya dengan cinta bersenandung bahagia

Dan pangeran muncul dibalik gelapnya gulita
Dengan kuda putih berpedang emasnya
Dihampirilah sang peri dengan cintanya

Semua larut dalam romansa

Dan akupun ikut bahagia
Akhirnya dongeng berakhir bahagia
"happy ever after"

Dan malangnya aku bukan peri
Dan sayangnya aku bukan peri
Dan kasihannya aku bukan peri
bukan peri
bukan peri

Puisi tanpa judul






Tuhan....
kenapa aku hidup dibayangi mimpi-mimpi
kenapa hatiku terus bercermin dan melihat bayang-bayang yang sama
bayangan maya yang terbentuk dari buncahan rindu dan kemilau madunya asa
bayang-bayang yang menguras peluh, pilu, sukma dan emosi
bayang-bayang tentang dia
yang selalu lekat dalam ilusi
yang selalu dekat di hati
yang selalu diingat dalam memori
meski aral melintang sejauh merkuri dan bumi
entah mengapa kuselalu menanti................

Senandung Perjalanan




Adalah rentetan perjalanan panjang
Sejuta langkah melalui medan perang
bergulir sahara demi sahara membentang
Tak tahu kapan sampai kan datang
hoingga membeku dir pun tak pernah pulang
Detik demi waktu selalu meghilang

Esok....................
Adalah misteri yang terbungkam milyaran misteri
Terbungkus kabut putih tak menentu
Entah bahagia atau derita telah menunggu
Laksana fatamorgana membayanginya
Semanis surga atau sepahit neraka ditawarkan
Merajut waktu dengan mimpi dan harapan
Aku berkaca pada tembok berlumut kusam
Menatap hari yang masih terlintas panjang
Meramalkan cita berpaut bunga-bunga cinta
Menyulam asa diatas detik kenangan

Dan aku akan bertahan
Melintasi pahit gertirnya masa depan
suram... hitam... kelam... dan berjuta malam
kan kulukis di kanvas putih seputih awan
Menjadi impian, asa, serta keyakinan
tuk menjadi bekal hari kemudian

Senandung Perjalanan

Kemarin, esok dan hari ini
Adalah senandung kenangan, perjuangan dan harapan
Selalu di lingkaran ini aku berjalan
Membingkai dunia hingga menua usia bumi

Kemarin.........
Adalah suramnya hari kelabu
Mengikat kabut hitam pilu
Menyapa cinta dengan belati
Merintih di malam kelam sunyi
Menyanyi diantara gulita sepi
Kosong menyiksa diri

Hari ini.............

3.4.09