6.5.09

puisi jadul,... "Aku Menangis"


dari seorang hamba yang mengharap Ridha-Mu


Nissa



Dalam kesunyian hati ini aku menangis
meniti kabut yang menyelimuti diri dan hari-hari
aku menatap hari nanti yang begitu sepi
karena gita cinta mulai bersemi dalam diri

Aku menangis karena ku sadar kecewa dan lara menghatui
karena cintaku yang tak sempurna kepada-Mu
karena getir iman yang memudar di dadaku
Aku kecewa karena cintaku yang dangkal kepada-Mu

kuharap dengan sisa umurku yang tak panjang
kukuan membawa bekal untuk hari kemudian
dan perasaan kecewaku karena berlumur segudang dosa
dapat terhapus oleh Maha Rahman-Mu

puisi jadul,... "When fairy fall in love"





Sepasang sayapnya mengepak indah
Cahaya mentari senja jatuh ke perak bola matanya
Senyum anggunnya terungging merekah semerah hatinya

Sang peri terbang ke angkasa
Diiringi munculnya pelangi
Bunga-bunga semerbak berdansa
Diatas hijaunya taman bak permadani
Kupu-kupu bertebaran mengiringi

Sementara sang peri dengan bangga bernyanyi
"Aku Jatuh Cinta"

Sang raja dengan cinta menyematkan tiara
Permaisuri dengan cinta mengalungkan bunga
Seluruh rakyatnya dengan cinta bersenandung bahagia

Dan pangeran muncul dibalik gelapnya gulita
Dengan kuda putih berpedang emasnya
Dihampirilah sang peri dengan cintanya

Semua larut dalam romansa

Dan akupun ikut bahagia
Akhirnya dongeng berakhir bahagia
"happy ever after"

Dan malangnya aku bukan peri
Dan sayangnya aku bukan peri
Dan kasihannya aku bukan peri
bukan peri
bukan peri

Puisi tanpa judul






Tuhan....
kenapa aku hidup dibayangi mimpi-mimpi
kenapa hatiku terus bercermin dan melihat bayang-bayang yang sama
bayangan maya yang terbentuk dari buncahan rindu dan kemilau madunya asa
bayang-bayang yang menguras peluh, pilu, sukma dan emosi
bayang-bayang tentang dia
yang selalu lekat dalam ilusi
yang selalu dekat di hati
yang selalu diingat dalam memori
meski aral melintang sejauh merkuri dan bumi
entah mengapa kuselalu menanti................

Senandung Perjalanan




Adalah rentetan perjalanan panjang
Sejuta langkah melalui medan perang
bergulir sahara demi sahara membentang
Tak tahu kapan sampai kan datang
hoingga membeku dir pun tak pernah pulang
Detik demi waktu selalu meghilang

Esok....................
Adalah misteri yang terbungkam milyaran misteri
Terbungkus kabut putih tak menentu
Entah bahagia atau derita telah menunggu
Laksana fatamorgana membayanginya
Semanis surga atau sepahit neraka ditawarkan
Merajut waktu dengan mimpi dan harapan
Aku berkaca pada tembok berlumut kusam
Menatap hari yang masih terlintas panjang
Meramalkan cita berpaut bunga-bunga cinta
Menyulam asa diatas detik kenangan

Dan aku akan bertahan
Melintasi pahit gertirnya masa depan
suram... hitam... kelam... dan berjuta malam
kan kulukis di kanvas putih seputih awan
Menjadi impian, asa, serta keyakinan
tuk menjadi bekal hari kemudian

Senandung Perjalanan

Kemarin, esok dan hari ini
Adalah senandung kenangan, perjuangan dan harapan
Selalu di lingkaran ini aku berjalan
Membingkai dunia hingga menua usia bumi

Kemarin.........
Adalah suramnya hari kelabu
Mengikat kabut hitam pilu
Menyapa cinta dengan belati
Merintih di malam kelam sunyi
Menyanyi diantara gulita sepi
Kosong menyiksa diri

Hari ini.............

3.4.09

18.2.09

Rosa Rarks, Inspirasi Untuk Maju dan Mengubah Dunia

Di suatu sore pada bulan Desember 1955 M, Rosa Parks, seorang wanita berkulit hitam yang bekerja sebagai buruh harian untuk memenuhi kebutuhannya. Ia telah bersiap-siap untuk pulang setelah seharian bekerja keras. Rosa melewati jalanan sambil menenteng tasnya, merasakan kehangatan semangat yang keluar dari dalam dirinya.

Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu menyeberang jalan, untuk kemudian berdiri sesaat menunggu bus umum yang akan membawanya ke tempat tujuannya. Setelah sepuluh menit menunggu, Rosa melihat pemandangan memilukan yang akrab dengan zaman kala itu.

Seorang laki-laki kulit hitam harus bangkit dari kursinya sambil mempersilahkan tempat duduknya untuk ditempati orang kulit putih!


Perilaku ini tidak lahir dari ruh persaudaraan atau sentuhan persaudaraan sejarah, tapi lahir dari undang-undang Amerika saat itu –yang melarang orang berkulit hitam duduk di atas kursi sedang tuannya si kulit putih berdiri di atas kaki-.

Hali itupun berlaku bagi siapa pun, tak mengenal usia. Meskipun yang duduk adalah wanita hitam tua renta, dan yang berdiri adalah pemuda yang gagah perkasa. Bila wanita tua berkulit hitam itu duduk dan pemuda kulit putih itu berdiri, maka telah terjadi pelanggaran hukum dan si wanita tua itu harus siap membayar denda.

Pada saat itu, Anda akan akrab dengan papan yang digantung di pintu-pintu swalayan dan rumah makan, yang bertuliskan, ”Dilarang Masuk bagi Kucing, Anjing, dan Orang Hitam!”
Diskriminasi itu membuat sakit dan pilu nurani Rosa, sekaligus membuatnya geram dan marah.


Saat bus kota berhenti, Rosa naik dengan dada bergejolak.

Rosa menoleh kanan kiri, mencari tempat duduk kosong. Ia melihat kursi kosong. Ia segera merangsak menuju ke tempat duduk itu dengan mendekap tasnya. Ia duduk sambil menerawangi jalan yang dilewati oleh bus kota.

Saat tiba di halte berikutnya, ada seorang pnumpang kulit putih yang naik. Kursi bus saat itu telah penuh terisi. Dengan tenang, ia melangkah menuju ke arah Rosa agar bisa mendapatkan tempat duduk. Namun alangkah terkejutnya ia, kareb aRosa melihat padanya tanpa peduli, lalu kembali melihat jalan.

Laki-laki itu marah, dan seluruh penumpang kulit putih bersahut mencela Rosa, mengancamnya bial ia tak segera bangkit dan mempersilakan duduk si penumpang kulit putih.

Namun, Rosa terus menolak dan memaksa tetap duduk. Saat sopir melihat pelanggaran hukum ini, ia langsung menuju kantor polisi untuk melaporkan perbuatan wanita berkulit hitam yang mengganggu tuan-tuan berkulit putih!!

Ya, pemeriksaan pun terjadi, dan rosa harus membayar denda sebesar lima belas dolar sebagai ganti atas pelanggarannya terhadap hak orang lain (orang kulit putih).

Dari sini, awan hitam muali menaungi langit Amerika. Orang-orang kulit hitam berdemo seantero Amerika, memutuskan untuk memboikot sarana transportasi dan meminta hak-hak mereka sebagai manusia –hak hidup dan hak pergaulan manusia-.

Gejolak itu berlangsung selama 381 hari. Dan selama itu, Amerika dilanda keributan.
Akhirnya, mahkamah memutuskan untuk memenangkan perkara Rosa Parks, dan dihapuslah kebiasaan zalim tersebut maupun kebiasaan atau undang-undang apartheid lainnya.

Setelah Rosa Parks berusia 80 tahun, ia menuliskan pengalamannya dalam buku yang diterbitkan dengan judul Quiet Strength. Pada tanggal 24 Oktober 2005 ribuan orang berjubel untuk ikut mengiringi jenazah Rosa Parks, pionir hak sipil Amerika yang meninggal pada usia sekitar 92 tahun.

Pada hari itu, jutaan manusia menangis, pemimpin-pemimpin negara berkumpul, dan bendera Amerika dikibarkan. Jasadnya disimpan di gedung Kongres sejak wafatnya hingga sebelum dikubur. Ini merupakan sebuah penghormatan yang hanya diberikan pada pemimpin negara dan orang-orang yang hebat.

Ketika ia meninggal, di lehernya tergantung lencana terhebat. Lencana presiden untuk kebebasan pada tahun 1996 dan lencana emas Kongres pada tahun 1999. inilah penghormatan sipil tertinggi di Amerika.

Di atas semua lencana itu adalah lencana yang diberikan pada anak negeri yang berani mengatakan tidak. Orang yang paling terkenal berkata tidak di sejarah Amerka.

5.2.09

Akhir Dari Perjalanan..............

Aku melangkah keluar Bandara Soekarno Hatta, mencoba mencari sosok tinggi besar Bang Arman kakak iparku dan Salsabila anaknya. Sungguh, pikiranku sedang kacau kini sehingga tidak bisa konsentrasi melihat banyaknya orang di bandara ini, bahkan untuk megenal wajah Bang Arman pun susah aku mengingatnya.
Tiba-tiba ku mendengar suara gadis kecil memanggilku.
”Tante Irene.......”
Aku menoleh ke arah suara itu. Dan benar sekali, aku menemukan sosok Bang Arman dan gadis empat tahun berjilbab pink menantiku. Pasti Abi nya yang menyuruh Salsa memanggilku, karena dia pasti tidak mengenaliku. Pertemuan terakhir kami waktu Salsa satu tahun, sebelum mbak Indri dan Bang Arman pindah ke Jakarta.
Aku memeluk dan menggendongnya.
”Salsa sudah besar ya. Sudah sekolah belum? Kenal sama tante ngga?”
Aku tersenyum mendengar cerita lucu dari keponakanku itu ketika menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Pertemuanku dengannya cukup menghangatkan suasana hatiku kini. Sementara aku menggendongnya, bang Arman membawa koperku ke mobil.
”Mau istirahat di rumah dulu atau langsung ke Ruamh Sakit nih?” Tanya Bang Arman.
”Ke Rumah Sakit aja.” Jawabku.
”Ya sudah, tapi mampir makan dulu ya, Salsa belum sarapan tadi pagi. Kamu sudah lapar juga kan?”
Aku mengangguk dan tersenyum kecil.
Sejenak aku menikmati kebersamaanku dengan Salsabila. Mendengar celoteh dan ceritanya tentang teman-temannya, sekolah dan cerita lainnya sedikit melupakanku pada segala permasalahan yang terjadi. Aku bahagia bila di dekat anak kecil, apalagi itu keponakanku sendiri.


Tak lama perjalanan kami sampai juga di salah satu ruang Rumah Sakit. Aku begitu tak sabar menemuinya. Dan ketika ku buka pintu salah satu ruang di Rumah Sakit itu, kulihat sosok teduh berjilbab rapi berwarna hijau tersenyum menyambut dan membalas salamku. Tak ada sedikitpun kelelahan di wajahnya. Padahal aku tahu, beberapa jam yang lalu ia habis melakukan perjuangan yang aku rasa sangat melelahkan.
”Baru datang Ren? Ngga istirahat dulu di rumah?”
”Ngga sabar pengen lihat si kecil mba” Jawabku sembari duduk di samping ranjangnya. ”Kapan lahirnya mba? Kok sudah cantik nih? Ngga capek atau sakit kah?” Tanyaku keheranan.
Wajar kalau aku heran, setahuku dimana-mana orang habis melahirkan itu pasti sakit atau capek. Sementara mba Indri sebaliknya.
”Ya sakit lah. Kalau orang jihad itu ngga ada yang ngga capek Ren. Melahirkan itu kan salah satu jihad, dan jihad itu balasannya kalau ngga syahid ya memperoleh kemenangan kan, nah sekarang mba sudah dapat kemenangan. Si Raihan itulah buah manis kemenangan mba. Kalau sudah dapat anugrah terindah begini, lantas kenapa harus mengeluh sakit atau capek Ren?”
Aku benar-benar kagum dengan sosok kakakku ini. Barakallah mba, aku hanya tersenyum tulus membalas taushiyah singkat yang disampaikannya.
” Kapan nyusul mba nih? Biar merasakan juga indahnya merasakan jihad sebagai seorang wanita?” Tanya mba Indri. ”Atau mau dicarikan sama Abi nya Salsa orang sini, biar pulang bawa oleh-oleh?” Lanjutnya sambil tertawa kecil.
”Aah mba ini, Irene tuh belum lulus kuliah mba, baru juga semester 6..” Jawabku diplomatis.
”Umi umi, Salsa mau lihat adek Raihan mi...” Rengek Salsa pada umi nya.
”Ayo sama Abi lihat adek.” Jawab Abi nya sambil menggendong Salsa dan siap membawanya keluar ruangan.
”Memangnya adek Raihan dimana Bi?”
”Tadi habis dimandiin suster. Coba lihat di ruangan bayi sana sama Abi” Jawab umi nya.

Setelah berlalu bang Arman dan Salsa, sejenak sunyi menyeruak di dalam ruangan. Entah mengapa perasaan duka itu muncul lagi tak dapat ku tepis.
”Sudah cari tahu kabar temanmu itu, Ren?” Rupanya mba Indri mengamati perubahanku.
”Belum mba.” Jawabku pilu. ”Atau Irene coba telepon mamanya aja ya mba? Siapa tahu dia dirawat disini juga” Jawabku sembari beranjak keluar ruangan setelah dibalas anggukan oleh mba Indri.
Aku menekan handphone dan mencari satu nomor. Ketika tersambung, aku terlibat percakapan serius dan mendapatkan informasi yang aku cari. Aku kembali masuk dengan berlinang airmata.
”Dia dirawat disini juga mba......”
”Ya sudah cepat dicari ruangannya”
”Tapi mba disini ga ada yang jaga....”
Kakakku tersenyum dan menunjukkan sikap keibuannya. ”Mba ini sudah besar lho, ga perlu dijagain. Kan sebentar lagi Salsa sama abi nya datang. Ayo dikejar Ren, kamu kan sudah jauh-jauh sampai ke Jakarta.”
Aku tersenyum dan segera pergi menuju lobby Rumah Sakit untuk mencari info yang baru saja aku dapat dari mamanya temanku itu. Kuhapus air mata yang tadi sempat mampir di pipiku. Aku tidak boleh terlihat sedih. Seorang pejuang dakwah sedang menanti untuk ku jenguk. Ribuan kilometer telah ku jalani, dan kuharap kedatanganku ini disambut senyuman terindah olehnya. Disambut dengan sambutan terhangat dan taushiyah-taushiyah menyejukkan hati darinya.
Namun sepertinya harapanku harus ku kurangi. Aku tak berani melangkah masuk ketika aku berdiri di depan ruang ICU Rumah Sakit ini. Kakiku kelu untuk melangkah. Aku dilanda ketakutan yang besar jika ternyata harapanku itu jauh dari kenyataan.
Ku beranikan langkah ini memasuki ruangan. Di depan pintu, kulihat seorang wanita paruh baya menghampiriku. Seorang wanita yang tampak modis yang kalau aku boleh jujur, dandanan dan pakaiannya kurang sesuai dengan usianya kini. Aku tahu, tante Juana namanya.
”Tolong ya kamu lihatkan anak tante dulu di dalam. Tante mau urus prosedur operasinya dulu” Katanya yang cenderung angkuh.
”Ka-kapan di operasinya tante?”
”Tante juga lupa, kalo ngga besok, lusa atau besoknya lagi. Tante lupa. Itu juga operasinya yang ketiga. Soalnya sore ini Tante sama papinya mau terbang ke Australia, itu si Andreas adiknya mau wisuda minggu depan. Jadi tante musti tinggal dia sebentar. Ga tau deh anak itu, masa kalah sama adiknya, apalagi kecelakaan gini. Kapan dia mau lulusnya? Tante bingung deh. Ya sudah tante tinggal dulu ya. Kalo ada apa-apa panggil suster aja, atau telepon aja tante ya.”
Dan wanita itu pergi berlalu begitu saja. Astaghfirullah, air mataku jatuh begitu saja mendengar setiap kata demi kata yang telontar dari mulut beliau. Masih adakan wanita yang segitu kurang pedulinya dengan anaknya sendiri yang terbaring di Rumah Sakit? Ah mungkin keadaannya di dalam sudah agak baik, jadi bisa ditinggal. Tapi yang jelas, kini aku bersinggungan langsung dengan sikap tante Juana yang selama ini hanya bisa aku dengar dari cerita anaknya.
Tak cukup segitu saja penyambutanku disini. Aku rasanya tak sanggup berdiri ketika ku melihatnya, sahabatku, tertidur kaku yang aku tidak tahu kapan ia bangunnya. Hidupnya kini bergantung pada selang-selang yang menempel di tubuhnya. Di kepalanya kini tak ada selembar kainpun seperti biasanya, diganti dengan lilitan perban yang aku tak tahu apakan masih tersisa rambut di dalamnya. Dan di tangannya, tertempel entah berapa jarum yang menghubungkannya dengan selang-selang yang aku tak tahu persis fungsinya. Yang aku tahu, hidupnya kini sebagian besar ditopang oleh semua alat-alat disini. Tangannya itu, kini sedikit terlihat, karena baju yang ia kenakan tidak cukup panjang menutup tangannya, selain juga dikarenakan banyaknya infus-infus itu.
Tangisku kini benar-benar pecah, namun tak sanggup ku keluarkan suara. Hanya zikir dan airmata yang sanggup mewakili ekspresiku ini melihatnya disini. Temanku, sahabatku Vanessa Carolina, ingin rasanya kukenakan jilbab dikepalamu, kututup leher, tangan dan semua auratmu yang terlihat ini. Teringatku situasi ketika kau sadar, aku tahu persis, bahkan sehelai rambutpun tak rela jika terlihat dan seujung kakipun tak kau biarkan orang lain yang bukan muhrim melihatnya. Namun kini... Ingin kubangunkan dirimu dan kusadarkan jiwamu. Namun aku tiada daya.
Aku coba tenangkan diriku, kutata hatiku. Kutatap wajah sayu didepanku. Tak ada suara, selain suara alat-alat medis disini. Tak ada gerak, selain gerak alat deteksi jantung dan gerakan nafas pelan di dadanya. Hanya itu gerakan kehidupan yang terlihat dari Olin.
Semuanya kini serba absurd. Bagaikan secepat roller coaster ingatanku melesat jauh pada kejadian suatu hari itu. Seperti putaran roll film yang diputar di depanku, aku menyaksikan kejadian tepat sebelum kecelakaan itu terjadi.


Kami baru saja selesai ujian. Hari ini, mata kuliah yang diujikan paling berat dibandingkan dengan sebelumnya. Aku seperti biasa duduk di depan mengerjakannya. Dan seperti biasa juga, sebelum habis waktunya aku telah menyelesaikan ujian kali ini dengan sukses. Alhamdulillah, telah terbayang nilai A menghiasi KHS ku untuk mata kuliah ini. Aku berdiri, bersiap meluncur ke bengkel perut alias kantin untuk mengisi kembali energi yang lumayan terkuras dari tadi pagi. Sebelum pergi, aku menoleh ke bangku sahabatku, Olin. Terlihat wajahnya pucat dan keringat bercucuran dari dahinya. Aku tersenyum kearahnya dan dia membalas senyumanku.
’Semangat ukhti, doaku semoga bisa membantumu melalui ujian ini’ Kataku dalam hati dan dibalas kepalan tangan ringan yang artinya ”takbir”
’Allahu akbar’ Dibalasnya dengan bahasa bibir yang ku tahu artinya.
Telah ada kesepakatan diantara kami. Bahwa ketka quis ataupun ujian, tidak ada interaksi dalam rangka ’tolong-menolong’ yang merupakan penghalus kata dari mencontek, atau berbuat curang. Tolong-menolong itu berlakunya kalau belajar, di luar itu ya berjuang sendiri.

Sudah setengah jam lebih aku menunggunya disini. Sudah dua kali aku pesan minuman namun Olin belum keluar juga. Dan ngga lama kemudian, muncul juga sesosok Olin dengan jilbab biru besar yang melambai-lambai di belakangnya.
”Minum dulu” Kataku sambil menyodorkan segelas es jerukku.
Bisa dipastikan reaksinya setelah ini, biasanya kalau sudah ada tanda-tanda gagal dalam quis atau ujiannya, Olin selalu sedikit reaktif seperli logam Na+ kalau terkena air. Makanya aku suruh dia minum buat menenangkan dirinya dulu. Setelah habis cairan jeruk di gelas, ternyata Olin bereaksi lain dari biasanya. Tumben.
”Bisa ngerjain tadi?”
”Ngga tahu nih Ren, padahal yang kamu ajarin itu keluar semua, tapi ya tetap aja ngga bisa. Hehehe. Biarin lah paling diomelin lagi, ya didengarin aja lah Ren” Jawabnya santai.
Aku jadi ingat dengan cerita Olin tentang keluarganya. Orangtuanya selalu menginginkan kesempurnaan dari anaknya. Prestasi akademik, karir masa depan, calon pendamping, bahkan pakaian dan gaya hidup harus selalu diperhatikan. Model keluarga masa kini yang berkiblat bukan pada budaya timur. Itulah yang membuatnya selalu tidak nyaman bersama kedua orangtuanya.
”Ya kamu kan juga tahu Ren, mami pengen aku punya nilai bagus, cepet lulus, karir cemerlang, nikahnya ma anak konglomeratlah. Trus kalo sudah begini, pasti di banding-bandingin sama Andreas itu.”
Aku tahu kok, Olin sering cerita tentan itu. Tentang orangtuanya, adiknya yang kuliah di luar itu, perlakuan, tuntutan, dan sikap maminya yang semakin meruncing semenjak dia bergabung dengan komunitas dakwah di kampus. Melihat orang lain berjibab saja maminya agak gimana gitu, apalagi sekarang, anak perempuannya telah berhijrah total. Tambah banyak saja tekanan dari maminya itu.
”Tapi tenang aja Ren, aku sadar kok, setiap orang itu kan punya potensi diri masing-masing. Kalau semua orang bisa, nanti siapa dong yang minta diajarin? Kan ngga ada lagi ladang dakwah buat orang yang pintar untuk mengajari yang kurang pintar? Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. Bangunan yang kokoh kan unsurnya bukan dari bata aja, ada pasir, semen, kayu. Kalau aku ngga bisa memposisikan diriku sebagai bata, aku bisa berperan sebagai kayu, atau bahkan pasir. Kalau aku ngga bisa berjihad lewat ilmu, kan bisa lewat harta, bisa juga lewat sastra. Ingat lho Ren, aku kan pintar nulis. Meskipun mami ga suka, atau menilai keberhasilan itu dari sesuatu yang abstrak, aku ngga peduli. Semua yang kulakukan kan untuk mengharap Ridha Allah Ren, bukan penghargaan atau prestasi manusia.”
Aku berdecak kagum mendengar paparan sahabatku ini. Aku sebenarnya bersahabat dengan orang hebat, bukan dengan seorang gadis yang selalu diremehkan semua orang. Olin memang orang hebat, semua orang seharusnya mengakui kemahirannya dalam bersastra, juga mengakui keprofesionalannya dalam hal tulis-menulis. Makanya dia diamanahkan sebagai wakil sekretaris di lembaga dakwah fakultas, juga sekretaris himpunan mahasiswa.
Memang harus diakui juga kalau akulah yang lebih menonjol. Bukan bermaksud membanggakan diri, tapi orang-orang melihatnya begitu. Padahal kenyataannya, akulah yang selalu belajar banyak darinya. Olinlah guru kehidupan terbaik yang ku kukenal. Dimana ketika kita masih belajar tentang teori kehidupan, dia telah mengalaminya, bahkan kini, aku bisa pastikan dia telah lulus ujian kehidupannya, dengan pernyataan yang baru saja disampaikannya.
Aku tak tahan menahan haru, kupeluk sahabatku ini. Kupeluk erat seakan kami tidak bertemu lagi. Dan inilah aku, tak tahan mengeluarkan air mata.
”Ih Irene apaan sih, malu nih, nangis lagi”
”Hehehe I proud become your friend”
“Aku selalu berdo’a, semoga orang tuaku dibukakan pintu hidayah oleh Allah” Pinta Olin tulus
“Amin. Oke Mujahidah Olin siap berjihad?”
“Hehehe oke Mujahidah Irene, ayo kita tebarkan dakwah”
Itulah kata-kata pelecut semangat yang sering kami ucapkan kalau hendak berpisah. Setelah itu kami pergi masing-masing, karena sebelum zuhur aku harus sampai ke tempat aku mengajar. Sementara Olin masih akan mengarsipkan surat di sekeretariat Mushalla. Setelah shalat katanya ia akan pergi ke warnet mempublikasikan buletin online lembaga dakwah, trus pulang ke kost karena hari ini ada ngajar mengaji anaknya ibu kost.



Berita itu baru sampai padaku keesokan harinya ketika tiga orang akhwat kerumahku dan mengabarkan berita duka itu.
”Kemarin ukhti Olin kecelakaan” Kata Mba Ranti dengan berkaca-kaca
”Sewaktu pulang dari kampus, ada mobil ugal-ugalan yang nabrak Olin. Kata orang yang melihat, kepalanya berdarah-darah sewaktu dibawa ke Rumah Sakit.” Kata Indah menjelaskan.
Menangis. Itulah satu-satunya reaksi yang bisa aku perlihatkan.
”Kita coba hubungi anti tapi hp anti ngga aktif dari kemarin. Orangtuanya juga sudah dihubungi. Katanya, kemarin langsung sampai ke sini. Makanya kami inisiatif kesini. Karena kabarnya ukhti Olin akan dipindahkan orangtuanya ke Jakarta” Mba Diana menambahkan.
Hanya menangis dan menangis. Semakin tertahan kata-kataku untuk keluar, namun aku paksa juga untuk mengucap.
”Kita ke ruamh sakit sekarang ya” Pintaku segera.
Dan kami berempat meluncur ke rumah sakit. Aku dibonceng Indah, karena jujur, aku tak mampu untuk membawa motor sendiri dalam kondisi seperti ini. Kami berlarian kecil di sepanjang koridor rumah sakit. Dan ketika sampai di ruangannya aku begitu kaget melihat kondisi disana. Hanya ada ruangan putih pucat, sprei putih polos, ranjang kosong, dan seorang suster yang merapikan ruangan. Aku begitu panik disana.
”Suster, pasien disini kemana ya?” Tanya mba Diana.
”Oh sudah dipindahkan” Jawab suster tersebut.
”Kemana sus?” Tanyaku.
”Sudah dirujuk ke Rumah Sakit Jakarta. Orngtuanya yang meminta”
Seketika juga badanku melayang. Kepalaku berputar, karena sedari pagi belum terisi energi. Ditambah berita-berita duka yag ku terima. Dan kini, belum sempat ku melihat sahabatku, dia sudah pergi. Namun aku sempat bersyukur, karena dia belum akan pergi untuk selamanya.



Sudah tiga seminggu semenjak peristiwa itu terjadi. Sempat aku berhubungan dengan tante Juana, mami Olin untuk menanyaan kabarnya. Namun, jawaban yang diberiakn sangat tidak memuaskan bagiku. Sepertinya aku harus pergi ke Jakarta melihat langsung. Tapi, bagaimana caranya? Untuk mengandalkan tabunganku rasanya kurang, karena sudah kupakai untuk keperluan kuliah dan lainnya. Untuk meminta sama orangtua, rasanya aku kurang berani. Tiba-tiba aku ingat satu nama. Mbak Indri, kakakku. Kenapa aku bisa melupakannya? Aku kan punya kakak yang ada di Jakarta. Setidaknya jika aku tidak bisa pergi kesana, aku bisa mendapatkan informasi dari orang yang aku percaya. Malam itu juga aku menelpon kakakku, menceritakan semuanya kepada kakakku itu.
”Ren, mba mau banget bantu kamu, tapi kayaknya belum bisa Ren, soalnya mungkin dalam beberapa hari kedepan mba sudah mau melahirkan.”
Astaghfirullah aku lupa kalau mba Indri sedang hamil tua.
”Mba dengar mama mau pergi ke sini dampingi mba melahirkan. Atau begini saja Ren, yang kesini kamu aja. Bilang aja sama mama, sekalian kamu jaga Salsa selama mba masih di rumah sakit. Kan lagi libur juga kan kamu. Nanti mba bantu ngomong sama mama deh”
Dan aku mencoba menjalankan usul kakakku itu. Awalnya aku susah meyakinkan mama. Selain karena aku tidak pernah dibiarkan pergi jauh sendirian, mama juga takut kalau sampai disana aku lupa dengan kewajibanku menjaga Salsa disana. Tapi setelah beberapa hari ku jelaskan dan dibujuk juga oleh mba Indri akhirnya aku diizinkan juga. Keinginanku pergi ke Jakarta bertambah kuat setelah semalam aku bermimpi kurang enak tentang Olin. Namun aku menepis perasaan itu.
Pagi ini aku berangkat juga. Namun, aku agak terlambat karena aku dapat kabar kalau mba Indri tadi subuh sudah melahirkan. Nanti katanya, aku dijemput Bang Arman dan Salsa, kakak ipar dan keponakanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti padaku, dan pada semuanya. Dua kupanjatkan dari atas pesawat ini agar semuanya baik-baik saja.



Setelah shalat zuhur ku tunaikan, aku kembali ke ruangan kakakku dan menceritakan keadaan Olin. Aku harus memegang amanah mamaku. Kakakku mungkin masih akan di rawat empat hari lagi di rumah sakit. Akhirnya diputuskan oleh Bang Arman, mulai besok setiap pagi Bang Arman akan mengantarku ke Rumah Sakit dan mengantar Salsa sekolah. Kira-kira jam 2 siang, Salsa pulang sekolah dan Bang Arman menjemput Salsa dan aku dari rumah sakit. Jadi aku punya banyak waktu untuk menengok Olin dan kakakku bergantian selama di rumah sakit. Tak henti aku mengucapkan terima kasih pada bang Arman dan mba Indri yang begitu baik padaku.
Begitulah kesibukan yang kujalani selama di sini. Pagi ini, pagi keempatku di ruangan Olin. Tak ada seorangpun yang menjenguk Olin selain aku. Beberapa kali suster dan dokter masuk memeriksa keadaan Olin. Aku tak memperhatikan mereka, karena energiku disini ku curahkan untuk memberikan spirit dan doa bagi kesembuhan sahabatku ini. Yang aku perhatikan adalah, dokternya laki-laki. Tak begitu jelas terlihat wajahnya olehku. Toh itu juga ngga penting dan aku juga tidak ingin memperhatikan terlalu dalam dokter yang cukup muda ini. Ingin aku berteriak padanya agar tidak menyentuh sahabatku ini. Namun aku tak kuasa, dan aku akan selalu berdoa agar melelui tangan dokter itu Allah memberikan kesembuhan pada Olin.
Malam ini, Olin akan di operasi. Aku meminta izin untuk menginap di rumah sakit menemani Olin, sementara kakakku mulai kemarin sudah pulang dari rumah sakit ini. Dan akupun mendapat izin dari Bang Arman.
Aku baru saja keluar dari mushalla rumah sakit. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan dokter Farid, dokter yang merawat Olin. Aku juga berpapasan dengan suster-suster yang biasa memeriksa Olin. Sejuta harapanku ku letakkan pada mereka, dan juga pada tim dokter yang akan mengoperasi temanku itu. Selanjutnya waktuku kuhabiskan untuk tilawah di dekat Olin, mengajaknya berbicara, dan memberikan kata-kata spirit baginya. Karena aku sering dengar kalau seseorang itu sedang koma, maka ia akan mendengar apa yang kita lakukan didekatnya. Entah apakah itu benar atau tidak, yang penting aku telah berusaha semampuku melakukan apa yang terbaik untuk sahabatku ini.
Detik-detik menjelang operasinya kini, semakin banyak teman-teman yang menelponku menanyakan kabar dan memberikan spirit serta do’a untuk kesembuhan Olin. Sayangnya tak ada satupun keluarganya yang meneleponku. Aku semakin semangat memberikan motivasi dan spirit pada Olin, tak peduli banyaknya air mata yang telah keluar dari mataku.

to be continued yaaaa.........

17.1.09

2.1.09

26.12.08

Fenomena Jaket Angkatan vs Kampus Banjir

Setelah penantian sekian lama dari teman-teman se-angkatan,...... Akhirnya jaket angkatan kami datang juga,........

Setelah itu rencana teman-teman, apalagi kalau bukan publikasi.. jangan heran kalau angkatan Pendidikan Fisika 2007 jadi rajin pake jaket Abu-abu ijo setiap hari....

terus,...... jadi banyak fenomena foto-foto pakai jaket angkatan....

dan ternyata,.....
kampus kami kebanjiran (hmmm,... ngga nyambung sih fenomenanya ^_^)
akhirnya foto kami harus denagn background yang menyeramkan,.......

mau bukti?



ya,... fenomena banjir memang ngga kalah hebohnya dengan fenomena jaket angkatan kami. sudah dua kali dalam bulan ini kampus kami kebanjiran. Akibatnya sudah banyak mata kuliah yang diliburkan.

yaa namanya bencana alam...
tapi kalau terus-terusan bahaya juga kaan? kuliah jadi terbengkalai, motor jadi korban, tugas makin menumpuk (hehehe)

semoga Samarinda ku cepat berbenah ya, jadi kalau hujan sedikit ga banjir terus deh

amin.........

5.12.08

Dan Malaikat pun Mendo’akan Kita

Aku begitu malu,..........
Malu kepada diri ini yang begitu sering lalai mengingat Tuhanku
Sementara aku terus bercermin pada kesalahan-kesalahan diri,....

Namun tetap saja aku malu,.......
Ibadahku diselimuti ragu-ragu,
Amalanku dihiasi riya’ dan ujub di hatiku,

Ya aku malu,
Seringnya berbuat dosa padahal aku tahu
Allah Maha Melihat
dan Dia mengutus malaikat untuk mengawasi dan mencatat

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), [Al Infithaar:10]
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qaaf:18]

Inilah aku beserta kekuranganku
Siapa aku yang menyombongkan ibadahku.....??

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.
[An Nahl:49]
Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu. [Fushshilat:38]
Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling 'Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." [Az Zumar:75]
Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.
[Al Anbiyaa’:19-20]

Ya Allah Ya Tuhanku,.....
Sungguh diri ini bukan malaikat,..
Namun betapa ingin amalan kami seindah malaikat,,..
Jadikan diri senantiasa bertasbih memuji-Mu
Seperti malaikat-malaikat-Mu
Dan selalu mengingat dan menjunjung asma-Mu

supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. [Al Fath:9]
Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.
[As Sajdah:15]
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,
[Thaahaa:130]
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
[Ali Imran:190-191]

Ya Allah,...
Jadikanku hamba yang selalu bersyukur
Sebagaimana Engkau mengilhami Nabi Sulaiman
Untuk tetap bersyukur atas nikmat-Mu

maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
[An Naml:19]


Ya Allah Tuhan kami,......
Tetapkanlah hati kami dalam iman,,,......
Rinduilah hati kami dengan zikir
Basahilah lisan kami dengan Qur’an
Hiasilah jiwa kami dengan cahaya Islam
Hingga kami menjadi abdi pilihan
Dan malaikat pun mendo’akan kami

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaiakat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." [Fushshilat:30]
Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.
[Asy Syuura:5]

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [Al Ahzab:43]

(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,

ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,

dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar."
[Al Mu’min:7-9]

30.9.08

selamat tinggal RAMADHAN

Bulan Ramadhan ketika disebut
Kami teringat sebuah taman bunga
Yang semerbak wangi tempat persinggahan
kebaikan mengandung hikmah

Bulan Ramadhan syahdu menaungi
Hati gembira semesta merah merona

Bulan Ramadhan di dalammu ada
Dua kebahagiaan yang 'kan kita temui
Ketika berbuka ketika bertemu
Dengan Allah Yang Maha Mulia

Bulan Ramadhan mari mujahadah
Di dalam jiwa tancapkan kemauan

Kupegang Ramadhan kali ini
Barangkali esok aku sudah tiada
Keras kugenggam dengan geraham
Semoga bahagia saat menemui Allah

Tak terasa kita sudah berjumpa di penghujung bulan Ramadhan. Sudah hampir 30 hari kita ditempa dengan training yang sesungguhnya, training iman, training takwa, training jiwa, raga, hati dan nafsu. Ketika sudah di akhir Ramadhan, muncul beribu pertanyaan, sudahkan lulus kita dalam training kehidupan tersebut?

Bulan Ramadhan sebentar lagi akan berakhir. Berat rasanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Ramadhan. Mengingat rasanya kita masih dikalahkan oleh nafsu yang membelenggu, mengingat masih minim ibadah yang kita lakukuan sebulan ini, mengingat masih rindunya kita untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang belum terealisasi dalam puasa kali ini.

Kita masih terkalahkan oleh dunia. Namun, sudah Sunnatullah bahwa yang datang pasti akan pergi. Aku akan merelakan Ramadhan dan menjemput lagi Ramadhan mendatang. Namun, jika Ramadhan ini adalah yang terakhir, maka semoga apa yang kita usahakan kini, bernilai ibadah yang sesungguhnya.

Sedih menjelma, namun kebahagiaan menjelang. Training Ramadhan merupakan trainingnya seekor ulat menjiikan, yang bermanifestasi menjadi kupu-kupu indah nan menawan, cantik nan anggun, menjadi berkah karena mulianya parasnya dan akhlaknya. Harapanku, lulus sudah ujian seekor ulat kecil yang telah ditempa dalam kepompong. Gelap, puasa, namun mampu mengubah diri menjadi kupu-kupu. Semoga output ibadahku seindah kupu-kupu secantik kepakkan sayapnya dan sematang kupu-kupu dalam menghadapi dunia, mengemban amanahnya dan memanfaatkan potensinya.

Kini, ketika senja Ramadhan semakin menghilang diganti malam, gerbang Syawal menanti manusia, menuju suka cita Hari Raya. Lebaran 1 Syawal menyapa dunia dan gema kumandang Takbir menggema di langit dunia. Semua makhluk memuji kebesaran-Nya dan bergetarlah dada manusia yang telah merayakan kemenangannya melawan ujian hawa nafsu sebulan lamanya

Allahu Akbar……… Allahu Akbar ……… Allahu Akbar …………

La Ilaha Illallah Allahu Akbar …………

Allahu Akbar Walillahil Hamdu …………

Subhanallah, ya Allah, tiba lagi diri ini pada Syawal-Mu.

Semoga fitrinya hati sefitri pakaian baru yang kami beli dalam menyambut Hari Raya ini

Semoga fitrinya hati tidak luntur karena ketidakmampuan kami memaknai Hari Ied Fitri ini

Semoga fitrinya hati dapat menjadi bekal awal kami dalam menggapai kehidupan yang sebenarnya, yakni kehidupan setelah Ramadhan………

Maka saya, ingin memaknai Hari Raya, dengan sebaik-baiknya.

Kurangkai kata ini untuk mewakili diri

Mencoba mengetuk hati saudaraku

Tuk kelapangkan dada memberi maaf

Untuk salah dan khilafku

Selamat Idul fitri 1 Syawal 1429 H

“Jikapun ada satu permintaan dari lubuk hatiku, aku ingin dipertemukan kembali ya Allah, dengan Ramadhanmu tahun mendatang, dengan bekal iman yang lebih meningkat dari tahun ini.”




aku bingung mau nulis apa

Aku bingung mau nulis apa

Beribu sajak mewarnai hari namun ku tak berhenti terpana

Aku bingung mau nulis apa

Untaian kata menari-nari dalam kepala namun ku tak dapat merenda

Aku bingung mau nulis apa

Karena hati tak mampu berkomunikasi dengan kata

Aku bingung mau nulis apa

Jika jiwa dilanda sakit yang membara maka dunia akan terbakar karenanya

Aku bingung mau nulis apa

Mengapa duka tak mampu dirangkai dengan tawa

Agar semuanya indah?

Agar semuanya berkah?

Agar semuanya merekah?

Hmm, aku semakin bingung mau nulis apa

Benar-benar kecewa

Benar-benar luka

Benar-benar sirna

Namun ku harap bisa merangkai kata

Untaian mutiara penyejuk jiwa

Rangkaian warna penghias asa

Jalinan hikmah yang terkatup dalam dada

Penyejuk hati, pelita diri,

Namun aku hilang kata

Tak tau apa yang harus dikata…………..

aku bingung mau nulis apa

Aku bingung mau nulis apa

Beribu sajak mewarnai hari namun ku tak berhenti terpana

Aku bingung mau nulis apa

Untaian kata menari-nari dalam kepala namun ku tak dapat merenda

Aku bingung mau nulis apa

Karena hati tak mampu berkomunikasi dengan kata

Aku bingung mau nulis apa

Jika jiwa dilanda sakit yang membara maka dunia akan terbakar karenanya

Aku bingung mau nulis apa

Mengapa duka tak mampu dirangkai dengan tawa

Agar semuanya indah?

Agar semuanya berkah?

Agar semuanya merekah?

Hmm, aku semakin bingung mau nulis apa

Benar-benar kecewa

Benar-benar luka

Benar-benar sirna

Namun ku harap bisa merangkai kata

Untaian mutiara penyejuk jiwa

Rangkaian warna penghias asa

Jalinan hikmah yang terkatup dalam dada

Penyejuk hati, pelita diri,

Namun aku hilang kata

Tak tau apa yang harus dikata…………..

26.9.08

berubahhhhh..............

hmmm,, itu bukan kata yang di ucap Power Ranger kalo ada musuh.............

tapi,............ mungkin mendekati sifat bunglon, yang suka berubah-ubah,...

kadang, suka merasa menjadi bunglon, yang suka berubah-ubah..........

hmmm......

jadi ingat lagu edcoustic

Berubahkah aku hanya bila ada sesuatu
Terus aku pulang pada sikap sebelum kuberubah
Hanya sekedar sesuatu tak berapa lamapun itu
Jarang kuterendap dalam sikap dimana kuberubah

Tuhan aku hanya manusia
Mudah berubah lagi dalam sekejap
Tuhan aku ingin berubah
Dan kubertahan dalam perubahanku


tapi sebenarnya aku ngga ingin berubah-ubah,

ingin setegar gunung sekokoh langit segarang halilintar

semoga perubahan demi perubahan yang terjadi,..

bukan seperti bunglon,........

tapi layaknya seseorang yang hijrah,.. dari kegelapan menuju cahaya

membawa ketenangan, perubahan dan kedamaian

zwani.com myspace graphic comments
Graphics for Islam Comments

yaaaa karena kita masih muda....,,